Tidak Perlu Malu menjadi seorang Introvert, Kecerdasan Intrapersonal Bukanlah Penyakit, justru adalah Kelebihan dari Karakter Unggul

By SHIETRA - February 03, 2020

Tidak Perlu Malu menjadi seorang Introvert, Kecerdasan Intrapersonal Bukanlah Penyakit, justru adalah Kelebihan dari Karakter Unggul

Siapa juga diantara kita, yang belum pernah merasakan sakitnya hati dan lukanya perasaan karena di-bully? Bahkan, sudah disakiti dan dirugikan oleh pelaku kejahatan, masih juga diperlakukan secara melecehkan oleh lontaran kata-kata sang pelakunya.
Namun, yang paling terpenting untuk kita tanyakan pada diri kita ialah, apakah komentar serta pendapat ataupun lontaran kata-kata kasar, melecehkan, fitnah, dan kata-kata jahat sang pelaku terhadap kita, adalah kata-kata yang perlu kita pusingkan?
Satu fakta tambahan, yang kerap melakukan atau melontarkan komentar bullying, terutama di dunia sosial-media (terutama) maupun di dunia nyata, ialah mereka yang bertipe ekstrovert. Karenanya, bagi Sobat yang berkepribadian ekstrovert, berhati-hatilah dengan ucapan lidah maupun “ujung jari” Sobat.
Ada pepatah menyebutkan, yang “hidup dari lidah akan mati karena lidahnya sendiri”. Rata-rata orang yang meninggal “bunuh diri” akibat bullying, adalah mereka yang bertipe ekstrovert juga. Sebaliknya mereka yang bertipe introvert, tidak “kepo” sehingga juga tidak mau pusing komentar orang lain.
Orang jahat, sebagaimana namanya, hanya mampu berisi ucapan kata-kata yang bila tidak jahat, maka akan berisi rangkaian kata-kata yang buruk, busuk, fitnah, memutar balik fakta, melecehkan, menista, hingga kasar dan melukai perasaan korbannya alias bullying itu sendiri.
Karenanya pula, kita tidak perlu memusingkan semua komentar, pendapat, ataupun kritik dari semua orang yang berjumpa dengan kita (seolah kita “kurang kerjaan”), terlebih orang-orang yang tidak benar-benar mengenal kondisi dan seluruh keadaan latar-belakang kehidupan kita, bukankah demikian? Siapa yang bisa lebih mengenal dan mengetahui seluruh hidup kita, selain diri kita sendiri?
Masalahnya, orang-orang introvert cenderung berlatih di tempat tertutup, tidak “pamer” (show off) layaknya mereka yang ekstrovert. Begitu juga, prestasi akademik maupun prestasi kerja dan prestasi ilmiah kaum introvert, kadang tidak dikumandangkan ke publik, namun senantiasa “low profile”, sehingga kerap dicibir kaum ekstrovert sebagai tidak produktif juga tidak berprestasi layaknya orang-orang ekstrovert yang selalu akan memamerkan segala hal tentang dirinya kepada seluruh dunia jika perlu.
Karena segala pencapaian dan prestasi atau hasil kerja kaum introvert demikian tertutup, tidak mengherankan bila karenanya kaum introvert kadang didiskreditkan oleh lingkungan hidupnya yang tidak mengenal betul latar-belakang serta kehidupan sang introvert.
Bagi kaum introvert, mampu mengenal diri sendiri mulai dari kelemahan dan kekurangan diri, adalah prestasi. Sebaliknya, bagi kaum ekstrovert, mampu bicara banyak dan banyak teman adalah prestasi, sekalipun mereka gagal mengenal dirinya sendiri dan teman sekadar “ada saat bersenang-senang namun menghilang saat benar-benar sedang dibutuhkan”.
Berikut salah satu pengalaman pribadi KWANG saat masih duduk di bangku sekolah menengah di Indonesia. Ada teman KWANG yang suka bermain bola di lapangan milik sekolah. Ketika ia terjatuh saat bermain bola dan tangannya patah, teman-teman bermain bolanya tidak ada satupun yang membantunya pergi ke klinik sekolah. Teman-temannya semua itu tetap asyik dan sibuk bermain bola dengan senangnya, tidak punya empati terhadap sang teman yang terjatuh dan patah tangannya.
Alhasil, KWANG-lah yang kemudian mengantarkan dan menemani dirinya menuju klinik sekalipun KWANG saat itu dijuluki “kuper”. Toh, pada akhirnya ia terbantu oleh seorang “kuper”, bukan oleh teman-temannya yang serba ekstrovert. Itulah pembuktian nyata oleh KWANG, bahwa banyak teman itu tidak selamanya ideal. Sahabat sejati bisa jadi justru berasal dari seorang introvert, bukan ekstrovert.
Pernahkah juga kita mengalami keadaan menyedihkan, tatkala kita telah banyak berkorban dalam hidup, telah banyak menderita, telah banyak mengalah, serta telah banyak bersikap baik, masih juga kita dikritik serta dicela oleh orang-orang terdekat kita seperti tetangga, komunitas kerja atau sekolah, atau bahkan oleh sanak-keluarga kita sendiri?
Ada terdapat dua jenis pelaku kritik atau si pemberi celaan, yang perlu kita perhatikan—sehingga bukan substansi kritik atau celaan itu sendiri yang menjadi fokus perhatian kita. Yakni: 1.) orang-orang bijaksana; atau 2.) orang-orang tidak bijaksana alias orang-orang dungu yang tebal kekotoran batinnya.
Bahkan, suatu ketika sebagaimana pernah KWANG alami sendiri, seorang pencopet yang gagal mencopet dompet milik korbannya, bahkan lebih galak ketimbang sang korban ketika sang korban menyadari ulah sang pencopet dengan segala aksi manipulatif bersama dengan rekan-rekan persekongkolannya hendak mencoba mencopet barang milik KWANG yang melintas di atas jembatan penyeberangan orang di Jakarta, Indonesia.
Lihatlah, bahkan pelaku kejahatan bisa lebih jahat dan lebih galak daripada korbannya. Mereka marah, karena sang korban menggagalkan aksi kejahatan si pelaku, sehingga kejahatan dan niat jahat si pelakunya tidak membuahkan hasil—yang mana ternyata membuat tersinggung dan marah pelakunya. Korban yang justru disalahkan oleh pelakunya.
Bukankah itu fenomena yang lucu? Setidaknya, itulah pengalaman pribadi KWANG sebagaimana kerap terjadi selama KWANG tinggal dan tumbuh besar di sebuah negeri bernama Indonesia. Tampaknya, Indonesia kekurangan orang-orang introvert, karena gagal dalam satu hal terpenting sebagai seorang manusia, yakni : introspeksi diri (kecerdasan intrapersonal).
Ilmu pengetahuan tentang psikologi perihal Kecerdasan Emosional maupun Kecerdasan Intelektual telah membagi jenis-jenis karakter manusia secara garis besar, yakni ada yang bersifat introvert juga ada yang ekstrovert. Keduanya tidak bersifat yang satu lebih unggul daripada yang lainnya, namun masing-masing memiliki kelebihannya masing-masing. Ada pula dikenal istilah seperti “kecerdasan intrapersonal” serta mereka yang memiliki kecerdasan “kecerdasan interpersonal”. Kita tidak dapat menyebut yang satu lebih baik dan lebih unggul daripada tipe manusia lainnya.
Karenanya, mereka yang mengkritik orang-orang bertipe introvert yang memiliki “kecerdasan interpersonal”, dapatlah kita sebut sebagai seorang pengkritik dan pencela yang “dungu”, terlampau bodoh karena untuk pengetahuan tipe manusia paling mendasar seperti itu pun, tidak diketahui olehnya. Diri sang pengkritik seyogianya terlebih dahulu perlu bersekolah, sebelum merasa berhak untuk mengkritik dan mencela orang lain—sehingga sejatinya memperlihatkan pada dunia, betapa bodoh intelektual dirinya.
Banyak diantara para koruptor di Indonesia, yang memiliki banyak jejaring teman-teman dan kolega. Relasinya demikian luas, namun ternyata korupsi. Ada pula tokoh-tokoh agama yang hanya suka menyepi, menyendiri, dan meditatif, apakah itu suatu keburukan ataupun suatu “dosa” untuk lebih banyak mengamati perilaku dan berkomunikasi dengan diri sendiri untuk lebih mengenal diri kita sendiri? Sang Buddha tidak mencapai pencerahan dengan pergi ke pasar-pasar yang ramai pengunjung, namun duduk bermeditasi seorang diri.
Sekali lagi, si dungu hanya akan lebih menyukai pengelabuan diri seperti “banyak teman”, “banyak relasi”, “sering bergaul”, “sok sibuk di luar rumah”, “pulang pergi dengan kendaraan sehingga tampak sibuk”, “suka pamer” (agar tampak eksis), hingga “suka hangout”, sementara itu kegiatan-kegiatan seperti introspeksi diri, meditatif, ret-ret, ibarat hanya untuk orang-orang yang “kurang pergaulan” alias “kuper”?
Apakah penting, menghiraukan kritik atau celaan hingga hinaan dari orang-orang dungu, bahkan celaan yang dilontarkan oleh orang-orang jahat dan buruk moralnya? Sama bodohnya dengan menghiraukan ujaran dan kata-kata orang yang tidak waras, maka kita tidak pernah perlu menghiraukan kata-kata orang “gila”, agar tidak ikut menjadi “gila” dibuatnya. Namanya juga orang gila, ya maklumlah jika ujaran serta kata-katanya tergolong “sinting” serta “tidak punya malu” (akibat gagal introspeksi perilakunya sendiri), untuk apa juga perlu kita hiraukan.
Bahkan, seorang Buddha pun mungkin masih juga dikritik dan dicela sebagai “kurang pergaulan”, tidak punya teman, miskin, menggelandang, berpakaian lusuh dari bekas kain kafan pembungkus mayat, sukanya menyendiri, bertetangga dengan hewan di hutan, dan lain sebainya. Lihatlah, bahkan Sang Buddha pun masih dicela sebagai orang yang “kuper”.
Namun, sejatinya banyak dewa-dewi maupun para naga yang kerap mengunjungi Sang Buddha maupun para Arahat untuk mendengarkan pembabaran khotbah pemutaran roda Dhamma—hanya saja si manusia dungu tidak mampu untuk melihatnya semata karena tidak punya kesaktian Jhana Samantha, tanpa mau menyadari bahwa komunitas pergaulannya lebih sempit daripada seorang Buddha dan Arahat.
Di Thailand, pernah hidup seorang Bhikkhu bernama Ajahn Mun (kakek guru Ajahn Brahm), yang dikenal karena sekalipun menjadi “bhikkhu hutan” dhujangga yang mengasingkan diri dengan cara tinggal di hutan dan hanya makan satu kali sehari, dirinya seringkali dikunjungi ribuan dewa dan naga yang bermaksud mendengarkan ceramah Dhamma.
Si dungu, dan orang-orang bodoh lainnya, tidak akan pernah mau memahami bahwasannya Ekstrovert, dalam buku Psychological Types karya tokoh psikolog Carl Jung, didefinisikan sebagai orang-orang yang senang berada di tengah kekerumunan banyak orang. Mereka yang ekstrovert pada umumnya memiliki keinginan yang kuat terhadap pengalaman baru yang menarik, hubungan sosial dan kesempatan memimpin—kadang membuat mereka merasa tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, bahkan tidak mengenal siapa dirinya sendiri.
Sementara itu, introvert didefinisikan sebagai orang-orang yang lebih suka menyendiri dalam beberapa kegiatan kreatif, seperti membaca atau menggambar. Mereka bukannya anti-sosial, hanya saja si introvert ini merasa lebih cocok bergaul pada lingkup sosial yang lebih kecil. Mereka memiliki empati dan pertemanan akrab dan kuat dengan segelintir orang saja.
Ada pula ambivert, yakni mereka yang memiliki karakter ekstrovert dan introvert. Menurut Susan M. Henney, profesor bidang psikologi dari University of Houston-Downtown, orang-orang ekstrovert bisa saja stres atau kesal jika orang lain tidak menyukai atau berkomentar pada hal yang mereka unggah. Ini menjadi salah satu penanda mereka dihargai dan diakui. Dampak negatifnya, menurut pengamatan KWANG, mereka yang bertipe ekstrovert cenderung menghendaki “bunuh diri” ketika mendapati diri mereka di-bully pada media sosial (medsos, cyber bullying).
Apakah situasi tempat kerja favorit Sobat adalah ruang terbuka? Jika “ya”, maka kecenderungannya ialah bertipe ekstrovert. Mereka yang ekstrovert merasa lebih semangat bekerja di tempat terbuka, dimana mereka bisa ngobrol dan berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, kondisi semacam itu justru membuat para introvert cemas dan tidak produktif.
Memutarkan musik atau video dengan keras di area publik, berarti Sobat senang berbagi kegiatanmu dengan orang lain. Tidak peduli apakah orang lain suka atau tidak, atau bahkan terganggu, sehingga cenderung egoistik tanpa mampu memahami perasaan orang lain. Sebaliknya, tipe introvert, sekalipun tanpa “low profile” tidak mencari perhatian orang lain, mereka seringkali sangat memperdulikan kondisi serta perasaan orang lain seperti memperhatikan kegiatan kita agar tidak membuat gaduh yang mengganggu tetangga yang bisa jadi sudah lanjut usia sehingga bisa terganggu oleh suara berisik dan gaduh selama di lingkungan pemukiman padat penduduk.
Menjadi pendiam, sebagai introvert, adalah hal yang wajar. Sebaliknya, seorang ekstrovert menjadi pendiam, berarti siksaan. Mereka yang mencoba mengkritik seorang introvert sebagai “kuper”, sama artinya tidak berpendidikan.
Orang-orang ekstrovert senang berada di keramaian. Sementara orang-orang introvert merasa ketenangannya terganggu dalam lingkungan yang banyak orang. Semakin lama berada di keramaian, mereka yang introvert akan merasa tambah parah.
Orang-orang bertipe introvert tidak membenci orang lain dan mereka juga tidak akan keberatan diundang ke suatu acara atau bepergian ke tempat terbuka yang ramai. Hanya saja, mereka yang introvert lebih suka berada di lingkungn sosial yang lebih sempit.
Bila terdapat pihak-pihak yang merasa karakter introvert sebagai inferior dibanding manusia lain, maka dapatlah kita “kritik balik”, bahwasannya orang-orang bertipe ekstrovert menyerupai “monyet liar” yang tidak pernah diam, selalu melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan celotehannya yang berisik dan konyol, tidak bisa diam sekalipun sudah ditegur karena “berisik” (bahkan berisiknya “norak”).
Akibat celaan orang-orang ekstrovert yang “norak”, timbullah pandangan-pandangan seperti berikut: “Saya memiliki kepribadian introvert. saya memiliki ke inginan untuk berubah. Tapi saya tidak tau cara untuk memulainya.” Mengapa harus berubah? Mengapa tidak hidup sebagai diri sendiri apa adanya? Apakah buruk, menjadi seorang introvert? Hanya seorang dungu, yang mengatakan dan mencibir sifat introvert sebagai buruk.
Berbanggalah menjadi seorang introvert, ketimbang seorang ekstrovert yang terkadang “norak” (tanpa mau menyadari banyak orang yang sejatinya terganggu oleh sifat norak suka pamer suara dan ujaran-ujaran konyol milik mereka, alias kadang atau bahkan seringkali “tidak punya rasa malu”), hingga menggemari aktivitas tidak produktif seperti membicarakan gosip, rumor, dan tetek-bengek tidak bermanfaat lainnya, dan mengganggu ketenangan orang lain dengan suara penuh gaduh ataupun teriakan-teriakan “narsistik” (seperti “Gua baru dari ...” dengan suara keras dari depan rumah sehingga semua tetangga mendengarnya) yang mengejutkan tetangga. Simak pendapat lain dari pada yang lain berikut ini:
“Gw tergolong introvert... dimana gw lbh mencintai keramik rumah dibanding keramik mall ^^ #jernihberkomentar.”
Mungkin saja orang-orang ekstrovert memiliki banyak teman, eksis di dunia nyata maupun medsos. Namun, perihal kebahagiaan hidup, orang-orang introvert selalu lebih unggul diatas orang-orang esktrovert yang hidupnya selalu “serba penuh syarat” (seperti baru bisa happy bila bisa mengobrol dengan teman-teman, hangout, mengobrol di kafe dengan kawan-kawan, eksis di medsos, dsb). Orang-orang introvert, sangat minim kata “syarat” untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Pilih yang mana?
Orang yang ekstrovert adalah orang yang mengambil energi dari luar dirinya. Sehingga keluarannya, orang ekstrovert lebih terbuka kepada orang lain, mudah bergaul dan biasanya periang. Ketika dia memiliki masalah maka dia akan menyerap energi dari orang-orang di sekitarnya, bisa melalui ngerumpi, menggosip, jalan-jalan dengan teman, atau kegiatan apa saja yang berhubungan dan bersentuhan secara langaung dengan orang lain—sehingga sangat menyerupai sebuah “lubang hitam” yang menghisap segala di dekatnya.
Sebaliknya, orang yang introvert kontras dengan tipe orang sebelumnya, yakni orang-orang yang mengambil atau menyerap energi dari dalam dirinya sendiri, sehingga keluarannya adalah pendiam, suka kelihatan murung, tidak mudah bergaul dan biasanya bicaranya juga sangat sedikit sehingga tidak terlalu terbuka dengan orang lain. Itu disebabkan dia menyerap energi dalam dirinya. Jadi kalau ada masalah, biasanya orang ini akan lebih suka menyendiri, mengurung diri di kamar, tidak suka diganggu, atau bermeditasi.
Dan satu hal yang perlu diingat, dalam kepribadian manusia, tidak ada benar dan salah, yang ada itu setiap tipe-tipe kepribadian memiliki kelebihan dan karakteristik uniknya masing-masing. Mereka yang menghendaki atau bahkan memaksakan keseragaman, adalah ciri perilaku “sakit”.
Bukan berarti karena orang introvert pendiam atau istilahnya “kuper” jadi serba selalu dikatakan / di-cap jargon sebagai “orang bermasalah”, mengingat kadang-kadang kita butuh mengasingkan diri untuk menenangkan diri sejenak. Dan bukan berarti orang ekstrovert itu benar karena lebih terbuka. Tapi tipe ini juga ada kelemahan, mudah terpengaruh orang orang lain dan kadang menjadi sangat tergantung dengan orang lain, apa-apa harus diputuskan oleh orang lain, dll, sehingga menjadi beban tersendiri.
Sebagai tambahan, kedua tipe ini bisa jadi ada pada satu orang. Tetapi yang membedakannya adalah kecenderungannya, dan pasti ada kecendungannya, apakah itu menuju introvert atau ekstrovert. Mereka yang ekstrim ekstrovert, itulah yang berbahaya, karena tidak akan pernah memahami watak seorang introvert.
Yang menarik dari kesemua itu, Sang Buddha memiliki salah satu julukan, yakni “ia yang tidak lagi dapat dicela oleh para bijaksana”. Artinya apakah? Untuk apa juga kita menghiraukan celaan dari orang-orang dungu yang tidak bijaksana?
Karenanya, tang terpenting ialah pertanyaan berikut: yang mengkritik kita itu adalah tergolong orang bijak ataukah bukan? Jika orang tersebut justru adalah orang-orang “gila yang bahkan juga jahat”, tentu saja responsnya justru akan marah ketika kita protes karena telah dirugikan dan seketika melontarkan kata-kata yang mendiskreditkan kita secara “bodoh”.
Karena KWANG EARRINGS adalah teman terbaik mu! 😊
Sumber Referensi:
https:// lifestyle. Kompas .com/read/2018/02/18/121400720/tipe-introvert-atau-ekstrovert-dilihat-dari-kebiasaan-di-media-sosial?page=all. Penulis : Nabilla Tashandra.
https://www.kompasiana.com/ferry-silitonga/55002ff2813311e118fa720d/tipe-tipe-kepribadian-3 

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA