Jadilah Orang Baik, Namun Tanpa Perlu Membuktikannya kepada Dunia

By PUBLISHER - June 21, 2021

Menjadi orang baik, cukup buktikan kepada diri kita sendiri, serta untuk diakui oleh diri kita sendiri.

Terdapat sebuah pepatah tentang menjadi orang baik, yang aslinya dalam Bahasa Inggris, berbunyi:

Be a good person, but no need to prove it to the world!”; maupun seperti

Be a good person, but don't waste time to prove it.”;

"You can be a good person with a kind heart and still say 'NO'.";

"Never explain yourself to anyone. Because the person who likes you doesn't need it, and the person who dislikes you won't believe it.";

"I keep moving ahead, as always, knowing deep down inside that I am a good person and that I am worthy of a good life.", disamping

“Prove yourself to yourself, not other.”

Menjadi orang baik, cukup buktikan kepada diri kita sendiri, serta untuk diakui oleh diri kita sendiri. "Loving yourself isn't vanity, it's sanity", oleh Katrina Mayer (Mencintai diri sendiri bukanlah sebuah keegoisan, tetapi sebuah kewarasan). "If someone takes responsibility without force, that is love". oleh Radhanath Swami. (Jika seseorang mengambil tanggung jawab tanpa paksaan, itulah cinta)

Tema kita pada kesempatan kali ini, ialah “Kiat menjadi Orang Baik yang Baik dan Benar”; sehingga, niat baik saja belumlah cukup. Perbuatan bajik artinya, baik plus benar, itulah kebijaksanaan.

Segala sesuatu yang sifatnya “melimpah”, kurang dihargai orang. Sama halnya, curahan kebaikan hati secara “melimpah” yang kita berikan kepada orang lain, siapapun itu, maka kebaikan hati kita akan cenderung dan seringkali kurang dihargai—jika tidak “sama sekali tidak dihargai”. Bisa saja terjadi, kebaikan hati seorang anak terhadap seorang “orangtua yang egoistik”, menjelma bumerang bagi diri sang anak itu sendiri.

Untuk menjadi orang baik, memiliki sikap dan sifat yang baik saja belumlah cukup. Kita perlu belajar untuk menjadi orang baik yang “baik dan benar”. Untuk menjadi orang jahat, kita tidak perlu belajar, sebagaimana air secara alamiahnya mengalir ke arah bawah, bukan ke atas. Namun, untuk menjadi orang baik, kita perlu belajar, terutama menjadi orang baik yang “baik dan benar”.

Kita perlu secara arif dan bijaksana melakukan seleksi kepada siapakah kebaikan hati kita akan diberikan, bukan semata karena ia adalah orangtua kita, saudara kita, kekasih kita, anak kita, dsb. Sebagai contoh, memberikan uang kepada seorang penipu, maka itu sama artinya kebodohan, bukan kebaikan. Karena itulah, penting untuk mencermati bibit, bebet, serta bobot pihak-pihak yang hendak kita berikan kebaikan. Menabur bibit di ladang yang gersang, adalah kesia-siaan, bukan kebaikan. Petani yang baik, memahami betul ladang yang ia hadapi, sebaik apapun bibit yang ia miliki untuk disemaikan.

Kita tidak dapat dibenarkan untuk berbaik sangka serta bersikap sebagai “the good guy” kepada siapapun yang kita jumpai, karena ini adalah dunia manusia yang tidak serba ideal, bukan dunia dewata alam surga yang isinya dihuni para makhluk-makhluk suci dan baik yang serba ideal. Belum tentu orang lain saling beritikad baik terhadap kita, sekalipun kita berikan kepercayaan dan kebaikan hati. Pepatah mengingatkan kita, ada orang di luar sana atau bahkan di dalam rumah kita yang senantiasa “membalas air susu dengan air tuba”.

Niat boleh saja baik, namun bila caranya keliru, tetap saja keliru, baik keliru bagi diri kita maupun bagi diri orang lain. Karena itulah, pastikan kebaikan hati kita tidak mencelakai diri sendiri maupun orang lain. Sebagai contoh, atas nama belas kasihan, kita membantu sebuah calon kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Akhirnya, si kupu-kupu keluar, namun akan gagal untuk bertahan hidup pada menit berikutnya. Orangtua dapat mencelakai anak dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah sang anak, alih-alih membimbing dan memberi arahan. Berbuat baik dan menjadi orang baik, sungguh dibutuhkan kecerdasan.

Menjadi cerdas, merupakan standar paling minimum dari orang-orang yang hendak menjadi orang baik dan berbuat kebaikan. Tidak ada orang bijaksana yang tidak cerdas. Cerdas plus baik, itulah kebijaksanaan. Menjadi cerdas, dalam rangka menjadi orang baik. Atau bisa juga kita putar prosesnya, menjadi orang baik dalam rangka mencerdaskan diri. Apapun pilihan kita, antara kecerdasan dan kebaikan hati, tidak pernah dapat dipisahkan, namun harus senantiasa berpasangan serta saling komplomenter dalam artian saling melengkapi satu sama lainnya sebagai faktor pendukung bagi kebijaksanaan.

Untuk dapat menjadi orang baik, tentunya dilandasi oleh perbuatan-perbuatan baik. Untuk itu, kita perlu terlebih dahulu membuat pengertian yang benar mengenai apa itu “perbuatan baik”. Kita dapat merujuk pada definisi yang diperkenalkan Sang Buddha berikut : “Perbuatan baik artinya, tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri kita sendiri, disamping tanpa perlu menjelekkan diri kita sendiri.”

Sementara itu, keberanian adalah sumber kecerdasan. Untuk itulah, pelengkap dari sifat baik, harus dibarengi dengan sikap dan sifat berani (pemberani). Seseorang disebut sebagai “bodoh”, karena diri mereka melakukan “kebaikan” dilandasi keterpaksaan, tiada pilihan lain. Sebaliknya, orang cerdas merasa bahwa berbuat kebaikan merupakan perbuatan yang layak untuk ditempuh sebagai opsi, sehingga landasannya ialah kerelaan hati.

Pankit Shah membuat uraian yang cukup relevan dalam Quora (dikutip dari https:// id.quora .com/Mengapa-orang-baik-selalu-ketipu), dengan riancian yang menarik untuk disimak sebagai berikut:

Why do people take advantage of good and kind people?

Because they lack a spine. The kind of people who can’t raise voice against anything wrong happening.

- You constantly feel that you’re being taken for a ride by your boss, friends, girlfriend / boyfriend, and basically most of the people in your life. Is it their fault or yours? The answer is—yours. There are some reasons why people take you for granted.

- You are non-confrontational. You hate conflict. They know you will never address an issue even if it bothers you.

- You cannot refuse people. You just cannot say “No”. It kills you to decline requests. They know they can keep asking you for undue favours and you will always oblige.

- You’re usually the one with no opinion. If you’re always ‘okay’ with any plan, if you rarely voice your wishes or dislikes, it is understandable why people take you for granted.

- You are always seeking approval for your actions. You send out a message that you cannot function without people’s opinions and that’s exactly when people start to feel that they can control you.

- You’re indecisive. You can never make up your mind about anything. And the moment you show the world you don’t know what you want, they start taking you for a ride.

- You’re never the one to raise his voice against things you don’t approve of. People know you’re too shy (read : “too scared”) to stand up even for yourself and that gives them the liberty to wrong you every time. If you don’t raise your voice against being taken for granted once, it will happen again. Always.

- You give people too much importance too soon. You go out of your way to help them when they don’t even need it; you give away exclusivity at the drop of a hat.

- You’re always trying to please people and truth be told, nobody respects a people pleaser. Even when someone does take you for granted, you let it pass instead of putting your foot down and talking about it because you always want to be in everybody’s good books. Stop fearing disapproval.

- You have low self-confidence. It looks like you’re keeping shut about it because you’re not sure about it. 

- You’re too easy a person. While it is a great trait to be adjusting, you make yourself look like a doormat. Know how to be adjusting and yet firm. 

Give importance to yourself. Appreciate your existence. Appreciate your identity. If you don’t give importance to yourself, how can you expect others to do so? And the most important thing here is—Learn to say “No”. 

[Terjemahan bebas : Mengapa orang baik sering dimanfaatkan?]

- Karena engkau tidak memiliki keberanian. Anda adalah orang-orang yang tidak bisa “bersuara” saat berhadapan dengan perbuatan salah orang lain terhadap mereka, apa pun yang terjadi. Terobsesi menjadi “the good guy” atau “menyenangkan semua orang”, sebagai akar kebaikan yang menjelma bumerang bagi diri Anda sendiri.

- Kau terus-menerus merasa bahwa kau dimanfaatkan oleh bos, teman, pacar / pacar Anda, dan pada dasarnya sebagian besar orang dalam hidup Anda. Apakah itu kesalahan mereka atau kesalahan dirimu sendiri? Jawabannya adalah, dirimu sendiri. Ada beberapa alasan mengapa orang menganggapmu hanya tahu memberi tak mengharap pamrih.

- Kau tidak berani mengatakan langsung, kalau kau benci konflik, mereka tahu betul kau akan membiarkan orang melakukan sesuatu bahkan jika itu menganggumu, dan mereka memanfaatkannya sebagai yang dapat mereka eksploitasi darimu yang tampaknya “dengan senang hati membantu dan menolong”.

- Kau tidak bisa menolak orang, kau tidak bisa mengatakan tidak. sehingga orang akan terus meminta bantuanmu dan tahu kau akan selalu menurutinya.

- Kau biasanya tidak berpendapat, dan akan cenderung untuk berpendapat “oke” terhadap rencana apa pun. Jika Anda jarang menyuarakan keinginan atau ketidaksukaanmu, dapat dimengerti mengapa orang menganggapmu sesuai yang mereka mau dan dapat diperalat.

- Kau selalu meminta persetujuan untuk tindakanmu. Kau mengirim pesan bahwa kau tidak dapat mengambil sikap secara mandiri tanpa bergantung pada opini orang lain dan saat itulah orang-orang mulai merasa bahwa mereka dapat mengendalikanmu untuk dimanfaatkan.

- Kau selalu ragu-ragu. Kau tidak pernah bisa memutuskan apa pun. Dan saat kau menunjukkan kepada dunia bahwa kau tidak tahu apa yang kau inginkan, mereka mulai mengajakmu untuk melakukan apa yang mereka mau sesuai kepentingan pribadi mereka.

- Kau tidak pernah bersuara menentang hal-hal yang tidak kau setujui. Orang-orang tahu kau terlalu malu (baca : “terlampau penakut") untuk berdiri mengambil sikap otonom bahkan untuk menyuarakan opini dirimu sendiri dan itu memberi mereka kebebasan untuk menyalahkanmu setiap saat. Jika kau tidak meninggikan suaramu untuk menyatakan penolakan ataupun rasa tidak suka sebagai bentuk ketidak-setujuan, itu akan terulang kembali. Selalu. 

- Kau memberi orang terlalu banyak saran. Kau membantu mereka yang bahkan mereka tidak membutuhkannya; kau berlebihan menanggapi sesuatu.

- Kau selalu berusaha untuk menyenangkan orang dan dan kau malah memberitahukan sesuatu yang membuatmu senang, tidak ada yang ingin melihat orang bahagia selalu ada rasa iri di balik semua itu. Kau membiarkannya berlalu alih-alih meletakkan kakimu dan membicarakannya karena kau selalu ingin terlihat bagus di mata semua orang. Berhentilah takut akan ketidak-senangan orang lain.

- Kau memiliki kepercayaan diri yang rendah, sehingga kau selalu diam karena tidak yakin akan sesuatu.

- Kau orang yang simpel. Meskipun merupakan sifat yang baik untuk menyesuaikan diri, kau membuat dirimu terkesan menyerupai kain “keset” untuk diinjak-injak dan pembersih kaki kotor mereka (suatu cara melecehkan diri yang tidak cerdas). Ketahui cara atau seni untuk dapat menyesuaikan diri tanpa perlu melecehkan diri, namun tetap tegar. 

Hargai kepentinganmu sendiri. Hargai keberadaanmu. Hargai identitasmu. Jika kau gagal untuk turut mementingkan diri sendiri, bagaimana kau bisa mengharapkan orang lain menghargai eksistensi dirimu? Dan yang paling penting di sini adalah — Belajarlah untuk mengatakan “Tidak”.

Apa yang menjadi penyebab, seseorang mudah dimanfaatkan (diperalat serta dieksploitasi) oleh orang lain? Eka ami, sebagaimana dikutip dari https:// www. idntimes .com/life/inspiration/eka-amira/mudah-dimanfaatkan-c1c2/5, menuturkan sebagai berikut:

Bisa jadi kamu terlalu baik nih.

Sedih rasanya jika menyadari bahwa orang yang selama ini kita anggap sebagai teman ternyata justru hanya memanfaatkan diri kita dan tidak benar-benar tulus ingin menjadi teman sejati. Saat sadar bahwa selama ini kamu hanya dimanfaatkan, pastinya kamu ingin tahu apa yang membuat kamu mudah dimanfaatkan orang-orang dan berusaha agar tidak menjadi individu yang mudah dimanfaatkan.

Nah, berikut ini beberapa hal yang bisa jadi membuat kamu mudah dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarmu.

1. Kamu adalah pendengar yang baik, namun juru bicara bagi kepentingan diri sendiri yang buruk.

Disadari atau tidak, terkadang menemukan orang yang mampu mendengar keluh kesah orang lain dengan tulus adalah hal yang sulit. Nah, jika kamu adalah tipikal orang yang senang mendengarkan secara aktif dan mudah berempati, kamu mungkin tanpa sadar kerap menjadi sasaran orang-orang “beracun” yang suka mengambil keuntungan dari orang lain.

Orang-orang tersebut akan selalu mencarimu ketika mereka ingin curhat karena paham bahwa kamu adalah pendengar yang baik. Sayangnya, saat kamu butuh didengar, belum tentu orang-orang ini ada untukmu.

2. Kamu terlalu murah hati, bahkan tanpa menetapkan limit / batasan. 

Murah hati adalah karakter yang akan membuatmu disukai banyak orang. Tapi waspadalah, orang-orang “beracun” juga bisa tertarik padamu karena terlalu murah hati. Ada gula, ada semut.

Mereka akan terus mendekatimu karena kamu rela memberikan apa pun pada orang lain, mulai dari waktu, bantuan, perhatian, hingga materi. Bahkan mungkin mereka akan secara terang-terangan menuntut kamu melakukan ini dan itu hingga kamu merasa terganggu.

3. Kamu adalah orang yang easygoing, tidak perhitungan dan tidak mempermasalahkan. 

Mayoritas orang suka berada di sekitar orang yang easygoing atau mudah bergaul. Sebab, orang yang mudah bergaul umumnya mampu beradaptasi di situasi apa pun dan membuat orang lain nyaman bahkan terhibur. Orang yang easygoing juga cenderung tidak agresif, sabar, dan baik hati.

Sayangnya, sifat-sifat tersebut tidak hanya membuat kamu dikelilingi banyak sahabat tapi juga mengundang orang-orang yang ingin memanfaatkanmu. Mereka mungkin akan menjadikanmu “sasaran empuk” untuk dikendalikan demi kepentingan pribadi mereka semata.

4. Kamu tetap mempertahankan persahabatan dengan orang-orang “beracun”, sekalipun kamu tahu mereka “racun”. 

Toleransi adalah karakter yang baik karena dapat membuatmu berteman dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan selalu memandang positif orang lain. Saking positifnya, terkadang saat kamu mendapati sisi negatif dari orang lain kamu tetap berusaha untuk menganggap wajar sikap tersebut dan menerimanya. Bahkan kamu tetap mempertahankan persahabatan dengan orang-orang tersebut.

Kalau seperti itu, jangan heran jika kamu terus didekati orang yang ingin memanfaatkanmu. Sebab mereka tahu, tak peduli seperti apa sikap mereka padamu, kamu tetap akan berbuat baik pada mereka.

5. Kamu selalu meminta maaf untuk setiap hal. 

Mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah perbuatan yang mulia, akan tetapi tidak demikian jika kamu terus menerus meminta maaf. Sebab, melansir dari laman The Ladders, terlalu banyak meminta maaf justru menunjukkan kegelisahan atau kecemasanmu akan suatu hal. Jadi, jika kamu selalu meminta maaf hanya untuk 'menjaga kedamaian', maka hal ini hanya akan membuat orang-orang tidak menghormatimu. Untuk itu, berhentilah meminta maaf, kecuali memang diperlukan.

Tidak masalah jika kamu ingin menjadi individu yang bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Akan tetapi, jauh lebih baik jika kebaikanmu tersebut membuatmu dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan memerhatikan kepentinganmu, bukannya orang-orang yang semata hanya ingin mengambil keuntungan dari diri kamu. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita mulai berhati-hati dan belajar untuk bersikap lebih tegas terhadap orang-orang yang berpotensi atau berniat memanfaatkanmu.

Lantas, bagaimana caranya menjadi seseorang yang tidak mudah dimanfaatkan oleh orang lain? Afifah Hanim dalam https:// www. idntimes .com/life/inspiration/afifah-hanim/cara-menjadi-pribadi-yang-gak-mudah-dimanfaatkan-c1c2/5, menuliskan sebagia berikut:

Hidup itu untuk kamu, bukan untuk orang lain.

Kita semua sejak kecil pasti diajari tentang harusnya menjadi anak yang baik, dan selalu ditanamkan agar melakukan hal-hal baik untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik hati ketika dewasa. Akan tetapi tak semua orang menyikapi hal itu dengan tulus, sebagian orang justru memanfaatkan kebaikan orang lain. Mereka menuntut kita untuk menjadi orang baik, namun mereka menerapkan “standar ganda” dengan tidak bersikap sebagai orang baik terhadap kita—salah satu teknik manipulasi pikiran.

1. Belajarlah untuk mengatakan “Tidak!”.

Cara pertama yang bisa kita lakukan agar tidak mudah dimanfaatkan orang lain adalah belajar untuk mengatakan secara tegas, “Tidak”. Jangan selalu mengiyakan (mengumbar jawaban "Iya") atas segala ucapan dan permintaan orang lain. Sebagai alternatifnya, cobalah belajar untuk menolak, sehingga mereka tahu bahwa kita tidak bisa mereka kendalikan sesuka hati.

2. Jangan selalu mengikuti kemauan orang lain.

Tidak perlu pula selalu mengikuti kemauan orang. Masing-masing dari kita semua punya hidup dan kesulitan masing-masing, karenanya jangan biarkan mereka mengaturmu semata untuk untuk kepentingan meringankan beban mereka pribadi. Menjadi orang baik boleh saja, tapi bukan berarti membiarkan orang lain menjadi beban kita, terlebih membiarkan orang lain menginjak-injak kepala kita.

3. Bersikap tegas dan punya pendirian.

Hidupmu bukan untuk mereka, jadi jangan mau dikendalikan, bahkan hingga dimanfaatkan. Jika kita mampu bersikap tegas, maka mereka pun juga tidak akan berani serampangan memanfaatkan kebaikanmu.

4. Tidaklah perlu sering mengalah, terlebih membebani diri dengan “kewajiban ilusioner” yang tidak adil bagi diri sendiri.

Penting untuk kita pahami, bahwa kita tidak perlu sering mengalah. Sesekali mengalah, mungkin baik saja adanya, akan tetapi jika selalu mengalah, akibatnya kita akan terlihat lemah dan tidak punya harga diri di mata orang lain, yang pada gilirannya membuat orang lain berpikir bahwa kita bisa dimanfaatkan serta tidak akan keberatan.

5. Berhenti memprioritas orang lain.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang tidak mudah dimanfaatkan orang lain, maka berhentilah untuk memprioritaskan orang lain melebihi diri kita sendiri. Utamakan dirimu dahulu baru orang lain, jangan mau menderita agar membuat orang lain senang. Karena selain dirimu jadi mudah dimanfaatkan, sikap ini pun menunjukkan bahwa kamu tidak cukup menghargai diri sendiri.

Fajar Laksmita, dalam https:// www. idntimes .com/life/inspiration/fajar-laksmita/8-tanda-kamu-kelewat-baik-hingga-mudah-dimanfaatkan-orang-lain-c12/8, memberikan rincian tanda bahwa kita kelewat baik hingga mudah dimanfaatkan orang lain, dalam rincian sebagai berikut:

Kamu termasuk orang yang punya hati “tidak tegaan”.

Beberapa orang memiliki kecenderungan menjadi orang yang mudah menolong, sedangkan yang lain tidak demikian. Mereka ada yang seringkali memanfaatkan kebaikan hati orang baik, demi kepentingan pribadi. Itulah sebabnya, tidak selamanya dikenal dan terkenal sebagai orang baik, selalu berkonotasi positif, semata karena dapat mengundang niat buruk banyak orang-orang yang tidak bertanggung-jawab di luar sana.

Tidak ada yang salah, ketika seseorang ingin menjadi orang baik yang bisa diandalkan. Bahkan pelajaran budi-pekerti mengajarkan peserta didik untuk selalu berperilaku baik terhadap orang lain. Namun apa jadinya jika seseorang terlalu baik hingga mudah dimanfaatkan orang lain? Bagaimana dampak bagi diri kita bila bersikap seperti ini?

Berikut tanda-tanda yang mencirikan seseorang sebagai orang yang mudah diakali, kita bisa jadi tidak sadar atau mungkin sebenarnya sadar tapi susah mengubah kebiasaan tersebut.

1. Seringkali mengalah. 

Saat mengantri dan ada orang yang menyerobot, kamu seakan terpaku dan malah mempersilahkan orang tersebut. Kamu orang yang selalu mengalah dan kurang memiliki sifat kompetitif dalam bekerja serta tidak terlatih untuk memperjuangkan martabat diri sendiri. Sifat mengalah yang kamu miliki akan menjadikanmu jarang sekali menang dalam suatu kompetisi, karena orang lain yang justru Anda prioritaskan kepentingannya.

2. Kamu memprioritaskan orang lain daripada diri sendiri. 

Menurut asumsi kamu, kebahagiaan orang yang kamu sayangi itu di atas segalanya. Akibatnya, kamu nggak mau memperlihatkan kesedihan dan selalu berusaha yang terbaik untuk mereka. Jika menginginkan suatu hal, kamu akan membandingkan apakah orang lain juga sudah mendapatkan apa yang kamu peroleh. Kamu mudah berbagi dan punya prinsip selalu mendahulukan orang lain.

3. Kamu termasuk orang yang “tidak tega hati”, meski urusan orang lain bukanlah urusan kita.

Kamu termasuk orang sensitif yang mudah sekali merasakan apa yang orang lain rasakan, empati secara berlebihan. Kamu tidak ingin melihat orang lain sakit ataupun menderita. Jika ada salah satu teman yang sakit, kamu adalah orang pertama yang mengajak teman lain untuk menjenguk.

4. Kamu sendiri bahkan kadang berpikir bahwa kamu itu “bodoh”, karena selalu menyanggupi permintaan tolong oleh orang lain bahkan ketika sebenarnya kamu ingin menolaknya.

Kamu punya pandangan yang kelewat naif, bahwa setiap perbuatan baik ataupun buruk pasti punya buah manisnya. Kamu tak segan untuk selalu memberikan uluran tangan terhadap teman yang kesusahan bahkan ketika kamu sendiri sedang terbelit kesukaran hidup. Menurut benakmu, perbuatan baik juga suatu saat nanti akan kembali padamu, maka sudah seharusnya kamu tidak menolak saat dimintai tolong meski sebenarnya kamu keberatan.

5. Kamu kesulitan untuk mengutarakan isi hati. 

Menjadi orang baik memang terkadang sulit mengutarakan isi hati. Kamu termasuk orang yang tidak ingin membuat orang lain kecewa. Hal itu yang membuat orang lain tidak tahu bagaimana emosi yang sedang kamu rasakan. Meski akan lelah sendiri, tapi entah kenapa kamu selalu ingin menutupi emosi kamu yang sebenarnya.

6. Terkadang kamu berpikir untuk ingin jadi orang jahat saja.

Selalu memprioritaskan orang lain di atas kepentingan pribadi membuatmu sangat lelah dan letih akut. Kamu seringkali membayangkan bagaimana seandainya kamu menjadi orang jahat yang egois dan tidak memperdulikan orang? Bagaimana jika seandainya kamu bisa marah ketika sedang ditindas? Kamu membayangkan, betapa indahnya bila orang lain bisa tahu betapa kamu sedang menderita karena selalu menutupi emosi yang kamu rasakan selama ini dan memendamnya seorang diri ataupun disaat melakukan banyak pengorbanan diri namun masih juga dikecewakan dan tidak dihargai.

7. Meski bisa membedakan orang yang tulus dan tidak, tapi kamu tetap saja mengiyakan setiap mereka ingin diberi bantuan.

Dalam sudut pandangmu, semua orang itu sama. Mereka memiliki sisi buruk dan baik masing-masing, meski begitu kamu tidak pandai menolak saat orang yang punya kepribadian tidak tulus sedang minta bantuan alias hanya ingin memanfaatkan kebaikan hati kamu. Bukan karena kamu tidak mau bilang “tidak”, tapi karena kamu merasa tidak sanggup untuk mengutarakannya. Hal seperti itu merupakan kebalikan dari nilai yang kamu yakini. 

8. Kamu seringkali tidak jujur terhadap perasaan dirimu sendiri, cenderung tidak adil terhadap diri sendiri.

Kamu kerap berbohong perihal perasaan yang kamu alami terhadap orang lain. Sedang dalam keadaan sakit atau hati yang remuk, tetap saja kamu bilang “baik-baik saja”, “tidak ada apa-apa”, dan dalam keadaan sehat-sehat saja. Kamu menutupi segala kesedihan dalam diri, hanya karena ingin terlihat kuat dan membuat orang lain senang, meski sebenarnya tidak begitu adanya.

Perilaku semacam itu sebenarnya tergolong “menyiksa diri sendiri", akan tetapi kamu juga punya prinsip bahwa kamu orang mandiri yang harus bisa menyelesaikan masalah yang kamu alami—alias menyepelekan perasaan derita yang dialami oleh diri sendiri. Pada gilirannya, bila ternyata gagal ditangani, akan muncul rasa benci terhadap diri kita sendiri sebagai bahaya dibalik sikap memungkiri perasaan diri sendiri ini.

Menjadi orang baik bukannya harus selalu memprioritaskan orang lain, apalagi untuk orang yang tidak tulus dan hanya memanfaatkan kebaikan hati kita. Berbuat baik kepada diri kita sendiri, juga tergolong baik. Kita harus belajar untuk berperilaku asertif, sehingga lebih peduli terhadap diri sendiri. Kita perlu belajar untuk mulai serta lebih mampu untuk menyayangi diri sendiri.

Orang baik, punya asumsi berikut yang menguasai benak dan pikirannya : Bila kita tidak menganggu juga tidak merugikan orang lain, tidak juga menyakiti pihak siapapun, maka orang lain pun (diharapkan) tidak akan menyakiti, merugikan, ataupun mengganggu diri kita. Faktanya, orang-orang baik kerap dan seringkali dikecewakan oleh pola pikirnya demikian. Dunia manusia tidak berjalan seideal pola pikir orang-orang baik.

Orang yang terlalu baik, kadang dimanfaatkan. Apakah ada solusi atau tips, agar kebaikan kita lebih dihargai bukan disalah-gunakan? Dilansir Intisari-online sebagaimana dikutip dari https:// intisari .grid .id/read/0398961/orang-yang-terlalu-baik-kadang-dimanfaatkan-begini-caranya-agar-kebaikan-kita-lebih-dihargai-bukan-disalahgunakan?page=all, dengan rincian sebagai berikut:

Terlalu baik sah-sah saja, tapi...

Ada orang baik yang dihargai dan dihormati. Namun ada juga orang baik, yang malangnya, justru dimanfaatkan kebaikannya secara “abuse”, disalah-gunakan. Pelaku penyalah-guna kebaikan hati seseorang, bisa siapa saja latar-belakang pelakunya, bahkan orang terdekat dari kita sendiri seperti orangtua yang semestinya penuh kasih, guru yang kita percayai, kekasih, dsb.

Bagaimana membedakannya?

Mula-mula mari jawab pertanyaan ini:

1. Apakah Anda merasa sulit berkata “tidak” pada permintaan orang lain, bahkan ketika permintaan itu sulit Anda penuhi?

2. Apakah Anda sering merasa diri Anda kurang dihargai, sekalipun sudah berbuat kebaikan bahkan banyak melakukan pengorbanan diri?

3. Apakah Anda dimanfaatkan, dalam pekerjaan bahkan dalam hubungan personal maupun hubungan keluarga?

4. Apakah Anda sering memaklumi apa yang dikatakan dan diinginkan orang lain, sekalipun dalam hati Anda tidak setuju?

5. Apakah kebaikan dan kerelaan hati Anda sering tidak bisa Anda batasi, bahkan seringkali mengabaikan kepentingan diri sendiri ditengah derasnya kebaikan hati kita bagi orang lain?

6. Apakah Anda takut ditolak, jika Anda tidak menyanggupi permintaan orang lain?

7. Apakah Anda selalu mendahulukan kepentingan orang lain, dibanding kepentingan diri sendiri?

Jika Anda menjawab “ya” untuk sebagian atau bahkan sebagian besar dari pertanyaan di atas, kemungkinan besar Anda adalah orang terlalu baik. Yang namanya “terlampau”, kurang ideal sifatnya. Cobalah bersikap “moderat”, dengan menyisakan ruang kebaikan bagi serta untuk diri kita sendiri.

Tentu saja tidak ada yang salah menjadi orang yang baik, malah sangat disarankan. Namun, jangan sampai kebaikan hati kita malah dimanfaatkan orang-orang yang tidak punya hati, yang hanya tahu mengambil keuntungan dari kita tanpa bersedia memberi sesuatu kebaikan bagi kita.

Menurut “Psychologytoday .com”, kebaikan itu harus dihargai dengan hormat dan tulus. Sehingga, ketika Anda melakukan kebaikan karena “takut” atau sekadar karena ingin menyenangkan orang lain, itu bukan kebaikan nan tulus namanya.

Terlalu baik, sah-sah saja, tapi... ada tapinya!

Agar kita dapat terus berbuat baik tanpa motivasi yang salah, dan pastinya, tidak dimanfaatkan oleh orang yang kita tolong tadi, berikut kiatnya:

1. Melatih diri untuk menghargai diri sendiri terlebih dahulu sebelum memerhatikan kepentingan orang lain.

Kita tidak harus menyenangkan semua orang dalam hidup kita. Tiada yang dapat membuat kita lebih gagal dalam hidup, daripada terobsesi untuk menyenangkan dan memuaskan semua orang. Ingatlah, berbuat baik itu akan membuat kita semakin bahagia, bukan untuk semakin dimanfaatkan.

2. Ubah perilaku “terlalu baik” menjadi “kebaikan yang tulus tanpa pamrih, namun juga tanpa berlebihan”. Baiklah, sesuai takarannya.

Kita perlu terlebih dahulu memahami, letak perbedaan antara “orang baik yang tulus” dan “orang baik yang terpaksa bersikap baik”.

3. Menjadi baik pada orang lain berarti bersikap baik pada mereka sesuai dengan kapasitas serta kemampuan kita, serta tanpa memaksakan diri.

Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi orang lain demi menyenangkan orang lain, karena kita bertanggung-jawab atas kehidupan kita masing-masing, dimana kita punya tanggung jawab atas diri kita, serta mereka pun bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri.

4. Jangan berusaha menyenangkan orang, serta tidak perlu pula berusaha menyenangkan siapa pun setiap waktunya.

Tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan itu, jadi tak perlu bersusah hati untuk melakukannya. Curahkan perhatian dan energi mental untuk hal yang lebih produktif bagi kebaikan dan kemajuan diri kita. Kita bisa berkembang tanpa menyenangkan semua itu, itulah sikap penuh keberanian, alias “positive thinking”, kita bisa berbahagia tanpa harus mengemis kebahagiaan dari orang lain.

Batasan yang kita buat untuk bersikap baik pada orang lain, akan membantu kita dalam mengenali siapa yang sebetulnya patut kita berikan kebaikan atau tidaknya.

5. Belajar untuk berkata “Tidak!”, tanpa merasa bersalah atau merasa buruk.

Kita berhak untuk berkata “Tidak!” ketika kita tidak mampu melakukannya atau memang tidak berkenan melakukannya.

6. Berikan pemahaman baru kepada diri kita sendiri, bahwa kita tidak memiliki tanggung-jawab moril apapun untuk perasaan semua orang ataupun terhadap hidup milik orang lain.

Terkadang kita menyanggupi segala sesuatu harapan ataupun kehendak pihak lain, karena kita takut orang lain merasa buruk dan tersinggung dengan keputusan kita yang memberikan penolakan terhadap keinginan mereka.

Kita mungkin peduli pada perasaan orang itu, tapi cobalah juga memikirkan kondisi serta kepentingan diri sendiri. Berpikirlah secara arif nan bijaksana. Anda tidak harus menjadi juru selamat bagi semua orang, terlebih bila itu menyakiti atau merugikan diri kita sendiri.

Belum tentu dan tiada jaminan, orang yang kita berikan kebaikan hati pada gilirannya akan menghargai pengorbanan diri kita. Janganlah terlampau naif, tidak sedikit orang di luar sana yang “tidak tahu terimakasih”, bahkan tidak jarang seperti kata pepatah, “membalas air susu dengan air tuba”.

7. Kenali orang yang selama ini kerap memanfaatkan kebaikan kita, dan mulai belajar untuk bersikap lebih baik tegas terhadap orang-orang model seperti itu.

Kesimpulannya, tidak ada salahnya menawarkan kemurahan hati dan kebaikan kepada orang lain, dengan catatan orang tersebut benar-benar membutuhkan kebaikan kita dan patut serta layak mendapatkannya.

Kebaikan hati memang membuat wajah dunia lebih baik. Namun, yang paling penting adalah memberikan kebaikan dan pertolongan secara “baik dan benar” (bijaksana), sebab kita juga layak mendapatkan hal serupa dari mereka, penghargaan, penghormatan (dengan tidak membalas kebaikan dengan menyakiti diri kita), apresiasi, dan hormat dari orang lain secara bertimbal-balik agar tidak “bertepuk sebelah tangan”.

Terdapat sebuah delusi yang tidak logis serta bahaya dibaliknya, bahwa orang yang begitu tulus bersikap baik terhadap seseorang, semakin sering perbuatan baik itu diberikan, maka orang yang diberikan kebaikan akan membuat sebuah delusi, bahwasannya dirinyalah yang selama ini sedang dibutuhkan oleh si baik hati, karenanya timbul pula delusi diri bahwa seolah-olah daya tawar dirinya lebih tinggi daripada si pemberi kebaikan (seolah-olah si orang baik yang “butuh”), yang karenanya mengarahkan kecenderungan sikap superioritas dan subordinat layaknya majikan dan bawahan, penjajah dan budak, dsb. Padahal, secara akal sehat, tidak ada orang yang begitu bodohnya berminat untuk mengemis-ngemis agar dirinya diberi kesempatan untuk memberikan kebaikan hati kepada mereka.

Akibat delusi, orangtua yang mendapatkan kebaikan seorang anak paling berbakti sekalipun, akan berdelusif bahwa sang anak-lah yang membutuhkan sang orangtua yang dilayani dengan berbagai kebaikan hati sang anak. Disaat bersamaan, sebagai konsekuensinya, semakin sang anak kurang dihargai dan disia-siakan semata karena delusi seolah-olah sang anak-lah yang membutuhkan sang orangtua. Relasinya bukna lagi mutualisme, namun mengambil keuntungan dari satu pihak.

Ketika sang anak kian merasa tertindas, kebaikan hati menjelma “bumerang” bagi diri sang anak itu sendiri, disakiti sekalipun telah melakukan banyak pengorbanan diri bagi kepentingan sang orangtua (cara orangtua mem-bully anak), sang anak pun menyerah untuk menjadi “the good boy”, dan mulai memilih keputusan hidup untuk hidup mandiri dengan keluar dari rumah orangtuanya dalam rangka hidup secara terpisah agar dapat hidup bahagia “suka dan duka” seorang diri.

Jadilah, sang orangtua kehilangan anak yang memiliki jiwa sangat berbakti sekalipun, karena disia-siakan. Pada mulanya memiliki, seorang anak yang baik hati, namun akibat disia-siakan, muaranya ialah kehilangan anak yang baik.

Ketika orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah ataupun kekeluargaan dengan sang orang baik, maka mereka disebut “memanfaatkan” kebaikan hati sang orang baik, bagai benalu penghisap darah inangnya. Namun ketika konteksnya ialah dalam lingkup keluarga, maka yang kerap terjadi ialah “disia-siakannya” anggota keluarga yang memiliki hati yang baik.

Sebagai contoh, yang ketap menyalah-gunakan kebaikan seorang anak, ialah kalangan orangtua. Para orangtua, menuntut anak untuk berbakti dan membalas budi orangtua yang melahirkan dan membesarkan, dengan ancaman disebut durhaka bila tidak demikian. Karena itulah, jebakan delusif lebih sering menjerat kalangan orangtua terhadap anaknya yang merasa hidup dalam sangkar berupa hubungan darah, terpenjara oleh sifat baik sang anak itu sendiri sekalipun merasa menderita dan tersiksa oleh sikap sewenang-wenang orangtua yang lebih sering tidak mampu menghargai pengorbanan dan kebaikan hati seorang anak.

Seseorang yang baik, dari sudut pandang non-keluarga, bukanlah “disia-siakan”, namun orang-orang yang baik lebih cenderung “dimanfaatkan” dalam rangka eksploitasi dan manipulasi. Sebab, diperlakukan seperti apapun mereka, ia akan tetap bersikap baik. Para pelaku yang mengambil keuntungan dari sikap baik orang baik, tahu betul watak orang baik, dan dengan serakah memanfaatkannya demi kepentingan pribadi dirinya sendiri. seperti kata pepatah, kawan untuk bersenang-senang mudah dicari, akan tetapi kawan yang baik sangat sedikit jumlahnya, terutama ketika kita sedang dalam kondisi sukar dan butuh pertolongan (tidak selamanya orang baik menolong orang lain, terkadang bahkan mereka sendiri yang butuh pertolongan).

Ada beberapa alasan mengapa seseorang selalu disia-siakan oleh orang lain. Pada awalnya kita mungkin tidak menyadari bahwa hal seperti itu bisa terjadi, tetapi kita akan segera melihat bahwa sebagian dari apa yang Anda sebut sebagai “teman” ataupun “persahabatan” hanya mencari kita ketika mereka membutuhkan sesuatu.

Mereka hanya ingin mengambil keuntungan dari kita, dibalik wajah penuh perhatian yang mereka pertunjukkan di depan kita, dan akan seketika menyembunyikan diri ketika kita meminta sesuatu bantuan. Banyak “benalu” menyaru sebagai “kawan”, dan sasarannya tentu saja, si orang baik.

Kita mungkin bersikap tegas dan keras dalam mengendalikan hidup kita, tetapi seringkali kita berusaha untuk menyenangkan dan memanjakan orang-orang di sekitar Anda. Kita mungkin mencintai dan peduli pada mereka, namun demikian kita masih harus mengatur beberapa batasan untuk melindungi diri sendiri. Berikut adalah beberapa alasan mengapa orang baik bisa jadi disia-siakan.

1. Tidak pernah mempersiapkan diri untuk berkata “Tidak”.

Salah satu alasan paling jelas mengapa seseorang selalu disia-siakan adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa mengatakan tidak. Tentu merupakan hal yang baik jika si orang baik ingin membantu semua orang di sekitar Anda, tetapi kadang-kadang situasi menuntut kita untuk harus menjadi sedikit egois dan memikirkan kepentingan Anda sendiri juga. Ketidak-mampuan kita untuk mengatakan “Tidak!”, akan membuat orang lain memandang remeh dan mereka bahkan tidak akan menghargai hal-hal telah yang kita lakukan bagi kepentingan mereka.

2. Terlalu baik.

Menjadi terlalu baik, nyata-nyata berpotensi membuat orang lain menyia-nyiakan eksistensi diri kita. Kita mungkin suka membuat orang lain senang dan kita mungkin berpikir bahwa kita adalah orang baik di dunia ini, tetapi berpikir seperti ini dapat membuat orang-orang di sekitar kita menyia-nyiakan Anda, seolah-olah si orang baik yang membutuhkan mereka, bukan sebaliknya—serta seolah-olah sang orang baik yang harus mengucapkan, “Terimakasih telah memberikan saya kesempatan untuk berbuat baik dengan melayani segala kebutuhan maupun keinginan Anda. Mohon berikan lagi saya, kesempatan untuk berbuat baik kepada Anda!

3. Tidak pandai dalam menghadapi orang, alias terlampau lugu dan polos.

Kenyataan bahwa kita tidak bisa menghadapi orang-orang ketika mereka berbuat salah pada kita adalah salah satu alasan mengapa kita selalu disia-siakan. Jika kita menempuh jalan ini, kita hanya akan menemukan diri kita berakhir dalam keadaan merasa tidak bahagia, marah, kecewa, sedih, dan semua frustrasi. Belajar untuk menjadi lebih tegas dan jangan takut untuk membela diri terhadap apa yang kita yakini sebagai yang terbaik bagi diri kita.

4. Berbohong pada diri kita sendiri sebagai cara menghibur diri.

Kita acapkali membohongi diri sendiri ketika seseorang menyia-nyiakan kita, dan kita justru mencari-cari segala macam alasan untuk membenarkan perilaku mereka. Kita membatin kepada diri sendiri bahwa mereka tidak memanfaatkan Anda; mereka hanya tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan mereka untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka, bahwa kelak mereka akan menyadari dan menghargai pengorbanan dan kebaikan hati kita.

5. Tidak percaya pada diri sendiri.

Kita bisa jadi selama ini kurang cukup percaya pada diri sendiri. Kita tidak tahu nilai sebenarnya diri kita, sehingga memungkinkan orang lain untuk menyia-nyiakan diri kita. Di suatu tempat jauh di dalam lubuk hati, bisa jadi kita meragukan kemampuan diri kita dan selalu menemukan kekurangan dalam diri.

Kita, entah bagaimana, merasakan kebutuhan konstan untuk menyenangkan dan memuaskan orang lain, karena kita memiliki pembawaan berupa pemikiran bahwa menjadi “the Mr. Nice Guy” adalah satu-satunya cara mereka untuk menyukai kita, dan kita memaksakan diri untuk itu, sekalipun mahal harga yang harus kita bayarkan.

6. Kita tidak bisa dan tidak siap untuk bersikap independen, dependen.

Tanpa disadari ataupun disadari, kita bisa jadi selama ini takut sendirian dan itulah mengapa kita senang dikelilingi oleh banyak orang, daripada menjadi siapa diri Anda dan dikelilingi oleh segelintir teman-teman. Kemandirian dan kesendirian tampaknya menjadi hal yang asing serta menakutkan bagi benak kita, dan itulah mengapa kita merasa lebih mudah untuk bersikap baik kepada seseorang yang memperlakukan kita secara buruk daripada merasa kesepian seorang diri melanjutkan hidup.

7. Kita memiliki ekspektasi bertimbal-balik yang rendah pada orang lain.

Kadang-kadang kita bahkan berpikir bahwa kita tidak layak mendapatkan hal yang lebih dan kita memberikan terlalu banyak sekalipun tidak adil pada diri sendiri, dengan harapan bahwa orang yang kita cintai akan melihat bahwa diri kita adalah orang yang suka memberi dan mereka akan mencintai kita pada akhirnya yang entah kapan itu akan terjadi.

Kesemua paradigma demikian, mempengaruhi kesejahteraan dan kebahagiaan kita dalam jangka panjang. Ketika orang tidak menghargai kebaikan hati kita, maka cukup kita menjadi pribadi yang baik terhadap serta bagi diri kita sendiri, setelah itu kita berikan penghargaan bagi diri tersebut. Diri kita sendiri yang lebih layak mendapatkan kebaikan hati kita, curahkan bagi diri kita sendiri. Belajarlah untuk mulai berani untuk mencintai kita kita sendiri. Teman terbaik, ialah diri kita sendiri.

Terdapat himpunan pepatah yang mungkin tepat ditujukan bagi para si “baik hati”, sebagai nasehat untuk menjadi lebih cerdas, yang dikutip dari https:// sepositif .com/50-kata-kata-jangan-menyia-nyiakan-seseorang-yang-tulus-mencintaimu/

Tidak jarang kita jumpai orang-orang yang merasa dirinya lebih berharga dari orang lain, atau merasa dirinya lebih penting dari orang lain. perasaan ini biasanya membuat dirinya menjadi sombong serta arogan, dan menganggap orang lain tidak selevel untuknya.

Memang kadang akan membuat kita jemu dan “alergi”, namun akan lebih mengecewakan lagi jika ternyata orang tersebut adalah orang-orang yang selama ini kita kasihi dan berikan kebaikan hati. Seperti keluarga, teman, pacar atau suami / istri. Terkhusus untuk pasangan, kadang diantara dari mereka menyia-nyiakan seseorang yang tulus menyanyanginya hanya karena egoisme diri.

Telah banyak berbaik hati namun disia-siakan, memang menyayat hati. Namun terlampau lama dan berlarut-larut menyesali keadaan, juga tidak ada gunanya. Lebih baik kita buktikan pada orang yang telah menyia-nyiakan kita, bahwa pilihan mereka adalah sikap yang keliru. Buatlah dia menyesal dengan keputusannya dan tunjukkan padanya bahwa kita adalah orang yang istimewa yang tak pantas untuk disia-siakan.

Berikut kata-kata membangun motivasi bagi orang-orang baik yang kerap tidak dihargai:

- Ada waktu dimana yang kamu disia-siakan, akan bahagia bersama dengan orang lain, pada akhirnya.

- Jangan sia-siakan orang yang berusaha membuatmu bahagia, tanpa kamu sadari banyak orang yang ingin di posisimu tapi dia memilihmu.

- Mungkin benar, yang telah pergi tak akan pernah sama lagi. Entah sosoknya ataupun rasanya.

- Waktu kita sangat terbatas, jadi janganlah sia-siakan untuk menjalani kehidupan orang lain.

- Kebanyakan yang disesali orang di masa depan itu adalah menyia-nyiakan kesempatan.

- Jangan sia-siakan orang yang selalu memaafkan kesalahanmu karena cintanya padamu selalu lebih besar dari sakit yang ia terima darimu.

- Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang tulus mencintaimu karena saat ia sudah pergi kamu pasti akan sangat merindukannya.

- Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Yang ada ialah perjuangan yang disia-siakan.

- Yang pernah ditinggalkan dan disia-siakan, suatu saat kelak bisa menjadi yang paling berharga buat orang lain.

- Rasa cinta akan semakin terasa ketika kita kehilangan dan sadar bahwa betapa kita telah menyia-nyiakan.

- Jangan sia-siakan waktumu untuk mereka yang menyia-nyiakan dirimu.

- Orang bodoh adalah saat menyia-nyiakan yang benar dan mempertahankan yang salah.

- Jika ini adalah pengabdian, maka hujan adalah air mata kesedihan — Ratapan langit karena sebuah ketulusan disia-siakan.

- Jangan sia-siakan apapun yang kamu miliki saat ini. Ingat, bisa jadi dahulu kala kita pernah berharap untuk memilikinya.

- Kesalahan yang sering dilakukan oleh kita adalah menyia-nyiakan dan baru sadar saat sudah terdesak.

- Jadikan hidupmu seperti apa yang kamu mau, jalani dengan caramu sendiri, tapi jangan disia-siakan.

- Akan ada masanya ketika yang disia-siakan berhenti mencintai, sedangkan yang menyia-nyiakan baru mulai mencintai.

- Bersedih dan berkeluh kesah tentang apa yang tidak kita miliki adalah sama seperti menyia-nyiakan apa yang telah kita miliki.

- Selalu belajar hal baru. Jangan menyia-nyiakan begitu banyak waktu untuk memahami hal-hal yang telah kamu ketahui.

- Pada akhirnya hanya sebuah penyesalan yang akan diterima jika kamu menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

- Mereka yang menyia-nyiakan hidup adalah mereka yang hanya menggunakan hidupnya untuk menyesali masa lalu.

- Jangan pernah memberi harapan jika kau tak pernah yakin. Karena harapan yang disia-siakan itu menyakitkan.

- Tidak seharusnya kamu menyia-nyiakan hati dan perasaanmu untuk seseorang yang tidak bisa menghargainya.

- Disaat kamu menyia-nyiakan orang yang tulus, suatu saat kamu akan merasakan sakitnya disia-siakan ketika tulus.

- Menanti yang belum pasti bukanlah hal yang mudah, jangan sia-siakan dia yang rela menutup hati demi menunggumu.

- Mengambil resiko jauh lebih baik daripada menyia-nyiakan kesempatan. Resiko adalah pembelajaran. Kesempatan tidak datang dua kali.

- Memang betul, selalu ada kesempatan kedua dan kesempatan lainnya, tapi bukan berarti kau boleh menyia-nyiakan kesempatan pertama.

- Jangan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah kamu dapatkan, jika kamu tidak ingin merasakan apa yang dinamakan kehilangan.

- Jangan sia-siakan seseorang yang terus bertahan meski kau mudah meninggalkan, dan jangan sia-siakan dia yang mampu menerimamu apa adanya meski seringkali luka itu kau berikan padanya. Sungguh dia sangat setia, namun jangan cobai dirinya terus, karena segala sesuatu ada batasnya.

- Yang melukai akan terluka pada waktunya. Yang menyia-nyiakan akan disia-siakan pada waktunya.

- Mulai sekarang cobalah untuk tidak lagi memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak berjuang untukmu. Buatlah ia atau mereka menyesal, karena telah menyia-nyiakanmu.

- Jangan sia-siakan orang yang menyayangi dirimu, apalagi menyakiti hatinya. Karena belum tentu besok dia masih ada untukmu. Seekor anjing sekalipun akan berusaha kabur bila terus-menerus disakiti secara tidak patut.

- Ada yang harus dilepaskan untuk tahu rasanya lega, dan ada yang harus menghilang untuk tahu rasanya sesal. Selalu akan ada “saatnya” ketika telah tiba saatnya.

- Seringkali kita hanya fokus pada apa yang belum dimiliki sehingga apa yang sudah diberikan di depan mata disia-siakan.

- Waktumu terbatas, jadi jangan sia-siakan. Temukan orang yang dapat membuat cahayamu bersinar lebih terang.

- Perpisahan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap detik bersama orang yang kita cintai adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan.

- Jangan terjebak pada sesuatu yang dapat mengacaukan hari-harimu. Tetap tersenyum dan berbahagialah. Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan dalam pemikiran yang tidak produktif maupun oleh orang-orang yang hanya memperkeruh pikiran kita.

Siapa sangka, ternyata ada juga hal semacam “dampak positif sering dikecewakan orang yang kamu sayangi”, sebagaimana ulasan dari Ruth Cikita dengan tajuknya, “Jangan terlalu berharap pada manusia”, dikutip dari https:// www. idntimes .com/life/relationship/ruth-cikita-octaviani-simarmata/dampak-positif-sering-dikecewakan-orang-yang-kamu-sayang-c1c2/5, dengan uraian sebagai berikut:

Setiap orang pasti pernah merasa kecewa. Tapi rasa kecewa yang paling menyakitkan adalah ketika sumber kekecewaan tersebut adalah dari orang yang selama ini kita sayangi dan berikan banyak kebaikan hati, baik itu teman ataupun pacar, atau bahkan orangtua kandung.

Konon, menurut banyak kasus empirik dalam ilmu psikologi “alam bawah sadar”, untuk bisa sembuh dari kekecewaan dan luka batin masa lampau, tidak akan bisa sembuh begitu saja seiring berjalannya waktu. Karenanya, jangan pernah meremehkan akibat atau dampak yang dialami oleh sang korban, “luka batin” berpotensi membekas secara permanen.

Namun, dari rasa kecewa ini ada beberapa hal positif yang bisa kita dapatkan. Berikut beberapa dampak positif yang bisa dijadikan pelajaran ketika orang yang kita sayangi mengecewakanmu.

1. Kekecewaan membuatmu belajar untuk bisa menjadi orang yang lebih kuat.

Pelajaran pertama yang kita dapatkan setelah merasa kecewa adalah bagaimana menjadi orang yang kuat serta mampu hidup mandiri. Oleh sebab merasa kecewa yang teramat sangat, mendorong kita untuk berusaha membuktikan kepada orang yang mengecewakan kita, bahwa kita bisa bahagia dan berdiri di atas kaki sendiri tanpa kehadiran mereka di hidup kita. Semakin disakiti dan dikecewakan, semakin besar keyakinan kita untuk memilih “hidup bebas”.

2. Sering dikecewakan membuat kita tahu, siapa orang yang layak untuk dipertahankan dan siapa yang harus ditinggalkan.

Jika kita sudah berusaha keras untuk menyayangi dengan tulus dan mencurahkan energi disamping perhatian, akan tetapi tetap saja dikecewakan, mungkin ini saatnya bagi kita untuk meninggalkan orang-orang tersebut. Kita harus tahu kapan saatnya kita tetap tinggal dan kapan saatnya kita harus pergi.

Tidak perlu takut bahwa tidak akan ada orang yang bisa menerima diri kita, karena orang yang baik akan selalu berada di lingkungan yang baik, bukan sebaliknya.

3. Kecewa mengajarkan kita apa sebenarnya arti kata tulus.

Hal yang manusiawi jika kita mengharapkan perbuatan baik kita dibalas dengan perbuatan baik pula. Sebaliknya, tidak tidak merugikan ataupun menyakiti orang lain dengan harapan bahwa kita tidak akan disakiti ataupun dirugikan oleh pihak manapun. Namun, ada saatnya kita harus sadar bahwa tak semua orang akan memperlakukan kita sebaik yang kita harapkan, dimana harapan hanya tinggal harapan.

4. Membuat kita sadar jangan pernah menaruh harapan tinggi kepada orang lain.

Seringnya dikecewakan akan membuat kita belajar bahwa merupakan hal yang keliru ketika kita menaruh harapan terlalu tinggi kepada orang lain.

Sebagai penutup, berikut beberapa pepatah menarik yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi Sobat:

"Ada saatnya kamu tahu siapa sebenarnya sosok teman yang rela berjuang untuk kamu selama ini."

“Lebih baik banyak musuh dan nyata, daripada punya satu teman yang selama ini kita percaya ternyata musuh dalam selimut."

"Sebelum menjadi pengkhianat, dulu dia bernama sahabat."

"Mungkin dikhianati orang lain tidak akan sesakit ini, karena dikhianati teman ibarat benalu yang hidup di batang anggrek. Sakit untuk kebahagiaan orang lain."

"Jika kau meninggalkan seseorang demi orang lain, jangan kaget jika orang itu meninggalkanmu demi orang lain."

"Terima kasih karena yang kau buat sudah membuatku kecewa, ini hikmah berteman sama kamu."

"Jangan pernah membuat sahabatmu kecewa. Karena untuk mengembalikan kepercayaan itu, sangat sulit."

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! Sampai jumpa dilain kesempatan 💙💚💛💜😇😀😁

  • Share:

You Might Also Like

0 comments