Seni Mengenal Simpati dan Empati, Kecerdasan Emosional

By SHIETRA - December 15, 2019

Seni Mengenal Simpati dan Empati, Kecerdasan Emosional

Dalam psikologi Buddhisme, orang yang sedang dalam kondisi “perut lapar” adalah seseorang yang belum siap dan labil secara mental-emosinya. Karenanya, sebelum Sang Buddha membabarkan Dhamma, biasanya para pendengarnya dipastikan dahulu tidak dalam kondisi tidak siap mendengarkan ajaran Sang Buddha.
Aplikasi psikologi Buddhisme demikian, seringkali berhasil diterapkan guna meredam aksi-aksi anarkis para demonstran ilegal yang tidak jelas asal-usul ataupun penyuruh terlebih maksud dan tujuannya berdemo dan berorasi, yakni memberikan mereka makan dan minum. Biasanya ketika mereka kenyang, kondisi emosional mereka akan kembali stabil dan otak mereka akan dapat berfungsi lebih baik, karenanya dapat diajak bicara secara lebih logis dan berakal sehat. Biasanya, setelah kenyang diberi makan, mereka akan pulang dengan tertib secara sendirinya, dan niat jahat para demonstran “bayaran” demikian tidak akan berhasil terlalu mengganggu.
Sama halnya, terbeda dengan orang-orang dalam kondisi perut kosong kelaparan, orang-orang dalam kondisi yang tidak kondusif seperti sedang keletihan akibat beban pekerjaan ataupun sehabis bekerja keras seharian, emosinya sangat labil. Tunggulah sampai emosinya stabil dan melepas letih, maka biasanya akal sehatnya kembali jernih.
Bila kita mencari “gara-gara” dengan “mencoba-coba” seseorang yang sedang dalam kondisi letih, maka hal tersebut akan mudah sekali menyulut emosi meluap-luap orang yang sedang dalam kondisi teramat letih. Memang, kedengarannya tidak masuk akal, bagaimana mungkin orang yang sudah letih, punya tenaga untuk emosian dan marah-marah? Namun, jangan tanya soal itu, coba sendiri untuk mengetahui mengapa orang yang sedang letih ataupun sedang dalam kondisi kelaparan, mudah sekali tersulut emosinya serta marah-marah demikian reaktif.
Lihatlah negara-negara Eropa ketika dilanda Revolusi Industri, kalangan buruh hendak menjungkalkan pemerintah yang berkuasa karena para buruh sedang kondisi perut kelaparan menjerit-jerit minta diberi makan, atau seperti kondisi di Indonesia saat jatuhnya era Orde Lama lewat aksi mahasiswa yang menyudutkan pemerintahan yang berkuasa akibat rakyat dijerat kemiskinan dan kondisi orang-orang di jalanan kelaparan akut.
Sehingga, dapat pula kita sebutkan : Bukan soal apa substansi yang hendak kita sampaikan pada mereka, namun yang terpenting ialah bagaimana kita menyampaikan dan kondisi yang tepat untuk menyampaikannya.
Seorang diplomat yang diplomatis, biasanya terlatih untuk hal satu itu, sehingga dirinya menjadi demikian terampil dan menjadi pandai dalam membaca situasi, kapan dirinya harus diam, dan kapan dirinya harus berbicara, serta kepada siapa ia harus berbicara. Sehingga, seringkali bukan soal pesannya yang menjadi masalah, namun perihal kepekaan (salah satu bagian dari Kecerdasan Emosional “emotional quotien”, EQ). Melatih Kecerdasan Emosional, artinya melatih “kepekaan” diri kita sendiri.
Ketiga, yang tidak kalah penting, dan biasa banyak luput disadari kebanyakan dari masyarakat kita, ialah asumsi keliru yang sangat fatal, bahwa seolah orang-orang suci akan diam saja ketika disakiti. Orang-orang suci, bukanlah “mangsa empuk” bagi orang-orang nakal maupun orang yang jahil dan usil kelakuannya. Dan orang suci bukanlah mayat yang hanya bisa terbujur kaku membisu.
Orang-orang baik maupun orang suci bukanlah orang-orang untuk “dikerjain” ataupun untuk “dipermainkan”. Hanya seorang pengecut, yang hanya berani mempermainkan orang-orang baik dan suciwan yang jelas-jelas tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan serupa, terlebih membalas kekerasan fisik dengan kekerasan fisik serupa.
Namun demikian, yang hendak KWANG garis-bawahi dan berikan penegasan dalam kesempatan ini ialah, bukan berarti orang suci (kaum suciwan) tidak bisa merasa lapar, merasa letih, merasakan perasaan yang wajar juga dialami manusia-manusia lainnya yang dapat terluka dan merasakan sakit ketika disakiti.
Itulah sebabnya, baik Jataka (salah satu bagian dari Sutta Pitaka, Tripitaka) maupun Ajahn Brahm pernah berkata, “Orang suci sekalipun, sesekali harus BERDESIS—asalkan tidak menggigit.” Mengapa demikian? Tidak lain ialah orang suci sekalipun memiliki tanggung-jawab untuk melindungi dirinya dari ulah tangan-tangan jahil dan usil manusia-manusia nakal yang tidak betanggung-jawab.
Contoh sederhana berikut KWANG harapkan dapat cukup memberikan penjelasannya untuk lebih memudahkan pemahaman para pembaca. Seseorang yang selama ini hidup secara jujur, tidak pernah berbohong terlebih mencuri, suatu ketika secara jahat oleh orang lain dituduh telah mencuri. Kira-kira, orang baik tersebut akan marah ataukah tidak? Selama ini dirinya dengan susah-payah hidup secara jujur, maka mengapa balasannya ialah “air susu dibalas air tuba”? Analogikan kembali dengan orang yang sedang dalam kondisi lapar atau letih, emosinya wajar menjadi labil dan mudah tersulut ketika dirinya diperlakukan tidak adil ataupun tidak patut.
Contoh berikut lainnya yang juga sederhana namun cukup mewakili, ialah sebagai sahabat kita membantu bisnis sahabat kita. Dengan susah-payah kita mengumpulkan uang dalam tabungan dari hasil bekerja keras dari muda hingga dewasa, sebelum kemudian kita pinjamkan kepada seorang teman, namun oleh teman tersebut uang pinjaman demikian dibawa kabur tanpa dikembalikan. Kira-kira, apabila si korban menjadi murka dan marah-marah, apakah artinya si korban adalah orang yang tidak baik dan sama jahatnya, karena “tidak sopan” marah-marah demikian?
Karena itulah, penting untuk melatih keterampilan interpersonal bernama “Kecerdasan Emosional” berupa empati serta simpati. Empati, artinya kemampuan seseorang untuk dapat memahami dan menyadari suasana hati, latar belakang kehidupan pribadi personalnya, kondisi, masalah, serta situasi yang dihadapi oleh seseorang yang bisa jadi bobot “berat hidupnya” tidak sama dengan kita. Bahasa lainnya, turut merasakan dan mampu turut prihatin.
Simpatik dan mampu bersimpati, artinya ketulusan untuk mau memahami dan saling memikul bersama-sama, bukan justru menambah berat pada beban yang dipikul pada bahu dirinya tersebut selama ini. Pepatah indah yang sangat KWANG sukai berikut ini sengaja KWANG kutipkan bagi para pembaca, untuk memberikan gambaran lebih jelasnya:
“Ada sama dimakan, tidak ada sama ditahan. Dalam keadaan apapun baik senang dan susah, dirasakan bersama-sama.”
Namun ada juga pengecualian, seperti ketika seorang koruptor ataupun kriminal merasa keberatan disebut sebagai penjahat, keberatan dilarang kembali dipilih dalam pemilihan umum kepala daerah, atau bahkan menuntut “pencemaran nama baik” sekalipun betul dirinya adalah seorang kriminal. Itu adalah sikap “tidak waras” orang-orang “tidak waras”. Anomali demikian, tidak masuk dalam hitungan, sekalipun jumlahnya tampak sangat masif khusus teruntuk negeri seperti Indonesia.
Mengapa juga kecerdasan dalam “membaca situasi” demikian, menjadi penting untuk kita latih—jika memang selama ini belum kita miliki jenis kecerdasan ini? Penting untuk membekali diri kita dengan keterampilan “membaca situasi”, dengan penjelasan lewat peribahasa lainnya yang juga cukup KWANG sukai, yang juga mungkin Sobat sukai, yakni dengan bunyi sebagai berikut:
“Menumbuk di lesung, menanak di periuk. Meletakkan sesuatu haruslah selalu pada tempatnya.”
Ibarat kita harus menyiram “bensin” bila ingin memasak di hutan, namun seseorang yang sedang dalam kondisi “panas” dengan wajah merah-padam (penuh amarah), menyiramnya dengan “bensin” sama artinya mengajak berperang dan memprovokasi yang sangat tidak meneduhkan, sebaliknya menambah besar “api” yang membara. Tidak ada “cara marah yang beradab” bila api ditambah siraman “bensin” yang disengajakan oleh seseorang lainnya—itu namanya “mencari penyakit sendiri”, bukan begitu? (Baca : menyulut “perang”.)
Sebagai penutup, tips berikut akan sangat memudahkan kita dalam berlatih mengasah empati (perhatikan, tidak semua orang dibekali bakat bawaan sejak lahir untuk mampu berempati terhadap orang lain, karenanya perlu diajarkan, ditumbuhkan, diasah, serta kita latih sendiri untuk mampu peka terhadap perasaan orang lain di sekitar kita), lewat peribahasa yang paling KWANG sukai, yang pastinya juga akan Sobat sukai, yakni berbunyi sebagai berikut:
“Mencubit paha sendiri, barulah paha orang lain. Rasakan sendiri sakitnya sebelum menyakiti orang lain.”
Kita tidak akan pernah tahu rasa buah “kebombong” sebelum mencicipinya sendiri. Enak atau tidaknya, hanya boleh kita komentari setelah mencicipi sendiri buah “kebombong”. Sebelum dan selama kita belum pernah mencicipi langsung dengan lidah kita sendiri buah “kebombong” ini, maka jagalah lidah kita, simpanlah kata-kata kita, dan janganlah berkomentar, terlebih menghakimi orang lain yang telah mencicipi langsung buah “kebombong” ini.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA