Banyak Tahu, Banyak Bisa. Jadilah Penuh Pengetahuan dan Pelajarilah Keterampilan

By SHIETRA - November 06, 2019

Banyak Tahu, Banyak Bisa. Jadilah Penuh Pengetahuan dan Pelajarilah Keterampilan

Banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka banyak hal yang bisa kita buat, kerjakan, dan kreasikan. Pengetahuan dan keterampilan ibarat bahan baku untuk membuat sebuah maha karya. Memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan, membuat kita menjadi seolah-olah terpasung, serba terbatas, hidup dalam ruang “sempit”, dan “kerdil”, bagaikan “katak dalam tempurung”.
You can’t climb the ladder of success with your hands in your pockets.” (Arnold Scharzenegger)
Dahulu kala, ketika masih sangat belia dan muda, KWANG memiliki asumsi keliru yang ternyata sangatlah fatal, seolah diri kita seseorang seiring bertambahnya umur, maka kita bisa dan mengetahui segala sesuatunya secara sendirinya, tanpa perlu bersusah-payah untuk mempelajarinya sendiri secara langsung. Ternyata, pola pikir demikian, salah total dan membuat KWANG harus terseok-seok ketika menjelang dewasa.
Namun, sejauh apapun kita telah salah mengambil langkah, putar haluan sekarang juga, demikian tutur seorang tokoh bernama Renald Kasali. Memang, idealnya ialah “bersakit-sakit dahulu, barulah bersenang-senang kemudian”.
Namun, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai proses pembelajaran saat kini juga, dimana umur tidak menjadi hambatan untuk mempelajari sesuatu yang ingin atau perlu kita tekuni dan kuasai sebagai “bekal keterampilan dasar dalam hidup”. Pandulah diri kita sendiri, sekalipun selama ini tiada orang tua ataupun guru yang mampu memandu kita secara baik. Guru terbaik, adalah diri kita sendiri.
Untuk mempelajari dan menguasai sesuatunya, kita harus siap untuk membayar “harganya”, lewat jirih payah, biaya untuk mempelajari keterampilan lewat kursus atau membeli buku, ketekunan yang pantang menyerah ketika gagal mempraktikkan keterampilan, hingga mengasahnya agar menjadi terampil dan ahli dibidangnya. Semua membutuhkan pengorbanan dan usaha serta komitmen.
Tiada yang instan dalam segala aspek kehidupan kita, terlebih seperti sebuah sulap dimana kita bisa tahu dan terampil secara sendirinya. Semuanya adalah terkait proses, dimana pada mulanya selalu harus dimulai dari tekad dan dorongan keinginan dalam diri kita sendiri terlebih dahulu. Dipaksakan oleh orang luar diri kita, maka hasilnya tidak akan optimal. Menumbuhkan kesadaran pribadi, internal dalam diri kita masing-masing, itulah peran dan tugas orang tua dan para guru, juga tugas diri kita sendiri ketika kita mulai menjelang dewasa.
Orang tua atau kerabat, hanya dapat memberi motivasi bagi kita untuk mempelajari sesuatu, agar kita menjadi tahu alasan mengapa kita perlu mempelajarinya. Selebihnya, usaha sangat bergantung pada upaya kita masing-masing.
Namun menurut pengalaman KWANG, selagi kecil, seorang anak perlu dibekali “keterampilan dasar hidup” serta wawasan untuk menyadarkan mereka bahwa memiliki cita-cita dan pengetahuan amatlah penting bagi masa depan mereka, sehingga mereka tidak merasa terpaksa untuk belajar—atau bahkan mulai gemar untuk belajar dan mencari tahu.
Setting goals is the first step in turning the invisible into the visible.” (Tony Robbins)
Karenanya, memiliki impian serta cita-cita, sangatlah penting. Untuk mencapai sesuatu, kita perlu terlebih dahulu menetapkan “ingin menjadi seperti apakah kita nantinya”. Menetapkan tokoh teladan dan idola, juga dapat cukup membantu mendorong motivasi dan semangat juang kita agar juga menjadi sama terampilnya dengan mereka, atau bahkan menjadi lebih hebat dari mereka semua. Menjadi berprestasi, bukanlah hal yang tabu, namun perlu dijadikan semacam insentif bagi diri kita sendiri.
Kita mungkin memiliki sumber daya waktu yang melimpah tatkala masih muda belia. Namun, tanpa arahan yang jelas dan spesifik, kita yang ketika masih muda dapat dipastikan akan membuang-buang waktu untuk aktivitas yang tidak berfaedah seperti ngobrol “ngolor-ngidul”, bermain game, bermain kartu, dan wara-wiri tidak jelas dan yang pastinya tidak produktif.
Karenanya, jangan berasumsi bahwa kita adalah anak jenius yang memiliki self-motivation untuk menjadi hebat dan unggul dalam banyak hal. Berungtunlah bila kita memiliki pembimbing yang mampu membuat “mata kita terbuka” sehingga kita dapat mengambil jalan yang benar demi kebaikan masa depan kita.
Yang semula “tidak tampak”, menjadi “tampak”. Apakah itu? Itulah potensi diri. Potensi diri kita perlu ditemukan, digali, serta diolah. Masing-masing dari kita memiliki potensi atau talentanya masing-masing, bahkan antara orang tua dan anak pun bisa jadi berbeda bakat dan minat.
Seorang bocah, berpotensi menjadi seorang pilot, dokter, atau bahkan menjadi seorang presiden dan penemu /ilmuah hebat tatkala menjelang usia matang sekalipun belum nampak ketika masih belia—itulah yang disebut potensi, sama seperti sepohon mangga berpotensi membuahkan ratusan buah mangga sekalipun kini masih berupa bibit. Asuplah dengan nutribi bernama pengetahuan dan keterampilan, agar menjadi produktif dan terampil serta kuat-mandiri.
Namun, potensi tersebut perlu diolah sedemikian rupa, tidak bisa menjadi matang dan ranum secara sendirinya. Sekali lagi, tiada yang bisa menjadi bisa secara sendirinya. Semua harus dimulai dari suatu proses yang berkesinambungan serta berhulu dari suatu langkah awal.
Seorang guru atau pembimbing yang baik, dapat membantu para muridnya menemukan potensi peserta didiknya masing-masing, untuk kemudian diberi motivasi, diarahkan, dan dipandu hingga mereka dapat mandiri dan berdikari alias “berdiri di atas kaki sendiri”. Jika kita mandiri, bukan hanya kita yang akan menemukan kebahagiaan, orang lain akan turut bahagia karena kita tidak lagi membebani mereka.
Tiada yang lebih indah daripada mampu hidup secara berdaya dan mandiri di atas kaki kita sendiri. Menjadi “bebas secara finansial”, tanpa lagi perlu meminta. “Bebas secara keterampilan”, sebagai contoh lainnya, sehingga dapat memperbaiki alat-alat rumah tangga tanpa perlu mengandalkan orang lain. Bukankah begitu akan membuat hidup kita lebih tidak terbebani dan lebih menyenangkan? Tidak tahu dan ketidaktahuan, adalah beban. Sementara, terampil dan penuh pengetahuan, bukanlah sebuah beban, namun sebentuk “pembebasan”.
If you are working on something exciting that you really care about, you don’t have to be pushed. THE VISION PULLS YOU.” (Steve Jobs)
Masalahnya, terkadang tidak semua orang punya talenda hebat untuk memiliki suatu visi dan misi dalam hidupnya sehebat Steve Jobs, sang pendiri perusahaan teknologi Apple yang termasyur. Mungkin, Steve Jobs sekalipun ketika kecil telah ditumbuhkan minatnya untuk belajar oleh arahan gurunya, alias tidak tumbuh secara sendirinya. Siapa tahu?
Bagus jika kita terlahir dengan insting bawaan hebat sedari kecil, lalu kita bisa berjalan dan bergerak sendiri secara sendirinya sekalipun tanpa diarahkan dan tanpa dipandu oleh orang yang lebih dewasa. Namun pertanyaannya, seberapa banyak dari kita yang terlahir sehebat dan sejenius itu?
Meski demikian, tidaklah juga penting apakah kita memiliki bakat bawaan yang hebat sedari kecil ataukah tidak. Yang terpenting, saat kini kita dapat mengetahui apa yang paling kita minati dalam hidup ini, dimana minat tersebut dapat membuat kita menjadi produktif.
Yup, itulah kata-kata saktinya, menjadi produktif. Kita mungkin tidak dapat dituntut untuk mengerti segala sesuatu, namun menjadi pakar pada satu bidang, sudah cukup membuat kita mampu hidup secara mandiri dan bebas secara keuangan.
Seorang pemimpin suatu perusahaan, sebagai contoh, belum tentu menguasai seluruh keterampilan anak buahnya dalam urusan akuntasi, program olah grafis, dsb, namun dirinya bisa menyewa dan membayar mereka untuk mengerjakan segala sesuatunya dan bisa membuat proyek menjadi berjalan dan produktif mencetak profit sepanjang tahun. Sang pemimpin terampil dalam memanajemen perusahaan, sekalipun tidak dalam segala hal fungsi pekerjaan. Kurang lebih seperti itulah gambarannya.
Semisal, bila Sobat menyukai seni desain, maka dapat menekuni bidang seni desain grafis, desain interior, hingga desain busana dan pakaian, atau bahkan menjadi wedding event organizer. Namanya, profesi desainer. Tiada yang lebih menyenangkan daripada memiliki karir yang sama dengan apa yang memang menjadi minat pribadi kita. Tiada profesi yang buruk, sepanjang kita tidak merugikan orang lain untuk mencari nafkah dan kita juga menikmatinya.
Seseorang mungkin memiliki hobi, maka, mengapa tidak mengkonversi hobi tersebut menjadi profesi yang dapat menghasilkan sesuatu? Hobi janganlah menjadi sekadar hobi yang menghabiskan waktu luang, sebisa mungkin jadikanlah hobi itu sebagai suatu atau semacam “investasi” bagi masa depan kita. Itulah yang disebut sebagai “cara berpikir visioner”.
Mereka dengan “cara berpikir visioner”, menjadikan potensi dirinya sendiri sebagai titik-tolak awal untuk membangun karirnya. Untuk bisa berhasil dan menjadi terampil pada suatu bidang, dibutuhkan suatu visi yang meski kini belum nyata namun bertekad untuk akan mewujudkan dan menjadikannya konkret, setahap demi setahap. Tentu saja, visi tersebut tidak untuk menjadi sekadar demi visi itu sendiri, namun visi untuk mewujudkan suatu produktivitas.
We are judged by what we finish not by what we start.” (Anonim)
Mungkin saja kita memulai hidup kita secara buruk, tidak optimal dan tidak produktif. Namun bukanlah itu yang paling penting, dan tidak membiarkan diri kita terpenjara dalam masa lampau yang kurang bagus. Segala kisah melodrama film yang menarik, selalu berakhir “happy ending” alias happy di-ending-nya kan, sekalipun pada awal kisahnya mungkin kurang beruntung sang tokoh utamanya alias tidak tergolong “happy from the beginning”.
Kita dinilai dari apa yang dapat kita menjadi pada akhirnya, bukan sebagaimana buruk pun kita memulainya, itulah bunyi dari pepatah seorang tokoh yang tidak diketahui identitasnya. Penuturan tersebut sangatlah ideal, terutama bagi kita yang mau mencoba memulainya saat kini, sekalipun sudah sangat “terlambat”.
Kita mungkin selama ini hanya asyik “berkubang” (berlarut-larut pada suatu pengalaman buruk) dan “berjalan di tempat” (bersantai-santai atau bermalas-malasan) saja, sehingga tertinggal dari orang lain yang sebaya dengan kita. Pada titik krusial itulah, kita baru melakukan introspeksi diri dan menyadari ketertinggalan kita—setidaknya kita tidak benar-benar terlambat untuk menyadarinya. Barulah terlambat jika kita baru menyadarinya tatkala kita sudah nenek-nekek atau menjadi kakek-kakek, bukankah begitu?
Sejauh apapun kita telah tertinggal di belakang, namun bukanlah itu yang terpenting. Barulah menjadi fatal sifatnya, ketika kita menyerah pada momen-momen paling krusial ketika kita “paling sedang membutuhkan kehadiran diri kita sendiri”. Tolonglah diri kita sendiri, rangkullah diri kita sendiri, dan jadilah penyelamat bagi diri kita sendiri—bukan menunggu penyelamat dari langit turun untuk mengulurkan tangannya bagi kita.
Bila kita mau berjuang keras, saat kini, tanpa lagi menyebut-nyebut atau tersandera oleh mental “sudah terlambat”, secara sepenuh hati mulai menekuni sesuatu yang ingin dan perlu kita pahami dan kuasai, maka hanya perihal persoalan waktu saja sampai kita benar-benar menjadi terampil dan menjadi tahu seluk-beluknya. Ada kemauan, ada jalan. Ada usaha, ada pengetahuan.
Pada gilirannya, mereka yang semula mungkin meremehkan kita, atau bahkan kita memiliki reputasi yang kurang “sedap” dikala muda, pada gilirannya akan berbalik menjadi pengagum dan menjadikan kita sosok teladan bagi kaum muda agar turut menjejakkan kaki pada jalan kesuksesan yang sama dengan kita. Tiada lagi yang akan meremehkan kita. Be happy ending, no need to be happy in the beginning.
Sekali lagi dan akhir kata, kita dinilai bukan bagaimana kondisi kita pada mulanya. Namun kita dinilai dari bagaimana kita mampu mencapai suatu prestasi pada akhirnya. Tiada kata terlambat, sepanjang kita bersedia dan berkomitmen untuk memulainya sekarang juga, apapun pengorbanan yang harus kita bayarkan dan jalan berlubang yang harus kita tempuh—tiada jalan instan yang “mulus”, segalanya harus “try and failure”, itulah proses pembelajaran.
Tumbuhkan keberanian itu, maka jalan akan tampak terbuka secara sendirinya bagi kita, sepanjang kita telah siap dan berkomitmen serta konsisten dalam jalan tersebut. Jika sedari awal kita sudah menyadari pentingnya proses belajar, itu bagus. Namun bila kita terlambat menyadarinya, maka hendaknya kita tidak bersikap fatalistik seolah “hidup dan semua ini sudah berakhir”.
Tiada kata “berakhir sudah” sepanjang api semangat dalam jiwa kita masih belum benar-benar padam (jika sudah padam, maka perlu dihidupkan kembali), sejauh apapun kita sudah terlambat dan tertinggal di belakang, putar haluan sekarang juga! Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊😌😇

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS