IQ Bukanlah Sumber Kejahatan, namun Kurangnya IQ Merupakan Sumber Kejahatan

IQ Bukanlah Sumber Kejahatan, namun Kurangnya IQ Merupakan Sumber Kejahatan
Entah mengapa dan bagaimana, muncul persepsi keliru di tengah masyarakat (kelirumologi), seolah-olah IQ bukanlah hal penting untuk dijadikan “monumen segala-galanya”. Benarkah demikian? Dalam kesempatan berharga ini, KWANG akan mengungkapkan beragam fakta mengejutkan yang akan mampu meluruskan mindset keliru perihal pandangan-pandangan yang mendiskreditkan peran penting IQ, berdasarkan wawancara langsung KWANG kepada narasumber kita, Bapak Hery Shietra.

Tahukah sobat, orang-orang yang ber-IQ tinggi cenderung sangat kreatif. Karena sifatnya sangat kreatif, maka orang-orang ber-IQ tinggi cenderung jarang atau tidak akan terjerumus pada perbuatan-perbuatan curang seperti mencuri, merampok, terlebih menipu. Mengapa demikian? Semata karena orang-orang ber-IQ tinggi sudah memiliki kekayaan terbesar dalam diri umat manusia, yakni kreativitas.

Lewat kreativitas, segala hal dapat di-“sulap” menjadi benda berharga yang bernilai tinggi dan bermanfaat. Karena itulah, orang-orang ber-IQ tinggi adalah orang-orang yang cenderung super sibuk, dimana mereka tidak pernah membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang kurang produktif, terlebih mencuri nasi dari piring milik orang lain.

Karena orang-orang kreatif sifatnya ialah sangat produktif, maka mereka dapat mencari penghasilan maupun pendapatan untuk mencukupi kebutuhan hidup, lewat keringat dan jirih-payah “peras otak” diri mereka sendiri. Karena itulah, orang-orang ber-IQ tinggi hampir tidak mungkin terjerat kasus-kasus tindak kriminil semacam kejahatan pencurian, penipuan, dan kejahatan-kejahatan serupa seperti “cyber crime”.

Orang-orang kriminil yang ditangkap karena aksi kejahatan berupa pencurian, sekalipun dengan menggunakan perangkat canggih, bukanlah orang-orang ber-IQ tinggi. Sekali lagi, orang-orang dengan IQ tinggi selalu adalah orang-orang yang telah penuh ide akibat kreativitas mereka yang sangat produktif, yang karenanya adalah konyol serta mustahil bagi mereka untuk merasa “terpaksa” terjatuh pada selokan lembah aksi kejahatan yang hina dan tercela. Mereka terlampau besar untuk ukuran “dunia selokan”.

Orang-orang ber-IQ tinggi, karenanya, tidak pernah merasa butuh untuk melakukan hal-hal yang tercela seperti mencuri hak-hak orang lain, menipu, ataupun segala perbuatan curang lainnya. Mereka akan selalu mampu untuk menafkahi diri dan keluarganya, lewat keringat serta hasil cipta-karya diri mereka sendiri. ide-ide milik orang yang kreatif, terlampau besar untuk hal-hal dangkal semacam mencuri, menipu, terlebih merampok.

Orang-orang kreatif, terlampau sibuk untuk kegiatan-kegiatan produktifnya. Itulah sebabnya, orang-orang ber-IQ tinggi lebih cenderung untuk menjadi orang-orang yang baik, tanpa pernah terlibat kasus-kasus kejahatan seperti pencurian maupun penipuan.

Walaupun, sesekali bisa saja mereka menjadi “usil”, atau “candaan yang agak nakal”, meski tidak jahat sifatnya (tidak sampai pada tahap menyakiti terlebih merugikan pihak lain) dan akan selalu mampu mengontrol dirinya dengan baik semata karena orang-orang ber-IQ tinggi cenderung memahami betul konsekuensi dibalik setiap perbuatan dan perilaku jahat yang buruk dan tercela.

Sejauh itu saja sifat buruk orang-orang ber-IQ tinggi, yakni sesekali bersikap usil, namun kenakalannya tidak akan pernah melampaui lebih dari itu, terlebih melakukan kejahatan. Mereka tidak membutuhkan aksi-aksi kejahatan untuk menyibukkan diri, karena mereka sudah memiliki otak mereka yang tidak pernah berhenti bersikap kreatif penuh ide-ide yang produktif.

Bahkan, tidak jarang, mereka kewalahan akibat ide-ide di kepala mereka yang terus-menerus mengalir secara deras tanpa dapat dibendung, sehingga seolah-olah kepala mereka ingin meledak oleh ide-ide kreatif yang terus bermunculan tanpa hentinya. Dapat dikatakan, itulah satu-satunya gangguan yang paling sering dialami oleh orang-orang ber-IQ tinggi, mereka kelebihan dan kepenuhan ide-ide kreatif.

Karenanya pula, mereka tidak pernah punya waktu untuk memikirkan modus-modus penipuan ataupun pencurian, mereka sudah terlampau sibuk dengan ide-ide dan kreativitas hidupnya yang selalu produktif sepanjang hari, bahkan tanpa pernah mengenal kata libur, dan tidak akan pernah berhenti menggali dan mengeksplorasi isi kepala mereka hingga mereka terlelap tidur akibat keletihan yang hebat di kepala mereka. Ketika para penjahat sibuk mencuri atau menipu, maka orang-orang jenius sedang sibuk berkarya dan menciptakan karya.

Sebaliknya, orang-orang dengan IQ yang tidak tinggi, akan menjelma pribadi yang dangkal, kerdil, serta berpikiran “pendek” yang picik. Mereka, karenanya, gagal untuk mampu berpikir secara kreatif, terlebih untuk berpikir dan bersikap secara orisinal (namun akan selalu penuh kepalsuan).

Akibat tidak kreatif, mereka menjadi tidak mampu bersikap produktif. Berkat tidak produktifnya daya pikir diri mereka, akibatnya hanya dapat mengandalkan jalan pintas bernama mencuri, menipu, merampok, dan segala jenis modus-modus kejahatan lainnya yang bersifat mencari apa yang mereka namakan sebagai “jalan pintas” mendapatkan kekayaan materi.

Orang-orang yang pandai menyusun modus kejahatan dan penipuan, bukanlah orang-orang cerdas, namun orang yang “tanggung-tanggung kecerdasannya”. Bila mereka memang benar-benar pandai dan cerdik alias pintar sepintar orang-orang ber-IQ tinggi, maka mereka tidak akan pernah perlu merepotkan dirinya melakukan kejahatan, namun akan lebih sibuk dan terlampau sibuk untuk ide-ide mereka yang melimpah-ruah serta serba produktif sepanjang hidupnya tanpa pernah kekurangan inovasi maupun karya-karya besar yang brilian disamping fenomenal.

Karena itulah juga, orang-orang dengan IQ tinggi, tergolong manusia-manusia dengan watak yang tidak pernah terpanggil untuk menyakiti ataupun merugikan pihak mana pun. Mereka sudah “penuh” sebagai seorang manusia dan pribadi yang utuh.

Karena sifatnya yang menjelma “Ahimsa”, tanpa kekerasan fisik serta tanpa menyakiti juga tanpa merugikan pihak lain, maka dapatlah kita katakan pula bahwa orang-orang ber-IQ tinggi pada fakta realitanya juga merupakan orang-orang dengan SQ (Spiritual Quotient) yang tinggi. Bandingkan kontrasnya terhadap orang-orang yang selama ini mengaku “agamais” atau “ber-Tuhan”, namun justru mengandalkan dan mengharapkan “penghapusan dosa”—dimana telah kita ketahui bersama, hanya orang-orang yang berdosa karena mencuri dan menipu yang membutuhkan iming-iming semacam “penghapusan dosa”.

Kini, mari kita lihat pula kaitan antara EQ (Emotional Quotient) dan IQ, dimanakah letak dan apakah ada kaitannya antara keduanya? Banyak kalangan yang secara salah-kaprah membuat kesan bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda, terpisah, bahkan bertolak-belakang.

Faktanya, orang-orang dengan IQ tinggi cenderung memiliki pula EQ maupun SQ yang tinggi. Mari kita bahas lebih dalam lagi secara menarik, masih bersama KWANG dalam wawancara eksklusifnya bersama Bapak Hery Shietra selaku narasumber.

Pernahkah Sobat merasa terkejut dan terganggu, ketika timbul “polusi suara” semacam teriakan dari luar rumah “PERMISI, PAKET! PERMISI, PAKET!”, bahkan tidak jarang disertai bunyi klakson. Pertanyaannya ialah, paket untuk siapa, untuk rumah nomor anu ataukah nomor lainnya?

Dalam satu komplek perumahan, terdiri dari berderet-deret rumah yang saling bertetangga dan berbatasan tembok rumah, sementara pihak kurir tukang pengantar paket berteriak-teriak kencang mengejutkan para penghuni rumah lainnya dalam radius hingga beberapa puluh meter dari sang “PERMISI, PAKET!

Jika mereka, para kurir tersebut, cukup memiliki “otak”, maka mereka akan menyebutkan terlebih dahulu nama penerima paket serta nomor rumah, agar para tetangga lainnya seketika mengetahui bahwa bukan mereka-lah yang menjadi penerima paket yang dimaksud dan ditujukan.

Itulah sebabnya, mereka hanya bisa ber-“nasib” memiliki profesi sebagai seorang kurir (tukang pengantar paket) ataupun “tukang becak besi”, semata karena mereka “tidak punya otak”. Jika mereka masih memiliki otak di dalam tempurung kepala mereka, maka maka hal sesederhana demikian, mengapa tidak disadari dan dipikirkan oleh mereka?

Apakah perlu hal sesederhana demikian, untuk tidak mengganggu para warga dalam radius jarak teriakan sang kurir, kita berikan teguran dan beritahukan? Jangan-jangan mereka yang ditegur yang lebih galak daripada yang ditegur (cerminan EQ dan SQ yang buruk, akibat IQ yang rendah dibawah rata-rata). Dalam sehari, bisa sampai belasan kali gangguan serupa terjadi dan kita alami di keseharian. Orang-orang dengan IQ rendah, cenderung memiliki EQ yang dangkal, terlebih SQ (mengganggu warga) yang pastilah juga turut “tiarap”.

Belum lagi candaan para tukang “becak besi” (“tukang ojek”) yang dangkal yang suka menghina orang lain (menjadikan orang lain sebagai objek ejekan dan cemoohan), lengkap dengan candaan dan guyonan-guyonan dangkal “jorok” mereka yang “kurang kerjaan”, mencerminkan betapa IQ mereka sangat memprihatinkan, sehingga tidak mengherankan pula mereka bernasib dalam “karir” semacam demikian, merasa bangga akan pola pikir dan profesi mereka yang sama dangkalnya.

Bandingkan dengan pola pikir orang-orang jenius, yang senantiasa berpikir “orang-orang besar membicarakan ide-ide dan gagasan, sementara orang-orang kerdil membicarakan tentang orang-orang lain dan hal-hal remeh-temeh lainnya yang tidak berfaedah”. Orang-orang jenius, tidak pernah memiliki perilaku sebagaimana umumnya para “tukang becak besi”.

Itulah sebabnya, ketika berbagai bahasan di luar website ini menyatakan bahwa seolah “ada beda antara IQ dan EQ”, fakta realitanya dikeseharian kita justru mendapati dan melihat yang berkebalikan dari tuduhan demikian, yakni senyatanya orang-orang yang dengan IQ tinggi cenderung memiliki EQ maupun SQ yang juga sama tingginya. Sebaliknya, orang-orang dengan IQ yang rendah akan cenderung memiliki EQ maupun SQ yang juga sama rendahnya.

Karenanya pula, kini dapat kita maklumi, adalah salah-kaprah ketika masyarakat bertanya-tanya, manakah yang lebih penting, IQ, EQ, ataukah SQ? Pertanyaan yang lebih benar dan lebih tepat-akurat ialah, mungkinkah ada EQ maupun SQ yang tinggi tanpa dilandasi penopang kokoh bernama IQ? Apakah mungkin SQ, EQ, maupun IQ saling dipisahkan satu sama lainnya?

KWANG telah banyak mengamati orang-orang di tengah masyarakat, mulai dari yang kita sebut sebagai orang “dungu”, orang yang biasa-biasa saja, rata-rata, hingga yang cukup cerdas, dan yang tergolong jenius. Kesimpulan yang dapat KWANG tarik selalu konsisten dengan hipotesis yang dikemukakan di atas, dan tidak pernah menemukan fakta empirik yang sebaliknya, yang mana juga dapat dibuktikan sendiri oleh Sobat-Sobat lewat pengamatan dan verifikasi pribadi yang sederhana namun penuh kecermatan.

Terdapat pula sinisme “IQ tinggi bukan jaminan sukses”. Jika benar demikian, pertanyaannya ialah “lalu apa yang menjadi jaminan sukses, EQ ataukah SQ?” Bukankah sudah kita buktikan bersama dalam bahasan ini, bahwa antara IQ, EQ, maupun SQ, saling berkelindan satu sama lain, sehingga menyerupai “pinang dibelah tiga”.

Seruan-seruan yang mencoba memojokkan kaum jenius dengan mendiskreditkan dan mencibir peran penting IQ, merupakan simbolisasi cerminan wujud inferioritas orang-orang dengan IQ “pas-pas-an” atau yang bahkan berada “dibawah rata-rata”, sehingga merasa tidak memiliki pilihan lain selain menafikan peran penting IQ.

Menjadi tidak mengherankan pula, banyak diantara masyarakat kita yang mencari dengan kata kunci berikut ini di internet “apa yang membuat dan menjadikan orang Yahudi cerdas dan anak-anak Yahudi terlahir dalam kondisi ber-IQ tinggi?” Bukankah itu adalah fakta yang mencerminkan sikap iri-hati atau kecemburuan terhadap mereka yang tergolong “jenius”? Mengapa juga masyarakat kita kemudian berbondong-bondong meniru cara ibu-ibu Yahudi mencerdaskan janin dalam kandungan di perut mereka?

Jika IQ memang bukan segalanya, meski faktanya ialah segalanya membutuhkan IQ (sebagai bukti, tanyakanlah diri kita sendiri, apakah tidak meletihkan mental menghadapi orang-orang dengan IQ yang rendah?), mengapa juga banyak diantara masyarakat kita yang mencoba meniru gaya hidup orang-orang Yahudi dengan harapan anaknya dapat terlahir dalam kondisi sama jenius-nya dengan anak-anak Yahudi, seperti mendengarkan musik Mozard saat kehamilan, belajar matematika, serta konsumsi makanan tertentu selama sang ibu mengandung janinnya.

Demikianlah kajian singkat namun lugas, hasil wawancara KWANG bersama Bapak Hery Shietra. Semoga dapat membawa inspirasi serta cukup membuka wawasan baru, karena Bapak Hery Shietra notabene merupakan orang pertama alias pelopor pencetus teori “orang dengan IQ tinggi cenderung memiliki pula EQ maupun SQ yang tinggi”.

Sedikit hendak KWANG tambahkan, kadang kita sukar sekali memberi tahu (menasehati), memberi teguran, ataupun mengkritik (meski positif dan membangun) orang-orang dengan tingkat IQ yang rendah, yang bahkan dapat kontraproduktif karena yang ditegur dan dinasehati justru memberi respons dengan bersikap "lebih galak", tanpa mampu melihat kesalahan perbuatannya maupun alasan logis dan argumentasi cerdas dibalik nasehat maupun teguran kita.

Sungguh, memagn tidak ada yang lebih sukar daripada menghadapi orang-orang dengan IQ dibawah rata-rata. Sebuah peribahasa Belanda, pernah menyebutkan: "Een goed verstaander heeft maar een half woord nodig." Artinya, orang yang pandai memahami, (cukup) membutuhkan separuh perkataan. Jika masih belum jelas, tahu berbuat apa yang diharapkan dari dia.

Kita tidak akan pernah dapat mengharapkan peribahasa di atas ketika kita menghadapi orang-orang dengan IQ yang rendah, yang ciri paling utamanya ialah sikap penuh kegagalan untuk berpikir logis dan rasional, anti kritik, tidak mampu introspeksi terlebih memperbaiki diri, bahkan tidak jarang selalu merasa "paling benar".

Orang-orang dengan IQ tinggi, tidak pernah merepotkan siapapun, namun orang-orang dengan IQ rendah selalu merepotkan dan membuat repot siapapun. Karenanya pula, memiliki IQ tinggi bukanlah sebuah kesalahan, namun gagal untuk memastikan tingkat IQ kita agar setidaknya berada sedikit diatas rata-rata, barulah sebuah kesalahan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain yang bisa terkena imbas "getah"-nya.

Kesemua itu merupakan pandangan relatif baru dalam dunia pendidikan sebagaimana diperkenalkan oleh Bapak Hery Shietra demikian, dapat kita buktikan dan amati-cermati sendiri relevansinya dalam keseharian kita, baik di rumah, di sekolah, di kantor, maupun di tengah-tengah masyarakat ketika bersosialisasi. Silahkan temukan dan buktikan sendiri.

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! Sampai jumpa pada kesempatan dan kisah menarik lainnya. 😁😀😇😅😆

You Might Also Like

0 comments