Mengenal dan Memahami Online Marketing, Terutama Bagi yang Ingin Memulai Usaha Sendiri

By PUBLISHER - October 07, 2020

Mengenal dan Memahami Online Marketing, Terutama Bagi yang Ingin Memulai Usaha Sendiri

Mengapa marketing menjadi hal yang penting bahkan kerap dijuluki sebagai "ujung tombak" pemasaran? Tujuan proses produksi ialah memang untuk dipasarkan hasil produknya. Sehingga, "output" dari rangkaian produksi sejatinya bukan pada "produk jadi" yang keluar dari mesin, namun penjualan itu sendiri sehingga terserap oleh pasar. Ketika produk telah berhasil terjual dan terserap oleh pasar, barulah kita menyebutnya sebagai produk yang "telah menjadi" bukan lagi "produk jadi".

Marketing berasal dari akar kata "to market", yang artinya "memasarkan". Sebuah produk, seunggul dan sehebat apapun kualitasnya, bila tiada yang mengetahui eksistensi atau adanya produk tersebut lengkap dengan segudang keunggulannya, maka tetap akan tersisih serta kalah bersaing dari produk-produk yang lebih dikenali oleh masyarakat selaku konsumen. Produksi tanpa marketing, tidak akan berjalan, karena saling melengkapi (ber-komplomenter). Membuat calon konsumen menjadi tahu dan memberikan perhatian, itulah visi dan misi pertama dibalik marketing.

Contoh, sebuah pompa ban, katakanlah Merek A dengan TIpe B, memiliki banyak kelebihan serta fitur yang unggul ketimbang produk sejenis di pasaran. Namun, sekalipun produk diproduksi secara massal dan diedarkan ke seluruh penjuru kota, ternyata hanya segelintir pihak seller ataupun sales yang berhasil mencetak angka penjualan yang tinggi ketimbang seller lainnya, semata karena memanfaatkan teknik promosi serta sosialisasi produk yang informatif sehingga diketahui dan dikenali oleh masyarakat luas, baik membuat video ulasan produk di Youtube ataupun aktif berpromosi lewat sosial media.

Mengapa juga, membuat "target market" menjadi penting? Kita perlu mengenali berbagai dan beragam karakter konsumen yang ada, yakni konsumen yang lebih mementingkan fungsional produk (seperti fitur dan manfaat produk untuk digunakan) dan konsumen yang lebih mengedepankan aspek estetika (seperti gengsi, mode, dan brand consumer). Menjadikan sasaran pasar lebih spesifik, memang membuat potensial "target market" semakin sempit, namun setidaknya lebih terarah daripada membuang anggaran promosi yang masif namun kurang "mengena".

Mengenali pasar, mencari tahu kebutuhan konsumen, mengamati tren pasar, memilah segmen pasar, adalah salah satu teknik-teknik dalam marketing ketika menyusun strategi promosi usaha. Ada juga beberapa kalangan pengusaha yang tidak menargetkan seluruh pangsa pasar sebagai "konsumen target". Sebagai contoh, produk-produk eksklusif memang hanya diperuntukkan bagi konsumen tertentu, seperti mobil mewah bermerek mahal, tentulah tidak tepat bila dipromosikan di pasar tradisional, dan akan lebih tepat dipamerkan di mall atau sekelas toko swalayan besar dimana kalangan atas kerap main mengisi hari libur.

Pastinya kita pernah mendengar istilah marketing seperti "Flash Sale", "Stok Terbatas", "Buruan sebelum kehabisan", "Limited Edition", "Harga HEBOH, berlaku hingga tanggal ...", atau kampanye-kampanye iklan dalam rangka promosi produk seperti "Diskon berlaku hingga tanggal...", "Per tanggal ... harga naik", dan lain sebagainya dengan bahasa sejenis serupa.

Trik marketing demikian, sejatinya bermain dalam ranah "Psikologi Konsumen". Sales yang baik, sangat paham terhadap psikologi target market yang disasar olehnya, baik lewat "riset pasar" maupun "observasi". Sayangnya, kalangan konsumen kita tidak pernah mau memahami dan mengenal "Psikologi (seorang) Pengusaha", sehingga kerap terjebak iming-iming promosi produk--Perhatikan, pengetahuan akan hal yang disebut terakhir di atas, dapat disalah-gunakan kalangan pengusaha yang kurang beretika.

Konsumen ditengah-tengah masyarakat kita kerapkali membuat keputusan akan membeli atau tidaknya bukanlah berdasarkan faktor pertimbangan "rasional", akan tetapi seringkali dikarenakan atau dipicu dan didominasi faktor "irasional".

Contoh, ketika rilis produk handphone bermerek tipe terbaru, berbondong-bondong konsumen kita membeli (bahkan terjadi "panic buying", sekalipun fitur yang kemudian dipakai oleh mereka adalah fitur-fitur standar yang umum dapat juga dijumpai pada perangkat genggam sebelumnya yang ia gunakan.

Hal demikian menyerupai membeli mobil balap yang mahal harganya karena dilengkapi oleh produsennya perangkat keras dan perangkat lunak canggih untuk berpacu dalam ajang adu balap, namun hanya digunakan di dalam kota yang penuh kemacetan--sehingga hanya "menang gengsi" yang mahal harganya.

Sang produsen mobil balap, sejatinya sedang "menjual GENGSI". Gengsi, mahal harganya, karena konsumen kita "IRASIONAL", sekalipun konsumen kita mengetahui betul bahwa diri mereka tidak membutuhkan kendaraan balap. Bila target market kalangan produsen ialah "konsumen yang irasional", maka itu sama artinya seluruh anggota masyarakat kita ialah calon konsumen potensial di sang produsen.

Cobalah amati, apakah nyaman memiliki mobil balap yang boros dari segi biaya perawatan? Cobalah duduk diatas motor balap, apakah nyaman? Bukankah itu sama artinya setiap hari menyiksa diri sendiri? Namun, konsumen kita adalah "irasional" dan mereka rela menyiksa diri mereka sendiri, bahkan membayar mahal untuk hobi yang "tidak logis" tersebut, dan senang hati melakoninya.

Banyak produk yang cukup populer, yang bukan unggul dari segi kegunaan, namun dari segi estetis / estetika, itulah yang disebut "merek" yang diasosiasikan terhadap "modern", "stylis", "modis", "berkelas", "canggih", dsb. Pihak produsen melakukan apa yang disebut sebagai ajakan (halus terselubung yang disadari kita) bagi calon konsumen potensialnya untuk melakukan "framing diri" (membingkai diri) dengan suatu stimulus audio maupun audio-visual sehingga terpanggil untuk secara sukarela membayangkan dan mengasosiasikan diri mereka dengan suatu produk yang dikampanyekan.

Ketika sepeda motor skutik merek Honda dan Yamaha terbukti melakukan "kartel harga" pada tahun 2014 silam di Indonesia sehingga dihukum oleh pemerintah, ternyata pangsa pasar pengguna motor kita masih juga membelinya, sekalipun oleh pihak produsen harga skutik secara "kartel" didongkrak tinggi untuk "menyetir" harga pasaran produk mereka ditengah konsumen yang "irasional".

Ketika harga cabai di Indonesia, merangkak naik hingga menebus angka Rp. 100.000 per kilogram, tetap saja ada yang membelinya (jika tidak ada yang beli, pedagang dan tengkulak tidak akan berani mematok harga yang dinaikkan tinggi berkali-kali lipat, setinggi langit). Ketika harga daging sapi menembus angka Rp. 140.000 per kilogram, tetap juga dibeli sementara daging sapi beku yang hanya seharga separuhnya tidak laku di pasaran, padahal sama-sama daging impor baik ternak maupun daging beku.

Ada "demand", maka ada "supply" (terdiri dari komponen "supply produk" dan "supply harga". Ketika "demand" berupa "demand yang irasional", maka "supply harga" dapat ditentukan dan dimainkan secara bebas sepihak oleh pihak penjual / produsen--itulah yang sebenarnya paling "mengerikan", terutama ketika pihak penjual / produsen yang kurang memiliki rambu-rambu seperti "etika bisnis" (Kode Etik Berbisnis : "manipulasi sama artinya menipu [misleading] dan merampas hak orang lain, bukan sumber nafkah yang bersih untuk dapat dimakan").

Kembali pada promo-promo "gimmick" seperti "hanya tersisa 2 buah", adalah dalam rangka "conditioning" bernama menciptakan "efek terbatas", dimaan konon masyarakat kita cenderung menghargai sesuatu yang terbatas untuk dikonsumsi. Banyak makanan, sebagai contoh, yang citarasanya tidak nikmat dimakan, namun hanya karena "eksotik" seperti lobster yang rasanya tidak berbeda dengan udang biasa, membuat harga daging lobster demikian mahal dan ternyata tetap diminati konsumen.

Disebutkan, adanya tendensi ketika seseorang tertarik memesan, akan tetapi kemudian menunda pembeliannya  tersebut (masa "cooling down") seiring waktu berjalannya masa penundaan maka kian cenderung tidak jadi membeli.

Dengan memberikan tempo yang membatasi "kesempatan membeli" (mengapa juga ada kesan seolah penjual memberi 'kesempatan membeli' bagi konsumen), seseorang “dipaksa” untuk membelinya jika memang ingin memiliki produknya.

Kejadian sebenarnya berupa "framing" yang terjadi disini, ialah seolah-olah pihak konsumen akan berbangga diri menjadi satu diantara segelintir atau satu diantara sedikit konsumen yang diberi kesempatan "langka" untuk membeli dan memilikinya, padahal produk dicetak dan diproduksi secara massal lewat mesin oleh produsennya yang pastilah berorientasi memproduksi dan menjual sebanyak-banyaknya.

Sekarang kita memasuki bahasan topik "online marketing", alias melakukan perencanaan dan aksi promosi secara daring. Hal pertama yang terpenting, ialah membuat deskripsi yang mewakili keunggulan produk sekaligus membuat "mengajak" (untuk membeli, tentunya).

Tidak jarang kita jumpai, "online markerter" pemula membuat promosi produk dengan konten seperti ini: “Produk ini terbuat dari kain berkualtias tinggi. Jika berminat memesan, silahkan hubungi ..." Diri mereka tidak sadar, konten mereka akan tenggelam diantara "lautan konten" dalam sosial-media yang selalu ramai dari kompetitor. 

Promosikan produk kita secara "menjual dengan ramuan emosi" bukan dengan fakta, sekalipun klaim kehebatan produk kita adalah benar adanya. Konon, keputusan seseorang untuk membeli, 80% dipengaruhi oleh emosi, rasa, dan perasaan, bukan dilandasai logika yang serba logis. Konsumen yang "irasional", sangat renten di-eksploitasi kalangan penjual / produsen yang kurang dibatasi rambu etika berbisnis.

Uraikan betapa bagusnya, gurihnya, keunikannya, indahnya, bermanfaatnya, serta "keuntungan" bila konsumen membeli dan memilikinya, hingga betapa awetnya produk yang kita tawarkan, dimana tepatnya inilah yang seharusnya ditonjolkan. Menguraikan, sama artinya kita sedang mengkomunikasikan (mendeskripsikan) lewat bahasa lisan ataupun tertulis, alias sebagai sarana komunikasi penyampaian gagasan ataupun ide disamping "menggambarkannya secara tertulis".

Dalam membuat deskipsi pada produk di sebuah platform sosial-media untuk penjualan, kita tidak boleh abai untuk menyertakan nama produk, kategori produk, fitur dan kegunaan utama produk, keunggulan produk, dan mengarahkan / mengerucut pada yang terpenting, yakni "call to action" (membuat calon konsumen terpanggil untuk membayar untuk menjadi pengguna barang/jasa).

Kedua, ialah perihal "intensitas" atau "eksistensi", dalam artian tingkat seringnya konten atau produk diposting, menjadi sangat penting, mengingat sosial media baik visitor maupun algoritma platform digital akan cenderung merekomendasikan pemilik akun postingan yang aktif disamping juga akun yang rutin dan konsisten untuk "update" konten postingan, ternyata akan meningkatkan reputasi alias lebih dipercaya sebagai penjual--semata karena terbukti "eksis" hingga saat kini.

Kita bisa membagikan kisah bagaimana pada mulanya produk ataupun jasa dibuat dan ditawarkan, testimoni pembeli dan pelanggan, foto toko dan produk / jasa, perkembangan usaha kita, postingan seputar bisnis dan profesi kita, pengalaman menghadapi pembeli dan lain sebagainya. Dengan begitu, diharapkan terjadi "kedekatan" antara pihak penjual dan pihak pembeli.

Ulasan tidak perlu "kaku" atau "formalistis" dengan bahasa yang kaku. Namun alih-alih dengan sikap yang "membosankan" karena "monoton" dalam berbahasa tertulis, jadilah fleksibel (dinamis) seolah sebuah brand dapat memiliki Personalitas"-nya juga, yakni adanya unsur "manusia" didalamnya untuk disertakan, sehingga terdapat unsur "kedekatan" (proximity) terhadap pihak audiens ataupun pemirsa / pengunjung "online store" yang kita bangun dan kelola dalam jejaring dunia maya.

Sosial media (sosmed) dan internet adalah merupakan tempat yang sangat bagus untuk melakukan branding. Media luar ruang mulai tergantikan dan tersisihkan oleh media dalam ruang serta masih harus pula bersaing ketat terhadap media pada genggaman tangan pada layar gadget digital.

Kita mungkin tidak menaruh pehatian terhadap berbagai spanduk produk terpampang saat kita melintas di jalanan umum, berseliweran silih-berganti, namun kita tidak akan pernah tidak memerhatikan secara saksama ketika sebuah handphone yang selalu dibawa-bawa kemana pun kita berada kemudian membuat tampilan iklan-iklan di dalamnya.

Iklan dalam layar sempit semacam handphone, ternyata lebih berhasil menyita perhatian sang pemilik handphone, ketimbang bertubi-tubi disuguhi media luar ruang yang demikian luas dan megah "layar pandangnya" semacam baliho raksasa yang "merusak pemandangan". Itulah sebabnya, SMS maupun email "spam" jauh lebih mengganggu ketimbang ribuan pamflet raksasa di luar sana pada ruang-ruang publik.

Dalam teori, branding adalah usaha membuat orang lain mengingat produk anda saat mereka membutuhkannya, lewat teknik ASOSIASI! Asosiasi ini bisa dirancang dan dibangun lewat stimulus berupa repetisi iklan, lagu "jingle" sebuah pariwara, hingga memberikan sebuah kesan mendalam yang sukar dilupakan dari benak calon konsumen, bahkan menciptakan "loyalitas" konsumen kepada produsennya seperti hanya mau membeli dan memakai laptop merek V.

Untuk melakukan hal ini, kita perlu melakukan yang namanya "positioning" atau memposisikan produk yang kita pasarkan di benak konsumen yang terdalam, bukan sekadar "masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri". Langkah permulaan, bayangkan dulu produk kita ingin diingat seperti apa di benak calon konsumen. Dari hal itu, rancang alat branding seperti tagline, merek dagang produk, logo, maskot (jika perlu), hingga kemasan.

Dalam branding, kita sejatinya sedang menjual "brand + produk", bukan hanya sekadar menjual produk. Karena yang kita jual adalah brand (sesuatu yang tidak dimiliki kompetitor) yang melekat pada produk, maka oleh sebab itu kita melepaskan diri dari komoditas pasar yang ada. Produk dan bisnis yang kita jalankan menjadi unik dan sukar digantikan ketika telah tercipta loyalitas konsumen.

Tidak seperti marketplace yang memfokuskan pada harga dan foto produk sebagai "first impression" untuk menentukan "CTR" (click through rate), sebuah "landing page" memiliki kekuatan pada informasi produk sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pada produk, alih-alih "perang harga" seperti marketplace.

Penawaran dalam strategi memanfaatkan "landing page" perlu dipastikan memenuhi beberapa kriteria diantaranya:

  1. Memiliki headline yang sangat atraktif mengundang minat, dan "sensasional" sehingga pengunjung akan tertarik untuk meneruskan membaca (akan tetapi jangan berlebihan, karena kekecewaan pengunjung yang merasa "diluar espektasi" dapat menjelma "bumerang"). Setidaknya, membuat rasa penasaran dan ingin tahu.
  2. Menjelaskan masalah yang sedang dicari jawabannya oleh pembaca, dan bagaimana produk kita dapat menawarkan solusinya.
  3. Menjelaskan mengapa kita sebagai penjual bisa dipercaya dan mengapa produk kita bisa dipercaya.
  4. Menjelaskan apa keunggulan produk kita dibanding pesaing.
  5. Menjelaskan mengapa harus memesan dan membeli produk sekarang juga, bukannya nanti atau esok-esok sehingga terlipa dan tergantikan.
  6. Sertakan "call to action", seperti "Ayo pesan sekarang juga", "Tunggu apa lagi", "Segera ketik ... dan kirim ke ...". Tujuannya, tidak lain untuk mengubah pengunjung menjadi pembeli (konvergensi).
  7. Sertakan juga testimoni, foto produk, dan hal yang mendukung lainnya. Adalah percuma, berjualan dengan penuh kejujuran namun calon konsumen potensial tidak mengetahui bahwa kita benar-benar eksis dan menjual produk yang nyata bukan fiktif karena "toko online" bersifat "intangible". Membangun "branding", karenanya pertama-tama membangun konsistensi reputasi, terkadang memang membutuhkan waktu serta komitmen yang tidak sedikit serta hitungan tahun.
  8. Memilih penggunaan bahasa yang mudah dimengerti, tujuannya ialah untuk menghindari "jarak" sehingga calon konsumen tidak merasa saling berjarak dengan pihak penjual / produsen. Satu kata saja sukar dipahami calon konsumen kita, maka akibatnya calon konsumen akan menarik diri. Itulah sebabnya, banyak koran-koran yang bahasanya "membumi" dan "merakyat" dapat eksis tidak tergerus oleh koran bermerek besar yang selama ini menguasai pangsa pasar pembaca koran, karena bahasanya dapat diterima oleh rakyat kebanyakan.

Seseroang menyukai orang yang mirip, atau setidaknya menyukai minat yang sama. Dalam pemasaran di internet, para pihak memang tidak saling bertatap-muka, namun prinsip ini bukan berarti tidak berlaku untuk menciptakan "kedekatan".

Hal paling sederhana adalah menggunakan gaya bahasa yang digunakan "target market" anda. Jika kita menawarkan produk untuk kalangan pebisnis, sebaiknya gunakan bahasa yang lebih formal ketimbang kalangan anak muda. Namun ketika kita menjadikan produk fashion sebagai barang jualan, gunakan jargon penuh kedekatan seperti "Sis" dan "Sobat", "Kak", "Kawan", dsb, alih-alih "Bung" atau "Anda", "Tuan", "Nyonya". Metode "pendekatan", dalam membuat deskripsi, dapat menyentuh aspek psikologis pembaca.

Identifikasi terlebih dahulu "target market" yang hendak dituju, kemudian bayangkan seperti apa gaya bahasa mereka untuk menghindari "resistensi". Gunakanlah gaya bahasa yang sederhana, lugas, mudah dipahami dan cocok dengan target market. Hindari : bahasa yang ambigu, multitafsir, struktur kalimat yang rancu dan tidak terpola SPO yang baik, istilah-istilah teknis tanpa penjelasan (setidaknya disertai dengan keterangan penjelas), ataupun yang minim informasi.

Penawaran pun perlu disesuaikan dengan jenis trafik pengunjun website kita. Dalam "online marketing", setidaknya dikenal 3 jenis trafik yang dikenal dengan "traffic temprature". Yaitu "hot market", "warm market", dan "cold market".

"Cold market" adalah orang-orang yang belum mengetahui sama sekali produk yang kita tawarkan sehingga jelas belum memiliki ketertarikan terhadap produk yang kita tawarkan dan pasarkan. Contoh, kita bisa jadi menawarkan jasa "JasTip", namun bagi yang masih asing dengan istilah tersebut, tentu strategi pemasaran kita menjadi kurang efektif karena kurang mengena pangsa pasar yang masih awam. Karenanya, hindari istilah singkatan seperti "JasTip", alih-alih demikian gunakanlah deskripsi yang lebih menjelaskan dan mewakili jasa yang kita tawarkan.

"Warm market" merujuk pada mereka yang menghadapi masalah dan belum tahu solusi ataupun perihal produk kita. sementara "hot market" adalah mereka yang menghadapi masalah dan akan tetapi sudah mengetahui produk anda.

Untuk ketiga "target market" ini, perlu dibuatkan "landing page" masing-masing agar "landing page" dan penjualan menjadi jauh lebih efektif--segmental dan terarah. Tujuannya, tidak lain untuk mendorong mereka dari "cold market" menjadi "hot market" sehingga mudah untuk terjadi konvergensi.

Adapun kesalahan yang umum kita jumpai dalam membuat "landing page":

1. Kesalahan dalam membuat deskripsi. Namun sebagaian besar kesalahan "landing page" ada pada deskripsi-nya. Deskripsi adalah kekuatan utama landing page, jika tidak dirumuskan dengan benar maka akan kurang maksimal.

Usahakan untuk menyederhanakan kata-kata agar mudah dipahami dan dicerna oleh pengunjung "landing page" kita. Dengan kata-kata yang sederhana namun "mengena" dan "membumi", mereka akan nyaman untuk membaca sampai akhirnya akan tertarik untuk mengambil langkah "PESAN".

Saat menjelaskan mengapa produk atau jasa yang kita tawarkan adalah penting, ungkapkan latar belakang, duduk masalah, serta solusi lewat produk atau jasa kita secara objektif, akan tetapi tidak berlebihan, sehingga kesannya "menakut-nakuti" yang tujuannya untuk "mengiming-imingi solusi". Promosi semacam ini juga dapat disebut sebagai "black campaign", tidak direkomendasi, karena potensial berujung kekecewaan konsumen, sehingga sukar membangun reputasi terlebih "branding".

Disaat bersamaan, hindari menuliskan deskripsi secara kelebihan dengan menjelek-jelekan produk orang lain. Menjelek-jelekkan produk atau jasa pihak lain, tidak akan membuat produk atau jasa kita otomatis terdongkrak, itu harapan semu.

Hindari menggunakan font yang terlalu kecil dan paragraf terlalu rapat. Menurut sejumlah riset, pengunjung website akan langsung keluar dari website dan beralih ke website lain, ketika ukuran font yang digunakan terlampau kecil sehingga sukar dibaca dan menyakitkan mata (ingat, ini adalah media digital pada layar monitor bersinar, bukan media kertas, tapi paperless).

2. Desain yang buruk. Selain kesalahan dalam merancang deskripsi produk dan jasa, banyak yang membuat "desain landing" page kurang profesional sehingga justru terlihat seolah sebagai "SCAM". Hindari membuat pengunjung website kita seketika menjadi "ill feel" atau "bete" istilah gaulnya di Indonesia.

Hal demikian terjadi jika terlalu banyak menambahkan elemen seperti tanda panah, tendensius agar melakukan "KLIK", huruf kapital yang berlebihan, gambar yang kurang realistis ("too good to be true"), pemberian warna kurang pas, desain keseluruhan yang kurang cocok dan lain sebagainya. Jangan pernah membuat pengunjung website kita merasa tertipu, semisal "klik dengan deskripsi apa, munculnya lain lagi".

Pada dasarnya tujuan dibalik "desain" ialah untuk medium komunikasi. Dengan adanya desain, maka komunikasi akan jauh lebih mudah dicerna oleh persepsi pembacanya. Demikianlah cara kerjanya, dalam memberi stimulus lewat indera penglihatan.

3. Visitor yang minim. Jika keseluruhan proses sudah bagus namun tidak ada penjualan yang berhasil dicetak, kemungkinan karena tidak ada visitor yang cukup. Menjadi percuma bila penawaran cukup bagus dan menarik sebagai solusi bagi konsumen, namun tidak banyak orang yang mengetahuinya. Istilahnya, kurang "merakyat". Branding, pada dasarnya ialah membangun ketenaran dan nama baik.

Carilah visitor sampai ribuan kunjungan ke "landing page" kita, kemudian lanjutkan dengan langkah evaluasi mengapa tidak ada penjualan. Bila visitor sudah sebesar "gajah", namun tidak ada penjualan, kemungkinan kesalahannya adalah:

4. Visitor tidak tertarget. Menjadi upaya yang sia-sia ketika mencoba menjual motor mahal kepada kalangan anak sekolahan, alih-alih di sekitar lingkungan kampus. Jadi pastikan kita menggunakan sumber daya promosi kita untuk menjual kepada target yang tepat ("targeting").

Coba pahami seperti apa "background" konsumen kita selama ini, lalu targetkan kepada orang-orang seperti mereka. Itulah yang disebut sebagai upaya penjualan yang "terarah" dan "terencana". Marketing, terkadang bukan persoalan nasib kemujuran, namun lebih kepada perencanaan yang matang dan eksekusinya yang efektif.

Sampai jumpa dalam ulasan selanjutnya bagi Sobat-Sobat yang ingin memulai usaha menjual online produk-produk "Made in Thailand" di Indonesia, dimana REMEMBERTHAI.COM membuka kesempatan seluas-luasnya bagi Sobat sekalian untuk menjalin relasi kerja-sama pencarian dan pemasokan barang, importasi ke Indonesia, dan pengirimannya ke alamat pemesan barang.

Mari kita canangkan budaya baru, untuk memulai karir sendiri sebagai seorang seller, ketimbang menjadi pekerja kantoran yang bergantung pada gaji bulanan. Di Thailand sendiri, generasi muda Thai lebih banyak memilih untuk merintis karirnya sendiri daripada melamar pekerjaan kepada perusahaan untuk menjadi karyawan.

Segala usaha pasti ada resiko, namun menjadi pekerja kantoran pun tidak sepenuhnya bebas dari resiko disamping fakta terikat oleh jam kerja yang kaku dan nominal upah yang terpatok. Untung dan rugi dalam dunia usaha adalah hal yang wajar. Namun siapapun bisa belajar dari kesalahan dan kegagalan, dimana bila berhasil, kita sendiri yang menikmati hasilnya sebagai seorang wirausahawan mandiri.

Terdapat kepuasan tersendiri, berhasil membangun usaha sendiri, tanpa bergantung pada pihak pemberi kerja. Setidaknya, tiada istilah semacam "pensiun" maupun "PHK". Pilihan berada di tangan kita masing-masing, setidaknya kita menyadari adanya pilihan itu.

Dengan satu catatan yang tidak kalah pentingnya bahkan dapat disebut sebagai yang paling penting, apa gunanya bila kesuksesan "berbisnis online" namun mengambil keuntungan diatas penderitaan warga sekitar dengan menjadikan wilayah pemukiman sebagai tempat usaha (ilegal tentu saja) berskala besar dengan ratusan kurir hilir-mudik dipanggil untuk mengantar barang setiap harinya hingga menimbulkan polusi suara, sampah, parkir liar, dan polusi sosial lainnya.

Berusahalah pada tempat yang memang diperuntukkan untuk berusaha. Usaha bisnis online yang memanggil ratusan kurir setiap harinya, tidak pernah dapat disebut sebagai "home industry" mengingat dampak sosialnya dapat meresahkan warga disamping gudang barang dapat membawa potensi kebakaran yang mengancam keselamatan warga pemukim.

Ketika satu orang warga terganggu, maka sama artinya "kutukan" dari satu orang warga sudah terlampau banyak, dan sekaligus menjadi Karma Buruk, dimana mengganggu akibatnya akan diganggu pada kehidupan mendatang pelakunya.

Berbisnislah dengan memiliki etika bisnis, tanpa merugikan terlebih mengganggu ataupun merampas hak-hak pengguna jalan ataupun hak-hak ketenangan hidup warga pemukim.

Berbisnis online-lah secara sehat, secara bijak, maka niscaya alam semesta akan mendukung dan merestui, hidup bahagia dimasa kini dan dimasa mendatang. Berbisnis yang baik artinya tidak merugikan diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.

Sobat KWANG juga mungkin suka menyimak artikel terkait “layanan unggulan” kami ini: (pada link di bawah ini)

- Butuh dan Mencari Tour Guide Freelance bagi Wisatawan Indonesia yang Hendak Berkunjung ke Thailand? Hubungi Saja Tour Leader Riana (menguasai 4 bahasa : Indonesia, Mandarin, English, dan Thailand)

- Sedang Butuh dan Mencari Produk dari Thailand & Impor ke Indonesia? JasTip, Jasa Titip Barang Thailand dan Impor via Cargo

Karena KWANG adalah teman terbaik mu! 😀😁😇

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Ikuti juga sosial media kami pada business.facebook, dengan akun : "Expat 2 Local Thai" / @guideriana

Rincian layanan JasTip (Jasa Titip) produk Thailand, dapat dilihat pada menu "Jasa Pencarian, Jasa Titip, dan Pengiriman Produk Thailand ke Indonesia".

Rincian layanan Private Tour Guide di Bangkok-Thailand, dapat dilihat pada menu "Private Tour Guide Riana".

NOTE REDAKSI : Seluruh info kontak dalam website ini diperuntukkan khusus untuk tujuan pemesanan dan bagi pengguna jasa layanan yang kami tawarkan dalam website ini. Menghubungi kami diluar peruntukan tersebut, dimaknai sebagai menyalah-gunakan nomor / email kontak kerja profesi kami, tidak akan ditanggapi.

Mohon kesediaan menunggu sejenak bila belum ada tanggapan secara segera, karena faktor kesibukan atau karena lain sebab. Pemesanan akan kami respons sesegera yang kami mampu.

Khusus untuk keperluan pemesanan barang dari Thailand, pemesanan dompet impor souvenir resepsi pertunangan / perkawinan, maupun untuk jasa PRIVATE TOUR GUIDE LEADER FREELANCE RIANA di Thailand, contact person:
- WhatsApp : (Thailand prefiks +66) 977-146-077 [PENTING : Pastikan simbol "+" disertakan sebelum input prefiks "66" dalam daftar nomor kontak pada perangkat seluler penelepon];
- email: guide.riana@gmail.com
- LINE : RIANASHIETRA

Konsumen / pengguna jasa dapat melakukan pemesanan pada nomor kontak / email yang tercantum dalam menu "HUBUNGI KAMI" atau pada rincian "contact person" di atas, bukan pada kolom komentar pada posting website.

Kami tunggu pesanan teman-teman sekalian dimana pun berada, akan kami kirimkan pesanan Anda dengan hati yang penuh kehangatan untuk Anda atau untuk buah hati dan keluarga yang Anda kasihi.

Salam hangat dari Bangkok, Thailand.
ttd
GUIDE RIANA