Jangan Bersikap Seolah-Olah Kita yang Butuh Mereka, Bijak artinya Bersikap Cerdas

By PUBLISHER - June 27, 2021


Jangan Bersikap Seolah-Olah Kita yang Butuh Mereka, Bijak artinya Bersikap Cerdas

Ulasan berikut merupakan hasil wawancara redaksi REMEMBERTHAI saat berdiskusi bersama Bapak Hery Shietra, tokoh pencetus gagasan “seni berpikir” (Seni Pikir). Redaksi merasa gagasannya cukup menarik, sehingga berdasarkan restu beliau, pandangan berpikirnya dituangkan ke dalam medium tertulis dan eksklusif diterbitkan hanya oleh REMEMBERTHAI bagi pembaca setia REMEMBERTHAI.COM. Semoga membawa manfaat bagi para pembaca, dan selamat menikmati keunikan sajian berpikirnya.

Berikut petikan hasil rangkuman redaksi. Bila terdapat orang asing yang bersikap kurang bahkan tidak sopan terhadap kita, dalam pengertian tidak menunjukkan etiked berupa sikap sopan-santun maupun tata-krama dalam ber-etika komunikasi, maka semestinya kita memberikan mereka “punishment” alih-alih memberikan “reward”, serta janganlah hanya karena merasa takut maupun dibawah ancaman lantas memberikan mereka sebuah kebaikan hati.

Contoh, ketika kita mendapati seseorang tidak dikenal menanyakan alamat kepada kita, dengan dialog sebagai berikut : “Selamat pagi, maaf mengganggu, alamat blok ... nomor ... , rumah yang sebelah mana ya?” Maka kita dapat menggunakan momen tersebut sebagai kesempatan untuk (membuat sebuah pilihan) menanam Karma Baik dengan memberikan sang tamu asing sebuah petunjuk.

Namun, tidak jarang kita mendapati realita dimana sang tamu asing yang memasuki lingkungan pemukiman tempat tinggal kita, bersikap arogan dengan tidak mengindahkan tata-krama, seolah-olah dirinya adalah superior dan kita selaku warga adalah subordinat dirinya atau berkasta lebih rendah, sehingga di mata yang bersangkutan hanya eksis di dunia ini sebagai orang untuk melayani kehendak dan kepentingan yang bersangkutan.

Sang tamu tidak dikenal, dengan bahasa tubuh maupun gaya suara yang seolah memberi perintah antara seorang majikan dan bawahan, bertanya, “Nomor ... , rumah yang sebelah mana?Itu bukanlah pertanyaan maupun kalimat tanya, meski pada ujungnya memakai sebuah “tanda tanya”, namun lebih condong sebagai sebuah perintah layaknya majikan terhadap buruhnya!

Dirinya tidak mengindahkan kondisi orang yang ditanya bahwa sejatinya ia (bisa jadi atau jelas-jelas) telah mengganggu aktivitas kita, semisal ketika kita sedang menyapu halaman rumah kita, yang artinya dirinya tengah menganggu kegiatan serta menyita waktu kita (“time is money!”). Sekalipun seseorang tampak hanya duduk-duduk santai di tepi sebuah jalan yang kita lintasi, bisa jadi otaknya sedang berpikir keras, dan tetap saja kita mengganggu aktivitas dan konsentrasi berpikirnya (serta bisa jadi “tidak ingin diganggu”) ketika meminta waktu miliknya untuk bertanya petunjuk arah dan jalan.

Sang penanya ketika memiliki hak untuk bertanya (seolah-olah orang lain punya kewajiban untuk menjawab, meladeni, dan melayaninya), bertanya artinya meminta pertolongan serta waktu kita untuk menjawab dan menjelaskan. Namun, kita selalu memiliki “pilihan bebas” (sebagai bagian dari bangsa yang merdeka dari penjajahan bangsa lain maupun oleh sesama anak bangsa) berupa opsi hak-hak untuk:

  1. hak untuk tidak memberikan waktu kita serta tidak memberikan pertolongan;

  2. hak untuk tidak diganggu;

  3. hak untuk bebas dari penjajahan alias hak untuk tidak dirampas kemerdekaan diri kita (individu yang bebas dan merdeka);

  4. hak untuk tetap diam (the right to remain silent);

  5. hak untuk memilih tidak menjawab; serta

  6. hak untuk memiliki sebuah “pilihan bebas” (free will) atas hidup kita sendiri, bebas dari pendiktean pihak eksternal diri, semisal memilih untuk menjawab ataupun untuk tidak menjawab maupun untuk pergi berlalu tanpa memberi tanggapan sama sekali.

Terhadap tamu tidak dikenal (serta tidak diundang) yang tidak memiliki sopan santun demikian, perlu diganjar secara proporsional sesuai sikapnya secara setara, yakni sebuah “punishment” alih-alih memberikannya “reward”, dengan cara memberikan tanggapan berikut:

  1. tetap berdiam diri tanpa menjawab apapun dan tetap pada aktivitas semula kita tanpa membiarkan gangguan tersebut sedikit pun mengintervensi kegiatan kita (dimana sikap diamnya kita sebagai jawaban itu sendiri);

  2. seketika pergi menjauh; atau

  3. menjawab dengan nada sama arogannya, “Tidak tahu”, sekalipun kita sejatinya mengetahui; atau juga

  4. menjawab secara tidak jujur, alias membohonginya sebagai “punishment” (meski tidak disarankan untuk berdusta, menjadi pendusta hanya karena orang yang tidak bermutu), "Oh, rumah ini nomornya nomor 1001. Terserah mau percaya atau tidak."

Dahulu, lama sebelum ini, ketika saya mendapati adanya orang asing bersikap arogan semacam demikian, tidak menunjukkan sopan santun sebagai bentuk penghormatan terhadap orang lain yang ditanya (dimintai tolong atas informasi petunjuk jalan), semata dikarenakan muncul rasa takut di dalam diri yang sifatnya “irasional” berupa khawatir akan dianiaya oleh aksi premanisme bila sang tamu asing tidak dipuaskan dan tidak dilayani keinginannya (seolah-olah kita punya kewajiban untuk itu dan seolah-olah mereka punya hak untuk itu), maka saya memberikannya kebaikan hati dengan menjawab dan menjelaskan.

Itulah yang kini saya sadari sebagai “kebaikan hati akibat rasa takut” disamping bentuk kebodohan diri sendiri sehingga menjadikan diri kita rentan dieksploitasi pihak eksternal diri. Ibarat bersikap baik dibawah ancaman sebilah pisau tajam, sikap baik diri yang dipaksakan.

Kita, perlu menjadi pribadi yang cerdas agar tidak dibodohi oleh orang lain yang belum tentu sejak semula baik itikadnya ketika berjumpa kita. Orang lain, bisa jadi memiliki niat tidak baik hendak mengeksploitasi sifat penakut diri kita. Ketika orang lain tahu betul bahwa seseorang targetnya cenderung dikuasai oleh perasaan serba penuh ketakutan oleh ancaman verbal paling kecil sekalipun, jadilah apapun kehendaknya pasti akan dituruti oleh sang penakut tanpa perlawanan yang berarti, bahwa tanpa adanya bentuk-bentuk resistensi apapun. Itulah tepatnya, bahaya dibalik perasaan takut yang irasional, tidak cerdas, kerdil, dungu, serta merusak kepentingan diri sendiri.

Berikan kebaikan hati kepada orang yang layak dan patut menerimanya, berikan “punishment” kepada yang patut menerima “punishment”, dan berikan “reward” (hanya) kepada yang patut menerima “reward” (asas meritokrasi, berikan ganjaran secara apa yang patut diterima olehnya), secara proporsional tepat pada waktu dan tepat pada orangnya—jangan diputar-baik ataupun dijungkir-balikkan hanya demi berkelit dari rasa takut. Rasa takut perlu kita hadapi dan sikapi dengan cara bersikap cerdas.

Jika tamu asing yang bersikap arogan mencoba mengatur-ngatur kita selaku warga yang sejatinya merupakan sesama pribadi yang bebas dan merdeka, lantas mencoba pula merampas “kemerdekaan kita untuk memilih”, dengan “menghakimi” kita karena tidak meladeni kepentingan maupun kemauan orang asing tersebut, maka inilah yang dapat kita jawab sebagai tanggapannya, dengan nada datar yang agak monoton intonasi suaranya dan jangan terlampau cepat (perlahan saja diutarakan bagai adegan "slow motion", semata menimbang agar otak mereka yang terbatas kapasitasnya punya waktu untuk mencerna setiap kata dari perkataan kita), tenang, serta tanpa rasa gentar sedikit pun dari sorot mata maupun mimik wajah dan bahasa tubuh:

“Kalau saya tidak mau menjawab pertanyaan Anda, lantas Anda mau apa? ... Mau melakukan kekerasan fisik seperti memukul, kepada tubuh saya? Mau menganiaya saya? Mau premanisme? Berarti itu bukti Anda bukan orang yang baik, Anda orang yang tidak benar, orang yang jahat, penjahat! Kalau begitu, untuk apa saya layani kemauan Anda?
"Jangan bersikap seolah-olah saya yang butuh Anda, ANDA YANG BUTUH SAYA! Ketika Anda butuh seseorang untuk bertanya, dimana etiked sopan santun Anda? Orangtua Anda tidak pernah mengajarkan Anda tata-krama ketika berjumpa dan bertanya kepada orang lain?
"Anda sekarang pulang, dan belajar dulu tentang sopan-santun. Saya tidak punya kewajiban untuk mengajarkan Anda, juga Anda tidak punya hak untuk mengatur saya untuk berbicara ataupun untuk tidak berbicara.
"Anda pikir siapa diri Anda? Polisi saja ketika menangkap seorang tersangka, polisi wajib memberikan HAK UNTUK DIAM kepada si tersangka! Masih merasa berhak untuk memaksa orang lain?”

Atau, untuk versi yang lebih singkat dan lebih ringkas, gunakan kalimat berikut:

"Saya adalah manusia yang merdeka dari penjajahan siapapun. Saya tidak punya kewajiban untuk menuruti kemauan kamu, dan kamu tidak punya hak untuk mengatur-atur saya. Apa hak kamu untuk memerintahkan saya!?
"Apa tadi kata kamu, kamu mau pukul saya? Berarti kamu orang yang tidak benar, bukan orang baik-baik, namun orang jahat, PENJAHAT!  Kamu itu PENJAHAT, orang JAHAT!"

Hal yang paling merepotkan ketika menghadapi orang Indonesia, ialah, sebagian besar diantara masyarakat Indonesia selama ini memiliki paradigma berpikir yang irasional, serta pendek daya pikirnya. Sehingga seringkali kita direpotkan untuk selalu saja harus berdebat sengit terlebih dahulu agar ia atau mereka menyadari betapa cara berpikirnya selama ini menyerupai "akal sakit milik orang sakit". Yang seringkali terjadi di Indonesia selanjutnya ialah, ketika mereka kalah berdebat (akibat lebih besar di massa otot, ketimbang kapasitas otak mereka untuk berpikir sendiri dan introspeksi diri), maka selalu saja kekerasan fisik yang mereka andalkan untuk menyelesaikan setiap masalah dan memaksakan kehendaknya.

Jika sang tamu asing benar-benar melakukan aksi premanisme disebabkan otak di kepala mereka menjadi panas karena "KNOCK OUT" (K.O.), tidak mampu membantah dan mendebat argumentasi yang pastinya mengenai ulu hati mereka sehingga gengsi mengakui kekalahan maupun kesalahan, kebanggaan diri yang mereka bangga-banggakan selama ini (meski sejatinya "rapuh"), delusi seolah dirinya memiliki kasta lebih tinggi dari warga lain, serta watak arogansi mereka mengalami cedera hebat karenanya (bukan lagi sekadar terguncang), lalu masih juga ingin melakukan “kesalahan marathon” (kesalahan yang dibuat bertubi-tubi dari bermula pada satu buah kesalahan yang berlanjut pada kesalahan demi kesalahan berikutnya, bagai bola liar yang terus menggelinding dan semakin besar) dengan merasa terlecehkan harga dirinya karena kita tegur-balik perilakunya yang “tidak tahu sopan santun”, berupa kekerasan fisik dan menganiaya kita, maka biarkanlah Hukum Karma yang akan menjadi pelindung diri kita sekaligus yang akan membalas perbuatan sang pelaku yang pastinya tidak menyesali perbuatannya sebelum dan saat melakukan kejahatan terhadap kita.

Sama halnya, sebagai sesama warga yang baik, kita tidak pernah memiliki hak untuk mengatur hidup serta privasi milik orang lain selaku sesama warga masyarakat yang sederajat di mata hukum. Sebagai contoh, pastilah diantara kita pernah suatu ketika mengalami langsung, ketika kita mencari-cari sebuah alamat tujuan, lalu terpaksa meminta pertolongan dengan bertanya kepada warga setempat, sekalipun kita telah menerapkan etika berkomunikasi yang santun, penuh hormat, disamping tata-krama yang baik, namun tanggapannya kurang kondusif, dijawab secara acuh dan tidak acuh, dipandang sebelah mata, tidak “wellcome”, diremehkan, bahkan sama sekali tidak ditanggapi atau mungkin juga diberikan petunjuk yang “menyesatkan”.

Perhatikan apa yang menjadi reaksi kita sekaligus menjadi cerminan tingkat keberadaban perilaku serta karakter diri kita, itulah hasil “self-evaluation” yang paling akurat tentang siapa diri kita. Bila kita bereaksi dengan sikap marah atau tersinggung, atau mungkin juga merasa diremehkan, maka sejatinya kita tidak ubahnya dengan tamu asing arogan bak preman sebagaimana telah kita bahas di muka. Alias, belum benar-benar beradab. Bangsa beradab, jauh dari sikap arogansi (penuh intimidatif) maupun cara-cara kerdil semacam kekerasan fisik.

Suatu bangsa beradab, disebut beradab artinya menyadari hak dan kewajiban masing-masing, atau sebaliknya tiada hak dan kewajiban pada masing-masing pihak. Tanpa hak bagi diri kita, maka tiada kewajiban bagi orang lain. Bila kita memiliki hak, maka kita pun memiliki kewajiban terhadap orang lain, artinya secara bertimbal-balik (asas resiprositas / resiprokal ini menjadi prinsip bangsa-bangsa beradab).

Bila kita tidak memiliki hak untuk mengendalikan, memberi perintah, ataupun memaksa orang lain, artinya orang tersebut tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kemauan kita, karena mereka adalah individu yang otonom (independen) sekaligus sebagai sesama warga yang bebas dan merdeka menentukan nasib atas hidup serta pilihan hidupnya sendiri.

Ketika kita memiliki hak untuk memerintah, semisal karena kita telah melaksanakan kewajiban membayar upah seorang karyawan, karenanya (barulah) kita berstatus sebagai seorang “atasan” terhadap sang karyawan, barulah kita memiliki hak untuk mengatur dan memberi perintah karyawan bersangkutan. Sama dengan itu, dari sisi sebaliknya, sang pegawai memiliki hak untuk menerima serta menuntut upah, karenanya memiliki kewajiban untuk patuh pada perintah atasan. Ada hak, (maka) ada kewajiban. Tiada hak, (maka) tiada kewajiban.

Kita pun perlu menyadari, bahwa kita tidak memiliki hak untuk mengganggu kegiatan, aktivitas, maupun waktu milik warga lainnya, karena masing-masing warga adalah sama kedudukannya di mata hukum, tiada sistem kasta, terlebih gaya-gaya ala penjajahan di sebuah negara yang bebas dan merdeka dari segala jenis perbudakan antar sesama manusia.

Karenanya, sikap-sikap yang memandang rendah dan meremehkan eksistensi warga lainnya, hingga sekadar dinilai atau dipandang sebagai “objek pemuas keinginan” warga lainnya yang bertingkah-laku layaknya seorang preman yang bersikap arogan, adalah cerminan kegagalan yang bersangkutan untuk bersikap respek dan menghormati hak asasi individu lainnya selaku sesama warga negara. Meminta dihormati, maka hormati dahulu hak-hak asasi warga lainnya, terutama hak untuk menentukan pilihan bebas atas hidupnya sendiri. Bertanya alamat, itu artinya meminta, bukan menuntut.

Tiada seorang pun, yang berhak merampas hak serta kemerdekaan seseorang untuk memilih, memilih untuk menjawab ataupun untuk tidak menjawab. Seperti yang telah disabdakan oleh Sang Buddha, bahwa terdapat tiga buah cara untuk menjawab, yakni : 1.) memberikan afirmasi ataupun negasi; 2.) bersikap diam (berdiam diri tidak memberi tanggapan sebagai jawaban atas pertanyaan); atau 3.) balik bertanya. Artinya, memilih untuk tetap diam serta memilih untuk tidak menjawab, adalah hak asasi manusia, bila kita memandangnya dari sudut pandang Buddhistik.

Dalam sistem hukum pidana di negara yang lebih maju peradabannya seperti di Amerika Serikat, terdapat sebuah norma hukum bernama Miranda Rule, yang berbunyi “You have Right to REMAIN SILENT”, hak untuk tetap bungkam. Prinsip ini menyatakan bahwa adalah hak laten bagi seorang tersangka sekalipun, untuk tetap diam sekalipun pihak yang dihadapinya adalah seorang aparatur penegak hukum semacam polisi—terlebih bila yang kita hadapi ialah sesama warga sipil yang sederajat di mata hukum.

Pernah terjadi, pada suatu siang saya sedang menyapu halaman rumah. Mendadak secara tanpa diundang, datang pengendara motor berbadan besar dengan baju preman, tanpa bersopan santun bertanya, “Ini rumah nomor 5?” Saya jawab, dengan berbaik hati menghentikan sementara kegiatan menyapu (waktu serta kegiatan yang menjadi terganggu, sekalipun sang tamu asing tidak menyatakan kata permisi dan permintaan maaf karena telah mengganggu), “Bukan,” dan seketika itu pula kembali pada kesibukan menyapu.

Rumahmu ini, nomor berapa?!” Siapa kamu, mengatur-ngatur dan memerintah saya? Belum apa-apa sudah begitu arogan, menginterogasi warga lain seperti tersangka yang tidak punya kebebasan untuk memilih diam maupun hak untuk memilih untuk tidak menjawab. Mau mencoba-coba untuk merampas kemerdekaan orang lain? Karena sang tamu asing kian “besar kepala”, bahkan kini mencoba mengintervensi hak atas privasi saya atas kediaman pribadi keluarga penulis, maka saya memilih untuk tidak menjawab, bungkam seribu bahasa.

Sang tamu asing, alih-alih bercemin dan introspeksi diri atas sikapnya yang tidak memiliki sopan-santun layaknya etiked Ketimuran ketika bertamu ke lingkungan pemukiman seorang warga setempat yang dikunjungi olehnya yang merupakan sekadar seorang tamu, justru merasa tersinggung dan diremehkan (interpretasi dirinya sendiri atas peristiwa tidak ditanggapi kemauan dan penjajahan diktatoriatnya terhadap warga pemukim, lebih arogan daripada polisi yang menangkap seorang tersangka sekalipun), dan berdelusi karena merasa berhak (meski tanpa hak) untuk memaki, “DITANYA KOK, DIAM?!!

Sang tamu asing tersebut kembali bertanya dengan nada mengancam khas premanisme, “BERAPA NOMOR RUMAHMU INI?!!” Saya jawab saja, agar ia merasa puas, lalu segera pergi meninggalkan lingkungan ini agar saya tidak lagi terganggu kesibukannya, karena rasanya mustahil menyatakan padanya yang demikian buta dan gelap mata batinnya bahwa dirinya tidak punya hak untuk mengganggu waktu orang lain, dengan jawaban singkat : “Tidak tahu.”

Namun sang tamu asing tidak dikenal ini kembali naik pitam dan murka, “Masak, rumahmu sendiri tidak tahu nomornya!!!” Dia pikir siapa dirinya, merasa berhak melarang-larang orang lain untuk "tidak boleh tidak tahu"? Boleh percaya ataupun tidak, sang tamu asing ini menantang berkelahi! Bagaimana jika saya lebih jauh lagi berkonfrontasi verbal dengan menanggapi:

“Kamu pikir kamu itu siapa, polisi, bos besar, kakek saya? Apa hak kamu untuk menginterogasi orang lain? Polisi saja tidak punya hak untuk memaksa seorang tersangka untuk berbicara!
"Sekarang saya balik tanya kamu, siapa nama kamu? Siapa juga nama ibumu? Berapa nomor KTP kamu? Dimana kamu tinggal dan berapa nomor rumahmu? Berapa banyak selingkuhan yang kamu miliki? Itu baju kucel yang kamu pakai, sudah berapa hari tidak kamu cuci?”

Jangan hanya karena rasa takut, kita membiarkan diri dibodohi oleh orang-orang tidak ber-otak yang hanya besar di otot sehingga senantiasa mengandalkan kekerasan fisik untuk menyelesaikan setiap masalah maupun untuk memaksakan keinginannya secara sepihak.

Terlebih penting untuk perlu kita pahami, yang semestinya lebih patut untuk merasa takut, ialah mereka yang berbuat kejahatan seperti melukai, merugikan, ataupun menyakiti orang lain. Berikan “punishment” serta “reward”, kepada mereka yang patut menerimanya, tanpa terputar-balik. Mereka yang hanya patut diberikan “punishment”, berikan “punishment” setidaknya dengan cara tidak membiarkan waktu kita tersia-siakan hanya karena orang-orang yang tidak patut mendapatkan waktu dan perhatian kita, terlebih kebaikan hati kita (cukup simpan kebaikan hati itu teruntuk diri kita sendiri daripada mengobralnya kepada sembarang orang yang tidak berbobot dari segi bibit, bebet, dan bobot).

Kita, tidak perlu terobsesi untuk tidak dijadikan korban oleh perilaku buruk dan tidak patut orang lain. Sang Buddha, tidak pernah mengemis-ngemis agar tidak disakiti oleh penjahat mana pun, tidak juga mengemis-ngemis pengertian mereka bahwa dirinya takut disakiti, serta juga tidak pernah mengemis-ngemis agar pelakunya bertanggung-jawab.

Semata karena kita memahami betul, bahwa masing-masing dari kita adalah pewaris dari perbuatan kita sendiri, perbuatan baik maupun perbuatan yang buruk, kita sendiri yang kelak akan memetik buahnya sesuai perbuatan kita masing-masing (Hukum Karma). Karena itulah, tiada yang betul-betul patut kita takuti dalam hidup ini selain berbuat jahat kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.

Ada Hukum Karma, dan kita semua adalah subjek dari Hukum Karma (subject to the law of karma), tanpa terkecuali, sehingga kita tidak pernah perlu merasa takut. "Yang hidup dari pedang, akan mati karena pedang"; demikian pepatah klasik sudah sejak lama mengingatkan supaya kita tidak berbuat kejahatan sekecil apapun agar tidak menyesalinya sendiri dikemudian hari.

Karena REMEMBERTHAI akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! Sampai berjumpa pada bahasan menarik lainnya. Atau bila Sobat punya pendapat atau pengalaman serupa, tuliskan opini-mu pada kolom komentar. 😈😇💬💭💗💖

  • Share:

You Might Also Like

0 comments