Ketika Bersikap Takut-Takut adalah Merupakan Kebodohan Batin

By SHIETRA - February 05, 2020


Ketika Bersikap Takut-Takut adalah Merupakan Kebodohan Batin


Pernahkah Sobat perhatikan dan sadari, kita terkadang kala begitu jahat, tidak adil, dan tidak berbelas kasih terhadap diri kita sendiri—semata karena sikap penakut kita terhadap orang lain yang mana kita ketahui betul bahwa banyak orang jahat di luar sana yang tidak akan segan-segan menyakiti kita.
Dua pengalaman pribadi KWANG berikut seringkali KWANG alami, dan kini menjadi objek perenungan meditatif KWANG untuk menilai dan mencoba mengamati keganjilan sifat dalam diri KWANG sendiri. Pengamat yang baik, harus mampu mengamati dirinya sendiri, bukan hanya menjadi seorang komentator perihal orang lain.
Suatu hari pada satu kantor bank, KWANG mengantri di depan mesin ATM (anjungan tunai mandiri, untuk mengambil sejumlah uang atau transaksi lainnya) yang penuh sesak oleh pengunjung lain yang juga mengantri.
KWANG dengan sabar menunggu antrian di depan KWANG yang lama sekali mengoperasikan mesin ATM itu, tanpa mengeluh ataupun protes. Namun, ketika giliran KWANG untuk memakai mesin ATM tersebut, entah mengapa KWANG justru menjelma menjadi seseorang yang tidak sabaran dan tidak toleran terhadap diri KWANG itu sendiri, membuat KWANG menjadi bersikap terburu-buru, bahkan menjadi ceroboh, gegabah, dan panikan, seolah sangat tertekan oleh diri sendiri untuk cepat-cepat dan jangan berlama-lama memakai mesin ATM itu.
Dasariahnya manusia adalah makhluk yang tidak logis, tampaknya perumpamaan demikian ada benarnya—karenanya, sebagai manusia modern “homo sapiens”, kita perlu berlatih dan mengembangkan akal sehat kita untuk berpikir dan melakukan introspeksi dialogis dengan diri kita sendiri secara logis dan dibiasakan bersikap rasional, agar tidak menjadi korban dorongan dari “alam bawah sadar” kita sendiri yang belum tentu positif bila kita turuti begitu saja tanpa sadar.
Takut dikritik orang lain yang mengantri di belakang? Jika dipikir-pikir, lama waktu pemakaian mesin itu oleh KWANG adalah tidak selama orang yang sebelumnya memakai mesin ATM sebelum giliran KWANG tiba memakainya. Sehingga, ketakutan demikian ialah tidak beralasan adanya, alias semu, tidak rasional, serta cenderung menyakiti atau merugikan diri kita sendiri.
Cemas merasa egois karena berlama-lama memakai mesin ATM tersebut dan membuat orang lain menjadi mengantri? Jika kini dipikir-pikir, KWANG selalu bersikap sabar tatkala mengantri, tidak pernah mengeluh kepada siapa pun dan menunggu dengan sikap baik ketika mengantri dalam barisan antrian.
Mengapa juga, KWANG bisa bersikap penuh kesabaran serta toleran maupun pengertian terhadap orang lain, namun disaat bersamaan KWANG justru tidak mampu menghargai hak-hak diri sendiri, memahami kebutuhan diri sendiri, bersikap adil kepada diri sendiri, serta bersabar bagi diri kita sendiri?
Jika pengunjung lain turut mengantri sebagaimana KWANG juga telah mengantri lama sebelum ini, bukankah itu memang sudah sepatutnya dan sudah selayaknya untuk saling menghormati urusan masing-masing, saling mengantri dan saling memahami juga saling menghargai?
Mengapa juga KWANG merasa tidak punya hak untuk memakainya dan membiarkan pengunjung lain untuk antri dengan tertib sebagaimana KWANG telah mengantri secara tertib, sementara selama ini KWANG telah menjalankan kewajiban untuk mengantri dengan sabar dan mau mengalah selama apapun pemakai di depan KWANG selesai dalam urusannya memakai mesin ATM.
Begitu pun pada kesempatan lain, ketika KWANG sedang dilayani oleh petugas loket Customer Service di kantor perbankan, dimana terdapat dokumen-dokumen yang harus dibaca dengan teliti sebelum ditanda-tangani karena mengandung konsekuensi hukum bila ceroboh membaca terlebih asal “tanda-tangan” tanpa membacanya terlebih dahulu secara teliti, KWANG mudah sekali merasa terintimidasi tatkala terdapat pengunjung lain yang tidak mau sabaran menunggu antrian untuk dilayani dan justru menyalahkan KWANG yang sedang meneliti dokumen dengan dikritik sebagai “lama”—padahal dirinya sendiri baru datang dan tidak lama duduk mengantri seperti KWANG.
Padahal, bila dipikir-pikir, jika terjadi sesuatu yang merugikan KWANG akibat tidak membaca dengan teliti dokumen yang akan ditanda-tangani, apakah si pengunjung yang pandai mengkritik tersebut akan bertanggung-jawab? Dan jika sampai petugas bank juga mendesak KWANG untuk terburu-buru, maka akan seketika KWANG tarik seluruh dana milik KWANG dari bank dimaksud.
Bila pengunjung “tidak sabaran” tersebut ternyata kemudian membuat pengunjung lain lama mengantri, dan tanpa rasa malu ataupun rasa bersalah karena membuat pengunjung lain mengantri olehnya ketika dirinya sedang dilayani, itu namanya “mau menang sendiri” dan “egoistik”. Yang semestinya memiliki perasaan takut dan cemas, ataupun perasaan “tidak enak hati” ketika membuat orang lain menunggu dalam antrian, adalah jenis-jenis orang semacam itu, bukan diri KWANG. Sehingga, kita perlu menempatkan diri kita secara proporsional, orang jahat yang layak dijahati, bukan orang baik-baik yang patut dijahati ataupun menjahati diri kita sendiri.
Lama? Masak bodoh, ini uang dana milik KWANG yang KWANG kumpulkan dengan banyak pengorbanan, bukan uang miliknya. Maka, kali berikutnya KWANG akan memilih untuk bertanggung-jawab terhadap diri KWANG sendiri, bukan kepada mereka yang tidak “jantan” untuk menghargai hak dan urusan masing-masing.
Kita tidak perlu menyewa seorang pengacara untuk membela dan mendampingi diri kita untuk menghadapi orang-orang jahat egois seperti itu, kita jadikan saja diri kita sendiri sebagai “pengacara bagi diri kita sendiri” secara mandiri dan secara berdaya.
Lalu kejadian di tempat lain, seperti mengantri pembayaran di kasir pada sebuah minimarket. KWANG bisa bersikap penuh kesabaran ketika pembeli lain dilayani kasir sekalipun jumlah belanjaannya sangat amat sedikit.
Namun entah mengapa, ketika giliran KWANG dilayani kasir yang menghitung pembelian dan harga yang harus KWANG bayarkan, sekalipun jumlah belanjaan tergolong banyak hingga berkantung-kantung jumlahnya, namun KWANG justru bersikap seolah demikian panik, tidak tenang, takut-takut karena ada pengantri yang notabene pembeli lain di belakang KWANG, serta merasa bersalah, serasa didesak dan terdesak untuk menjadi terburu-buru (terutama bila pembeli lain di belakang tidak bersedia mengantri dengan sabar).
Rasa takut hanyalah segumpal awan kebodohan, dan keberanian / kemauan adalah setetes embun yang memberikan harapan seperti pelangi yang mewarnai langit biru.” (Bhikkhu Tejanando)
Rasa takut, bisa menjadi teman dan disaat bersamaan juga dapat menjadi musuh besar bagi kita. Takut terbakar karena itu tidak bermain api, adalah ketakutan yang rasional dan positif. Takut akan karma buruk bila melakukan perbuatan buruk, juga adalah hal yang positif.
Kita tidak selemah yang kita bayangkan, karena bersikap takut-takut justru menjadi pintu masuk bullying dan niat jahat orang lain terhadap diri kita yang menjadi “sasaran empuk”—karena dilanda dan dikuasai oleh ketakutan akan membuat kita menjadi lemah dan ringkih-riskan-rentan.
Ketika KWANG mencoba merenungkan lebih lanjut, setiap individu diatur dan diawasi oleh “Hukum Karma”, tanpa ada yang terkecuali, baik perbuatan besar maupun kecil, perbuatan yang diakui ataupun yang tidak diakui. Karenanya, bila kita berpikir secara lebih logis, yang semestinya takut ialah orang-orang yang berbuat jahat terhadap kita, bukan justru kita yang harus bersikap takut-takut menjadi korban kejahatanterlebih-lebih terobsesi untuk tidak menjadi korban kejahatan yang dilakukan oleh orang lain.
Karena tiada seorang pun yang dapat mencurangi hidup, dan tiada seorang pun yang dapat bersembunyi dari karma buruk yang dibuat olehnya, maka kita tidak perlu merasa takut sekalipun orang lain memiliki niat buruk terhadap diri kita.
Kita tidak bisa mengendalikan semua hal eksternal di luar diri kita, kita hanya bisa mengendalikan faktor internal yakni mental dan jiwa diri kita sendiri agar tidak gentar, dan bagai batu karang yang kokoh tidak tergoyahkan oleh terpaan ombak badai seperti apapun—oleh celaan orang lain (dimana yang mencela kita belum tentu orang-orang benar), maupun oleh rasa takut diri kita sendiri.
“Gunakan rasa khawatir dalam diri kita, untuk menolong diri kita dan menjadi lebih kreatif, efektif, serta efisien.” (Anonim)
Yang paling berbahaya, ialah kita mulai bersikap dan berpikir seperti seorang “penakut”, cemasan, mudah panik, penuh gengsi, sikap malu-malu (pemalu) yang tidak rasional, bahkan mulai memandang diri kita sebagai seorang “pengecut” alias “penakut”. Mengapa pandangan demikian, tidak baik bagi diri kita sendiri?
“Banyak orang ibarat pohon mangga di dalam pot, akar tunggangnya tertekuk dan tertekan oleh citra dirinya yang negatif.” (Anonim)
Yang mulai perlu kita latih dan biasakan, ialah mental seorang pemberani (namun bukan berarti harus menjadi arogan), dengan cara bersikap berani. Kebiasaan bersikap berani, pada gilirannya akan menumbuhkan mental pemberani dalam diri kita.
Pemalu adalah oang yang takut sebelum bahaya datang, pengecut adalah orang yang takut ketika bahaya datang, sementara seorang pemberani baru takut setelah bahaya lewat.” (Jean Paul Ritcher)
Terkadang, kita pun perlu belajar untuk bersikap baik terhadap diri kita sendiri, bukan hanya tahu berbuat baik kepada orang lain. Sama juga, kita pun perlu belajar untuk menaruh hormat terhadap diri kita sendiri, bersikap adil terhadap diri kita dengan memberikan apa yang memang layak dan patut bagi diri kita, serta menghargai diri kita—tidak kalah dengan bagaimana kita menaruh hormat dan penghargaan bagi atau terhadap orang lain.
Sementara perihal obsesi untuk tidak disakiti orang lain, maka serahkan saja pada Hukum Karma yang selalu melindungi kita dan yang akan membalas pelakunya di saat bersamaan; sebagaimana pesan dari peribahasa berikut sebagai penutup diskusi kita dalam kesempatan ini:
“Bagaimana ditanam, begitulah dituai. Orang yang berbuat jahat, akan mendapat kejahatan sebagai buahnya. Sedangkan orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan sebagai buahnya.”
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS