Takut untuk Berbuat Jahat, Bukan Takut Menjadi Korban Kejahatan

By SHIETRA - November 29, 2019

Takut untuk Berbuat Jahat, Bukan Takut Menjadi Korban Kejahatan

Ada terdapat 1001 alasan bagi KWANG untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai tempat yang ideal untuk tinggal dan menetap sebagai penduduk, salah satu alasan yang teratas ialah kerapnya masyarakat Indonesia mempertontonkan perilaku “power tends to corrupt” secara vulgar dan “berjemaah” sekalipun diberi gelar bangsa “agamais”.
Untuk membatasi ruang lingkup diskusi kita dalam kesempatan kali ini, KWANG akan mengkhususkan bahasan pada kondisi lalu-lintas jalan umum kita di Indonesia (lebih tepatnya perilaku pengendara di Indonesia)—konon, kondisi dan wajah suatu bangsa dapat dicerminkan lewat perilaku pengemudi kendaraan bermotornya di jalan umum dan jalan raya.
Kekuatan, cenderung disalah-gunakan, terutama di suatu negara dimana rakyat atau penduduknya kurang dapat mengontrol impuls-impuls keserakahan dan arogansi dirinya sendiri yang dapat dipastikan akan menjerumuskan diri bersangkutan ke dalam kekuasaan keserakahan dirinya sendiri (termakan oleh keserakahan dirinya sendiri) sehingga mendorong yang bersangkutan untuk pada gilirannya menyalah-gunakan kekuasaan serta kekuatannya terhadap orang-orang yang lebih lemah.
Contoh sederhananya, anak-anak berbadan besar cenderung akan mem-bully anak-anak bertubuh kecil. Orang-orang yang berparas cantik atau rupawan akan cenderung mem-bully orang-orang yang berwajah kurang menarik. Orang-orang dengan kecerdasan tinggi akan cenderung mem-bully orang-orang dengan IQ rata-rata atau bahkan yang dibawah rata-rata tingkat kecerdasannya.
Seseorang pengemudi kendaraan bermotor roda dua, cenderung lebih arogan dan lebih menyalah-gunakan kekuasaannya atas jalan terhadap pejalan kaki, seolah-olah dirinya adalah “raja jalanan” atau “penguasa jalan” sementara pejalan kaki seolah “berkasta” rendah di republik bernama Indonesia ini. Ternyata, di jalanan di Indonesia dapat kita jumpai “kasta-kasta” demikian.
Sebagai contoh sebagaimana pernah dan sering KWANG alami sendiri ketika berjalan kaki menuju dari dan ke suatu tempat di jalan raya, kerap terdapat pengendara kendaraan bermotor roda dua yang mengemudikan motornya secara melawan arus. Anehnya dan lucunya, yang bersangkutan tidak mau memberi jalan bagi pejalan kaki yang sudah benar berjalan pada sisi kiri bahu jalan, dan justru membuat pejalan kaki harus mengalah dengan bergeser ke badan jalan yang akibatnya beresiko tinggi tertabrak pengendara dari arah belakang—padahal yang bersalah atau yang melawan arus ialah sang pengendara kendaraan bermotor tersebut.
Pernah juga terjadi, di Jakarta, seorang pengendara motor melintas dan melajukan motornya secara kencang di atas jembatan penyeberangan orang (JPO) sehingga KWANG yang kebetulan sedang menyeberang menggunakan JPO tersebut harus berkelit untuk menghindari “serudukan” sang pengendara yang mengendarai “banteng besi”-nya. Tega ya, orang-orang Indonesia. Konon katanya bangsa yang ramah, konon.
Pernah juga terjadi, masih di Jakarta, KWANG tidak bisa berjalan di trotoar karena dikuasai oleh pengendara motor yang parkir sembarangan. Akibatnya, KWANG harus bergeser ke bahu jalan, dan benar-benar terjadi kecelakaan karena punggung kaki KWANG terkena tabrak pengendara motor lainnya yang melintas dari arah belakang hingga biru lebam—dan kejamnya, pengendara motor tersebut yang telah menabrak KWANG tersebut kemudian tanpa rasa belas kasihan justru menyalahkan KWANG tanpa mau melihat kesukaran yang KWANG hadapi dan alami selaku pejalan kaki pada kondisi jalan umum yang tidak ramah dan tidak layak bagi pejalan kaki ini di Indonesia—bila yang berjuluk Ibukota Negara saja seperti ini kondisi jalannya, maka bagaimana dengan daerah-daerah lainnya?
Bahkan, pernah juga diberitakan, seorang pejalan kaki ditendang oleh pengendara kendaraan bermotor roda dua di TROTOAR karena sang pengendara motor menganggap pejalan kaki tersebut menghalangi jalannya—padahal sudah jelas bahwa trotoar bukan peruntukkan bagi pengedara kendaraan bermotor dan adalah hak bagi pejalan kaki semata.
Itulah yang KWANG maksudkan dengan menyalah-gunakan kekuatannya sebagai pengendara “banteng besi” melawan seorang pejalan kaki yang tidak pernah terlindungi di negeri ini, tersisihkan dari akses jalan umum dan dibuat semacam “kasta-kasta” pada republik yang mengakunya demokratis dan tidak mengenal kasta antar penduduknya ini—mungkin juga hanya sekadar “konon”.
Sama halnya, dalam derajat yang lainnya, pengendara mobil roda empat cenderung akan lebih arogan dan cenderung lebih menyalah-gunakan kekuasaannya atas “gajah besi” bernama mobil roda empat pada suatu jalan. Berikut kisah nyata lainnya yang KWANG alami sendiri pada suatu jalan umum pada wilayah perumahan di Jakarta, Indonesia.
Suatu ketika, KWANG yang sedang mengendarai motor roda dua, dihambat lajunya oleh seorang pengendara mobil roda empat yang justru melajukan kendaraannya di tengah jalan, sehingga menyukarkan pengendara lain di belakangnya untuk menyalip dari samping. Sejauh kurang-lebih satu kilometer jaraknya, KWANG harus bersabar berjalan secara meyarap dikarenakan sang pengendara mobil menjalankan kendaraannya secara meyarap seperti seekor semut—wujud keegoisan karakter pengendara bersangkutan, ditampilkan dalam sikap arogan bak “raja jalanan”.
Tidak cukup sampai disitu, seolah menjadi “raja jalanan” yang “diktator”, sang pengendara mobil lalu berhenti pada suatu lokasi jalan, dan membuka kaca mobilnya lalu asyik mengobrol pada warga setempat lainnya. KWANG tidak melarang siapapun untuk mengobrol, namun mengapa mengobrol pada yang bukan tempatnya, sehingga merugikan pengguna jalan lainnya yang juga berhak untuk melintas dan menggunakan jalan—seolah hanya dirinya sendiri yang paling penting sementara waktu pengendara lain tidak penting.
Ketika kesabaran KWANG habis, lalu terpaksa membunyikan klakson motor yang KWANG kendarai, namun sang pengemudi mobil tidak menghiraukan pengendara di belakang mobilnya dan terus saja asyik mengobrol dengan sang warga sekitar. Sang warga sekitar yang sejak semula diajak mengobrol tersebut, setelah sang pegemudi mobil merasa puas “pamer kuasa sebagai raja jalanan”, justru memaki KWANG dengan lontaran kata: “Orang sedang ngobrol, diganggu!” Luar biasa, jungkir-balik korban seolah menjadi penjahat, padahal sang warga tersebut mengenakan “peci” dan pakaian ala “agamais”.
Mengobrol kok di tengah jalan, dan menghalangi pengguna jalan lainnya? Seolah-olah, dirinya lebih penting dan lebih berharga bagi dunia ini ketimbang pengguna jalan dan warga lainnya. Sudah jadi korban, disalahkan dan dipersalahkan pula. Kejam sekali negeri satu ini. Jika pelakunya berwajah dan berpakaian preman, dapat KWANG pahami, namun ketika pelakunya berperilaku layaknya “orang suci” dan berbusana “bak suciwan”, maka KWANG hanya bisa terperangah sembari mengelus dada.
Pernah lagi terjadi, namun kali ini KWANG hanya melintas sebagai penonton, seorang pengendara motor roda dua bertengkar dengan seorang pengendara mobil roda empat pada suatu jalan perumahan yang sempit. Yang salah ialah pengendara mobil sebetulnya, namun yang kemudian terjadi sangat menyentak nurani KWANG karena sangat mengejutkan : sang pengendara mobil menganiaya sang pengendara motor, dan warga setempat turut mengeroyoki sang pengendara motor. Warga setempat tersebut yang ikut membela dan mengeroyok sang pengendara motor, berkata sebagai berikut: “Si pengendara mobil ini warga setempat!
Itulah ekses-ekses dari penyalahgunaan kekuasaan dan posisi dominan dirinya, jadilah perilaku sewenang-wenang dan arogan yang tidak kenal takut untuk berbuat jahat dan tercela. Pongah, itulah “teman dekat” dari perilaku arogan dan tidak takut untuk berbuat jahat dan tercela. Perilaku sewenang-wenang sudah merupakan cerminan watak atau perilaku yang sedang menyalah-gunakan kekuatan ataupun kekuasaannya.
Derajat berikutnya, antara pengendara mobil besar dan pengendara mobil kecil, pengendara mobil besar lebih cenderung bersikap arogan ketimbang perilaku pengendara mobil kecil.
Ketika KWANG menjadi pejalan kaki di Indonesia, yang kerap mengklakson tanpa sabar dan penuh arogansi, ialah pengendara mobil besar, dan jarang KWANG alami bila yang melintas lainnya ialah pengendara mobil kecil. Entah mengapa juga bisa seperti itu.
Menjadi pejalan kaki di Indonesia, sangatlah sukar, kondisi jalan tidak ramah terhadap pejalan kaki akibat berbagai ranting pohon terjulur tidak terpangkas mengakibatkan KWANG selaku pejalan kaki beresiko ranting yang menjulur ke tengah jalan demikian menggores wajah atau bahkan dapat melukai mata KWANG, namun pengendara mobil roda empat cenderung tidak mau memahami kesukaran pejalan kaki, dengan arogan melintas dengan kecepatan penuh dan mengklakson berulang kali dengan demikian kerasnya seolah-olah pejalan kaki tidak berhak untuk melintas di jalan umum, terlebih seringkali jalan umum tersebut sangat sempit sehingga tidaklah layak mobil besar melintas bahkan dalam kecepatan tinggi dan membunyikan klakson berulang-kali secara demikian kerasnya mengusir pejalan kaki seolah berkasta rendah yang tidak berhak berjalan kaki di jalan umum tersebut.
Sangat tidak manusiawi, itulah singkat kata yang bisa KWANG gambarkan. Apakah kita akan mengundang wisatawan asing sementara warga Indonesia justru kerap mempertontonkan perilaku-perilaku belum beradab demikian? Apa yang hendak ditonton, selain sikap-sikap ala “bar-bar” tidak berperadaban demikian? Mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi turis yang hendak mencari dan mengunjungi sebuah negeri yang masih terkungkung pada zaman batu prasejarah, dimana “manusia purba” masih kental mengandalkan otot dan mempertontonkan kekerasan fisiknya sebagai atraksi utamanya. Ya, itulah Indonesia, sudah rahasia umum. Hehehe...
Begitupula pengendara motor roda dua besar dan pengendara motor roda dua kecil, perilakunya pun sangat berbeda arogansinya secara begitu mencolok. Pengendara motor-motor besar, cenderung bersikap “bak raja jalanan” dan sangat arogan perilakunya.
Begitupula pengendara kendaraan bermotor sipil dengan asesoris lampu rotator dan sirine (strobo), dibanding pengendara kendaraan bermotor tanpa asesoris tambahan apapun, perilakunya sangat kontras. Pengendara dengan strobo, kerap berperilaku layaknya seorang warga yang “minta dihormati” seolah warga dan pengguna jalan lainnya berada pada strata “yang tidak perlu dihormati”. Mengapa juga praktik perkastaan demikian tumbuh subur di Indonesia? Mungkin akibat pembiaran dan begitu masifnya anomali sosial-kemasyarakatan di Indonesia, sehingga mengkristal menjelma kasta-kasta demikian—ciri khas bangsa yang belum beradab, yakni masih menghidupkan praktik perkastaan.
Begitupula pengendara motor roda dua yang menggunakan knalpot racing yang berisik, kerap lebih arogan ketimbang motor dengan knalpot standar bawaan pabrik—bahkan KWANG sering kali terluka matanya kena semburan kencang asap knalpot tipe “racing” yang bisa melukai mata pejalan kaki maupun pengendara motor yang berada di belakangnya.
Lebih “gila”-nya lagi, ketika kendaraan motor maupun mobil di-parkir secara sembarangan oleh pemiliknya di pinggir jalan, pengendara mobil atau motor lainnya yang melintas di jalan umum tersebut, akan melintas dengan penuh kesabaran meski menjadi tersendat akibat “bottle neck” yang disebabkan oleh kendaraan yang diparkir liar demikian.
Namun, ketika yang dijumpai oleh pengendara yang sama tersebut ialah pejalan kaki, mereka akan menyalah-gunakan kekuasaannya yang duduk nyaman dibalik kemudi “banteng besi” tersebut dan tanpa hati nurani membunyikan klakson mobil atau motornya agar sang pejalan kaki (yang sudah demikian tersiksa oleh kondisi jalan yang tidak ramah bagi pejalan kaki, belum lagi harus berebut ruang dengan pedagang kaki liar) menyingkir dari jalan umum seolah tidak punya hak untuk menggunakan jalan tersebut (alias berperilaku seolah itu adalah jalan milik sang pengendara)—padahal, berapalah lebar tubuh seorang manusia pejalan kaki ketimbang lebar mobil yang diparkir liar demikian yang bisa mencapai dua meter lebarnya memakan hampir separuh bahu jalan?
Para pengendara tersebut demikian arogan dan tega mengklaksoni dan mengintimidasi KWANG selaku pejalan kaki, namun ketika di depannya para pengendara tersebut berpapasan dengan satu lajur jalan yang dipakai oleh pengendara lain sebagai tempat parkir liar, mereka dengan bersabar menghentikan mobilnya dan berjalan merayap tersendat-sendat tanpa membunyikan klakson! Seolah, nyawa seorang manusia “berkasta” pejalan kaki tidak lebih berharga dan kalah derajatnya ketimbang sebuah “banteng besi” yang merupakan benda mati. Sesama serigala, tampak jinak-akrab satu sama lain, namun ketika berjumpa seekor kelinci, barulah para serigala tersebut menampilkan taring ganasnya (baca : wajah aslinya).
Namun, yang ingin KWANG tambahkan dalam kesempatan ini sebagai penutup ulasan pahit kita di atas, tidak semua pengguna jalan di Indonesia yang perilakunya demikian buruk. Gambaran demikian adalah bersifat rata-rata, karena tidak semua pengendara di Indonesia tergoda untuk menyalah-gunakan posisi dominannya ketika menghadapi atau berpapasan dengan seorang pejalan kaki. Dengan demikian, KWANG tidak bermaksud menggeneralisir, namun kejadian yang demikian masifnya membuat KWANG terpaksa menggambarkan secara apa-adanya.
Ada juga pengendara mobil dan motor yang demikian santun, penyabar, sopan, tidak kebut-kebutan, tidak membunyikan klakson, tidak mengintimidasi pejalan kaki, tidak membuat “iritasi” perasaan pejalan kaki, menghormati pejalan kaki, bahkan rela mengalah, dan mampu saling menghormati antar sesama pengguna jalan tanpa membuat kasta-kasta Pejalan Kaki Vs. Pengguna “Banteng Besi”. Mampu saling berbagi ruang atas jalan secara indah dan damai, harmoni tiada konflik apapun.
Bila kita sebagai pejalan kaki di Indonesia, terus memikirkan keadaan tidak ideal demikian, maka kita bisa frustasi sendiri, seperti yang pernah KWANG alami (bahkan seringkali). Namun, ketika kita mencoba merenungkan lebih jauh, maka kita justru akan merasa prihatin pada para pengendara kendaraan bermotor arogan demikian.
Mengapa? KWANG kemudian membuat perspektif baru dalam mencermati fenomena penuh arogansinya masyarakat atau bangsa Indonesia, yang konon sudah berpendidikan tinggi dan “canggih” karena melek gadget ini. Berikut di bawah inilah yang kemudian menjadi “kacamata” baru bagi KWANG dalam memandang fenomena dan realita pahit-getir ironik demikian—itu baru cerminan di jalan raya, belum lagi jika kita bahas realita fenomena sosial-kemasyarakatan Indonesia di ruang sekolah, ruang kantor, dan ruang publik lainnya di Indonesia, dipastikan dapat membuat para pembaca menjadi apatis dan pesimistis.
Orang-orang yang arogan, suka menyalah-gunakan kekuasaannya, adalah orang-orang yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Mereka demikian miskin dari kebahagiaan hidup (sekalipun secara ekonomi mereka lebih dari cukup), sehingga baru merasa hidup ketika merasakan sensasi menyakiti dan merugikan warganegara lainnya dengan bertindak sewenang-wenang. Mereka selalu merasa butuh dan kehausan untuk melukai orang lain, agar membuat mereka merasa lebih bahagia daripada orang lain. Mereka adalah orang-orang yang kosong isi hatinya.
Orang-orang arogan demikian, sampai meninggal nantinya pun tidak akan mampu menabung banyak perbuatan baik, sedikit perbuatan baik pun tidak akan dapat diperbuat olehnya, karena dalam keseharian mereka justru banyak menimbun perbuatan-perbuatan buruk, baik yang kecil maupun yang besar—sebetapa pun mereka remehkan sebagai hal remeh, namun seorang korban tidak pernah meremehkan luka perasaan ataupun luka fisik yang dialami oleh sang korban. Perbuatan jahat tetaplah perbuatan jahat, menimbun sedikit demi sedikit tetap saja menjadi bukit, bukit kejahatan. Mereka adalah orang dungu, yang begitu bodohnya merasa senang menggali lubang kubur untuk diri mereka sendiri tenggelam jauh ke dalam dasar lembah neraka yang akan menyiksa mereka sebagai buahnya.
Sebaliknya, pengendara yang santun dan tidak arogan, mampu menghargai sesama pengguna jalan maupun terhadap pejalan kaki, sejatinya sedang menolong dirinya sendiri terhindar dari perilaku sewenang-wenang, dirinya menghindari perbuatan buruk sekecil apapun, atau setidaknya dimininalisir, sehingga mereka tidak akan celaka akibat “karma buruk” yang mereka tanam oleh diri mereka sendiri selama hidup ini.
Orang-orang yang dapat menanam “karma baik” selama hidupnya, mudah sekali dicirikan, yakni: mereka tidak suka menyalah-gunakan kekuasaan maupun kekuatannya, dan jauh dari sikap arogan, serta sangat takut melukai ataupun merugikan orang lain. Sehingga, bukan orang lain yang menjadi takut menjadi korban, namun mereka sendiri yang menjadi waspada atas perilakunya masing-masing agar tidak sampai berbuat jahat. Alias, takut menjadi orang jahat yang bebuat jahat.
Itulah sebabnya, Thailand disebut-sebut sebagai negeri dewata, dimana para dewa-dewi kerap menyukai penduduk Thai, karena moralitas bangsa dan penduduk Thailand jauh kontras berkebalikan dengan perilaku Bangsa Indonesia.
Mungkin itu karena Bangsa Thai sangat meyakini ajaran moralitas sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha, bahwa setiap perilaku kita tercatat dalam Karma yang akan kita warisi sendiri, yang akan berbuah pada diri sang pelaku itu sendiri. Karenanya, penduduk Thailand sangatlah takut melukai terlebih menyakiti orang lain, karena bagi Bangsa Thai, sebagai bagian dari praktik religius sakral pemeluk Agama Buddha, berbuat baik pada orang lain sejatinya sedang menolong diri sendiri, dan berbuat jahat pada orang lain artinya sedang mencelakai dirinya sendiri.
Itulah refleksi kehidupan secara singkat yang bisa KWANG sharing kepada para pembaca, sebagai sekadar gambaran wajah bangsa yang telah kita bandingkan antara Thailand dan Indonesia demikian. Sangat kontras dan bertolak-belakang. Tidak akan kita jumpai warga Thai yang arogan, ataupun yang menyalah-gunakan kekuasaannya sebagaimana tipikal sebagian rakyat Indonesia. Praktis, tiada wajah-wajah praktik perkastaan di Thailand.
Jika ada diantara pembaca yang tidak percaya, maka mari datang dan buktikan sendiri, berkunjunglah ke Thailand, dan lihat dengan mata kepala Anda sendiri. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! J

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS