Tidak Selamanya Lalai & Lupa adalah Manusiawi

By SHIETRA - December 24, 2019

Tidak Selamanya Lalai & Lupa adalah Manusiawi

Magna Culpa Dolus Est, Great Fault (or Gross Negligence) is Equivalent to Fraud.
(Peribahasa Latin)
Betul bahwa melakukan kekeliruan dan “lupa” adalah hal yang manusiawi sifatnya. Namun, itu sifatnya “sesekali”. Lupa yang tidak diantisipasi, dimitigasi, atau lupa yang “keseringan”, itu jika tidak “sudah pikun”, maka artinya disamakan dengan “sengaja melupakan”.
KWANG juga pernah dan tidak luput dari berbuat keliru serta lupa. Namun, ternyata kekeliruan KWANG pada suatu ketika itu, dijadikan alibi oleh orang lain untuk “pembenaran diri” perilakunya yang kerap “lupa / lalai”. Kamu sendiri bisa lupa, manusiawi, maka apa saya sendiri tidak boleh lupa? Begitu tuturnya, membela diri dan menjadi justifikasi diri.
Ingin sekali KWANG membalas ucapannya, jika begitu setiap hari saja pakai alasan “lupa itu manusiawi”. Namun ya sudahlah, budaya kita di Ketimuran ini masih menjadikan yang muda seolah “selalu lebih salah” ketimbang yang lebih tua.
Untuk itu, KWANG ingin menumpahkan isi hati dengan pembabaran perihal betapa sikap “pembenaran diri” atau “justifikasi diri” demikian adalah sangat melecehkan orang lain, terutama jika orang lain tersebut yang menjadi “terkena getah repotnya”.
Sebetulnya sudah sejak lama pepatah Latin memberi peringatan pada kita, dengan bunyi yang sangat KWANG sukai, dengan kutipan sebagai berikut : “Magna Culpa Dolus Est, Great Fault (or Gross Negligence) is Equivalent to Fraud.” Yang bila kita terjemahkan kurang-lebihnya bermakna : “Sikap lalai yang berat atau selalu dibiarkan terjadi, ia setara dengan kesengajaan itu sendiri alias melalaikan (adanya unsur ‘kesengajaan untuk lalai’)”.
Manusia memang belum sempurna sejak ia dilahirkan. Namun, apakah artinya kita sebagai manusia harus terus selalu melekat pada ketidak-sempurnaan diri kita sebagai alasan dan pembenaran diri yang paling “manjur” sebagai lubang berlindung? Jika kita tidak lupa untuk makan setiap harinya, cobalah untuk sengaja lupa untuk makan bagi diri kita sendiri dalam seminggu, dan lihat sendiri hasilnya—asalkan jangan lupa memberi makan anak atau keluarga.
Ada hal yang sangat fatal ketika lalai, dan ada hal yang masih boleh dan masih bisa ditoleransi ketika lalai. Bagaimana jika lupa menafkahi keluarga? Bagaimana jika lupa bernafas (sesekali sih masih boleh semisal berlibur atau karena tercekat, namun jika sampai bermenit-menit?).
Justru, tujuan utama pendidikan dan pembelajaran (serta mendidik diri kita sendiri), yakni agar kita tidak boleh lagi lalai untuk menyadari bahwa kita itu adalah manusia, bukan justru berperilaku layaknya seekor hewan yang tidak bisa menyempurnakan perilaku dan dirinya. Itulah perbedaan paling utama antara kaum manusia dan hewan.
Sifat buruk jangan hanya ditinggalkan sebagai sifat buruk selamanya, harus ada introspeksi diri, perbaikan diri, manajemen diri (kreatiflah, semisal membuat reminder), perubahan kebiasaan dan perilaku, hingga praktik latihan penyempurnaan diri seperti latihan pengontrolan dan penyadaran diri meditatif yang dijalankan oleh para Buddha dan para Arahat.
Kita tidak boleh bangga terlebih mengandalkan sikap-sikap buruk dalam diri kita. Kita justru seharusnya merasa malu atas kelemahan dan kekurangan diri kita, bukan justru merasa bangga, bahkan dijadikan alibi sempurna sebagai pembenaran diri untuk terus melakukan kesalahan serupa dikemudian hari.
Kesalahan yang hanya ditinggalkan serta dibiarkan sebagai kesalahan, tanpa introspeksi diri, tanpa perbaikan diri, adalah cerminan watak yang tidak mau belajar dari kesalahan yang dibuat olehnya sendiri—terlebih bila kesalahan itu mengakibatkan direpotkannya orang lain yang harus “membersihkan” akibat kelalaian kita.
KWANG memiliki satu metode guna mendidik diri KWANG sendiri, yakni memberikan punishment oleh diri sendiri ketika diri kita sendiri melakukan kesalahan. Bukan membenci diri sendiri, namun bersifat disiplin serta tegas kepada diri kita sendiri. Kita harus mampu untuk menjadi guru dan pendidik yang baik bagi diri kita sendiri.
Berikut inilah pepatah yang kerap kali dikutip oleh mereka yang suka sekali melakukan “pembenaran diri”:
“Bunga yang harum juga ada durinya. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna.
Pertanyaannya ialah, apakah semua bunga, berduri? Justru, bunga yang tidak berduri itulah yang tidak sempurna. Bagi perspektif orang-orang yang usil tangannya, suka memetik bunga, bunga berduri adalah wujud ketidak-sempurnaan.
Tumbuhan bunga, mengembangkan duri sebagai hasil dari proses evolusinya, guna mempertahankan dirinya dari orang-orang usil yang suka memetik bunga. Bunga, lebih baik dibiarkan tumbuh mekar sempurna, bukan untuk dipetik. Lebah tidak pernah merasa terganggu oleh duri-duri itu saat menghampiri si bunga, karena mereka memang tidak saling mengganggu.
Justru itu, kita perlu memiliki cita-cita berupa perbaikan diri, bukan melestarikan kekurangan dan kelemahan diri. Pepatah berikut tepat dapat melukiskan:
“Esa hilang, dua terbilang. Terus berusaha hingga tercapai cita-cita.”
“Enak lauk dikunyah-kunyah, enak kata diperkatakan. Nasehat yang baik harus sering diulang, supaya dapat dipahami dengan baik.”
Kita harus bisa belajar untuk lebih cerdas dari segala kekurangan dan kelemahan diri kita, sebagaimana diingatkan oleh pepatah berikut ini:
“Pikir itu pelita hati. Akal dan kepandaian kita adalah modal untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.”
Sayangnya, lebih banyak manusia yang justru menggunakan kepandaian dan akalnya untuk mempertajam sifat licik dan curang dirinya, bukan justru untuk mempersempurnakan keluhuran karakter dirinya hingga tenggelam dan mati sama sekali sifat-sifat baiknya.
Banyak penipu cerdik diluar sana, cerdasnya luar biasa, dengan segala tipu-muslihatnya yang canggih dan tersistematis, sekalipun mereka punya modal tubuh yang sehat dan kepandaian. Mereka justru mematikan sifat baik diri mereka, dan kian memperlebar jurang sifat baik dan sifat buruk dirinya.
Tidak ada seorang pun yang sejak semula dilahirkan pintar serta pandai. Sama halnya, tiada seorang pun sejak semula dilahirkan bijaksana dan sempurna. Seseorang menjadi sempurna bukan karena kelahirannya, namun karena perjuangannya. Karena adanya latihan, maka menjadi sempurna (practice makes prefect), begitu kata pepatah. Namun, untuk melangkahkan kaki menuju latihan, perlu ada kemauan serta niat yang berasal dari hati, dengan begitu baru ada jalan bagi diri kita sendiri menuju ke kesempurnaan.
Mungkin sebagai penutup, peribahasa berikut ini sangatlah tepat untuk mewakili seluruh bahasan kita, jika “belum bisa” maka jangan biarkan selamanya menjadi “tidak bisa”, bila “belum sempurna” maka jangan biarkan selamanya “tidak sempurna”:
Rajin pangkal pandai. JIka kita rajin belajar, maka dapat menjadi pintar.”
Bila kita belum sempurna, maka bukan artinya kita tidak bisa berjuang mencapai kesempurnaan, bukankah begitu seperti teladan seorang Pengeran Siddharta Gaotama? Memang KWANG akui, bahwa KWANG sendiri belumlah sempurna, masih banyak kekurangan. Namun, kita tidak boleh justru merasa bangga atas kekurangan dan keburukan karakter diri kita, bahkan menjadi seseorang yang lalai sepanjang hidup kita—atau bahkan menambah banyak sifat-sifat buruk kita, atau juga “menimbun” kelalaian setiap harinya.
Seolah, dilahirkan, hidup, dan mati sebagai seorang yang lalai. Cetaklah sejarah dengan berjuang menjadi orang yang tidak harus sempurna pada kehidupan kini, namun setidaknya meminimalisir jumlah dan derajat kelalaian kita. itulah yang disebut dengan watak humanis, memuliakan diri kita sendiri.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA