Kebahagiaan yang Produktif Vs. Kebahagiaan yang Kurang Produktif, Pilih yang Mana?

Kebahagiaan yang Produktif Vs. Kebahagiaan yang Kurang Produktif, Pilih yang Mana
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat melihat dua kriteria seorang wanita dewasa, yakni “Ibu Rumah Tangga” maupun seorang “Wanita Karir sekaligus merangkap sebagai Ibu Rumah Tangga”. Keduanya, adalah profesi, baik “Ibu Rumah Tangga” maupun “Wanita Karir”, yang bisa jadi keduanya dirangkap oleh satu orang sosok wanita yang sama.

Bukanlah mitos pula adanya kalangan suami yang karena demikian “kolot”-nya (Mr. Kolot), sehingga melarang istrinya untuk berkarir, semata karena “ego” karena takut bila sang istri ternyata lebih sukses dan lebih kompeten daripada sang suami (takut tersaingi, harga diri yang semu), disamping ketakutan “pria primitif” bilamana istrinya “bebas secara finansial” maka sang suami tidak dapat lagi menjadikan daya tawar ekonomi sebagai alat untuk menekan posisi sang istri, karenanya sang suami bersikuhuh bahwa sang istri tidak boleh bekerja maupun membuka usaha.

Seorang wanita yang satu, yakni sebatas berprofesi sebagai “Ibu Rumah Tangga”, merasa bahagia bila fokus hanya berprofesi sebagai “Ibu Rumah Tangga”, dimana tidak perlu direpotkan ataupun dipusingkan oleh berbagai urusan bisnis yang memusingkan.

Tipe kebahagiaan semacam demikian, disebut sebagai “kebahagiaan yang kurang produktif” (tanpa bermaksud menihilkan peran penting seorang “Ibu Rumah Tangga” dalam mengasuh dan mendidik putera-puterinya maupun sebagai seorang istri, mencurahkan seluruh waktu dan kecintaannya kepada keluarga serta memastikan asupan gizi serta kebersihan keluarganya, sehingga tidak merasa membutuhkan semacam “pembantu rumah tangga”).

Seorang wanita dengan tipe kepribadian kedua, akan merasa jenuh atau serasa ada yang kurang, bila tidak menggunakan waktunya selain merawat anak dan suami, untuk juga berdagang ataupun berbisnis dan bekerja. Dengan cara itulah, sang “Wanita Karir” akan merasa bahagia, sekalipun disaat bersamaan berstatus sebagai “Ibu Rumah Tangga” yang merawat anak maupun suami.

Tipe wanita kedua ini, tergolong memiliki kebahagiaan yang produktif, sekalipun tidak jarang menyewa pembantu rumah tangga (bahasa kerennya, “asisten rumah tangga”) hingga seorang “babysitter” untuk merawat anak-anaknya bahkan tidak jarang begitu sibuk bekerja hingga tidak sempat memberikan ASI atau bahkan sang ayah yang harus merawat anaknya yang masih balita.

Sama halnya, ada tipe suami maupun “Pria Karir”, yang merasa tidak nyaman atau bahkan “alergi” mengurus rumah dan anak, tidak betah di rumah sepanjang hari, tidak ingin direpotkan oleh urusan rumah-tangga, karenanya menjadi jarang berada di rumah dan lebih sering disibukkan serta menyibukkan diri dengan kegiatan bisnis dan berdagang di luar rumah, bahkan ada kisah seorang ayah sekaligus suami yang sangat jarang dapat berjumpa dengan anak-anak maupun istrinya sendiri karena selalu pulang larut malam dalam kondisi terlampau letih untuk berkomunikasi dengan anggota keluarganya, untuk kemudian berangkat subuh keesokan harinya, semacam ritual harian yang terjadi hingga anak-anaknya telah menjelma dewasa tanpa sosok kehadiran ayah.

Sebaliknya, fitur seorang ayah bisa jadi selalu dan senantiasa di rumah, namun sangat berjarak dengan hati para anak-anaknya. Akibatnya, sang anak selalu merasa memiliki kekosongan sosok seorang ayah yang mampu menjadi teladan yang baik, yang membimbing, yang mengajarkan, dan yang dikagumi.

Bahkan, bisa jadi sosok sang ayah demikian menakutkan dan menyerupai “mimpi buruk” bagi sang anak. Hadir atau absennya sosok seorang ayah, ternyata bukan ditentukan oleh fisik orangtua dan sang anak yang hadir dalam satu atap yang sama, namun dari tataran komunikasi “hati ke hati”, saling memahami dan saling mengerti disamping saling membangun dan saling menguatkan serta saling menjaga satu sama lainnya.

Kebahagiaan yang produktif maupun kebahagiaan yang kurang produktif, apapun itu pilihannya, sepanjang sifatnya kurang bermakna, maka bisa jadi kita perlu merenungkan kembali makna dan misi hidup kita. Apa maksudnya?

Pernah dan tidak jarang kita mendengar sebuah kisah nyata, seseorang “Ibu Rumah Tangga” yang merangkap “Wanita Karir” super sibuk, demikian sibuknya berbisnis dan bekerja di luar rumah sehingga tidak memiliki waktu luang untuk merawat dan mendidik putera-puterinya, sehingga ketika anak-anak menjelang dewasa, mereka menjelma anak-anak “kurang didikan”.

Kita tidak bisa semata mengandalkan didikan dari guru di sekolah yang bisa jadi justru menjadi sumber teladan yang buruk dan menimbulkan trauma masa kecil bagi sang anak, lingkungan pergaulan yang bisa jadi buruk serta negatif bagi tumbuh-kembang anak, maupun kurangnya bimbingan serta panutan dari orangtua bagi sang anak sang “peniru”—kekosongan sosok orangtua yang semestinya membekali anak-anaknya dengan “kenangan indah” disamping keterampilan serta pengetahuan dasar hidup sebagai modal mereka untuk hidup dewasa serta mandiri kelak (dipersiapkan hingga “matang”).

Apalah gunanya memiliki orangtua yang sukses dari segi karir, namun gagal dan “berantakan” dari segi rumah-tangga sebagai seorang suami ataupun istri, maupun sebagai seorang orangtua. Ada juga, seorang suami atau istri, yang sekalipun hidup berkecukupan meski tidak berlebihan dari segi materi kepemilikan, namun dapat hidup berbahagia bersama putera-puteri yang mereka kasihi dan sayangi.

Yang jelas, hidup berjalan dengan cepat, waktu tidak bisa diputar-balik, kita akan dapat cepat menjadi tua, anak-anak akan tumbuh dengan cepat, dan bisa jadi kita akan kehilangan banyak momen indah bersama keluarga kita semata karena menyibukkan diri dan “menjual waktu” dengan urusan atau demi kepentingan bisnis dan profit laba usaha.

Mengurusi bisnis Vs. mengurusi keluarga, manakah yang lebih prioritas? Tidak pernah mudah untuk menjawabnya. Namun, satu hal yang pasti, kita tidak bisa menghakimi pilihan hidup seseorang. Masing-masing bertanggung-jawab serta berhak untuk memutuskan pilihan hidupnya masing-masing. Apapun itu, pilihan kita, yang terpenting ialah kita senantiasa menyadari bahwa waktu tidak bisa diputar balik ketika kita merasa menyesalinya dikemudian hari.

Kita berasumsi, bahwa dengan uang yang berhasil kita kumpulkan, kita dapat membeli “waktu” serta “kebahagiaan”, yang mungkin tujuan utamanya baik, yakni semua itu demi keluarga kita agar dapat hidup bahagia berkecukupan.

Namun, seringkali seiring berjalannya waktu, banyak diantara kita yang melupakan, bahwa tujuan utama kita bekerja dan mencari nafkah serta materi kekayaan, ialah untuk membahagiakan keluarga kita, bukan berbisnis untuk tujuan bisnis itu sendiri—suatu bias makna dan tujuan hidup yang kerap tidak disadari oleh para pelakunya.

Karena “keseringan” atau kebiasaan menikmati pekerjaan sehingga menjelma “terbiasa”, maka kita menjelma seseorang yang “hidup demi bekerja”, bukan lagi “bekerja demi hidup” seperti tujuan semula, sehingga terjadi pergeseran misi dan tujuan hidup secara berangsur-angsur yang titik awal dan titik akhirnya demikian kontras.

Pada prinsipnya, kita tidak dapat memakai atau menjadikan alasan “bekerja mencari nafkah” sebagai cara untuk “tidak ingin repot” mengurus rumah dan keluarga (terlebih menjadi alasan untuk menghindari keluarga). Bisa jadi bagi seseorang bisnisman, mencetak laba dari proyek baru adalah mengasikkan dan sangat menyenangkan, namun tidak untuk urusan mengurus rumah—yang bisa jadi sangat tidak disukai olehnya.

Apapun itu, semua kembali kepada pilihan hidup masing-masing. Yang jelas, apapun itu pilihannya, baik “kebahagiaan yang kurang produktif” maupun “kebahagiaan yang produktif”, perlu dilihat pada visi yang hendak dituju pada awalnya serta pada akhirnya—serta itulah yang menjadi alat bantu atau instrumen bagi kita untuk menilai minat dan profesi yang kita pilih serta kerjakan saat kini serta untuk dimasa yang akan datang.

Sang Buddha “hanya” duduk bermeditasi, namun apakah itu merupakan “kebahagiaan yang tidak produktif”? Sebaliknya, Sang Buddha justru kemudian mendapati bahwa segala perolehan serta pengumpulan harta duniawi adalah membuang-buang waktu yang berharga. Tampaknya, kita harus membuat re-definisi alias pendefinisian ulang perihal “produktivitas” serta “kebahagiaan”, yang sepertinya tidak sesederhana yang tampak di permukaan.

Apapun itu pilihannya, semoga visi dan tujuan utama yang hendak dituju pada akhirnya, dapat sukses terlaksana tanpa adanya penyesalan dikemudian hari. Prinsip utamanya ialah : lakukan dengan baik dan sepenuh hati, serta tanpa merugikan orang lain maupun diri sendiri.

Sebagai penutup, berikut kutipan nasehat dari seorang tokoh terkenal bernama Lee Ka Shing, orang terkaya Asia, mengenai apa itu kesuksesan:

Jika Anda ingin kehidupan yang sederhana, maka Anda akan menghadapi masalah yang sederhana!

Jika Anda ingin kehidupan yang terbaik, maka Anda pasti akan menghadapi masalah yang paling sulit!

Dunia ini begitu adil. Jika Anda ingin yang terbaik, maka dunia akan memberikan masalah yang menyakitkan!

Anda akan menang jika Anda berhasil menerobosnya.

Namun jika Anda tidak berhasil melaluinya, maka hiduplah dengan sederhana!

Segala bentuk kesuksesan bukanlah tentang seberapa jeniuskah Anda ataupun untuk “menjual” diri Anda!

Kesuksesan adalah mengenai kemampuan Anda untuk menghadapi dan melalui kesulitan dengan senang hati.

Mungkin yang baru dapat disebut sebagai kurang etis ialah ketika, seorang “Ibu Rumah Tangga” yang ingin dan menuntut banyak hal dalam hidup, seperti agar dapat hidup mewah dan berkelimpahan lebih dari berkecukupan sekalipun lebih banyak orang di luar sana yang lebih kurang beruntung, namun alih-alih mencoba mencari penghasilannya sendiri demi memenuhi tuntutan hidupnya, justru membebani suami ataupun anak-anak dengan segala permintaannya.

Sama halnya, anak-anak yang telah menjelang dewasa, namun masih juga menuntut dari orangtuanya agar dibelikan berbagai gadget ganggih berbiaya tinggi ataupun tuntutan lainnya seperti “mainan” yang berbiaya mahal, namun tidak ingin bersikap mandiri dengan secara produktif mencari penghasilannya sendiri, barulah dapat disebut sebagai kurang terpuji disamping tidak produktif. Membebani orang lain atau menjadi beban bagi orang lain, bukanlah kebahagiaan yang patut dibanggakan.

Adalah sah-sah saja menginginkan banyak hal serta memiliki banyak tuntutan dalam hidup seseorang individu, sepanjang ia sendiri yang berusaha mencari, berusaha, dan mendapatkannya dengan tenaga serta keringatnya sendiri, alih-alih membebani dan menuntut dari orang lain yang notabene anggota keluarganya sehingga hanya menjelma menjadi “beban”. Disamping “tidak produktif”, juga “membebani”, suatu kebahagiaan yang jauh dari kata “sehat”.

Sebagai catatan penutup, tiada yang menjamin, bahwa dengan semata menjadi seorang “Ibu Rumah Tangga”, sama sekali tanpa merangkap sebagai seorang “Wanita Karir”, maka anak-anak akan tumbuh besar secara “mekar sempurna”. Justru tidak sedikit kita jumpai anak-anak “broken home” yang tumbuh dari keluarga demikian. Kasus sebaliknya pun dapat kita jumpai di masyarakat, tidak sedikit anak-anak yang tumbuh dewasa secara sehat dan normal, sekalipun kedua orangtuanya sama-sama bekerja sehingga sang anak menjadi demikian mandiri.

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😀😁😇
💝🎀📦✈🛩🛳🚢

You Might Also Like

0 comments