Cyber Bullying, dapat Melukai, Menyakiti, hingga Membunuh Korban Perundungan secara Digital

By SHIETRA - October 21, 2019

Cyber Bullying, dapat Melukai, Menyakiti, hingga Membunuh Korban Perundungan secara Digital

Ada pepatah menyebutkan, semakin tinggi suatu pohon menjamah langit, semakin ia terkena terpaan kuat angin topan dan badai. Karenanya, ia perlu bertumbuh dengan akar yang kuat. Tapi juga, bukan artinya pohon itu tidak dapat tumbang jika diperlakukan dengan sangat buruk akibat perilaku manusia terhadapnya.
Ingin memuaskan semua orang, adalah merupakan kekeliruan pertama yang paling fatal dalam menjalani hidup yang keras ini. Kekeliruan kedua, ialah ketika kita terlampau memusingkan apa komentar orang lain, atau terlampau mengharap banyak komentar baik dan pujian terhadap kita sementara kita ketahui bahwa tidak semua orang beritikad baik terhadap kita. Orang yang iri, pasti berkomentar sinis.
Jika tidak ingin mendapat sorotan, maka jadilah orang-orang biasa--namun, menjadi orang biasa pun ternyata tidak lolos dari praktik perundungan sesama sipil orang biasa, di lingkungan rumah, sekolah, maupun tempat kerja. Menjadi tokoh masyarakat hingga artis terkenal, tentu ada resikonya tersendiri. Menjadi masyarakat biasa pun, ternyata tetap ada resikonya sendiri (buktinya korban bully bukan hanya berlatar-belakang tokoh ataupun artis), semisal di-bully oleh orang-orang yang lebih kuat secara fisik dan ekonomi (semisal disebut sebgai 'miskin', memakai motor 'butut', busana 'ketinggalan zaman', dan lain sebagainya).

Hanya diri individu bersangkutan masing-masing yang paling mengetahui kesulitan hidup dan situasi yang dialaminya sendiri sepanjang hidupnya, bukan orang lain, dan bukan pula para komentator yang berhak menghakimi seseorang individu lainnya.

Seorang pengendara "ojek online", tanpa izin memarkir kendaraannya persis di depan pagar rumah warga setempat, adalah "sepele"? Memarkir kendaraan di depan pagar rumah warga, bukanlah hal yang sepele, namun ilegal dan tidak bermoral juga tidaklah sopan. Namun ketika seorang warga mendapati setiap harinya, dari pagi sampai sore hari, selama bertahun-tahun, halaman depan rumahnya dipergunakan oleh para pengendara "ojek online" yang dipesan oleh pengusaha yang membuka kegiatan usaha jual-beli online dalam kapasitas besar (dengan puluhan pegawai) secara ilegal (tanpa izin usaha) di daerah pemukiman /perumahan padat penduduk tanpa mau membuat tempat parkir pada tempat usahanya sendiri (sekalipun ukuran gedung kantornya sangat besar, cerminan sifat keserakahan dan ketamakan yang luar biasa serakah sang pelaku usaha), sekalipun orang luar akan menilai "itu hal yang sepele halaman rumah dijadikan tempat parkir liar" bagi ratusan ojek online, mobil box kurir ekspedisi pengiriman barang, hingga mobil kontainer berdimensi besar yang mengirim bahan baku bagi sang pelaku usaha namun tanpa tempat parkir yang memadai sehingga mereka memarkir kendaraan mereka secara liar di rumah-rumah warga sekitar, HANYA WARGA PEMILIK RUMAH ITU SENDIRI YANG MENGALAMI LANGSUNG DAN MENGETAHUI KONDISI SEBENARNYA, YAKNI SUDAH BERTAHUN-TAHUN LAMANYA SETIAP HARINYA DARI PAGI HINGGA SORE HARI RUMAH SANG WARGA DIJADIKAN TEMPAT PARKIR LIAR OLEH KEPENTINGAN (KURIR YANG DIPESAN) SANG PENGUSAHA YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DI LINGKUNGAN PERUMAHAN PADAT PENDUDUK YANG BUKAN UNTUK PERUNTUKAN TEMPAT USAHA.

Orang lain tidak pernah berhak untuk membuat penilaian secara prematur terlebih menghakimi sang warga yang menjadi korbannya. Orang luar tahu apa, selain "sok tahu", lantas dengan mudahnya membuat komentar "hal sepele"? Apakah bedanya antara perilaku sang pengusaha "serakah" dengan usaha ilegalnya demikian, dan sang komentator yang hanya pandai menghakimi secara prematur dan secara "salah alamat" demikian?

Mungkin Sobat-Sobat sekalian akan menilai itu sebagai hal "sepele" saja, namun tunggulah sampai rumah kediaman Sobat sendiri yang mengalami hal serupa secara langsung sebagai korban serupa, untuk setiap harinya, sepanjang harinya, dan selama bertahun-tahun. Kita tidak akan pernah benar-benar mengetahui perasaan korban, sampai kita sendiri yang menjadi korbannya. Karena itulah juga, kita tidak pernah berhak menghakimi seorang korban, dengan menyepelekan kondisi yang dialaminya sebagai sekadar "hal sepele", sementara sejatinya kita tidak tahu apa-apa tentang seluruh kondisi yang selama ini pernah dihadapi oleh sang korban.

Kembali viral dikabarkan korban jiwa akibat perundungan, kini dialami oleh artis film yang juga sekaligus penyanyi asal Korea Selatan, Choi Jin-ri yang kerap disapa dengan nama populer “Sulli”, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Seongnam, Seol, Senin (14/10/2019).
Sulli sendiri merupakan artis K-Pop yang memulai debutnya sebagai aktris pada tahun 2005. Selanjutnya, Sulli bergabung dalam girlband “f(x)” pada 2009. Ia kemudian vakum pada 2014.
Saat kembali ke panggung hiburan, ia mengaku ingin fokus dalam berakting. Ini membuatnya kemudian meninggalkan “f(x)” yang membesarkan namanya. Pasca keluar dari girlband tersebut, Sulli sendiri merupakan artis yang kerap mendapatkan nyinyiran netizen. Sulli dikabarkan pernah menyebutkan, “Saya benci dengan diri saya yang terobsesi dengan pikiran orang.”
Foto ciuman Sulli dengan Choiza, selebritas Korea Selatan yang menjadi kekasih Sulli. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan bintang K-Pop. Akibat unggahannya, ia mendapatkan nyinyiran pedas.
"Apakah kamu harus memposting ini?" tulis salah seorang netizen. "Silakan menikah. Sepertinya kamu harus melakukannya”, tulis netizen yang lain.
Pesta piyama saat Sulli mengadakan pesta ulang tahun untuk sahabatnya, selebritas Go Ha Ra, nyinyiran netizen juga kembali datang. Hal tersebut, karena Sulli mengunggah fotonya yang mengenakan kamisol berenda yang terlalu terbuka.
"Kamu sangat ingin telanjang, ya?" tulis seorang netizen. "Siapa yang melakukan ini? Siapa yang mengambil gambar seperti ini dan mempostingnya?" ujar netizen yang lain.
Kecupan Sulli dengan Go Ha Ra, Netizen juga berkomentar miring ketika Sulli mengunggah fotonya tengah merayakan ulang tahun bersama Goo Ha Ra. Ketika itu Sulli memposting secara live di Instagramnya saat ia saling berbagi kecupan dengan sahabatnya. Akibat postingan tersebut banyak netizen yang menilai mereka sebagai pasangan lesbian.
Komentar-komentar netizen sebetulnya tak terlampau sadistik terhadap Sulli. Salah satunya ketika Sulli menandai postingannya pada akun penyanyi G-Dragon, ia kembali dihujat netizen. Padahal, G-Dragon dan Sulli merupakan teman baik.
Ketika itu ia tengah diundang G-Dragon dalam sebuah acara. Para netizen membanjiri postingan Sulli dengan berbagai komentar sinis. "Apakah kamu pikir kamu begitu istimewa karena kamu berteman dengan G-Dragon?" tulis salah satu komentar netizen. “LOLOL Berhentilah menghubungkan akunmu dengan G-Dragon. Suatu kekonyolan kamu melakukannya di IG LOL” tulis komenar yang lain.
Sulli dianggap tak memakai bra, akibatnya netizen seolah tak kehabisan bahan nyinyiran untuk Sulli. Dalam sebuah foto yang tampak biasa saja pun mereka menemukan celah kesalahan selebritas Korea Selatan itu.
Dalam sebuah unggahan Sulli, netizen menyadari bahwa Sulli tak mengenakan bra di balik bajunya. Nyinyiran terhadap Sulli juga bergaung kencang ketika ia memposting fotonya berpakaian namun tanpa menggunakan bra.
Beberapa netizen mengungkapkan ketidaksepakatannya atas cara berpakaian Sulli dan meminta ia untuk menggunakan bra. Namun meski ia mendapatkan berbagai komentar keras, ia tetap melakukanya dan seolah tak mengambil peduli.
Sulli meninggal di usia 25 tahun. Meninggalnya Sulli menambah deretan panjang aktor dan aktris maupun orang dari masyarakat umum yang memilih bunuh diri di usia muda. Motifnya macam-macam, bahkan pernah terjadi seorang wanita muda ditemukan membunuh dirinya sendiri karena diancam pria yang mengancam akan memposting foto tanpa busana sang wanita bila tidak menuruti keinginannya.
Di belantara KPop, Sulli dikenal sebagai aktris yang berpikiran bebas dan tak terlalu menjaga kelakuan dan tingkah lakunya. Hal ini membuatnya banyak mendapat serangan atau komentar negatif dari para netizen KPop lover yang terkenal menuntut kesempurnaan.
Salah satunya, ketika Sulli live Instagram di sebuah bar pada 17 September 2019. ketika itu ada seorang penggemar pria yang berusaha mendekatinya dan Sulli ketakutan. Beberapa netizen memberikan komentar pedas soal ini.
"Jika kamu ketakutan, pensiun saja."
"Kamu minum alkohol di bar dan tidak dapat memperkirakan hal seperti itu akan terjadi?"
"Dia bilang dia penggemar. Apa yang perlu ditakutkan?," ujar netizen seperti dikutip dari Allkpop, Senin (14/10/2019).
Para pencinta KPop di Jepang juga menyerangnya. Penyebabnya, pada 14 Agustus lalu, dia memposting tentang Comfort Womens Memorial Day, sebuah aksi memperingati kekerasan seksual yang dilakukan tentara Jepang ketika menginvasi Korea Selatan.
Netizen Jepang menulis:
"Jangan pernah datang ke Jepang lagi."
"Jangan pernah datang ke Jepang. Kamu tak tahu Jepang memberikan uang ke Korea?," seperti dikutip dari Koreaboo.
Netizen juga sempat menyerang Sulli karena postingan foto dirinya dengan Hara. Foto tersebut menunjukkan kedua idola ini berpelukan dalam satu baju. Netizen menyerang postingan ini dengan sebutan lolita atau pencinta sejenis. Postingan ni kemudian dihapus, seperti dikutip dari Korea Portal.
Apakah Sobat pernah mendengar istilah cyberbullying? Pastilah kita sudah familiar dengan istilah “bullying” alias perundungan yang kian hari kian meresahkan banyak masyarakat kita karena masifnya korban perundungan yang terjadi setiap harinya, baik pada dunia nyata maupun pada dunia maya.
Bullying dapat dimaknai sebagai sebentuk perilaku yang menyudutkan dan meresahkan, cenderung melecehkan dan mediskreditkan secara tidak manusiawi. Ia sangat berkorelasi dengan harassment, dan sangat sulit untuk dikontrol, terutama dalam dunia sosial-pergaulan dan dunia maya.
Bullying atau perundungan lewat perantara media digital, kemudian dikenal dengan istilah sebagai cyberbullying. Sifat cyberbullying dapat lebih jahat dan lebih masif ketimbang bullying dalam dunia nyata. Mengapa demikian?
Perundungan dalam dunia nyata, membuat pelakunya belum tentu akan berani bertatap muka dengan korbannya yang bisa jadi akan terjadi sengketa tatap-muka antara si pelaku dan si korban. Namun dalam medium digital /online, pelaku dapat bersembunyi dalam anonimitas atau bahkan identitas palsu, dan pelakunya dapat menyerupai “keroyokan” bully “berjemaah” yang sangat menyudutkan dan meresahkan.
Bully dalam dunia digital, lebih kejam karena dapat diakses dan dibaca oleh ribuan hingga jutaan orang, dan itulah yang paling menyudutkan mental para korbannya. Betul bahwa bullying dalam dunia nyata bisa sangat kejam, hingga menjurus kekerasan fisik, namun bullying dalam dunia maya dapat menjurus penghakiman oleh massal dan sangat melukai hati serta perasaan korbannya.
Kita sudah saatnya perlu belajar untuk bertanggung-jawab atas setiap komentar dan pendapat kita perihal orang lain yang kita komentari. Hargai harkat serta martabat orang lain sebagaimana kita hendak dihargai dan dihormati martabat serta privasinya.
Kita tidak bisa sembarang komentar dan tidak bisa pula menyatakan "risiko jadi artis harus kuat terima hujatan". Sebab tak ada yang tahu bagaimana seseorang menghadapi problem yang mereka hadapi, bisa-bisa komentar kitalah salah satu pemicu sang korban bertindak menyakiti dirinya sendiri karena self esteem yang menjadi koyak menghadapi gempuran komentar bernama “miring”.
Apakah tujuan dibalik cyberbullying? Seseorang menggunakan teknologi digital seperti media sosial yang menawarkan kemudahan untuk berkomentar dan mempublikasikannya secara luas, namun secara tidak bertanggung-jawab, yakni untuk mengganggu, mengancam, atau mempermalukan orang lain.
Agak berbeda dengan bullying dalam dunia nyata, cyberbullying tidak memerlukan kontak fisik, kekuatan fisik, bahkan identitas si perundung bisa tidak diketahui—itulah alasan yang membuat cyberbullying begitu masif dan sukar terkontrol.
Dibalik kemudahannya dalam melancarkan berondongan komentar secara meluas, cyberbullying juga punya dampak yang tak kalah menyiksa dari bullying dunia nyata. Karena menggunakan medium teknologi seperti jaringan internet semudah memainkan tuts pada gadget seperti handphone, cyberbullying dapat terjadi bahkan kapan saja tanpa mengenal waktu ataupun tempat.
Pelaku cyberbullying bahkan juga dapat sewaktu-waktu membuat akun atau web khusus untuk memperolok atau menghina korbannya tanpa diketahui identitasnya (anonim). Terlebih, bila semua komentar yang dilontarkan bisa jadi hanyalah fitnah belaka, sementara para pembacanya akan percaya begitu saja tanpa melakukan verifikasi, dan seketika melakukan “penghakiman” secara berjemaah.
Korban cyberbullying akan merasa terluka, marah, takut, tidak berdaya, putus asa, terisolasi, malu, tersudutkan, terancam, dan bahkan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Jika ini terjadi berulang-ulang dan bertambah intens, si korban bisa berpikiran untuk nekad mengambil “jalan pintas” dengan menghakhiri hidupnya sendiri, dan korban jiwa yang berjatuhan sudah cukup banyak diberitakan.
Ancaman langsung kedua, ialah terganggunya kesehatan fisik sampai mental sang korban perundungan. Korban cyberbullying akan memiliki risiko lebih besar untuk menderita stres, depresi, kehilangan percaya diri, demotivasi, cemas, dan gangguan post traumatic stress disorder (PTSD) pada orang dewasa. Hal tersebut pada gilirannya akan berdampak pada merosotnya sistem kekebalan tubuh si korban yang menjadi terganggu, perlahan namun pasti.
Fase berikutnya, korban akan mulai menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tersisihkan dan terhakimi. Karena segala macam ketakutan dan kecemasan yang dialaminya, korban bisa menarik diri dari lingkungan sosialnya. Ia bahkan bisa memilih untuk pindah dan putus sekolah karena dikucilkan, atau bahkan menyendiri di rumah karena cyberbullying.
Sekalipun cyberbullying dilakukan melalui media internet atau media sosial, tetap saja orang-orang yang membacanya akan memberi kesan negatif dan pada gilirannya si korban akan dikucilkan dari lingkungan sosialnya, dari lingkungan sekolahnya, hingga dari lingkungan pekerjaannya.
Mereka yang mengenal kita di dunia nyata, tetap bisa melihat secara langsung komentar-komentar jahat yang menyerang si korban di dunia digital. Pada gilirannya, orang-orang dari dunia nyata yang dikenal oleh si korban ini bisa ikut menjauhi, mengucilkan, atau bahkan turut menghakimi di kehidupan nyata.
Pada muaranya, si korban bukan hanya menjadi korban cyberbullying, tapi juga berlanjut pada bullying dalam dunia nyata dari lingkungan sosial. Bagaikan efek bola salju, semakin lama semakin kentara.
Karenanya, cyberbullying itu sangat berbahaya dan bukan lagi hal yang sesederhana tampak di permukaan. Tidak pernah ada bullying baik pada dunia nyata ataupun pada dunia maya yang sifatnya “sepele”. Semua bullying, sifatnya melukai perasaan orang lain yang menjadi korban bullying. Melukai adalah hal yang buruk, bukan hal yang sepele dan TIDAK PERNAH SEPELE.
Uniknya, banyak diantara netizen kita yang bagai latah, justru ikut-ikutan “memanas-manasi”, dan ikut-ikutan “mengompori”, alih-alih menegur tindakan si pelaku bully dan mencoba melindungi dan menghibur si korban.
Karena kebanyakan orang hanya mampu memberi komentar tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang dikomentari, itulah salah satu komentar positif penuh empati ditengah masifnya komentar-komentar tidak bertanggung-jawab, semudah menyalahgunakan gadget pada tangan mereka di balik layar, menyerang korbannya tanpa berdaya karena si pelaku cyberbullying tidak dikenal dan borderless.
Jangan pernah katakan bahwa setiap pelecehan dan bully yang kita lontarkan, hanya “sepele”, dan tidak akan menyakiti hati orang lain. Itu hanya asumsi Anda sendiri, belum tentu orang lain akan menanggapinya secara ringan karena yang menjadi korban bukanlah Anda, tapi si korban itu sendiri—bisa jadi sang korban akan benar-benar menjadi terluka karenanya. Kata-kata yang kita lontarkan, dapat membunuh hidup dan kehidupan orang lain.
KWANG pun sering mengalami perundungan, tanpa bisa melawan ataupun membalas, hanya bisa bersedih seorang diri, betapa pelakunya sangat tidak berhati nurani, tidak memiliki kepekaan perasaan terhadap perasaan orang lain yang menjadi korban pelecehan verbal demikian. Seolah, hati mereka terbuat dari batu, dan seolah hati para korbannya terbuat dari besi.
Namun, apapun komentar orang lain, selalu coba berbelas kasih kepada diri kita sendiri, karena itulah kekuatan internal dalam diri kita yang paling kuat dan mampu untuk melindungi diri kita dari berbagai komentar negatif di luar sana. Menjadi mandiri secara mental, bukan mendefinisikan siapa diri kita dari apa yang dikomentari oleh orang lain. Diri kita adalah diri kita sendiri.
Singkatnya, bullying bukanlah dan tidak pernah merupakan hal yang sepele. Bullying, sifatnya selalu melukai perasaan korbannya. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊
Sumber Rujukan:
https:// today.line. me/id/pc/article/Nggak+Sepele+Ini+Dampak+Cyberbullying+yang+Harus+Kamu+Tahu-zxaVrP
https:// www. cnbcindonesia .com/tech/20191014174236-37-106906/sulli-f-x--bunuh-diri-sadisnya-nyinyiran-netizen-kpop
https:// www. kompas. com/tren/read/2019/10/14/203000365/sulli-eks-f-x-bunuh-diri-ini-6-nyinyiran-netizen-yang-bikin-depresi?page=all

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA