Belajar dan Bekerja secara CERDAS, Bukan secara KERAS

By SHIETRA - December 01, 2019

Belajar dan Bekerja secara CERDAS, Bukan secara KERAS

Belajar keras untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan menghadapi era persaingan yang bukan lagi terhadap sesama manusia (angkatan kerja), namun era digital saat kini sudah menuntut kita untuk mampu bersaing menghadapi “kecerdasan buatan” (artificial intelligence) maupun tenaga terampil berupa “robot” yang niscaya kian mengambil-alih kesibukan maupun pekerjaan pada dunia kerja industri padat karya. Sudah siap, dan sudah mampukan diri kita?
Kedua, setelah belajar keras, yakni bekerja keras (work hard, bahkan ada pula film layar kaca beberapa dekade lampau yang cukup termasyur dengan judul “die hard”). Seolah belum cukup membuat “derita” dengan perjuangan keras dalam menempuh pendidikan dari kecil hingga usia dewasa (dengan istilah sebagai “belajar sepanjang hayat” sebelum pada akhirnya terkubur serta bersama raga kita yang menjadi kompos dan unsur hara), kita pun disibukkan untuk menjadi seorang pekerja kantoran yang bekerja dari “pagi ketemu pagi” kembali.
Rasanya, sungguh malang sekali kita sebagai manusia, seolah hanya dilahirkan dengan kodrat untuk “learn hard”, “work hard”, lalu “die hard”. Seolah-olah, hidup demikian keras, meletihkan, membosankan, monoton, dan demikian linear serba “hard, hard, dan hard”. Mendengar itu saja, rasanya sudah seperti mimpi buruk.
Banyak kita dengar dan baca, para atlet bahkan sudah mulai dipersiapkan dari usia yang sangat amat dini, yakni dilatih sejak mereka masih berusia sangat muda, yakni antara usia empat hingga lima tahun. Para pelatih tim nasional berbagai negara menyebutkan, semakin dini usia para atlet muda dipersiapkan, tingkat atau persentase keberhasilannya jauh lebih tinggi.
Ketika mereka yang sudah begitu menderita dalam perjuangan keras penuh keringat dan pengorbanan demikian, kemudian keluar sebagai jawara dalam suatu games atau ajang kompetisi, maka bukankah hal tersebut adalah dan menjadi hal yang wajar-wajar saja?
Sebaliknya, bila yang kemudian keluar sebagai pemenang ialah peserta yang selama ini bermalas-malasan, maka hal tersebut menjadi tampak tidak adil bagi para atlet yang selama ini mempersiapkan diri setiap harinya serta hampir seluruh masa hidupnya untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Ada kerja keras, ada hasil sebagai reward-nya.
Pepatah sudah lama sekali mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Jika ingin berhasil dan sukses, maka kita perlu yang tadi itu, “hard, hard, dan hard”.
Akan tetapi, mengapa juga banyak diantara kita yang sudah belajar demikian keras, hingga bekerja teramat keras, sampai-sampai tidak punya waktu untuk diri kita sendiri, namun masih belum juga meraih keberhasilan dan prestasi apapun, atau bahkan hasilnya “begitu-gitu” saja dan cenderung stagnan?
Nah itu dia yang menjadi pertanyaan besar yang jarang sekali dibahas oleh para motivator-motivator ataupun pembicara seminar tentang menjadi seseorang yang sukses dalam karir maupun dalam prestasi akademik, bisnis, dan prestasi-prestasi lainnya.
Sebetulnya, ada yang namanya “belajar cerdas” dan “bekerja keras”, disamping belajar keras maupun bekerja cerdas. Apakah itu yang disebut “belajar cerdas” dan “bekerja keras”? Itulah tepatnya yang sedang menjadi pokok bahasan kita bersama dalam kesempatan berharga kali ini.
Yang disebut dengan “belajar cerdas”, ialah bagaimana kita mengalokasikan sumber daya waktu, tenaga, serta perhatian kita pada apa yang memang menjadi bakat atau talenta bawaan kita sejak lahir (namun minat juga dapat ditumbuhkan). Seseorang yang tidak pandai melukis, maka tidaklah perlu berlatih keras untuk menjadi pelukis yang mahir. Sebaliknya, yang tidak memiliki kecerdasan tinggi dibilang keterampilan berbahasa, tidak perlu juga sampai terobsesi menjadi guru bahasa asing, sebagai contohnya.
Fokuslah pada apa yang menjadi keunggulan atau kelebihan utama kita, dan asahlah dengan sepenuh hati serta sepenuh jiwa dari apa yang memang sangat kita gemari dan bakati. Yang terpenting, apa yang menjadi hobi dan kegemaran kita dapat bersifat produktif, bukan sekadar untuk kesenangan atau pengisi waktu semata. Carilah hobi atau kegemaran yang produktif, dan tinggalkan segala kebiasaan yang kurang produktif—karena itu akan menjadi modal penting bagi kita untuk bertumbuh dan berkembang di masa yang akan datang.
Belajar cerdas artinya kita tahu dimana letak keunggulan kita dan bagaimana kita bisa menjadi unggul pada suatu bidang prestasi sebagai visi dan misinya. Belajar cerdas artinya memiliki target pencapaian yang rasional.
Seekor burung elang, adalah wajar bila memiliki target latihan mampu terbang setinggi gunung atau terbang menukik dengan kecepatan secepat tornado. Namun bila itu adalah seekor monyet hendak bercita-cita dan terobsesi untuk menjadi mahir dalam hal selam-menyelam alih-alih lompat-melompat, itulah yang disebut sebagai petaka, alias “celaka dua belas”. Bersikaplah rasional, itu yang disebut sebagai belajar secara cerdas—dimana mula-mula kita perlu mengenali diri kita sendiri dengan baik terlebih dahulu sembari menjelajahi kehidupan.
Sekarang, mari kita beralih pada bahasan perihal “bekerja (secara) cerdas”, alih-alih “bekerja (secara) keras”. Mereka yang mampu bekerja secara cerdas, akan selalu lebih unggul satu langkah daripada mereka yang hanya bekerja secara keras. Ingin bukti?
Sebagaimana kita ketahui, warga atau penduduk di negara-negara tertinggal, seringkali adalah orang-orang yang tergolong pekerja keras, dari pagi-subuh hingga malam mencangkul tanahnya di sawah, namun seolah “kutukan”, kehidupan keluarga mereka justru terbelit kemiskinan dan serba kekurangan, dari generasi ke generasi seolah saling mewarisi “kutukan” (terbelit kemiskinan) demikian.
Sebaliknya, di negara-negara maju, wajah kehidupan penduduknya sangat kontras dengan kondisi negara-negara tertinggal. Apakah seorang manajer pada suatu perkantoran, bekerja secara sekeras seorang petani yang mencangkul tanahnya di sawah, berpanas-panasan, berterik-terik hingga kulit terbakar sinar matahari, dan hingga berbau keringat yang mengering akibat seharian bekerja keras?
Sekali lagi, belajar dan bekerjalah secara cerdas, bukan secara keras sebagai tumpuan andalan utamanya untuk meraih prestasi dan suatu pencapaian. Mereka yang bekerja secara cerdas, menggunakan dan mengandalkan kreativitas serta inovasi guna memudahkan pekerjaannya.
Sebaliknya, mereka yang bekerja secara keras mengandalkan otot belaka dan semata-mata otot yang suatu saat sudah pasti justru akan kian melemah dimakan usia dan lekang oleh seiring bertambahnya waktu (sebagaimana nasib para atlet kita, termasuk para atlet di negara-negara maju sekalipun, usia produktif mereka yakni pada usia dibawah empat puluh tahun, sementara umur hidup mereka masih sangat panjang).
Tidak ada yang salah dengan belajar dan bekerja keras, namun baru menjadi masalah ketika kita belajar dan bekerja keras bukan pada jalur yang semestinya (ini baru celaka “tiga belas”). Sebaliknya, belajar dan bekerja secara cerdas pastilah optimal sifatnya, karena memang sesuai pada bakat, talenta, minat, serta “on the track” sehingga keras atau tidaknya tidak lagi relevan bagi seorang pembelajar dan pekerja cerdas—karena mereka memang menyukainya, sehingga tidak dianggap sebagai suatu beban apapun untuk dilakoni dan ditekuni.
Itulah kunci rahasia sukses, yang telah KWANG bagikan secara tebuka kepada teman-teman sekalian, yang mungkin banyak dirahasikan dan ditutup-tutupi oleh mereka yang telah terlebih dahulu sukses dan meninggalkan kita jauh di depan menapaki puncak keberhasilan karir mereka. Namun, tiada kata terlambat selagi kita memulai membiasakan diri untuk belajar cerdas dan bekerja cerdas.
Mengapa mereka yang belajar dan bekerja secara cerdas, seringkali adalah orang-orang yang tampil penuh percaya diri dan penuh semangat? Inilah jawabannya, sebagaimana KWANG kutipkan kalimat bijak berikut di bawah ini:
Ketakutan selalu muncul dari ketidaktahuan.”
(Ralph Waldo Emerson)
Dengan kata lain, ketidaktahuan selalu menjadi sumber dari ketakutan. Sebagai manusia, kita kerapkali dirudung oleh ketakutan kita sendiri, karena memang suatu hal yang sedang kita hadapi dan kerjakan, masih asing bagi kita. Namun, dengan menjadi terampil dibidangnya, kita pun menjadi bisa bernafas lebih lega.
Siapa yang paling mengetahui apa bakat serta minat pribadi diri kita, selain diri kita sendiri? Orangtua kita boleh saja mempersiapkan kita untuk menjadi terampil dalam banyak bidang. Namun, tetap saja pada gilirannya kita sendiri yang paling tahu siapa diri kita, dan apa minat serta arah tujuan kita, sebagaimana kalimat bijak berikut ini yang juga memiliki pesan yang senada:
“Pemimpin yang paling baik mengumpulkan informasi secara luas, mendengarkan semua orang, namun menentukan sendiri apa yang menjadi tindakannya.”
(Edwin Beans)
Mengapa menumbuhkan dan mencari cita-cita yang kita minati, perlu kita lakukan sedini mungkin? Sebetulnya, menurut KWANG, bukanlah belajar dan bekerja keras sedari kecil, namun sedari dini kita perlu membuat cita-cita yang hendak kita capai dan terus mencari tahu dimana letak talenta kita yang sebenarnya (pertualangan).
Umpama seorang atlet cilik dilatih menjadi seorang perenang profesional sejak ia berusia kanak-kanak bahkan ketika masih berusia 4 tahun yang semestinya masih di bangku Taman Kanak-Kanak dan bermain bersama sahabat-sahabat ciliknya. Namun, ketika ia beranjak sedikit lebih dewasa, bukanlah tidak mungkin bila dirinya kemudian menemukan bahwa dirinya tidak benar-benar menyukai olahraga berenang, namun olahraga catur sesuai bakat dan minat talentanya, sebagai contoh ekstrimnya.
Pepatah lama berikut yang dapat membuat kita pesimis karena “sudah terlampau terlambat” atau “sudah terlanjur terlambat”:
“Memulai belajar (keras) sejak kecil seperti memahat di atas batu, dan baru memulainya sesudah tua seperti menulis di atas permukaan air ataupun pasir.
Perlu kita ubah menjadi, sebagai berikut:
“Memulai belajar (cerdas) sejak kecil seperti memahat di atas batu, dan baru memulainya sesudah tua seperti menulis di atas permukaan air ataupun pasir.”
Mereka yang bekerja secara cerdas, menciptakan robot untuk bekerja bagi mereka. Mereka yang belajar secara cerdas, menemukan jalan untuk mewujudkan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sementara mereka yang masih bermimpi dan memimpikan kesuksesan dan hidup gemilang dengan mengandalkan “otot” dan “keringat” semata, akan tergantikan oleh tenaga robot-robot yang sesaat lagi akan menyisihkan tenaga kerja manusia tidak terampil.
Selamat datang dalam era kompetisi baru. Menikmati kemajuan teknologi, selalu ada harga yang harus kita bayarkan. Bila nenek-moyang dan generasi pendahulu kita belum dapat menikmati kecanggihan teknologi digital seperti kita dewasa ini, setidaknya mereka tidak berkompetisi dengan robot.
Kini, kita sebagai generasi muda, dihadapkan pada pertarungan sengit antara tenaga manusia melawan tenaga dan otak sebuah robot canggih yang juga cerdas—yang dapat juga disebut sebagai era penjajahan baru oleh kecanggihan teknologi terhadap peradaban manusia.
Otot seorang manusia memiliki keterbatasan, namun tidak pada kecerdasan seorang manusia. Investasikan selalu waktu dan perhatian kita pada belajar cerdas dan bekerja secara cerdas. Begitulah langkah antisipasi kita untuk bisa bertahan dari kepunahan seperti yang dialami oleh nasib bangsa dinosaurus semacam T-rex yang ganas, ternyata kalah oleh hewan yang lebih cerdas sekalipun bertubuh lebih kecil.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA