Menjadi Konsumen dan Produsen yang Baik serta Bijaksana

By SHIETRA - October 09, 2019

Menjadi Konsumen dan Produsen yang Baik serta Bijaksana

Ternyata tidak semudah itu untuk bisa menjadi seorang konsumen yang baik, disaat perilaku kalangan produsen maupun pedagang yang kurang baik terhadap produk yang mereka lempar ke pasar, terjadi demikian masif dan meluas.
Sebagai contoh, baru-baru ini KWANG yang mengalami kerusakan pada perangkat handphone, ternyata tidaklah sukar bagi kita untuk mencari merek serta tipe handphone yang dapat dibeli sebagai penggantinya. Namun yang membuat KWANG pusing tujuh keliling, buku petunjuk gadget tersebut mengingatkan agar konsumen / pembeli tidak membuang baterai maupun perangkat elektronik ke tempat sampah umum, tapi ke tempat khusus barang elektronik bekas, karena baterai dan barang elektronik mengandung merkuri ataupun logam berat lainnya, yang berbahaya dan beracun bagi kelestarian lingkungan hidup.
Masalahnya, KWANG tidak pernah melihat adanya gerai penjualan gadget maupun official store di Indonesia yang menyediakan layanan penerimaan dan penampungan perangkat gadget bekas yang sudah tidak terpakai oleh konsumen mereka, untuk mereka olah kembali dan daur ulang yang sesuai standar keamanan lingkungan hidup.
Berdasarkan laporan yang diliris sejumlah media, setiap tahunnya pasar di Indonesia menyerap puluhan juta perangkat baru handphone, maka artinya akan ada equivalen puluhan juta handphone bekas yang tercampakkan menjadi sampah (limbah tidak teruraikan), belum lagi kita berbicara limbah bekas gadget-gadget lainnya seperti komputer, laptop, tablet, speaker sound system, televisi, kulkas, mesin cuci, kamera, video game, amplifier, DVD player, dsb.
Karena pihak penjual maupun produsen tidak memberi akses ataupun kemudahan bagi masyarakat dan konsumen mereka untuk menyerahkan ke tempat penampungan yang mereka buka sebanyak / sebanding dengan jumlah gerai penjualan mereka, alhasil KWANG duga semua barang bekas tersebut berakhir nasibnya pada tempat pembuangan sampah umum, atau bahkan dibuang ke tempat-tempat yang tidak semestinya seperti ke sungai, ke laut, ke tanah, dsb, atau bahkan ke pekarangan rumah mereka sendiri yang kemudian dimakan oleh ayam yang mereka pelihara sebelum kemudian dimakan oleh pemiliknya. Bagaimana bangsa ini mengharap untuk hidup sebat, bila perilaku dan kebiasaannya demikian?
Jika perangkat yang mengandung limbah dan logam berat beracun serta berbahaya demikian sampai mencemari lingkungan ekosistem sungai maupun laut, terlebih tanah tempat tumbuhnya tanaman sayur dan buah-buahan, maka dapat dipastikan paparan logam berat dan beracun akan berakhir pada rantai piramida makanan yang ujungnya akan dimakan oleh penduduk kita itu sendiri. Pernah mendengar istilah seperti micro-plastik, limbah plastik yang terserap oleh tumbuhan sayur dan buah-buahan yang kita konsumsi sehari-hari?
Hal yang juga tak kalah mengerikan, dalam setiap buku petunjuk alat elektronik disebutkan dengan nada peringatan sangat tegas dan keras, JANGAN MEMBUANG BATERAI KE TEMPAT SAMPAH BIASA DAN JANGAN DIBAKAR, KARENA DAPAT MELEDAK!
Selama ini di Indonesia, semua sampah dan limbah domestik dibuang dan berakhir pada tempat penampungan sampah akhir yang menggunakan metode timbun atau pembakaran. Bagaimana jika sampah limbah domestik itu bercampur limbah baterai bekas, lalu dibakar di tempat penampungan sampah akhir tersebut? Tidak heran bila sering tersiar kabar kejadian meledaknya tempat-tempat penampungan sampah, yang bisa jadi... karena ulah kita-kita selaku konsumen.
Sobat-sobat sekalian termasuk KWANG, pastilah ingin menjadi konsumen yang baik dan bertanggung-jawab terhadap alam, kelestarian, keselamatan, dan terhadap produk yang selama ini kita beli dan konsumsi.
Namun masalah terbesarnya, kemanakah tempat kita dapat menyerahkan seluruh barang elektronik bekas demikian? Jikalau pun ada, apakah mudah bagi kita untuk menjumpai dan mengaksesnya? Mengapa para produsen dengan seluruh gerai resminya tidak memiliki tanggung jawab moral ataupun corporate social responsibility untuk mengundang, menerima, dan menampung serta mengedukasi para konsumen mereka untuk menyerahkan saja kepada mereka barang-barang elektronik bekas yang mereka produksi dan jual, termasuk kemudahannya seperti cukup mengirim via pos tanpa harus datang langsung.
Apakah pernah, di Indonesia kita menjumpai gerai-gerai penjualan barang elektronik yang juga menyediakan loket khusus untuk menampung barang-barang bekas? Itulah cerminan kurangnya kesadaran para produsen maupun tanggung jawab moral para pedagang dan penjual kita, selain hanya berorientasi profit tanpa memikirkan kelestarian alam dan lingkungan hidup. Mereka menjadi besar dengan mengorbankan lingkungan hidup.
Semestinya, menurut hemat KWANG, pemerintah perlu mulai untuk turut tangan dan mengintervensi perilaku komersiel “tidak sehat” demikian, dengan membuat kebijakan atau peraturan agar pihak produsen maupun gerai-gerai penjualan barang elektronik menyediakan pula loket-loket penampungan barang elektronik bekas agar dapat ditampung, dikumpulkan, untuk kemudian diproses secara lestari, dan didaur ulang limbahnya.
Ironi atau dilematika demikian sama persis dengan selama ini sikap reaktif pemerintah Indonesia yang bercuap-cuap betapa sampah plastik dan styrofoam mencemari ekosistem sungai maupun laut kita. Masalahnya, bukannya konsumen produk plastik kita tidak memiliki kesadaran untuk memilah limbah domestik rumah tangga—namun tiadanya sarana yang memadai maupun kemauan / keseriusan pihak pemerintah itu sendiri.
Contohnya, kita dapat saja menemukan tong sampah yang dipilah atau dibedakan antara sampah organik dan sampah an-organik. Meski demikian, pada muaranya tetap saja semua itu berakhir menjadi satu, bercampur-aduk antara sampah kompos dan sampah-sampah plastik maupun limbah lainnya menjadi satu tumpukan gunung sampah yang menyerupai “gado-gado”.
Menjadi suatu kesia-siaan bila setiap rumah tangga merepotkan diri untuk melakukan pemilahan demikian, bila pihak pemerintah justru selama ini salah urus dan salah kelola manajerial pengelolaan sampah di kota dan negeri mereka sendiri. Bahasa sederhananya, mau cari gampangnya saja”—suatu sikap pragmatis yang harus kita bayar dengan rusaknya ekosistem kita hidup dan bertopang.
Sehingga, terhadap isu pencemaran lingkungan oleh sampah plastik, hal demikian sejatinya menjadi cerminan kegagalan pemerintah kita itu sendiri, yang selama ini gagal mengelola manajemen perlimbahan sampah rumah tangga domestik, sehingga pada ujungnya pencemaran lingkungan terjadi tanpa dapat dihindari. Tiada akses bagi masyarakat untuk memilah dan membuang sesuai dengan apa yang telah mereka pilah, pada gilirannya menjadi program “kontraproduktif” untuk menyelamatkan lingkungan.
Keseriusan pihak pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, KWANG nilai masih separuh hati, lantas semudah bagi mereka mengkambing-hitamkan perilaku masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan—hal yang disebut terakhir tersebut pun patut kita akui kebenarannya, sehingga memperparah kelangsungan dan keberlanjutan ekosistem dan lingkungan hidup kita. Ketika pemerintah dan warga masyarakatnya, sama-sama bersikap pragmatis, berakal pendek, maka kepunahan ekosistem sejatinya sudah di depan mata. 😈😇😉
Sebagai penutup, KWANG akan mengutipkan sebuah pepatah indah yang berasal dari Suku Indian di Benua Amerika, bahwasannya kita tidak sedang mewariskan alam ini kepada generasi penerus, kita hanya sedang MEMINJAM-nya dari anak dan cucu, sehingga kita tidak pernah berhak untuk merusak apa yang sedang kita pinjam.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA