Apakah Hanya Anak yang dapat Durhaka? Apakah Orangtua Tidak dapat Durhaka kepada Anak?

Apakah Hanya Anak yang dapat Durhaka Apakah Orangtua Tidak dapat Durhaka kepada Anak
Mengapa banyak anak, yang tumbuh dewasa dengan membawa serta luka batin masa lalu dan masa kecilnya, dalam “alam bawah sadar” mereka? Memori yang terekam dalam “alam bawah sadar” seseorang, menurut ilmu psikologi, tidak bersifat luntur oleh waktu, namun bisa bersifat permanen (bahkan terakumulasi) meski tidak disadari oleh yang bersangkutan ketika tumbuh dewasa dan menjelma manusia dewasa.

Konon, (ada asumsi bahwa / seolah) waktu dapat menyembuhkan. Senyatanya, waktu ternyata tidak pernah selalu menyembuhkan, justru terkadang lebih berbahaya karena bisa jadi kita tampak seolah lupa dengan segala kejadian buruk traumatik yang pernah kita alami, di permukaan tampak bersih tanpa menyisakan bekas luka apapun, namun sebenarnya kesemua itu ibarat “pendarahan dalam tubuh” yang sukar dikenali di permukaan. Bagai duri dalam daging, menyayat dan melukai, sepanjang waktu, tidak lekang oleh pertumbuhan umur, permanen, itulah luka batin masa lampau.

Seorang anak, karenanya selalu sangat rentan mendapat luka dan menjadi “sakit” (secara batin) oleh perlakuan orangtuanya sendiri, orang paling dekat yang semestinya melindungi dan membimbing secara positif, ternyata membawa dampak paling traumatik bagi tumbuh-kembang seorang anak. Sementara itu kalangan orangtua, jangankan hendak bertanggung-jawab atas luka batin yang diderita anaknya, bahkan “mau tahu” (derita dan luka batin sang anak) pun TIDAK.

Tidak jarang terjadi, anak menangis dan menderita dengan atau tanpa suara, seorang diri, sementara sang orangtua yang menjadi penyebab luka batin sang anak justru sibuk tertawa-tawa dan bersenang-senang dengan kesibukan dan kesenangan mereka pribadi.

Orangtua, realitanya dapat menjadi demikian egoistik terhadap anak kandungnya sendiri. Bila seorang “ibu tiri” yang menyakiti tubuh ataupun hati seorang “anak tiri”, maka masih dapat dimaklumi (meski tidak dapat dibenarkan). Namun, bila pelakunya ialah orangtua kandung sendiri, maka luka batin seorang anak benar-benar permanen hingga dirinya dewasa, tidak akan pernah sembuh bagaikan luka berdarah pada kulit fisik yang bisa mengering seiring berjalannya waktu.

Sehingga untuk apa juga sebagai seorang anak, kita sampai harus bersedih sepanjang waktu oleh karena atau demi orangtua semacam itu, atau bahkan menyiksa diri sendiri demi membuat orangtua demikian merasakan rasa bersalah dalam hati mereka yang “beku” menyerupai “hati yang terbuat dari batu”—meski telah jelas-jelas orangtua semacam demikian tiada memiliki perasaan bersalah membuat dan melihat anak kandungnya menderita dan menjadi “sakit” sekalipun.

Kalangan orangtua, jarang bersedia mengakui, bahwa mereka kerap menyalah-gunakan posisi mereka yang tidak pernah berimbang terhadap anak-anak mereka, semata karena status mereka ialah sebagai “ayah” atau “ibu” alias “orangtua”—dimana “anak” yang dinilai tidak berbakti (penilaian subjektif dari kacamata orangtua) adalah “anak” yang durhaka, sementara itu tiada pernah ada istilah “orangtua” yang durhaka kepada sang “anak”. Suatu ketimpangan yang selalu membuat daya tawar seorang anak, senantiasa riskan ketika menghadapi orangtua.

Berhubung dan mengingat tiada istilah “orangtua yang durhaka”, yang ada hanyalah “anak yang durhaka”, maka berlakulah dua norma dalam keluarga berikut ini : Aturan kesatu, orangtua selalu benar dan anak selalu salah. Aturan kedua, bila orangtua bersalah, lihat aturan pertama.

Karena itulah, posisi seorang anak selalu dilematis, berada dalam jalan buntu dan “di-ujung tanduk”, sewaktu-waktu orangtua dapat memainkan Kartu Truf untuk memeras emosi dan perasaan anak kandungnya, dengan ancaman akan disebut sebagai “anak yang durhaka”, “tidak berbakti”, “tidak tahu balas budi”, dan lain sebagainya—seolah-olah sebagai seorang anak kita yang meminta dilahirkan oleh mereka ke dunia ini, atau seolah kita yang telah memilih mereka untuk menjadi orangtua kita.

Karena perspektifnya ialah “siapa yang melahirkan” dan “siapa yang telah dilahirkan”, maka terjadi pergeseran beban moralitas, dimana orangtua yang (semestinya) bertanggung-jawab telah melahirkan seorang anak, dialihkan isunya menjadi seorang anak yang harus tahu balas-budi karena telah dilahirkan. Dilahirkan sama artinya berhutang pada yang melahirkan, seolah sang anak pernah memintanya—meski pelakunya ialah orangtua kandung itu sendiri, dimana lahirnya janin dan bayi semata adalah konsekuensi logis perbuatan kedua orangtua yang melakukan pembuahan dalam rahim.

Orangtua, dapat menjelma demikian picik; dan sebaliknya, posisi seorang anak dapat menjadi demikian rapuh, rentan, sekaligus tanpa daya. Seringkali terjadi, kalangan orangtua menutup telinganya rapat-rapat dari tudingan “orangtua yang tidak bertanggung-jawab terhadap anak”, semata karena mereka menganggap telah memberi makan anaknya, menyekolahkan, dan memberi tempat bernaung untuk tinggal bagi mereka (bagai memelihara seekor hewan peliharaan). Sementara itu posisi seorang anak selalu penuh riskan dan tidak jarang bahkan mendapati “jebakan”, ketika disodorkan ancaman untuk disebut sebagai “anak yang durhaka”, “anak yang tidak berbakti”, “anak yang telah repot-repot dilahirkan namun tidak patuh dan menurut perintah orangtua”, dan lain sebagainya, yang sifatnya semata memanipulasi pikiran dan jiwa sang anak.

Relasi yang terjadi kemudian ialah menyerupai transaksional layaknya jual-beli, dimana anak telah dilahirkan oleh orangtua, karenanya anak harus menjadi objek “sapi perahan” orangtua sekalipun tetap harus menurut dan patuh, tidak boleh membantah, tidak boleh menolak, dan tidak boleh protes, sebagai “bayarannya” (karena telah dilahirkan).

Itulah kondisi dimana, sosok semacam orangtua tidak jarang menjadi “mimpi buruk” bagi seorang anak yang akan dapat terbawa dan menghantui hingga dirinya beranjak dewasa. Bila orangtua sendiri senantiasa bersikap begitu jahat terhadap anak kandungnya, bagaimana dengan sikap orang lain atau pihak luar terhadap diri sang anak?

Banyak studi kasus menunjukkan, para orang dewasa mengalami banyak luka batin masa lampau yang tersimpan dalam “alam bawah sadar” mereka yang kerap mengambil-alih kesadaran di keseharian, ternyata ialah luka batin masa lampau ketika masih kecil sebagai seorang anak ketika mendapati perlakuan orangtuanya sehingga efek traumatik demikian terbawa dan terekam oleh sang anak hingga menjelang dewasa. Dendam yang bahkan tidak disadari oleh sang anak, semata karena masyarakat sosial masih menilai bahwa menaruh dendam terhadap orangtua adalah hal yang tabu, karenanya terjadi proses “pengingkaran” (denial) terhadap luka batin yang diderita oleh sang anak perihal kondisi batinnya yang terluka.

Menurut Sobat, manakah yang lebih berat, menjadi seorang anak ataukah menjadi orangtua? Ilustrasi kisah nyata berikut ini dapat menjadi jawabannya, yang mungkin tidak akan asing lagi dengan kehidupan pribadi para pembaca. KWANG memiliki seorang kenalan yang mengalami luka batin yang sangat parah derajat akutnya (hati yang “berdarah-darah”) hingga menjelma pribadi yang “sakit” secara mental—meski orangtuanya tidak akan mau bersedia mengakui bahwa anaknya “sakit”, terlebih “sakit” akibat perilaku orangtuanya itu sendiri yang mana bila mengakui anaknya “sakit” sama artinya mengakui perbuatan buruk yang dilakukan oleh sang orangtua. Orangtua mana yang akan mengaku? Itulah cerminan egoisme terbesar dalam diri para orangtua.

Berikut di bawah ini cuplikan sedikit adegan kisah hidup seorang kenalan KWANG, dimana seluruh kejadian berikut adalah nyata terjadi, seorang anak yang menjelma manusia dewasa penuh dendam amarah dan kebencian terhadap orangtuanya, serta harus memikul “luka batin masa lampau” seorang diri akibat perilaku orangtua yang egoistik bahkan terhadap anak kandungnya sendiri.

Mungkin selama ini kita menilai bahwa banyak orangtua di luar sana, yang kini hidup terpisah tempat tinggal dari anak-anak mereka, karena anak-anak mereka memilih memiliki hidup bebas terpisah dari kungkungan orangtuanya. Tampak seolah mereka adalah anak-anak yang tidak berbakti karena tidak merawat orangtua yang menjadi orang tua yang menua. Namun, itu semua tampak di permukaan oleh sudut pandang kita yang merupakan orang luar (outsider). Kita tidak pernah berhak menghakimi kehidupan pribadi orang lain, yang tidak pernah kita ketahui seluruh sejarah, kondisi, serta latar-belakang hidupnya.

Sang anak mengalami banyak kerugian dan kemunduran dalam hidupnya, dari segi waktu, kesempatan, peluang, kebahagiaan, perkembangan diri, dan berbagai derita lainnya. Adakah sang orangtua sumber penyebab semua derita dan kerugian yang dialami oleh sang anak, akan bersedia bertanggung-jawab dan mengganti-rugi? Jangankan akan bertanggung-jawab, MAU TAHU PUN TIDAK!

Sampai pada satu titik, sang anak terpaksa harus membuat pilihan hidup, terus membiarkan dan melihat dirinya kian merugi dan menyia-nyiakan kesempatan maupun kebahagiaan hidupnya dibawah diktatoriat orangtua yang jelas-jelas tidak bertanggung-jawab demikian (sehingga adalah delusi bila masih mengharapkan adanya sebentuk tanggung-jawab setelah berbagai kekecewaan dialami sepanjang hidup sang anak), atau memilih untuk mengambil-alih tanggung-jawab serta mencari kebahagiaan hidupnya sendiri dengan melepaskan diri dari kungkungan sosok orangtua.

Orangtua memiliki nasibnya sendiri, anak pun tidak terkecuali, memiliki nasibnya sendiri. Biarkan masing-masing bertanggung-jawab atas nasibnya sendiri. Bila orangtua tidak dapat membawa kebaikan bagi diri kita, maka jangan biarkan orangtua terus-menerus membawa kerugian bagi hidup kita, karena kita memiliki tanggung-jawab pula terhadap diri kita sendiri.

Pada prinsipnya, semua anak ingin menjadi anak yang berbakti. Tidak ada kalangan anak mana pun yang ingin menjadi anak yang durhaka dan tidak berbakti—cita-cita yang mustahil dari seorang anak yang lugu dan polos, kecuali dicermarkan oleh perilaku orangtuanya sendiri sebagai sebuah teladan yang sekadar ditiru oleh sang anak. Anak, adalah makhluk peniru. Menjadi lucu bila sang anak yang hanya meniru perilaku orangtuanya, kemudian dipersalahkan oleh sang orangtua karena menampilkan perilaku yang ditiru olehnya dari sang orangtua itu sendiri. Namun demikian faktanya yang tidak jarang terjadi, disaat bersamaan sang orangtua kembali memberikan teladan yang buruk bagi sang anak, kemunafikan.

Jika kita melihat secara lebih mendalam, seperti kejadian hidup yang dialami kenalan KWANG selama puluhan tahun, kita akan mulai mampu membedakan antara seorang anak yang “durhaka tidak berbakti” dan anak yang terpaksa memilih hidup terpisah karena “di-usir” lewat perlakuan buruk orangtuanya yang kerap melecehkan dan mendiskreditkan sang anak kandung, sehingga bukan berangkat dari kemauan pribadi sang anak untuk meninggalkan orangtuanya yang menua sebatang kara di rumah.

Adakah dapat dibenarkan secara moril, seorang anak mengabaikan kebahagiaan hidup dan masa depannya sendiri, hanya demi memuaskan ego orangtua yang tidak mengenal kata terpuaskan seperti apapun pengorbanan hidup sang anak? Seorang anak, berhak untuk hidup bebas meraih impian dan kebahagiaannya sendiri, sebagaimana orangtua mereka telah menikmati masa muda—sehingga mereka tidak punya hak untuk merampas dan menghisap kebahagiaan hidup putera-puteri mereka, bagaikan “blackhole” yang menghisap sinar apapun di sekitarnya tanpa kenal puas, sehingga yang terhisap akan memudar cahayanya, layu sebelum sempat mekar.

Sang Buddha pernah bersabda, adalah derita bila berpisah dengan orang yang dicintai. Namun, sabda Sang Buddha tidak berhenti sampai disitu, ditambahkan bahwa juga adalah derita ketika kita berkumpul bersama orang yang tidak kita sukai. Karenanya, dapat kita simpulkan pula, menjadi “neraka” bagi seorang anak, yang merasa “terpenjara” (dalam arti yang sesungguhnya) hidup bertempat-tinggal bersama orangtua yang sangat amat dibenci oleh sang anak yang menjelma dendam dan penuh kemarahan terhadap sosok orangtuanya yang kerap “abuse” terhadap statusnya selaku orangtua terhadap anak.

Karena membalas dendam pada orangtua, masih ditabukan oleh sosial-masyarakat maupun oleh agama, alhasil sang anak menjelma membenci hidupnya sendiri karena dilahirkan dalam kondisi “maju kena, mundur pun kena”, serba salah. karenanya, ia hanya bisa membenci dan “memukuli” dirinya sendiri, menertawakan hidupnya sendiri, serta membenci hidupnya sendiri, tanpa daya, pasrah. Merusak diri sendiri, akibat sikap buruk orangtua yang tidak patut dan tidak adil terhadap anak, dimana seorang anak dilarang untuk membalas, semata agar tidak disebut sebagai “durhaka”.

Bila untuk dapat disebut sebagai “anak yang berbakti”, parameternya ialah orangtua yang terpuaskan, maka artinya hampir mustahil atau kecil sekali kemungkinan bagi seorang anak untuk dapat disebut sebagai “anak yang berbakti”, karena sebanyak apapun derita serta pengorbanan seorang anak, orangtua yang tidak tahu berterimakasih ataupun “balas budi” baik anak, selalu dibenturkan pada alasan klise “siapa yang telah melahirkan sang anak”, karenanya akan memilih “lebih baik sejak awal memilih untuk menjadi anak durhaka saja sekalian, karena tetap akan dinilai sebagai belum berbakti sebanyak apapun pengorbanan diri sebagai seorang anak”.

“Terpenjara”, bagai burung yang terpasung tidak dapat mengepakkan sayap untuk terbang bebas, semata karena disandera oleh sang orangtua yang menuntut sang anak untuk berbakti, semenderita seperti apapun kondisi hidup atau sebanyak apapun pengorbanan yang telah sang anak kerahkan selama ini bagi orangtuanya yang tidak pernah mengenal kata terpuaskan dengan selalu memainkan Kartu Truf yang sama berulang-kali : “Siapa yang telah melahirkan kamu?!

Jadilah, bagaikan burung merpati yang sayapnya dipatahkan sehingga tidak dapat terbang bebas, terpasung oleh sandera bernama “ancaman akan disebut anak durhaka”, terpenjara dalam sangkar yang sempit bersama “monster” menakutkan yang “anak selalu salah, orangtua selalu benar, karena hanya anak yang bisa durhaka”.

Terjadilah, cacat retak personal dan batin jati diri sang anak, yang merasa hidupnya demikian menyerupai seorang narapidana abadi, mimpi buruk yang sangat panjang sepanjang hidupnya, harus menanggung beban mimpi buruk hingga berapa lama lagi? Sang anak yang sangat memiliki jiwa berbakti, berakhir sebagai anak yang mendoakan agar ibunya tutup usia, semata agar sang anak dapat secepatnya terbebas dari derita dan beban yang selama ini dipikul oleh bahunya. Memang ironis mendengarnya.

Memang menjadi membingungkan, orang-orang yang orangtuanya tutup usia lebih cepat, tidak memiliki potensi resiko diberi stigma oleh publik sebagai anak durhaka maupun tidak berbakti, semata karena orangtuanya telah tiada lebih dahulu, ketimbang kalangan anak yang memiliki orangtua yang panjang umur. Letih dan serangkaian derita yang dalam beberapa segi cukup menyerupai “series of unfortunate events”, hanya itulah kesan kehidupan yang diberikan oleh sang ibu yang telah melahirkan sang anak.

Sedikit demi sedikit, perlakuan demi perlakuan, hari demi hari, kejadian demi kejadian, terus mengikis dan menambah banyak sayatan pada luka hati dan luka batin sang anak. Bila kesemua faktor perasaan itu dapat kita saksikan dengan mata, mungkin akan tampak menyerupai seorang anak yang “babak belur” kondisinya, atau berdarah-darah dengan darah yang terus mengalir tanpa henti, sehingga kondisi tubuh dan jiwa sang anak selalu merasa terkuras habis, tanpa daya, tanpa semangat hidup, terkungkung, tanpa harapan, dan tanpa gairah hidup. Bagaikan sekuntum bunga yang layu sebelum sempat mekar sempurna. Bagaikan sebuah layar yang diputar dalam gambar hitam-putih yang suram, tiada warna, film membosankan yang sama diputar berulang-ulang, tiada kegembiraan, tiada keceriaan, tiada suka cita, tiada antusiasme, tiada harapan, hanya sekadar melewati hari demi hari tersiksa menjadi “anak yang manis” (be a good boy), sekalipun luka batin semakin menumpuk dan semakin menjadi bumerang bagi kondisi kesehatan jiwa sang anak itu sendiri, patah semangat hidup dan mulai membenci kehidupan ataupun menyesali kelahirannya.

Sang anak, ketika berpuluh-puluh tahun menderita diperlakukan secara sewenang-wenang oleh orangtuanya, kemudian bertekad untuk membuat pilihan yang radikal demi kebahagiaan dan demi kebaikan hidup dirinya agar tidak semakin banyak luka batin yang ia derita, yakni pergi meninggalkan rumah agar dapat hidup bebas meraih impian, cita-cita, serta kebahagiaannya sendiri, sekalipun akan kembali disebut sebagai anak yang durhaka karena tidak berbakti. Orangtua yang telah menghambur-hamburkan kesabaran dan kemurahan hati seorang anak, tidak berhak untuk merampas kebahagiaan terlebih menyandera hidup seorang anak untuk sepanjang hayat hidupnya. Seorang anak dilahirkan bukan untuk menjadi seorang babysitter bagi diri sang orangtua, namun untuk menjadi diri pribadi sang anak itu sendiri dengan masa depan mereka sendiri.

Pernah terjadi sebelum itu, sang anak yang selama ini mengalami penyakit eksim pada kakinya, berupa luka terbuka yang terus-menerus berair tanpa pernah mengering, menurut dokter terjadi dan terpicu ketika dirinya alergi pada sesuatu ataupun bisa juga terjadi akibat kondisi stress pada pikiran. Ketika orangtuanya bertanya, itu luka (eksim) mengapa muncul terus silih-berganti dan tidak kunjung mengering dan sembuh?

Sang anak menjawab, secara jujur, akibat stress yang dialami olehnya secara menahun. Seketika itu juga secara reaktif sang orangtua membantah bahwa tidaklah benar itu akibat stress yang dialami oleh sang anak. Sang anak mendapati, dirinya berkata jujur tentang kondisinya pun ternyata tidak dibolehkan di hadapan orangtuanya tersebut yang seketika menghakimi dirinya sebagai “mengada-ngada”. Pada kesempatan lainnya, ketika eksim kembali muncul, sang orangtua kembali bertanya itu karena apakah sehingga luka itu kembali muncul tanpa pernah sembuh? Dijawab oleh sang anak karena sang ibu terus mendesak pertanyaan serupa yang tidak ingin dijawab olehnya kerena percuma mengingat sang ibu hanya ingin mendengarkan jawaban yang ingin didengar oleh telinganya, “Tidak tahu.”

Sang anak tumbuh dari kecil hingga dewasa, selalu serba “meraba-raba” seorang diri, tiada pernah diberikan bekal keterampilan dasar hidup apapun agar dapat hidup mandiri. Semua harus serba “try and errors” seorang diri, berjalan seorang diri, bagai hidup dalam kegelapan, sekalipun setiap harinya tinggal bersama kedua orangtuanya. Hidup dalam ketakutan dan “kegelapan”, sudah menjadi “menu” sehari-hari yang tidak asing lagi bagi sang anak. Bahkan sudah kenyang. Tiada hari tanpa ketakutan dan merasa takut, memikul perasaan takut itu seorang diri.

Sang orangtua memberikan teladan berupa sikap gemar “ribut”, entah internal konflik rumah-tangga maupun terhadap tetangga dan orang ketiga di luar rumah. Sang anak tumbuh dengan meniru apa yang mereka lihat dan cara orangtua mendidik lewat perilaku mereka di keseharian, menjelma pribadi yang juga menjadi mudah temperamental terpancing emosi.

Suatu hari, dan seringkali, ketika terdapat tetangga ataupun orang asing mengganggu kedamaian dan keamanan rumah tinggal keluarga, sang anak sekalipun sudah bersabar cukup lama namun gangguan serupa terus berlangsung oleh pihak yang sama sekalipun telah ditegur, pada gilirannya menjadi tersulut emosi dan meledaklah “ribut” dengan orang luar rumah, semata demi membela, memperjuangkan, dan mempertahankan hak-hak pemilik rumah yakni orangtua sang anak. Namun, sang orangtua justru mempersalahkan dan menyalahkan sang anak sebagai “tukang ribut”, tanpa pernah mau bercermin teladan apa yang mereka berikan kepada anaknya selama ini.

Tiada bantuan berupa pemikiran solusi, tiada bantuan teladan yang baik dan unggul, tiada bantuan moril, semata hanya pandai menyalahkan sang anak. Sang anak pernah berkata kepada KWANG, “Seburuk-buruknya keluarga orang lain, keluarga mereka siap maju membela segala daya ketika anggota keluarganya disakiti dan dilukai pihak luar. Sementara ibu aku, hanya pandai menyalahkan dan mendiskreditkan serta bersikap arogan dan diktator terhadap anak, namun pengecut luar biasa terhadap pihak luar rumah.” Dalam semua hal, anak selalu dalam posisi serba salah karena senantiasa dipersalahkan.

Sang ibu, demikian pengecut terhadap orang asing ataupun orang lain, namun demikian “perkasa” dan “gagah berani” ketika berkelahi kata-kata keras menghadapi sang anak. Jago kandang, sikap pengecut yang ditampilkan orangtua demikian, sangat merusak pertumbuhan mental seorang anak. Semakin kecil dan semakin kecil, penghargaan diri sang anak di mata diri sang anak itu sendiri, terdegradasi oleh orangtuanya yang hanya pandai mengecilkan hati sang anak.

Sekalipun sang anak telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya, sekalipun merasa iri terhadap anak-anak dari keluarga lainnya yang hidup lebih bahagia dan lebih patut, hidup bebas dan diberi bekal keterampilan hidup memadai oleh orangtuanya, sekalipun hidup demikian mengalah dan demikian sederhana, namun sang ibu yang telah hidup lebih dari berkecukupan, dipenuhi segala kebutuhannya bahkan melebihi, hidup nyaman dengan semua terpenuhi dan melimpah oleh pengorbanan sang anak, namun sang ibu selalu berkata : “Semua ini belum cukup, kamu belum cukup berbakti pada orangtua, harus lebih berbakti.” Sekalipun sang anak telah mengorbankan segala yang ia punya dan ia miliki, bahkan hidupnya sendiri, namun sang ibu belum merasa cukup terpuaskan. Apakah sang anak harus dihisap hingga seluruh nafas hidupnya alias hingga tewas, barulah sang ibu akan merasa terpuaskan dan dapat baru disebut sebagai telah “berbakti pada orangtua”?

Pernah terjadi suatu waktu, sang ibu bersama sang anak dan saudara sang anak berkunjung ke semua pusat perbelanjaan, sang anak yang berjalan dalam posisi paling belakang memilih berjalan pada posisi demikian, sementara sang ibu di tengah, dan saudara-saudara sang anak berjalan di paling depan, agar ada yang mengawasi dan menjaga sang ibu, seperti bila sang ibu membutuhkan pendampingan, tertinggal dari rombongan, antisipasi adanya pencopet, ataupun sebagai wujud penghormatan.

Namun apa yang kemudian diutarakan oleh sang ibu kembali melukai hati sang anak, dengan bersungut-sungut dengan mulut yang jahat dan kasar mengatai sang anak sebagai “Mengapa berjalan sendirian di paling belakang, mengucilkan diri sendiri!” Sindiran demikian terus berulang-ulang dilontarkan, dengan tanpa rasa terimakasih ataupun simpatik atas niat baik sang anak. Mulut yang jahat ialah cerminan hati yang jahat, karena perkataan bersumber dari pikiran.

Bila sang anak berjalan bersama saudara-saudaranya di posisi paling depan, meninggalkan sang ibu di belakang seorang diri, pastilah sang ibu akan kembali melontarkan kata-kata menyayat hati dari mulut yang sama jahatnya, yang tidak perlu KWANG ungkapkan di sini, dan pastinya Sobat yang memiliki EQ akan dapat menerka apakah yang akan dilontarkan oleh sang ibu. “Mengapa kamu mengucilkan ibu kamu di belakang seorang diri, anak tidak berbakti!” Entah mengapa, banyak sekali kalangan perempuan, entah wanita muda maupun perempuan tua, yang memiliki mulut yang “tidak dapat dijaga dan suka bicara seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain dan tanpa pernah mampu (tepatnya tidak pernah mau) melihat perilakunya sendiri”?--meski tidak semua kalangan wanita demikian, tanpa bermaksud menggeneralisir, dimana tidak jarang kalangan pria tidak kalah jahat dalam bertutur-kata secara tidak adil dan tidak benar.

Sejak kecil hingga beranjak dewasa, yang senantiasa didengar oleh telinga sang anak ialah keluh-kesah sang ibu yang selalu tidak puas akan segala hal, seolah-olah hanya dirinya yang dapat merasakan derita dan getir kehidupan, seolah hanya dirinya seorang yang memiliki masalah dalam hidup, seolah hanya dirinya yang dapat merasa letih dan yang memiliki kontribusi dalam rumah-tangga (disaat bersamaan mengecilkan peran anggota keluarga yang lain, termasuk pengorbanan hidup sang anak).

Sehingga satu-satunya teladan terbesar yang diberikan oleh sang ibu, ialah teladan buruk untuk hidup serba berkeluh-kesah, keluh-kesah kepada orang yang tidak tepat, seolah kehidupan sang anak belum cukup suram dan kelam menjelma gelap seutuhnya tanpa warna terlebih kebahagiaan. Hidup, adalah derita semata, itulah kesan yang kemudian diperoleh oleh sang anak sepanjang hidupnya bersama sang ibu, sehingga menjelma apatis serta tiada optimisme dalam hidup. Kebahagiaan adalah hal yang langka dan istimewa, itulah yang didapatkan oleh sang anak.

Sang anak tidak sepenuh hati melamar pekerjaan para berbagai perusahaan, agar dapat menjaga ibunya di rumah sembari merintis karir pribadi. Namun berbagai perlakuan yang melecehkan terus dialamatkan oleh sang ibu yang selama ini menganak-emaskan saudara kandung dari sang anak, yang mana saudaranya berusia lebih tua.

Ketika suami dari sang ibu pergi tinggal terpisah dari sang ibu, begitupula saudara kandung yang lebih tua dari sang anak juga turut pergi meninggalkan sang ibu dan hidup terpisah, tanpa belajar dari kejadian ditinggalkan demikian, sang ibu tetap dengan watak karakternya yang serba arogan serta diktator terhadap sang anak. Alhasil, kemudian sang ibu hanya bersama sang anak, yang tetap saja tanpa menyadari kondisi telah jauh berubah dari keadaan sebelumnya, menjelma “di ujung tanduk”, sang ibu tetap saja dengan kebiasaan sikap diktator-arogansinya terhadap sang anak yang tidak tega turut pergi meninggalkan sang ibu yang selama ini telah banyak menyiksa dirinya semata karena rasa kasihan—rasa kasihan dan bakti yang sama sekali tidak dihargai bahkan menjadi bumerang bagi sang anak atas sikap “besar kepala” dan arogansi sang ibu yang tampaknya memang menyalah-gunakan sifat penuh kebaikan hati sang anak.

Ketika kondisi telah “di ujung tanduk” dari segi ekonomi maupun sosiologis, dimana hanya tinggal berdua dalam satu rumah, sang ibu justru kian merajalela dengan gaya hidup mewahnya, sama sekali tidak menaruh prihatin maupun sikap pengertian terlebih mencoba memahami kondisi kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh sang anak, dimana selama ini sang ibu tidak bekerja mencari uang namun semata meminta dari anak.

Sang ibu tidak menginginkan beras ataupun makanan murah, hanya ingin beras dan makanan mahal dari Mall. Sang ibu tidak menginginkan sandal yang dijual di pasar tradisional, hanya ingin membeli sandal dari Mall. Tanpa melihat kondisi ekonomi sang anak yang berdarah-darah harus memikul ekonomi keluarga, sementara sang anak baru mulai merintis karir pribadi karena pribadinya ada “cacat” sehingga tidak cocok menjadi pekerja kantoran mengingat dirinya adalah anak korban “broken home” lengkap dengan segala trauma yang dideritanya, dimana penghasilan masih sangat minim, sang ibu justru memaksa sang anak untuk turut bergaya hidup mewah seperti dirinya, tanpa ada rasa prihatin atau sejenisnya. “Yang benar saja,” demikian tutur sang anak membatin atas perilaku sang ibu yang sama sekali gagal menampilkan sikap simpatik dan empati atas kondisi hidup sang anak.

Sang anak sama sekali belum pernah pergi ke luar negeri, sementara sang ibu tidak jarang berpergian ke luar negeri. Sang anak menghemat setiap sen dan setiap keping uang, sementara sang ibu menghambur-hamburkan dan menyepelekan jirih-payah sang anak yang mencari dan mengumpulkan uang agar dapat survive bertahan hidup. Sang ibu hidup nyaman dengan pendingin ruangan, sang anak hidup tanpa pendingin ruangan apapun. Pakaian sang anak sangat sederhana, banyak diantaranya yang telah berusia belasan tahun bahkan ada yang sudah berusia lebih dari itu, sementara pakaian sang ibu serba mewah, dari Mall tentunya.

Sang ibu makan apapun yang diinginkan olehnya, jika perlu menantang wabah demi menyenangkan isi perutnya. Sang anak, hanya makan dua kali sehari tanpa pernah menuntut menu apapun. Sangat kontras sekali membandingkan gaya hidup sang anak dan sang ibu. Sang anak menegur sang ibu agar tidak mengkonsumsi gorengan yang penuh minyak, sang ibu murka, sekalipun selama ini mengkonsumsi obat-obatan untuk penyakit kolesterol tinggi.

Sang anak mulai berpikir, sang ibu hanya bersedia senang, tidak pernah bersedia untuk “senang dan susah” bersama sang anak. Jika demikian adanya selama ini, maka alangkah lebih membahagiakan dan melegakan nurani serta batin, bila sang anak dapat memikul dan menikmati “suka serta duka” seorang diri saja, alias HIDUP BEBAS, bagaikan seekor merpati yang mendambakan dan mengimpikan terbang keluar dari sangkar yang selama ini memenjara sang merpati putih.

Sayap yang selama ini terikat dan diikat, yang selama ini hanya dapat menonton dunia luar dari balik sangkar yang sempit, dibentangkan lebar-lebar menyongsong angkasa yang luas dan penuh berbagai peluang kehidupan yang tidak terbatas. Setidaknya, dengan cara demikian sang anak tidak perlu lagi menyakiti diri sendiri ataupun mendoakan agar sang ibu segera “game over” sehingga tidak lagi menjadi beban (beban mana yang tidak memiliki perasaan malu membebani secara berlebihan), serta sang ibu tidak lagi dapat terus-menerus berbuat jahat pada sang anak, dan mulai belajar untuk mengasihi diri sendiri setelah hidup bebas. Hidup mandiri dan bebas, bukanlah sebuah dosa.

Sang ibu senantiasa menyakiti perasaan dan batin sang anak, sang anak selalu memaafkan, namun kembali terulang, dimaafkan, kembali terulang, hingga kesekian kalinya tanpa lagi terhitung jumlahnya. Tampaknya, yang bodoh ialah diri sang anak itu sendiri, yang tidak belajar dari pengalaman yang selalu berulang-kali terjadi secara serupa : yang tidak patut dimaafkan jangan pernah memaksakan diri untuk memaafkan, karena selalu berulang.

Sampai pada akhirnya sang anak sama sekali tidak bersedia berbicara dengan sang ibu dan mulai bertekad untuk hidup bebas terpisah dari sang ibu untuk selama-lamanya, apapun yang akan orang lain atau sang ibu komentari terhadap pilihan hidup sang anak, termasuk resiko disebut kembali sebagai “anak durhaka” atau “anak tidak berbakti”.

Serasa belum cukup, masih juga sang ibu membanding-bandingkan dengan anak si anu, atau anak si anu, dan anak si anu, yang menyenangkan ibunya dengan membawa sang ibu berjalan-jalan dengan mobilnya sekalipun dibeli dengan uang hasil pekerjaan kotor—tanpa mau mengakui dan menyadari kondisi sang anak yang benar-benar telah menderita dengan segala pengorbanan maupun kondisinya yang telah demikian “sekarat”, tanpa rasa bersyukur, tanpa rasa terimakasih, tanpa rasa bersalah, tanpa rasa belas kasihan, tanpa rasa toleransi, tanpa rasa saling mengerti ataupun pengertian.

Sang ibu demikian penuh kasih, penuh toleransi, penuh kebaikan terhadap orang lain, namun demikian berhati dingin kepada anaknya sendiri. Sang ibu loyar dalam segi uang kepada orang lain yang sebetulnya mereka bekerja mencari nafkah sendiri, sementara sang ibu tidak bekerja dan hanya meminta uang dari anak. Namun, alih-alih menaruh hormat terhadap pengorbanan anak, sang ibu selalu memandang hanya dirinya seorang diri yang bekerja keras bagi keluarga.

Seorang ibu semestinya penuh welas asih kepada anak kandung, bukan justru menjadi diktator otoriter yang hanya pandai menindas anak sendiri sementara demikian pengecut terhadap orang lain. Kian retak dan mengalami luka menjelma cacat pada batin sang anak, menjelma anak yang “sakit”—sakit mana tidak akan pernah diakui terlebih dipertanggung-jawabkan oleh sang ibu.

Sang anak pernah pergi kabur dari rumah karena suami-istri tersebut kerap bertengkar hebat dalam rumah-tangga, putus sekolah bertahun-tahun, menderita depresi akut tanpa siapapun mengulurkan tangan untuk menolong, menanggung ketakutan seorang diri, diskredit dari keluarga, hingga kerap mengimpikan dapat hidup bebas tanpa tersandera. Namun berbagai kebaikan hati sang anak yang tetap mencoba bertahan dalam derita dan berbagai pengorbanan diri yang senantiasa mendahulukan kebutuhan sang ibu, seolah tampaknya sang ibu menyalah-gunakan sifat baik sang anak dengan memahami dan mengetahui betul kebaikan hati sang anak yang sedikit-banyak memiliki watak altruistik, selalu mendahulukan kepentingan ibu kandungnya ketimbang kepentingan dan kebutuhan pribadi dirinya sendiri.

Sang ibu senantiasa meremehkan serta menyepelekan setiap luka batin yang diakibatkan oleh perilakunya terhadap sang anak. Hingga sang anak tumbuh dewasa, tidak pernah sekalipun sang ibu bertanya, apakah ada masalah yang diderita atau dihadapi oleh sang anak agar dapat memikulnya bersama. Yang ada ialah selalu berwujud penghakiman dan diskredit yang melecehkan dan mendegradasi kepercayaan dan harga diri. Harga diri, tidak bisa dimakan, kata sang ibu.

Memiliki segudang keinginan dan tuntutan hidup, namun selalu saja pada gilirannya orang lain (anggota keluarga) yang direpotkan olehnya. Selalu demikian, adegan yang sama selalu diputar berulang-ulang tanpa bosannya, sekalipun sang anak sudah sangat bosan dan letih menghadapinya, menjelma apatis dan “terserahlah”.

Alih-alih meringankan beban sang anak yang sudah sangat terbebani, sang ibu justru kerap menambah berat beban bagi sang anak oleh segala sikap merepotkan, tidak terpuaskan, banyak maunya, serta kebodohannya yang benar-benar “dungu” untuk ukuran orang dewasa, sehingga selalu menjadi beban tambahan bagi sang anak. Apapun teguran dari sang anak, selalu dianggap angin lalu, sehingga sang anak kemudian hari selalu memberi teguran dengan nada keras sekeras-kerasnya, dan itupun belum tentu efektif. Mungkin dapat disebut sebagai watak kepribadian yang “bebal”.

Contoh, dirinya komplain terhadap anak yang memasang keran pengganti, menyatakan keran di wastafel yang sang anak beli, keras ketika diputar untuk membuka dan mematikan air. Namun sang ibu kemudian justru membeli (di Mall, tentunya) keran yang jauh lebih keras lagi. Sang anak kemudian membelikan keran yang ringan saat diputar, namun sekalipun telah berulang-kali diberitahu bahwa keran tersebut tidak boleh diputar mati secara penuh agar tidak meneteskan air. Sebanyak apapun diberitahu, sang ibu tetap “bebal”, memegang teguh asumsi konyol bahwa “keran harus diputar mati sampai penuh” agar dapat mematikan air agar tidak menetes. Sampai pada akhirnya sang ibu memasang keran lain yang lebih “bodoh”, dan makin kacau kondisinya. Pada akhirnya, lagi dan lagi, orang lain yang direpotkan olehnya. Sesuatu yang sebetulnya tidak bermasalah, dapat menjadi bermasalah di tangan sang ibu yang kelewat “dungu” untuk ukuran orang dewasa, namun disaat bersamaan demikian bersikap “sok tahu” terhadap sang anak, hanya terhadap sang anak.

Bila orang lain mengatakan, surga ada di bawah telapak kaki ibu (dan itu benar-benar pernah disampaikan oleh sang ibu kepada sang anak, guna mengeksploitasi dan memanipulasi kebaikan hati sang anak agar kian mengorbankan diri bagi sang ibu), maka bagi dan di mata pribadi sang anak : Neraka terdapat persis pada aura keberadaan dan sikap diri sang ibu. Sang ibu adalah dan sudah merupakan neraka itu sendiri. Dilahirkan ke dalam neraka, sudah sang anak cicipi dalam hidupnya masa kini. Keberadaan sang ibu menjadi neraka bagi sang anak yang ketakutan hidup dalam satu atap.

Pernah terjadi, sang ibu yang kerap memaksakan keadaan, tanpa pernah mau menyesuaikan diri dengan kondisi keluarga (dimana dirinya hanya tinggal seorang diri bersama sang anak) maupun situasi kesulitan ekonomi yang dihadapi sang anak, membeli seprai dari Mall (selalu Mall) dengan harga yang tidak pernah murah (namanya juga Mall), sekalipun sang anak bertanya, “Bukankah di rumah sudah ada banyak seprai yang masih layak dipakai?” “MANA ADA SEPRAI LAGI DI RUMAH!” Sekalipun, faktanya pada lemari pakaian di rumah terdapat LUSINAN seprai yang masih sangat bagus dan layak dipakai kondisinya. Anak, hanya dipandang sebagai “mesin ATM” oleh sang ibu, yang baru akan bersikap “manis” bila ada maunya.

Ketika bersama-sama ke minimarket, sang anak bertanya apakah mau membeli sabun pencuci tangan cair sambil menunjuk produk yang ada di rak minimarket. Namun sang ibu seketika menolak dan menyatakan hanya ingin sabun pencuci tangan cair yang MAHAL BERMEREK. Bukankah sabun pencuci tangan fungsinya adalah untuk mencuci tangan, apa hubungannya dengan yang mahal bermerek?

Semua orang juga ingin yang mahal dan bermerek, dalam segala hal, namun konsekuensinya ialah biaya, dan itu artinya lagi-lagi dan kembali lagi MEMBEBANI ANAK yang menjadi sumber nafkah bagi keluarga. Alih-alih menolong dan meringankan beban anak, sang ibu hanya pandai menambah berat beban untuk dipikul sang anak, dalam segala hal, cerminan EQ yang sangat buruk.

Dibuat "gila" oleh segala perilaku sang ibu yang tidak pengertian terhadap kondisi sang anak, sang anak yang kemudian benar-benar menjadi gila dibuatnya, kemudian dihina oleh sang ibu sebagai "orang GILA"--sekalipun sumber penyebabnya ialah ulah sang ibu itu sendiri, cerminan watak tidak berperasaan terhadap anak kandung sendiri, namun disaat bersamaan sang ibu demikian baik hati dan toleran terhadap orang lain.

Sang ibu hanya pandai menyiksa anak, dalam arti yang sesungguhnya, menyiksa mental psikis dan fisik secara perlahan-lahan. Sang anak menjadi "layu", sekalipun belum sempat mekar secara sempurna dibandingkan anak-anak muda yang seusianya.

Suatu ketika, tanpa mau memahami ataupun mengerti kondisi ekonomi sang anak yang sangat berat, sang ibu mengajak sang anak membeli kue di Mall. Ternyata, harga kue bernama "kue lapis legit" yang ukurannya tidak sampai satu telapak tangan anak kecil, namun dijual dan dibeli oleh sang ibu dengan harga ratusan ribu rupiah. Sang anak terkejut, dan benar-benar dibuat terkejut bahwa sang ibu membeli kue yang satu buahnya seharga berhari-hari penghasilan kerja sang anak, dan menyatakan dengan tegas bahwa sang anak merasa keberatan.

Namun apa yang kemudian dikatakan oleh sang ibu, yang menyahut dengan tanpa rasa bersalah kepada sang anak, "Ini kue yang sering Ibu kasih kamu makan di rumah." Jika sang anak tahu bahwa kue yang disuguhkan sang ibu di rumah adalah kue yang satu potong kecilnya seharga penghasilan sehari kerja sang anak, maka sejak awal dari dahulu kala sang anak akan menolak memakannya dan tidak akan pernah menyentuhnya karena melukai hati, karena bagai JEBAKAN dan TERJEBAK oleh "perangkap" sikap boros sang ibu, sehingga seolah-olah sang anak masuk dalam lingkaran gaya hidup boros sang ibu.

Sekalipun sang ibu telah diberitahukan keberatan sang anak, beberapa waktu kemudian sang ibu kembali melakukan hal yang sama yang sebelumnya pernah dinyatakan keberatan oleh sang anak, bagai sengaja, memasang "perangkap" dan "jebakan" yang sama, kue mahal yang sama, melukai hati dan perasaan yang sama, lagi dan lagi, kembali lagi dan kembali lagi terulang dan diulangi, bahkan terjadi kembali saat di Indonesia sedang krisis ekonomi akibat pandemik wabah Virus Corona dimana dalam satu bulan itu sang anak belum mendapatkan penghasilan apapun sementara sang ibu membelanjakan uang belanja yang dikumpulkan susah-payah oleh sang anak untuk membeli kue kecil yang seharga ratusan ribu Rupiah?! Itu sama artinya menikam perut sang anak dengan pisau setajam belati!

Sang ibu menuntut sang anak patuh terhadap nasehat dan larangan sang ibu, namun sang ibu tidak pernah mau mendengarkan nasehat dan keberatan yang disampaikan sang anak, dimana setiap kali keberatan selalu harus konflik secara keras sekeras-kerasnya semata karena cara-cara teguran dan komunikasi halus tidak pernah membuahkan hasil untuk menasehati sang ibu.

Sekalipun salah, namun dalam segala hal sang ibu senantiasa bersikap keras kepala ("ngotot") alias tidak bisa dinasehati. Sebagai contoh, sang anak mengingatkan agar tidak menaruh banyak barang di dalam kulkas karena kapasitas kulkas yang terlampau penuh dapat menjadi beban berat bagi kerja sistem pendingin internal kulkas dan membuat boros listrik disamping kulkas akan cepat rusak.

Namun sang ibu justru menentang dan merasa lebih pintar sendiri dalam segala hal (sekalipun jika dikemudian hari terjadi masalah akibat perbuatannya, maka orang lain yang akan ia repotkan pada akhirnya), menyahut dengan meremehkan, "Untuk apa ada kulkas, jika tidak dipakai?" Sang anak tidak habis pikir, bagaimana mungkin minuman dalam kemasan yang bahkan tidak akan basi ditaruh di luar kulkas sebagaimana kondisi ketika dibeli pada rak minimarket yang tidak akan basi kandungannya sekalipun ditaruh diluar kulkas hingga masa kadaluarsa produk, sehingga untuk apa juga seluruh minuman kemasan itu dimasukkan ke dalam kulkas, menjejalkan semuanya secara sekaligus, sehingga kapasitas kulkas demikian penuh membebani sistem kerja pendingin kulkas.

Banyak sekali sikap-sikap "dungu" milik sang ibu yang tidak dapat dinasehati sebanyak apapun nasehat diberikan, dan selalu merasa paling pintar dan paling benar sendiri. Contoh, sekalipun di rumah hanya tinggal berdua saja, sang ibu dan sang anak, namun rak piring dijejali lusinan piring sehingga untuk mengambil piring untuk makan sekalipun sang anak kesulitan, bahkan ketika lemari piring benar-benar menjadi "jebol" karena terlampau berat MESKI TELAH DIPERINGATKAN oleh keluarga, masih juga sang ibu "NGOTOT" dalam segala hal yang sebetulnya sama sekali tidak diperlukan semua sikap demikian.

Sendok makan pada tempat sendok, diisi hampir seratus sendok, hingga tempat sendok rusak penuh lecet dan untuk membuka tutup ataupun mengambil sendok adari dalamnya pun kesulitan, sekalipun hanya tinggal berdua saja, sang anak tidak lagi punya keberanian menegur dan mesehati ataupun mengingatkan. Karena hasilnya sudah jelas dapat diprediksi, percuma diberitahu sebanyak apapun, akan tetap "ngotot" disamping keras kepala. Bagaimana jika tempat sendok itu akan rusak karena diisi terlampau penuh, sang ibu dapat dipastikan akan menjawab seperti biasanya : "Tinggal beli lagi, untuk apa ada uang nganggur di tabungan jika tidak dipakai?!"

Apa salahnya, sebagian piring dan sendok itu disimpan di tempat lain, alih-alih dijejali semuanya dalam satu tempat yang tidak mungkin kesemuanya dipakai hanya oleh dua orang penghuni rumah itu? Tetap saja, sikap ngotot dan keras kepala menjadi ciri khas sang ibu.

Dalam segala hal dalam kehidupan di rumah itu, sang ibu menampilkan watak "dungu-kerdil" yang keras kepala. Setiap hari sang anak hanya dapat mengurut dada tidak habis pikir. Untuk apa juga seluruh gantungan baju di-gantung persis di depan pintu masuk gerbang rumah yang bisa mengenai kepala kurir pengantar paket, dan apa salahnya jika gantungan-gantungan baju itu di-gantung pada sudut lainnya, apa salahnya? Apa salahnya, daripada bersikap "ngotot" secara tidak perlu?

Namun hal sederhana demikian saja dapat menjadi perdebatan hebat antara sang anak dan sang ibu yang "NGOTOT", sang anak lelah, menyerah, sekalipun sang anak adalah seorang sarjana dengan gelar kelulusan dengan IPK hampir sempurna. "Terserah dia sajalah", keluh sang anak tidak sanggup lagi dengan kelakuan sang ibu yang bahkan lebih "dungu" ketimbang anak usia bangku Sekolah Dasar, setidaknya anak Sekolah Dasar tidak sekeras kepala sang ibu. Sang anak sampai pada kesimpulan, orang dengan IQ yang rendah, cenderung memiliki EQ yang juga rendah, tidak mungkin bisa lain daripada rumusan demikian.

Sebanyak apapun sang ibu dinasehati, karena jika kulkas itu sampai rusak maka orang lain yang akan direpotkan oleh beliau, bukan beliau sendiri yang selama ini menanggung konsekuensi repot ataupun biaya atas perbuatannya yang "keras kepala meski dungu untuk ukuran orang dewasa", kembali lagi terjadi demikian dan demikian terjadi, seolah-olah memberi teladan buruk bagi sang anak untuk bersikap "bebal" alias keras kepala--namun disaat bersamaan menuntut sang anak untuk senantiasa patuh.

Apa salahnya, dengan logika paling sederhana, ketika satu kemasan minuman telah habis, barulah masukkan satu kemasan lainnya ke dalam kulkas, dan begitu seterusnya, tanpa perlu menjejali semuanya ke dalam kulkas dan menjadi beban bagi sistem kerja kulkas. Di minimarket sendiri tempat minuman itu dibeli, tidak ditaruh di dalam kulkas dan tidak akan pernah basi tanpa didinginkan, sekalipun itu jus dalam kemasan.

Namun untuk logika paling sederhana pun, sang ibu tidak mampu, akan tetapi senantiasa dalam segala hal, segala urusan, dari hal kecil hingga hal apapun di keseharian rumah-tangga yang membawa konsekuensi biaya maupun kerepotan bagi anggota keluarga lainnya jika sampai terjadi kerusakan, sang ibu selalu mempertonkan watak keras kepala atas kedunguan karakternya yang sebetulnya tidak perlu dipertontonkan--seolah gara-gara yang memang dicari-cari, bahkan "lebih galak" ketika ditegur dan diingatkan daripada sang anak yang tidak pernah berhenti merasa heran dibuatnya.

BIla untuk hal-hal sederhana saja sampai demikian "ngotot", keras kepala, tidak logis, "bebal" dan "dungu", bahkan hingga harus berkelahi mulut untuk itu, bagaimana hal-hal lainnya? Sang anak letih dan terkuras energi mentalnya secara fisik dan secara psikis, jiwanya menjelma "sakit" menghadapi seorang ibu yang terlampu "dungu untuk ukuran orang dewasa namun disaat bersamaan demikian gemar mempertontonkan keras kepala dan ngotot".

Apa salahnya bila ini ditempatkan di sini dan bukan di sana serta mengapa harus memaksakan diri seperti itu, sebagai contoh, namun sang ibu selalu dan selalu keras kepala dan ngotot tanpa alasan logis apapun, sebanyak apapun diberikan argumentasi logika yang paling logis. Merasa pintar sendiri, besar dan keras kepala, ngotot, tidak logis, mau menang sendiri, selalu merasa paling benar dan anak selalu salah, dan cara-cara itulah sang ibu menampilkan watak arogansi terhadap sang anak--didikan serta teladan yang buruk. Kebodohan adalah memalukan, bukan untuk dipertontonkan terlebih dicontohkan bagi anak, terlebih dibanggakan secara arogan.

Sang ibu dengan borosnya menyepelekan setiap sen uang yang dikumpulkan oleh sang anak, yang selama ini hidup secara demikian berhemat dan mengumpulkan sen demi sen, memperjuangkan keping demi keping uang, namun sang ibu menghambur-hamburkan dengan demikian mudah tanpa perasaan bersalah setitik pun, demikian tidak berperasaan terhadap kondisi sang anak yang mencari nafkah, dan disaat bersamaan sangat bersikap loyar terhadap setiap kurir yang mengirimkan paket dengan memberikan uang tips dan tidak meminta uang kembalian pembelian paket sekalipun telah membayar ongkos kirim dan harga barang yang tidak murah.

Konon, disebutkan sejumlah pakar sosial, banyak pelaku korupsi hingga praktik “pesug!han” (black magic agar mendapat kekayaan secara instan dengan cara menumbalkan anak kandung sendiri) akibat tekanan istri mereka di rumah, yang banyak melontarkan tuntutan-tuntutan bagi suami mereka. Wahai bagi para istri atau ibu, yang bila kebetulan membaca artikel ini, hiduplah dengan bersahaja, secara tidak merepotkan. Dengan cara begitulah, Anda telah membahagiakan suami dan anak-anak Anda, setidaknya meringankan beban yang harus mereka tanggung. Atau, bila Anda menginginkan sesuatu, atau bahkan hidup mewah, tidak salah sepanjang Anda mengusahakannya sendiri tanpa menuntut dari atau menambah beban di bahu orang lain.

Bila ada yang mengatakan bahwa adalah mustahil seorang ibu dapat bersikap picik dan licik terhadap seorang anak kandung, maka asumsi demikian adalah keliru sepenuhnya. Sang anak tampaknya tidak lagi sanggup memikul beban bernama ibu kandungnya, yang bahkan sama sekali tidak meringankan beban yang harus dipikul oleh sang anak, justru sengaja memperparah dan menambah berat lewat sikap tidak pengertian dan sikap-sikap “besar kepala” yang bahkan sama sekali tidak mengakui bebagai luka batin yang “berdarah-darah” dialami oleh sang anak, yang hanya hidup ketakutan seorang diri ditambah ketakutan terhadap sikap diktator sang ibu.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan bila suami sang ibu maupun “anak emas” sang ibu, telah lama pergi meninggalkan sang ibu. Sang ibu kembali memboroskan hingga mengeksploitasi kebaikan hati sang anak, yang cepat atau lambat akan terkuras habis juga, sebelum kemudian menemui nasibnya berakhir hidup seorang diri, menua, dan sebatang kara. Bukanlah sang anak yang tidak bersedia berbakti, ia telah mengorbankan segala yang ia miliki, namun tidak lagi sanggup mengorbankan seluruh hidup dan nafas nyawanya. Sang anak harus menyisakan sisa nafas untuk dirinya sendiri, dan harus menyelamatkan nafasnya yang masih tersisa. Sikap sang ibu itu sendiri yang telah “mengusir” sang anak yang memiliki watak sangat amat berbakti.

Tetap saja, sang ibu seringkali memutar, memainkan, dan menyanyikan lagu mandarin “Ma Ma Hao” untuk diperdengarkan kepada sang anak, tanpa pernah tertarik untuk memutar maupun menyanyikan lagu “Anak Anak Hao”. Sang anak merasa mual, geli, jijik, sekaligus muak menjadi satu. Seorang ibu yang kekanak-kanakan.

Sang anak memiliki banyak sekali keterbatasan dibandingkan anak-anak lainnya yang sebaya, yang karenanya selalu hidup dibayangi beragam ketakutan disamping rasa kecil hati, akibat minimnya bimbingan maupun dukungan orangtua. Namun, sang ibu menutup mata atas kondisi serba keterbatasan yang selama ini menjadi masalah hidup sang anak. Alih-alih menolong dan membantu meringankan beban, sang ibu justru menambah banyak beban serta masalah bagi sana anak yang selama ini sudah penuh kesulitan dan kendala dalam menghadapi masalah keterbatasan diri sang anak itu sendiri.

Sang anak kian menaruh dan mengakumulasikan rasa benci terhadap kehidupan yang dijalani olehnya. Warna pelangi pun seolah-olah memudar kehilangan pesona warnanya, menjelma monoton abu-abu kelam yang suram membosankan tanpa menyisakan gairah kehidupan apapun.

Sang ibu memiliki hobi salah-satunya berupa menyanjung, memuji-muji, dan membangga-banggakan dirinya sendiri baik ketika berbincang dengan anak maupun kepada orang lain, sekalipun faktanya tiada yang istimewa dari diri sang ibu yang selalu memutar “lagu” yang sama berulang kali : bahwa sang ibu telah banyak menderita mengasuh anak-anaknya mulai dari melahirkan dan mengasuh ketika anak-anak masih bayi tanpa pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya.

Bahkan, anak yang sangat berbakti sekalipun bukanlah mitos dapat pergi meninggalkan sang ibu untuk selama-lamanya, seperti kisah yang kenalan KWANG alami sebagai kisah nyata, tekad bulat anak berbakti untuk pergi hidup bebas dari “penjara” yang bernama ibu kandungnya. Bila Sobat bertanya pada sang anak, apakah image atau citra diri sang ibu di mata sang anak, maka sang anak akan berkata secara lugas, “Penjara”.

Sang anak seringkali menangis hebat sepanjang hari, tiada yang menolong ataupun mengulurkan tangan untuk menolong dan meringankan bebannya. Sang anak kerap memasuki kondisi “di ujung tanduk”, tetap tiada yang terketuk hatinya untuk menolong dan mengulurkan tangan baginya. Sang anak “sakit” (mental dan batinnya akibat derita yang tidak dapat ditanggung olehnya), tetap saja ia seorang diri dan sebatang kara. Karenanya, tiada ada bedanya ia benar-benar bertekad memilih untuk hidup bebas bagai seekor merpati putih yang terbang tinggi keluar dari sangkar kecilnya yang selama ini mengurung dirinya. Satu orangtua yang jahat terhadap anak, masih dapat dikompromikan. Dua orang tua yang jahat terhadap anak, itu lebih buruk daripada “anak hasil broken home”.

Bila Sobat bertanya pada sang anak, apa sajakah yang pernah dan telah ia dapatkan selama hidupnya bersama keluarganya tersebut, maka mungkin akan dijawab olehnya “Tiada, selain depresi dan luka batin yang tetap membekas”. Masa lalu yang buruk bukan hanya menyiksa pada masa itu, karena akan tetap terbawa hingga sang anak menjelma dewasa.

Ternyata pula, bukanlah mustahil, seorang anak yang bertekad untuk menjadi seorang anak yang berbakti, dan telah berusaha semampu yang ia mampu bahkan mengorbankan segala hal dalam hidupnya, menjelma individu anak yang demikian penuh dendam dan amarah terhadap orangtuanya.

Semua itu bukan mitos, namun fakta adanya secara realita. Karenanya kita janganlah terlampau cepat menghakimi seorang anak yang memilih untuk hidup bebas dari kungkungan orangtuanya. Kasihan orangtua yang telah tua, namun adakah yang merasa kasihan terhadap kondisi batin seorang anak yang rapuh? Mereka, setiap anak, berhak hidup bebas. Ada kalanya kalangan orangtua yang justru (lewat sikap mereka) telah “mengusir” anak yang paling berbakti sekalipun.

Kisah hidup kenalan KWANG tersebut, entah bagaimana bisa secara kebetulan sangat persis dengan kisah drama televisi, yakni Chinese Drama yang rilis pada tahun 2020, berjudul “GO AHEAD”. Kenalan KWANG menyebutkan, pertama kalinya mendapati dan menyaksikan film drama dengan 40 jumlah episode tersebut sangat mengejutkan dirinya, karena ternyata selain dirinya ada juga yang mengalami derita anak serupa—setidaknya penulis skrip film drama tersebut pastilah memiliki pengalaman serupa, sehingga mampu menuliskan kisah yang demikian detail mengenai pengalaman dan luka batin seorang anak yang demikian kompleks untuk dapat dituturkan dan dikisahkan dalam sebuah sinema, yang ternyata dapat di-film-kan.

Terkadang dan tidak jarang, cara terbaik untuk menolong seseorang ialah dengan cara tidak memberikannya pertolongan. Terkadang pula, cara terbaik mengasihi seseorang ialah dengan cara pergi meninggalkannya.

Itulah paradoks kehidupan. Akibat kesewenangan dan penyalah-gunaan status sebagai “orangtua”, bahkan seorang anak paling berbakti sekalipun dapat menjadi penuh dendam dan memilih untuk meninggalkan mereka seorang diri.

Hidup adalah persoalan pilihan. Memilih menjadi orangtua yang bersikap tidak patut terhadap anak, akan kehilangan anak, sebagai konsekuensinya. Dibalik setiap pilihan, selalu terdapat konsekuensi.

Adalah delusi, bila sang anak tetap memaksakan diri memuaskan sang ibu ataupun sang ayah sepanjang hidupnya. Adalah sebuah kegagalan, ketika kita mencoba menyenangkan semua orang. Setidaknya kita berfokus membuat bahagia diri kita sendiri, daripada memaksakan diri untuk menemukan ketidak-bahagiaan banyak orang (orangtua yang tidak terpuaskan dan anak yang menderita depresi dan keputus-asaan).

Terlampau naif, orangtua yang menganggap mengharap (secara “menutup mata”) anaknya yang menderita serentetan dan serangkaian luka batin akut, sebagai orang yang “normal” atau sebagai anak yang “normal” atau tumbuh besar sebagai pribadi yang “normal”. Tiada anak hasil “broken home” yang “normal”. Hasil penelitian menunjukkan, rata-rata anak hasil “broken home” adalah anak yang “sakit” secara kejiwaan, terlebih anak hasil perlakuan sewenang-wenang orangtua kandungnya sendiri.

Yang hidup dari pedang, akan mati karena pedang. Yang hidup dari mulut, akan mati karena mulut. Yang hidup dari memanipulasi, akan mati karena termanipulasi. Yang hidup dari bersikap tidak adil, akan mati karena ketidak-adilan. Yang hidup dari memakan, akan mati karena dimakan. Demikian pepatah pernah mengingatkan.

Ketika masih menjadi orangtua, bersikap sewenang-wenang bak diktator terhadap anak, menyalah-gunakan kekuasaan berupa statusnya sebagai orangtua. Lupa bahwa ada kelahiran kembali pada kehidupan selanjutnya.

Ketika sang orangtua terlahir kembali sebagai seorang anak di kehidupan mendatang, harus memetik buah Karma Buruk yang ditanam olehnya sendiri di kehidupan lampau, tersiksa oleh perilaku orangtua yang manipulatif dan eksploitatif. Bukankah itu menakutkan? Orangtua yang baik membimbing anak menuju kebahagiaan hidupnya, sementara orangtua yang egoistik akan melahirkan penderitaan bagi putera-puterinya.

Bukankah tidak ada yang lebih bodoh, dariapda kalangan orangtua yang menyalah-gunakan kebaikan hati dan ketulusan dedikasi seorang anak, menyia-nyiakan anak yang sedari awal berkorban untuk menjadi anak yang berbakti, hingga akhirnya sang anak merasa kecewa dan terluka akibat sikap buruk orangtuanya, berubah menjelma seorang anak yang sangat membenci dan menaruh dendam kepada orangtuanya?

Jika sudah sampai pada tahap demikian, sang orangtua hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri, dimana menyesal pun adalah percuma menemukan dirinya hidup sebatang kara di usia tua. Sikap mereka yang telah "mengusir" anak yang paling berbakti sekalipun.

Inilah yang dikatakan oleh sang anak kepada KWANG : "Terlampau sering, ibu saya menyalah-gunakan statusnya sebagai seorang ibu kepada anak, menyalah-gunakan kebaikan hati anak, menyalah-gunakan berbagai sikap pemaaf anak. Terlampau sering saya terluka dan dilukai oleh ibu kandung saya sendiri. Terlampau sering."

Bagi Sobat-Sobat yang saat ini atau dikemudian hari akan menjadi orang tua yang memiliki anak, sebagai seorang ibu atau sebagai seorang ayah, ingatlah betul-betul kalimat sang anak tersebut di atas, dimana seorang anak pun dapat terluka hati dan batinnya hingga ia tumbuh dewasa, bahkan terakumulasi dan mengalami infeksi. Bila tidak dapat memberikan kebahagiaan bagi seorang anak, maka setidaknya jangan membawa derita bagi hidup dan kehidupan seorang anak yang pastinya memiliki kesulitan hidupnya sendiri.

You Might Also Like

0 comments