Skema Ponzi, menjadi Korban akibat Termakan oleh Keserakahan Sendiri

By SHIETRA - January 22, 2020

Skema Ponzi, menjadi Korban akibat Termakan oleh Keserakahan Sendiri

Skema ponzi atau “penipuan skema piramida”, sebetulnya bukanlah modus penipuan yang tergolong baru, namun modus penipuan yang klasik dan gaibnya, telah sering terjadi, sering disiarkan lewat berbagai pemberitaan, serta telah banyak memakan korban dengan jumlah yang masif. Namun, mengapa kejahatan dengan modus serupa masih juga dapat terus terjadi dan korban-korban baru terusa saja berjatuhan?
Ada tokoh atau pengamat yang menyebutkan, hal demikian terjadi akibat mental atau budaya berpikir masyarakat kita di Indonesia yang masih bersifat seorang “pemimpi”, alias tidak ingin memeras keringat namun mengharap dapat hidup bergelimang keberuntungan dengan termakan oleh iming-iming yang tidak rasional dimana akal sehatnya terkalahkan oleh keserakahannya sendiri. Jika iming-iming yang rasional saja tetap dapat membuka potensi penipuan, maka terlebih iming-iming yang tidak rasional.
Secara sederhana, Skema Ponzi dapat dimaknai sebagai suatu peristiwa berupa tindak pidana penipuan keuangan dimana terjadi secara terencana, tersistematis, dan korbannya selalu bersifat masif, terjadi dengan skema sebagai berikut: penipu menjaring anggota baru yang membayar sejumlah iuran dengan disertai atau selalu dimulai dengan iming-iming imbal hasil yang besar dan benar adanya diberikan imbal hasil pada mulanya. Lalu, anggota baru tersebut merekrut anggota baru lainnya, dimana iuran yang dibayarkan oleh anggota terbaru dipakai oleh sang penipu untuk menutup biaya pemberian imbal hasil bagi anggota yang pertama kali direkrut oleh sang penipu.
Begitu terus terjadinya, ibarat “gali lubang tutup lubang”, sehingga pada gilirannya tidak lagi mampu menanggung beban imbal hasil bagi ribuan hingga jutaan peserta yang menjadi anggotanya, mengingat penggelembungan tunggakan pembayaran imbal hasil bagi anggota-anggota lama, pada gilirannya hanya dapat menumbalkan anggota-anggota yang baru direkrut. Jelas, pada gilirannya hanya tinggal menunggu runtuh bilamana tiada lagi anggota baru yang dapat direkrut, sehingga hanya tinggal menunggu waktu terjadinya gagal bayar imbal-hasil terhadap seluruh anggota—dan pasti akan terjadi, sebagai konsekuensi logisnya.
Skema Ponzi, sejatinya hanya memanfaatkan atau mengeksploitasi dan memanipulasi emosi berbagai kalangan masyarakat yang memiliki cara berpikir “serba instan” dan memiliki “keserakahan laten” dalam paradigma berpikirnya.
Skema Ponzi semudah membangkitkan “keserakahan laten” dari alam berpikir korban potensialnya, lewat iming-iming dan segala tipu daya lainnya semisal testimoni yang memang telah dirancang secara sistematis oleh pelaku penipuan, sehingga korbannya mematikan akal sehat dirinya sendiri sehingga cara berpikir rasionalnya padam seutuhnya dan masuk dalam jejaring perangkap Skema Ponzi. Seringkali, “early warning sistem” berupa rasa curiga dalam pikiran seseorang seketika menjadi “terbajak” dan ter-“shut down” oleh keserakahan sang individu calon korban itu sendiri.
Adalah tidak masuk akal, bilamana hanya bermodalkan beberapa atau sejumlah dana, dapat menghasilkan imbal hasil mencapai puluhan persen atau ratusan persen lipat-ganda uang yang diserahkan sebagai iuran keanggotaan yang berkedok “investasi”.
Sejumlah nasehat bijak selalu mengingatkan, agar kita bersikap rasional dengan mengingat selalu peringatan, bahwasannya “high gain, high risk”, atau bila imbal-hasilnya diberikan iming-iming terlalu besar, maka resikonya pun akan sama besarnya.
Logisnya, bila memang investasi demikian dapat menghasilkan imbal-hasil diatas dua digit angka hingga lebih dalam waktu singkat, maka mengapa sang pelaku yang “ajaib” demikian menggandakan uangnya atau “beternak uang” dengan semudah meminjam uang dari bank dan memperkaya diri sendiri ketimbang membagi-bagi keuntungan besar kepada masyarakat umum? Namun sekali lagi, tipu-muslihat dalam Skema Ponzi memang sedari sejak semula dirancang secara telaten untuk mematikan fungsi akal sehat para calon korbannya.
Adapun ciri khas penipuan oleh penipu, ialah pelakunya selalu tampak penuh perhatian, baik hati, dan manis terhadap kita, alias “manis di depan”, namun bisa jadi itulah pintu gerbang masuknya penetrasi modus penipuan dan tipu-daya, sehingga berujung pada “pahit di belakang atau di kemudian hari”.
Ingatlah selalu, modus penipuan selalu dimulai dengan sikap manis ataupun kata-kata manis di depan oleh pelakunya yang selalu menampilkan wajah humanis dan baik hati, yakni memang bertujuan memanipulasi serta mematikan “pertahanan diri” sang calon korbannya karena kewaspadaan dan rasa curiga menjadi “kendur”. Serigala berbulu domba, itulah tipikal dari karakter modus-modus penipuan, apapun bentuk penipuannya, selalu tampak manis di muka atau manis di depan.
Menjadi korban akibat keserakahannya sendiri, tiada yang lebih mengerikan daripada modus kejahatan yang memanfaatkan celah irasional cara berpikir para calon korbannya, yakni dengan memperdaya mental “serakah” para calon korbannya, diberikan umpan berupa iming-iming yang sejatinya tampak “too good to be true”, dan masuklah sang korban pada perangkap yang telah dipasang dengan balutan kemasan yang indah dan sekali lagi, “too good to be true”.
Mengerikankah modus penipuan semacam itu? Tidak juga, karena yang sejatinya lebih mengerikan ialah sifat tamak dan keserakahan orang-orang itu sendiri, baik keserakahan pelakunya, maupun keserakahan internal pikiran para calon korban potensialnya itu sendiri. Kejahatan, acapkali terjadi akibat ada niat jahat dan karena adanya kesempatan—dimana kesempatan dalam Skema Ponzi terjadi karena dibuka oleh pihak korbannya itu sendiri, yakni mental “serakah” para korbannya.
Karenanya, kejahatan dengan modus Skema Ponzi tidak akan dapat terjadi dan tidak akan terbuka celah masuknya, bilamana masyarakat kita telah mau bersikap logis dan mampu membendung nafsu serta keserakahan hatinya sendiri—sekalipun masyarakat di Indonesia sejatinya telah tergolong berpendidikan cukup tinggi. Bukan karena miskin, namun karena serakah. Semakin serakah, semakin menaruh banyak dana, dan semakin banyak kehilangan serta merugi.
Zaman kini di Indonesia, lebih banyak orang yang tidak memiliki integritas, dimana janji diumbar namun sangat sukar ketika janji-janji mereka tersebut ditagih realisasinya. Pepatah menyebutkan, “lidah tak bertulang”. Jangankan ucapan janji lisan, janji tertulis “hitam diatas putih” sekalipun kerap dilanggar sendiri janji-janji yang telah diberikan dan disepakati. Mungkin peribahasa berikut cukup relevan mewakili:
Titian bisa lapuk, janji bisa mangkir. Jangan mudah percaya janji seseorang karena seringkali janji tidak ditepati.”
Tidak mau bekerja keras “banting tulang” berpeluh keringat, juga tidak mau “bekerja cerdas” dengan cara kreatif, namun menghendaki cara-cara “instan” atau jalan-jalan “pintas” dengan harapan semu yang dijebak dan terjebak oleh keserakahan milik sendiri, sehingga menjelma irasional daya berpikirnya. Simak juga peribahasa senada:
“Jerih menentang laba. Orang jika mau bersusah payah terlebih dahulu pasti akan mendapat imbalan yang diinginkannya.”
Sebetulnya peribahasa di atas, semua orang juga sudah tahu. Tidak diperlukan pendidikan yang tinggi untuk memahami dan mengetahui keberadaan peribahasa di atas, karena seperti kita ketahui, kita semua telah mengetahui serta pernah mendengar peribahasa klasik berikut: “Berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Namun, mengapa kini prosesnya seolah menjadi terbalik dan terjungkir-balik?
Seseorang tidak akan mudah terjebak dalam jebakan iming-iming “jalan pintas” cepat kaya tanpa usaha keras maupun “cara-cara instan” seperti “beternak uang” atau “melipat-gandakan uang” dengan segala embel-embel “dapat income tanpa harus bekerja”, bilamana dirinya bersikap adil terhadap dirinya sendiri, dengan tidak mengandalkan cara-cara pintas terlebih cara-cara curang.
Ingatlah selalu, jauhi iming-iming yang menyebut-nyebut semacam “beternak uang” atau kalimat-kalimat jebakan yang senada dengan itu. Tidak ada uang yang dapat diternakkan, terlebih “uang yang bekerja bagi kita”. Hindari sifat-sifat malas dan serakah yang di-stimulus oleh jargon-jargon menyesatkan semacam itu yang membuat kita terjerumus dalam mental instan dan mental “jalan pintas”. Singkatnya, janganlah bermimpi! Bahkan sebuah impian pun harus kita wujudkan lewat kerja keras dan kerja cerdas hingga menjadi realita, karena impian tidak bisa terwujud seolah “jatuh dari langit”, bukankah begitu?
Yang disebut dengan “serakah”, artinya mengambil hak milik orang lain atau mengharap mendapat hak-hak yang sejatinya tidak layak serta tidak patut didapat olehnya. Sebaliknya, orang-orang boleh saja mengharap menjadi seorang milioner lewat kerja keras dan kerja cerdas, maka dirinya tidaklah dapat disebut “serakah” karena mencari laba dengan tidak merugikan orang lain juga tidak berusaha mencurangi diri sendiri lewat segala pengharapan semu seperti contoh di atas.
Lalu, bagaimana cara memperbaiki serta mengobati cara berpikir serba “instan” demikian? Pertama-tama, tentu kita harus mengidentifikasi adanya cara berpikir dalam diri kita yang kurang baik dan kurang benar, ditelaah, untuk kemudian direvisi. Nasehat berikut sangatlah berguna sebagai masukan bagi kita untuk mengoreksi diri sendiri (self care):
Pengobatan yang terbaik bagi pikiran yang malas, adalah dengan mengganggu cara kerjanya.” (William H. Danforth)
Kita perlu menaruh waspada terhadap harapan yang tidak realistis yang bersemayam dalam diri kita sendiri. Yang berbahaya, ialah ketika kita gagal mengidentifikasi adanya mental semaam itu bersembunyi dalam diri kita tanpa kita sadari.
Segala sesuatu selalu ada resikonya, karena itulah kita perlu menjaga diri kita baik-baik terhadap orang lain yang belum tentu beritikad baik terhadap kita. Kalimat bijak berikut ini dapat memberikan kita peringatan:
“Harapkan yang terbaik, tetapi bersiaplah untuk hal yang terburuk.” (Anonim)
Dengan kata lain, boleh-boleh saja kita menaruh harapan serta berharap. Namun, harapan yang tidak barengi dengan mawas diri, akan menjadi pintu masuk jebakan kepada diri kita sendiri. Karenanya, “perangkap” itu laten ada di dalam diri kita sendiri, para penipu hanya mencoba memperdaya perangkap dalam diri kita sehingga menjadi mudah terjebak. Hanya diri kita sendirilah yang paling bertanggung-jawab untuk menjaga diri kita sendiri. Kita tidak dapat selalu mengandalkan orang lain untuk melindungi dan menjaga keselamatan maupun keamanan diri kita—namun diri kita sendiri yang paling bertanggung-jawab.
Tidak selamanya “negative thinking” adalah musuh bagi diri kita. Mereka yang bersikap moderat untuk berpikir sehingga mampu mawas diri, tidak akan terjebak dalam keberpihakan dalam salah satu sudut ekstrim cara berpikir, namun rasional saja menyikapi segala sesuatunya.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA