Kiat Praktis & Jitu Menghadapi Ejekan, Hinaan, Fitnah, Cemooh, maupun Oral Bullying Lainnya

Kiat Praktis & Jitu Menghadapi Ejekan, Hinaan, Fitnah, Cemooh, maupun Oral Bullying Lainnya

Setidaknya terdapat dua buah teknik argumentasi untuk menghadapi orang yang gemar menghina, mengejek, mengolok, memfitnah, ataupun menjelek-jelekkan diri kita secara tidak benar adanya. Teknik berikut ini KWANG bagikan karena memang penting untuk dapat kita praktikkan di keseharian, bila menjumpai pelaku penghinaan maupun fitnah yang tidak tertutup kemungkinan harus kita hadapi sehari-harinya.

Memang sukar dipahami, kita tidak menyakiti, tidak melukai, juga tidak merugikan siapapun, namun orang tersebut merasa berhak untuk melukai perasaan kita dengan mengejek serta menghina kita, membuat kita trauma yang bisa jadi menjelma luka batin yang permanen menghantui kita.

Sejahat itulah, orang-orang yang suka dengan mudahnya mengomentari dan menghakimi orang lain, miskin empati. Orang-orang baik, sangat tidak cenderung meledek ataupun menghina orang lain, seaneh apapun penampilan orang lain yang dijumpai olehnya. Tidak mengherankan, bila Sang Buddha menyatakan bahwa perbuatan jahat dapat dilakukan lewat perbuatan, ucapan, bahkan hingga pikiran. Terlagi pula, pepatah sudah lama menyebutkan:

"Orang besar, (hanya) membicarakan perihal ide dan gagasan. Sementara itu orang-orang kerdil, lebih cenderung membicarakan tentang orang lain dan menjelek-jelekkan mereka agar dirinya tampak lebih cakap."
Kiat pertama, ketika seseorang mengejek ataupun menghina hingga memfitnah kita, tanggapilah dengan dialog kalimat sebagai berikut:

“Kamu jelek seperti monyet!”

“Jika kamu mengajak seseorang berbicara, akan tetapi tidak ditanggapi bahkan tidak dihiraukan, maka apakah kamu merasa dilecehkan dan diremehkan?”

“Jelas akan merasa diremehkan serta tersinggung karena tidak diperhatikan ataupun ditanggapi, dan akan marah karena tidak diladeni alias ‘dicuekin’ (tidak diacuhkan)!”

“Sama juga, saya tidak akan meladeni ataupun menghiraukan segala hinaan dan ejekan yang kamu buat. Saya tidak acuh dan saya juga tidak perduli tentang dirimu ataupun segala pendapat dan komentar dirimu itu. Segala hal terkait dirimu ataupun segala ucapanmu, tidak penting bagi saya. Sehingga, siapa yang sejatinya sedang dan telah dilecehkan serta diremehkan? Saya pilih ‘cuekin’ hinaan kamu.”

Tips kedua berikut ini KWANG dapatkan dari inspirasi yang dihadirkan oleh khotbah Sang Buddha dalam Saṃyutta Nikāya (sutta pitaka, Tripitaka), berisi ajaran berikut yang membuat kita dapat memahami mengapa Sang Buddha mendapat julukan sebagai “Guru Agung bagi para manusia dan para dewata”:

Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Brahmana Akkosaka Bhāradvāja, Bhāradvāja si pemaki, mendengar: “Dikatakan bahwa brahmana dari suku Bhāradvāja telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah di bawah Petapa Gotama.” Marah dan tidak senang, ia mendatangi Sang Bhagavā dan mencaci dan mencerca Beliau dengan kata-kata kasar.

Ketika ia telah selesai berbicara, Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah teman-teman dan sahabat-sahabat, sanak keluarga dan saudara, juga para tamu datang mengunjungimu?”

“Kadang-kadang mereka datang berkunjung, Guru Gotama.”

“Apakah engkau mempersembahkan makanan atau kudapan kepada mereka?”

“Kadang-kadang aku melakukannya, Guru Gotama.”

“Tetapi jika mereka tidak menerimanya darimu, maka milik siapakah makanan-makanan itu?”

“Jika mereka tidak menerimanya dariku, maka makanan-makanan itu tetap menjadi milikku.”

“Demikian pula, Brahmana, kami—yang tidak mencaci siapa pun, yang tidak memarahi siapa pun, yang tidak mencerca siapa pun—menolak menerima darimu cacian dan kemarahan dan semburan yang engkau lepaskan kepada kami. Itu masih tetap milikmu, Brahmana! Itu masih tetap milikmu, Brahmana!”

“Brahmana, seseorang yang mencaci orang yang mencacinya, yang memarahi orang yang memarahinya, yang mencerca orang yang mencercanya—ia dikatakan memakan makanan, pertukaran. Tetapi kami tidak memakan makananmu; kami tidak memasuki pertukaran. Itu masih tetap milikmu, Brahmana! Itu masih tetap milikmu, Brahmana!”

“Raja dan para pengikutnya memahami bahwa Petapa Gotama adalah seorang Arahanta, namun Guru Gotama masih bisa marah.”

(NOTE Redaksi : Kitab Komentar menyebutkan, Ia telah mendengar bahwa para petapa menjatuhkan kutukan ketika mereka marah, jadi ketika Sang Buddha berkata, “Itu masih tetap milikmu, Brahmana!” Ia menjadi takut, berpikir, “Petapa Gotama sepertinya menjatuhkan kutukan kepadaku.” Oleh karena itu, ia berkata demikian.)

[Sang Bhagavā:]

“Bagaimana mungkin kemarahan muncul dalam diri seorang yang tidak memiliki kemarahan, dalam diri seorang yang jinak berpenghidupan benar, dalam diri seorang yang terbebaskan oleh pengetahuan sempurna, dalam diri seorang yang seimbang yang berdiam dalam kedamaian?

(NOTE Redaksi : Bhikkhu Bodhi menerjemahkan tādi sebagai “Yang Stabil” sesuai dengan kemasan dalam komentar, tādilakkhaṇaṃ pattassa, yang menyinggung penjelasan tādi pada Nidd I 114-16: “Arahanta adalah tādi karena Beliau ‘stabil’ (tādi) dalam hal untung dan rugi, dan sebagainya; Beliau adalah tādi karena Beliau telah melepaskan segala kekotoran; Beliau adalah tādi karena Beliau telah menyeberangi empat banjir, dan seterusnya, Beliau adalah tādi karena batin-Nya telah terbebas dari segala kekotoran; dan Beliau adalah tādi sebagai penggambaran diri-Nya dalam hal kualitas-kualitas-Nya.”)

“Seseorang yang membalas kemarahan dengan kemarahan dengan cara demikian membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk bagi dirinya. Tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, Seseorang memenangkan peperangan yang sulit dimenangkan.

“Ia berlatih demi kesejahteraan kedua belah pihak—Dirinya dan orang lain—Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah, Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

“Ketika ia memperoleh penyembuhan bagi kedua belah pihak—Dirinya dan orang lain—Orang-orang yang menganggapnya dungu, adalah tidak terampil dalam Dhamma.”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Akkosaka Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: “Menakjubkan, Guru Gotama! … Aku berlindung pada Guru Gotama, dan pada Dhamma, dan pada Bhikkhu Saṅgha. Semoga aku menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, sudilah memberikan penahbisan yang lebih tinggi kepadaku.”

Kemudian brahmana dari suku Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, ia menerima penahbisan yang lebih tinggi. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya, berdiam sendirian, dengan tekun berlatih dalam Dhamma, menyadari pembebasan, kemudian Yang Mulia Bhāradvāja menjadi salah satu dari para Arahanta.

Jadilah, ketika seseorang menghina kita, menghujat kita, memfitnah kita, mengejek kita, menjelek-jelekkan diri kita, verbal bullying, diskredit, pelecehan (harassment), atau apapun itu yang bernuansa negatif secara oral, dalam dialog percakapan serta tanggapan sebagai berikut:

“Bla bla bla...” (hinaan, fitnah, ejekan, dsb)

“Saya menolak hinaan kamu. Artinya hinaan tersebut masih tetap milik si pembuat hinaan. Saya menolak mengambil ataupun menyentuh sampah yang kamu lontarkan, silahkan kamu pungut kembali sampah bau milikmu itu.”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Saya menolak, itu masih tetap milikmu!”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Itu masih tetap milikmu!”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Masih tetap milikmu!”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Masih tetap milikmu!”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Tetap milikmu!”

“Bla bla bla...” (masih juga menghina, mengejek, memfitnah, dsb)

“Milikmu!”

Demikian untuk selanjut dan seterusnya, gunakan teknik “kaset rusak” berbunyi : “Masih tetap milikmu!”, dan mari kita lihat siapa yang paling kuat untuk terus bertahan, si penyerang ataukah si bertahan.

Terhadap sebuah pertanyaan (dan mungkin juga terhadap sebuah pernyataan seperti ejekan, hinaan, cacian, fitnah, dsb), Sang Buddha telah pernah menyebutkan adanya tiga cara dalam menjawabnya, yakni : Pertama, menjawab dengan membenarkan ataupun menegasikan. Kedua, balik bertanya. Ketiga, memilih untuk diam.

Mungkin alternatif solusi ketiga ialah, diam saja dan tidak perlu menanggapi komentar ataupun perkataan negatif dan buruk dari orang lain, dan biarkanlah Hukum Karma serta buah Karma yang mengambil-alihnya. Sama seperti ketika Cinca memfitnah Sang Buddha sebagai telah menghamili dirinya hingga mengandung janin dalam rahimnya.

Sang Buddha hanya diam, dan melihat buah Karma apa yang akan berbuah terhadap diri si pelaku fitnah. Ternyata dewa Sakka turun tangan dengan menjelma menjadi seekor tikus yang menggigit hingga putus buntalan di balik pakaiannya sehingga seolah-olah mengandung janin. Jadilah, orang-orang kemudian mengetahui bahwa Cinca telah melakukan fitnah serta menaruh rasa antipati terhadapnya.

Alternatif keempatnya ialah, balik bertanya kepada sang pembuat fitnah, hinaan, ejekan, maupun olokan, dengan skenario dialog sebagai berikut:

“Muka kamu jelek seperti monyet!”

“Muka siapa yang jelek seperti monyet?”

“Kamu!”

“Oh, muka kamu jelek seperti monyet. Semua orang juga sudah tahu, tidak perlu bilang-bilang ke semua orang, kan, betapa jeleknya muka kamu?”

Kita bisa terus melanjutkan hidup, tanpa menghiraukan ataupun membalas segala ejekan dan hinaan dari banyak orang tidak baik di luar sana. Itulah yang disebut sebagai “positive thinking”. Hidup kita tidak akan kiamat, bila memilih untuk tidak menghiraukan mereka.

Betapa akan meletihkannya bila setiap harinya kita harus melawan semua orang berlidah jahat di luar sana. Lebih baik fokus menggunakan dengan baik sumber daya waktu yang kita miliki dengan baik, jangan biarkan mereka merenggut sumber daya waktu kita yang terbatas, serta jangan biarkan orang lain (faktor eksternal) mendikte kondisi batin kita. Tetap bahagia, itulah cara kita untuk memenangkan pertarungan dan peperangan kata-kata kasar yang penuh hinaan.

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😇😈😉😊💗💖💘

You Might Also Like

0 comments