Kerjakan Hal Kecil maupun Hal Besar dengan Penuh KECINTAAN dan SEPENUH HATI

By SHIETRA - November 01, 2019

Kerjakan Hal Kecil maupun Hal Besar dengan Penuh KECINTAAN dan SEPENUH HATI

Melakukan setiap hal yang kecil maupun hal besar, dengan kecintaan dan penuh kasih, dengan cara begitulah kita akan bisa menjadi berbahagia dan melakukan setiap pekerjaan kita dengan sepenuh hati. Dengan cara seperti itu jugalah, pekerjaan sederhana seperti menyapu sekalipun, akan menjadi penuh kecintaan, bermakna, dikerjakan secara sepenuh hati, dan mampu menikmatinya.
Untuk mampu bertahan ditengah kesukaran dalam suatu pekerjaan ataupun aktivitas, apapun rintangan maupun kesukaran yang dihadapi, menyukai dan menaruh kecintaan pada apa yang akan serta sedang kita kerjakan, akan membuat kita dapat melangkahkan kaki secara ringan dan terus bertahan, serta pada akhirnya menjadi terampil dan bahagia.
Ketika kita mencintai suatu perkerjaan atau kegiatan, maka semua hal menjadi tampak menyenangkan, hal kecil “remeh-temeh” seperti menyapu rumah pun menjadi tampak penuh kesenangan dan menyenangkan. Tiada lagi hal yang membuat kita terasa terbebankan, karena semua hal menjadi sama menyenangkannya. Bukankah begitu semestinya kita menjalankan hidup kita, agar dapat bahagia dalam setiap kondisi dan situasi? Tips sederhana, namun luar biasa dampak perubahannya.
Banyak kita jumpai pepatah atau kata-kata seorang tokoh yang kerap dikutip dengan harapan dapat memberi kita motivasi, namun tetap saja tiada yang lebih mujarab daripada kekuatan “mencintai setiap hal yang kita kerjakan, tanpa meremehkannya”; di bawah ini salah satunya yang kerap kita dengar meski tak sesakti “kekuatan mencintai”:
“A dreams doesn’t become reality through magic. It takes sweat, determination, and hardwork.”
(Collin Powell)
Bila untuk merealisasi mimpi-mimpi kita harus terlebih dahulu mendengar kata-kata “bercucuran keringat”, tentunya akan membuat mental kita ciut sebelum memulainya. Jangan-jangan sudah membuat kita mundur, sebelum benar-benar memulainya.
Sebaliknya, lewat kekuatan “kecintaan”, berkeringat atau tidaknya tidak lagi menjadi soal saat memulai dan menjalani suatu kegiatan ataupun proyek yang sedang kita kerjakan. Tiada lagi istilah “kerja keras” namun “kerja secara penuh kecintaan dan mencintainya”.
Contoh, ketika kita sedang pacaran, maka seolah kita akan merasa lupa waktu dan tiada rasa letih meski pacaran seharian. Sama juga, bekerja dan belajar dengan penuh kecintaan pada objek yang sedang kita kerjakan ataupun pelajari, tiada lagi istilah letih ataupun bercucuran keringat terlebih istilah linangan air mata dalam kamus kita, semuanya adalah kecintaan, itulah “passion”.
Mengapa, apapun yang kita rintis sebagai karir kita, haruslah hal yang kita cintai? Terdapat sebuah pepatah yang cukup memberikan penjelasan kepada kita betapa pentingnya mencintai apa yang kita kerjakan:
“Plan for the future because that is where you are going to spend the rest of your life.”
(Mark Twain)
Hanya ada dua pilihan ketika kita tidak dapat berubah haluan dalam karir atau profesi yang telah kita rintis dengan susah payah, ataupun terhadap apa yang selama ini telah kita pelajari dan tekuni, yakni dengan cara memulai untuk “mencintainya” alias menumbuhkan minat dan kecintaan kepada atau terhadapnya. Jika kita sudah terlanjur jauh berkecimpung dalam suatu bidang, maka suka atau tidak suka, belajarlah untuk mencintainya, kerjakan dengan penuh dedikasi serta sepenuh hati.
Kadang, cinta dapat dibangun dan dipupuk secara aktif oleh diri kita sendiri. Suatu kecintaan pun harus dijaga, karena bila tidak, bisa muncul buih-buih dan bibit-bibit rasa bosan dan itu bisa membuat kita menjadi frustasi dan tidak lagi “enjoy” mengerjakan apa yang selama ini kita kerjakan.
Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kecintaan tersebut? Itulah pertanyaan yang paling penting untuk kita ajukan. Yup, ada jawabannya, tidak perlu khawatir, tiada kata terlambat bila ada kemauan untuk memulainya. Ada sebuah analogi yang sebetulnya dapat kita analogikan dari kata-kata mutiara indah berikut ini:
“You don’t have to be good to start. But you have to start to be good.”
(Zig Ziglar)
Setelah KWANG modifikasi, bisa juga kita baca menjadi sebagai berikut:
“Kita tidak perlu telah mencintainya sejak dari semula. Tetapi, kita hanya perlu untuk MEMULAI mencintainya.”
Memulai untuk belajar mencintai, dibutuhkan keterbukaan diri, ketulusan, dan komitmen disampin konsistensi menumbuhkan keinginan untuk mencintainya. Tidak bisa separuh hati ya, Sobat KWANG.
Sebagai penutup, semoga kisah yang KWANG kutipkan berikut dapat menjadi sumber inspirasi untuk lebih yakin lagi bahwa kita juga dapat mencintai apapun profesi yang kini kita kerjakan, sekalipun untuk urusan sekadar sapu-menyapu—tiada hal kecil bila kita sungguh-sungguh mencintainya.
Kisah berikut ditulis oleh JC Sullivan dalam artikel singkatnya dalam buku “Chicken Soup for the Soul : Kekuatan Berpikir Positif—101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Positif”, Editor Jack Canfield dkk., versi terjemahan Indonesia oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Cetakan ke-14 November 2018, dengan uraian sebagai berikut:
Sebuah Kata pun dapat Mengubah Hidupmu...
“Kata-kata adalah juga tindakan, dan tindakan adalah sejenis kata-kata.” (RALPH WALDO EMERSON)
Aku dulu mengira bahwa untuk membuat perubahan besar dalam hidup itu, kita harus melakukan hal-hal yang besar. Dengan menampung sedikit sikap sang pecundang, aku juga menyangka bahwa tindakan-tindakan yang besar dan menakutkan akan menuntut uang dalam jumlah yang besar, yang tidak kumiliki. Jadi, perkiraanku itu menjadi semacam ramalan yang menjadi kenyataan bahwa aku tidak dapat mengubah hidupku dan aku tetap saja di dalam terowonganku yang sempit.
Temanku, Donna, yang optimis mengubah semua itu. Sebagai seseorang yang berasal dari California, dia mengajariku tentang kekuatan pilihan sebuah kata. Sambil mengingatkan aku bahwa semuanya itu gratis, dia mengenyahkan pembatasan-pembatasan keuangan yang kutetapkan sendiri.
“Hati-hati dengan apa yang kau katakan karena alam bawah sadarmu menyimak kata-kata itu apa adanya, bukan apa yang kau maksudkan di baliknya.”
Mulanya hal itu terasa agak “mengada-ngada”, tetapi dengan bersemangatkan kata-kata, “toh nggak ada ruginya” aku pun memutuskan untuk mencobanya. Wow, ternyata itu adalah saran sederhana tapi amat ampuh ini segera menjadi pemicu berbagai perubahan fantastis di dalam hidupku, membuatku menjadi orang paling positif yang pernah kurasakan.
Perlahan-lahan, aku tidak lagi menggunakan kata “nggak bisa,” dan itu memaksaku untuk menyadari bahwa segala sesuatu adalah suatu pilihan. Alih-alih mengatakan, “Aku nggak bisa ikut nanti malam,” aku akan mengatakan, “aku sangat berharap bisa ikut, tetapi aku sudah ada rencana lain dan aku tak bisa membatalkan janji dengan teman-temanku ini.”
Aku akan mencoba dan mengingatkan alam bawah sadarku tidak ada cara lain. Kadang-kadang cara ini memaksaku melepaskan kebiasaan-kebiasaan lama. Alih-alih mengatakan, “Nggak bisa, aku harus bekerja,” aku malah berani mengatakan kepada atasanku bahwa aku perlu liburan!
Aku mulai berpikir lebih jauh tentang kata-kata yang kupilih, mencoba se-spesifik mungkin tentang apa yang ingin kusampaikan. Kata berikutnya yang harus kubuang adalah “harus”. Kata siapa harus? Kata “harus” menyimbolkan sesuatu yang membuatku merasa berkewajiban melakukannya tetapi aku tidak mau. Alih-alih, aku mulai melakukan apa yang kusukai.
Sayangnya, aku mendapatkan berbagai ajakan untuk keluar makan dan waktuku untuk berlatih di klub kesehatan menjadi nomor dua. Itu membuatku jadi berlatih di pagi hari. Kendati aku sebelumnya bukan termasuk orang yang aktif di pagi hari, latihan pagi hari memastikan bahwa aku memenuhi jadwal latihanku.
Nora, teman baikku yang kutemui karena aku mengubah waktu latihanku, menjelaskan fenomena ini kepadaku.
“Pagi-pagi sekali, sebelum kami pergi ke kantor, adalah satu-satunya waktu yang kau miliki untuk dirimu sendiri. Setelah itu, pekerjaanmu jadi mudah dikerjakan.” Betapa telak dia tentang hal itu!
Lalu aku pun membuang kata “tak pernah”, dan menggantinya dengan kata “belum”, terutama ketika menanggapi pertanyaan tentang perjalanan. Misalnya, bila ada yang bertanya kepadaku apakah aku sudah pernah ke pulau yang terpencil di Pasifik, aku akan dengan bangga mengatakan, “belum, belum pernah.”
Alih-alih menutup pintu, jawaban ini meluaskan kemungkinan bahwa paling tidak suatu hari nanti aku akan benar-benar ke sana.
Aku terus berlatih dan memperhatikan pilihan kata-kataku. Lama-lama, jadi otomatis. Kata-kataku yang telah kupilih dengan hati-hati dan kulatih berbulan-bulan menjadi kebiasaan... kebiasaan-kebiasaan yang memberikan efek mendalam dan menempatkan aku pada posisi yang positif.
Contoh terbaiknya terjadi ketika aku melakukan perjalanan. Aku sudah pernah ke Cordoba (kota kedua terbesar di Argentina), menghabiskan waktuku bersama temanku Monique ketika temannya, Regina, masuk dan bergabung dengan kami. Kami langsung bisa tertawa bersama seperti teman akrab. Regina berasal dari Irlandia dan tinggal United Arab Emirates (di Dubai dan kemudian Abu Dhabi) untuk beberapa lama.
“Wow!” seruku. “Aku ingin pergi ke sana.”
“Kau belum pernah pergi ke Dubai?” tanya Regina.
“Belum, belum pernah.”
“Well, lalu apa yang menahanmu? Ayo kita ke sana! Kau bisa tinggal denganku—aku senang ada teman!”
Aku terpana. Aku punya tempat gratis untuk tinggal di sebuah negara Arab yang terkenal dengan hotel-hotel mewah dengan mobil Rolls-Royce dan pendaratan helikopter. Bagaimana bisa begitu? Keren, ya. Tetapi aku? Di dalam hati aku takut sekali dengan begitu mudahnya mimpiku mewujud! Rasa takutku masih saja menyanderaku.
Maka aku pun mencoba untuk lolos. “Jangan menantangku,” kataku. “Aku ini seorang backpacker tanpa tanggungan apa pun dan tukang jalan. Jadi aku akan datang dan mengunjungimu. Mudah saja.”
Regina, seorang optimistis yang hebat, menatapku dan menggelengkan kepalanya.
“Darling, aku ini orang yang apa adanya. Aku mengundangmu, jadi aku serius. Kau boleh datang kapan saja dan tinggal bersamaku. Tinggal bilang saja kapan.”
Sekali pandang pada wajahku yang ragu, dia menambahkan, “Aku tak akan membatalkan undanganku. Aku akan senang mengantarkanmu ke mana-mana. Pasti bakal seru.”
“Tapi kau sama sekali tak mengenalku!” begitu aku memprotesnya.
“Kita sudah cocok. Aku punya sofa ekstra dan waktu luang. Kita bisa jalan ke Oman. Sudah pernah ke sana?”
Aku terlalu kaget bahkan untuk menjawab dengan kebiasaanku. “Belum. Belum pernah.”
“Ke mana lagi yang kau inginkan?” dia bertanya.
“Mesir. Aku benar-benar ingin melihat piramida.”
“Terbanglah ke Dubai. Ada banyak pesawat murah dari sana. Tentu saja Mesir sangat dekat.”
Aku terlalu takut untuk bertindak ketika itu. Akhirnya, setelah memikirkan betapa serunya perjalanan itu, aku pun mengumpulkan keberanianku.
Kurang dari setahun, aku menukarkan poin frequent flier miles milikku dan pergi mengunjungi Regina di Abu Dhabi. Dia membawaku ke berbagai tempat yang indah dan kami berdiskusi secara mendalam tentang perubahan-perubahan yang ingin kami lakukan dalam hidup. Tanpa kusadari, aku sudah dalam perjalanan menuju ke Mesir.
Ketika aku melakukan check-in di sebuah hostel di Kota Alexandria yang indah, pemiliknya memberikan upgrade kelas tiga kali lipat, sambil mengatakan bahwa akulah satu-satunya tamu yang pernah menuliskan permintaan lebih dari satu bahasa.
Katanya lagi, “Saya ingin menjadikan mimpi Anda jadi kenyataan.” Bermimpikah aku?
Dia mengantarku ke sebuah kamar dengan pemandangan samudera dengan kamar mandi pribadi, dan termasuk sarapan! Semua itu hanya seharga dua belas dollar! Karena tahu danaku terbatas, dia dengan sabar menjelaskan kepadaku bagaimana aku mendapatkan transportasi ke Kairo. Dengan kata “Great Pyramids” tertulis dalam bahasa Arab, aku naik-turun bus. Aku akan selalu ingat pertama kali aku melihat salah satu Keajiban Dunia ini.
Ketika aku kembali ke Abu Dhabi, mataku penuh air mata sewaktu kuceritakan pengalamanku kepada Regina. Aku mengucapkan terima kasih karena telah membantuku merasakan pengalaman berbeda dalam hidupku.
Benar yang dikatakannya, dia nyonya rumah yang sempurna. Kami sudah ke mana-mana dan dia jadi salah satu teman baikku. Dan sampai kini. Kami masih bertanya-tanya sehabis ini mau bertemu di mana lagi.
Semuanya hanya karena aku menggunakan kata-kata “belum pernah”, alih-alih “tidak”.
Ketika ditanyakan oleh seseorang, kita sedang apa? Jawablah, bahwa kita sedang berkarya dan membuat karya. Karena kita mencintai aktivitas itu, maka kita tidak sedang benar-benar bekerja, namun sedang berkarya. Tiada yang lebih indah daripada hobi yang bisa menjelma menjadi sumber nafkah atau profesi. Tidak terkecuali, bagi mereka yang mampu melihat profesi mereka saat kini sebagai suatu hobi yang dicintai.
Tiada waktu yang lebih tepat untuk memulai mencintai apa yang sedang kita karyakan, selain saat kini juga. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Salam hangat!