Kiat untuk Memiliki Jiwa seorang Ilmuan

By SHIETRA - December 27, 2019

Kiat untuk Memiliki Jiwa seorang Ilmuan

Apakah yang membuat seorang ilmuan selalu tampak lebih keren dan lebih hebat daripada jagoan bela diri manapun yang bertubuh kekar dengan otot-otot yang bertonjolan seperti kaki seekor katak?
Karena kekuatan otak mereka, lebih tepatnya karena kegigihan dan keuletan mereka. Melatih pikiran bisa sama sukar atau bahkan lebih sukar ketimbang melatih otot. Banyak orang, merasa lebih suka melakukan aktivitas fisik yang sekalipun berat namun tidak membutuhkan kerja pikiran otaknya. Mintalah para buruh dan pekerja kasar untuk mengerjakan perkalian atau hitungan algoritma, maka mereka akan cenderung menyerah sebelum benar-benar mempelajari dan mencobanya. Bagi mereka, lebih baik capai otot ketimbang capai otak (kepala)—setidaknya kepala tidak punya “otot” kecuali berupa kerutan-kerutan pada otak.
Bagi seorang ilmuan, tidak penting kalimat “bekerja keras”. Bagi seorang ilmuan, yang terpenting ialah “bekerja (secara) cerdas” dengan otak mereka. Yang paling menarik dan bisa kita pelajari dari cara berpikir seorang ilmuan ialah, dalam falsafah hidup mereka tidak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “mustahil”, namun “belum bisa” dan “perlu menemukan jalannya”.
Pandangan serta cara berpikir seorang ilmuan, tidak pernah berhenti ketika menemui rintangan dan kegagalan dalam setiap eksperimen dan penemuan yang mereka kerjakan dan geluti. Dapat dikatakan, seorang ilmuan merupakan para petualang sejati. Dapat juga dikatakan, seorang ilmuan merupakan pejuang yang gigih karena tidak pernah menyerah menemui berapa banyak pun kegagalan dalam penelitian yang dilakukan olehnya. Bagi mereka, peluang tiada batasnya, batasannya ialah seberapa jauh tekad mereka sendiri.
Bagaikan seorang Cristopher Colonimbus sang penemu benua baru, menjelajah tanpa pernah tahu apa hasilnya dan bagaimana nasibnya, mengarungi laut seluas samudera yang asing, namun terus melanjutkan perjalanan dan melakukan penemuan sampai akhirnya benar-benar menemukan—seperti itu jugalah seorang ilmuan, tidak akan pernah tahu kemana penelitian yang ditekuninya akan mengarahkan dirinya, namun yang diketahui olehnya ialah agar terus melanjutkan penjelajahan sampai menemukan dan sampai dirinya berseru : “Oh, ini dia, akhirnya berhasil juga ditemukan!
Kita seharusnya merasa malu, ketika menemukan satu atau dua kali kegagalan dan “jalan buntu”, maka akan menyerah dan pasrah tertunduk lesu-lemas. Apakah seorang ilmuan pernah kita saksikan seperti itu? Tidak, ribuan kali gagal melakukan penelitian guna menemukan solusi pemecahan masalah, maka mereka justru akan semakin semangat melakukan eksperimen baru dan melanjutkan penelitian, sekalipun memakan waktu sepanjang hidup mereka seperti teladan yang diberikan oleh seorang Thomas Alfa Edison yang divonis sebagai anak “bodoh” oleh gurunya sendiri.
Ketika KWANG mencoba mendalami kehidupan para ilmuan, terutama ilmuan di Jepang, mereka untuk bisa menemukan sesuatu benda atau ramuan temuan baru yang sebelumnya tidak pernah eksis dan dianggap mustahil untuk terjadi, ternyata bisa juga pada akhirnya mewujudkan impian yang dahulunya adalah “mustahil” (baca: keajaiban lewat karya seorang ilmuan, seperti teknologi telepon seluler sebagai contoh), sekalipun memang membutuhkan ketekunan dan pengorbanan waktu, tenaga, serta biaya selama mencapai puluhan tahun lamanya.
Sebagai contoh sebuah keajaiban berupa bulpen yang tintanya dapat dihapus seperti menghapus tulisan pensil, pengembangan serta proses uji-cobanya dilakukan oleh ilmuan di Jepang bahkan sejak tahun 1970-an sebelum kemudian menemukan kesulitan mengecilkan molekul tinta agar tidak tersumbat pada mata pena, masalah pada mengentalnya tinta pada suhu rendah, berubah warnanya tinta pada suhu tinggi, hingga bagaimana menemukan kombinasi campuran bahan kimia agar tinta dapat berubah warna menjadi transparan?
Barulah pada akhirnya pada akhir tahun 2000, produk bernama pena yang dapat dihapus tintanya, rilis dan meledak penjualannya di pasar Eropa dan Jepang hingga ke seluruh penjuru dunia tidak terkecuali digemari dan cukup populer bagi masyarakat di Thailand maupun di Indonesia.
30 tahun lamanya, sang peneliti meneliti bagaimana mewujudkan sebuah pena yang tintanya dapat hilang dihapus. Jika sang ilmuan tidak tekun dan tidak gigih melanjutkan penelitiannya, mungkin pada tahun ketiga atau kelima dirinya sudah akan menyerah, frustasi, dan membuang semua impiannya itu ke tong sampah dan tidak ingin menyentuhnya lagi. Ketika mendengar kisah tentang perjalanan hidup sang tokoh ilmuan, KWANG merasa diri ini sangat kecil dan “cengeng”, belum segigih sang tokoh yang demikian seteguh tekad dan perjuangan sang ilmuan.
Tentu, pastilah sang ilmuan juga sama seperti kita, pernah merasa letih dan putus asa—mereka juga manusia yang bisa merasa kecewa, lapar, haus, berkeringat, letih, dan terluka seperti kita. Namun, apa yang membuat dirinya kembali bangkit dan melanjutkan pekerjaannya yang “belum tentu berhasil” itu?
Berat sekali bukan, tanpa jaminan ataupun kepastian akan berhasil atau tidaknya pekerjaan seorang ilmuan? TERUS MAJU SEKALIPUN TANPA JAMINAN APAPUN, bisakah kita? Pepatah berikut ini mungkin dapat coba kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan perjalanan hidup kita:
“Kadang-kadang kita harus melangkah mundur untuk mempersiapkan diri agar bisa melangkah ke depan.” (Anonim)
Seorang ilmuan, merupakan simbol perpaduan unik dimana hasil olah kemampuannya bahkan dapat membelah bumi ini atau untuk membangkitkan energi listrik sebagaimana para penemu teori nuklir. Sebaliknya, seseorang yang hanya memadukan unsur kerja dan latihan otot, sekeras apapun ia berlatih dan berusaha sepanjang hidupnya, hanya dapat mengangkat satu ekor banteng, namun tidak akan pernah dapat mengangkat sebuah gunung yang akan sangat dengan mudah sekali dilakukan oleh seorang ilmuan. Sebenarnya siapakah dan makhluk semacam apakah seorang ilmuan itu?
“Kesuksesan seorang ilmuan selalu merupakan hasil perpaduan atau kombinasi simultan antara kerja otak, kerja hati, dan kerja keras. Itulah keajaiban yang mereka andalkan selama ini.” (Anonim)
Mereka yang tidak berjuang sekeras dan segigih para ilmuan hebat itu, hanya patut “gigit jari” mendapati diri mereka hanya berhenti sebagai seorang penonton dan cukup merasa puas sebagai seorang konsumen semata. Tidak lebih dari itu, yang bahkan tenggelam ke dalam bumi sekalipun tiada yang akan mengenali.
Sebaliknya, seorang ilmuan, bisa menemui kegagalan besar selama bertahun-tahun dan selama demikian panjangnya proses penelitian dan keringat yang telah dikerahkan, namun juga bisa menemukan keberhasilan besar. Ada pengorbanan, ada hasilnya, dan buahnya sama besarnya dengan besar pengorbanan itu sendiri, sebagaimana tercermin dalam pepatah berikut ini:
Sukses kita merupakan tanggung jawab kita sendiri, demikian pula kegagalan kita.” (Anonim)
Kegagalan, kata yang sangat ditakutkan oleh kebanyakan oleh kita, namun tidak bagi seseorang berjiwa ilmuan. Apa yang menjadi pembeda paling utama dari orang kebanyakan dan seorang ilmuan? Jawabannya ternyata terletak pada “cara berpikir” (mind set) itu sendiri, sebagaimana ungkapan berikut:
“Seseorang dengan sikap negatif akan melihat masalah dalam setiap kesempatan, sedangkan seseorang dengan sikap positif akan melihat kesempatan dalam setiap masalah.” (Anonim)
Apakah artinya, seorang ilmuan adalah orang-orang yang memiliki lebih banyak sumber daya waktu ketimbang kita? Sama sekali tidak, waktu seorang ilmuan adalah 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun, sama seperti kita semua pada umumnya.
Anehnya, orang kebanyakan selalu merasa “sok sibuk”, selalu bersikap seolah “tidak punya waktu”, namun kerap kali waktunya dihabiskan untuk hal-hal kurang produktif, tidak positif, bahkan untuk hal-hal tetek-bengek tidak bermanfaat seperti senda-gurau ngolor-ngidul membicarakan gosip.
Kontras dengan itu, sekalipun seorang ilmuan kerap menemui kegagalan dalam percobaannya di laboratorium, namun justru kalangan ilmuan adalah kalangan yang sangat menghargai waktunya, dengan menjiwai betul pepatah berikut ini:
“Gunakan waktu sebaik-baiknya karena waktu adalah peluang Anda untuk melakukan sesuatu dan tidak dapat diputar ulang.” (Anonim)
Banyak diantara kita, yang tidak pernah mencapai prestasi apapun, karena kebanyakan dari mereka adalah seorang “penunda” yang sangat pandai dalam menunda dan mencari-cari “alasan sempurna” guna menunda dan kembali menunda—percayalah, selalu akan ada alasan yang dapat kita temukan untuk berdalih dan menunda.
Terlalu dingin untuk memulai aktivitas pagi, dan terlampau panas untuk memulai usaha pada siang hari, terlalu gelap untuk malam hari, itulah sindiran Sang Buddha bagi seseorang yang gemar menunda segala sesuatunya—seolah masalah bisa lenyap secara sendirinya seiring waktu tanpa dituntaskan segera, yang pada akhirnya kian menumpuk. Bila ada diantara kita yang hendak menjadi seseorang berjiwa ilmuan, inilah yang perlu kita mulai lakukan dan biasakan:
“Tidak ada langkah ke seribu apabila tidak dilakukan langkah pertama, karena itu lakukan, dan jangan suka menunda apa yang memang seharusnya kita kerjakan.” (Anomim)
Bila ada yang berpikir bahwa seorang ilmuan adalah “bodoh” karena kerap menemui banyak kegagalan, maka mereka yang memiliki pemikiran semacam itu sendirilah yang paling bodoh senyatanya. Orang-orang yang hidup dalam “zona nyaman” dan “zona aman” (comfort zone), memang tidak pernah gagal dalam berusaha, juga tidak akan pernah berbuat kesalahan sehingga tidak dapat dipersalahkan—namun mereka bahkan telah “gagal untuk mencoba” sejak dari semula, dan gagal menjalankan hidupnya sebagaimana mestinya. Untuk itu kembali KWANG kutipkan nasehat berikut ini yang sangat mencerminkan:
Hanya yang berbuat lebih, yang akan pantas menerima lebih pula.” (Anonim)
Apakah para ilmuan tersebut merasa “merugi” karena menemui banyak hambatan, rintangan, serta kegagalan sepanjang usaha mereka meneliti dan bekerja? Jawabannya adalah sebagai berikut, karena bisa sangat mengejutkan sebagian diantara kita tentunya:
“Guru ditemukan di ruang kelas, tetapi guru yang terbaik tetap adalah pengalaman kita sendiri dan praktik nyata alih-alih pandai berteori.” (Anonim)
Miskin kegagalan, miskin pengalaman. Mereka yang bahkan tidak berani mengambil resiko, tidak akan pernah beranjak kemanapun, tiada pendewasaan, bahkan akan tertinggal di belakang. Karenanya, jangan pernah salahkan mereka yang berani mengambil resiko dan mengalami resiko terburuk yang mungkin dapat terjadi, karena segala sesuatunya pasti memiliki resiko.
Umur kita boleh panjang, umur kita boleh sudah demikian tua hampir separuh atau bahkan satu abad panjangnya. Namun, bukanlah itu yang terpenting. Berikut inilah yang paling terpenting untuk kita pahami bersama dan coba renungkan:
“Yang terpenting adalah bukan berapa lama kita bekerja, tetapi apa yang kita kerjakan dalam waktu yang lama itu.” (Anonim)
Pendidikan formil di Indonesia, lebih banyak menekankan “setor wajah” dan presensi, namun minim makna, tidak sarat esensi kehadiran guru dan murid di ruang kelas. Pembelajaran menjadi demikian formalistik, sekadar membuang waktu, buang umur, dan kurang substansi.
Begitupula ketika mereka menjelma Pegawai Negeri Sipil di kantor-kantor pemerintahan di Indonesia, sekadar patuh hadir secara fisik untuk mengisi presensi lalu kemudian sibuk sendiri tanpa kegiatan yang jelas, karenanya prestasi mereka terbilang minim dan kurangnya inovasi dalam pelayanan terhadap masyarakat.
Mengapa kita harus merasa khawatir ketika kita hanya “duduk manis” dan tiada menempuh perjalanan dengan segala resiko layaknya seorang penjelajah ataupun ilmuan? Peringatan berikut ini perlu kita ingat betul-betul sebagai cambuk pelecut bagi kita untuk mulai sadar dan bangkit dari kursi empuk kita:
“Ketika seseorang berbuat kesalahan itu berarti dia telah berbuat sesuatu, bila tidak ada kesalahan artinya tidak ada sesuatu pun yang dilakukan.” (Anonim)
Apa gunanya memiliki potensi serta sumber daya kecerdasan berupa IQ tinggi, waktu melimpah, hingga tubuh yang utuh bila tidak diberdayakan secara optimal? Sepanjang tidak digunakan untuk merugikan ataupun menyakiti orang lain, makhluk hidup lainnya, maupun lingkungan hidup, maka gali potensi diri kita hingga kebagian terdalam, sesuai pepatah berikut ini yang cukup relevan bagi kita dengarkan:
“Potensi diri Anda hanya punya arti apabila diwujudkan.”
Kesalahan terbesar seseorang adalah ketakutan untuk berbuat kesalahan.” (Anonim)
Sobat hendak menjadi yang manakah? Menjadi “pemain” ataukah cukup merasa puas sebagai seorang komentator, konsumen, dan/atau sebatas sebagai penonton saja? Nasehat penutup berikut memberikan kita pilihan, pilihan mana ada di tangan kita masing-masing:
“Ada dua jenis orang di dunia, pertama adalah aktor, orang yang berinisiatif dan berkreasi untuk melakukan sesuatu. Kedua, adalah seoang “reaktor”, orang yang berbuat untuk menanggapi sebuah peristiwa.” (Anonim)
Selamat berkarya untuk Sobat-ku semua! Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Salam hangat!