Ciri dan Tanda Orang JENIUS, Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan Tinggi yang Sering Tidak Disadari, Mungkin Kita Termasuk Salah Satunya

By SHIETRA - March 23, 2020

Ciri dan Tanda Orang JENIUS, Kebiasaan Orang dengan Kecerdasan Tinggi yang Sering Tidak Disadari, Mungkin Kita Termasuk Salah Satunya
Ini adalah foto ASLI, tanpa rekayasa. Percayakah, ukuran bunga ini tidak lebih besar dari kuku jari orang dewasa?

Ada kabar baik untuk sobat-sobat pembaca, yakni untuk mengetahui kita adalah seorang “jenius” atau tidaknya, tidak harus selalu berupa tes IQ seperti lazimnya tes IQ konvensional yang alat ukurnya sangat dangkal untuk mampu menilai keseluruhan kepribadian maupun potensi diri seseorang.
Mengetes orang lain, adalah sangat lancang, karena bagaimana mungkin kita menguji kemampuan dan kedalaman orang lain lewat alat ukur yang dangkal berupa alat tes IQ yang menyerupai penggaris setinggi 30 cm? Itu namanya menghakimi dan penghakiman. Namun, kita bisa meng-assessment diri kita sendiri dengan membandingkan ciri-ciri kebiasaan perilaku kita dengan pola kebiasaan pada umumnya dari orang-orang “jenius”.
Para pengusaha yang sukses, memiliki kebiasaan rata-rata yang sama satu sama lain dengan pengusaha sukses lainnya. Ilmuan yang sukses, juga punya kebiasaan yang sama dengan ilmuan sukses lainnya. Demikian pula olahragawan yang sukses dengan atlet sukses lainnya, hingga pendidik yang sukses dengan pendidik sukses lainnya, punya pola kebiasaan unik yang seolah menjadi “template” bagi kaum semacam mereka.
Mengetes diri sendiri lewat pencocokan tabiat atau sifat karakter seseorang, dengan tipikal kebiasaan / watak seseorang yang “jenius”, masih jauh lebih bisa kita andalkan dan lebih mudah diterapkan, bahkan untuk kita melakukan “self assessment and evaluation” secara mandiri dan swadaya.
KWANG mengenal seseorang yang tergolong “jenius”, karena dirinya ternyata memiliki kebiasaan atau karakter sama dengan mereka yang tergolong “jenius”. Refleksi berikut adalah uraian ciri-ciri seseorang yang memiliki kebiasaan “seorang jenius”, dan yang paling penting ialah telah KWANG verifikasi tingkat akurasinya dengan kebiasaan hidup ataupun karakter pribadi kenalan KWANG tersebut.
Yuk kita coba simak bersama sekaligus menilai diri kita sendiri dari kesamaan atau tidaknya dengan diri kita sendiri.
Pertama, ialah orang-orang “jenius” tidak pernah memandang dirinya sendiri sebagai orang cerdas. Dirinya bahkan menilai bahwa dirinya “bodoh”, sehingga kerap merasa rendah percaya diri, sekalipun potensi diri mereka sangat besar, yang mana sebab keduanya ialah mereka kerap dianggap “aneh” dan mereka pun menilai diri mereka memang “aneh” daripada orang lain pada umumnya.
Sangat tidak suka didikte. Semisal ketika orang jenius tidak ingin berbicara, menjawab, ataupun menanggapi, namun dirinya dipaksa dan terpaksa untuk bicara, maka dirinya merasa sedang dimanipulasi oleh orang lain, dan seketika dirinya merasa tidak aman serta tidak nyaman.
Suka mencoba membaca isi pikiran lawan bicaranya. Jangan coba-coba berdusta kepada orang jenius, mereka tidak mudah dibodohi. Satu dua patah kata yang didengarkan olehnya, sudah cukup baginya untuk menyiratkan makna implisit maksud dibalik lawan bicaranya. Sisi kelebihannya, orang-orang jenius kerap dapat mudah mencium gelagat niat buruk orang-orang yang tampilan dan sikap luarnya menampakkan baik-baik saja.
Suka Begadang. Ada dorongan alamiah dari dalam dirinya untuk seolah-olah “buta” waktu hingga pada akhirnya waktu telah begitu larut malam, dan sekalipun mengetahui telah lewat tengah malam, tidak jarang aktivitas tetap dilakukan olehnya, dan kian hari kian menjadi rutinitas.
Melamun. Sebagian besar waktu orang-orang jenius, habis untuk aktivitas satu ini, yakni : melamun. Tiada tujuan pasti dari kegiatan yang tidak disadari ini, muncul begitu saja, topiknya pun muncul dan silih berganti tanpa disortir oleh si pelamun, sekadar dievaluasi apa yang muncul dalam benaknya, atau ketika berfokus pada suatu hal maka akan muncul berbagai lamunan untuk mengembangkan ide tersebut secara abstrak hingga dapat “disentuh” secara lebih real di dalam pikiran.
Meja berantakan. Sebetulnya bukan hanya meja yang berantakan, namun juga kamar tidur dan sebagainya. Sebetulnya tidak ada tujuan tertentu secara khusus dari keadaan berantakan ini, yang tentu mengundang banyak keluhan dari anggota keluarga lainnya. Sudut pandang dan cara berpikirnya memang lain dari orang kebanyakan, dan itulah salah satunya.
Mandi air dingin, sekalipun punya fasilitas pemanas air di rumah, baik mandi pagi maupun pada mandi sore hari. Mungkin tanpa disadari, dorongan kebiasaan satu itu dilandasi oleh warisan kesadaran batin dari proses evolusi manusia untuk bisa survive. Kita ketahui, manusia zaman dahulu kala jarang sekali menikmati kemewahan seperti mandi air hangat, namun sifat “sedikit tuntutan dalam hidup” adalah bagian dari “survival of the fittest” yang tampaknya diwarisi sebagai bagian dari naluri insting orang-orang jenius.
Suka berbicara sendiri, sekalipun dirinya punya daya kemampuan berpikir secara abstrak. Sebetulnya itu adalah proses dari latihan diri, semacam amplifier diri. Cara ini juga sering digunakan untuk mencoba mendidik diri, meyakinkan diri, memperbaiki diri, melatih diri, mengevaluasi suatu topik atau fokus perhatian. Terkadang, sekalipun pandai berpikir abstrak, namun untuk bersuara secara abstrak sangat sukar sekali rasanya.
Karakter eksplisit berikutnya sering disebut sebagai seorang “pemalas”, meski menurut kenalan dari KWANG penyebutan demikian kurang tepat, yang lebih tepatnya ialah “bergerak dengan cara agak lambat” karena dirinya menekankan kehati-hatian dan pernuh pertimbangan dalam setiap gerak langkah tubuh dan keputusan yang akan dibuat olehnya. Meski, ada benarnya untuk hal-hal yang dirasakan tidak bermanfaat olehnya, namun tetap bergerak untuk apa yang memang menjadi tanggung-jawabnya.
Penuh keraguan dengan diri sendiri. Seperti yang telah disinggung paling awal, orang jenius tidak pernah memandang diri mereka cerdas, bahkan sebaliknya, sebagai orang “bodoh”. Mereka sering mengkritisi diri sendiri dan merasa heran betapa “bodoh”-nya diri mereka sendiri, dan ada kalanya rendah percaya diri, skeptis terhadap diri sendiri, dan seolah diri kita tidak memiliki sumber daya diri yang memadai.
Penuh dengan Rasa Ingin Tahu. Terkadang, ketika suatu proyek yang dikerjakan belum menemui solusi atau belum menampakkan hasil dan terkendala, dirinya hampir dapat dipastikan akan mencari solusinya hingga larut malam ketimbang menunda hingga esok hari. Meraka merasa, tidak tenang bila menemukan pemecahannya, dan terkadang kebiasaan ini membuat frustasi karena pola hidup terkait waktu kadang menjadi kacau.
Suka membaca dan suka menulis. Bagi orang-orang jenius, terkadang pendidikan formil di sekolah maupun perkuliahan jauh lebih tidak efisien dan tidak seefektif belajar sendiri. Orang jenius pun sering menggunakan jemari tangannya untuk menulis, baik secara manual maupun menuangkan tulisan lewat keyboard pada komputer.
Tertantang untuk melampaui batas diri sendiri. Mungkin akibat rasa ingin tahu, sejauh apakah kita mampu untuk berbuat, dan potensi tersembunyi apa lagi yang kita miliki. Bisa jadi juga akibat watak khas tipikal seorang jenius, yakni MUDAH BOSAN, sehingga selalu mencoba hal baru serta membuat prestasi rekor baru, meskipun untuk hal-hal sederhana ataupun suatu tujuan imajiner visioner yang hendak dicapai.
Sarkastik. Bila ada orang-orang luar menilai orang-orang jenius bersikap sarkastik, itu karena diri mereka sendiri telah terbiasa bersikap keras terhadap dirinya sendiri. Mereka tidak suka membuat kalimat berbunga-bunga bagi orang lain yang dinilai olehnya lebih layak diberi sebutan secara eksplisit alih-alih secara diplomatis. Bagi mereka, tiada yang lebih mewakili sikap jujur selain berbicara secara terbuka, sekalipun wujudnya kadang berupa ujaran secara sarkastik. Seorang bajingan selalu layak disebut bajingan, dan mengherankan bila seorang bajingan hendak diberi penghormatan dengan sebutan lain.
Kesulitan untuk bersosialisasi dengan komunitas ataupun orang-orang yang baru dikenalnya. Pada dasarnya timbul berbagai pertanyaan pada benak orang jenius, sebelum melangkah lebih jauh untuk terlibat pada pertemanan ataupun perkenalan dengan orang lain. Bila orang kebanyakan memilih langsung “nyemplung”, orang-orang jenius cenderung bersikap analitis dan mengamati.
Eksentrik atau aneh, yang sering dianggap orang lain sebagai “gila”. Orang-orang jenius sangat khas dengan apa yang disebut sebagai sikap “cuek”. Mereka berpikir, sepanjang tidak mengganggu dan merugikan orang lain, maka orang lain tidak punya hak untuk mengomentari ataupun mengganggu kehidupan maupun tentang dirinya. Itulah sebabnya, orang-orang jenius kadang bersikap seolah-olah tiada orang lain dalam dunia di sekitarnya sehingga sikap perilaku dan penampilannya kadang “aneh” yang mana orang lain bisa saja melakukannya tatkala sedang seorang diri namun orang-orang jenius berani melakukannya sekalipun tidak sedang seorang diri.
Kritis. Itulah sifat yang paling menonjol dari orang-orang jenius. Mereka bulan seorang “penelan” apa yang disuapkan oleh orang lain, mereka seorang “pencerna” dan memutuskan sendiri apa yang hendak mereka telan dan percayai. Sesuatu, bagi mereka untuk dikaji ulang, bukan untuk ditelan mentah-mentah.
Pemikir yang abstrak. Biasanya berupa ide-ide baru, pengujian hipotesis, pengembangan gagasan, proses berpikir kritis yang membutuhkan skema alur yang sama sekali belum terpola sebelumnya dalam imajinasi di dalam ruang kepala, hingga merekonstruksi sesuatu yang baru sama sekali dan seringkali tidak terpikirkan oleh orang kebanyakan, sekalipun sifatnya terkadang sederhana saja. Orang-orang jenius tidak jarang berkomentar dalam dirinya, bagaimana mungkin selama ini orang-orang tidak menyadari dan tidak mengetahuinya apa atau jawaban ataupun analisa yang sudah ada disana sedari awal?
Menolak segala sesuatu yang sifatnya rutin (mudah bosan). Bila Sobat tergolong karyawan yang suka keluar-masuk perusahaan ganti tempat kerja, Sobat bukanlah seorang “kutu loncat”, karena bisa jadi Sobat terlampau jenuh dengan hal yang sifatnya prosedural rutin, tiada perkembangan bagi bakat dan potensi diri Sobat. Hal-hal baru dan ingin terus berkembang, itulah naluri seorang “jenius” yang khas.
Introvert yang sangat khas Introvert. Itulah yang kerap disalah-artikan oleh orang lain terhadap orang-orang tergolong “jenius”, sebagai anti-sosial, kurang pergaulan, aneh karena suka mengurung diri, tidak suka keramaian, pendiam, penyendiri, bahkan tidak jarang di-diskreditkan oleh lingkungan komunitas pendidikan, komunitas kerja, lingkungan tempat tinggal, bahkan oleh anggota keluarganya sendiri.
Sering menyalahkan dan mengkritisi diri sendiri. Orang-orang jenius bila dinilai sarkastik terhadap orang lain, itu keliru besar. Orang-orang jenius lebih sering mengkritik dan menyalahkan dirinya sendiri yang dianggap “bodoh” oleh dirinya sendiri, terutama ketika melakukan kesalahan yang dinilainya “konyol”. Karena terbiasa mengkritik diri sendiri, maka tidak heran bila sesekali waktu dirinya mengkritik orang lain yang “kelewat bodoh” untuk dicela secara sarkastik akibat dorongan emosional “betapa bodohnya orang satu itu”.
Lebih suka memilih berjalan kaki, sekalipun memiliki kendaraan pribadi. Entah mengapa, mungkin bagian dari naluri peninggalan evolusi manusia untuk bertahan hidup (survive) seperti yang telah kita bahas sebelumnya, orang-orang cerdas lebih suka memilih berjalan kaki. Sebagai contoh kenalan KWANG, dirinya sekalipun memiliki kendaraan pribadi, namun selalu memilih untuk berjalan kaki berkilo-kilo meter jauh jaraknya menuju dan dari tempat kerja ke rumahnya.
Orientasi terhadap waktu, terkadang sangat buruk. Mungkin diakibatkan kebiasaan untuk berfokus pada sesuatu hal yang ia kerjakan, sehingga tidak sadar waktu. Dan kalaupun sadar akan waktu, seringkali disiplin dirinya soal manajerial waktu di malam hari, sangat buruk.
Cara berpikirnya suka “meloncat-loncat”, sehingga seringkali sukar diikuti orang lain yang mendengar penuturannya. Menurut kenalan KWANG, dirinya kerap dianggap bodoh dan dikritik oleh para guru maupun dosennya karena cara berpikirnya yang suka “melompat-lompat” dari satu topik ke topik lain yang sukar diikuti oleh orang lain. Ternyata, dirinya tidaklah bodoh, namun itulah kesalah-pahaman orang lain atas tabiat khas orang-orang jenius.
Orang Jenius tidak takut Mengakui dan Mengatakan "Saya tidak Tahu". Orang yang jenius biasanya dengan mudah mengenali kelemahan dan ketidaktahuan dirinya sendiri (kecerdasan intrapersonal khas Introvert). Meskipun begitu, bukan berarti ia enggan untuk bertanya pada suatu waktu bila tidak menemukan jawaban suatu pemecahan masalah.
Menurut kenalan KWANG, dirinya tidak jarang ditertawakan karena dianggap tidak tahu tentang hal-hal sepele yang bagi orang banyak dianggap sebagai pengetahuan umum. Orang jenius bukan artinya tahu segalanya, itulah yang kerap disalah-artikan orang banyak.
Sering Khawatir. Kadar khawatirnya, cenderung berlebihan, dan kurang rasional. Kecemasan ini kadang begitu membuat orang-orang jenius terobsesi dan berfokus pada kekhawatirannya, ketakutannya, dan kecemasannya. Setelah berkutat cukup lama mengkhawatirkan hal-hal yang sejatinya tampak remeh sepele bagi orang lain, akhirnya dirinya membuat suatu terobosan yang cukup inovatif, sekalipun tidak sepenuhnya mampu menyingkirkan kekhawatiran dalam benaknya.
Orang jenius sering menyendiri (Individualistis). Sebagai seorang introvert, itulah ciri khas paling mendasar dari orang-orang jenius. Mereka selalu mencoba mengandalkan dirinya sendiri daripada merepotkan orang alin, itulah sebabnya mereka lebih terbiasa berkomunikasi dan menggali ke dalam dirinya sendiri alih-alih menjadi seorang ekstrovert. Kecerdasan intrapersonal kaum jenius tergolong tertinggi dari kaum lainnya.
Orang jenius memiliki perasaan yang lebih dalam (perasaannya sensitif dan sentimentil). Jangan sembarangan bicara ataupun memperlakukan orang-orang jenius, sekalipun tampak dari luar dirinya ringkih, namun mereka adalah tipe manusia yang tergolong sentimental dan sensitif perasaannya, sehingga orang-orang jenius tidak semata membuta pada logika, namun juga perasaannya peka sekali. Hati-hati, orang-orang jenius mudah tersinggung!
Hampir semua orang cerdas mampu merasakan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Bisa dibilang ia memiliki empati untuk peka akan orang lain. Hal ini bisa jadi adalah bagian dari EQ (Emotional Intelligence). Karena itulah, teori klasik yang mengkotak-kotakkan antara IQ dan EQ, sudah tidak lagi relevan. Orang-orang ber-IQ tinggi kurang menonjol sehingga kurang tenar dan kurang terkenal namanya, semata karena sifatnya yang introvert tulen, bukan karena EQ yang lemah. Dirinya mampu membaca emosi yang muncul dibalik benak orang lain, sekalipun hanya menjadi pengamat dari jarak jauh.
Mampu melihat dan memikirkan sesuatu yang tidak biasa. Terkadang mereka suka berpikir, bagaimana mungkin, selama ini orang-orang tidak pernah tahu hal ini atau tidak menyadarinya, padahal sangat mudah bagi dirinya untuk sampai satu hal tersebut dalam alam berpikirnya.
Terkadang pelupa, sehingga tidak heran mereka suka menulis apapun ide atau hal yang terpikirkan olehnya untuk dapat dibaca kembali olehnya sewaktu-waktu di kemudian hari. Coret-coretan di atas kertas menjadi kebiasaan dan menu sehari-hari. Catatannya bisa menumpuk di atas meja kerjanya, dan dibiarkan mengendap beberapa waktu lamanya sebelum kemudian ide-ide yang dituangkan secara coret-coretan tersebut digarap kembali jika mereka merasa idenya telah matang dan siap dikembangkan.
Tidak suka basa-basi, dan merasa tersiksa bila harus membuang waktu untuk basa-basi seperti “seremonial” atau mendengar pidato yang dinilai olehnya sebagai “sampah yang membuang-buang waktu dan tidak produktif”. Karenanya, orang-orang jenius tidak pernah suka pendidikan formal yang begitu formalistik, kaku, dan belum tentu bermanfaat baginya. Orang-orang jenius lebih suka menekuni dan mempelajari sesuatu yang dirasakan penting baginya.
Selektif dalam memilih teman. Seorang jenius selalu adalah seorang pemilih dalam hal komunitas, pertemanan (lingkungan pergaulan), maupun soal kepada siapa dirinya akan menjalin persahabatan secara lebih dekat. Namun menurut kenalan KWANG, dirinya sama sekali tidak pilih-pilih soal makanan ataupun gaya hidup, bahkan tergolong sangat amat sederhana, super hemat, dan tidak banyak menuntut terlebih merepotkan orang lain.
Imajinasi yang “liar”. Namun, yang membedakan orang jenius dan orang “gila”, sekalipun cara berpikirnya abstrak, namun orang-orang jenius selalu mampu “back to reality”, berbeda halnya dengan orang-orang “kurang waras” yang tidak lagi mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi.
Punya pandangan lain soal Tuhan. Orang-orang jenius sangat tidak konvensional. Bagi orang-orang jenius, Tuhan bukanlah sosok yang menyerupai personifikasi seseorang manusia yang bisa marah, banyak tuntutan, murka, suka dan benci pada sesuatu, terlebih bila disamakan dengan perangai atau watak orang. Bagi orang-orang jenius, sekalipun Tuhan ada, sifatnya hanya sebatas “agnotis”. Bagi mereka, hukum alam adalah simbolisasi Ketuhanan itu sendiri.
Sangat rasional dan empirik. Jangan heran bila orang-orang jenius selalu “membumi”. Mereka akan selalu meminta bukti dan klarifikasi, bukan seorang “penelan”, namun seorang “pencerna”. Dirinya seorang skeptis, bukan seorang “believer”. Mereka lebih percaya pada dirinya sendiri daripada berusaha diyakinkan oleh orang lain atas apa yang disebut sebagai “kebenaran” dan apa itu “fakta”.
Mampu berempati. Itulah yang paling menarik dari fakta karakter orang-orang jenius, yang selama ini dikenal individualis dan introvert, namun untuk hal-hal berbau derma atau kegiatan sosial, mereka bukanlah orang yang kikir, dan jauh dari itu sekalipun mereka tidak suka mempertunjukkannya kepada orang lain, dan lebih memilih berdana sebagai “anonim”. Orang-orang jenius sering kali seorang “low profile”, dimana empatinya disalurkan atau diekspresikan lewat cara-cara yang implisit sehingga sukar dideteksi oleh orang lain (namanya juga “low profile”).
Ternyata, terdapat korelasi antara kecerdasan emosional yang tinggi (EQ) dan IQ yang tinggi dalam penilaian psikologis, itulah fakta paling menarik yang mendobrak teori lama tentang pemilahan kecerdasan. Orang pintar bisa dengan mudah merasakan apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain yang diamati olehnya. Semakin tinggi skor seseorang dalam sifat empati, semakin tinggi pula skor seseorang dalam sifat pemahaman verbal maupun bahasa tubuh yang efektif.
Empati diyakini merupakan bagian dari kecerdasan emosional terikat langsung dengan pemahaman yang merupakan bagian dari kecerdasan kognitif dalam memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sekaligus (simultan). Sebaliknya, orang-orang ekstrovert sekalipun memiliki jejaring pertemanan yang luas, acapkali tumpul dalam hal ber-empati. Orang-orang introvert, cenderung sangat berhati-hati terhadap perasaan orang lain dan terutama PERASAANNYA SENDIRI.
Itulah fakta kontemporer yang paling menarik, banyak orang menilai bahwa antara IQ DAN EQ adalah dua hal yang terpisah, faktanya dalam ilmu IQ dikenal tipe manusia jenius berupa “kecerdasan intrapersonal” serta “kecerdasan interpersonal” yang tidak lain bersinggungan dengan Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan, seseorang ber-IQ tinggi juga cenderung memiliki SQ atau Spiritual Quotien yang juga tinggi.
Jeli dalam mengobservasi. Orang biasa cenderung berbicara untuk membuktikan siapa mereka, tapi orang cerdas adalah kebalikannya. Alih-alih membual tentang prestasi atau memberi tahu orang lain betapa benar pendapatnya, orang cerdas dan jenius biasanya pendiam dan jeli. Mereka juga dapat sangat jeli mengobservasi sesuatu dan membuat kesimpulan yang tepat.
Low profile, alias punya pengendalian diri yang baik. Mengapa orang-orang jenius, rata-rata kurang terkenal? Mereka bukanlah terlampau sedikit jumlahnya di dunia ini, namun mereka terlampau “low profile”. Bagi mereka, bukanlah ketenaran yang mereka kejar, namun prestasi dan pencapaian diri lewat pembuktian terhadap diri sendiri, bukan mengejar pengakuan dari orang lain.
Memorinya jangka pendeknya kurang baik, meski kepandaian meng-index segala sesuatu dalam otaknya sangat canggih. Kecanggihan yang paling mumpuni dari orang-orang jenius, bukan dalam hal kepandaian daya mengingat, namun daya mengasosiasikan segala sesuatunya dan kepandaian dalam hal “index”. Mungkin kinerja neuron-neuron penghubung dalam otak mereka bekerja menyerupai mesin pencari yang menggunakan sistem kerja pencarian dalam “index”, begitulah mereka melihat dunia ini dalam segala sesuatunya, sebuah “index” raksasa. Cara mereka melihat dunia inilah, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan.
Mengenali kekurangan diri. Itulah yang membuat orang-orang jenius selalu memberi stigma kepada dirinya sendiri sebagai orang yang “bodoh”, gagal, tidak mampu, tidak kompeten, buruk, dan lain sebagainya. Tidak jarang mereka menjadi frustasi dengan dirinya sendiri. Mereka tidak pernah berlebihan dalam berbangga diri atas pencapaian mereka.
Orang yang sangat cerdas tidak berusaha bertindak seolah-olah mereka tahu segalanya. Orang cerdas akan tahu batas kemampuannya dan bisa mengakui kekurangannya. Jika mereka tidak dapat melakukan sesuatu, mereka tidak mencoba dan bertindak seolah-olah mereka bisa.
Suka menyendiri. Bila Sobat memiliki kenalan yang suka menyendiri, selalu menolak diajak “hang out” ke luar rumah, maka jangan buru-buru menilainya sebagai anti sosial. Mereka memang suka berjalan seroang diri daripada membiarkan nasib dan pendiriannya berada di tangan orang lain. Mereka orang yang independen dan soliter dalam segala sesuatunya. Namun bukan artinya mereka meremehkan orang lain, mereka hanya mencoba berlatih untuk mengandalkan diri mereka sendiri.
Penelitian tahun 2016 yang diterbitkan dalam British Journal of Psychology menunjukkan bahwa orang yang lebih pintar cenderung lebih suka menyendiri. Orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi, kemungkinan besar memiliki tingkat kepuasan hidup yang rendah ketika ditempatkan dalam situasi sosial yang ramai.
Tidak mudah terpengaruh. Semakin kita mencoba meyakinkan mereka, semakin mereka skeptis. Mereka seorang “pelawan arus”. Bukan karena mereka arogan, namun itulah “insting” bawaan naluriah orang-orang jenius. Mereka selalu menggunakan “tanda tanya” ketika mendapati dirinya coba dipengaruhi pihak luar: “Ada apa ini?”
Sensitivitas tinggi. Ciri anak jenius satu ini sering disalah-artikan orangtua yang tidak menyadari kondisi anaknya, terutama ketika kedua orangtuanya tergolong memiliki kecerdasan rata-rata, maka pendekatan terhadap anak tipe satu ini perlu sangat hati-hati. Anak jenius seringkali tidak suka keramaian, mereka akan sebal mendengar suara berisik atau berada di tengah banyak orang. Mereka akan menarik diri, lebih suka sendirian dan terlihat malu-malu. Ingat, mereka mudah TERSINGGUNG.
Kebanyakan orangtua kemudian membawa anak mereka ke psikolog untuk mendapatkan terapi sosial. Padahal, anak jenius menjadi sensitif karena saraf sensori mereka yang tidak mampu menampung stimulasi yang bersamaan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendefinisikan anak jenius atau berbakat dengan patokan tingkat kecerdasan (IQ) mencapai angka 140 ke atas. Namun itu hanyalah alat ukur semata, mirip seperti penggaris, sepanjang apapun penggaris itu, tidak akan mampu mengukur kedalalam “a person”, seorang manusia yan demikian dalam dan kompleks, kecuali untuk mengukur orang-orang dangkal yang memang mudah untuk “diukur” watak tabiat dan perangainya. Namun, tingkat IQ tidak permanen, dapat bertumbuh dan sebaliknya.
Mereka memiliki ciri-ciri khas yang jika tidak disadari, justru seringkali dianggap sebagai pembangkangan, nakal, dan hal negatif lainnya. Dr. Wendy Hirsch Weiner, pendiri dan Kepala Sekolah Conservatory Prep Schools, sekolah khusus anak jenius di Florida, mengatakan bahwa salah satu ciri anak jenius adalah mereka bisa menyelsaikan masalah yang dihadapi, seterbatas apapun sumber daya yang mereka miliki (kreatif).
Kepada situs The List, Wendy mengatakan bahwa sebagian anak jenius bisa memecahkan masalah meski informasi yang mereka terima sangat minim. “Mereka sangat pandai menganalisa masalah, mengumpulkan konsep dan ide, kemudian menghubungkannya satu sama lain untuk mendapatkan solusi,” kata Wendy.
Masalahnya adalah, anak jenius seringkali juga salah persepsi dan keliru menafsirkan loncatan logika yang bermain di kepala mereka, loncatan logiknya terlampau “berani” sekalipun kurang relevan, sebagai bagian dari pembelajaran mereka yang gemar mengekplorasi berbagai kemungkinan.
Anak jenius jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding anak rata-rata normal. Hal ini membuat anak jenius sulit memiliki teman. Istilah gaulnya, mereka “tidak nyambung” dengan teman-teman seusianya, dan mereka sadar betul akan hal itu. Karenanya, merasa terkucilkan dan terisolasi dalam lingkungan pergaulan, sudah menjadi menu sehari-hari anak-anak jenius, namun itu jugalah yang membuat mereka kuat dan tegar tanpa banyak menuntut dalam hidup.
Mereka punya pemikiran yang berbeda. Jika bercanda, mereka akan mengeluarkan candaan cerdas yang tidak semua orang paham. Ini sebabnya anak jenius sulit punya teman, meskipun mereka secara naluriah ingin punya teman,” kata Wendy.
Jika anak jenius membuka percakapan, anak dengan kecerdasan rata-rata mungkin merasa terintimidasi karena dikira sarkastik, sehingga anak-anak lain cenderung menjauhinya. Ini ciri anak jenius yang sering disalah-pahami orangtua.
Anak jenius justru tidak peduli nilai. Mereka tidak mengejar pengakuan ataupun prestasi setinggi-tingginya. Mereka tidak peduli apakah akan menjadi juara kelas atau tidak. Buat mereka, proses lebih penting daripada hasil akhir.
Ini yang bikin mereka dianggap anak bermasalah di kelas. Guru-guru seringkali tahu bahwa anak ini bisa mendapat nilai tinggi, tetapi mereka tidak melakukannya. Alasan yang paling sering diungkapkan adalah, karena mereka tidak merasa perlu menjadi juara dan bosan mengejar prestasi sesaat,” kata Wendy.
Mereka juga seringkali justru dianggap lamban. Anak jenius cenderung tidak bisa menjawab langsung pertanyaan untuk mereka. Mereka membutuhkan waktu untuk menjawabnya karena mereka selalu ingin punya jawaban sempurna,” jelas Wendy. Menurut kenalan KWANG, dirinya mengakui seseorang yang “lamban” dalam segala sesuatu kecuali apa yang telah ia kuasai betul.
Menurut kenalan KWANG, sulit sekali baginya untuk percaya adanya ujian sekolah berupa opsi pilihan 4 jawaban untuk 1 soal, karena menurutnya jawabannya bisa sangat beragam dan tidak terbatas. Dirinya kesulitan jika harus dipaksakan dan memaksakan diri pada opsi yang tidak masuk akal baginya, karena dirinya bisa melihat banyak hal lain diluar apa yang ditawarkan atau didiktekan jawabannya oleh orang lain.
Mereka tidak pandai berbasa-basi. Anak jenius sulit mengobrol yang ringan-ringan. Karena tingkat kecerdasannya, mereka menyukai isu kompleks dengan sangat mendalam yang membutuhkan perenungan dan introspeksi ilmiah secara mendalam. Mereka kadang kebingungan ketika harus berbasa-basi, sehingga orang lain akan menganggapnya aneh atau bahkan “jutek” dan “pelit (dalam) berbicara”.
Bisa menjadi terobsesi dengan hal yang mereka sukai. Anak jenius bisa sangat fokus menggali hal-hal yang menarik perhatian mereka. Mereka akan punya banyak pertanyaan yang mungkin tidak terpikir oleh anak lain,
Wendy memberi ilustrasi, salah satu muridnya yang jenius sangat tertarik dengan sejarah seni. Lalu ia menggali informasi dan melakukan riset sendiri tentang perbedaan karya seni Vincent van Gogh sebelum dan setelah ia memotong telinganya. “Jika sudah terobsesi pada satu hal, anak jenius sulit menghentikan pikirannya,” kata Wendy.
Mereka sering takut dengan pikirannya sendiri. Saking cerdas dan kreatifnya, mereka seringkali ketakutan karena berpikir terlalu jauh dan dalam. Anak jenius  banyak yang mengalami kecemasan, stres, dan depresi karena mereka berpikir terlalu kreatif, dan sukar mencari teman bicara untuk berbagi pemikiran karena isi pikirannya demikian kompleks dan abstrak untuk dapat ditangkap dan dipahami oleh orang lain. Isi kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan yang kadang menakutkan dirinya sendiri.
Misalnya, ketika diberi tahu untuk berhati-hati saat menyebrang jalan, anak jenius akan memilih tidak menyebrang setelah berpikir mereka akan berada di dalam bahaya jika mungkin saja sebuah mobil mengebut dari ujung jalan.
Ini yang harus diwaspadai orangtua. Mereka bisa saja menganggap Si Anak lebay atau berlebihan. Sebenarnya, mereka perlu dibantu untuk diluruskan pikirannya,” kata Wendy.
Orang jenius ternyata sering mengabaikan detil. Anak jenius lebih suka menggali pemahaman abstrak dan mencari makna dibalik sebuah peristiwa. Mereka, akan mengabaikan detil-detil kecil yang menurut mereka tidak penting.
Contohnya, anak cerdas rata-rata akan mengetahui nama tokoh di cerita kartun Lion King. Namun anak jenius tidak akan mengingatnya. Mereka akan memahami arti cerita dan menemukan pesan tersembunyi di dalamnya. Ini yang membuat mereka sangat berbeda.
Yang menarik, menurut pengakuan kenalan KWANG, ternyata dirinya hampir tidak pernah menaruh perhatian pada nama tokoh-tokoh dalam film yang disaksikan olehnya, dan selalu kesulitan ketika ditanyakan siapa nama tokoh dalam film serial yang sering disaksikan olehnya. Dirinya bahkan tidak pernah mau repot-repot mencoba mengingat nama-nama tokohnya, namun dirinya sangat cepat menangkap alur kisah dan makna implisit dibaliknya. Bukan nama tokohnya yang penting untuk dingat, demikian menurut kenalan KWANG.
Mereka sering salah memahami instruksi. Karena tidak peduli sama hal-hal remeh, anak jenius sering tidak memahami instruksi sederhana. Mereka akan tampak kebingungan dan membangkang. Padahal, mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan dan merasa instruksi sederhana adalah membuang waktu saja. Menurut kenalan KWANG, dirinya pun memiliki masalah serupa. Inderanya sangat selektif menangkap dan merekam memori, yang dinilai tidak perlu saat itu, difilter sedemikian rupa sehingga tidak pernah tercantum dalam index memori otaknya, sehingga pada akhirnya merasa “terjebak” sendiri oleh permainan “penting dan tidak penting”, suka meremehkan “tetek-bengek” sementara orang lain menuntut hal tersebut.
“Contohnya, jika guru menyuruh murid untuk mengumpulkan tugas di meja kelas, anak jenius tidak akan melakukannya. Mereka tidak suka mendapat perintah untuk hal yang masuk akal, biasa, dan sudah semestinya. Guru dan orangtua yang tidak menyadari potensi Si Anak, akan menganggap mereka bandel, bukan jenius,” kata Wendy.
Bicara “blak-blakkan” alias “to the point, sehingga kerap membuat orang lain merasa tersinggung, dipermalukan, dan di-“telanjangi”. Stop basa-basi, langsung ke intinya saja, dan bicara tanpa membuat pengecohan, pengelabuan, terlebih manipulasi, itulah yang harus kita lakukan ketika berbicara kepada orang jenius.
Tidak perduli dengan gelar akademik formil. Baginya, bila masyarakat kita sudah tidak lagi menilai orang lain berdasarkan gelar akademiknya, maka ijazah dan gelar akademiknya akan dibuang untuk selamanya. Ia tidak dapat mengerti, mengapa ada orang lain yang mengejar gelar akademik, dan mengapa juga orang lain menilai orang lain dari gelak akademiknya.
Suka menggunakan bahasa formal. Sering dianggap bodoh karena cara berpikirnya demikian abstrak sehingga sukar dipahami oleh orang lain karenanya dianggap bodoh oleh orang lain. Solusinya, orang-orang jenius mengembangkan bakat tambahan berupa kebiasaan berbicara dan menulis secara berbahasa formal. Dirinya amat menghindari bahasa “prokem” yang tidak formal, sekalipun terhadap kenalannya sendiri. Mereka juga jarang menulis dengan kata-kata singkatan, karena ia akan paham orang lain bisa jadi salah memahami. Menurut rekan KWANG, ciri mudah mengenali orang jenius, lihat bagaimana mereka mengetik dan mengirim kita pesan teks SMS maupun chatting via WhatsApp / LINE, mereka tidak pernah menggunakan istilah atau kata-kata singkatan, satu kata pun tidak, dimana semuanya tertulis UTUH dan SEMPURNA tanpa ada penggalan huruf akibat singkatan, begitu pula struktur kalimat dan paragrafnya, sangat formal, sekalipun terhadap saudara ataupun teman dekat sendiri.
Sering merasa heran mengapa orang lain tidak mampu berpikir seperti itu dan juga sering merasa heran mengapa dirinya sulit berpikir seperti orang lain. Orang-orang jenius merasa, hadapi orang dungu itu merepotkan dan membuat kesal. Sebaliknya, orang-orang biasa akan menilai orang-orang jenius terlampau pengkritik. Orang-orang jenius bukan juga dimaknai terampil dalam berbagai bidang, ada kalanya dirinya sama sekali tidak kompeten pada berbagai bidang, dan merasa frustasi karenanya.
Mereka justru tidak peduli nilai, atas ukur tes penguji kompetensi kecerdasan dan semacamnya. Orang-orang jenius tidak pernah terobsesi membuktikan bahwa dirinya jenius, terlebih tertarik untuk mengikuti tes IQ yang oleh orang kebanyakan dinilai sangat membuat penasaran. Pengetahuan / pemahaman akan dirinya sendiri, membuat orang-orang jenius cukup percaya diri dengan dirinya sendiri, tanpa pernah bergantung pada komentar orang lain tentang dirinya.
Mereka lebih suka apa yang ingin mereka tekuni dan pelajari, ketimbang apa yang ingin orang lain agar mereka pelajari. Menurut kenalan KWANG, ketika duduk dibangku sekolah dasar dan sekolah menengah, sebagian besar nilai akademiknya “MERAH”, dan bahkan pernah “drop out” karena tidak tertarik dengan mata pelajaran di sekolah. Barulah ketika ia berkuliah pada bidang yang ia senangi, ia memperolah skor nilai tertinggi.
Lebih suka belajar hal praktis aplikatif ketimbang teoretis, singkatnya lebih suka sambil bekerja atau belajar lewat bekerja atau belajar dari apa yang ia kerjakan. Ia tidak suka “omong kosong”, dan alergi membuang waktu untuk hal yang menurutnya “sampah”.
Siapa yang menyangka, mereka pun kerap menilai dirinya sering melakukan hal-hal konyol yang akan dan sering disesalinya sendiri dikemudian hari. Alam pikiran orang-orang jenius sangat jauh dari apa yang selama ini dibayangkan atau diasumsikan oleh orang-orang kebanyakan. Orang lain mungkin berpikir bahwa orang-orang jenius memiliki sedikit masalah. Namun sebaliknya, orang-orang jenius menilai dirinya penuh masalah dan memang bermasalah (mengakuinya tanpa berusaha memungkirinya).
Cenderung cuek, masak bodoh dengan penilaian ataupun komentar orang lain terhadap dirinya. Khas introvert, mereka berpikir komentar orang lain terhadap dirinya bukanlah hal esensial, dan mereka yang paling tahu tentang kondisi dan situasi hidupnya sendiri. Mereka selalu berpikir, bahwa dirinya tidak pernah meminta dan tidak butuh komentar orang lain tentang dirinya. Ia selalu tahu siapa dirinya sendiri.
Lebih suka mencari penyelesaian dari dirinya sendiri, daripada merepotkan orang lain. Singkatnya, ia jarang meminta tolong dari orang lain. Itulah yang membuat orang lain menilai dirinya antisosial, soliter, “solo fighter”, dan harga dirinya terlampau tinggi untuk meminta tolong pada orang lain.
Orang aneh. Saat orang diberi predikat introvert atau pendiam, bisa jadi ia memiliki skor yang tinggi saat tes intelegensi. Hal ini karena orang cerdas umumnya lebih menyadari fakta bahwa mereka bisa salah, dan karena itu tetap merasa “bodoh” untuk menilai situasi. Namun, diatas kesemua itu, orang-orang jenius tidak pernah berkelit ketika disebut sebagai “orang aneh”. “Memang”, begitu tanggapan si jenius. Mereka “aneh” bukan karena dibuat-buat, namun karena demikianlah mereka apa adanya.
Mereka tidak akan berbicara sampai mereka menemukan jawaban yang sempurna. Saat tidak ada yang lebih untuk dibicarakan, mereka akan tetap diam untuk menghindari percakapan sia-sia. Orang lain akan menilai mereka sebagai “membosankan”, dan susah diajak berpesta-bergembira, yang bagi orang jenis “itu kegiatan konyol”.
Perilakunya sering disalah-artikan atau salah dipahami oleh orang lain. Sejatinya orang jenius tidak pernah perduli penilaian oleh orang lain tentang dirinya. Terkadang, yang jadi masalah utama ialah kegagalan orang kebanyakan untuk memahami perilaku dan kata-kata orang jenius, sehingga selalu saja minoritas yang dianggap “aneh”.
Memiliki harga diri yang tinggi. Berbuat curang? Tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang jenius. Mereka memiliki harga diri yang tinggi. Jalan pintas? Bagi orang-orang jenius, mereka hidup dalam kreativitas, tidak pernah membutuhkan “jalan pintas”, karenanya mereka sering dianggap “sombong” atau “angkuh” karena demikian independen.
Kurang perduli dengan penampilan. Jangan pernah bicara perihal fashion, mereka tampil sederhana sekali, sebagaimana gaya hidup mereka yang simpel. Soal berpakaian, menurut pengakuan kenalan KWANG, dirinya tidak keberatan dan nyaman-nyaman saja mengenakan pakaian yang sama dengan yang pernah ia kenakan belasan tahun lampau! Siapa perduli, jika saya sendiri tidak perduli, mengapa orang lain yang menjadi repot menilai penampilan saya?
Menyukai kebebasan dan membenci keterikatan. Mungkin itulah sebabnya mereka terus men-“jomblo” alias bujangan yang bebas. Mereka lebih suka menjadi freelancer, ketimbang menjadi pegawai atau karyawan. Mereka lebih suka mengatur jadwal kegiatannya, daripada mengikuti instruksi baku dari orang lain tanpa kebebasan untuk merancang hidupnya sendiri.
Pemikiran yang jenius cenderung menyukai kebebasan, hal ini karena mereka suka berpikir secara bebas dan menghargai kebebasan setiap individual. Sehingga, jarang sekali yang bertahan belajar di dalam ruangan atau bekerja di kantoran yang membatasi kebebasan mereka.
Sebagai orang yang sarkastik ucapannya, orang jenius punya kemampuan yang tinggi dalam mengolah bahasa. Bagaimana tidak? Ia harus pandai-pandai menyusun kata untuk menyampaikan maksudnya secara tersirat. Mengungkapkan apapun yang ada di kepala tentunya lebih mudah daripada menyembunyikannya dalam satu kalimat yang “begitu tapi tidak begitu”. Daya kreatif dan kritis adalah dua hal yang wajib dimiliki oleh orang “sarkas”, sekalipun selalu tidak disukai oleh para pendengarnya.
Sebagai orang genius, mereka punya ketertarikan terhadap banyak hal. Karena itu, mereka mendapati diri mereka kesulitan berfokus pada satu hal karena pikirannya mudah teralihkan dengan hal-hal lain yang menggoda perhatiannya. Rasa ingin tahumu yang tinggi, membuat pikiran selalu bekerja keras, karena ini dan itu selalu membuatnya penasaran. Itulah yang membuat mereka sering tidak fokus dan jadi pelupa.
Lalu, mengapa orang jenius sulit memiliki teman?
1. Pendirian diri Jauh Lebih Kuat.
Salah satu hal yang membuat orang jenius tak punya teman lantaran mereka memiliki prinsip diri yang lebih kuat. Biasanya, orang jenius tidak akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang yang dianggap tidak penting. Misalnya pergi bermain atau nongkrong di kafe.
Main dan nongkrong adalah hobi yang kerap dilakukan oleh anak muda. Namun, di usia itu orang jenius lebih memilih untuk ke perpustakaan atau membaca. Inilah yang membuat mereka berpendirian kuat, dan tampil “lain sendiri”.
2. Tidak Punya Waktu Untuk Hidup dalam Kepalsuan.
Dalam sebuah pergaulan pasti ada saja percakapan yang berisi pergunjingan, candaan hingga penilaian terhadap orang lain. Nah, orang jenius tidak menyukai itu. Gosip? Jangan harap.
Mereka menghindari itu semua. Mereka tidak menyukai hal yang berbau kepalsuan. Oleh karenanya, berkumpul dan bermain dengan teman sebaya dianggap tak bisa diterima oleh akal sehat.
3. Lebih Sedikit Bicara dan Banyak Mendengar.
Hal lain yang membuat orang jenius lebih sering dijauhi oleh sekitar, lantaran mereka sedikit berbicara. Namun, salah satu keunggulan dari mereka adalah lebih banyak mendengar sehingga begitu paham apabila guru hingga dosen sedang menjelaskan. Tak heran, mereka sangat pintar di dalam kelas.
4. Tidak suka terlibat dalam “keriuhan” yang dibuat orang lain.
Salah satu kebiasaan sebuah gerombolan atau geng di sekolah adalah drama. Banyak hal-hal yang sebenarnya sederhana namun dibuat dramatis dalam sebuah pergaulan. Orang jenius tidak suka dengan drama. Mereka menghindar dan lebih memilih untuk menyendiri dan tidak terlibat dengan hal yang mereka anggap bodoh itu.
5. Sinis.
Satu hal lagi yang membuat orang jenius tak banyak teman lantaran mereka kerap dijauhi dan dianggap “sinis” oleh lingkungan. Sebenarnya tak semua orang jenius menghindari lingkungan. Banyak dari mereka yang ingin bergabung. Namun, lingkungan terlebih dahulu sinis terhadap mereka. Itulah alasan yang membuat mereka mundur dan memilih mulai menjaga jarak guna melindungi diri, ibarat “landak”, agar dirinya tidak dilukai.
6. Sukar bergaul dan lebih suka menghabiskan waktu dengan sendirian.
Berada di lingkungan sosial bukanlah sesuatu yang mudah baginya. Pribadi mereka yang pemikir membuat kamu lebih suka mengamati dari jauh daripada ikut masuk “nyemplung” dalam percakapan. Terlebih lagi, mereka sering tidak bisa mengikuti obrolan orang-orang kebanyakan. Mereka tidak paham, dimana letak kesenangan yang orang lain dan orang kebanyakan senangi.
Sementara orang memperbincangkan hal remeh-temeh, mereka justru menggalinya secara mendalam penuh makna. Saat orang-orang sibuk membicarakan soal dunia fashion, kamu lebih tertarik pada sains atau isu-isu sosial. Itulah yang membuat mereka terlihat seperti seorang introvert, karena kamu juga kesulitan masuk dalam interaksi sosial.
Mudah mencari hal atau kesibukan untuk dapat dikerjakan olehnya. Orang-orang jenius selalu bukan merupakan orang-orang kurang kerjaan, sebaliknya mereka adalah orang-orang sibuk meski dari luar tidak tampak sibuk dan cenderung terlihat santai. Ide-ide mereka begitu kaya, dimana setiap kali digali maka akan muncul ide-ide baru yang kadang membuat si jenius merasa kepayahan untuk mengejar dan merealisasi semua ide-idenya yang muncul. Karenanya, orang-orang jenius anti terbelenggu rutinitas harian yang monoton. Itulah tanda-tanda orang genius yang memang tidak tahan pada rutinitas yang menurutnya membosankan. Sebenarnya bukan karena sombong, namun dirinya merasa tidak bisa berkembang jika tetap dalam keadaan demikian.
Menerima kenyataan bahwa banyak yang tidak diketahui olehnya. Pasti tidak sedikit dari kita yang merasa bahwa berpura-pura mengetahui segalanya dapat membuat kita terlihat pintar. Padahal, justru dengan menerima kenyataan bahwa kita tidak lebih banyak tahu dibandingkan orang lain, justru menjadi tanda orang cerdas yang sesungguhnya. Artinya, kita tahu bahwa akan selalu ada hal yang bisa kita pelajari.
Sebuah penelitian yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa saat mengerjakan satu ujian yang sama, orang yang merasa akan mendapatkan nilai bagus justru mendapatkan nilai jauh di bawah perkiraan mereka. Sementara orang yang merasa tidak akan mendapatkan nilai yang bagus untuk ujian tersebut, mendapatkan nilai yang jauh lebih bagus.
Orang jenius berpikir secara produktif, bukan reproduktif. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah, orang yang kreatif akan bertanya, "Berapa banyak cara berbeda yang bisa saya lihat?", "Bagaimana saya bisa memikirkan kembali cara saya melihatnya?", "Berapa banyak cara berbeda yang bisa saya selesaikan?"
Orang-orang jenius punya dorongan naluriah untuk tidak melakukan plagiat, karena mereka tahu potensi diri mereka lebih dari itu. Cara-cara curang, tidak ada dikamus mereka. Karenanya, mereka yang jenius lebih cenderung jarang mencari nafkah lewat cara-cara curang ataupun yang merugikan orang lain. Karena mereka tahu bahwa diri mereka bisa hidup tanpa harus mengandalkan, menjadi beban, terlebih merugikan orang lain.
Mereka jarang berpikir "Apa yang telah diajarkan oleh orang lain tentang cara mengatasi ini?" Dalam hal ini orang jenius mampu memproduksi hasil pemikirannya sendiri daripada mereproduksi hasil pemikiran orang lain.
Mereka sering membuat hubungan antara hal-hal yang tidak terkait sama sekali. Mereka dapat memaksa hubungan di mana tidak ada sebelumnya kaitan yang saling terkait, dan membentuk pola baru yang seringkali ialah sebuah terobosan baru dalam melihat sebuah sudut pandang, sekalipun sederhana saja sifatnya. Itu terjadi, karena orang-orang jenius tidak membatasi kemungkinan sesempit cara berpikir di dalam sebuah “kotak”. Orang-orang jenius entah bagaimana, selalu mampu melihat “benang merah”-nya namun sangat sukar bagi orang lain untuk memiliki sudut pandang yang sama.
Mengkaitkan hal yang random / acak. Orang jenius ada kalanya “nyeleneh”, dalam artian mampu menghasilkan sebuah logika yang diluar pemikiran lazim pada umumnya. Yang mungkin saja tidak terpikirkan oleh orang lain. Contoh sederhananya seperti membayangkan secara imajiner, apa hubungan jendela dengan program windows. Lalu dari situ bisa mengambil kesimpulan yang memang masuk akal nan aneh, ditambah gak penting sebenarnya. Tapi, ini adalah ciri kreativitas. Pengembangan pemikiran dari hal yang sebetulnya biasa saja, menjadi sebuah ide yang tampak baru dan segar sama sekali.
Mager (Malas Gerak). Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Todd McElroy dan dipublikasikan di Journal of Health Psychology menemukan bahwa 'pemikir' tidak lebih aktif dari para 'non-pemikir' di hari yang harusnya mereka aktif, atau bekerja.
Dipercaya karena orang dengan IQ tinggi tidak mudah bosan hanya dengan mikir dan terus mikir. Berpikir macam-macam hal yang abstrak dan tidak saling relevan sekalipun, seperti sudah menjadi kebiasaan dan menu sehari-hari bagi otak mereka. Sedangkan mereka yang tidak termasuk orang yang merangsang pikirannya, lebih memilih kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik mereka.
Menyukai film parodi, dan dapat paham humor-humor yang implisit, namun tidak menyukai unsur komedi yang tidak cerdas. Film-film konyol ala Stephen Chow, yang kekonyolan filmnya cerdas dan unik, sangat disukai orang jenius, setidaknya menurut kenalan KWANG.
Dapat menebak apa yang hendak dikatakan orang lain. Mungkin ada kaitannya dengan kesukaan orang jenius untuk mencoba membaca isi pikiran lawan bicaranya. Sebuah peribahasa Belanda pernah menyebutkan: "Een goed verstaander heeft maar een half woord nodig." Artinya, orang yang pandai memahami, (cukup) membutuhkan separuh perkataan. Jika masih belum jelas, tahu berbuat apa yang diharapkan dari dia. Apakah Sobat, termasuk salah satunya?
Memahami apa yang akan dikatakan orang lain adalah tanda bahwa seseorang cerdas secara emosional. Empati terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain menandakan bahwa ia tidak hanya melihat dunia dari perspektif milik ia sendiri, namun juga dari sudut pandang orang lain juga. Ternyata, IQ berkoralasi tinggi dengan tingkat EQ seseorang.
Sering dianggap bodoh karena tidak paham pada banyak hal atau pada suatu bidang ilmu. Jenius, tidaklah dimaknai bertalenta dalam segala bidang, namun sifatnya pada bidang yang berbeda bagi masing-masing orang jenius, dan itulah yang tidak banyak diketahui orang-orang awam pada umumnya.
Khawatiran, dan kadang berlebihan sifat cemasnya atas hal-hal yang bahkan sepele sama sekali bahkan sampai dirudung ketakutan yang tidak rasional. Menurut ahli personality, Adam Perkins dari King’s College London, orang yang mudah khawatir itu lebih kreatif dan imajinatif. Hal ini karena perasaan khawatir mampu meningkatkan neurotisisme yang kemudian mengaktifkan imajinasi yang tinggi.
Penampilannya tidak modis. Cuek dengan fashion, karenanya orang-orang jenius kadang merasa ada semacam “gap” antara orang umum kebanyakan dan dirinya.
Jika kamu perhatikan orang-orang sukses seperti Steve Job, Mark Zuckerberg ataupun Bob Sadino, maka ada satu hal yang sama, yaitu cara berpakaian mereka. Mereka tampil sederhana hanya dengan kaus dan jeans, bahkan hanya menggunakan sandal. Ada satu hal yang tidak ingin ditiru banyak orang dari Einstein, yakni model rambutnya.
Hal ini karena orang jenius lebih memikirkan hal-hal yang lebih besar. Mereka tidak bersedia meribetkan dirinya dengan hal-hal kecil seperti fashion. Yang terpenting bagi mereka adalah nyaman, seorang pragmatis soal penampilan.
Tidak semua orang mampu untuk bersosialisasi dengan baik, dan cenderung pemilih. Untuk sebagian orang, hal itu justru sesuatu yang mengkhawatirkan. Akan tatapi disebutkan, rata-rata orang yang jenius memiliki kesulitan yang satu ini.
Hal ini bukan berarti mereka anti sosial. Melainkan pikiran mereka yang melakukan analisis terhadap lingkungan sekitar, lalu mengkorelasikannya. Tidak jarang hasil pemikirannya itu malah jadi mengkhawatirkannya. Namun jika mereka menemukan orang dan lingkungan yang tepat serat cocok, mereka pun tidak akan segan untuk terbuka dan bersikap akrab.
Suka menunda sesuatu hal. Tanda orang cerdas yang sering kali tidak disadari adalah kebiasaan menunda pekerjaan. Meski Anda sering merasa seperti orang bodoh jika menunda-nunda pekerjaan, hal ini justru menunjukkan kebalikannya. Catatan pending hal yang perlu dikerjakan olehnya, bertumpuk di atas meja kerjanya.
Bisa menghubungkan berbagai topik, yang bagi orang kebanyakan tidak saling relevan. Jika kita adalah orang yang cerdas, maka kita memiliki kemampuan menghubungkan sebuah topik dengan topik lain yang mungkin bagi orang lain tidak ada kaitannya dengan topik yang sedang dibicarakan. Hal ini terjadi karena orang jenius bisa melihat pola lebih cepat dibandingkan dengan orang lain.
Sebagai orang cerdas, ia yang terbuka dengan berbagai sudut pandang dan pemikiran, dapat menghubungkan topik-topik yang tidak berkaitan menjadi suatu konsep di kepalanya. Hal ini mungkin membuat diri mereka dinilai sedikit aneh oleh orang lain, namun itu adalah pertanda bahwa mereka memiliki pemikiran yang kreatif dan luar biasa.
Siapa yang tak ingin disebut cerdas? Kebanyakan orang selalu ingin menjadi orang yang lebih pintar, cerdas, dan memiliki pengetahuan tinggi. Sayangnya, banyak orang juga tidak menyadari bahwa dirinya cerdas. Apalagi, kecerdasan memang banyak jenisnya. Dengan kata lain, lemah dalam satu bidang bukan berarti membuat kita tidak mungkin cerdas. Kecerdasan adalah sebuah potensi, sifatnya laten.
Tidak Selalu Tahu. Mungkin banyak yang tergoda untuk berpura-pura mengetahui segalanya, dengan asumsi akan membuat kita terlihat lebih cerdas. Sayangnya, anggapan ini tak sepenuhnya benar. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan, orang yang berani mengkritik dirinya sendiri justru lebih cerdas. Dengan kata lain, orang cerdas menerima kekurangannya dan menjadikan itu patokan untuk belajar lebih giat. Temuan tersebut didapatkan oleh para peneliti setelah membandingkan bagaimana prediksi para siswa seusai menjalani sebuah tes. Siswa yang memiliki nilai lebih rendah cenderung mengira nilainya lebih bagus. Sebaliknya, siswa bernilai tinggi justru memprediksi nilainya buruk.
Seseorang sering mengatakan bahwa kecerdasan adalah anugerah yang diberikan untuk seseorang sejak ia lahir. Menurut para ahli, kecerdasan bisa diperoleh dari lingkungan sekitar yang secara drastis mempengaruhi keterampilan otak. Menurut kenalan KWANG, dirinya tidak terlahir dalam kondisi cerdas. Ia baru mulai “cerdas” saat menginjak umur 30 tahun-an.
Ada banyak mitos umum tentang orang cerdas, beberapa yang mungkin sudah banyak kita tahu adalah orang cerdas merupakan individu yang rajin belajar. Namun penelitian menunjukan bahwa IQ tinggi sering dikaitkan dengan kebiasaan aneh dan rutinitas yang tidak biasa. Sebenarnya sama saja ketika kita seketika dapat mengenali orang-orang dengan “down syndrome” dari mengamati penampilan luar serta kebiasaannya.
Orang cerdas tidak ikut terhadap obrolan-obrolan yang tidak berguna. Mereka selalu menjaga diri mereka dengan tidak banyak bicara, dan lebih suka terlebih dahulu mengobservasi dan menganalisa situasi. Telah diamati bahwa orang yang lebih pintar cenderung kurang berbicara kepada orang lain dengan berbagai alasan. Menurut para ahli, orang cerdas cenderung menyendiri karena mereka terlalu logis untuk membuat percakapan terus berjalan. Mereka juga lebih suka sesuatu yang produktif daripada bergosip.
Bekerja secara cerdas, bukan secara keras. Itulah ciri khas ucapan orang-orang jenius. Orang-orang cerdas tidak belajar dan bekerja sepanjang waktu sebaliknya, karena mereka sebenarnya “malas”. Karena mereka malas, mereka mencoba menemukan cara termudah untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka tanpa harus bekerja keras.
Menurut sebuah penelitian, orang-orang yang kurang aktif secara fisik cenderung lebih cerdas daripada orang-orang yang sibuk sepanjang waktu. Orang cerdas menggunakan kecerdasannya sehingga membutuhkan lebih sedikit waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Bagaimana cara membuatnya lebih efektif dan lebih efisien, itulah salah satu contoh lainnya yang kerap dilontarkan ke dalam otak orang-orang jenius.
Menggosipkan orang lain adalah hal-hal yang dihindari orang pintar. Mereka tidak suka berbasa-basi dan tidak pernah terganggu oleh apa yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, orang cerdas paling bahagia ketika mereka dibiarkan melakukan hal yang mereka sukai. Mereka bukan penyendiri, otak mereka hanya membutuhkan ruang untuk bernapas lega hingga berfungsi kembali.
Menurut Jeff Bezos, pendiri pusat perbelanjaan yang sukses di Amazon mengatakan, tanda kecerdasan terbesar adalah kemampuan untuk mengakui kesalahan dan belajar darinya. Tidak ada yang sempurna, tetapi orang yang maju untuk mengakui kesalahan mereka adalah yang paling cerdas. Secara tidak langsung, manusia cenderung percaya bahwa mereka benar dan orang lain salah. Tetapi, dibutuhkan otak yang sangat fungsional untuk memahami sudut pandang orang lain dan menemukan kesalahan pada diri sendiri.
Tidak takut sendiri, cenderung soliter. Mengapa orang-orang jenius, cenderung cerdas? Karena mereka kerap mengandalkan diri mereka sendiri ketimbang bergantung kepada orang lain. Mereka tidak pernah bosan dengan diri mereka sendiri, seperti hidup seorang diri, berlibur seorang diri, bekerja seorang diri, dan beristirahat seorang diri. Karenanya, mereka sangat sukar dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan yang buruk. Mereka menjadi “decision maker” untuk diri mereka sendiri.
Berdasarkan British Journal of Psychology, orang yang merasa cukup dengan dirinya sendiri memiliki kecenderungan sebagai orang yang cerdas. Terlebih lagi, orang yang suka berbicara sendiri juga pertanda orang yang genius. Meski sering kali mereka terlihat seperti orang yang “kurang waras”, namun mengulang-ulang perkataan dengan lantang kepada diri sendiri dapat membuat perkataan tersebut tertanam di dalam otak si orang jenius—dan kebiasaan demikian benar-benar terjadi pada kenalan KWANG, seolah sedang mendidik dirinya sendiri lewat berbicara kepada sendiri secara lisan.
Selalu menganalisis setiap kesalahan yang dilakukan olehnya, sekalipun itu kesalahan kecil dan tampak remeh-temeh bagi orang lain. Bahkan, disebutkan oleh kenalan KWANG, analisis tersebut dapat membuatnya frustasi dan terobsesi karena belum mampu mendefinisikan ataupun memecahkan masalah-masalah “sepele” tersebut, sementara orang kebanyakan pada umumnya akan cenderung memilih bersikap “masak bodoh” atau membiarkannya saja.
Ada juga sumber yang menyebutkan, orang jenius itu kemungkinan besar “jomblo” hingga dewasa, bahkan menurut kenalan dari KWANG, dirinya tidak pernah berpacaran sama sekali alias bujangan. Sedih? Tidak, dirinya enjoy-enjoy saja dengan dirinya sendiri.
Jangan sembarang menilai karakter, kebiasaan, atau perilaku orang lain. Karena bisa jadi apa yang secara umum dianggap negatif, merupakan hal yang sebaliknya. Itulah fungsinya penelitian, belajar, dan ilmu pengetahuan, agar kita mulai tahu “apa yang sebenarnya tengah terjadi”.
Beberapa ilmuwan menyatakan, ada beberapa kebiasaan buruk, yang justru mengidentifikasi tingkat aktivitas seseorang dan keterampilannya yang luar biasa, menjadi indikasi kecerdasan yang tinggi sekalipun tampak “nyeleneh”.
Sering mengkhawatirkan hal kecil. Jika seseorang sering terganggu atau terdistraksi, bisa jadi mereka mungkin lebih pintar dari orang lain. Setidaknya, itu menurut para ilmuwan. Menurut sebuah studi, semakin sulit bagi seseorang untuk tetap terkonsentrasi, semakin pintar orang tersebut. Para ilmuwan menjelaskan bahwa ini karena aktivitas otak yang tinggi memang sulit untuk dikendalikan.
Selalu merasa “enggak tahu”. Efek Dunning-Kruger adalah hasil studi Justin Kruger dan David Dunning yang menjadi ilmu klasik dalam psikologi sosial. Kesimpulannya adalah: semakin pintar seseorang, semakin dia meragukan kemampuan kognitifnya. Dengan kata lain, orang pintar enggak takut untuk mengatakan ‘Saya enggak tahu’.
Penampilan sederhana, bahkan amat sederhana (busananya ketinggalan zaman). Kamu pernah melihat orang yang cerdas dan sukses tapi penampilannya biasa saja? Ya, mereka yang dianugerahkan dengan pemikiran jenius cenderung abai akan penampilan. Pengakuan mereka bukan bersumber dari penampilan luar, namun isi kepalanya, dan mereka tahu serta sadar betul akan hal ini.
Hal ini bukan karena mereka sama sekali tidak memperdulikan penampilan. Melainkan, mereka lebih nyaman dengan sederhana yang tidak menghabiskan waktu dan merepotkan diri dengan pernak-pernik terlebih asesoris yang bagi mereka hanya merepotkan dan tidak praktis dikenakan. Wajar saja jika sehari-harinya mereka terlihat sebagai orang biasa bahkan sangat biasa-biasa saja.
Banyak orang yang bilang bahwa orang jenius punya kebiasaan aneh. Pendapat itu ada benarnya juga. Beberapa ilmuwan terkenal punya kebiasaan unik, yang menurut mereka jika kebiasaan ini tidak dilakukan maka mereka akan kesulitan saat bekerja. Kebiasaan ini sifatnya khas, unik, dan berbeda antara satu orang jenius ke orang jenius lainnya.
Ada yang pandai dibidang verbal, namun ada juga yang pandai dibisang numerik. Jenius atau ber-IQ tinggi bukan berarti berbakat / bertalenta dalam segala bidang disiplin ilmu. Contohnya kenalan KWANG tersebut, pandai dalam menyusun kalimat tertulis dalam Bahasa Indonesia, namun ternyata sangat tidak terampil belajar bahasa asing.
Yang terpenting bukanlah seberapa tinggi IQ kita, namun bagaimana kita menyalurkan sumber daya kecerdasan kita, mengalokasikan kecerdasan kita itu secara tepat guna dan efektif. IQ tinggi hanyalah sumber daya, selebihnya ialah bagaimana kita mengelola, dan menyalurkannya.
Menurut penelitian, intelegensi tinggi membuat seseorang menjadi pemimpin yang super cerdas. Namun, siapa sangka banyak orang justru tidak menyukai pemimpin yang benar-benar cerdas. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian Dean Simonton, psikolog di University of Californiam Davis, dan dua koleganya yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology edisi Juli 2017 lalu.
Sebelumnya, selama beberapa dasawarsa, Simonton mengusulkan teori tentang pemimpin cerdas. Dia menyebut bahwa pemimpin cerdas hanya bisa menyentuh "kepala" orang, tapi solusi mereka biasanya lebih rumit untuk bisa diterapkan dan bisa jadi terdengar “tidak masuk akal” atau jauh dari jangkauan. Hal tersebut membuat bawahan mereka merasa lebih sulit untuk berhubungan dengan mereka.
Untuk mendapatkan temuan ini, para peneliti melihat 379 pemimpin bisnis, baik pria maupun wanita, dari 30 negara dari bidang perbankan, ritel, dan teknologi. Para manajer tersebut kemudian diminta untuk melakukan tes IQ.
Selanjutnya, masing-masing dinilai berdasarkan gaya kepemimpinan dan efektivitas oleh rata-rata delapan rekan kerja. Para peneliti menemukan bahwa tingkat IQ berkolerasi positif dengan peringkat efektivitas pemimpin, pembentukan strategi, visi, dan beberapa karakteristik lainnya.
Peringkat puncak berada pada IQ pemimpin sekitar 120, yang lebih tinggi dari sekitar 80 persen pekerja kantor. Di luar tingkat IQ tersebut, nilai efektivitas pemimpin menurun. Para peneliti menyebut bahwa IQ "ideal", bisa lebih tinggi atau rendah, di berbagai bidang tergantung pada bagaimana pengaplikasian kemampuan teknik dan sosial dalam budaya kerja tertentu.
"Ini adalah temuan yang menarik dan mendalam," ungkap Paul Sackett, profesor manajeman di University of Minnesota, AS, dikutip dari Scientific American, Kamis (18/01/2018). "Bagi saya, interpretasi yang tepat dari temuan ini adalah menyoroti kebutuhan untuk memahami apa yang dilakukan pemimpin ber-IQ tinggi yang menyebabkan persepsi yang rendah oleh pengikut dibanding menafsirkan dengan salah, yaitu 'Jangan mempekerjakan pemimpin IQ tinggi'," imbuhnya.
Penulis utama penelitian ini, John Antonakis, menyarankan agar para pemimpin menggunakan kecerdasan mereka untuk menghasilkan kalimat yang menarik untuk membujuk dan mengilhami orang lain.
"Saya pikir satu-satunya cara orang cerdas dapat menggunakan kecerdasan mereka dengan tepat dan terhubung dengan orang lain adalah berbicara dengan cara karismatik," ungkap Antonakis, psikolog di University of Lausanne, Swiss, itu.
Benarkah, pemimpin terlalu cerdas justru tak disukai? Tidak disukai oleh siapa? Orang-orang cerdas, tampaknya paling optimal berkolaborasi dengan sesama rekan kerja yang level kecerdasannya setara.
Berbagai ciri di atas adalah cara mudah untuk mengidentifikasi kejeniusan seseorang, dan sudah KWANG verifikasi seluruhnya dengan kebiasaan atau watak dari seorang kenalan KWANG.
Tidak penting apabila memang kita bukan orang yang tergolong “jenius” alias cerdas, akan tetapi baru menjadi masalah ketika kita menjadi manusia yang hidup hanya memberikan masalah terhadap orang lain terlebih menjadi beban bagi orang lain.
Bila Robert T. Kiyosaki mengatakan bahwa “uang bukanlah sumber kejahatan, namun kekurangan uang adalah akar kejahatan”, maka intelejensi bukanlah sumber kejahatan, namun orang-orang yang merepotkan orang lain akibat kebodohan dirinya, menjadi beban, terlampau bodoh untuk mencari nafkah dengan cara-cara benar, atau bahkan mencelakai orang lain akibat kebodohannya, maka itulah dampak negatif dibalik sikap maupun daya berpikir yang “tidak cerdas”.
Uang, bukanlah iblis ataupun kejahatan, begitupula terhadap kecerdasan. Hanya tinggal bagaimana kita menggunakannya, semua ada di tangan dan menjadi pilihan pribadi kita masing-masing. Cerdas bukanlah “mimpi buruk”, namun kebodohan. Hanya orang bodoh, yang memilih untuk menanam karma buruk dan bahkan merasa aman-aman saja tanpa takut akan konsekuensinya di kemudian hari.
Tetapi bagaimana jika semua uraian di atas, hanyalah sebuah fakta yang dibuat-buat? Para ilmuwan makin banyak yang menyadari, bahwa kecerdasan sedikit karena keberuntungan berupa faktor genetika bawaan lahir daripada yang selama ini kita pikirkan. Setidaknya, keseluruh ciri-ciri kebiasaan di atas telah KWANG verifikasi terhadap seorang kenalan KWANG yang juga mengakui bahwa dirinya bisa berubah dari “bodoh” menjadi “cerdas” ketika menjelang dewasa.
Berdasarkan ulasan terakhir, pernah disebutkan bahwa sekitar 40% yang membedakan para genius dengan mereka yang kurang cerdas pada orang-orang dewasa adalah faktor lingkungan. Suka atau tidak, kebiasaan kita sehari-hari memberikan dampak kuat pada otak kita, membentuk strukturnya antar neurons di dalamnya, dan mengubah cara berpikir kita.
Satu fakta menarik yang diungkap oleh kenalan KWANG, dirinya baru memiliki kesemua ciri-ciri di atas, ketika dirinya memasuki umur 35 tahun, dan tidak memilikinya sebelum mencapai umur tersebut, ketika dirinya mulai memiliki rasa dorongan tanggung-jawab untuk hidup mandiri sehingga memulai kebiasaan baru berupa tuntutan pada dirinya sendiri untuk menjadi pandai. Setelah mengubah cara berpikir dan cara hidupnya, maka entah bagaimana ciri-ciri di atas muncul secara sendirinya seperti semacam pola naluriah.
Ternyata, kecerdasan dapat muncul saat seseorang dilahirkan, atau bisa juga baru muncul dan terbentuk lewat kebiasaan hidup kita saat beranjak dewasa. Itulah fakta paling menarik dan yang paling penting. Ternyata juga, determinasi genetik bawaan lahir, tidak selamanya menjadi “penjara” bagi seorang anak manusia.
Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😊
SUMBER RUJUKAN:
https:// www. tribunnews. com/kesehatan/2018/10/14/5-kebiasan-buruk-ini-ternyata-ciri-ciri-orang-cerdas-termasuk-yang-suka-begadang-dan-melamun
https:// www. brilio .net/kepribadian/menurut-penelitian-9-hal-ini-banyak-dilakukan-orang-cerdas-1909134.html#
https:// www. bbc .com/indonesia/vert-fut-40560992
https:// sains. Kompas .com/read/2018/01/22/183400323/benarkah-pemimpin-terlalu-cerdas-justru-tak-disukai
https:// www. suara .com/lifestyle/2019/06/11/183000/sepele-perilaku-berikut-jadi-ciri-ciri-orang-cerdas-lho
https:// jukinblog. Blogspot .com/2017/10/fakta-orang-cerdas-jenius.html
https:// 101red .com/prime/motivasi/5-ciri-manusia-jenius-berdasarkan-kebiasaannya
https:// www. popmama .com/big-kid/10-12-years-old/sandraratnasari/tanda-yang-dimiliki-anak-jenius/full
https:// www. tribunnews .com/tribunners/2017/08/03/11-ciri-orang-jenius-yang-jarang-disadari
https:// hot. liputan6 .com/read/4154563/10-ciri-orang-cerdas-dan-jenius-kenali-tandanya
https:// www. idntimes .com/life/inspiration/ganjar-firmansyah/ciri-ciri-orang-jenius-c1c2/full
https:// www. liputan6 .com/global/read/3695621/5-sifat-orang-jenius-yang-kerap-dianggap-aneh
https:// www. 99 .co/blog/indonesia/ciri-ciri-orang-jenius/
https:// riliv .co/rilivstory/karakter-orang-jenius/
https:// www. hipwee .com/motivasi/sepele-sih-tapi-8-kebiasaan-ini-semuanya-dimiliki-oleh-orang-genius-kamu-punya-nggak/
https:// netz .id/news/2018/03/15/00716-01916/1014140318/sering-kepo-dan-bangun-siang-faktanya-termasuk-ciri-orang-jenius-lho#11
https:// www. kompasiana .com/jasmine/5ac354e116835f4ac205a8a2/orang-suka-nyeleneh-pertanda-ia-jenius

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS