Contoh Etika Komunikasi yang Buruk, serta Peran IQ terhadap Tingkat EQ

By PUBLISHER - June 21, 2021

Contoh Etika Komunikasi yang Buruk, serta Peran IQ terhadap Tingkat EQ

Mungkin memang sudah saatnya, mata pelajaran ETIKA KOMUNIKASI menjadi salah satu mata pelajaran wajib di bangku Sekolah Dasar, Menengah, hingga Perguruan Tinggi, sebagai bekal kemampuan berkomunikasi yang "humanis" bagi para peserta didik calon penerus bangsa--alih-alih gaya berkomunikasi yang seenaknya dan serampangan dengan menyepelekan akibat bagi perasaan lawan bicara.

Dapat kita jumpai sendiri dengan telinga kita selama hidup sebagai anggota masyarakat, terutama di Indonesia, berbagai bentuk gaya atau cara berkomunikasi yang meski tampak lazim, namun sejatinya tidak menunjukkan sikap respek terhadap lawan bicara, disadari maupun tidak.

Tentunya kita sering menemui kasus, bahkan hampir setiap harinya, seseorang mengirimi kita pesan singkat melalui perangkat genggam digital, menelepon, hingga mengetuk pintu kediaman rumah kita, dimana seolah-olah yang bersangkutan sedang bermain teka-teki terhadap kita, yang juga disaat bersamaan sikapnya menunjukkan tidak menaruh hormat kepada kita selaku "tuan rumah" yang dianggapnya punya waktu untuk bermain teka-teki kekanakan (atau bahkan pernah terjadi, tiga orang pria berkulit hitam besar "bertamu" di malam pada jam orang sudah tertidur).

Sehingga, ada kalanya, sembari mengelus dada, kita sampai perlu merepotkan diri bertanya sebagai berikut:

"Anda siapa?"

"Anda dari mana?"

"Anda dapat nomor kontak saya, dari mana?"

"Ada perlu apa?"

"Oh, jadi menurut Anda, ketika seorang tamu bertamu, maka tuan rumah yang harus ikut aturan main si tamu? Itu, yang Anda sebut sebagai etika sopan santun dan tata krama saat bertamu?"

Bagi mereka yang tidak ingin konfrontasi, tentunya bersikap penyabar tampak bisa menghindari konflik laten. Namun, sikap-sikap mengalah dan bersabar diri secara terus-menerus tampaknya bukan menjadi solusi paling ideal untuk jangka-panjang, karena si pelaku beretika-komunikasi yang buruk akan kian "besar kepala" saat mencoba menghubungi ataupun bertamu.

Bukankah sungguh meletihkan, kita sebagai tuan rumah yang justru harus direpotkan demikian setiap kali ada tamu yang datang bertamu? Ada saatnya, kita secara tegas, memberi tanggapan sebagai berikut:

"Mengapa jadi saya yang harus bertanya dan dibuat repot untuk menanyakan, siapa nama Anda, dari mana Anda dapat nomor kontak kerja saya, di mana domisili Anda, dan apa mau Anda menghubungi saya.
"Anda itu TAMU, sementara saya adalah TUAN RUMAH. Begitu, cara anda ketika bertamu? Di mana sopan santun dan tata-krama Anda ketika bertamu, tuan rumah yang justru direpotkan serta harus merepotkan diri bertanya kepada sang tamu?"

Itulah yang disebut sebagai "akibat etika komunikasi yang buruk" dari sang tamu ketika bertamu ataupun ketika mencoba menghubungi kita, tanpa kepekaan membuat tuan rumah direpotkan meski pastinya tidak ada tuan rumah yang bersedia secara sukarela direpotkan tamu yang tidak menunjukkan sikap respek ketika bertamu (seolah sang tuan rumah kurang kerjaan), bertanya-tanya sendiri akibat sang tamu mencoba bermain teka-teki : kamu siapa?, darimana?, nama siapa?, ada perlu apa?, dsb. Kesemua itu ialah kewajiban seorang tamu untuk menerangkan, ketika bertamu.

Ciri seseorang memiliki etika komunikasi yang berbobot, sekaligus cerminan bahwa yang bersangkutan memiliki tingkat IQ disamping EQ yang tinggi, ia tanpa membuang waktu lawan bicara, akan seketika mengutarakan secara lengkap tanpa lagi membiarkan sang tuan rumah direpotkan untuk bertanya-tanya sendiri terlebih  bermain teka-teki:

"Selamat pagi / siang / malam,  Bapak / Ibu ... . Apakah saya mengganggu waktu Bapak / Ibu? Nama saya ... , dari .... . Saya dapat nomor kontak Bapak / Ibu dari ... . Tujuan saya menghubungi ialah dalam rangka untuk keperluan ..."

Dengan cara begitulah, sang tamu menunjukkan sikap hormat dan penghargaan kepada sang tuan rumah yang (pastinya sedikit atau banyak) telah diganggu aktivitasnya tanpa banyak merepotkan. Namun, berapa banyak kita jumpai masyarakat di Indonesia yang memiliki etika komunikasi demikian?

Contoh sekaligus uji tes IQ serta EQ sederhana, ialah dengan menjawab pertanyaan berikut:

  • Bila Anda mengajak berbicara seseorang, bertanya kepada seseorang, atau ketika meminta informasi dari seseorang, namun orang yang kita ajak berbicara tersebut tidak memberi tanggapan seolah suara kita adalah angin lalu dan seolah-olah kita tidak eksis, maka siapakah yang telah bersikap tidak sopan? Merasa terhina dan terlecehkan?
  • Bila Anda datang bertamu, namun tuan rumah tidak memberi tanggapan seolah-olah sang tuan rumah sedang tidak di dalam rumah, meski kita tahu bahwa sang tuan rumah ada di dalam rumah, maka siapakah yang telah bersikap tidak sopan? Merasa tersinggung dan akan memaki pemilik rumah?

Apakah yang menjadi jawaban Anda? Menuruti dorongan insting, jawaban seseorang bisa sangat tidak bijaksana. Faktanya, lewat daya pemahaman serta pencermatan yang bijaksana, kita akan memahami bahwa:

  • Setiap orang punya hak untuk memilih, termasuk memilih untuk diam tidak menjawab, tidak menanggapi, dan tidak merespons (hak untuk tidak tetap diam, the right to remain silent. Lihat "Miranda Rule" yang tersohor pada sistem peradilan hukum pidana di USA)
  • Setiap orang punya hak untuk tidak diganggu dan memilih untuk tidak membiarkan dirinya terganggu (terutama terhadap tamu yang tidak dikenal dan tidak diundang).
  • Setiap orang punya hak untuk bebas memilih, hak untuk mengambil "pilihan bebas".

Dibutuhkan derajat minimum intelektual agar kita dapat berpikir sendiri secara mandiri perihal etika komunikasi yang baik dan benar. Lewat inteligensi paling minimal sekalipun, sekalipun kita menyadari, bahwa ketika kita menelepon seseorang ataupun ketika bertamu dengan mengetuk pintu kediaman rumah seseorang warga, sejatinya kita sedang MEMINTA WAKTU milik orang lain. Orang lain tersebut, punya hak untuk memilih memberikan ataupun tidaknya waktu mereka.

Kita tidak punya hak untuk memaksa orang lain untuk memberikan waktu mereka, kita sekadar meminta tanpa berhak untuk memaksakan dan mengekang kemerdekaan ataupun kebebasan hidup orang lain atas waktu miliknya, dimana sumber daya waktu amat terbatas disaat bersamaan merupakan esensi sisa nafas hidup seseorang yang perlu kita hargai dan hormati.

Ketika kita memaksakan orang lain, itu sama artinya penjajahan dan kerja rodi, tanpa kebebasan untuk memilih bagi mereka. Artinya, ketika orang lain tidak meladeni pertanyaan kita, dan kita menjadi marah karenanya, maka kitalah yang telah berbuat keliru dan "bodoh". Kitalah yang perlu menghormati pilihan hidup serta waktu milik orang lain.

Contoh lain, seorang kurir tampak tidak sabaran, ketika mengantarkan paket ke alamat penerima paket, dimana tuan rumah agak cukup lama keluar rumah untuk mengambil paket. Siapakah jugakah, yang paling harus mengucapkan kata "terimakasih" atas suatu jasa pengantaran demikian?

Si kurir telah datang dari jauh-jauh, meminta pemilik rumah memahami kesulitannya. Namun, pernahkan si kurir mempertimbangkan, bahwa si pemilik rumah bisa jadi sedang di toilet, alias datang tidak tepat pada waktunya. Apakah mereka sebelumnya pernah janjian, datang tanggal sekian dan akan tiba pukul sekian?

Faktanya, pengguna jasa adalah konsumen, dimana konsumen adalah raja. Konsumen membayar ongkos kirim, sehingga yang memiliki kewajiban untuk mengucapkan "terimakasih" ialah pihak yang menerima pembayaran, bukan sebaliknya. Terhadap kurir yang tidak sabaran, jawablah dengan kalimat sebagai berikut:

"SABAR! Bapak datang waktunya mendadak, tiba-tiba, tidak jelas Bapak selaku kurir datang pukul berapa. Saya bukan satpam yang menunggu seharian di balik pagar rumah. Saya bayar kok, ongkos kirimnya. Itu sudah resiko usaha jasa kurir, jangan mengeluhkan pengguna jasa."

Itulah wujud cerminan betapa mayoritas masyarakat di Indonesia belum memiliki daya pemahaman maupun cara berpikir secara bijaksana. Konon, disebutkan oleh seorang psikolog klinis, hanya 5% (lima persen) masyarakat Indonesia yang memiliki daya pemahaman dan kemampuan berpikir "bijaksana". Artinya, sisanya, yakni 95%, hanya memiliki gaya "bijaksini".

Contoh lain yang sangat sering kita jumpai di keseharian, atau mungkin tidak jarang kita alami sendiri, berupa "penghakiman" secara tidak arif dan tidak bijaksana oleh sesama anggota masyarakat lainnya, bahwa seolah-olah menjadi pribadi yang kurang atau jarang sekali bergaul / bersosialisasi dengan banyak orang maupun menghabiskan banyak waktu berkumpul bersama teman-teman, adalah orang yang "asosial", alias anti sosial.

Meledek ataupun mengejek orang bertipe kepribadian introvert, semata karena si pengejek adalah orang bertipe ekstrovert serta mayoritas penduduk adalah bertipe ekstrovert, seolah-olah sebagai manusia yang "tidak normal", aneh, cacat, antisosial, maupun berbagai "penghakiman" lainnya.

Padahal, adalah wajar terlahir dengan backbone sebagai berjenis kepribadian introvert. Intovert bukanlah kelainan maupun gangguan kejiwaan, serta merupakan "manusia normal" saja adanya. Namun, orang-orang yang kerdil dari segi ilmu pengetahuan umum, cenderung memiliki pemahaman serta pandangan yang sempit serta tidak jarang picik dan naif. Kebijaksanaan tidak mungkin dapat terlahir pada tipe-tipe kepribadian yang minim pengetahuan dan pemahaman.

Orang-orang yang gemar menghina ataupun mengejek ataupun mendiskreditkan orang lain yang berbeda dari mereka ataupun mayoritas, seringkali cenderung adalah jenis individu yang dangkal dari segi pengetahuan, karenanya pandangannya sempit, dangkal, disamping picik.

Sebaliknya, orang-orang yang lebih memadai dari segi ilmu pengetahuan maupun tingkat IQ, wawasan yang luas, memiliki khazanah yang juga luas, maka akan memiliki tingkat level daya pengertian yang penuh kebijaksanaan. Adalah wajar, bila seseorang terlahir dengan "constitusional traits" sebagai seorang introvert ataupun ekstrovert.

Tidak ada yang cacat menjadi seorang introvert, juga bukan suatu kesalahan untuk dihakimi bagi seseorang yang terlahir sebagai seorang ekstrovert. Itu hanya sekadar ragam jenis karakter dan kepribadian seorang individu. Hanya orang-orang dengan pengetahuan maupun tingkat intelektual yang tidak memadai, cenderung memiliki sudut pandang serta pemahaman yang serba terbatas, sehingga jauh dari kata bijaksana.

Orang-orang dengan tingkat IQ rendah, lebih cenderung "menggunakan kekerasan fisik sebagai  cara praktis untuk menyelesaikan masalah". Akibatnya, sebagaimana dapat dilihat sendiri, EQ mereka pun turut menjadi lemah dibuatnya, sementara hanya otot dan jiwa primitif otak reptil mereka yang berkembang sebagai andalan mereka untuk bertahan hidup. Bagaimana mungkin, menyenangkan dan membuat senang orang lain, adalah dengan cara membuat wajah mereka babak-belur?

Bila orang dengan EQ cukup memadai (karena didukung IQ yang memadai), menyenangkan orang lain lewat belaian dan sentuhan empatik yang simpatik. Sebaliknya, mereka dengan EQ yang "tiarap", menyalurkan "empati"-nya lewat pukulan tinju maupun tendangan maut, dan berpikir bahwa orang-orang akan senang disakiti dan dilukai. Fakta, sebagian besar dari populasi di Indonesia, adalah warga-warga yang memiliki asumsi "gila" bahwa kita akan merasa senang bila disakiti dan dirugikan.

Pastinya pula sering kita alami sendiri, ketika kita menjumpai realita yang berbeda dari apa yang ditawarkan dalam iklan, sebagai contoh antara produk real dan gambar dalam iklan dan brosur, ternyata sangat jauh berbeda secara kasat-mata dan demikian kontras, namun pihak penjual atau marketing bersikukuh bahwa semuanya sama, itu sama artinya mempertunjukkan etika komunikasi yang "melecehkan".

Jangan bersikap seolah-olah orang lain adalah buta dan tuli, itulah etika komunikasi paling mendasar yang semestinya dipahami oleh setiap oarng dewasa yang logis serta sehat cara berpikirnya. Ketika kita diperlakukan secara "bodoh", bagaikan kita dipandang sebagai orang bodoh yang dapat dibodohi olehnya, semisal pada contoh kasus penjualan produk di atas oleh pihak marketing atau penjualnya, kita dapat menanggapi, "Itu sama artinya, Anda mau bilang bahwa saya ini buta? Sungguh melecehkan. Begitu rupanya, cara anda menjual produk kepada calon pembeli Anda?"

Sama juga seperti ketika kita mengalami keadaan dimana seseorang menggunjingkan kita secara tidak benar dan tidak patut, menyebarkan rumor yang mendiskreditkan martabat kita, lalu saat sang pelaku penyebar rumor kita konfrontasi dengan berhadap-hadapan dengannya untuk meminta pertanggung-jawaban maupun klarifikasi agar tidak ada fitnah, sang pelaku berkilah, bahwa tidaklah demikian dan tidak ada yang berkata seperti itu, dan lain sebagainya (alias berkelit), maka kita dapat menanggapi, "Kamu mau bilang, saya ini tuli? Kamu yang tuli!"

Jangan pernah mengatas-namakan sesuatu (yang sejatinya tidak relevan) sesuai sebagai alasan pembenar perilaku yang tidak benar. Singkatnya, justifikasi diri dengan memakai alasan yang dibuat-buat ataupun alasan yang tidak relevan, merupakan cerminan tidak menaruh hormat kepada orang lain dan disaat bersamaan hanya menuntut dihormati, alias tiada sikap saling menghoramtai.

Contoh, pernah terjadi tetangga sebelah rumah kediaman KWANG menaruh benda berat di depan pagar pintu rumah keluarga KWANG, mengakibatkan kawat-kawat pagar rumah KWANG menjadi rusak. Ketika tetangga KWANG ditegur atas perilakunya tersebut yang sengaja merusak dan menyerobot, sang tetangga secara lebih galak menjawab, bahwa ada anggota keluarganya yang meninggal dunia. Apa hubungannya? Pengrusakan demikian telah terjadi sebulan lamanya dan telah KWANG bersabar diri tidak menegur, namun sang tetangga tidak sadar diri dan mau menang sendiri dalam bertetangga secara senantiasa meresahkan. Merusak properti milik orang lain, apapun alasannya, adalah keliru, tercela, serta tidak dapat dibenarkan secara etika moril maupun etika komunikasi.

Ketidakadilan merupakan gaya berkomunikasi yang terburuk.  KWANG masih teringat kejadian puluhan tahun lampau ketika masih duduk di bangku sekolah menengah di Indonesia. Pihak sekolah menjadikan murid sebagai pekerja yang dieksploitasi tenaganya. Ketika KWANG menjatuhkan sebuah kursi yang KWANG angkat dan pindahkan sesuai perintah pihak otoritas sekolah, seorang senior memaki dan memarahi KWANG. Jika saja KWANG dapat memutar kembali waktu, akan KWANG utarakan:

"Saya di sini berstatus sebagai murid, dan saya BAYAR ke sekolah ini untuk BERSEKOLAH, BUKAN UNTUK MENJADI BUDAK ATAUPUN BABU pihak sekolah! Budak mana, yang justru harus membayar? Itu, cara kalian berterima-kasih? Pembayar adalah BOS, konsumen adalah RAJA. Sekolah semacam apa ini, mengajarkan muridnya praktik perbudakan serta agar yang membayar yang harus menjadi budak perbudakan? Kelak, anakmu yang akan diperbudakan dengan cara yang sama."

Gagal bercermin diri, pintu masuk godaan berkomunikasi secara tidak etis. Suatu hari, KWANG mengikuti sebuah seminar, namun terdapat dua orang ibu-ibu yang selama sesi seminar, saling berisik sendiri mengobrol dengan asyiknya tanpa mau menghormati hak peserta seminar lain di sebelahnya agar dapat menyimak pembawa acara dalam seminar tanpa terganggu suara berisik.

Ketika KWANG baru sekali buka suara untuk berdialog dengan sang pembawa acara, kedua ibu tersebut memaki KWANG sebagai telah mengejutkan mereka. Ingin sekali KWANG menjawab balik, jika tidak mempertimbangkan untuk tetap fokus pada materi seminar, "Kalian berdua yang dari tadi berisik sendiri! Jika kalian mau berisik, diluar saja sana! Mengganggu peserta lain saja kalian berdua dari tadi!"

Namun KWANG memilih untuk mengalah dan berdiam diri tanpa mendebat, mengalah bukan artinya kalah. Toh, Hukum Karma tetap akan membalas perbuatan pelakunya, tidak perlu lewat tangan kita sendiri. Seperti nasehat dari seesorang, bahwa ketika kita menghadapi orang yang kurang waras, yang waras sebaiknya yang mengalah.

Mau menang sendiri, akar dari penyakit gaya berkomunikasi yang "toxic", beracun. Jangan pernah menyepelekan dampak dari ucapan kita terhadap batin atau mental lawan bicara. Saat KWANG masih sebagai seorang siswa puluhan tahun lampau, terdapat seorang kepala seolah bernama Monang Damanik yang mencoba mengeksploitasi ekonomi keluarga para murid, untuk saling memberi sumbangan kepada sekolah agar dapat membeli alat musk "drum band". Sumbangan kok dipaksakan sifatnya? Itu pamaksaan berkedok "sumbangan".

Terhadap murid-murid yang tidak memberikan persetujuan, dipanggil oleh sang kepala sekolah, lalu sang kepala sekolah bernama Monang Damanik terebut merasa berhak untuk menghakimi para murid yang tidak memberikan persetujuan sebagai manusia-manusia yang tidak punya makna dalam hidup, karena manusia yang bermakna adalah manusia yang menyukai musik!

Musik apa dulu? Kebetulan KWAGN paling tidak suka suara "drum band", namun penikmat suara musik yang lembut. Lagipula, jika pihak sekolah mau punya aset dan fasilitas "penuh gaya" (menarik sensasi) penarik calon murid baru berupa alat musik mahal, silahkan beli sendiri, iuran sekolah tidak murah kami bayarkan selama bertahun-tahun ini. Toh, jika sekalipun itu alat musik semacam "drum band" ada dan tersedia, tetap saja hanya segelintir murid senior yang akan memonopolinya ketika dimainkan, terutama murid senior yang bergaya preman, mana mungkin akan mengalah bagi seluruh murid untuk turut bermain dan berlatih dengan alat itu? Artinya, hanya akan dinikmati segelintir murid. Memangnya, murid adalah "sapi perahan", dan "memangnya guru adalah dewa dan murid adalah kerbau?" (istilah yang KWANG pinjam dari almarhum Soe Hoek Gie)

Ajahn Brahm, menyatakan bahwa "keheningan adalah suara musik terindah". Kasihan sekali orang-orang yang baru merasa hidup, ketika bergantung pada suara musik. Apa hubungannya sekolah sebagai tempat untuk belajar, dan musik "drum band"? Bagaimana mungkin kita bisa belajar dengan tenang bila ada ssumber suara gaduh itu kaleng yang dipukul-pukul itu? Lagipula, berapa banyak dari kita yang menyukai suara gaduh berisik alat musik semacam "drum band"? Hanya orang stress, yang menyukai memukul-mukul "kaleng berisik".

Kita tidak dapat dan tidak berhak menghakimi orang-orang yang hanya menyukai keheningan (terutama para yodi meditator), suara seruling bambu, atau bahkan yang menyukai gamelan. Baru menjadi kelru, ketika seorang penyuka gitar menghakimi penikmat "drum band" serta sebaliknya, penikmat "drum band" yang menghakimi penyuka gitar maupun piano ataupun seorang meditator. Kejadian penghakiman oleh kepala sekolah bernama Monang Damanik tersbut, terjadi lebih dari belasan tahun lampau. Namun trauma masih membekas hingga sekarang, sebagai bukti bahwa luka batin tidak sembuh seiring dengan berlalunya waktu.

Jangan mengajukan pertanyaan, bila yang bersangkutan menutup telinga atas jawaban dari orang yang ditanya, serta jangan "buka mulut" bila "telinga tertutup". Pernah KWANG alami, seseorang mengajukan pertanyaan, namun ketika diberikan jawaban oleh ia yang ditanyakan, sang penanya justru menutup telinganya. Gaya berkomunikasi yang melecehkan disamping memamerkan arogansi. Lebih baik yang bersangkutan jangan pernah bertanya ataupun menanyakan apapun.

Penyalah-gunaan kata "permisi" atau "minta izin", bukanlah alasan pemaaf terlebih sebagai alasan pembenar perilaku yang melanggar dan menyimpangi ketentuan yang ada. Pernah terjadi, seseorang pengguna jasa melanggar "syarat dan ketentuan" (term and conditions, T&C) layanan yang KWANG selenggarakan, dan secara sengaja melanggar apa yang telah digariskan dalam "aturan main" dan prosedur T&C (cerminan sikap tidak menaruh hormat pada orang lain). Apa yang menjadi tanggapan pihak bersangkutan? "Saya sudah minta izin dengan memakai kata 'permisi'!"

Oh, jadi bila kita memakai kata "permisi", maka itu menjadi alasan pembenar bagi kita untuk melanggar apa yang telah dilarang dan prosedur yang ada? Apa bedanya itu dengan pemaksaan? Pernah juga seseorang mengambil untuk memakai barang milik KWANG, dengan mendalilkan alibi sudah "minta izin" untuk meminjam dan memakai, meski tidak pernah KWANG setujui ataupun izinkan, namun yang bersangkutan membuat asumsi secara egoistik bahwa diamnya orang lain artinya izin diberikan dan disetujui tanpa ada keberatan. Untuk menghadapi tipe "seenaknya" dan "penyalah-guna kata permisi" demikian, sebutkan dengan nada tegas, kalimat kontra-narasi berikut untuk menghentikan seketika argumentasi orang bertipe suka membantah dan mendebat sesalah apapun perbuatannya:

"Kapan, kamu saya izinkan? Kamu mungkin memang minta izin, tapi SAYA PUNYA HAK UNTUK TIDAK MENGIZINKAN! Kapan, saya kasih kamu izin?"

Etika komunikasi, dalam derajat lain ialah sangat terkait pada tingkat moralitas seseorang. Semestinya, cukup berbekal akal sehat, kita dapat bercermin dari peristiwa berikut ini. Seorang anak nakal, hendak mencuri buah dari pekarangan warga pemilik rumah. Niat awalnya, jelas untuk mencuri. Lantas, bagaimana caranya agar pencurian dapat dibalut akal agar tampak sahih dan tidak dapat disalahkan secara moril oleh pemilik rumah maupun warga lainnya, juga agar dapat berkelit dari polisi? Sang anak nakal mendapat ide "brilian" (yang kelewat curang), yakni berteriak kecil, "Permisi, boleh saya minta buahnya dari pohon Bapak-Ibu?" Tidak ada jawaban dari pemilik rumah di dalam. Artinya, boleh diambil! (please, don't try that at home. Dosa ditanggung sendiri!)

Pernah juga terjadi, KWANG secara tulus bersedia merepotkan diri untuk membantu seseorang yang sedang membutuhkan "uluran tangan", namun ketika KWANG pada suatu ketika membutuhkan bantuan orang tersebut sebagai timbal-baliknya (asas resiprositas / resiprokal, prinsip mengenai relasi sehat yang dibangun dari sikap saling bertimbal-balik. Artinya pula, yang tidak bertimbal-balik bukanlah relasi yang sehat), orang tersebut ternyata memilih untuk membalas air susu dengan air tuba, menolak membantu serta mencekalai KWANG dari belakang, justru menghakimi KWANG, sembari melontarkan pernyataan yang sangat menyayat hati serta membuat KWANG menyesali diri bahwa dahulu kala pernah memberi bantuan kepadanya, "Kamu sendiri, yang dulu dengan senang hati menolong saya!"

Jika dirinya tidak bersedia membalas budi, ya sudah, KWANG tidak akan memaksa atau menuntut apapun darinya, namun mengapa harus secara sengaja membalas air susu dengan air tuba, bahkan hingga menusuk dari belakang persis disaat dirinya punya kesempatan untuk membalas budi baik orang lain yang sebelum ini pernah menolongnya?

Sungguh sedih dan tersayat perasaan ini ketika mendengar sikapnya yang dingin, jauh dari sikap simpatik, "musang berbulu domba" yang kini melepaskan topeng dan menampilkan wajah aslinya yang jahat, tanpa rasa bersalah (serta tidak tahu terima kasih, membalas budi baik, masih pula menambahkan api ke dalam sekam dengan melecehkan serta mencelakai orang yang sebelum ini pernah menolongnya).

Etika komunikasi paling buruk yang dapat kita jumpai di tengah masyarakat di Indonesia, ialah kebiasaan gemar menyepelekan dan meremehkan perasaan orang lain. Meskipun, kita, selaku orang luar, tidak pernah berhak menghakimi seorang korban yang mengalami suatu peristiwa tidak menyenangkan lengkap dengan segala latar-belakang, penyulit, kesulitan, hambatan, maupun keseluruh konteks disamping keutuhan kejadian.

Orang-orang yang minim dari segi daya berpikir bijak, akan cenderung menghakimi seorang korban, sekalipun dirinya hanya sekadar seorang penonton belaka yang tidak menderita kerugian ataupun derita selayaknya derita sang korban, dengan kritikan sebagai berikut, "Hanya masalah sepele saja, diributkan dan diperdebatkan!"

Contoh lainnya, seseorang yang menjadi pihak eksternal, bisa dengan mudahnya menyepelekan, seperti, "Ah, ini barang SEPELE, hanya boneka usang, sudah kotor dan banyak noda. Lebih baik dibuang saja ke tong sampah, pemulung pun tidak akan mengambil barang tidak berguna dan tidak bernilai  sama sekali semacam ini." Bisa jadi, boneka tersebut memiliki nilai historis tidak ternilai harganya bagi kita, meski jelas-jelas tidak demikian di mata orang lain. Karenanya, kita bilamana merupakan pihak ketiga, tidak pernah berhak untuk menghakimi perasaan orang lain, terutama kondisi dan situasi seorang korban. Bukanlah kita yang hidup sebagai mereka dari awal mereka tumbuh hingga besar dewasa seperti sekarang. Mereka sendiri yang paling memahami diri mereka sendiri.

Itulah bukti tidak terbantahkan, tingkat IQ lebih mendukung dan menopang level EQ seseorang. Orang dengan tingkat IQ yang rendah, seseorang tersebut akan cenderung kurang pengetahuan, pemahaman yang dangkal "kacamata"-nya ketika melihat dunia, kebijaksanaan yang tidak memadai, sudut pandang yang dangkal serta sempit, dimana akibat lanjutannya ialah komentar / pendapatnya akan lebih cenderung "menghakimi" orang lain secara tidak adil disamping serampangan, tidak proporsional dan tidak pada tempatnya. Mereka, tidak memiliki gaya berpikir "full consideration".

Pernah ada sebuah pengalaman, ketika KWANG hendak mencari penjahit untuk membuat kain bendera, terdapat sebuah kios seorang penjahit berupa rumah semi permanen di tepi sebuah sungai. Sang penjahit bercerita panjang-lebar betapa ia butuh uang karena miskin, hidupnya susah hanya punya rumah semi permenan, betapa anaknya butuh uang untuk sekolah, yang mana tujuan dibalik kesemua cerita panjang-lebar tersebut ialah semata untuk memeras uang calon pengguna jasa jahit (manipulasi mentalitas dalam rangka eksploitasi rasa prihatin dan empati).

Pernah juga KWANG menghadapi seorang penipu, sehabis menipu KWANG, lalu dirinya bercerita panjang-lebar bahwa seolah dirinya telah pernah ditipu ini dan itu oleh pihak lain, tujuannya ialah untuk eksploitasi mentalitas pula, "mau menang sendiri" setelah menipu, dengan harapan dirinya dilepaskan dari tanggung jawab terhadap korbannya karena belas-kasihan. Atau kerika seseorang merusak barang kita, lalu si pelaku bercerita panjang-lebar betapa miskin keluarganya dengan harapan dapat menjadi "alasan pemaaf", tanpa mau perduli betapa korbannya bisa jadi lebih miskin darinya. Itu tidak etis, etika komunikasi yang dilandasi itikad buruk, yakni eksploitasi verbal dengan obral kisah sedih yang mana "BUKAN URUSAN SAYA".

Bila dapat mengulang masa lampau, maka akan cukup secara singkat KWANG jawab, "ITU BUKAN URUSAN SAYA, BE PROFESSIONAL!" maupun seperti, "Itu BUKAN urusan saya, bertanggung-jawablah! Apa bentuk tanggung-jawab Anda, dan mengapa juga saya selaku korban yang harus mengemis-ngemis pertanggung-jawaban Anda selaku pelaku yang  telah merugikan saya?" 

Pernah juga KWANG alami, ketika barang milik KWANG dirusak oleh si pelaku,  si pelaku mencari-cari alasan sedemikian rupa, bahkan menuduh KWANG selaku korban SEBAGAI telah berbohong, alias menjadikan korban menderita sebanyak lebih dari satu kali. Contoh nyata, seseorang memukul wajah kita sehingga kacamata yang ktia kenakan jatuh dan rusak, atau diperbaiki pun tidak akan lagi nyaman digunakan. Ketika si pelaku, kita mintakan pertanggung-jawaban, si pelaku berkelit dengan kalimat penuh akrobatik berikut:

"Mana buktinya itu kacamata milikmu? Mana buktinya itu kacamata memang dulu kamu beli, bukan hasil pencurian? Coba, tunjukkan kuitansi pembeliannya!... Kok tidak langsung dijawab, berpikir lama dulu sebelum kamu menjawab? berarti kamu BERBOHONG!"

Ya sudah, biar Hukum Karma saja yang membalas perbuatan pelakunya. Yang semestinya takut, ialah mereka yang berbuat kejahatan atau yang telah merugikan seorang korban. Mengapa juga korban yang harus mengemis-ngemis pertanggung-jawaban? Ingin sekali KWANG membalas dengan kalimat berikut:

"Sekarang kamu pilih, bayar ganti rugi atau mata kamu yang akan saya pukul? Bisa jadi nanti matamu yang akan rusak atau bahkan menjadi buta, saya hanya sekadar membalas perbuatanmu. Masih untung saya pakai kacamata saat kamu memukul wajah saya sehingga bukan bola mata saya yang menjadi korban, entah sengaja atauun tidak sengaja, itu bukan urusan saya dan faktanya kamu sudah memukul wajah saya. Kok tidak langsung dijawab, dan berpikir lama sekali tanpa langsung mejawab? Berarrti kamu telah BERBOHONG, SUDAH MERUSAK LALU BERBOHONG PULA!!"

Kita tidak perlu bercerita secara panjang-lebar kepada pihak penyedia jasa mana pun, betapa susahnya kita mencari dan mendapatkan uang untuk dapat membayar, karena itu memang bukan urusan mereka. Urusan mereka ialah, pengguna jasa membayar sesuai harga yang telah ditawarkan, disetujui, dan disepakati bersama. Sama halnya, urusan pribadi hidup dan keluaga milik sang penyedia jasa, bukanlah urusan kita selaku konsumen. Urusan konsumen ialah, mendapatkan apa yang menjadi haknya sesuai kesepakatan.

Menjadikan kebaikan hati kita sebagai bumerang bagi si pemberi kebaikan, itulah gaya komunikasi paling buruk dari yang terburuk. Contoh, pernah keluarga KWANG memberikan izin kepada seorang pengemudi truk kontainer untuk parkir di depan kediaman rumah KWANG. Namun, ternyata si penerima kebaikan tersebut menyalah-gunakan kebaikan yang pernah keluarga KWANG berikan, dan menjadikannya alasan untuk setiap harinya parkir secara tidak sopan persis atau tepat di depan pagar sehingga seringkali penghuni rumah mengalami kesukaran untuk keluar maupun masuk ke dalam rumah sendiri--itu juga menjadi pelajaran atau pengalaman pahit yang mahal harganya, agar kita jangan pernah memberikan toleransi sekecil apapun, agar tidak menjelma kebiasaan yang bisa menjadi bumerang bagi kepentingan diri kita sendiri di masa mendatang, semisal membiarkan pedagang membuka lapak liar di depan rumah kita, maka semakin lama kita biarkan akan berakibat semakin sukar kita usir ketika kita selaku pemilik rumah kian merasa diresahkah oleh kegiatan sang pelapak liar tersebut. Penyakit sosial jangan pernah diberi kompromi sekecil apapun dari sejak awal.

Ketika saat kini, anggota keluarga KWANG menegur sang supir truk agar tidak parkir liar sembarangan, sang supir berdalih, "Saya sudah minta izin dan diizinkan parkir di sini!" Menghadapi pelaku penyalah-guna kebaikan hati demikian, tegur kembali dengan kalimat berikut: "Kapan? Kapan kamu minta izin dan kapan kamu diizinkan untuk parkir di sini secara tidak sopan? Kalau DULU ya DULU, jangan seenaknya kamu buat aturan di rumah orang lain! Kapan kamu dapat izin untuk parkir liar sembarangan hari ini di sini?! Orangtua mu tidak pernah mengajarkan sopan santun ya, parkir tanpa izin seenaknya TEPAT DI DEPAN PAGAR RUMAH ORANG! Ini rumah saya, saya TUAN TAMU di rumah ini. Anda hanya TAMU, tidak punya hak parkir di depan rumah saya. Ini rumah saya, mengapa jadi Anda yang mengatur-mengatur di sini dan merasa berhak parkir di rumah kami secara merampas hak penghuni rumah? Bukan urusan kami kamu mau parkir di mana, tapi kamu TIDAK PUNYA HAK parkir sembarangan di depan rumah milik orang lain! Kamu hanya punya hak parkir di rumahmu sendiri. Kamu TIDAK PUNYA HAK merampas hak pemilik rumah untuk keluar dan masuk rumah sendiri!"

Tentu kita sering terganggu oleh teriakan kurir pengantar paket, "PERMISI, PAKET!" Kita menghentikan kegiatan kita, lalu beranjak ke luar rumah untuk melihat paket bagi siapakah? Apakah paket untuk keluarga kita? Bisa jadi. Ternyata, sang kurir hendak mengantar kurir untuk tetangga sebelah rumah atau untuk seberang rumah. Suara teriakannya, "PERMISI, PAKET!" terkadang disertai klakson motornya, membahana hingga radius beberaa ratus meter, mengganggu warga sekitar yang tidak bersalah, sekaligus terkena getahnya.

Itulah contoh aktual, betapa tingkat IQ berkolerasi terhadap level EQ dan SQ, sebagaimana pernah dituturkan oleh Bapak Hery Shietra. Mereka yang berprofesi sebagai kurir, dapat kita pahami tingkat IQ miliknya, memprihatinkan, karenanya EQ dan SQ mereka pun turut memprihatinkan adanya, dan dapat kita maklumi meski tidak dapat kita benarkan.

Ketika seorang pengemudi kendaraan bermotor mengklakson kita selaku pejalan kaki, dari arah belakang, semata agar kita seolah-olah tidak punya hak atas jalan umum, pun termasuk contoh etika komunikasi yang buruk. Setelah mereka lewat, di depan sana ada mobil lain dalam kondisi terparkir di pinggir jalan, namun si pengemudi yang tadi mengklakson si pejalan kaki, kini dengan penuh kesabaran tidak mengklakson mobil yang diparkir secara menghalangi separuh badan jalan, tidak mengklakson mobil (benda mati) mana pun yang parkir liar agar menyingkir, dan dengan sabar menunggu sejenak untuk bisa lewat.

Mengapa manusia selaku benda hidup, diklakson, namun benda mati tidak diklakson? Mengapa terhadap benda mati, si pengemudi dapat demikian bersabar, namun terhadap benda hidup sebagai sesama manusia, tidak sabaran dan keji? Bukankah jauh lebih menderita sang pejalan kaki dalam menempuh perjalanan dibawah terik atau guyuran hujan disamping resiko tergores ranting tumbuhan yang tumbuh di pinggir jalan, ketimbang mengendarai kendaraan bermotor yang dapat melaju cepat sampai tujuan?

Pernah pula terjadi, bahkan beberapa kali terjadi, mereka yang sekadar menjadi penonton, justru secara sinis dengan intonasi meledek, bahwasannya sang korban adalah tidak berdaya, dilukai dan terluka, tidak mampu menghadapi si pelaku kejahatan yang telah menjahatinya, dengan maksud untuk mengejek sang korban sebagai "si tidak berdaya".

Adapun tanggapan yang dapat kita sampaikan kepada mereka, para penonton tersebut, ialah : "Mengapa Anda justru mendiskreditkan dan melecehkan korban, dan disaat bersamaan tidak mengecam perilaku pelaku kejahatan yang berbuat jahat karena menjahati sang korban? Apa tudingan Anda itu, tidak salah dan tidak salah alamat?" Itulah, cerminan etika komunikasi yang buruk, dilandasi IQ yang buruk, karenanya hanya mampu memiliki tingkat EQ yang tidak memadai, yang pada gilirannya ialah "sense of justice" yang buruk.

Pernah sekali waktu, bersama teman-teman dalam satu rombongan, makan siang di sebuah warung atau lapak di pinggir jalan untuk makan bersama. Berhubung pembeli tidak bertanya harga saat membeli makanan dan makan di tempat tersebut, ketika konsumen hendak membayar, sang penjual memanfaatkan "kesempatan" dengan memasang harga setinggi langit.

Secara tidak etis disamping tidak beretika bisnis, sang penjual makanan memahami betul kondisi makanan yang telah masuk ke dalam perut konsumen, tidak mungkin bisa dikembalikan, karenanya mau tidak mau harus bayar sekalipun "diperas". Mengapa cara berdagang demikian, tidaklah etis? Semata karena alasan yang dapat kita temukan lewat menjawab pertanyaan berikut:

Jika saja dari awal kita tahu, harga atas makanan yang ia jual sungguh tidak patut untuk sekadar sebuah masakan yang sederhana namun memasang tarif masakan mewah kelas hotel bintang lima, tentunya kita tidak membelinya terlebih memakannya. Bukankah begitu?

Jika saja dari awal kita mengetahui, bahwa penjualnya adalah seorang pemeras dan kita akan diperas, kita tidak akan pernah mendatangi terlebih menyentuh lapak tempat ia berjualan.

Apa, yang menjadi alibi dari si pedagang? Si penjual mendalilkan, tanpa empati tentunya, "Sesekali bayar mahal!". Sesekali bayar mahal? Sesekali kamu jual murah dong! Oh, kamu sesekali memeras orang? Memeras dan buat jahat, kok pakai istilah sesekali? Kamu coba saja sendiri sesekali masuk penjara atau sesekali ditipu seperti kamu menipu kami.

Namun, kita tidak perlu membuang waktu berdebat dengan pedagang jahat yang pastinya "mau menang sendiri". Cukup kita tidak datang lagi ke penjual semacam itu, dan itulah cara kita memberikan "punishment". Si penjual yang ber-IQ dangkal, berpikir bahwa memeras konsumen adalah menguntungkan. Mereka keliru, penjual semacam ini menyia-nyiakan potensi pelanggan tetap yang bisa membuat dagangannya laris setiap tahunnya.

Lihatlah, banyak contoh kasus lainnya yang dapat kita jumpai sendiri di keseharian, IQ berkorelasi sejalan terhadap EQ. Orang-orang dengan IQ rendah, cenderung secara linear memiliki tingkat EQ yang sama rendahnya.

Berarti kamu ngaku dong, memeras orang dengan buat istilah "sesekali"? Sesekali buat jahat dengan memeras orang? Sesekali jual murah atau jual tanpa perlu bayar dong, ke konsumen! Jangan mau menang sendiri!

Contoh etika komunikasi yang tidak dilandasi IQ maupun EQ, seseorang diantara anggota keluarga kita memberikan curahan hati "curhat", betapa dirinya memiliki masalah dan bermasalah secara psikis. Seketika, kita mungkin akan tergoda untuk menanggapi, "Ah, tidak kok, tidak ada yang salah ataupun yang bermasalah dengan kamu. Kamu normal-normal saja." Sejatinya, tanggapan demikian ialah tanggapan yang tergolong hendak berkata secara implisit, "Saya tidak mau tahu, juga tidak mau direpotkan oleh masalah dan urusan psikologis-mu."

Apakah salah, menjawab pertanyaan, "Apakah kamu baik-baik saja?", dengan jawaban yang seolah dipaksakan untuk dijawab, "Ya, saya baik-baik saja", sekalipun bisa jadi kita tidak baik-baik saja. Kita tidak boleh memaksa seseorang untuk menjawah, "baik-baik saja" sebagaimana kita ingin mendengarnya sebagai respon atas pertanyaan kita saat bertanya kabar.

Sama seperti ketika seseorang merasa berhak untuk menyakiti, merugikan, ataupun melukai orang lain. Apa perlu, kita sampai berkata, "Mohon, jangan sakiti saya!", atau seperti "Terimakasih sudah berjualan secara jujur dan memberikan saya barang yang benar sesuai apa yang saya pesan dan bayarkan."

Seseorang yang memang bertanggung-jawab dan memiliki itikad baik, tidak perlu sampai ditagih janjinya untuk ditepati sebagaimana apa yang sebelumnya telah disepakati bersama. Sampai-sampai, seseorang pemberi hutang, yang menagih agar hutangnya dibayarkan oleh si pengutang, seakan-akan dirinya yang sampai harus mengemis-ngemis agar si berhutang melunasi dan membayarkan hutangnya sesuai apa yang telah diperjanjikan dan disepakati saat hutang-piutang itu diberikan.

Yang semestinya takut untuk berbuat kejahatan dengan merugikan ataupun menyakiti orang lain, adalah si pembuat kejahatan. Mengapa jadi sang korban, yang harus diputar-balik "logika moril"-nya, seolah-olah seorang korban yang lebih harus merasa takut menjadi korban kejahatan?

Sering pula terjadi, korban penganiayaan yang menjerit kesakitan dan marah ketika diperlakukan secara tidak patut oleh si pelaku penganiayaan, oleh masyarakat yang turut menyaksikan (sekadar menonton, tanpa menolong), justru sang korban diberi komentar sebagai "tidak sopan" atau "sudah gila".

Masyarakat Indonesia, sungguh memiliki etika komunikasi disamping "sense of justice" yang buruk, suatu cerminan adanya EQ yang dangkal. Mereka, lebih merasa berhak turut mem-bully korban, ketimbang mencela tindakan pelaku kejahatan yang telah menjahati sang korban. Sama artinya, sang penonton turut menjadi pelaku kejahatan pula, melukai perasaan sang korban.

Seperti yang dikatakan oleh Bapak Hery Shietra, tingkat IQ seseorang berpengaruh nyata terhadap korelasinya terhadap tingkat EQ maupun SQ seseorang. Makin dangkal IQ seseorang, maka kecenderungannya ialah semakin dangkal pula daya pemahaman disamping daya berpikir bijaksana, maupun EQ disamping SQ yang bersangkutan.

Adalah keliru asumsi di tengah masyarakat, yang menyatakan seolah-olah antara IQ dan EQ (maupun SQ) adalah saling terpisahkan tanpa korelasi apapun satu sama lain. Faktanya, sebagaimana dapat kita jumpai sendiri pada kehidupan kita sehari-hari, korelasinya cenderung linear, dalam artian level IQ seseorang mempengaruhi tinggi atau rendahnya EQ maupun SQ seseorang tersebut secara searah.

Etika komunikasi, bertumpu pada EQ, dimana tiada EQ yang memadai tanpa didukung oleh IQ yang memadai. Dengan kata lain, dasar pijakan dari etika komunikasi kembali lagi mengandalkan IQ seseorang untuk mempertimbangkan segala sesuatunya, sehingga dapat memiliki daya berpikir secara bijaksana, pemahaman yang baik, disamping penuh pertimbangan bagi lawan bicaranya.

Sebuah peribahasa Belanda berikut menjadi cerminan nyata, betapa terdapat korelasi nyata yang saling berkelindan antara IQ dan EQ, terkait daya komunikasi yang efektif serta penuh empati terhadap lawan bicara, sebagai cara untuk bersikap penuh respek terhadap seorang lawan bicara, ialah dengan daya berikut:

"Een goed verstaander heeft maar een half woord nodig." [Artinya, orang yang pandai memahami, (cukup) membutuhkan separuh perkataan. Jika masih belum jelas, tahu berbuat apa yang diharapkan dari dia.]

Tidak ada yang lebih meletihkan, ketimbang berbicara dengan orang-orang ber-IQ rendah ataupun yang kurang memadai tingkat intelijensinya, karena pemahaman serta pengertian mereka yang lemah. Dapat kita buktikan pada pengalaman hidup nyata di keseharian, orang-orang dengan tingkat IQ memprihatinkan, lebih cenderung membuat frustasi kita, serampangan, seenaknya, hingga sewenang-wenang, "tidak nyambung" ketika berbicara, minim pengertian, rendahnya sikap penuh pemahaman, disamping miskinnya kebijaksanaan maupun kedewasaan berpikir dan bertindak.

Etika komunikasi, merupakan sebuah keterampilan atau perpaduan antara IQ dan EQ, atau lebih tepatnya, IQ membentuk EQ, sebelum kemudian EQ menjadi bahan berpikir, memahami, dan berbicara secara arif serta bijaksana. Pilar penopang EQ dan SQ, ialah IQ itu sendiri.

Orang-orang dengan IQ rendah, cenderung minim pengetahuan, akibatnya ialah dangkalnya daya berpikir bijaksana yang mereka miliki ketika bertindak maupun berbicara kepada orang lain, seperti senantiasa mau menang sendiri, gegabah, seenaknya (tanpa memikirkan kondisi ataupun kepentingan orang lain), sembrono, kurangnya pertimbangan, tidak bertanggung jawab, pemahaman yang tumpul, menyepelekan dan meremehkan janji ataupun perkataan yang telah ia ucapkan, menyepelekan perasaan lawan bicara, bahkan menyepelekan rasa keadilan lawan bicara. 

Contoh etika komunikasi yang buruk lainnya, semisal "etika situasional" semacam konteks negara sedang dilanda pandemik akibat wabah virus menular mematikan antar manusia, seseorang bertamu atau berjumpa dengan kita, namun tanpa menerapkan "protokol kesehatan" seperti menjaga jarak dan memakai masker penutup hidung dan mulut secara patut dan layak sehingga membawa resiko bagi orang lain, tuan rumah, maupun lawan bicara.

Etika komunikasi yang buruk, ditandai oleh sikap "mau menang sendiri" dan "mau menang sendiri", semisal menuntut dihormati namun disaat bersamaan tidak mau menghargai dan menghormati hak atas kesehatan orang lain yang dijadikan lawan bicara atau ketika bertamu ke kediaman milik seorang tuan rumah

Sang tamu, tidak mengenakan masker saat bertamu, dimana anehnya sang tuan rumah yang justru harus terpaksa direpotkan mengenakan masker ketika diganggu waktunya dan untuk menghadapi keperluan sang tamu ketika bertamu. Sang tamu menuntut dihormati sebagai tamu yang bertamu, namun tidak ingin menghormati sang tuan rumah, seolah-olah yang berlaku justru ialah aturan main milik sang tamu bukan aturan main milik sang tuan rumah. Untuk itu, kita dapat memberikan tanggapan sebagai berikut:

"Saat ini keadaan sedang wabah oleh virus menular antar manusia. Bila Bapak hendak dihormati, maka hormati dahulu orang lain, dengan menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan mengenakan masker secara patut dan layak. Bapak mengajak berbicara tanpa memperhatikan protokol kesehatan, sekalipun Bapak tahu bahwa saat kini keadaan sedang wabah, apakah itu yang disebut sopan santun dan tata krama?
"Jika Bapak selaku TAMU ketika bertamu, tanpa menghargai hak atas kesehatan TUAN RUMAH, itu sama artinya tamu yang tidak memiliki tata-krama dan tidak bersopan-santun."

Jangan hanya kaerna merasa takut, kita justru memberikan "reward" kepada mereka yang bersikap tidak patut terhadap kita. Berikan "punishment" kepada mereka yang layak menerimanya. Jangan berikan "reward" kepada mereka yang lebih patut diberikan "punishment".

Contoh lain, baru-baru ini seseorang tamu tidak dikenal juga tidak diundang telah mengganggu waktu (menyita waktu orang lain, TIME IS MONEY!) dan kegiatan KWANG, dengan berkata dari balik pagar, "Permisi, itu pohon jambunya banyak buahnya." Terpaksa KWANG harus direpotkan oleh sikap sang tamu yang bertele-tele disamping tidak menghargai waktu KWANG dengan mengajak KWANG beramin teka-teki, seolah KWANG kurang kerjaan dan belum cukup terganggu.

Terpaksa KWANG yang harus menggali informasi dari sang tamu tidak diundang yang penuh tanda tanya serta teka teki, "Mau apa?"

Sang tamu berbelit-belit, "Itu jambunya banyak buahnya, pohonnya banyak buah jambunya."

KWANG habis kesabaran karena hari itu memang sudah sangat letih dari banyak kegiatan, tidak bersedia bermain teka-teki milik sang tamu dan untuk apa juga KWANG yang harus mengikuti aturan main sang tamu? "Mau Anda apa sih? Mau minta atau mau beli?"

Tanpa rasa malu, sang tamu menjawab, "Memangnya dijual itu buah jambunya?"

KWANG habis kesabaran, tidak mau buang energi, dan masuk ke dalam rumah tanpa lagi membiarkan waktu tersita. Bisa saja KWANG menegur sang tamu,

"Itu, buah di toko buah ada banyak buahnya, minta saja di sana. Itu, rumah makan banyak tersedia makanan, minta saja di sana. Kenapa ke sini ganggu kami? Memang kami ada tulis, ini buah dan pohonnya untuk disumbangkan ke panti sosial? Enak ya, tidak mau repot menanam, merawat, dan memupuk pohon, tidak mau repot membersihkan sampah daun yang berguguran setiap harinya, lalu mau enaknya sendiri? Masih punya malu tidak, meminta tanpa hak serta tanpa mau memberi, sehingga apa bedanya dengan pengemis? Pengemis apa sampai meminta-minta secara mengganggu waktu orang seperti ini?"

Etika komunikasi yang baik, dilandasi oleh sikap keadilan serta kesetimpalan yang bernama asas resiprositas atau resiprokal, yakni sikap bertimbal-balik meminta dan memberi.  Meminta buah dari seorang warga, maka harus mau juga repot, yakni repot mencari uang untuk membayar sebagai harga kompensasi bagi sang pemilik rumah yang diminta buah dari pohon miliknya. Saling respek dan saling menghargai satu sama lain, itulah relasi yang sehat dan meritokrasi.

Sangat tidak etis meminta sseuatu tanpa bertimbal-balik dari orang lain. Bila orang tersebut telah kita tawarkan sejumlah harga pembelian untuk menebus buah dari pohon miliknya untuk kita beli, namun sang tuan rumah menolak dan menawarkan agar diberikan secara cuma-cuma bagi kita, maka itu persoalan lain. Namun, tetap sangat tidak etis bila sifatnya ialah belum apa-apa sudah meminta tanpa mau memberikan timbal-balik berupa komensasi ataupun imbalan kepada pihak-pihak yang kita ambil sesuatu miliknya.

Pengalaman hidup telah mengajarkan KWANG, untuk tidak memberikan kebaikan hati kepada sembarangan orang. Pernah KWANG setiap kali berjumpa dengan seorang wanita pemulung yang memiliki kaki buntung, sehingga berjalan dengan bantuan tongkat, maka seketika itu juga KWANG karena rasa iba hati, memberikan sejumlah dana dengan nilai cukup besar. Demikian terus terjadi, ketika berjumpa dengannya di jalan. Dikemudian hari, barulah KWANG mengetahui, wanita pemulung berkaki buntung tersebut dahulu saat Indonesia mengalami tragedi penjarahan massal saat krisis moneter 1998, adalah salah satu penjarah yang menjarahi rumah warga. Bayangkan, wanita berkaki buntung, mampu mengangkat lemari besar seorang diri saat menjarah.

Pernah juga suatu hari, orang yang baru KWANG kenal mengaku sedang sakit dan butuh biaya untuk berobat. Seketika itu juga KWANG berikan ia dana sejumlah setara satu minggu KWANG bekerja. Masak, orang sakit berbohong atas kondisinya, demikian KWANG yang begitu polosnya ber-postive thinking. Namun apa yang kemudian KWANG dapati ialah fakta mengejutkan, bahwa dana tersebut olehnya digunakan untuk membeli obat-obatan terlarang. Itulah yang ia sebut sebagai "butuh dana untuk berobat"?!

Pernah juga terjadi, di atas jembatan penyeberangan orang, karena iba, KWANG memberikan donasi uang setara dua kali KWANG makan siang, kepada seseorang pengemis yang "kakinya buntung". Beberapa waktu kemudian, pada suatu sore, di tempat yang sama, ketika KWANG hendak berangkat pulang, si pengemis "kaki buntung" bisa bangkit berdiri dari tempatnya mengemis sehari-hari, dengan dua kaki yang UTUH! Artinya, selama ini ia menipu warga, menimba belas kasihan dengan menekuk satu kakinya ke belakang sehingga seolah kakinya buntung. Beberapa waktu lampau pun tersiar kabar, seorang pengemis di Kota Bogor, saat ditertibkan aparat ternyata memiliki bisnis sebagai juragan mikrolet, memiliki mobil dan rumah mewah, serta memiliki dua istri!

Perhatikan betul bibit, bebet, dan bobot orang yang meminta bantuan dari kita, atau sebelum kita memberikan kebaikan hati terhadap seseorang. Yang terlebih sering terjadi ialah, seseorang menyalah-gunakan istilah "pinjam", mengakunya "meminjam uang", namun ternyata sama sekali tidak dikembalikan.

Contoh lain etika komunikasi yang buruk, ialah dua orang berjalan kaki saling bersisian di jalan umum ataupun di atas jembatan penyeberangan orang,  sembari mengobrol dengan asyik satu sama lain dan berjalan dengan lamban, akibatnya pejalan kaki di belakang mereka sukar untuk bisa berjalan melewati mereka dan terhambat di belakang mereka. Tidak ada yang melarang mereka untuk mengobrol, namun mengapa mengobrol di tempat yang tidak semestinya dengan merampas hak pejalan kaki lainnya?

Sebenarnya banyak sekali contoh-contoh etika komunikasi yang buruk dapat kita jumpai di keseharian. Salah satu contoh lainnya meski bukan yang paling akhir, ialah ketika terdapat orang asing datang ke negeri kita, Indonesia, ketika perbuatannya yang kurang patut menurut etika sopan santun Ketimuran, lantas si orang asing menanggapi secara seenaknya atas teguran kita, "I do not kwnow what you are talking about!"

Lantas, apakah kita selaku tuan di negeri sendiri yang harus mengalah dan memakai bahasa asing (bahasa mereka) ketika menegur mereka? Jangan bersikap seolah-olah ini bukanlah Negeri Indonesia. Mereka, para orang asing, yang tidak dapat menaruh respek terhadap Bahasa Indonesia ketika bertamu ke Indonesia, adalah bentuk ketidak-sopanan itu sendiri.

Sampai jumpa pada artikel lain di kesempatan lainnya. Tuliskan pendapatmu di kolom komentar bila Sobat memiliki cerita-cerita menarik lainnya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments