Buktikan Kita Bisa HAPPY Sekalipun Tanpa Mengemis Kebahagiaan dari Orang Lain

By SHIETRA - February 25, 2020

Buktikan Kita Bisa HAPPY Sekalipun Tanpa Mengemis Kebahagiaan dari Orang Lain
 
Pernah terjadi suatu pengalaman nyata, ketika seseorang yang pernah mengenal KWANG lalu mengungkapkan curahan-hati (“curhat”) kepada KWANG secara personal, bahwa dirinya tiba-tiba dan secara mendadak dibatalkan rencana pernikahannya oleh calon pasangannya. Entah rencana tersebut baru sekadar rencana yang belum disusun matang, atau bahkan mungkin sudah masuk dalam tahap diselenggarakan  resepsi.
Yang jelas, dirinya tersebut tampak amat terpukul perasaanya, juga merasa malu serta takut kepada sanak-keluarganya (tentu saja, tanpa perlu ditanya lagi). Memang sukar dipercaya, ada seseorang yang dapat mundur begitu saja setelah pernikahan direncanakan. Pernikahannya memang betul-betul dibatalkan, karena sang calon pasangan tidak bersikap bertanggung-jawab, melarikan diri begitu saja.
Sisi positifnya, “beruntung”-lah karena dapat ketahui dari sejak dini bahwa sang calon ternyata adalah orang yang tidak bertanggung-jawab, terlebih ketika sudah berumah-tangga?
Pada kondisi seperti itu, dapat KWANG bayangkan betapa rapuh perasaan dirinya, seolah “dicampakkan” begitu saja, seolah tidak berharga, seolah dipermainkan, serta seolah hatinya tidak dapat bersedih maupun terluka perasaannya.
Dirinya pada saat itu pastilah sedang membutuhkan nasehat yang menyejukkan serta positif disamping menguatkan, agar mentalnya yang sedang terpuruk pada titik paling rendah, dapat bertahan dan kembali melihat secercah harapan baru, tanpa lagi menaruh adanya semacam rasa keharusan memegang erat harapan semu yang ternyata “palsu”.
Untuk itu, kepadanya secara penuh kesabaran KWANG perlahan-lahan memberikan motivasi, inspirasi, serta semangat agar dirinya mampu tegar dan kuat, karena saat itu memang dirinya sedang butuh menjadi kuat dan tegar. Harus kuat secara mental, maka dari itu barulah dapat tahan menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan, serta berangsur-angsur memulihkan diri ketika dirinya telah memutuskan untuk bangkit kembali tanpa lagi membiarkan diri berlarut-larut berkubang dalam kesedihan yang tidak berfaedah.
Apa yang selalu KWANG nasehatkan secara berulang-ulang kepadanya, sebenarnya sederhana saja. Yakni, agar ia membuktikan kepada sang calon yang tidak bertanggung-jawab tersebut, bahwa dirinya bisa kuat dan hidup bahagia tanpa bergantung pada sang calon tersebut.
Sehingga, paradigmanya menjadi dibalik secara penuh kesadaran, dari yang semula seolah dirinya sangat tidak berdaya karena membutuhkan dan bergantung kebahagiaan hidupnya sepenuhnya kedalam tangan atau keberadaan sang calon pasangan, dibalik sepenuhnya menjadi berdaya “penuh daya” akibat terkondisikan seperti yang KWANG uraikan di atas, yakni : Buktikan padanya bahwa dirinya bisa tetap hidup bahagia, sekalipun tanpa diberikan kebahagiaan oleh sang calon pasangan, tanpa bergantung dan juga tanpa mengemis-ngemis dibahagiakan oleh sang calon pasangan.
Buktikan bahwa justru kita bisa bahagia tanpa diri orang lain, bukan justru menampilkan kondisi diri kita yang menderita karena bergantung secara emosional kepada orang lain tersebut yang ternyata tidak dapat dimintakan pertanggung-jawaban. Ambil-alih tanggung-jawab untuk membahagiakan diri kita ke tangan diri kita sendiri secara mandiri dan otonom (independen, baik secara emosional maupun secara psikis dan fisik).
Kejadian demikian saat KWANG memberikan nasehat di atas, sudah lama berselang. Kabarnya, tak lama setelah rencana pernikahannya batal akibat “insiden” yang menyerupai drama satiris namun nyata, dirinya kini menemukan calon pasangan yang lebih baik, dan mengucapkan terimakasih kepada KWANG atas nasehat yang menguatkan dirinya tersebut saat dirinya benar-benar sedang membutuhkan dukungan moril. KWANG turut gembira mendengarnya.
Tampaknya, nasehat KWANG tersebut saat kini justru menolong serta berguna bagi diri KWANG sendiri, ketika KWANG menghadapi kondisi dilematis dalam hubungan sosial baik dalam konteks pertemanan, konteks lingkup domestik rumah-tangga ataupun anggota keluarga, konteks relasi bisnis usaha atau pekerjaan, dan konteks-konteks lainnya.
Memang sukar dipercaya, nasehat yang dahulu pernah KWANG berikan kepada orang lain, justru saat kini berguna sebagai nasehat yang paling dibutuhkan oleh diri KWANG sendiri. Ternyata memang betul ya, memberi nasehat yang baik kepada orang lain, sama artinya menolong diri sendiri di masa mendatang saat kita benar-benar sedang membutuhkan nasehat yang positif dan menguatkan faktor kejiwaan kita yang sedang rapuh—terutama ketika kita sedang dalam kondisi kurva yang menunjukkan derajat paling lemah dalam hidup kita.
Ketika perasaan KWANG sedang tertekan, bersedih, ataupun merasa diperlakukan secara tidak adil, baik oleh teman-teman, lingkungan sosial, lingkungan pekerjaan, bahkan dalam lingkup internal keluarga atau bahkan kehidupan itu sendiri yang dirasakan mengecewakan, maka untuk menghadapinya perlu menata kembali mental kita yang sedang terpuruk karenanya. Dunia ini bekerja dengan realita yang jauh dari kata ideal, karenanya kita harus selalu siap “obat mental” guna mengobati mental kita yang terjatuh dan terluka.
Sebuah nasehat dari dalam diri kita sendiri, self-talk yang positif, selalu menjadi solusi P3K (Pertolongan Pertama pada Kegalauan) yang kini atau yang nantinya akan KWANG hadapi. Alih-alih memperlihatkan dan membuktikan pada mereka, bahwa mereka berhasil membuat kita menderita dan bersedih putus asa sepanjang hari atau bahkan sepanjang tahun atau mungkin juga untuk seumur hidup kita, alangkah lebih baik kita mulai belajar untuk menghargai diri dan kehidupan kita sendiri dengan cara sebaliknya, yakni : Buktikan dan tunjukkan kepada mereka, bahwa kita bisa bertahan, tegar, kuat, survive, serta bahagia sekalipun tanpa diberikan kebahagiaan oleh mereka dan sekalipun tidak mengemis dibahagiakan oleh mereka.
Sebagaimana dapat kita rasakan sendiri, merubah standar berpikir kita dengan paradigma yang lebih positif-bermanfaat dan lebih cerdas demi kebaikan diri kita, dapat mengubah seluruh kondisi dan situasi mental, dari yang sebelumnya kita tampak terlihat tidak berdaya di mata kita sendiri, menjadi berdaya “penuh daya” serta mampu membuat suatu “daya” setidaknya bagi diri kita sendiri.
Tiada ruginya berpikir positif dan senantiasa “positive self-talk” guna menguatkan batin diri kita, justru kita akan “merugi sendiri” bila membiarkan kondisi mental kita di-dikte ataupun di-ombang-ambing oleh orang lain yang belum tentu ingin melihat kita bahagia—bisa jadi memang mereka ingin dan senang ketika melihat kita benar-benar menjadi terpuruk akibat mereka. Jangan biarkan mereka yang menang! Selalu pilih “hidup berbahagia”, setidaknya hidup penuh kebahagiaan bagi diri kita sendiri bila orang lain tidak patut menerima sharing kebahagiaan hidup kita.
Karenanya, terkadang, kita perlu ingatkan diri kita untuk berbahagia demi diri kita sendiri, bukan demi mereka dan bukan demi orang lain, dimana kita selalu layak serta patut hidup bahagia karena ini adalah hidup dan kehidupan kita sendiri—karenanya kita tentukan sendiri karena kita sendiri-lah yang menerima konsekuensi serta menjalaninya.
Kita tidak perlu menyia-nyiakan umur hidup kita yang singkat ini hanya demi hal-hal yang justru membiarkan dan membuat kita membuang-buang kesempatan untuk hidup bahagia. Selalu pilih untuk hidup berbahagia, itu panduan utamanya, apapun kondisinya, orang lain tidak pernah berhak merampas kebahagiaan dari hidup kita, karena kita sendiri yang paling berkuasa atas kondisi mental kita, kita sendiri pula yang paling berkuasa penuh untuk menentukan apakah kita akan membuang-buang kesempatan untuk hidup bahagia ataukah kita memillih untuk senantiasa berbahagia.
“Untuk dapat berbahagia, kita harus secara berulang-ulang memasukkan ke dalam diri kita pemikiran maupun kata-kata yang positif mengenai perbuatan dan prestasi kita.” (Anonim)
Selalu tanamkan ke dalam jiwa terdalam kita, bahwa sepanjang kita tidak pernah merugikan orang lain, maka kita selalu berhak untuk hidup bahagia dan berbahagia karenanya. Perihal orang lain berlaku buruk terhadap kita, maka itu adalah mereka dan urusan mereka sendiri, bukan kita yang berlaku buruk, dimana hal tersebut akan menjadi “karma buruk” bagi dirinya sendiri yang akan diwarisi oleh dirinya sendiri buahnya di masa mendatang.
Karena kita selalu berhak untuk merasa bahagia dan hidup berbahagia, maka nikmatilah menjadi bahagia, sentuhlah kebahagiaan, dan putuskanlah untuk menyelami kebahagiaan dengan berbahagia! Semudah kita memutuskan untuk hidup bahagia, apapun kondisi dan situasinya, orang lain dan dunia luar tidak pernah berhak menentukan kondisi mental kita, kita sendiri yang memutuskannya secara berdaya dan swadaya (mandiri).
“Orang-orang yang pesimis seringkali memikirkan hal-hal yang tidak enak, dan celakanya entah bagaimana itu akan benar-benar terjadi seperti magnet yang menarik mendekat hal-hal tersebut.” (Anonim)
Tetapkan bahwa kebahagiaan-lah yang menjadi tujuan hidup kita. Apa gunanya menjadi makmur secara harta materi, namun tidak dapat menikmatinya? Mengingat kebahagiaan-lah, yang kini menjadi tujuan hidup kita, maka kita perlu memperjuangkannya lewat mengkondisikan pikiran kita untuk selalu memilih menjadi bahagia. Seperti lirik penggalan sebuah lagu di masa kanak-kanak : ♪♫♬ di sini senang, di sana senang, dimana-mana hatiku senang... ♬♩♪
“Bila kita yakin bahwa suatu tujuan akan tercapai, maka akan timbul suatu dorongan kekuatan yang besar yang akan mendorong kita sampai hal itu terwujud.” (Anonim)
Apakah urusan terbesar kita, mengomentari dan selalu mengurusi urusan orang lain yang tidak pernah mereka minta dari kita, memikirkan komentar orang lain, mengikuti perintah orang lain agar kita gembira atau bahkan menderita karena bersedih, atau bahkan bergerak kesana-kemari tanpa pernah tahu tujuan dan makna hidup kita? Nasehat dalam peribahasa manis berikut sangat relevan untuk KWANG kutipkan bagi kita bersama:
“Anak di pangkuan dilepaskan, beruk di rimba disusukan. Selalu memikirkan urusan orang lain, sedangkan urusan sendiri diabaikan dan dibengkalaikan.”
Kita tidak pernah perlu mencari alasan untuk hidup berbahagia. Sebaliknya, ketika kita menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan pencarian kita, maka kita akan selalu menemukan alasan positif mengapa kita harus bahagia—bahagia yang positif tentunya, yakni kebahagiaan tanpa merugikan maupun menyakiti orang lain dan makhluk hidup lainnya.
“Orang yang mencari alasan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya tidak selesai. Sementara sebaliknya, orang yang mencari keberhasilan selalu mencari alasan mengapa pekerjaannya dapat diselesaikan.” (Alan Cohen)
Karenanya, Sobat akan memilih yang manakah? Memilih tetap happy, ataukah menderita sendiri hanya karena atau hanya demi orang lain yang bahkan tidak pernah mau tahu apakah kita bahagia atau tidaknya? KWANG yakin Sobat tahu jawabannya yang paling baik dan terbaik bagi diri Sobat sendiri. Be happy!
Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA