The Power of CERIA. Menjadi Ceria Masih Lebih Cantik daripada Memiliki Wajah Cantik, Ini Kisahnya

By SHIETRA - August 08, 2019


The Power of CERIA. Menjadi Ceria Masih Lebih Cantik daripada Memiliki Wajah Cantik, Ini Kisahnya“Langkah pertama yang tak tergantikan untuk mencapai apa pun yang kauinginkan dalam hidup, adalah ini: putuskan apa yang kau inginkan.”
(Ben Stein)
Sobat, tahukah engkau, menjadi ceria masih lebih cantik dan menawan penuh pesona ketimbang menjadi berwajah cantik itu sendiri?
Banyak kalangan gadis, berpikir dan berkeyakinan, bahwa outer beauty berperan penting dalam hubungan sosial maupun asmara. Mungkin kita akan menjadi bingung, ketika mendengar istilah inner beauty. Sebenarnya apakah itu inner beauty?
Cerita inspiratif berikut, mungkin dapat memberi kita motivasi. Untuk itu KWANG kutipkan analogi dari seorang Bhikkhu bernama Ajahn Brahm, dalam bukunya Opening the Door of Your Heart (Judul versi Bahasa Indonesia: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya), Penerjemah : Chuang, Awareness Publication, 2009, Jakarta, sebagai berikut:
TERBENTUR
Pada tahun pertama saya di Thailand, kami sering pergi dari satu wihara ke wihara lain dengan duduk di belakang truk kecil. Biksu senior duduk di tempat yang paling nyaman, tentu saja, di depan.
Sementara kami, si biksu-biksu junior, duduk berjejerean di bangku kayu yang keras di bak belakang. Di atas bak belakang terdapat kerangka besi yang rendah, yang di atasnya dilapisi terpal untuk melindungi kami dari hujan dan debu.
Seluruh jalanan adalah jalanan tanah, tidak terpelihara. Ketika rodanya melintasi lubang, trun anjlok, dan biksu-biksu terlanting ke atas. Jeduk! Sudah beberapa kali kepala saya terbentur kerangka besi itu. Lebih-lebih, sebagai biksu gundul, saya tidak punya “pelindung” alami untuk mengurangi efek benturannya.
Saya menyumpah setiap kali kepala saya terbentur—dalam bahasa Inggris tentunya, supaya biksu-biksu Thai itu tidak paham. Namun ketika biksu-biksu Thai yang terbentur kepalanya, mereka hanya tertawa!
Saya tidak mengerti. Bagaimana mungkin Anda bisa tertawa saat kepala Anda sakit terbentur begitu keras? Mungkin, pikir saya, biksu-biksu Thai itu sudah terlalu sering terbentur kepalanya sehingga sudah terjadi kerusakan permanen pada otak mereka.
Sebagai mantan ilmuan, saya memutuskan untuk melakukan percobaan. Saya mencoba untuk tertawa, seperti halnya biksu-biksu Thai, sewaktu kepala saya kemudian terbentur lagi, untuk mengetahui bagaimana rasanya.
Tahukah Anda apa yang saya temukan? Saya menemukan bahwa jika Anda tertawa ketika kepala Anda terbentur, sakitnya berkurang banyak.
Tawa membuat hormon endorfin, yang merupakan penekan nyeri alami, tersekresikan ke aliran darah Anda. Hormon itu juga memperkuat sistem kekebalan tubuh Anda untuk melawan infeksi.
Jadi, sebagai kesimpulan, tertawa sewaktu Anda kesakitan itu memang ternyata ampuh membantu. Jika Anda masih tidak percaya, cobalah sendiri saat kepala Anda terbentur.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa saat hidup ini menyakitkan, sakitnya berkurang kalau Anda melihat sisi lucunya dan bisa tertawa.
Seperti apa itu “The Power of CERIA”? Kisah berikut ini KWANG kutip dari artikel dalam buku “Chicken Soup for the Soul : Kekuatan Berpikir Positif—101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Positif”, Editor Jack Canfield dkk., versi terjemahan Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan ke-14 November 2018:
Pelajaran Ketika Sedang Antre
Oleh : Pamela Gilsenan
Baru-baru ini aku tengah antre berdiri di sebuah toko buku universitas negeri. Secara berkala aku ke sana untuk membeli pernak-pernik pertandingan dan berbagai benda yang tidak dapat kutemukan di tempat lain untuk mendukung tim universitasku.
Hari ini antrean di kasir lumayan panjang hingga ke lorong. Aku sedang ada di tengah-tengahnya. Si Nona Kasir Nan Ceria menari-narikan jari-jarinya di atas mesin hitung secara lebih cepat ketimbang yang dapat diikuti mataku.
Saat dia menekan tombol untuk memasukkan kode-kode barang dan harganya untuk melayani setiap pembeli, jari-jari itu seakan-akan menari mengikuti irama Karibia.
Dia terlihat cerdas, jenaka, dan gesit. Dia menghadapi keadaan dengan tenang. Dia tidak membutuhkan bantuan kasir lain. Kendati orang-orang yang sedang antre tidak banyak bicara satu sama lain, mereka tersenyum dan terlihat senang-senang saja menunggu giliran dilayani.
Namun, pada antrean di belakang beberapa pembeli, aku masih bisa mendengar dia sempat bercakap-cakap ketika seorang anak muda bergerak ke depan kasir dengan ayahnya. Si Nona Kasir Nan Ceria mengambil barang-barang yang dibeli anak itu dan menatanya di meja kasir.
“Kau sudah kayak anak kuliahan, lho,” katanya terkesan penuh minat sembari memberi senyuman. Dia kelihatan mampu menghayati pelayanan publik ini secara mendetail.
Anak itu terlihat senang oleh perhatian kasir itu. “Yah, sebenarnya sih belum sebesar itu,” jawab si anak. “Aku masih anak-anak. Tapi ayahku ini bilang aku mungkin saja mendapatkan ‘pendorong-semangat’, itu tuh, semacam iming-iming.” Dia menyenggol lelaki yang lebih tua dengan siku kanannya. “Asal tahu saja,” sambung si anak, “Aku ini masih SMA, masih dua tahun lagi baru lulus. Aku benar-benar ingin kuliah di sini setelah lulus. Ayahku bilang aku harus kerja keras untuk bisa diterima.” Tak seperti ayahnya, mungkin anak ini tak tahu apa yang harus dihadapinya.
Anak ini terganjal kata “pendorong semangat”, dan jelaslah dia bukan anak berprestasi. Bukan tipe ketua kelas, bukan teladan sekolah, atau bisa memanfaatkan peluang yang ada. Dia hanya anak biasa yang sudah sering kali dilewatkan karena tidak terlalu menonjol. Namun, dia tampaknya seorang pekerja keras dan jujur.
Jari-jari si Nona Kasir Nan Ceria lagi-lagi menari di mesin kasa ketika dia mengetik kode-kode dan harga-harga untuk kaus yang apik dan jaket warna universitas yang dibeli si anak. Dia menekan total jumlah dan mesin kasa itu menambahkan biaya pajak secara otomatis.
“Ada yang lain lagi yang mau dibeli?” tanyanya ketika jari-jarinya berhenti mengetik. Dia melakukan kontak mata dengan si ayah dan putranya sambil memperhatikan antrean yang telah bertambah panjang.
“Yah,” sahut si ayah dengan malu-malu sambil perlahan-lahan mengangkat tangannya yang memegang sesuatu. “Tak lama lagi aku akan membutuhkan ini, jadi kubeli saja sekarang.” Dia meletakkan sebuah stiker universitas untuk kaca mobil di atas kaus si anak yang sudah dilipat oleh si Nona Kasir Nan Ceria di meja kasir. Si anak tersenyum sangat lebar sampai-sampai wajahnya seakan-akan terbelah. Pasti dia tidak melihat ayahnya mengambil stiker mobil itu ketika mereka memilih-milih barang.
Orang-orang dalam antrean memalingkan wajah, mata mereka basah. Bahkan jika tidak bisa masuk ke perguruan tinggi pun, si anak ini akan selalu tahu bahwa ayahnya memiliki keyakinan terhadapnya.
Si Nona Kasir Nan Ceria pun tampaknya terkejut oleh kejadian yang mengharukan itu. Jari-jarinya bergerak perlahan di atas mesin kasa untuk menambahkan harga dan menyebutkan jumlah seluruhnya.
Laci mesin itu terdorong membuka. Si Nona Kasir Nan Ceria sudah kembali tenang dan memasukkan barang-barang itu ke dalam tas yang berlogo universitas. Si ayah menyerahkan uang pas yang langsung dimasukkan si kasir ke dalam laci dan menutupnya.
Sambil menyerahkan kantong plastik itu, dia melakukan kontak mata lagi dengan si anak. “Nah, anak muda,” katanya, “Sampai jumpa lagi segera denganmu.”
Caranya mengatakan itu seakan-akan dia akan berjumpa lagi dengan si anak itu minggu depan untuk membeli buku-buku kuliahnya untuk semester ini. Si anak mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju pintu diikuti ayahnya dari belakang.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya kepada pembeli berikutnya.
Namun, tak seorang pun yang maju ke depan kasir. Antrean itu sedang sibuk menatap kepergian sang ayah dan anak lelakinya, sambil merasakan bahwa harga barang yang mereka beli sudah termasuk pelajaran berharga untuk menjadi orangtua.
Menjadi ceria tidak memiliki kaitan terhadap wajah. Ceria adalah sebuah sikap. Bersikaplah ceria untuk bisa menjadi ceria dan tampil ceria. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA