Kesehatan Mental Pintu Kesejahteraan

By SHIETRA - September 12, 2019

CANTIK, Dijual perhiasan emas imitasi impor cantik berkualitas KWANG EARRING, Toko Online Jakarta
Bingung ketika menemukan pertanyaan dalam formulir klaim santunan tunai berbagai perusanaan asuransi yang salah satu butirnya menanyakan, apakah Anda menderita psikosomatik? Menuliskan jawaban tanpa mengetahui maksud dari pertanyaan, tentu bukanlah pilihan bijak.

Psikosomatik secara sederhana ialah sebuah keadaan dimana gangguan psikologis/mental yang spesifik akan menimbulkan penyakit fisik pula.[1] Banyak diantara kita yang tidak menyadari sedang terjangkit sindrom psikosomatik. Kenali gejala untuk mengenali penyakit, demikian peribahasa medis berkata. Lantas, bagaimana cara mengenali seseorang yang sedang terjangkit psikosomatik?
Ilustrasi berikut mungkin pernah kita alami. Rasa sakit pada organ dalam tubuh, bahkan sampai merasa terkena serangan jantung. Setelah memeriksakan diri di puskesmas, dokter menyatakan kondisi Anda selaku pasien ialah dalam kondisi normal. Tidak puas, Anda memeriksakan diri pada dokter spesialis penyakit dalam.
Apa yang kemudian dikatakan oleh dokter spesialis dalam setelah mengecek kondisi Anda dengan peralatan canggihnya, ialah: “Bapak/Ibu silahkan memeriksakan diri pada psikiatri.” Tubuh Anda yang sakit, mengapa divonis mengidap sakit mental?
Dalam bidang psikiatri, penyakit psikosomatik dikenal juga dengan sebutan somatoform. Para penderita gangguan somatoform tidaklah sedang berpura-pura tentang berbagai keluhan medis atau fisik mereka, seperti nyeri organ dalam maupun sekujur tubuh, vertigo, dada berdebar, jantung berdenyut cepat,  napas  pendek.[2]
Somatoform dicirikan adanya berbagai keluhan gejala fisik yang berulang, disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokter bahwa tidak dijumpai kelainan yang menjadi dasar keluhan.
Dilematika paling utama dari penderita, pasien bersikap defensif, menyangkal, dan menolak untuk membahas atau mendiskusikan adanya beragam kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problematika atau konflik dalam rumah tangga, kehidupan pribadi dan lingkungan sosialnya.
Dengan demikian, gangguan somatoform terkait erat dengan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti neurotik, gangguan mood, hingga gangguan psikotik. Salah satu ragamnya ialah ‘Gangguan Somatisasi’, yang ditandai  dengan  adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang beragam macamnya, bisa menahun dan diikuti keluhan berulang dan berganti-ganti tempat.       Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter meski rajib meminum obat (doctor shopping).
Penyebabnya, tidak lain dikarenakan pasien tidak mampu menerima pendapat   dokter bahwa mungkin terdapat akar psikologis yang mendasari gejalanya.
Variasi kedua ialah ‘Gangguan Hipokondrik’ dimana pasien merasa yakin ada yang salah dalam dirinya dan selalu ingin diperiksa untuk memastikan adanya   gangguan pada tubuhnya. Pasien tipe gangguan ini justru takut untuk makan obat karena dikira dapat menambah keparahan dari sakitnya.
Pasien hipokondrik lebih menekankan pada pemeriksaan untuk mendeteksi     penyakitnya, sekalipun berbiaya tinggi, dan bisa jadi mendesak dokter. Jika dokter tidak mau menuruti keinginan pasien, pasien besar kemungkinan akan mencari dokter lain, sehingga pasien tipe semacam ini memiliki banyak riwayat  kunjungan pelayanan medis.
Pasien cenderung menolak adanya kemungkinan akar psikologis, walaupun tanda-tanda depresi atau kecemasan terkadang kasat mata, pasien tetap menolak untuk dirujuk ke bagian psikiatri. Hal tersebut tidak lepas dari adanya stigma, berobat ke psikater berarti sakit jiwa.
Dengan bantuan psikiater (dokter ahli jiwa), pasien dipandu untuk mengatasi kendala psikologis yang dipendamnya yang berimbas pada manifestasi keluhan fisik. Psikiater berperan membantu pasien mengenali emosi terpendam dan  membantu menerjemahkan ulang masalah yang menjadi penyebab komplikasi keluhannya.
Psikoterapi berfungsi melihat adanya konflik yang mendasari keluhan-keluhan   fisik yang  diderita pasien lalu memandunya secara bersama melampaui konflik tersebut. Somatoform dipandang sebagai manifestasi dari gagalnya individu melakukan upaya adaptasi terhadap serangan kecemasan yang berproses pada alam bawah sadar, akibat ketidakmampuan pasien mengelola emosinya sendiri.
Untuk itu psikoterapi membantu pasien beradaptasi dengan kondisi internal batinnya sendiri, hingga meningkatnya kemampuan pasien dalam beradaptasi dalam menghadapi berbagai “timbunan” masalah kehidupan.
Gejala psikosomatik muncul sebagai akibat adanya pengaruh stres terhadap keadaan tubuh, dimana stres terlibat dalam perubahan sistem tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatan.[3] Emosi pribadi–terutama emosi terkait dengan stres seperti kecemasan dan depresi–memiliki peranan dalam keseimbangan fungsi kekebalan tubuh. Pesimisme, depresi, dan stres karena peristiwa kehidupan, memiliki kaitan dengan munculnya gangguan fungsi ketahanan tubuh.[4]
Dampak dari penurunan fungsi kekebalan tubuh adalah gangguan psikofisiologis (psikomatis) yang mengacu pada gejala fisik atau penyakit yang muncul karena hubungan yang saling mempengaruhi antara proses-proses psikososial dan fisiologis.[5]
Kembali pada form klaim asuranji jiwa yang mempertanyakan, apakah Anda memiliki gejala psikosomatik, bila hanya karena Anda menyatakan “YA”, maka klaim asuransi Anda ditolak, maka Anda patut bertanya pada perusahaan asuransi jiwa Anda: Penyakit psikosomatik ialah penyakit yang berhubungan dengan jiwa.
Jika klaim terhadap psikosomatik tidak di-cover oleh perlindungan asuransi jiwa, lantas untuk apa menyebut diri sebagai Perusahaan Asuransi Jiwa? Mungkin inilah pertanyaan besar bagi kita bersama. Perusahaan asuransi “tubuh” atau perusahaan asuransi “jiwa” ?



[1] Diadaptasi dari http:// modul.mercubuana. ac.id/files/pbael/pbaelmercubuanaacid/Modul%20Backlink/Modul%20Genap%202010-2011/Fakultas%20Psikologi/Filino%20-%20Psikologi%20Klinis%20&%20Kesehatan/ModulPsikologiKlinisdanKesehatanGP1011TM15.pdf
[2] Anonim, “Gangguan Somatoform: Si Sehat yang Merasa Sakit”, dalam Majalah LENTERA JIWA, Edisi 34/Th. 2016, Magelang, hlm. 5-7.
[3] Ader dan Cohen; Buck dalam Sarafino, E.P. 1994. Health Psychology: Biopsychosocial Interaction, Second Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc., sebagaimana dikutip oleh Amalia Rahmandani, Karyono, Endah Kumala Dewi, Strategi Penanggulangan (Coping) Pada Ibu Yang Mengalami Postpartum Blues Di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang, Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro.
[4] Kamen-Siegel, Rodin, Seligman, &Dwyer; Levy & Heiden; Zautra dkk. dalam Sarafino, E.P. 1994. Health Psychology: Biopsychosocial Interaction, Second Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc., sebagaimana dkutip oleh Amalia ibid.
[5] Sarafino, E.P. 1994. Health Psychology: Biopsychosocial Interaction, Second Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc., sebaaimana dikutip oleh Amalia, ibid.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA