Bahaya Radiasi Telepon Seluler / Handphone, dan Tips Bertelepon secara Aman

By SHIETRA - May 28, 2020

Bahaya Radiasi Telepon Seluler / Handphone, dan Tips Bertelepon secara Aman

Sobat-sobat pastilah pernah melakukan “voice call” pada perangkat telepon genggam seluler milik sobat, baik ber-telepon dengan menggunakan jaringan seluler, maupun menggunakan paket kuota data seluler pihak provider. Namun, kedua cara demikian dalam bertelepon dengan menggunakan Handphone, ternyata sangat tidak dianjurkan karena ancaman bahaya dibalik radiasi.
Merasa aktivitas bertelepon dengan menggunakan perangkat telepon genggam, sudah menjadi keseharian banyak diantara kita, entah demi kepentingan bisnis dan pekerjaan atau keperluan lainnya, maka KWANG memutuskan untuk menuliskan artikel pengetahuan penting ini berikut tips-tips sederhana untuk membantu banyak diantara para pembaca guna mengatasi potensi resiko radiasi perangkat seluler genggam yang berbahaya dari segi radiasi terhadap kesehatan tubuh kita.
Terlepas pro dan kontra terhadap ada atau tidaknya radiasi sinyal seluler yang dipancarkan oleh perangkat telepon genggam kita, yang pasti KWANG benar-benar mampu manangkap sensasi adanya radiasi tersebut secara nyata ketika bertelepon dengan perangkat seluler. Sehingga, KWANG simpulkan adanya radiasi berbahaya dari perangkat seluler, bukanlah sebentuk mitos, namun benar-benar ada dan dapat kita rasakan terutama bagi yang tubuhnya cukup peka merasakan.
Yang jelas, ketika KWANG setiap kali bertelepon dengan handphone, daun telinga KWANG akan menjadi panas seperti terbakar akibat radiasi sekalipun handphone tidak dalam kondisi tertempel rapat di telinga (alias ada sedikit jarak). Sinyalemen kedua, adanya sensasi kepala pusing setelah selesai bertelepon, dimana rasa pusing terjadi terhadap separuh bagian kepala tepatnya pada bagian dimana handphone kita berada dekat salah satu daun telinga kita.
Logikanya cukup sederhana, jika pesawat terbang saja meminta agar penumpangnya mematikan handphone yang mereka bawa masuk ke dalam kabin pesawat, atau setidaknya handphone kita diposisikan dalam kondisi “mode pesawat” sehingga tidak dapat menerima serta menangkap jaringan ataupun sinyal seluler, maka bagaimana pula dengan otak kita yang kita ketahui bekerja berdasarkan sinyal-sinyal gelombang yang tentunya gelombang telepon seluler dapat mengganggu cara kerja saraf neurotransmitter yang sangat kecil di dalam otak di kepala kita, dimana radiasi berupa gelombang elektromagnetik maupun radiasi gelombang lainnya dari handphone kita dikhawatirkan dapat mengganggu bekerjanya sinyal-sinyal otak di kepala kita.
Saat kini, sudah sangat jarang kita jumpai orang-orang bertelepon dengan menggunakan jaringan seluler, namun secara salah kaprah mereka menggunakan paket kuota data dari provider seluler untuk bertelepon di handphone mereka, yang artinya mereka sebenarnya masih saja bertelepon dengan memakai sinyal gelombang jaringan seluler nirkabel yang artinya masih saja terpapar radiasi seluler.
Dari pengalaman KWANG bertelepon dengan memakai data internet ketika menggunakan handphone semisal lewat aplikasi WhatsApp, durasi bertelepon suara selama satu jam alias 60 menit, ternyata hanya membutuhkan data internet sebesar 20-an megabyte, yang artinya sangat kecil sehingga membeli paket data internet pada provider seluler pun sejatinya dapat digunakan untuk bertelepon berpuluh-puluh jam lewat handphone kita.
Namun tetap saja, KWANG tidak pernah merekomendasikan cara demikian. Menggunakan perangkat earphone lengkap dengan microphone-nya pun bukanlah solusi untuk mengatasi radiasi perangkat seluler, karena bagaimana pun posisi earphone berada sangat dengan gendang telinga di dalam rongga indera pendengaran kita, sehingga tetap saja membawa resiko terlukanya organ sensitif “gendang telinga’ kita ketika desibel getaran suara yang keluar dari earphone melampaui toleransi getaran hertz gelombang suara yang masuk ke dalam telinga kita, terutama bila durasi berteleponnya mencapai berjam-jam lamanya.
Cara paling ideal, ialah dengan menggunakan perangkat semacam WIFI, dimana data internet yang digunakan handphone kita bersumber dari sinyal WIFI, maka radiasi yang dipancarkan oleh handphone kita tidak akan se-dahsyat radiasi yang dipancarkan ketika menggunakan sinyal seluler—dengan catatan penting, ketika bertelepon menggunakan data internet WIFI atau router data internet nirkabel, kita perlu membuat ON “mode pesawat” pada perangkat seluler genggam kita (tujuannya agar menonaktifkan sifat seluler dari handphone kita untuk sementara. Jangan khawatir, ketika bertelepon menggunakan jaringan internet dari WIFI, maka sinyal seluler sama sekali tidak dibutuhkan. Akan tetapi akan menjadi sangat berbahaya, ketika dua jaringan ON secara sekaligus dan bersamaan, yakni jaringan seluler dan jaringan WIFI pada gadget kita, yang artinya ada dua sumber radiasi yang secara bersama-sama memancar serta mengancam berbagai organ vital dan sensitif di dalam kepala kita).
Paling ideal, menggunakan perangkat komputer atau laptop, kemudian mengakses fitur-fitur aplikasi “Voice Call” seperti yang disediakan oleh “Google Hangout”, LINE Messenger, maupun WhatsApp for Personal Computer, SKYPE, atau aplikasi sejenis lainnya, lalu menggunakan perangkat headphone ber-mikrofon sebagai sumber keluarnya suara lawan bicara untuk dapat kita dengar dan input suara kita ketika berkomunikasi. Namun, berjam-jam di depan layar komputer, tidak ramah terhadap mata kita.
Maka, yang kemudian seringkali dilakukan KWANG ialah bertelepon dengan cara sebagai berikut. Posisi volume suara lawan bicara ketika saling bercakap-cakap lewat telepon, ialah diposisikan pada posisi paling FULL maksimum. Dengan cara demikian, kita tidak perlu benar-benar mendekatkan perangkat genggam kita dalam posisi dekat telinga, namun dapat dibuat jarak sekitar satu jengkal. Tidak perlu khawatir dengan kualitas suara kita apakah akan terdengar atau tidak oleh lawan bicara dalam posisi berjarak satu jengkal, karena kualitas handphone “low-end” zaman kini telah sangat sensitif dan akan dapat menangkap suara dari mulut kita dengan sangat akurat serta jernih oleh lawan bicara kita “di seberang” sana.
Paling ideal, sebenarnya menggunakan fitur internal perangkat genggam kita yang bernama “loud speaker” pada perangkat seluler kita ketika berkomunikasi suara. Namun, seringkali sekalipun suara lawan bicara kita terdengar begitu jelas membahana seluruh ruangan, akan tetapi akan terdapat semacam gema (echo) yang akan akan tertangkap oleh lawan bicara kita atas suara mereka sendiri yang seperti “echo” atau gema memantul—dimana kadang cukup mengganggu lawan bicara kita. Kedua, kita kadang perlu berteriak-teriak untuk dapat terdengar jelas oleh lawan bicara kita, karena posisi handphone kita tidak mungkin dekat dengan kepala kita (karena bisa merusak gendang telinga jika terlampau dekat kepala kita dalam posisi fitur “loud speaker” sedang ON).
Sebagai penutup, berikut tips-tips sederhana lain yang mungkin jarang kita sadari ketika bertelepon dengan menggunakan perangkat telepon, namun akan sangat berguna serta bermanfaat bagi para pembaca, berdasarkan pengalaman pribadi KWANG, tentunya.
Pertama, dan yang paling penting, ialah ketika memulai membuka percakapan, saling-lah melakukan “setting suara” atau “penyetelan volume” suara antara suara kita dalam suara lawan bicara kita. maksudnya bagaimana, “setel suara”? Semisal mudahnya seperti contoh berikut ini, mulanya gunakan nada suara normal ketika mengutarakan kalimat pembuka berikut : “Halo, selamat pagi Sobat-ku, apakah suara saya terdengar jelas oleh Sobat?
Ya, jelas terdengar dari sini.” Jika itu respons yang kita dapati dari lawan bicara kita, maka untuk selanjutnya jangan pernah berbicara secara berteriak-teriak, karena lawan bicara kita tidak “tuli”, dan jangan sakitkan indera pendengaran lawan bicara kita ataupun menyakitkan tenggorokan kita sendiri. Maka, itulah yang menjadi “setelan” suara kita yang paling pas bagi lawan bicara kita.
Namun, ingatlah ini selalu, ketika lawan bicara kita menyebutkan jawaban di atas, ternyata suaranya terdengar lemah atau sangat kecil “nyaris tidak terdengar” dari perangkat genggam kita, maka jangan pernah kita memberitahukannya dengan suara keras-keras seperti : “SUARAMU TIDAK TERDENGAR, TIDAK TERDENGAR! HALOO...
Mengapa kesalahan paling utama yang paling kerap terjadi dalam sesi bertelepon tersebut, tidak boleh lagi kita lakukan, dan harus kita pelajari sebagai kesalahan etika berkomunikasi lewat telepon, ialah karena yang tidak dapat mendengar jelas ialah suara lawan bicara kita, bukan lawan bicara kita yang tidak dapat mendengar jelas suara kita—sesederhana itu saja sebenarnya, penjelasannya.
Dampak yang kita harapkan justru menjadi kontraproduktif secara berkebalikan, karena kita berkata-kata dengan suara keras-keras “SUARA KAMU TIDAK TERDENGAR! TIDAK TERDENGAR! KERASKAN SUARAMU SEDIKIT!”, akibatnya lawan bicara kita akan mengambil jarak dari handphone milik mereka dan akibat selanjutnya ialah suara kita benar-benar menjadi “tenggelam” alias terdengar kecil sekali di telinga mereka.
Itulah cara saling melakukan “setel” suara yang buruk, karena pada akhirnya kedua belah pihak saling berkomunikasi via telepon secara “BERTERIAK-TERIAK” satu sama lain seperti seolah keduanya tuli dan seolah “norak-narsis”, atau bahkan tampak seperti saling berkelahi, sehingga mengundang perhatian banyak orang di sekitarnya. Itulah yang tidak jarang membuat KWANG tersenyum geli melihat tingkah salah-kaprah yang tidak perlu terjadi, bila saja kedua belah pihak melakukan “setel” suara secara sedikit lebih cerdik dari sejak semula.
Justru, ketika kita ingin membuat suara lawan bicara kita terdengar lebih jelas dan lebih keras agar jernih terdengar lewat perangkat genggam kita, cara paling efektif ialah tips sederhana sebagai berikut, yakni berkebalikan dari cara yang sebelumnya dicontohkan : kecilkan suara kita. Yup, kecilkan suara dari mulut kita. Dengan cara demikian, lawan bicara kita yang ingin dan berupaya menyimak suara kita, akan lebih mendekatkan dirinya pada perangkap genggam mereka, maka dengan cara demikian pula suara yang terucap dari bibir mereka akan dapat tertangkap jelas dan jernih oleh sensor suara pada handphone milik mereka yang pada gilirannya akan dapat terdengar oleh kita lewat perangkat genggam kita. Bukankah itu adalah logika-psikologis yang sangat sederhana?
Gunanya saling “menyetel suara” ini, agar kedua belah pihak dapat saling berkomunikasi secara nyaman, tidak terlampau lemah dan tidak terlampau keras terdengarnya, tanpa perlu harus saling berteriak-teriak mengganggu seisi rumah kita atau bahkan sampai terdengar oleh tetangga kita atau rekan kerja kita di kantor.
Itulah yang KWANG sebut sebagai etika berkomunikasi pada media telepon jarak jauh. Jangan pernah memperlakukan lawan bicara kita “di seberang” sana seolah-olah mereka “tuli” atau seolah-olah diri kita “tuli”. Itulah cara sederhana untuk dapat tetap “stay connect” secara cerdas, yang anehnya ternyata sangat jarang disadari oleh kebanyakan dari kita. Bukankah begitu?
Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS