Antara Kebijaksanaan dan Memahami Seni Paradoks

By SHIETRA - November 07, 2019

Antara Kebijaksanaan dan Memahami Seni Paradoks
Antara Kebijaksanaan dan Memahami Seni Paradoks

Apakah yang dimaksud dengan “kebijaksanaan”? Mungkin mudah bagi kita untuk membuat definisi bagi istilah tersebut, namun sangat sukar untuk membuat format bakunya, mengingat sifat “bijaksana” sangat kasuistik terhadap setiap dan masing-masing kasus spesifiknya dan kontekstual.
Karenanya, mempelajari kebijaksanaan bukan dimaknai proses pembelajaran sekali selesai, namun pembelajaran sepanjang waktu dan sepanjang hayat untuk mengenali berbagai pilihan respons serta jawaban atas setiap kondisi yang kasuistik, bukan untuk mempelajari satu jawaban untuk seluruh keadaan yang kita hadapi di keseharian.
Mungkin, lebih tepat jika KWANG memberikan definisi “kebijaksanaan” sebagai “seni memahami keterampilan paradoksal”. Paradoks sendiri artinya ialah sesuatu yang sukar dideskripsikan dalam bahasa yang singkat, karena sangat berhubungan dengan cara berpikir (mind set) serta pengalaman, namun dapat kita rasakan karena sifatnya tiada jawaban yang baku untuk dapat diterapkan pada seluruh hal.
Singkatnya, tiada satu jawaban yang dapat digunakan untuk seluruh konteks kasus, namun kasuistik kasus per kasus sifat pendekatannya—itulah paradoks. Paradoks, membuat suatu jawaban yang tampak “benar” bisa menjadi “tidak benar” ketika diterapkan jawabannya tersebut kedalam kondisi yang berlainan.
Contoh-contoh “seni” paradoksal, antara lain kita perlu belajar untuk mau mendengarkan, namun juga pada saat-saat tertentu kita harus belajar untuk tidak mengambil hirau terhadap perkataan orang lain. Ada kalanya kita harus memberi jawaban, dan ada kalanya kita “diam seribu bahasa”.
Tidak ada satu jawaban untuk segala situasi. Kondisi dan situasi itu sendirilah yang menjadi faktor paling dominan untuk memilih pendekatan yang paling sesuai dan paling memadai. Dibutuhkan aktivitas berpikir yang luar biasa untuk bisa menerapkan prinsip paradoksal ini. Karenanya, menjadi bijaksana bukanlah selalu pekerjaan yang mudah untuk dilakoni dan dilatih untuk dipraktikkan.
Begitupula kita diajarkan untuk bersikap murah hati dengan memberi materi bagi orang-orang tidak mampu. Namun, sering kali juga kita menemukan keadaan dimana dana yang kita berikan ternyata disalah-gunakan bukan untuk keperluan yang semestinya.
Antara Kebijaksanaan dan Memahami Seni Paradoks
Jika pemberian makanan oleh kita justry membuat mereka menjadi pemalas, maka ada kalanya kita hanya memberi mereka sebuah “pancing” agar mereka dapat mencari makannya sendiri. Ada kalanya, kita perlu bersikap “kikir” terhadap orang-orang tertentu, dan sebaiknya mengalokasikan dana donasi untuk hal lain yang jauh lebih bermanfaat bagi orang lain yang lebih membutuhkan yang bisa jadi ialah : diri kita sendiri.
Terkadang kita perlu bersikap keras terhadap diri kita sendiri, dan ada kalanya juga kita perlu bersikap lunak dan penuh kasih terhadap diri kita sendiri. Ada kalanya kita meraih kemenangan, dan ada kalanya kita perlu memberikan kemenangan kepada pihak lain dalam rangka berbagi kebahagiaan agar kita tidak menjadi “serakah”.
Ada kalanya kita harus berhemat, hemat pangkal kaya, kata pepatah. Namun, ada kalanya kita harus membelanjakan dana sebagai modal usaha agar dapat produktif atau untuk sekadar hiburan “refreshing” agar dapat segar bugar kembali.
Sama seperti ketika KWANG memiliki obat herbal untuk menyembuhkan sakit dan keluhan fisik, jika “disayang-sayang” dengan tidak memakainya, ternyata obat-obatan tersebut menjadi kadaluarsa dan menjadi mubazir sama sekali tidak terpakai. Sebaliknya, menjadi boros dalam pemakaian obat, juga tidak baik karena menjadikan tubuh kita demikian “manja”.
Terkadang, kita perlu bersikap “lembut”, dan terkadang pula kita perlu bersikap “keras”. Seroang guru yang baik, sebagai contohnya, lembut ketika mengajar namun sesekali perlu bersikap “tegas” dan “keras” ketika mendidik peserta didik yang perlu dididik. Bersikap “keras”, apakah artinya selalu negatif dan jahat?
Ada kalanya kita perlu berinvestasi dalam belanja modal, dan ada kalanya kita perlu menabung. Ada kalanya kita bersikap konservatif, dan ada kalanya juga kita perlu bersikap terbuka bagi perubahan dan kemajuan zaman agar dapat menjadi rasional dan tidak “kolot” ortodoks.
Ada kalanya kita harus berjalan mundur, dan ada kalanya pula kita harus berjalan maju, mirip seperti tarian sepasang penari “sal-sa” yang berpasangan menari “maju dan mundur” sehingga saling harmoni.
Terkadang kita perlu belajar untuk “diam” dan menutup mulut, dan terkadang kita perlu untuk “bersuara” dengan sangat lantang, sekeras-kerasnya. Tidak selamanya “silent is golden”, bukankah begitu?
Ada kalanya kita perlu makan nasi ketika lapar, namun ketika telah mencukupi kebutuhan tubuh, ada saatnya kita harus berhenti dari memakan cemilan agar tidak menjadi beban bagi tubuh. Dan ada kalanya pula sesekali makanan selain nasi, bukankah begitu?
Ada kalanya kita harus bekerja keras dan berolahraga demi menjaga kebugaran tubuh, namun ada kalanya pula kita perlu mengistirahatkan tubuh. Ada kalanya kita mendorong tubuh untuk berkegiatan dan bekerja, dan ada kalanya kita perlu bersantai dan pergi bertamasya untuk sejenak.
Ada kalanya kita perlu bersosialisasi, dan ada kalanya kita perlu meluangkan waktu kita bagi diri kita sendiri seorang diri saja. Ada kalanya sibuk, ada kalanya lepas dari kesibukan dan menikmati kebebasan. Ada kalanya kita perlu melihat, dan ada pula kalanya kita perlu tidak turut campur tangan terhadap urusan orang lain.
Ada kalanya kita mengatur, dan ada kalanya juga kita perlu untuk diatur—agar tidak menjelma sombong bin arogan :). Ada kalanya kita menyetujui, dan ada pula kalanya kita perlu menolak dan menetang (masa selamanya kita menjadi oposisi?). Sama seperti ada kalanya kita perlu menuntut, dan ada pula kalanya kita memberi maaf.
Ada kalanya menekan pedal gas akselerasi, dan ada saatnya pula kita menekan kuat-kuat pedal deselerasi. Ada kalanya kita menatap ke depan kaca kendaraan kita, dan ada kalanya juga kita menatap kaca spion untuk melihat kondisi di belakang kita.
Ada saatnya kita memberi dan ada saatnya pula kita menuntut hak-hak kita. Ada kalanya kita berlari dengan secepat-cepatnya, dan ada kalanya pula kita harus berhenti sehenti-hentinya.
Sama seperti ada kalanya kita membutuhkan malam hari, dan ada kalanya kita membutuhkan terik sinar matahari. Begitu pula ketika kita membutuhkan air hujan, dan ada kalanya kita membutuhkan cuaca cerah. Kebutuhan yang sama dengan antara hari kerja dan kebutuhan akan hari libur. Ada kalanya kita membeli payung tatkala musim penghujan tiba, dan ada kalanya penjual es-krim yang senang saat di musim kemarau.
Ada kalanya kita perlu mandi, dan ada kalanya kita berjemur sinar matahari pagi. Ada kalanya kita mencari dokter ketika jatuh sakit, dan ada kalanya kita perlu menjadi dokter bagi diri kita sendiri. Ada kalanya mengenakan busana, dan ada waktunya pula untuk mencucinya agar bersih kembali dan merawatnya—terlampau egois bila kita hanya ingin menikmati tanpa mau direpotkan karenanya.
Sama seperti ada kalanya kita perlu berdiri, ada kalanya harus duduk, dan ada kalanya berjalan, serta ada waktunya kita untuk merebahkan badan. Tidak terkecuali ada kalanya kita perlu menghirup nafas, dan ada kalanya kita menghembuskan nafas. Ada kalanya kita perlu makan, dan ada kalanya kita perlu BAB. Ada kalanya diberi makan, dan ada kalanya kita yang perlu memberi makan—alias menanam karma baik.
Ada saatnya menyelenggarakan pesta, dan ada pulanya saatnya pesta usai. Ada kalanya mengucap “Hello” dan ada pula saatnya tiba bagi kita untuk mengucap “Sampai Berjumpa lagi” (good by). Ada waktu-waktu bagi kita untuk melakukan introspeksi diri, ada waktunya bagi kita untuk menjadi “take action” dan mengambil resiko.
Ada kalanya menunggu, dan ada kalanya berinisiatif. Ada kalanya kita perlu merencanakan, dan ada kalanya kita perlu “just do it”. Ada kalanya kita perlu menunggu dan bersabar, dan ada pula kalanya kita perlu bergerak maju secepatnya. Ada kalanya menerjang dan melakukan perlawanan, dan ada kalanya pula mengalah. Ada kalanya menarik diri dan menjaga privasi, dan ada kalanya tampil di muka publik.
Ada waktu kita menikmati musim semi, dan ada pula kita harus bersabar menunggu lewatnya musim gugur. Ada waktu-waktu kita berpromosi, dan ada waktu-waktu bagi kita untuk mencetak laba. Ada kalanya mendapat penghasilan, dan ada kalanya kita berdana. Maka juga, ada kalanya kita beruntung, dan menjadi wajar pula adanya kala kita merugi pada suatu waktu lainnya—sehingga kita tidak perlu berkecil hati.
Ada kalanya kita perlu membeli, dan pada kesempatan lain untuk menjual. Ada kalanya meminta, dan ada kalanya memberi (prinsip resiprokal / resiprositas, alias prinsip bertimbal-balik). Ada kalanya bersikap berani, dan ada kalanya pula kita bersikap “malu-malu”. Ada kalanya tegas, dan ada kalanya sungkan.
Ada kalanya bertamu, dan ada kalanya menerima tamu. Ada kalanya dijamu dan ada pula kalanya menjamu. Ada kalanya dilayani, dan ada kalanya pula melayani. Ada kala bagi kita untuk bekerja, dan ada pula kalanya bagi kita untuk beristirahat.
Ada kalanya bekerja, dan ada kalanya menerima upah sebagai kompensasinya—bila perlu menuntutnya bila pengguna jasa tidak beritikad baik pada kita. Ada kalanya direpotkan, dan ada kalanya merepotkan (sesuatu yang wajar sehingga kita tidak perlu sungkan meminta tolong orang lain dan dimintai tolong pada waktu / kesempatan lainnya).
Ada saatnya bagi kita untuk memegang dan menggenggam, dan ada saatnya bagi kita untuk melepaskan cengkeraman tangan kita. Ada saatnya untuk “senyap”, dan ada pula saatnya bagi kita untuk sesekali berteriak dan menjerit.
Ada saat-saat untuk menabung, dan ada saat-saat bagi kita untuk memakainya—kikir bukanlah pangkal kaya, namun tersandera oleh keserakahan. Ada kalanya belajar, dan ada kalanya mengajarkan. Ada kalanya mengingat-mengingat, dan ada pula kala bagi kita untuk melupakannya.
Sebagaimana telah kita lihat rincian seni parakdoksal di atas, ternyata tiada satu jawaban untuk semua situasi dan segala kondisi. Kebijaksanaan memberi kita pengetahuan praktik serta keterampilan untuk membuat putusan bijak serta mengambil pilihan-pilihan cerdas secara kontekstual dan kondisional, mengakui bahwa setiap kondisi membutuhkan pendekatan yang saling berlainan.
Karenanya, dalam seni paradoksal, kita tidak bisa besikap kaku dan membuta, namun harus fleksibel dalam perilaku ketika bersosialisasi—meski tetap teguh dalam prinsip. Kita perlu mempelajari segala sisinya, antara berani mengatakan “Ya” dan berani pula menjawab “Tidak”, sebagai contoh, masing-masing jawaban harus kita sesuaikan terhadap kondisi yang masing-masing situasi yang bisa jadi beragam dan saling berlainan.
Apa jadinya bila respons kita dalam menjawab ialah selalu “Ya”, “Ya”, dan “Ya”, terbayangkan oleh Sobat apa yang kemudian akan terjadi? Akhir kata, apapun situasinya, kita selalu memiliki “pilihan bebas” (free will and free choises), itulah pesan dari Alm. Victor Frankl. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! J

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA