PSIKOLOGI LIDAH. Siapa Sangka, Lidah dan Perut Memiliki Psikologi Pula?

By SHIETRA - July 28, 2020

PSIKOLOGI LIDAH. Siapa Sangka, Lidah dan Perut Memiliki Psikologi Pula

Bagi Sobat yang pernah berwisata ke Thailand, tentu tidak akan asing lagi dengan “wisata kuliner”. Yup, bisa dikatakan dari seluruh pengalaman pengguna jasa Private Tour Guide yang KWANG bawakan di Thailand, baik Bangkok dan kota-kota di sekitarnya, pasti setidaknya memburu “wisata kuliner” khas Thailand yang sebetulnya rada “asam-asam sedap”—meski, untuk sebagian peserta tour yang masih berumur belia, ternyata kurang cocok dengan citarasa rasa asam yang khas dari kuliner Thai. Maklum, pohon dan buah asam sangat melimpah ruah di Thailand, dimana ukuran buah asamnya pun sangat besar-besar, lebih besar dari ibu jari orang dewasa.
Apa yang biasanya menjadi komentar pertama paling lazim dari wisatawan mancanegara saat berwisata kuliner di Thailand? Kita tidak sedang bicara kuliner aneh semacam “belalang goreng” ya Sobat, namun konteksnya ialah masakan tradisional Thailand (Thai traditional foods). Responsnya pasti seketika itu juga “Wah, ini enak. Ingin tambah lagi. Tidak menyesal mencobanya. Recommended!
Sebenarnya, apa itu “enak”? Nah, itulah yang akan KWANG bahas dalam kesempatan kali ini. Sebenarnya, yang merasakan sensasi “enak” itu bukanlah lidah kita, bukan juga perut kita (indera pengecap tidak akan kita jumpai pada sistem saraf di lambung ataupun usus), namun ialah sinyal-sinyal yang terjadi dan timbul dalam otak di kepala kita yang kemudian memicu hormon terkait kesenagnan!
Nah, itulah kabar mengejutkan pertama yang kita bongkar. Kita tahu, ada saraf yang terhubung antara otak dan indera pengecap / perasa pada lidah kita yang sensitif terhadap rasa, mengecap aneka rasa mulai dari pahit, asam, manis, dan sebagainya. Artinya, semua panca indera kita memang sumbernya dari otak di kepala kita, sementara organ-organ tubuh termasuk lidah, hanyalah sarana belaka bagi otak untuk mengenali impuls atau rangsangan yang masuk atau menyentuh tubuh kita.
Sekarang, KWANG akan membahas rahasia kedua, yakni tentang “Psikologi Lidah”. Yup, Sobat tidak salah baca, “Psikologi-nya Lidah”. Sebenarnya, bagaimana sih cara kerja lidah kita dalam mengenali dan menentukan apa yang “enak” dan apa yang “tidak enak”?
Jawabannya sangat sederhana, dan mungkin selama ini telah sering kita rasakan namun hanya saja mungkin kurang peka dalam menyadarinya. Apa itu? Yakni, tidak lain tidak bukan “rahasia para koki pada berbagai restoran”, yaitu : GUNAKAN BUMBU YANG JARANG ATAU BAHKAN YANG SEBELUMNYA TIDAK PERNAH DIKONSUMSI OLEH MASYARAKAT YANG MENJADI KONSUMEN DAN PELANGGANNYA.
Yup, itulah kunci rahasianya, bagaimana menjalankan bisnis kuliner yang akan laku keras sepanjang zaman, yakni gunakan bumbu yang dicari dan disuplai impor dari luar negeri jika perlu. Kita, atau lebih tepatnya lidah, atau lebih tepatnya lagi otak kita, lebih suka mencoba sensasi rasa yang baru ketimbang sensasi rasa yang telah lama kita kenal sehingga tanpa kita sadari ada rasa “bosan” dan “jenuh” dengan rasa “itu-itu saja”—sehingga juga kita menjadi kurang menghargai hidangan yang keseharian telah kita cicipi dan telan.
Coba perhatikan, masyarakat dewasa di pedesaan sangat jarang meminum susu sapi, padahal orang kota membelinya dengan biaya mahal dalam bentuk susu kemasan, sekalipun susu pada peternakan di pedesaan lebih asli-murni dan lebih sagar. Mengapa bisa seperti itu? Karena masyarakat di pedesaan mungkin sudah “BOSAN” minum susu sapi. Namun, bisa jadi masyarakat pedesaan suka bila disuguhkan “susu mix cappucino”, padahal basisnya sama-sama susu juga! Ya, itulah “psikologi lidah”, aneh tapi nyata adanya.
Yang menjadi “psikologi lidah” sebagian besar manusia, ialah selalu mencari sensasi baru yang masih asing atau jarang dijumpai olehnya—itulah poin utamanya. Sebagai contoh, dahulu kala, sekitar satu milenium yang lampau, para pendahulu kita sangat menyukai garam untuk makanan, karena garam menjadi barang langka yang hanya dijual oleh kalangan kerajaan. Kini, kontras dengan masa lampau, banyak masyarakat konsumen kita yang mulai menuntut lebih, yakni “micin” atau “penyedap rasa”—mungkin karena sudah “bosan” dengan sekadar garam yang sudah tidak asing lagi di lidah, ataupun gula, kecap manis, kecap asin, lada, merica, dan lain sebagainya, tetap sama manusia tidak kenal puasnya, sebanyak apapun ramuan bumbu dalam hidangan yang menjadi asupan kita sehari-hari.
Semisal seperti ini, tentunya kita sering mendengar teman kita berkata bahwa “Rasanya kok rasa bubur buatan keluarga kita di rumah, tidak seenak bubur yang beli di toko penjual bubur, ya?” Ya iya lah, rumput milik tetangga kita selalu tampak lebih indah daripada rumput di taman milik rumah sendiri. itulah, “psikologi mata”, namun akan kita bahas bersama pada lain kesempatan ya, Sobat. :)
Yang sebenarnya terjadi, menurut “psikologi lidah”, bubur buatan penjual bubur di luar rumah kita tidak benar-benar “enak amat” (alias tidaklah seenak itu), namun karena kita belum terbiasa dengan bubur buatan luar rumah kita, sehingga ada kesan tersendiri yang “baru” sifatnya. Boleh dijamin, si penjual bubur sendiri sudah bosan dengan bubur buatannya sendiri, dan terheran-heran mengapa buburnya bisa laku oleh pelanggan dan konsumen yang terus berdatangan untuk membeli.
Entah bagaimana, terhadap sensasi rasa yang sudah terbiasa oleh lidah kita, maka “kesan” terhadap rasa tersebut akan menjadi kurang peka dibanding semula. Misal, pada mulanya ketika KWANG diperkenalkan dengan kue semacam brownies yang sempat mulai booming pada saat KWANG masih kecil menjelang remaja, awalnya mencoba kue brownies, koq terasa demikian suka dan lezaaaaat ya di lidah ini? Namun, lama kelamaan, rasanya seolah menjadi “biasa saja”, tidak lagi seheboh dahulu kala pertama kali mencicipinya itu.
Sama juga, tidak jarang kita jumpai, restoran atau kedai yang pada mulanya buka, tampak laris-manis, antrian pengunjung dan pembelinya “mengular”, rela antri berjam-jam demi dapat membeli atau sekadar pertama kali mencicipi. Namun beberapa bulan kemudian, restoran atau kios makanan itu menjadi sepi peminat, sebelum kemudian tutup sama sekali karena tiada pembeli lagi.
Bukan karena enak, namun seringkali karena jarang kita mencicipi dan mencoba masakan atau rasa yang masih asing dan tidak jarang dirasakan oleh lidah kita. itulah sebabnya, restoran-restoran banyak berinvestasi dengan mendatangkan bumbu-bumbu dari luar negeri, tujuannya ialah agar lidah para konsumen mereka tidak merasa bosan, dan ada “kesan” mendalam ketika mencicipi, karena memang masih asing di lidah mereka, atau baru pertama kali mencicipinya, sehingga terkesan atau kesannya “lezat sekali”—padahal jika sudah lama mencoba bumbu atau masakan tersebut, rasanya menjadi “biasa-biasa saja”, tidak lagi “luar biasa” seperti dulu.
Sebetulnya kita semua pernah mendapati fenomena “aneh tapi lucu” seperti itu, hanya saja kita kurang menyadari dimana “letak kesalahannya”. Kadang, menjadi pelupa rasa atau “pikun rasa”, ada untungnya bagi kita. Sama seperti ketika KWANG membongkar-bongkar arsip buku-buku lama, seperti komik yang pernah dibaca ketika masih kecil, mengulang dengan membacanya kembali menjadi sama mengasikkannya seperti ketika pertama kali memegang, membeli, dan membaca buku komik itu. Kita akan membacanya dengan antusias seperti ketika kita masih “fresh tanpa ingatan” apapun tentang isi cerita bergambar komik di dalamnya. Rasanya menyenangkan sekali, sudah lama tidak membaca buku-buku komik yang sudah lama tidak disentuh.
Itulah mengapa, variasi dalam menu makanan harian menjadi penting, agar tidak bosan. Sesuka apapun kita pada sphagetti, sebagai contoh, jika tiap hari makan “itu itu saja”, maka dapat dipastikan akan menjadi bosan dan “mual” sendiri sekalipun pada mulanya sangat menyukai hidangan sphagetti. Namun entah mengapa, sebagian orang Indonesia suka sekali dengan “mie instan”, dan seolah tidak bosan-bosannya. Heran juga ya, Sobat?
Jadilah segar-fresh untuk setiap harinya (termasuk “fresh” untuk segi ingatan, agar tidak terjebak dalam rasa frustasi ataupun rendah / kecil hati dalam menghadapi dunia yang tidak pernah bersikap lembut terhadap kita ini), jadilah “orang yang baru” untuk setiap harinya (agar tetap penuh semangat), jadilah “muda” untuk setiap harinya (agar penuh cita-cita, seperti anak muda), serta “Stay foolish” seperti kata-kata pesan almarhum Steve Jobs, sang legendaris, agar tetap kreatif sepanjang hidup dan karir kita.
Tidak heran bukan, orang-orang “pelupa” kadang selalu antusias sepanjang hidupnya—mungkin itulah satu-satunya keistimewaan dan keuntungan menjadi seorang “pelupa”, dibalik segala kerugian yang Sobat tanggung sendiri bila benar-benar menjadi seorang “pelupa”.
Sebetulnya mudah saja bila kita ingin happy-gembira penuh antusias dengan makanan “itu-itu saja” yang disuguhkan di rumah kita, dan inilah tips praktisnya yang bisa Sobat langsung aplikasikan sehari-harinya, yaitu dengan cara mengatakan kepada pikiran di dalam kepala kita sendiri : “Reset!” Seperti mematikan dan menghidupkan kembali konsole video-game kita, semuanya kembali seperti semula dari awal lagi.
Itulah, KWANG menyebutnya sebagai “the Power of RESET!”, asal tidak lupa untuk makan saja. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😊

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Untuk memesan Asesoris Perhiasan Imitasi Impor Berkualitas KWANG EARRINGS. baik eceran maupun dengan grosiran, silahkan kirimkan pemesanan Anda (Mohon cantumkan link url asesoris yang dipesan untuk kami pastikan ketersediaan stok produk). Tidak ada minimum pembelian jumlah item secara eceran, Bagi yang membeli secara grosir, mendapat diskon khusus. namun disertai ongkos kirim kurir JNE dari Jakarta, Indonesia:
- instagram dengan ID kwang_earrings
- email, telepon ataupun chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA
- WhatsApp : (+62) 0817-4924-150.
- Juga Follow kami di Facebook: kwang_earrings

Syarat & Ketentuan:
- kerusakan dalam proses pengiriman, diluar tanggung jawab kami selaku penjual / supplier.
- tidak disertakan garansi, karena produk yang kami kirimkan dipastikan dalam kondisi baik dan utuh saat proses pengepakan dan pengiriman ke alamat pembeli.
- produk yang telah dipesan dan dikirimkan, tidak dapat dibatalkan ataupun ditukar.
- jika pelanggan puas atas layanan dan produk kami, mohon kesediaannya untuk dipromosikan ke rekan-rekan dan kerabat.

KWANG EARRINGS mengucapkan terimakasih atas kunjungan serta pembeliannya. Kami senang dapat membantu para wanita untuk tampil cantik dan manarik, dimana dan kapan pun berada, berapa pun usianya (tanpa batasan umur).
Berjiwa muda dan tampil belia, adalah keajaiban yang dapat dibantu oleh asesoris yang menawan sekaligus memikat. Kami senang dapat menyediakan pilihan perhiasan imitasi yang terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas produk yang kami tawarkan secara eceran maupun grosiran.

Kami tunggu pesanan Anda, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.
Peluk dan Cium Erat!

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 (PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon);
- email, telepon, atau chatting online via Google Hangout : kwang.earrings@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

TESTIMONI PEMBELI

TESTIMONI PEMBELI
Klik Gambar untuk Melihat TESTIMONI Pembeli Produk KWANG EARRINGS