Antara Berbuat Kekeliruan dan Permohonan Maaf

By SHIETRA - November 03, 2019

Antara Berbuat Kekeliruan dan Permohonan Maaf

Sebetulnya, apakah meminta maaf adalah sebuah “hak”? Atau, pertanyaan variasi lainnya sebagai, apakah setiap orang punya yang namanya “hak” untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan terhadap orang lain?
Meminta maaf kepada siapakah? Meminta maaf kepada orang lain yang menjadi korban tersakiti oleh perbuatan kita, ataukah meminta maaf kepada diri kita sendiri? Manakah juga yang lebih penting, meminta maaf kepada korban atakah meminta maaf kepada diri kita sendiri karena telah melakukan karma buruk yang patut disesali?
Sebagaimana kita ketahui, melakukan sebuah kesalahan adalah hal yang manusiawi. Kesalahan itu sendiri, dapat berupa kesengajaan atau mungkin juga hanya sebatas kelalaian belaka (alias tidak disengaja).
Maka, mungkin pertanyaan yang paling relevan ialah permintaan maaf lebih tepat ditujukan bagi perbuatan yang dilakukan secara “lalai” (kecerobohan, kelupaan, ketidak-hadiran, ketidak-telitian, atau istilah lainnya), ataukah juga layak ditujukan bagi perbuatan-perbuatan yang sifatnya “disengaja” oleh pelakunya?
Tentu saja, sengaja melakukan sesuatu oleh si pembuatnya, berarti ia menginginkan perbuatan itu dilakukan dan juga menginginkan akibat dari perbuatannya tersebut. Perbuatan dan akibat, aksi dan reaksi, sejatinya adalah satu paket alias satu-kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Menginginkan aksi artinya disaat bersamaan dirinya menghendaki pula reaksinya.
Maka, ketika seseorang sejatinya telah dengan sengaja melakukan sesuatu perbuatan yang merugikan atau melukai orang lain, senyatanya ia menyadari betul perbuatannya, sehingga permintaan maaf tidak lagi menjadi “hak” baginya untuk melancarkan aksi “cuci tangan” terlebih sebagai upaya untuk melarikan diri dari tanggung jawab.
KWANG memiliki pandangan, mereka yang berhak untuk meminta maaf hanyalah orang-orang yang pernah melakukan kekeliruan akibat “kelalaian”, alias sebatas kesalahan akibat kecerobohan yang bersangkutan. Derajat kesalahan antara kelalaian dan kesengajaan, bagaikan jarak antara “langit dan bumi”—sehingga seolah terlampau “mewah” bagi seorang pelanggar yang melakukan kesalahan secara disengaja untuk mendapatkan “maaf”.
Bagaimana dengan para pelaku yang melakukan kesalahan secara disengaja, namun kemudian mulai menyadari dan menyesali perbuatannya yang keliru dikemudian hari? Pepatah mengatakan, “menyesal selalu datang terlambat”. Namun, mengapa juga menunggu datangnya penyesalan itu sampai terjadi?
Tidak tertutup kemungkinan, seseorang barulah akan menyadari kesalahannya dikemudian hari dan bertekad untuk “bertobat” dan melakukan perubahan pada sikap dan pemikiran dirinya. KWANG pun pernah melakukan kesalahan serupa, dan sangat menyesalinya beberapa waktu kemudian.
Namun bagi mereka yang sebelumnya pernah melakukan kesalahan secara disengaja—meski saat kini telah menyesalinya—maka yang dapat diupayakan olehnya kepada para korbannya, ialah mengutarakan isi hati dan pikirannya sebatas kalimat berikut ini : “Terhadap perbuatan saya dahulu kala itu terhadap Anda, sungguh kini saya sangat menyesalinya, dan saya bertekad untuk tidak lagi mengulanginya serta melakukan perubahan dan perbaikan terhadap sikap saya.
Apa yang telah terjadi, tidak dapat dikembalikan seperti keadaan semula. Sejarah, tidak dapat dihapus, sebagaimana pun kita mencoba untuk memungkirinya. Maka, permintaan maaf sejatinya hanya untuk kepentingan ketenangan batin si pelakunya semata, sehingga adalah suatu keegoisan bila pelaku mengharap dimaafkan oleh para korbannya dengan semudah dan “segampang” mengajukan apa yang disebut sebagai permohonan maaf.
Akan lebih elok dan luhur, bila seseorang sesegera mungkin menyadari kesalahannya lewat sebentuk self-introspection (introspeksi diri), dan sesegera mungkin juga segera menghentikannya—sebagai wujud konkret keseriusan untuk mulai benar-benar menginsafi perbuatannya yang ternyata keliru dan “bertobat”, dan jika perlu memulihkan segala kerugian-kerugian maupun luka-luka para korbannya (bertanggung-jawab).
Mereka yang terus melakukan kesalahan serupa secara berulang kali, atau bahkan menahun sifatnya, maka tiada lagi berhak memohon permohonan maaf apapun terhadap para korbannya, terlebih bila dilakukan secara disengaja. Segala jenis derita yang ditanggung para korbannya, apakah layak seolah dipungkiri dengan semudah melontarkan dua buah patah kata dari mulut sang pelakunya, “Minta maaf”?
Mungkin, pertanyaan yang paling relevan ialah, bila seseorang tidak bersedia untuk bertanggung-jawab, sementara dirinya hendak meminta maaf atas kesalahan atau kekeliruannya entah secara disengaja ataupun tidak, maka apakah dirinya benar-benar berhak untuk memohon permintaan maaf dari para korbannya?
Sekali lagi dan kembali lagi, sekalipun kita menganggap bahwa semua orang memiliki “hak” untuk meminta maaf, namun pihak korban juga selalu memiliki hak untuk tidak memberikan maaf, dan menuntut tanggung jawab dari sang pelakunya, baik bagi pelaku yang melakukan kekeliruan padanya secara disengaja maupun yang secara tidak disengaja.
Terdapat sebuah pepatah Latin berbunyi sebagai berikut : “Magna Culpa Dolus Est, Great Fault (or Gross Negligence) is Equivalent to Fraud.” Hendaknya bunyi pepatah latin demikian dapat menjadi pembelajaran bagi kita bersama, agar tidak selamanya mengandalkan kata “mohon maaf” dengan secara sewenang-wenang melakukan kesalahan demi kesalahan baru lainnya.
Orang-orang yang bersikap sewenang-wenang, tidak pernah mau membiasakan dirinya untuk melakukan instrospeksi diri, alhasil perilakunya senantiasa diwarnai oleh perbuatan-perbuatan yang merugikan ataupun melukai orang lainnya. Pengendalian diri mereka sangatlah buruk, sehingga tidak pernah berhak untuk mengandalkan permohonan maaf untuk menutupi segala perilakunya selama ini.
Alih-alih mengandalkan permohonan maaf, alangkah lebih indah bila kita berupaya sebaik mungkin menghindari perbuatan buruk, baik disengaja maupun karena lalai, dan mulai lebih menaruh perhatian pada kepentingan-kepentingan orang lain selain kepentingan diri sendiri. Ingatlah, mereka selalu punya hak untuk menolak permintaan maaf kita, dan mereka pun selalu memiliki hak untuk menuntut tanggung-jawab atas perbuatan kita terhadap mereka.
Meskipun demikian, seburuk-buruknya mereka yang melakukan kesalahan berat, alangkah lebih buruk dan menjadi tragedi satiris ketika seseorang melakukan kesalahan demi kesalahan serupa, dan tanpa pernah mengakui kesalahannya untuk seumur hidupnya. Orang semacam itu, sungguh-sungguh tidak tertolong lagi.
Meminta maaf, entah kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain yang selama ini kita sakiti atau rugikan, sejatinya adalah upaya untuk menolong diri kita sendiri agar terhindar dari perbuatan buruk serupa. Namun, mereka yang gagal untuk menyesali perbuatan buruknya, sejatinya sedang menjadi korban dari “musuh terbesar bagi dan dari dalam dirinya sendiri”.
Jika sebisa mungkin menghindari kesalahan yang merugikan orang lain, alangkah lebih baik jika kita mencegah segala perbuatan buruk itu agar tidak pernah sampai benar-benar terjadi terlebih sampai menimbulkan jatuh korban jiwa.
Jika bisa dicegah, mengapa juga memilih mengobati dan mengharap dimaafkan? Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA