Orang yang Paling Hebat dan Sukses ialah Orang yang Mujur dan Beruntung

By SHIETRA - December 10, 2019

Orang yang Paling Hebat dan Sukses ialah Orang yang Mujur dan Beruntung

Sudah begitu banyak ekonom hebat di negeri Indonesia, namun mengapa pertumbuhan ekonominya berjalan lambat terseok-seok? Sudah begitu banyak coach maupun motivator ekonomi dengan slogan sesumbarnya “financial revolution” atau sesumbar yang lebih “konyol” lagi seperti “beternak uang” (memangnya bebek ayam?), “mendapat income tanpa harus bekerja” (entrepreneur mana juga yang punya cara berpikir semacam itu?), “biarkan uang yang bekerja bagi kita”, dan segala embel-embel lainnya, tapi mengapa, masih juga banyak terjadi pelambatan ekonomi yang bahkan berbuntut pada perkara kepailitan di Indonesia? Jika para motivator bisnis tersebut memang benar-benar hebat, mengapa tidak mereka saja yang menjadi Menteri Ekonomi kabinet di Indonesia?
Tidak kurang-kurangnya Sarjana Ekonomi maupun buku-buku yang mengulas “rahasia sukses”, “rahasia menjadi kaya raya”, “cepat menjadi milioner”, “menjadi milioner dalam 100 hari”, dan segala embel-embel lainnya. Namun, kembali lagi, masih juga dapat kita jumpai masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan di Negeri Indonesia?
Jika mereka yang terlebih dahulu telah sukses dan makmur hidupnya, lalu membuat slogan-slogan “rahasia” sukses tentang bagaimana harus bersikap dan berbuat agar dapat sukses dan meraih keberhasilan ekonomi, maka mereka bisa berbicara demikian karena memang telah dalam kondisi sukses. Tidak ada yang benar-benar dapat disebut sebagai “rahasia” sukses, selain karma baik yang sedang (kebetulan) berbuah dalam kehidupan kini.
Orang-orang dengan karma baik yang sedang berbuah dengan lebatnya, maka wajar mampu mencapai puncak kesuksesan tanpa suatu hambatan yang berarti. Namun orang-orang dengan “modal” karma baik yang minim, atau bahkan tiada tabungan karma baik sama sekali, segala hambatan seolah tidak pernah selesai silih-berganti menerpa—ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
Itulah sebabnya, sekalipun dengan meniru langkah-langkah yang diajarkan oleh para pengusaha sukses, belum tentu para murid pengikutnya mampu menapaki puncak kejayaan ekonomi seperti mentornya. Semua kembali lagi kepada “modal” karma baik sang usahawan. Ibarat tidak memiliki tabungan pada rekening, sekeras apapun kita mencoba menarik uang dari mesin ATM, tidak akan pernah ada dana yang berhasil keluar dari mesin ATM tersebut untuk dapat kita tarik dan ambil dananya.
Ibarat memiliki sebuah sumur, teknik cara menimba air menjadi perumpamaan dari pengetahuan strategi bisnis. Namun, masalahnya ialah, ada atau tidaknya air di dasar sumur tersebut. Itulah letak utama permasalahannya. Sehebat apapun sistem dan alat untuk menimba air yang kita miliki, namun bila sumber airnya “gersang”, amak tiada akan ada air apapun yang dapat kita gali dan temukan.
Kontras dengan itu, bila kita memiliki “modal” karma baik yang melimpah, maka air akan muncul secara sendirinya dan mengalir keluar tanpa perlu susah-payah berusaha kita gali dan timba untuk memperolehnya. Itulah sebabnya, dalam setiap ceramah Dalai Lama, perbuatan baik selalu menjadi penekanan utamanya.
Jika memang untuk menjadi sukses atau tidaknya, semata karena urusan trik dagang atau strategi usaha, maka mengapa tidak semua orang yang sehabis mengikuti seminar mengenai bisnis, mencapai kejayaan seperti para mentor mereka, sekalipun setiap langkah-langkahnya telah diterapkan sama persis hingga “titik koma”-nya?
Pernahkah Sobat bertanya-tanya, mengapa bisa demikian?
Menurut KWANG, semua kata-kata motivasi, kata-kata mutiara pembangkit semangat, adalah sah-sah saja dilontarkan, digaungkan, diperdengarkan, dan kita dengarkan. Begitupula kiat-kiat usaha, perlu juga kita pelajari sebagai perjuangan kita dalam kehidupan kini—karena hidup tidak semata buah karma masa lampau, namun juga perjuangan masa kita, sebagaimana dibabarkan oleh Sang Buddha.
Berbagai khotbah Sang Buddha pun lebih menekankan pada perjuangan masa kini, ketimbang semata mengandalkan “modal” karma yang kita tanam di masa lampau—namun tidak turut kita lupakan, Sang Buddha pun menekankan agar kita di kehidupan kini rajin menabung / menanam benih / bibit karma baik agar dapat kita “panen” dalam kehidupan yang akan datang.
Karenanya, berbuat baik atau menanam karma baik, sejatinya merupakan investasi yang paling tertinggi dari segala jenis portofolio investasi keuangan secanggih apapun. Bila tabungan, deposito, ataupun aset harta tidak dapat kita bawa untuk menjadi “modal” dalam kehidupan selanjutnya, maka karma baik akan diwarisi oleh diri kita sendiri di kehidupan selanjutnya. Itulah, yang membuat tingkat kemakmuran dan kesuksesan seseorang menjadi berbeda dan saling beragam satu sama lain—dengan kata lain, bergantung pada tingkat “modal” yang telah mereka tanam, tabung, dan investasikan dalam kehidupan sebelumnya.
Pernahkah Sobat perhatikan, orang-orang yang selalu menjadi pemenang dalam kehidupan ini, seringkali bukanlah orang-orang yang betul-betul cerdas ataupun hebat, namun orang-orang yang “BERUNTUNG”. Yup, KWANG tidak salah sebut dan Sobat tidak salah membaca, yang paling dapat survive dalam kehidupan ini adalah mereka yang “beruntung”. Seekor T-rex, dinosaurus besar beringas kuat yang ditakuti jagat satwa, ternyata punah tak bersisa, kerena seekor T-rex ternyata tidak seberuntung seekor kelinci yang sekalipun kecil dan lemah tubuhnya namun ternyata mampu melewati seleksi alam karena dilindungi oleh alam.
Orang-orang yang beruntung, tidak akan pernah dapat disakiti oleh-oleh orang jahat. Niat jahat orang-orang jahat akan selalu menjadi bumerang kepada diri si pelaku kejahatan itu sendiri. Mengapa bisa demikian? Karena orang-orang yang beruntung senantiasa dilindungi oleh buah karma baiknya yang sedang berbuah dalam kehidupan masa kininya, tanpa perlu menyewa bodyguard. Sebaliknya, orang-orang kaya raya dengan ratusan anak buah hingga pengawal pribadi, mendadak dapat disergap penyakit jantung yang menyusup bagai asasins tanpa bayangan.
Apakah semua seminar tentang “rahasia” sukses atau “rahasia” menjadi milioner mampu membuat peserta seminar menjadi orang-orang yang beruntung? TIDAK, itu jawabannya. Strategi bisnis terhebat selalu ialah pesan dari Sang Buddha: hindari perbuatan buruk, perbanyak perbuatan baik. Itulah investasi terhebat dan paling efektif yang paling rasional yang dapat kita tanam dan investasikan dalam kehidupan masa kini demi kebaikan diri kita sendiri di kehidupan mendatang.
Buat apa menjadi kaya secara materi harta kekayaan, namun tidak dapat menikmati kekayaannya karena menderita penyakit diabetes? Orang-orang yang beruntung, adalah orang-orang yang “pas-pasan”, alias “pas butuh pas ada”. Mau makan apa saja, bisa dan pasti didapatkan tanpa pernah berkekurangan dan tanpa pernah kesulitan untuk dapat menjangkaunya. Itulah orang yang beruntung, dimana si kaya patut merasa “cemburu” terhadapnya.
Orang yang paling beruntung ialah orang-orang yang selalu merasa berkecukupan. Itulah sebabnya, orang-orang yang sekalipun telah memiliki segala harta materi, bahkan dengan banyak istri dan anak buah, tetap merasa menderita akibat obsesinya sendiri yang tidak pernah merasa terpuaskan sehingga harus mengejar apapun yang “belum dimiliki” olehnya. Terpenjara dan dibudaki oleh obsesinya sendiri, tidak pernah puas dan sukar dipuaskan—akan sangat sukar sekali melayani orang-orang semacam ini. Itulah sebabnya, orang-orang yang beruntung selalu merasa berkecukupan, dimana si kaya patut merasa “cemburu” terhadapnya.
Membaca buku-buku strategi bisnis, bagaimana menjadi kaya, bagaimana menuju milioner, atau seminar-seminar dengan tajuk serupa, tidak pernah semanjur dan seefektif nasehat dari Sang Buddha, yakni : hindari perbuatan buruk, perbanyak perbuatan baik.
Orang-orang yang beruntung jauh dari musibah, sementara mereka yang hanya mengandalkan trik-trik dagang dan strategi bisnis semata, akan selalu menghadapi masalah dan berbagai musibah yang menghambat dan menjegal langkahnya. Itulah sebabnya, orang-orang yang telah terlebih dahulu sukses dan makmur, bisa membuat slogan-slogan bagaimana meraih sukses, karena mereka memang tidak menemui banyak musibah dalam perjalanan karir mereka. Cobalah untuk banyak berbuah kejahatan, maka secerdas apapun Anda, maka dapat dipastikan akan menemui banyak kendala dan hambatan serta penderitaan akibat ketidak-puasan.
Apakah sukses, harus selalu didahului oleh jatuh dan bangun? Apakah benar selalu terjadi, “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”? Jika memang jatuh akan berbuah sukses, mengapa tidap semua orang yang jatuh-bangun dalam hidupnya meski telah bekerja keras BANTING TULANG, mendapati kesuksesan seperti para pebisnis makmur yang setiap harinya duduk santai di ruang kantor berpendingin udara?
Mengapa kita tidak menjatuhkan diri kita sendiri, jika memang jatuh adalah pangkal sukses? Jika memang gagal atau kegagalan (failure) adalah pangkal sukses, maka mengapa kita tidak sengaja membuat kesalahan saja agar bisa sukses? Orang-orang yang beruntung, tidak membutuhkan segala kegagalan ataupun sakitnya terjatuh bahkan terjengkal.
Orang-orang beruntung menjadi beruntung karena mereka telah banyak menanam benih karma baik dalam kehidupan sebelumnya. Ibarat, mereka melaju dalam kecepatan penuh di jalan tol, jalan bebas hambatan menuju keberhasilan. Untuk apa pula kita melaju di jalan yang berlubang? Jangalah kita merasa iri hati terhadap orang-orang yang beruntung, salahkan diri kita sendiri mengapa kita tidak serajin dirinya menanam karma baik dalam kehidupan-kehidupan terdahulu—setidaknya, mulai menanam dan “berinvestasi” dalam kehidupan kini.
Ketidak-puasan itu sungguh mengerikan, bahkan seekor tikus dapat mati di lumbung padi akibat keserakahannya sendiri karena terobsesi mengidam-idamkan keju manis ketimbang beras yang tawar dan keras rasanya, atau bahkan mati akibat kebanyakan makan padi di lumbung padi tempatnya bersarang itu. Lucu bukan?
Namun, diatas kesemua itu, para pengusaha yang hebat ialah mereka yang mencari penghasilan dan kekayaan tanpa menyakiti orang lain, tanpa merugikan tetangga, dan tanpa melukai konsumen mereka, serta tanpa memperbudak karyawan mereka. Para pengusaha yang kreatif, tidak pernah menempuh cara-cara yang buruk hingga merugikan alam ataupun masyarakat sekitar tempat usahanya, namun dapat menghimpun pendapatan secara bersih bebas dari segala kejahatan seperti tipu-menipu ataupun segala kejahatan dan keburukan lainnya.
Seorang pengusaha yang menjadi kaya dengan cara merampas kelestarian alam bahkan mengganggu ketenangan hidup warga sekitar dengan membuat tempat usaha secara ilegal di tengah-tengah pemukiman penduduk, sama artinya kaya dengan cara merampok kedamaian hidup warga pemukim setempat. Maka, apa bedanya antara seorang pencopet dengan “perampok berdasi” demikian? Simak nasehat bijak berikut:
“Kesuksesan seseorang dalam kehidupannya selama puluhan tahun, adalah hasil akumulasi dari ucapan dan perilakunya setiap hari, maka jagalah dengan baik ucapan dan perilaku setiap hari.” (Master Shih Cheng Yen, pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi)
Mereka yang hanya mengasah keterampilan bisnis dan pengetahuan strategi berdagang, tanpa pernah rajin menanam karma baik, dan bahkan kerap melakukan perbuatan buruk, maka sama artinya ibarat mondar-mandir dari rumah menuju kantor bank untuk menarik dana, namun dana di dalam rekening “kosong melompong”—bahkan tercatat sebagai “berhutang” alias dikategorikan sebagai “debitor” yang terlilit “kredit macet” sehingga akan membuatnya takut mendatangi kantor bank bahkan bersembunyi karena dikejar-kejar debt collector.
Tidak ada mentor yang lebih bijak yang memberi arahan serta imbauan lewat teladan untuk berbuat banyak kebajikan dalam hidup ini. Simak juga nasehat bijak berikut ini, masih dari Master Shih Cheng Yen:
“Hari yang paling menenteramkan batin manusia di dalam kehidupan adalah bila ketika ia memiliki kemampuan berapa pun, ia dengan segera bersumbangsih, memberi manfaat bagi orang banyak, dan menciptakan berkah bagi masyarakat.”
Yang kurang baik dari sikap kebanyakan masyarakat di Indonesia, mereka pandai bermulut manis, bersikap seolah bahkan mengaku-ngaku sebagai orang baik bijaksana, namun antara ucapan, hati, dan perilakunya tidak saling sinkron alias bertolak-belakang. Misal lainnya, jika kita berbuat keliru, maka mengakulah bersalah dan bertobat serta meminta maaf, bukan memungkiri dan lebih pandai berkelit—itu artinya dua kali berbuat kesalahan: pertama ialah berbuat kesalahan, dan kedua ialah melakukan kebohongan guna menutupi kesalahan.
Kita tidak perlu mengaku-ngaku atau bersikap layaknya seorang dermawan, namun cukup jadilah orang yang jujur, “tahu diri”, tidak “aji mumpung”, adil, sadar hak dan kewajiban masing-masing, tidak menyakiti orang lain, dan menjadi manusia yang “otentik”. Jadilah orang baik dalam wujud konkret, daripada sekadar pandai berbicara dan sibuk mengklaim diri sebagai orang baik (pencitraan diri motifnya selalu terselubung, alias tidak murni).
Orang-orang baik selalu ditandai dari sikapnya yang bertanggung-jawab. Dengan kata lain, orang-orang yang penuh tangguh-jawab dapatlah juga kita duga sebagai orang yang baik hatinya. Mengapa? Berikut ulasan dari Master Shih Cheng Yen:
“Orang yang memiliki karakter ‘penuh tanggung jawab’, adalah seseorang yang tidak perhitungan soal waktu, bersedia memenuhi tanggung jawab dirinya, dan melaksanakan kewajiban dengan baik.”
“Kita tidak mampu mengendalikan panjangnya sebuah kehidupan, namun kita mampu membangun dan mengembangkan potensi dalam kehidupan agar bermanfaat bagi banyak orang.”
“Kehidupan terasa bermanfaat dan tanpa penyesalan apabila kita dapat memenuhi tanggung jawab. Sikap menghindar dari tanggung jawab, adalah menyia-nyiakan kehidupan.”
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya, dimana ketulusan merupakan sumber dari ajaran kebaikan. Kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya, dimana kejujuran merupakan pedoman dasar dalam menjalani kehidupan.”
Kita hendaknya dapat merasakan diri kita sebagai orang berguna, jangan hanya merasa sebagai orang yang sukses saja. Perasaan menjadi seorang yang jujur dan berguna membuat hati terasa lebih nyaman.”
“Kenyamanan dan kebebasan batin akan dapat kita peroleh dan benar-benar kita miliki, jika kita memanfaatkan harta duniawi dengan sebaik-baiknya bagi orang banyak.”
Segala hal terasa sulit untuk dilakukan jika kita tidak bersedia menggerakkan tangan berbuat sesuatu. Selama berniat untuk melakukan sesuatu, gurun pasir sekalipun dapat berubah menjadi oase.”
Dengan mengenal rasa puas, kehidupan akan penuh kesukacitaan dan ketenteraman.”
“Jika sebutir pasir halus saja sudah terasa menusuk kaki, dan sebutir kerikil kecil saja sudah terasa sakit ketika menusuk telapak kaki kita, maka kita tidak akan mampu menanggung beban saat menghadapi permasalahan.”
“Bertuturlah dengan kata-kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik, lakukanlah perbuatan yang baik, dan berjalanlah di jalan yang baik (benar).”
Berbuat baik ataupun buruk, dapat dilakukan dari tiga sumber berikut menurut sabda Sang Buddha, yakni: ucapan, pikiran, dan perbuatan. Jangan sepelekan ucapan, pikiran, dan terlebih perbuatan kita sendiri. Hendaknya kita tidak lalai, meremehkan, ataupun tidak mewaspadai perbuatan dan tutur kata ataupun isi pikiran kita sendiri—karena kita sendiri yang mewarisi karma yang kita tanam sendiri. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA