Kiat Menghadapi Cemoohan secara Positif, Celaan dari Orang-Orang Dungu yang Dangkal Karakter maupun Mentalnya

By SHIETRA - February 08, 2020

Kiat Menghadapi Celaan dan Cemoohan dari Orang-Orang Dungu yang Dangkal Karakter maupun Mentalnya
 
Dalam keseharian, kita memiliki waktu yang sangat terbatas, karenanya kita perlu membuat pilihan dalam hidup kita terkait penggunaan “sumber daya waktu” kita yang sangat terbatas ini (itulah ciri orang bijaksana terkait “manajemen waktu”).
Sama seperti kita hanya memiliki dua buah tangan, tidak bisa kita disaat bersamaan menggenggam banyak hal, kita harus bisa bersikap selektif dan memilih mana yang paling penting dan paling bermanfaat / produktif. Itulah yang kita sebut sebagai bersikap rasional.
Se-serakah apapun seseorang, tetap saja dirinya hanya punya dua tangan dalam satu tubuh, satu buah otak untuk memerhatikan sesuatu hal, dan 24 jam dalam seharinya. Sekalipun seseorang pengusaha memiliki ribuan karyawan, tetap saja waktunya terbatas dan dibatasi 24 jam dalam sehari.
Begitupula dari sisi waktu, kita hanya memiliki 24 jam dalam sehari, serta 7 hari dalam seminggu. Kita tidak bisa mengharap mencurangi waktu dengan membodohi ataupun membohongi diri kita sendiri. Kita harus bisa membuat pilihan bagi diri kita sendiri, dimana masing-masing pilihan memiliki konsekuensi logisnya sendiri.
Bagi mereka yang ingin disebut sebagai suka bergaul, pandai bergaul, banyak teman, sering “hang-out”, sering diundang ke undangan pernikahan, sering “mobile”, rutin melakukan reuni, dan segala sikap show off pamer “banyak relasi” serta “banyak bicara” (norak, terlebih bila “berisik” pula suaranya), maka disaat bersamaan mereka mengorbankan waktu produktif dirinya sendiri untuk hal-hal eksternal di luar diri, terlebih bila isi perbincangan dirinya dengan orang-orang lain tersebut ternyata hanya berisi pembicaraan “sampah penuh omong-kosong” yang dangkal, tidak produktif, tidak berfaedah, dan cenderung “NORAK”—tong kosong nyaring bunyinya, selalu nyarin bunyinya sebuah tong kosong. Semakin kosong, semakin nyaring bunyinya, dan bangga betapa kosong dirinya dan otak miliknya.
Karenanya, orang-orang bertipe “show off” pamer “banyak teman”, pamer “banyak bicara”, pamer ini dan pamer itu, seolah agar dikenal “eksis” dirinya bila bisa dilihat dan didengar oleh semua tetangga, sejatinya disaat bersamaan memamerkan betapa “kurang kerjaan” dan betapa SAMPAH (SPAM) dirinya dan kehidupannya tersebut, dibuang-buang begitu saja untuk kegiatan sampah seperti “omong-kosong ngolor-ngidul” yang tidak cerdas, serta jauh dari kata bermanfaat yang hanya membuang-buang waktu dan membuat pusing dan terganggu bagi tetangga yang bersebelahan ketika harus mendengar “polusi suara” berisik mereka yang jauh dari kata cerdas dan tidak mencerdaskan.
Ciri-ciri orng yang “kurang kerjaan”, ialah mereka yang lebih sering kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol tidak jelas isi perbincangannya selain “omong-omong sampah” alias “nyampah suara” dan “nyampah perbincangan” yang sama sekali tidak menarik untuk diperdengarkan kepada lingkungan bertetangga—sehingga layak untuk disebut sebagai “norak”.
Bagi orang-orang “norak” yang “kurang kerjaan” demikian, prestasi yang mereka banggakan hanyalah “bisa banyak bicara” (alias banyak “nyampah” kata-kata dan membuat “polusi suara”), sekalipun isi perbincangan mereka hanyalah sebatas “omong-kosong” yang konyol, bodoh, tidak bermanfaat, “norak”, serta menggelikan juga menjijikkan.
Mereka sama sekali tidak memiliki suatu hasil kerja yang patut dijadikan prestasi unggul-luhur terlebih sesuatu untuk dibanggakan secara positif dan cerdas. Entah mengapa, rasa malu mereka seolah sudah putus, tidak lagi punya rasa malu ketika memamerkan isi otak mereka yang bodoh, dangkal, dan tidak cerdas demikian kepada lingkungan tetangga.
KWANG sendiri pernah dicemooh sebagai “kuper” (kurang pergaulan) oleh seorang tetangga ketika KWANG bertempat-tinggal pada suatu pemukiman di Jakarta, Indonesia. Apakah salah, jika KWANG memilih menggunakan waktu untuk hal yang lebih produktif seperti untuk belajar dan bekerja daripada menghabiskan waktu untuk pamer “show off” secara tidak produktif seperti banyak bicara sembari menggunakan suara tinggi yang keras sehingga dapat didengar oleh semua tetangga, namun isi pembicaraannya hanya sebatas jika tidak “omong-kosong”, maka “perbincangan sampah yang konyol dan bodoh” belaka?
Baik nasehat pada komunitas seperti Blogger Community maupun saran dari Youtuber Creator Community, diberikan tips paling utama bila ingin sukses menjadi seorang Blogger ataupun Youtuber, yakni “BERFOKUS”. Fokus, itulah kata kuncinya, “the power of focus”.
Mereka yang terlebih dahulu sukses selalu berpesan, batasi pertemanan hanya dengan mereka yang patut dan layak untuk dijadikan lingkungan pergaulan kita. Orang-orang dengan penuh omong-kosong, patut dihindari, juga tidak membuang-buang waktu kita untuk berkumpul dengan teman-teman, bertemu orang-orang, atau untuk hal-hal yang hanya menyita perhatian serta waktu kita secara tidak produktif. Lupakan semua itu, sisihkan semua itu dari jadwal kegiatan harian rutinitas kita, dan mulailah fokus menulis membangun “website content” maupun menjadi seorang Youtuber. Itulah pesan dari mereka yang telah berhasil dalam karir mereka sebagai “full time Blooger and Youtuber”. Youtube dan Blog yang unggul banyak pengunjung, hanya berisi konten yang cerdas, bukan konten-konten “gemuk” yang penuh “omong-kosong” sampah.
Alhasil, sekalipun KWANG tidak dikenal sebagai “penuh suara berisik norak omong-kosong” oleh komunitas tetangga di pemukiman / wilayah kediaman KWANG selama di Jakarta, ternyata KWANG berhasil menorehkan prestasi positif yang patut dibanggakan karena membangun website profesi “online” yang serba “page one” di Google sehingga reputasi KWANG dikenal mendunia, tidak “jago kandang”—bukanlah suatu prestasi yang dapat diremehkan, karena persaingannya sangat tinggi oleh sebab butuh kerja keras nyata, komitmen, serta konsistensi disamping pengorbanan banyak waktu, energi, tidak terkecuali fokus perhatian. Itulah buah manis yang jauh lebih layak daripada “prestasi konyol-bodoh” seperti dengan menyandang gelar “norak berisik banyak bicara namun isinya omong-kosong sampah belaka”.
Tong kosong, selalu nyaring bunyinya—semakin kosong semakin nyaring suaranya. Adalah lebih positif mereka yang bekerja dalam senyap, tidak norak, tidak pamer, namun “low profile”. Bagi KWANG, secara akal sehat mereka yang masih sehat akalnya, menjadi seseorang yang suka bicara, gemar bicara, namun isi perbincangannya ternyata hanya “omong-kosong sampah yang norak belaka” bukanlah suatu prestasi yang patut dibanggakan, namun sebaliknya, perlu dipandang sebagai sesuatu yang sangat MEMALUKAN, alias “penyakit” mental. Mana ada orang gila yang isi pembicaraannya cerdas? Adakah?
Memang, tidak dapat kita pungkiri, akal sakit milik orang-orang tidak waras menggunakan logika tidak waras mereka yang irasional serta terbelakang. Terbukti, tetangga yang pernah mencemooh KWANG tersebut, latar-belakang keluarganya ialah dari keluarga dengan silsilah garis-keturunan darah orang “tidak waras”, dimana banyak diantara anggota keluarganya yang “ber-IQ jongkok”.
Biarlah si dungu merasa bangga dengan prestasi “norak”-nya memiliki banyak teman-teman sesama idiot dengan perbincangan penuh kebodohannya yang (justru) dipamerkan ke muka umum. Bagi KWANG, mereka hanya mempermalukan diri mereka sendiri dengan pamer pembicaraan yang “norak” disamping berisik, namun isinya tidak lain tidak bukan serta tidak lebih dari sekadar “omong-kosong sampah”. Yang sejatinya memalukan, justru si dungu merasa bangga karenanya.
Mungkin, setidaknya mereka bisa merasa eksis di dunia ini dimana mereka tidak memiliki reputasi apapun untuk dibanggakan, maka menjadi terkenal sebagai “tukang omong-kosong” yang berisik serta “norak”, mungkin sudah cukup memuaskan bagi mereka sebagai suatu prestasi daripada tidak dipandang eksis sama sekali di mata dunia ini. Contoh sederhana, setiap kali mereka pulang ke kediamannya mengendarai kendaraan bermotor roda dua, sekalipun belum tiba persis di depan pagar kediamannya, mereka selalu membunyikan klakson sembari berteriak-teriak “norak” membuat gaduh tetangga yang butuh ketenangan hidup, seolah agar mereka eksis dan bisa diperhatikan orang-orang. Selalu demikian, dan selalu “norak” berisik demikian, tanpa rasa malu (ciri khas orang tidak waras ber-IQ jongkok).
Bukankah itu artinya menyiarkan kepada dunia sekitar, betapa dangkal IQ mereka, lewat isi pembicaraan atau perbincangan “norak” serta perilaku serba berisik yang sama sekali tidak berkualitas dan lebih tergolong sebagai terbelakang disamping mempertontonkan perilaku ala “sampah untuk dibuang ke tong sampah”?
Ternyata, bagi orang-orang jahat yang sekaligus “sakit mental”-nya, pamer kebodohan serta kedangkalan berpikir mereka menjadi semacam prestasi membangkan itu sendiri bagi mereka—dan bagi mereka itu tidaklah konyol, sementara orang-orang cerdas yang membangun prestasi intelektual mereka dalam “senyap” dan tidak kasat-mata dianggap sebagai “kuper” yang “tidak keren”. Yang memalukan bagi orang waras, ternyata adalah “tidak keren” bagi mereka yang tidak waras. Sebaliknya, yang membanggakan bagi orang-orang tidak waras, adalah hal yang memalukan bagi orang-orang waras—semisal bertelanjang tubuh tanpa busana sembari berjalan di depan jalan yang ramai warga.
Thomas Alfa Edison memiliki hak paten atas ribuan penemuan yang dilakukan olehnya sebelum kemudian menemukan penemuan besar bernama lampu bohlam pijar yang membawa banyak manfaat penerangan bagi dunia. Dirinya bahkan semula dianggap sebagai siswa yang bodoh, sebelum kemudian dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya.
Edison tidak menghabiskan waktunya untuk “omong-kosong” ala perbincangan “norak” orang-orang “norak” yang “jongkok IQ-nya”, namun untuk menghabiskan waktunya dengan eksperimen seorang diri dan melakukan berbagai penemuan di laboratorium pribadinya. Yang pada gilirannya terbukti sebagai “si bodoh”, siapakah sebenarnya pada akhirnya?
Kini, siapa yang tidak mengenal Thomas Alfa Edison serta prestasinya yang bermanfaat bagi dunia? Namun, mereka, para “norak” dengan prestasi “omong-kosong” mereka yang konyol itu, adakah diantara mereka yang berhasil menorehkan prestasi mendunia dan dikenal oleh dunia selain dikenal secara sempit oleh lingkungan pemukiman mereka sebagai orang-orang “norak” yang konyol dan selalu penuh “ucapan sampah” yang mereka banggakan secara bodohnya tersebut?
“Sukses tidak selalu datang dari tangan-tangan yang kuat, tetapi bisa datang dari tangan-tangan yang lemah yang mampu bermain dengan baik.” (Anonim)
Bila menjadi sukses maka akan mengundang komentar negatif orang-orang yang iri hati dan dengki, namun kesemua itu tidak menghalangi orang-orang sukses untuk tetap menjadi sukses, terutama bila itu hanyalah celaan dari orang-orang dungu yang bangga akan “pamer kebodohan” mereka dengan “suara berisik perbincangan norak yang konyol penuh sampah omong-kosong”.
“Sukses tidak hanya monopoli orang-orang pintar, tetapi mereka yang bersedia bekerja lebih, membuat perencanaan yang matang, dan bertahan dengan keuletan.” (Anonim)
Siapapun dan semua orang tanpa terkecuali, dapat dengan mudah membuang-buang serta menghabiskan waktunya untuk hal-hal tidak berguna seperti kumpul-kumpul dan pesta “omong-kosong” yang “norak” alias “nyampah kata-kata” maupun “nyampah waktu”.
Namun, sebaliknya, tidak semua orang bersedia ataupun mampu untuk menderita melakukan proses pembelajaran dan bekerja, untuk berkarya, untuk melakukan eksperimen atau suatu proses “try and failure” yang membutuhkan komitmen, konsistensi, serta keseriusan disamping pengorbanan waktu dan tenaga?
Apakah ada diantara Sobat yang pernah melihat seorang progammer hebat yang selama ini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kumpul-kumpul “ngolor-ngidul” tidak bermafaat dengan isi perbincangan “norak” yang tidak bermanfaat?
Orang-orang dungu memang dikodratkan untuk tidak memiliki prestasi apapun di mata dunia ini. Mereka menjadi dungu, akibat perilaku mereka yang gemar dan bangga membuang-buang waktu untuk “omong-kosong” yang tidak bermanfaat, bukan karena dilahirkan dalam kondisi dungu. Mereka yang merendahkan martabat mereka sendiri dengan merasa bangga dapat memamerkan kebodohan mereka sendiri di mata publik.
Sebagai penutup ulasan pengalaman pribadi KWANG yang mungkin sharing ini bermanfaat bagi Sobat-Sobat sebagai sumber perbandingan serta inspirasi nyata, maka kita cukup tersenyum saja bila mendapat celaan dan cemoohan dari orang-orang dungu dengan “mental sakit” dan “akal sakit” mereka yang merasa bangga dan berprestasi sebagai seorang “norak yang penuh kata-kata berisik sampah dan omong-kosong”. Toh, orang yang masih punya otak juga akan memiliki penilaian yang sama seperti KWANG terhadap perilaku keseharian mereka.
Orang yang mampu tersenyum pada hari sialnya adalah orang yang ‘hebat’.” (Anonim)
Berikut inilah RAHASIA dari KWANG : Ketika kita mendapat pujian sebagai telah menghasilan karya yang “hebat” oleh orang-orang cerdas, waras, serta berbobot dari karakter dan nilai-nilai kemanusiaan, maka pujian tersebut telah cukup membayar lunas segala rasa letih, pengorbanan, serta segala usaha kita. Kita tidak pernah butuh pujian maupun pengakuan dari orang-orang “konyol” yang bangga dengan sifat “dungu berakal sakit” milik mereka tersebut, seperti kata peribaha klasik yang masih tetap relevan sampai sekarang ini, sebagai berikut:
Habis gelap, terbitlah terang. Kesedihan tidak akan berlangsung selamanya, karena buah kebahagiaannya pasti akan datang pada si penanamnya.”
Menanam “omong-kosong”, hanya akan dapat menuai “omong-kosong”. Bila si dungu berpikir dengan menabur “omong-kosong” dapat menuai “prestasi” yang membanggakan dan positif, itu sama artinya bagai “si keledai mengharap terbang ke Bulan, bagaikan pungguk merindukan Bulan”.
Pernahkah Sobat menemukan tokoh terkenal yang selama ini menghabiskan waktunya untuk mengobrol “omong-kosong” yang pamer betapa norak dirinya, dan betapa konyol “nyampah kata-kata” dari dirinya?
Bill Gates tidak dikenal ketika dirinya menyendiri di garasi rumahnya menyusun program komputer, namun ketika buah manis hasil kerjanya dikenal banyak orang dan mendunia, sang Bill Gates yang pada akhirnya tersenyum puas. Bandingkan dengan mereka yang banyak atau kerap menghabiskan waktu untuk ngobrol-ngobrol dan kumpul-kumpul dengan isi perbincangan penuh “omong-kosong”, adakah satu pun diantara mereka yang kini patut dikenal dan dikenang namanya?
Jadilah tersohor dan kesohor atas prestasi yang positif serta cerdas, bukan atas prestasi “banyak bicara namun minim aksi”. Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA