Jadilah Orang Baik, Namun Tanpa Perlu Membuang Waktu maupun Uang Anda untuk Membuktikannya

 “Menjadi miskin bukanlah suatu aib, tetapi menggerutu dan mengiri bahwa orang lain bisa menjadi kaya, tanpa mencoba berbuat sesuatu, adalah benar-benar sebuah kemiskinan.” (Anomin)

Kamu minta Pinjam? Enak saja, kalau mau, minta Sewa! Be Professional, Jadilah Pribadi yang Profesional karena Saya Seorang Profesional! Perhatikan Bibit, Bebet, dan Bobot, Jangan Sembarangan Berbaik Hati pada Sembarang Orang.

Jadilah Orang Baik, Namun Tanpa Perlu Membuang Waktu maupun Uang Anda
Bunga ini hanya sekecil kuku orang dewasa, tanpa rekayasa

Pada mulanya, itulah rencana judul untuk artikel ini. Namun, setelah dipertimbangkan kembali, agar lebih ringkas dan “to the point”, dilakukan revisi sehingga jadilah judul artikel seperti sekarang ini.

Kita dapat menjumpai banyak sekali ketidak-adilan oleh sesama warganegara ketika kita lahir, bertumbuh, hidup, dan berkegiatan di Indonesia. Untuk memberi ilustrasi sederhana, KWANG contohkan sebuah pengalaman KWANG ketika belasan tahun lampau masih sebagai seorang mahasiswa “lugu nan polos” pada salah satu universitas swasta di Jakarta, Indonesia, kejadian mana yang pastinya juga pernah atau bahkan sering Sobat alami sendiri secara langsung.

Dosen pengajar menjadikan sebuah buku terbitan sebuah penerbit sebagai buku bacaan wajib bagi mahasiswa pada semester tersebut, dan sehabis kelas dibubarkan, dua orang senior yang duduk satu kelas pada mata kuliah tersebut, kemudian mendekati KWANG—tentunya dengan gaya bicara serta bahasa tubuh yang dibuat seramah serta seakrab dan sehangat mungkin (karena mereka sedang “ada maunya”, alias baru dekat bila “ada maunya”, alias “ada udang di balik batu”).

Seperti yang telah KWANG duga, mereka bersikap manis lalu bertanya pada muaranya, “Kamu ada rencana mau beli bukunya tidak?” Pada saat KWANG masih remaja yang “bodoh”, demikian polos saja KWANG menjawab, “Mungkin.”

Jika nanti kamu sudah beli bukunya, beritahu kami dan pinjamkan kepada kami ya, agar kami dapat mengerjakan tugas dosen ini!?

Mereka sama sekali tidak bersikap adil, seperti menawarkan untuk “patungan” membeli dan menanggung biaya pembelian buku. Harga buku tersebut sangat mahal, terjemahan buku luar negeri yang tebal, dan hanya dijual pada toko buku di mall.

Lebih baik, menjadi seorang individualis, daripada dikelilingi oleh para benalu. Yang kita butuhkan ialah "SAHABAT", bukan "benalu" yang banyak berkeliaran di luar sana. Dahulu, KWANG bersikap bodoh, karenanya dibodohi orang lain. Kini, setelah sekian belas tahun berlalu, barulah KWANG mulai memahami : Jangan bersikap seolah-olah seperti orang bodoh, agar tidak (benar-benar) dibodohi.

Hanya menguntungkan salah satu pihak, dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri, bukanlah perbuatan yang baik. Sang Buddha : “Perbuatan baik artinya, tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri kita sendiri serta tanpa perlu menjelekkan diri kita sendiri.” Bersikaplah adil terhadap diri kita, bukan hanya terhadap orang lain, itulah cara menjadi seorang pribadi yang profesional terhadap diri kita sendiri.

Di tengah-tengah kesenangan, jangan membuat janji kepada seseorang. Di tengah-tengah kemarahan, jangan menjawab surat seseorang.” (Peribahasa China. Itulah sebabnya, orang yang sedang menang lotere harus secepatnya bersembunyi, karena ia sedang dalam kondisi "murah hati"!)

Beberapa hari kemudian, KWANG benar-benar membelinya di sebuah mall dekat kampus, dengan modal bekal uang saku dari kantung saku pribadi sepenuhnya, lalu saat sehabis membelinya dan akan mengikuti perkuliahan di kampus, dua orang senior tersebut menjumpai KWANG kembali. Mereka, seperti yang sudah diduga, hendak MEMINJAM tanpa mau bergotong-royong menanggung biaya pembelian buku tersebut, alias mengorbankan kepentingan KWANG.

Bodohnya, seketika itu saja KWANG pinjamkan, sampai-sampai beberapa hari kemudian KWANG stress sendiri karena ada tugas kuliah dari dosen yang sumber bahasannya ada di buku tersebut dan waktu penyerahan tugas sudah dekat, sementara buku tersebut masih di tangan si senior yang entah berada di mana saat itu.

Dipikir-pikir, belasan tahun kemudian, tepatnya saat kini, sungguh tidak adil serta “mau enaknya sendiri” bila “belum apa-apa sudah minta pinjam atau bahkan minta diberikan” tanpa kompensasi apapun. Mereka hanya tahu “take”, namun apa “give” dari mereka selain semudah dan segampang mengucapkan kata, “Terimakasih”. KWANG telah tidak adil terhadap diri sendiri.

Betapa tidak, mereka tidak mau memusingkan untuk memikirkan bagaimana KWANG ataupun orangtua KWANG susah-payah mencari uang untuk membeli buku mahal tersebut, sehingga untuk apa juga KWANG memusingkan diri memikirkan kepentingan mereka yang egoistik tanpa mau memberi kompensasi dan sekadar hanya mau “enaknya sendiri saja” tersebut?

Kejadian semacam itu, sering kali KWANG alami, perasaan sungkan dan baik hati akhirnya dieksploitasi dan diperalat bagai “sapi perahan” untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab (mengorbankan kepentingan orang lain demi kepentingan diri mereka sendiri, tanpa jiwa keadilan). Jika di dalam hati ada rasa sungkan, malu, tidak enak hati, jangan tunjukkan! (agar kita tidak “dimakan” oleh orang lain)

Profesionalisme lebih ditunjukkan dari sikap dan cara kerja daripada dengan gelar diploma dan jabatan.”(Anonim)

Jika saja KWANG dapat memutar masa lampau, maka inilah yang akan KWANG utarakan kepada yang bersangkutan, pada pertemuan pertama maupun pada pertemuan kedua:

“Saya tidak butuh mulut manismu itu. Sekarang saya balik tanya, kamu mau beli bukunya, tidak? Jika kamu mau beli, SAYA MAU PINJAM DARI KAMU! Gimana, mau beli tidak, kamu?

“JANGAN MAU ENAKNYA SENDIRI DONG, itu namanya serakah, mau meminjam tapi tidak mau meminjamkan. Jangan egois, sekarang saya tantang kamu balik, kamu ada hak untuk meminta pinjam tidak? Lalu, bila kamu memang ada hak, lantas apa kewajibanmu?

“Punya malu tidak sih, baru mendekati saya dengan sikap manis ketika ‘ada maunya’ saja? Apa bedanya kamu dengan ‘manusia benalu’ yang banyak berkeliaran di luar sana? Dunia ini tidak pernah kekurangan ‘manusia benalu’. Saya tidak butuh benalu, tidak ada yang butuh benalu.

“Karena itu, saya tidak akan mau kamu manfaatkan, terlebih bersikap seolah-olah saya yang butuh kamu! Maunya minta meminjam, namun tidak mau memberi meminjamkan ataupun beri kompensasi apapun.”

Kini, bila ada teman atau siapapun itu, meminta pinjam sesuatu barang dari KWANG, maka KWANG akan bersikap profesional (asas meritokrasi) terhadap diri KWANG sendiri maupun terhadap orang lain, dengan menerapkan sebuah SOP ataupun prosedur oleh dan dari serta untuk diri KWANG sendiri, yakni : Jika ada yang mau meminjam, maka ia harus berkontribusi bertimbal-balik, semisal urun-rembuk, semisal sekian persen dari harga barang yang KWANG beli dan miliki.

Perlu kita ingat, banyak orang di luar sana yang “lidah tidak bertulang”, alias suka ingar janji. Bahkan, kita yang harus merepotkan diri menagih, memusingkan diri, mencemaskan diri, hingga mengemis-ngemis apa yang memang sudah menjadi kewajiban mereka.

Ia pun harus menyerahkan jaminan atau agunan, bisa berupa kartu identitas seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk), maupun SIM (surat izin mengemudi), atau semacam STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan). Kita harus bersikap cerdas, agar tidak dibodohi orang lain. Agunan, menjadi penting sebagai cara mengikat komitmen yang bersangkutan untuk tidak semudah itu ingkar janji.

Cara lainnya, agunan atau jaminan agar barang yang kita pinjamkan benar-benar dikembalikan dan harga sewa benar-benar dibayarkan (agar kita tidak perlu mengemis-ngemis hak kita dan menyibukkan diri menagih piutang sewa) ialah berupa uang deposit senilai sama dengan nilai buku tersebut yang mereka pinjam (jika mereka bisa deposit jaminan senilai harga buku yang mereka pinjam, artinya sebetulnya ia bisa membelinya, namun karena egois, karenanya hanya mau mencari pinjaman dari orang lain, mau untungnya sendiri), dimana ketika buku telah dikembalikan barulah nilai uang deposit dikembalikan dengan dipotong harga sewa.

Kita perlu ingat, bahwa saat kini kita hidup di dunia “manusia” yang hidup dengan cara kerja “memakan atau dimakan”, bukan di dunia “dewata” dimana semua penghuninya adalah suciwan dan baik hati sehingga janji pasti akan ditepati tanpa perlu ditagih dan bertanggung-jawab.

Kita pun perlu bersikap profesional terhadap diri kita sendiri, dengan tidak membiarkan diri kita dimanipulasi dan dieksploitasi oleh orang lain yang belum tentu bertanggung-jawab dan belum tentu memiliki itikad baik terhadap kita, sebagaimana nasehat berikut:

Agar bisa diterima orang lain kita harus bisa menempatkan kepentingan orang lain sejajar dengan kepentingan kita sendiri”, kita balik paradigmanya menjadi

Agar bisa diterima oleh diri kita sendiri, maka kita harus bisa menempatkan kepentingan diri kita sendiri secara sejajar dengan kepentingan orang lain.

Sangatlah tidak profesional, bersikap “mau menangnya sendiri” ataupun semacam “mau enaknya sendiri” seperti meminta diberikan ataupun meminta dipinjamkan.

Yang paling mendekati etika komunikasi dan prinsip keadilan, ialah menyewanya dengan sejumlah kompensasi sesuai kesepakatan antara peminjam dan penyewa. Jangan memanfaatkan rasa sungkan ataupun rasa takut orang lain, seperti ketimpangan posisi dominan antara senior dan junior atau seperti dosen dan mahasiswa.

Semisal, teman kita memiliki sebuah buku untuk tugas kuliah, maka kita tidak etis “meminta pinjam”, namun tawarannya sebagai “win win solution” (alih-alih "mau menang sendiri") ialah : “Boleh tidak, saya sewa buku kamu ini dengan kompensasi uang Rp. ... untuk meminjam selama ... hari?” Berikan tawaran yang rasional untuk disetujui pihak yang kita mintakan pinjam, agar ia tidak merasa diremehkan sekaligus sebagai cara kita menghargai hak orang lain.

Jadilah profesional, agar tidak menjadi manusia kerdil dikemudian hari. Karena kita adalah seseorang yang profesional, maka dari itu kita pun hanya akan bersedia meladeni orang-orang yang juga sama profesionalnya dengan kita dan bersikap profesional terhadap kita.

“Untuk mendapatkan keuntungan tanpa resiko, hasil tanpa kerja, perjalanan tanpa bahaya, adalah sama seperti hidup tanpa dilahirkan.” (Anonim)

Ingatlah selalu, seorang pengemis tidak pernah punya tugas kuliah, juga tidak ada pengemis yang mengikuti perkuliahan terlebih mengikuti ujian semester! Yang ada ialah orang-orang yang demikian serakah, sehingga tidak lagi menunjukkan sikap malu mereka dengan hendak memangsa orang lain, seperti yang pernah disebutkan oleh Bapak Hery Shietra, selaku penggasan konsep “Seni Berpikir” (Seni Pikir), “Orang baik adalah ‘mangsa empuk’ di mata orang-orang yang serakah dan egois.”

Bila sebelumnya pepatah menyebutkan, “Be a good person, but don’t waste time to prove it”, maka kini dapat kita sempurnakan menjadi “Be a good person, but don’t waste time and your money to prove it!

Bila waktu adalah uang, dan uang adalah waktu, maka artinya menjadi jelas serta tegas, kita tidak perlu memboroskan waktu ataupun menyia-nyiakan uang kita untuk membuktikan kepada dunia betapa kita adalah orang yang baik hati. Baik uang maupun waktu, adalah sumber daya yang berharga, jangan disepelekan ataupun diremehkan, serta jangan biarkan orang lain meremehkan sumber daya milik kita tersebut.

Ada yang menyebutkan, “Orang menggunakan istilah ‘Take and Give’, mengapa tidak seorang pun mengubahnya menjadi ‘Give and Take’?” Masalahnya, seringkali setelah kita “Give”, mereka akan kabur entah kemana. Seperti kata pepatah, “JIka tidak ingin resiko mengemis-ngemis ketika menagih piutang atau apa yang memang sudah menjadi hak kita, maka jangan berikan hutang ataupun pinjaman.”

Pernah terjadi, seorang dosen di kampus mendekati KWANG (tumben berkebalikan, biasanya mahasiswa yang mendekati dosen untuk menanyakan pelajaran). Ternyata, memang “ada udang di balik batu”. Sang dosen meminta agar KWANG bersedia “kerja rodi” dengan iming-iming akan diberikan project ini dan project itu, bila KWANG mau menulis buku TANPA BAYARAN untuk kepentingan si dosen, alias buku yang mencantumkan nama si dosen sebagai penulisnya. Teladan yang buruk bagi peserta didik.

Hati-hati dan waspadalah, 99,99 % dari iming-iming, dapat dipastikan adalah pintu masuk modus penipuan, manipulasi, dan eksploitasi belaka. Orang yang benar-benar akan merealisasikan, tidak pernah menebar obral iming-iming.

Kita tidak pernah butuh iming-iming, kita butuh realisasi konkret. Beruntung saat itu KWANG menolak permintaan dan tawaran iming-iming sang dosen yang meminta keringat dan jirih-payah dari KWANG tanpa bersedia memberikan kompensasi SEPESER PUN.

“Jangan menyiangi ladang orang lain, siangilah ladang sendiri. Tidak perlu mencampuri urusan orang lain, urusilah diri sendiri.” (peribahasa)

Kita tidak punya kewajiban mengurusi hidup orang lain, itu kewajiban dan urusan mereka sendiri dan masing-masing. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat!😅💬💭😇

You Might Also Like

0 comments