Sering Bermasalah dengan Pikiran yang Melompat Kesana dan Kemari seperti Monyet Liar? Ini Tips dan Solusi Praktisnya

By PUBLISHER - September 26, 2020

Sering Bermasalah dengan Pikiran yang Melompat Kesana dan Kemari seperti Monyet Liar Ini Tips dan Solusi Praktisnya
Terdapat beberapa kalangan atau sebagian diantara populasi penduduk kita, yang memiliki pikiran yang sukar sekali dikendalikan, mudah teralihkan (terdistraksi), sukar untuk tetap dijaga stabil pada satu hal yang kita kerjakan dan pada satu waktu, selalu “melompat kesana dan kemari”, begitu liarnya, tidak bisa tenang, mirip seperti perumpamaan seekor monyet liar yang selalu melompat ke satu pohon lalu kembali melompat ke pohon lainnya tanpa pernah tenang, sehingga membuat energi pikiran, mental, dan fisik kita menjadi letih terkuras sendiri dibuatnya.

Atau mungkin ada diantara Sobat yang memiliki kendala dan masalah serupa? Kini Sobat tidak perlu kawatir lagi, KWANG akan share tips dan trik sederhana yang dapat kita praktikkan sehari-hari, yang juga memang, butuh latihan serta pembiasaan diri lewat “disiplin diri” untuk senantiasa mengingatkan pikiran kita agar patuh pada dua “aturan main” yang kita buat dan terapkan sendiri untuk pikiran kita.

Apa sajakah kedua “aturan main” itu? Pertama, ialah perintahkan pikiran kita lewat “self talk” berupa sugesti berulang-ulang dengan kalimat ajakan : “Fokus pada apa yang lebih penting”, yakni “current moment” atau “present moment”, alias hidup dalam kekinian, menyadari kekinian, dan berada dalam zona ruang waktu kekinian.

Mengapa berfokus pada “current moment” menjadi penting? Fungsi utama dibalik penyadaran terhadap “current moment” tidak lain tidak bukan ialah dalam rangka untuk latihan menguatkan “alam sadar” kita. Current moment”, menurut disiplin ilmu psikologi, ialah pusat dari “alam sadar”.

Sebagaimana telah kita ketahui, dalam pikiran kita terdapat dua buah potensi serta dua kutub berseberangan yang saling “menenggelamkan” satu sama lainnya, yakni “alam sadar” dan “alam bawah sadar”. Konsepsi ini berkebalikan dengan dua kutub magnet yang saling tarik-menarik, antara “alam sadar” dan “alam bawah sadar” justru saling tolak-menolak.

Menurut teori, ketika “alam sadar” muncul ke permukaan (menjadi dominan dalam mengendalikan cara berpikir dan cara kita ber-persepsi terhadap dunia eksternal sekitar diluar kita), maka “alam bawah sadar” akan tertekan dan tenggelam ke dalam dasar lautan pikiran kita.

Sebaliknya, ketika “alam bawah sadar” yang muncul ke permukaan, maka “alam sadar” kita akan tertekan dan tenggelam ke dalam dasar lautan pikiran kita. Oleh karenanya, masih menurut teori, keduanya antara “alam sadar” dan “alam bawah sadar”, tidak mungkin muncul secara bersamaan dalam satu waktu ke atas permukaan pikiran kita.

Akan menjadi amat sangat berbahaya, ketika “alam bawah sadar” kita lebih dominan dan menjadi motor penggerak kehidupan kita sehari-hari, karena bila kandungan mayoritas isi “alam bawah sadar” kita cukup baik dan positif, maka itu kabar baik. Namun, jika kita sebelumnya memiliki banyak pengalaman buruk yang membawa efek traumatis dan terekam dalam memori “bawah sadar” kita, akibatnya semua perasaan dan sentimen negatif tersebut akan kembali bangkit sekalipun telah lama mengendap di dalam memori kita (menjadi ibarat lumpur yang terangkat ke permukaan), dan pada akibatnya kita dikendalikan oleh berbagai sensasi, stimulus, maupun sentimen hingga perasaan-perasaan negatif yang kian lama kian tampak menguasai diri kita sampai pada akhirnya membuat kita tidak berdaya—seolah-olah menjadi “korban dari masa lalu” yang terus-menerus terbawa dan menghantui.

Memang, mengubah kebiasaan dan tendensi lama untuk menggantikannya dengan kebiasaan baru, butuh upaya serta keseriusan disamping komitmen dalam tempo waktu yang tidak singkat. Selalu dan kembali lagi, kita seolah merasa tergoda dan terdorong untuk beralih dan ditarik dari kondisi hidup dalam “current moment” menuju “masa lampau yang tidak dapat diputar balik” ataupun “masa depan yang belum terjadi”, dan tenggelam ke dalam berbagai sentimen ataupun perasaan-perasaan negatif bila itu menjadi dominan “alam bawah sadar” kita.

Entah mengapa, “alam bawah sadar” kita mampu membangkitkan “gudang memori” kita dan acapkali memunculkan ingatan-ingatan atau kenangan-kenangan dan perasaan negatif ketimbang yang positif, sekalipun kejadian-kejadian buruk tersebut telah lama terjadi. Dan itulah tepatnya atau sebabnya, penting bagi kita untuk tidak tunduk pada kondisi yang ditimbulkan oleh hegemoni “alam bawah sadar”.

Sayangnya, tidak ada yang dapat kita perbaiki dari “alam bawah sadar”, karena “alam bawah sadar” sejatinya hanyalah “gudang memori” yang kurang bagusnya ialah lebih sering membangkitkan memori-memori kurang menyenangkan dalam kehidupan kita yang lampau. Sangat menyerupai, kita akan lebih mudah dan lebih sering mengingat keburukan sifat seseorang ketimbang kebaikan-kebaikannya.

Akan tetapi bukan semua hal ataupun dari seluruh aspeknya dari “alam bawah sadar” adalah buruk. “Alam bawah sadar” manusia, dirancang selama perjalanan panjang evolusi nenek-moyang manusia pendahulu kita untuk bertahan hidup (survive) ditengah-tengah kehidupan alam liar dan rimba-belantara dimana bahaya selalu mengintai setiap waktunya, tepatnya kehidupan kehidupan umat manusia masih “nomaden”, tanpa menetap pada satu rumah permanen, sehingga bahaya serta binatang buas menjadi bagian dari keseharian.

Dapat dikatakan, “alam bawah sadar” merupakan bagian dari “mekanisme pertahanan diri” yang paling primitif dan ternyata kita wariskan sebagai generasi penerus, menyerupai “insting” yang mungkin tidak kita sadari keberadaannya, namun demikian itulah kunci terpenting dibalik kesuksesan manusia mampu melewati “seleksi alam” dan survive hingga saat kini.

Salah satu bentuk lain dari “insting” yang menjadi ekses dari “alam bawah sadar”, ialah apa yang kita kenal dengan sebutan sebagai “intuisi”—meski sebetulnya “intuisi” juga sebenarnya ialah “insting” itu sendiri, dimana bisa juga diasah ketajamannya.

Masalahnya, “alam bawah sadar” kita tidak mampu mengenali kapan kita harus mengendurkan kewaspadaan dan kesiap-siagaan penuh (full alert), dan kapan kita harus mengendurkan semua ketegangan saraf mental tersebut, karena “alam bawah sadar” kita tampaknya cukup “buta” terhadap situasi dan kondisi yang sekarang ini kita alami, semata akibat warisan insting dari nenek-moyang kita yang lama hidup secara nomaden ataupun dalam era rumah tidak permanen dimana bahaya dari binatang liar-buas selalu mengintai baik pagi, siang, maupun malam.

Contoh, katakanlah si A pernah digigit oleh seekor anjing dan mengalami trauma disamping luka bekas gigitan. Ketika beberapa tahun kemudian atau lama setelah itu, A berjumpa kembali dengan seekor anjing, maka dirinya akan seketika itu juga melompat menghindar, sekalipun belum tentu anjing itu ganas atau bisa jadi sangat jinak adanya.

Disamping manfaat dan fungsi penting dibalik “alam bawah sadar”, namun ia menyerupai “dua sisi pada satu keping koin”, memiliki sisi positif yakni “defence mechanism” (kunci penting mampu bertahannya umat manusia melewati seleksi alam) dan disisi lain memiliki dampak negatif yakni menjadi tiadanya kemampuan seseorang untuk berfokus ketika “alam bawah sadarnya” dominan muncul ke permukaan alam pikir dimana “alam sadar”-nya tertekan hingga ke dasar samudera pikiran.

Cobalah bayangkan, seandainya kita di dalam rumah hidup bersama satu atap dengan seekor serigala ganas yang turut menghuni dimana sewaktu-waktu dapat menerkam dan memangsa kita, maka kita akan hidup selalu dalam kondisi waspada dan awas-siaga penuh, ketegangan mental demikian akan sangat menguras emosi serta energi batin kita, disamping menyulitkan kita untuk berfokus pada hal-hal lain semisal pekerjaan ataupun pelajaran kita.

Pada dasarnya, antara “alam bawah sadar” dan “alam sadar” tidak dapat eksis di atas permukaan pikiran pada saat bersamaan, yang kerap terjadi ialah “silih-bergantinya” keduanya eksis muncul ke permukaan pikiran kemudian saling menenggelamkan satu sama lain sehingga seolah-olah seperti pada layar televisi kita yang tampak bergambar sekalipun realitanya yang terjadi dibalik mekanisme layar televisi kita ialah “kedap-kedip” saklar “ON” dan “OFF” yang silih-berganti dengan sangat cepatnya namun sukar dikenali oleh keterbatasan indera penglihatan sepasang mata kita.

Sekalipun demikian, bilamana seseorang lebih banyak waktunya terbuang akibat “alam bawah sadar”-nya lebih dominan menyita waktu yang ada, ini bisa menjadi salah satu pertanda kondisi alam pikiran yang tidak sehat serta sedang "sakit", dimana perlu penanganan segera atau setidaknya “self-help teraphy” yakni dengan tips yang KWANG suguhkan dalam artikel singkat ini, berupa sugesti diri lewat perintah tegas untuk “fokus pada hal yang lebih penting”, yakni tidak lain dan tidak bukan ialah memakai “kacamata kuda” semata pada “current moment”. 

Bila penyebab segala trauma kita ialah perlakuan orang-orang terdekat kita seperti orangtua, maka mereka tidak akan bersedia mengakui setitik pun bahwa anaknya sedang "sakit (mentalnya)" dimana pelakunya ialah sang orangtua itu sendiri. Itu kondisi yang berbahaya, karena sang anak sejatinya butuh "pertolongan" karena sedang "sakit", sementara semata karena "ego", sang orangtua sebagai pelaku penyebabnya tidak akan mengakui anaknya "sakit" terlebih mengakui merekalah yang menjadi penyebab anaknya jatuh "sakit" dan terlebih-lebih diharapkan memberikan pertolongan bagi kondisi "sakit" sang anak yang "sakit akut" sekalipun.

KWANG sangat merekomendasikan Sobat-Sobat menyaksikan drama Chinese berjudul "GO AHEAD" (rilis tahun 2020, 40 episode, dapat disaksikan pada Youtube dengan English Sub), dimana kisahnya sangat menyentuh dan memperlihatkan bagaimana anak tumbuh besar dengan "luka" dan "sakit" (pada mentalnya) meski tidak terlihat dari fisiknya. Bila tiada yang dapat menolong dan mengakui kondisi kita, maka cukuplah kita memahami dan mengakui kondisi kita dan melakukan pertolongan terhadap diri kita sendiri.

Teknik menggiring alam pikiran kita untuk hidup dalam “current moment”, merupakan trik yang paling manjur untuk mendongkrak “alam sadar” kita muncul ke atas permukaan alam pikiran dan mengambil-alih kondisi pikiran, sehingga akibatnya “alam bawah sadar” tertekan hingga ke dasar permukaan.

Meski demikian, sekali kita mengendurkan pengawasan terhadap kondisi pikiran kita, dengan lepas keluar dari kondisi “current moment” semisal akibat “melamun” dengan tidak lagi “berpijak pada bumi”, maka akan sangat cepat sekali “alam bawah sadar” kita kembali muncul ke permukaan dan menekan “alam sadar” ke dasar pikiran. Itulah pentingnya, sebuah latihan dan pembiasaan baru (the new habit).

Kini, kita beralih pada “aturan main” kedua, yakni sugesti berulang-kali diri kita untuk “berfokus pada yang terpenting SAAT KINI”, yakni tidak lain tidak bukan ialah “sumber daya waktu” kita yang sangat terbatas.

Dengan menyadari waktu yang terus berdetak tanpa pernah menunggu kita, dimana detik demi detik terus berjalan mengurangi kesempatan kita untuk mengisi hari, maka mau tidak mau kita perlu bersikap tegas untuk MEMBATASI diri kita dengan fokus pada apa yang terpenting saja, dan dibutuhkan keberanian mental untuk melepaskan berbagai objek perhatian yang kurang penting (mengeliminasi hal-hal yang hanya mendistraksi fokus perhatian terpenting kita).

Apakah “membatasi diri”, artinya adalah hal yang negatif karena sama artinya mengancam “kebebasan” kita, terutama bagi orang-orang berjiwa bebas yang tidak ingin dibatasi ataupun membatasi diri? Anggap saja, ini adalah sebuah latihan disiplin diri, dimana sebuah “disiplin” memang bermakna mengurangi kebebasan diri kita.

Tiada program disiplin diri, semisal “program diet”, yang memberikan kita keleluasaan dan kebebasan lebih, justru sebaliknya, kita bersedia membatasi atau mengurangi derajat keleluasaan maupun kebebasan kita karena kita memiliki motivasi dan tujuan, semisal untuk menurunkan berat badan maka perlu ber-diet.

Apakah “disiplin” adalah sebuah kosakata yang negatif? Jika jawabannya ialah “tidak”, maka mengapa tidak kita mencoba untuk lebih berdisiplin dengan mulai mendisiplinkan diri kita sendiri dan membiasakan diri dengan kedisiplinan?

Bila di telinga kita frasa “membatasi diri” ataupun “pembatasan”, “keterbatasan”, “dibatasi”, atau variasi lainnya tersebut dipandang sebagai suatu “ancaman” bagi kebebasan diri kita, maka kita dapat memilih untuk mengingat dan memakai saja frasa “latihan disiplin diri” sebagai alternatif yang dapat kita pegang dan jalankan tanpa adanya banyak penolakan dari dalam diri kita.

Dengan cara “membatasi diri” (atau “disiplin diri”) inilah, kita dapat lebih berfokus dan terfokus pada hal yang terpenting, yakni “misi menyelamatkan waktu” yang kini bukan lagi “mission impossible”, karena kita membatasi kemungkinan diri kita dari peluang-peluang untuk menyimpang dari jalur semula karena godaan-godaan pada pemandangan di sepanjang jalan yang menarik kita untuk singgah sejenak, sebagai sekadar perumpamaan, sehingga kita lebih dapat tetap terfokus pada tujuan semula, lebih cepat menyelesaikan apa yang perlu kita selesaikan, dan lebih efektif disamping lebih lebih efisien dalam penggunaan “sumber daya waktu” yang ada.

Kita, sejatinya tidak pernah benar-benar bebas. Semua “kebebasan” itu adalah fatamorgana. Faktanya, kita terpenjara dalam “ruang waktu”, dimana kita tidak dapat menolak waktu yang terus berjalan, matahari dan bulan terus berputar silih-berganti, umur hidup kita yang kian menipis kian hari dan kian tahun, dimana bulan tidak pernah meminta izin kita untuk muncul menandakan hari telah malam, dan matahari pun tidak pernah meminta persetujuan kita untuk muncul dan menyingsing ketika waktunya pagi hari tiba.

Dengan menyadari bahwa segala hal adalah “terbatas” adanya, maka kita menjadi siap dan sadar untuk bersedia “membatasi diri” serta “dibatasi”, dengan demikian kita menjadi lebih rasional serta lebih logis, dan oleh karenanya kita lebih mampu untuk berfokus pada prioritas, dengan memanfaatkan waktu yang ada secara optimal.

Sehingga, sebagai rangkuman untuk sharing tips mengelola “alam pikiran” hari ini, dua buah “mantra” yang penting untuk selalu kita gaungkan dan dengungkan berulang-ulang ke dalam hati kita sendiri ialah dua kalimat sugesti berikut: “Fokus pada yang lebih penting (dari kesemua ini), yakni hidup pada ‘present moment’. Berfokus pada yang terpenting saja, yakni batasi diri serta mulai kembali berorientasi pada waktu.

Semoga tips-tips tersebut di atas, dapat menambah wawasan, dan bermanfaat untuk dipraktikkan di keseharian Sobat-Sobat semua yang selama ini memiliki kendala dalam mengendalikan pikiran yang tidak bisa diam tenang.

Sampai berjumpa lagi pada share tips-tips praktis bermanfaat lainnya. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! :) 😃😂😁😊😇💖

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA