Belajar Memahami Cara Kerja HUKUM KARMA

By SHIETRA - February 06, 2020

Belajar Memahami Cara Kerja HUKUM KARMA
 
Untuk memahami perihal cara kerja “Hukum Karma”, maka ada baiknya menggunakan perumpamaan, seperti metode pembabaran Dhamma oleh Sang Buddha yang kerap menggunakan perumpamaan untuk memudahkan kita sebagai para siswa-Nya memahami. Sebelum itu, ada yang menyatakan bahwa “hukum karma” tidak dapat dipahami cara kerjanya. Benarkah demikian?
Jika “hukum karma” memang tidak dapat dipahami, maka untuk apa juga Sang Buddha membabarkan begitu banyak sutta berisi khotbah-khotbah Sang Buddha yang banyak menyinggung perihal “Hukum Karma”? Jika “Hukum Karma” memang tidak dapat dipahami, maka untuk apa masih dibicarakan serta dibabarkan oleh Sang Buddha secara panjang-lebar dalam Tripitaka?
Menyerupai “udara”, “kode genetik”, ataupun “bakteri”, tidak terlihat, namun bukan berarti tidak eksis udara tersebut, dimana sejatinya dapat kita rasakan serta sentuh secara langsung sebagai pembuktian keberadaannya (tangible)—maka begitu pula dengan “Hukum Karma” mengenai keberadaan dan cara kerjanya.
Dalam Tripitaka, terdapat Sutta Pitaka serta Abidhamma Pitaka yang membahas perihal cara kerja dibalik “Hukum Karma”. Semisal, ketika melakukan sesuatu dengan “senang hati” sebelum berbuat, saat berbuat, dan setelah berbuat, maka karma yang akan berbuah akan jauh lebih besar bagi pelakunya. Namun, meski demikian, proses dibalik “gudang karma” dari karma kita memang hanya seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat yang mampu memahaminya proses rangkaian kerja sebab-akibat ini secara utuh mengingat jumlah kelahiran kembali kita sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, dimana kekotoran batin tidak lagi menutupi mata dan penglihatan batin mereka.
Sehingga, cara kerja Hukum Karma sejatinya dapat diketahui dan dipahami, sebagai motivasi bagi kita untuk tidak berbuat kejahatan dan disaat bersamaan menjadi rajin untuk menanam banyak perbuatan baik semasa hidup kita, karena kita mengetahui akan ada konsekuensi dibalik perbuatan kita.
Sebaliknya, seorang Atheis yang mengaku-ngaku pandai sains, gagal untuk menjelaskan bahwa bagaimana mungkin mereka bisa eksis lengkap dengan nasib buruk dan nasib mujurnya bila tiada sebab yang mendahuluinya? Seorang Atheis, menganggap segala sesuatu terjadi secara kebetulan saja, tiada sebab yang mendahului sehingga sejatinya seorang Atheis sama sekali tidak memiliki cara berpikir seorang ilmuan yang meyakini bahwa segala sesuatu adalah proses sebab-akibat—ada akibat maka ada sebab yang mendahuluinya.
Hal ini menyerupai program yang bekerja dibalik atau pada perangkat gadget ataupun komputer kita yang canggih ini, kita dapat melihat “interface” atau perangkat lunak “antar muka” yang tampak mudah dipahami dan sederhana semata agar menjadi “user friendly” untuk dipelajari dan dipahami agar dapat digunakan secara optimal.
Namun apakah ada diantara kita, yang mengetahui bahwa betapa program yang tampak sederhana di perangkat genggam kita ini tersusun dari kode-kode pemprograman yang sangat rumit serta kompleks? Beruntunglah, kita tidak perlu tahu kode-kode tersebut untuk memakai perangkat digital kita. Sama seperti cara bekerjanya mesin Google, sangat kompleks dan kaya akan algoritma yang rumit, namun kita bisa menggunakan tampilan sederhananya secara mudah dan efisien tanpa harus tahu betul bagaimana algoritma super kompleks milik Google bekerja dilatar-belakangnya. Bahkan kini pun kita mengenal program bernama “kecerdasan buatan”, dan kita cukup terbantu dalam kegiatan kita sehari-hari tanpa perlu harus dipusingkan oleh bagaimana algoritma dan kode-kode biner itu bekerja.
Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana cara bekerjanya program dibalik perangkat gadget maupun perangkat lunak “antar muka”-nya yang terlihat sederhana di layar perangkat digital kita ini, namun bisa jadi sangat rumit proses yang bekerja dibalik atau dilatar-belakangnya. Itu baru program komputer, bagaimana dengan “program” hukum alam serta hukum karma yang mengatur semesta ini?
Contoh sederhana memahami karma yang sedang berbuah, yakni dengan panduan atau pedoman simpel sebagai berikut: Ketika kita sudah berbicara baik, berbuat baik, berniat baik, berusaha baik, tidak memiliki kesalahaan sama sekali, tetap saja orang lain akan menentang kita, mencela kita, mengkritik kita, melawan kita, memfitnah kita, menghina kita, menyakiti kita, dan segala penyulit lainnya—itulah ciri-ciri dari “karma buruk” yang sedang berbuah. Bukan perbuatan kita saat kini yang keliru, namun semata sedang “kurang beruntung” karena “karma buruk” sedang berbuah pada kita.
Sebaliknya, ketika kita berbicara keliru, berbuat jahat, berniat buruk, berlaku kurang patut, tanpa sedikit pun perbuatan yang benar, dan telah berbuat banyak kejahatan dan kesalahan, tetap saja orang-orang di sekitar kita akan mendukung kita, membenarkan kita, membantu kita, menyemangati kita, mudah dalam berhasil mewujudkan keinginan jahat kita, dan memberikan kita segala sarana maupun fasilitas—itulah ciri-ciri “karma baik” sedang berbuah, yang kadang bsia menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, karena ibarat melaju kencang di jalan bebas hambatan, “jalan tol” menuju surga atau “jalan tol” menuju neraka, bila buah karma baik kurang arif dan kurang bijaksana kita sikapi dan gunakan.
Buddhisme bukanlah agama Ateis, sebagaimana kerap disalah-pahami oleh banyak kalangan diluar komunitas Buddhistik. Hukum Karma itu sendiri, menyerupai sebuah “program” dalam dunia maya ataupun dunia perangkat lunak komputerisasi, sebagai analoginya. Ketika program tersebut selesai dibuat oleh penciptanya, maka program tersebut dapat bekerja secara sendirinya tanpa lagi perlu keterlibatan campur-tangan sang penciptanya.
Seperti perangkat digital yang kini kita tatap layarnya, semua ini terjadi berkat program yang berjalan secara “otomatisasi” di balik layar yang tidak kasat-mata. Bahkan, katakanlah, si pencipta program itu tidur, pensiun, atau bahkan telah meninggal dunia sekalipun, program ini masih tetap dapat bekerja seperti sedia kala. Sama seperti itu jugalah, cara kerja dibalik Hukum Karma.
Dalam Buddhisme, tiada pemberian siapa dan tiada pula diberikan oleh suatu makhluk adikodrati atas sesuatu keberuntungan ataupun suatu kemalangan yang menimpa diri kita. Menurut Sang Buddha, apa yang dikehidupan ini kita makan, semua itu hanyalah “nasi basi”—yang artinya hanya menikmati buah karma baik yang kita tanam di kehidupan sebelumnya, yang akan habis bila tidak kita tanam kembali untuk di kehidupan yang akan datang.
Semua yang kita alami dan terima di kehidupan saat kini, semata adalah hasil perbuatan kita di masa lampau dan juga disertai perpaduan dengan akibat dari perbuatan kita di kehidupan masa kini. Apa yang akan kita alami dan terima di kehidupan yang akan datang, ialah buah dari perbuatan kita di kehidupan masa kini dan perpaduan akibat dari perbuatan kita di kehidupan di masa mendatang. Semua adalah buah dari perbuatan kita sendiri.
Karena apa yang akan menjadi “kodrat kita”, sifatnya adalah perpaduan dua momen, yakni masa kini dan masa lampau, maka karma tidaklah deterministik, kita punya kekuatan untuk mengubah dan merancang “nasib” atau “takdir” kita sendiri, yakni dengan cara berbuat banyak perbuatan baik pada kehidupan sekarang ini, terlepas seperti apapun perbuatan kita di kehidupan lampau yang tidak kita ketahui betul seperti apa.
Sang Buddha bersabda, perbuatan apapun, baik perbuatan besar maupun perbuatan kecil, baik yang baik ataupun yang buruk, diakui ataupun yang tidak diakui, diingat ataupun yang dilupakan, benar ataupun tidak diakui benar, dipungkiri ataupun tidak dipungkiri, perbuatan itulah yang akan kita warisi sendiri. Kita terlahir dari perbuatan kita sendiri, terlindungi dari perbuatan kita sendiri, jatuh dan berjaya oleh perbuatan kita sendiri, kelaparan ataupun makmur oleh perbuatan kita sendiri, terhubung dengan perbuatan kita sendiri, mewarisi perbuatan kita sendiri, dan juga mati serta terlahir kembali oleh perbuatan kita sendiri.
Sejatinya, manusia dipermainkan oleh belenggu rantai karma yang tidak berkesudahan, ibarat “reaksi berantai”, mengakibatkan manusia jatuh-bangun dalam siklus lingkaran samsara tidak berkesudahan. Kita semua, tanpa terkecuali, pernah terlahir dalam alam hewan, alam asura, alam surga, alam neraka, dan juga alam manusia. Saking banyaknya kelahiran kembali yang telah kita lalui, Sang Buddha mengibaratkan jumlah tetesan air mata kita disepanjang kelahiran kembali tersebut, jumlahnya masih jauh lebih banyak daripada volume air pada semua samudera yang dijadikan satu.
Dengan demikian dalam Buddhisme, tiada segala sesuatu yang “jatuh dari langit” sebagai “pemberian” dari suatu sosok adikodrati yang biasa dijuluki dengan sebutan “Yang Maha Kuasa”. Semua adalah buah dari perbuatan kita sendiri, bukan “pemberian” ataupun “cobaan” dari siapa pun, namun semata hasil dari proses kerja Hukum Karma yang menyerupai program kerja dengan sistem “sebab menghasilkan akibat”, yang ter-otomatisasi. Karenanya pula, tiada siapapun yang patut kita persalahkan ataupun berikan ucapan terimakasih, selain diri kita sendiri.
Mempercayai Hukum Karma, sama artinya mempercayai adanya Hukum Karma dan pencipta “program” bernama Hukum Karma tersebut. Sementara itu, mereka yang percaya pada “versi” Tuhan yang setiap detik dan setiap waktunya hingga saat kini harus terus repot-repot merepotkan diri memberi ini dan memberi cobaan itu kepada umat manusia, bahkan untuk sebuah hasil skor pada pertandingan bulu tangkis, artinya percaya pada konsep “eternalisme”—salah satu sudut ekstrim yang ditolak dalam pandangan Buddhisme.
Sebaliknya, tidak percaya Tuhan, sama artinya meyakini “nihilisme”, salah satu sudut ekstrim lainnya, dimana membuat mereka yang mempercayai nihilisme akibatnya tidak akan takut pada ancaman “neraka” juga disaat bersamaan tidak akan termotivasi untuk menuju “surga” ataupun “Nibbana”, suatu nama yang merujuk pada keadaan dimana “belenggu rantai karma” terpupus total sehingga tiada lagi tumimbal lahir yang tidak berkesudahan, alias akhir dari dukkha.
Mempercayai “nihilisme”, sama artinya memungkiri “surga” maupun “neraka”. Namun, sebaliknya, meyakini eternalisme maka sama artinya memungkiri “Nibbana”, dan terjebak dalam asumsi atau persepsi seolah alam surga dan neraka adalah kekal abadi.
Buddhisme ibarat buku panduan memahami Hukum Karma dan cara kerja alam semesta ini. Seperti buku-buku panduan mempelajari cara pakai program komputer yang banyak beredar, namun bisa jadi tiada satupun buku yang mengulas siapa sang pencipta program tersebut, karena memang hanya program tersebut yang berguna bagi kita, bukan siapa penciptanya. Sebagai contoh, tahukan Sobat siapa nama pencipta program Adobe, CorelDraw, Photoshop, dsb? Sobat mungkin pandai mengoperasikan komputer Windows, namun apakah artinya Sobat harus berkenalan dengan Bill Gates atau membaca buku perihal cara hidup dan bagaimana Bill Gates membuat program Windows secara terperinci kode-kode yang dibangun oleh sang kreator?
Keunikan terutama Buddhisme, para siswanya bukan hanya diberikan peta pengetahuan cara kerja alam semesta, namun juga cara untuk memutus “belenggu rantai karma”. Bila buku-buku panduan mempelajari program komputer, hanya berputar-putar berkutat pada program komputer, maka Dhamma yang diajarkan oleh Sang Budha ialah bertujuan untuk terbebas dari belenggu rantai karma yang mengikat setiap makhluk hidup dari 31 alam kehidupan, yakni Nibbana, alias terputusnya siklus lingkaran samsara tumimbal lahir yang tidak berkesudahan.
Bila pelaku keyakinan “nihilisme” dapat terjerumus dalam perbuatan buruk akibat tidak meyakini adalah surga dan neraka, maka pelaku keyakinan “eternalisme” terjebak dalam sebuah penggambaran seolah Tuhan bersemayam di alam “surga” dan kekal di sana, serta identik dengan sosok impersonal seorang manusia—yang bisa jadi senang, marah, murka, penguji, suka, tidak suka, memerintah, melarang, dan sebagainya, serta meyakini bahwa surga adalah tujuan akhir dari perjalanan hidup manusia alias perjalanan terakhir, dimana dalam Buddhisme justru surga dan neraka tidaklah kekal dan tetap terikat oleh hukum siklus tumimbal lahir ketika karma baik atau karma buruk penghuninya habis—bahkan Sutta menyebutkan surga maupun neraka pun akan ikut turut terkena kehancuran saat “kiamat” tiba.
Sekalipun Buddhisme dapat digolongkan sebagai “Theis Agnostik”, namun Agama Buddha lebih cocok disebut sebagai “Agama Kebaikan”, karena ibarat buku berjudul “Cara Memahami Microsoft Windows”, yang dipelajari ialah cara menggunakan dan memahami atau mengenal program Windows, bukan untuk mengenal dan memahami Bill Gates, sang pencipta program Windows, karena yang memang yang lebih kita butuhkan ialah pengetahuan tentang cara mengoperasikan program tersebut, bukan menyuruh atau meminta Bill Gates untuk setiap hari merepotkan dirinya demi membantu setiap pekerjaan kantor kita. Bill Gates tidak mengenal kita, juga tidak bertempat tinggal di negara kita, namun setiap hari kita dapat terbantu dengan program yang dibuat olehnya.
Sang Buddha menyatakan, hanya seorang Arahat yang dapat memahami bagaimana cara bekerjanya proses di latar belakang Hukum Karma yang berlaku menjalankan alam semesta ini—semacam kode-kode dan algoritma bila meminjam istilah pemprograman komputer terotomatisasi.
Namun, sebagai orang awam dan perumah tangga, umat Buddhist cukuplah belajar buku panduan memahami Hukum Karma, bukan bagaimana proses Hukum Karma itu bekerja di latar-belakangnya, sama seperti ketika kita memakai komputer ini, kita tidak perlu tahu bagaimana kode-kode biner bekerja dilatar-belakangnya, kita cukup tahu dan belajar cara mengoperasikan komputer ini saja—kecuali Sobat bermaksud untuk menjadi seorang creator atau pencipta.
Kita bahkan tidak perlu tahu bagaimana cara bekerjanya kode-kode biner tersebut, namun cukup tahu bagaimana cara bekerjanya dan cara mengoperasikan komputer kita untuk bekerja dan membantu kehidupan kita di keseharian, sama seperti kita mengoperasikan televisi, rice cooker, microwave oven, speaker sound system, dan lain sebainya yang tidak pernah kita tahu bagaimana sistem cara kerja di dalam MCB perangkat elektronik tersebut maupun perangkat lunaknya.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS