Niat Boleh Baik, Tetapi Bila Caranya Keliru, Maka Jadinya Baik Namun Tidak Benar

By SHIETRA - November 27, 2019

Niat Boleh Baik, Tetapi Bila Caranya Keliru, Maka Jadinya Baik Namun Tidak Benar

Punya niat yang baik, boleh-boleh saja. Punya perhatian yang baik, sah-sah saja. Punya ketulusan yang baik, bagus-bagus saja. Namun, ketika kita melupakan bagaimana cara kita seharusnya menyalurkan atau menyampaikan atau mengekspresikan empati serta niat baik tersebut, maka alih-alih menjadi hal yang positif, niat baik kita justru bisa menjadi bumerang dan kontraproduktif bagi orang lain dan bagi diri kita sendiri.
Singkatnya, bila kita sekalipun memang memiliki niat yang baik terhadap orang lain, namun dengan cara yang keliru atau kurang benar, maka hasilnya pun menjadi tidak benar (atau setidaknya kurang optimal dan tidak tepat sasaran). Karenanya, komposisinya harus berupa ramuan dengan rumusan sebagai berikut : Perbuatan baik artinya = Niat baik + Cara yang benar.
Sebagai contoh, seorang ibu mungkin akan tampak kasihan mendapati putra-puterinya mengalami kesulitan dalam belajar. Namun, perasaan belas kasih demikian menjadi keliru ketika sang ibu membantu mengerjakan seluruh pekerja rumah (PR) yang diberikan oleh guru putra-puterinya sehabis pulang dari sekolah, sehingga sang anak menjadi tumbuh dewasa tanpa semangat juang karena tidak pernah merasakan sukarnya dibalik tantangan kehidupan. Bagai hidup seekor “katak dalam tempurung”.
Contoh lainnya, mungkin kita berniat baik menjaga kebersihan putra-puteri kita atau adik-adik kita yang masih kecil dan balita. Saking bersihnya, sampai-sampai sang bocah tak pernah bersentuhan dengan alergen apapun seperti debu dan bakteri. Bahkan bermain di kebun berumput liar, pasir, dan tanah yang basah berhujan-hujan pun tidak pernah diberi kesempatan.
Menurut penelitian terbaru mengenai faktor pencetus alergi, ternyata sikap overprotective orang tua atau pengasuh, membawa pengaruh signifikan terhadap daya tahan tubuh seorang bocah dari polutan dan alergen, dimana metabolisme tubuhnya dalam menangkal alergen menjadi tidak terlatih karena jarang “digempur” oleh debu, bakteri, maupun faktor-faktor “kotor” lainnya sejak saat kecil. Ketika sang bocah kemudian tumbuh dewasa, dirinya menjadi sangat rentan dan ringkih tubuhnya, disamping takut-takut alias menjadi tidak berani mengambil resiko karena kerap dimarahi ketika berbuat kesalahan kecil sekalipun.
Sama seperti ketika bocah-bocah yang masih belia merajuk agar orangtua mereka memberikan mereka gadget untuk bermain game dan menonton video pada layar ponsel. Demi “kasih sayang”, sang orangtua memberikan perangkat digital tanpa batasan pemakaian, agar sang buah-hati menjadi senang. Yang kemudian terjadi, sang bocah mengalami kerusakan mata dan pertumbuhan mental yang menyimpang dan menjadi mudah marah ketika diasingkan dari gadget, disamping menjadi kurang mampu bergaul dengan teman-teman sesamanya sehingga pertumbuhan kecerdasan motoriknya menjadi tidak berkembang sempurna.
Belum lama ini KWANG memberi makan ikan-ikan di kolam di halaman rumah. Karena terlampau “dermawan”, KWANG banyak memberi makanan ke dalam kolam itu setiap kali menuju halaman rumah. Akibatnya, air kolam menjadi keruh diakibatkan makanan yang membusuk di dalam kolam, mengakibatkan ikan-ikan di dalamnya meninggal secara massal—atau mungkin juga ada yang tewas akibat kebanyakan makan.
Sejak saat itulah, KWANG mulai mempelajari pelajaran yang sangat berharga, bahwa “niat boleh saja baik, asalkan cara melakukannya juga baik dan benar”. Peribahasa satu ini mungkin cukup relevan:
“Datang tampak muka, pergi tampak punggung. Datang dengan baik-baik, pergi pun dengan baik-baik pula.”
“Bersembunyi di balik daun sehelai. Jika bersembunyi di tempat yang salah, akan mudah diketahui orang.”
Ibarat seorang guru ketika mendidik para siswanya, terkadang perlu menampilkan wajah yang tampak keras dan galak, disamping juga mampu tersenyum, penyabar ketika mengajar, dan lembut kepada para siswanya. Bila seorang guru menghukum seorang siswa nakal karena perbuatan nakalnya, maka hal tersebut bisa jadi tidak dilandasi oleh niat yang buruk, namun semata demi mendidik sang murid agar mulai memperbaiki sikapnya demi kebaikan sang murid itu sendiri di kemudian hari.
Belajar dan berlatih adalah hal yang menyiksa, namun terkadang kita sendiri pun perlu bersikap keras kepada diri kita sendiri (dalam rangka disiplin diri), agar kita mampu menghadapi kehidupan yang keras ini, agar tidak mudah patah arang dan tidak mudah jatuh menyerah menghadapi kerasnya kompetisi dunia orang dewasa.
Karenanya, “cara” menjadi tidak kalah penting dengan niat itu sendiri. Menjadi orang baik saja, tidaklah pernah cukup—karena, orang yang baik hati namun mudah memaafkan dan pemurah yang tidak pernah protes diperlakukan seburuk apapun, kerap dijadikan “mangsa empuk” oleh orang-orang nakal dan jahat yang tidak mampu menghargai orang-orang berjiwa baik hati. Jadilah baik hati sekaligus cerdas, agar kita mampu menjaga diri kita sendiri dari tangan-tangan “jahil” orang-orang “jahil”.
Sama seperti hukuman penjara oleh hakim di pengadilan, tampak tidak manusiawi karena merampas kemerdekaan fisik sang terhukum, terlebih perihal hukuman mati. Namun, demi melindungi segenap rakyat dari ancaman obat-obatan terlarang, seorang pengedar atau terlebih seorang bandar obat-obatan terlarang memang harus ditangkap, diadili, dipenjara, dan jika perlu dihukum mati, demi keselamatan generasi penerus bangsa. Niat baik, kadang perlu juga disertai cara-cara yang tampak keras dan tegas.
Ada yang mengatakan, seseorang boleh saja memiliki wajah yang “sangar”, namun sesungguhnya berhati “hello kitty”. Wajah yang terlampau polos dan kekanakan yang selalu tersenyum lebar, dapat mengundang niat buruk orang-orang bertangan “usil” dan “nakal”. Setidaknya, dengan wajah yang “sangar”, sekalipun berhati “hello kitty”, tidak mengundang pandangan-pandangan serta niat buruk dari orang-orang “usil” demikian.
Merasa kasihan pada pengemis, adalah hal yang mulia. Ingin berdana, juga merupakan niat baik yang mulia. Namun bila dana yang kita berikan membuat para pengemis tersebut menjadi penuh kemalasan, bahkan menggoda para pengemis tersebut untuk mengeksploitasi anak-anak mereka untuk turut mengemis, maka dana yang kita berikan (alias niat baik kita), menjadi negatif dan buruk sifatnya.
Kita tidak boleh bersikap bodoh, agar tidak benar-benar menjadi “bodoh”. Seorang bijaksana, selalu ditandai oleh sikap penuh pertimbangan dalam berpikir, bersikap, berperilaku, berucap, dan berbuat. Berbuat baik secara benar dan positif, itulah yang disebut sebagai “bijaksana”.
Contoh lainnya yang paling KWANG sukai ialah apa yang Sang Buddha sebutkan mengenai definisi “perbuatan baik”. Perbuatan baik, menurut Sang Buddha, artinya ialah : “tidak menyakiti dan tidak merugikan orang lain, juga tidak menyakiti ataupun merugikan diri kita sendiri”. Karenanya, antara “niat baik” memiliki derajat yang berbeda dengan sebuah “perbuatan baik”—karena perbuatan baik mensyaratkan niat yang baik dan cara yang juga benar secara satu “paket”.
Sebaliknya, prinsip yang sama juga berlaku: orang lain mungkin boleh jadi berniat baik pada kita, namun bila caranya tidak benar dan keliru, maka kita punya pilihan bebas untuk mengikutinya ataukah tidak. Orang lain dan orang-orang terdekat kita boleh-boleh saja memberi nasehat, yang menurut mereka baik tentunya, namun tetap saja kita sendiri yang paling patut untuk membuat keputusan bagi kehidupan kita pribadi. Pepatah satu berikut ini, menjadi penting untuk kita ingat selalu:
“Analisalah kehidupan Anda melalui lingkungan Anda. Apakah hal-hal di sekitar Anda membantu Anda menuju sukses atau malahan (justru) menahan Anda dari pencapaian itu?” (W Clements Stone)
Begitupula, semua orang ingin hidup bahagia dan makmur berkecukukan. Tidak ada yang keliru menginginkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Namun, yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara yang kita tempuh untuk bisa menuju ke sana, itulah yang paling penting. Lagi-lagi, kembali kita berbicara perihal “cara”. Tidaklah dapat kita berparadigma “menggunakan secara cara” untuk meraih sesuatunya (by all means). Cara yang benar, selalu bersifat “selektif”—mungkin itulah kata kuncinya.
Banyak orang, diantara kita, entah di lingkungan sekolah, lingkungan pemerintahan, lingkungan pekerjaan, hingga lingkup rukun tetangga tempat tinggal kita, menghimpun dan meraih kekayaan materi dengan cara-cara yang keliru seperti menipu, mencuri, bahkan korupsi. Karena itulah, tepat kiranya KWANG mengutipkan pula kata-kata mutiara penting berikut ini:
“Harta tidak membuat orang menjadi kaya, melainkan menambah kesibukan.” (Anonim)
Meski, menjadi kekurangan secara materi juga bukanlah hal yang baik. Hidup berkecukupan, mungkin itulah yang terpenting, “pas-pasan” alias pas butuh pas ada. Terkadang, harta warisan peninggalan dapat menjadi biang seteru antar saudara yang tidak dapat menghargai hak-hak masing-masing ahli waris, karenanya hidup dengan mental berkecukupan, menjadi berkah utama untuk merasakan kepuasan dan kebahagiaan hidup.
Mungkin sang pewaris memiliki niat baik, untuk mewariskan berbagai harta bagi anak-cucunya. Namun, niat baik tinggallah sebuah niat baik, ketika caranya tidak tepat sasaran. Sama seperti subsidi yang diberikan oleh pemerintah, ketika niat baik “tidak tepat sasaran”, maka subsidi demikian sejatinya hanya berakhir pada kondisi “disalah-gunakan” oleh warga yang tidak berhak, atau mungkin bahkan membuat mental juang bangsa kita menjelma bangsa yang pemalas dan hanya mampu mengandalkan uluran tangan pihak lain untuk mencari makannya sendiri.
Pepatah menyebutkan, alih-alih berikan mereka ikan, berikan mereka alat pancing agar mereka mampu menghidupi diri dan keluarga mereka sendiri. Niat baik, perlu didukung oleh cara-cara yang cerdas dan kreatif, itulah sumber kebijaksanaan. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA