Memaafkan Itu Baik, Namun Tidak Selamanya Benar

By SHIETRA - November 18, 2019

Memaafkan Itu Baik, Namun Tidak Selamanya Benar

Kita selalu diajarkan untuk memaafkan, dimana konon sifat pemaaf adalah salah satu perilaku yang mulia. Namun, memaafkan orang lain atas perbuatan buruk mereka, yang justru membuat kita kembali menjadi korban perbuatan serupa oleh orang / pelaku yang sama (residivis), maka apakah pemaafan demikian dapat disebut sebagai langkah yang bijak?
Apakah memaafkan selalu, baik sifatnya? Kapankah kita harus memaafkan, dan kapankah kita tidak boleh mengumbar pemaafan? Terlebih-lebih, bila kita mampu dengan mudah memberi maaf bagi orang lain, mengapa juga kita begitu kikir memberi maaf bagi diri kita sendiri?
Berbuat baik kepada seseorang, kita diajarkan untuk terlebih dahulu menilai bibit, bebet, dan bobot dari orang bersangkutan, sehingga kita tidak dapat “asal” berbuat baik—agar tidak menjadi “bumerang” bagi diri kita sendiri di kemudian hari, karena kita tidak mencari tahu itikad orang tersebut apakah juga beritikad baik terhadap kita sebelum kita beri bantuan dan pertolongan. Pertolongan perlu tepat “sasaran”, tidak cukup hanya sekadar niat baik—alias berbuat bajik secara cerdas.
Begitupula, tidak semua jenis karakter manusia yang dapat kita berikan maaf secara demikian mudah dan gampangnya. Tipe jenis pribadi atau individu yang tidak bisa dimaafkan itu, yakni mereka yang tidak mau introspeksi dan selalu ulangi kesalahan yang sama. Pemaafan demikian, sama artinya membuat rentan diri kita sendiri untuk kembali menjadi korban serupa dikemudian hari, alias tidak baik terhadap diri kita sendiri.
Semisal, seorang narapidana yang meski sudah dihukum pidana penjara, setelah mendapat remisi kemudian dibebaskan, ternyata masih juga mengulangi kesalahan yang sama ketika kembali di tengah masyarakat.
Sudah dimaafkan, namun ternyata “begitu lagi” dan “begitu lagi”, ulangi lagi dan mengulanginya kembali, “gitu lagi dan gitu lagi”, letih sendiri kita jadinya menghadapi orang-orang yang tidak mau dan tidak bisa introspeksi diri. Begitu sukarkah, meluangkan waktu untuk merenung dan instrospeksi diri? Apakah dibutuhkan kecerdasan dan kepandaian spesial, agar seseorang mampu melakukan introspeksi diri?
Terdapat gelagat-gelagat yang dapat kita lihat secara tersirat maupun secara tersurat ketika kita memberikan maaf, apakah orang tersebut mau dan mampu menginstrospeksi dirinya ataukah tidak sama sekali. Ciri-cirinya agak mudah untuk diamati, yakni ketika dimaafkan, seketika itu juga dirinya terlihat gembira dan “bebas” dari segala “dosa” ataupun rasa bersalah, seketika melupakan kesalahan yang telah dibuat olehnya sendiri.
Dirinya tidak mampu memperlihatkan nuansa rasa menyesal, menyesali, ataupun membuat instrospeksi diri. Sekalipun meminta maaf, namun hanya sekadar di bibir belaka, tidak di hati. Jangan berharap pula mereka akan bertanggung-jawab selain sekadar gimmick belaka.
Seseorang yang mampu bertanggung-jawab, sekalipun tiada meminta maaf, sudah merupakan sebentuk penyesalan yang diwujudkan secara konkret dan itu lebih nyata sifatnya daripada semudah “bersilat lidah”—pepatah menyebutkan: “lidah tidak bertulang”.
Semisal, seorang orangtua memiliki anak yang baik hati, penyabar, dan pemaaf. Mentang-mentang tahu anak memiliki karakter pemaaf dan penuh kesabaran, lalu si orangtua bertindak eeenaknya terhadap sang anak, karena tahu betul dirinya akan dimaafkan seperti yang selama ini terjadi (setelah dimaafkan kembali kesalahan yang sama diulangi, dan diulangi kembali setelah sekian banyak dimaafkan, seolah saling berlomba-lomba untuk memaafkan dan berbuat kesalahan), sehingga jadinya sang orangtua bertindak selalu sewenang-wenang terhadap anaknya sendiri, dengan semudah menyalah-gunakan kebaikan dan kelembutan hati seorang anak. Seperti itukah kejadian yang kita harapkan?
Seseorang yang betul-betul dapat disebut menyesali perbuatannya, ialah “bertobat” dalam artian tidak mengulangi kesalahan yang sama dikemudian hari, barulah layak untuk mendapat pemaafan. Kita tidak perlu menuntut agar diri bersangkutan bersedia secara kesadaran pribadi untuk bertanggung-jawab, namun sudahlah cukup bagi kita agar yang bersangkutan tidak kembali mengulangi kesalahan serupa.
Melupakan kesalahan, hanya patut dilakukan oleh pihak korban, bukan oleh pihak pelaku pembuat kesalahan. Memaafkan, artinya melupakan kesalahan dan tidak memperpanjang masalah. Namun, si pelaku tidak punya hak istimewa untuk melupakan kesalahan yang telah dibuat olehnya—dalam rangka untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak mengulangi kesalahan serupa, untuk tidak jatuh pada lubang yang sama, yang membuat diri seseorang tidak lebih bodoh daripada seekor keledai yang tidak akan jatuh pada lubang maupun kesalahan yang sama.
Ketika seseorang yang telah kita maafkan ternyata mengulangi kembali perbuatannya, lagi dan lagi, itulah cerminan nyata bahwa dirinya tidak benar-benar merasa bersalah, dan tidak benar-benar patut untuk mendapat maaf dari kita. Kita pun, akan merasa tertipu karena sebelumnya telah memberikan maaf namun kesalahan kembali diulangi olehnya.
Ketika kita justru memberi maaf dengan begitu mudahnya, bahkan seolah kerap mengumbar dan “mengobral” maaf, sejatinya kita sedang menyakiti diri kita sendiri karena kita kurang mampu menghargai harkat dan martabat diri kita sendiri. KWANG kutipkan salah satu peribahasa yang cukup relevan, sebagai berikut:
“Anak dipangku, kemenakan dibimbing, orang kampung dipertenggangkan. Pertimbangankan segala sesuatunya dengan benar, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.“
Diimaafkan bukanlah sebuah “keberuntungan” ataupun “berkah”, namun sebagai sebuah tanggung-jawab untuk tidak mengulangi kesalahan serupa dikemudian hari dan momentum bagi kita untuk melakukan perenunangan hingga instrospeksi diri.
Berulang kali dimaafkan bukanlah sebuah “prestasi”, justru sebagai suatu tabu yang harus kita hindari, dengan benar-benar mewaspadai perilaku dan perbuatan kita di keseharian. Hendaknya kita menjadikan pemaafan sebagal yang “sakral”, baik oleh si pemberi maupun si penerima maaf.
Berbuat lalai ataupun berbuat buruk, sejatinya adalah “perbuatan keliru” yang “tidak perlu”. Jika bisa bersikap penuh perhatian dan kehati-hatian, mengapa juga bersikap lalai, melanggar, atau bahkan berbuat buruk dengan sengaja? Itulah yang KWANG sebut sebagai perbuatan keliru yang “tidak perlu”. Simak juga peribahasa bagus berikut ini yang sangat mencerminkan maksud KWANG:
“Ada sampan hendak berenang. Sengaja bersusah-susah yang sebenarnya tidak perlu.”
Mengandalkan permintaan maaf dan dimaafkan, pada gilirannya dapat menjadi bumerang bagi diri yang bersangkutan itu sendiri. Seseorang yang berbuat buruk, atau bahkan melakukan kejahatan, tidak pernah berhak untuk menuntut diberikan maaf oleh para korbannya—pernah juga terjadi, menjadi tampak “lucu”, pelaku perbuatan buruk justru menuntut dimaafkan oleh pihak korbannya.
Perbuatan baik selalu beruah baik karena adalah baik sesuatu perbuatan baik itu adanya. Namun, perbuatan buruk selalu berbuah buruk bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri. Menanam benih kejahatan, tumbuh kejahatan. Tidak dapat kita mengharap menanam tumbuhan duri beracun yang kemudian tumbuh ialah pohon mangga yang manis dan menyehatkan.
Sebagai penutup, tepat kiranya kita menyimak peribahasa penting satu ini, sebagai rangkuman yang telah secara panjang-lebar kita bahas bersama:
“Asalnya kuda itu juga juga, asalnya keledai itu keledai juga. Perbuatan baik hasilnya kebaikan, sedangkan perbuatan jahat hasilnya kejahatan juga.”
Jika kita bisa melakukan hanya perbuatan baik, mengapa juga melakukan perbuatan buruk yang menyakiti orang lain? Apakah tidak bisa, kita hidup tanpa mengganggu terlebih merugikan orang lain? Apapun itu, orang baik adalah baik, diakui ataupun tidaknya. Sebaliknya, orang jahat adalah jahat adanya, diakui ataupun dipungkiri adanya.
Seseorang yang tidak dapat dan tidak pernah merasa bersalah sedikit pun, bahkan terus mengulangi dan mengulanginya kembali, tidak pernah layak untuk mendapat pemaafan dari kita. Bila merasa bersalah sedikit pun tidak ada, begitu lagi dan begitu lagi, diulangi kembali dan terus saja diulangi kembali (kita yang menjadi bosan dan merasa letih, bukan si pelaku), itulah pertanda sikap KERAS KEPALA. Sudahkah Sobat berbuat bajik dan baik hari ini dan melakukan introspeksi diri sekalipun tiada yang menegur kita? Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA