Manusia adalah Makhluk yang IRASIONAL

By PUBLISHER - July 10, 2021

Manusia adalah Makhluk yang IRASIONAL

Bila Aristoteles mengatakan, bahwa “manusia adalah makhluk bermain”, maka menurut pengalaman dan pengamatan KWANG, manusia ialah “makhluk (yang) irasional”.

Kita belajar, ialah dalam rangka untuk menekan sifat-sifat irasional yang melekat dalam diri kita. Kita tidaklah lahir dalam kondisi ibarat kain putih bersih, namun terlahir akibat serta dalam kondisi penuh kebodohan, dimana kebodohan merupakan sumber dari arogansi dan ketidak-bijaksanaan (ignorant). Itulah fungsi utama faktor pendidikan, memanusiakan dan memberadabkan cara kita dalam berpikir.

Seiring bertambahnya umur, tanpa melakukan proses pembelajaran, kita tidak akan menjelma menjadi pribadi yang bijaksana, justru bisa jadi menjadi lebih arogan serta tidak bijaksana. Karenanya, banyak orang dewasa yang kekanak-kanakan karena masih juga menampilkan sikap-sikap irasional dalam bermasyarakat maupun berkeluarga.

Sebagai contoh pembuka, apakah ketika kita hendak membeli barang secara “online”, bila kita tidak bertanya kepada pihak seller selaku penjual “online”, apakah deskripsi produk yang dijualnya adalah benar atau tidak sebagaimana dalam iklan produk di marketplace, maka apakah artinya si penjual tidak berdosa dan tidak menipu konsumennya bila yang dikirimkan ternyata produk dengan spesifikasi yang jauh berbeda dari deskripsi dalam iklan?

Itulah salah satu contoh daya pikir yang irasional, seolah-olah konsumen dapat dan boleh dikecoh oleh deskripsi iklan yang menyesatkan dan berbeda dari produk konkretnya. Faktanya, menjual produk yang ternyata berbeda dari apa yang diiklankan dalam brosur maupun dalam marketplace, alias berbeda dari apa yang ditawarkan dan dijanjikan, adalah perbuatan jahat yang tercela dan tergolong penipuan serta menipu konsumen.

Karenanya, calon konsumen tidak pernah perlu merepotkan diri bertanya kepada sang seller “online” : “Apakah deskripsi produk dalam iklan, benar-benar seseuai kenyataannya?” Produk nyata yang ternyata berbeda dengan deskripsi dalam iklan atau penawaran, sudah merupakan bukti konkret adanya perbuatan buruk (jahat) dan “dosa” karena mengecoh / menipu konsumen.

Contoh cara berpikir irasional lainnya, coba Sobat jawab pertanyaan berikut : Siapakah yang semestinya merasa takut, korban ataukah pelaku kejahatan? Penjahat manakah yang beruntung, penjahat yang berhasil melakukan niat buruknya, ataukah penjahat yang selalu gagal melakukan niat jahatnya tersebut?

Berbuat jahat, artinya sedang dan tengah menjahati diri sang pelaku kejahatan itu sendiri (Hukum Karma). Menanam benih Karma Buruk, memetik buah Karma Buruk. Bersikap baik, jujur, dan adil terhadap orang lain, sama artinya bersikap baik terhadap diri kita sendiri (Hukum Karma). Menanam benih Karma baik, memetik buah Karma Baik.

Kita bertanggung-jawab atas hidup serta perbuatan kita sendiri, dimana semua makhluk hidup merupakan “subject to the law of kamma”. Karenanya, tiada yang dapat benar-benar kita curangi dalam hidup ini. Karenanya juga, ketika kita gagal berbuat kejahatan, kelak kita akan merasa demikian berlega hati, karena itu artinya buah Karma Buruk tidak akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri dikemudian hari. Tiada penjahat yang lebih sial dan tidak beruntung, daripada penjahat yang selalu berhasil berbuat kejahatan.

Contoh lainnya, bila ada orang menegur Anda, tidak perduli si penegur benar atau tidaknya, Anda akan reaktif lebih galak dari si penegur atau sebaliknya, mencoba introspeksi dan berterimakasih? Bila teguran dan kritik adalah aib, mengapa juga ada tokoh atau perusahaan yang justru berkata, “Mohon input kritik sebanyak-banyaknya agar kinerja dan pelayanan kami lebih baik lagi.”

Faktanya, banyak pengusaha muda mencari mentor, untuk diberitahu kesalahan yang tidak perlu ia lakukan dan hindari, agar usahanya berjalan lancar tanpa banyak kendala. Bila si usahawan menjadi galak ketika diberi nasehat oleh sang mentor, bisa-bisa apa yang akan terjadi?

Ketika Anda bersekolah dan berkuliah, Anda membayar mahal uang sekolah / kuliah, masih juga Anda diberi tugas Pekerjaan Rumah maupun berbagai tugas di sekolah / kampus, bahkan tidak jarang disuruh-suruh oleh guru / dosen untuk menyapu sekolah hingga hal-hal lainnya. Anda bersedia.

Saat Anda bekerja magang untuk juga menimba ilmu dari seorang pengusaha, Anda mendapat dan diberi ilmu pengetahuan serta keterampilan praktis (jauh lebih berharga, bukan lagi teori non-terapan), dimana Anda bahkan tidak perlu membayar biaya belajar selama magang, namun kemudian Anda menemukan diri Anda menjadi marah karena tidak diberi upah atau hanya diberikan upah secara minim, logiskan?

Untuk menemukan jawabannya, jawablah pertanyaan berikut : Siapa yang semestinya berterimakasih dan berhutang budi? Ilmu, adalah bekal untuk seumur hidup. Upah selama sekian bulan bekerja magang, dibanding pemberian bekal untuk modal bekerja seumur hidup, manakah yang lebih berbobot?

Ketika Anda mengajak bicara seseorang atau bertanya kepada seseorang, baik Anda kenal maupun orang asing, namun mereka tidak menjawab, acuh atau tidak acuh, atau bahkan sama sekali tidak meladeni Anda, apakah Anda merasa tersinggung dan menjadi marah karena seolah-olah sedang diremehkan?

Faktanya, pahamilah bahwa setiap orang adalah individu yang bebas dan mandiri, merdeka dari perbudakan bangsa asing maupun oleh sesama bangsa sendiri. Setiap orang, punya hak untuk bebas dari setiap jenis gangguan, sehingga tiada seorang pun yang berhak untuk merampas kemerdekaan orang lain untuk berbicara maupun untuk tidak berbicara.

Setiap orang, mereka, orang-orang yang kita ajak bicara atau tanyakan, tanpa terkecuali, sejatinya memiliki hak untuk tidak menjawab, hak untuk memilih diam, hak untuk tidak merespons, hak untuk bebas dari segala jenis gangguan warga lainnya yang semua diantara kita ialah sama derajatnya di mata hukum, alias tiada kasta seolah orang lain harus tunduk pada kemauan dan kehendak kita untuk bicara atau untuk tidak bicara.

Bahkan, seorang polisi sekalipun ketika menangkap seorang tersangka, akan memberikan kalimat berikut : “Anda punya hak untuk tetap DIAM!” (you have right to remain SILENT!) [Miranda Rule, norma hukum bentukan preseden praktik hukum pidana di Amerika Serikat.]

Ketika Anda melakukan kesalahan secara disengaja ataupun akibat kelalaian, sehingga melukai ataupun merugikan orang lain, lantas orang lain tersebut memarahi dan memaki kita, maka apakah yang akan Anda lakukan, berkelit, putar balik fakta, “maling teriak maling”, atau justru balik memaki dan memfitnah orang tersebut?

Faktanya, satu buah kesalahan sudah terlampau banyak. Kita tidak perlu menambah kesalahan dengan membuat kesalahan baru, karena itu artinya kita tidak menyesali perbuatan keliru yang kita perbuat. Itulah juga yang sering disebut oleh Bapak Hery Shietra, pencetus konsep “Seni Berpikir” (Seni Pikir) sebagai “Kesalahan MARATHON”, dimana satu kesalahan berlanjut pada kesalahan baru dan bergulir dengan kesalahan lainnya yang kian menggunung bagai bola es salju yang menggelinding kian membesar.

Contoh lain, ketika kita melakukan kekeliruan sehingga membuat orang lain menderita kerugian atau bahkan terluka dan sakit, maka apakah yang akan kita lakukan, segera bertanggung-jawab atau mencoba mencari alibi untuk berkelit dari tanggung-jawab secara sedemikian rupa, atau bahkan melakukan aksi “putar-balik logika moril” penuh manipulasi sehingga sang korban yang justru merasa paling bersalah dalam kejadian tersebut?

Faktanya, ketika kita menipu seseorang, maka adalah wajar bila suatu ketika kita akan tertipu dan ditipu oleh orang lain, hanya persoalan waktu. Semisal, kita menjual barang yang ternyata mengandung cacat tersebunyi maupun yang cacat produknya secara terang-terangan (seperti yang kerap terjadi pada era jual-beli secara “online” maupun “offline”). Konsumen tidak berdaya, karena kita berkelit dengan cara pandai bersilat-lidah dengan niat buruk untuk tidak bertanggung-jawab sekalipun kita selaku konsumen membayar dengan uang yang utuh dan penuh.

Pertanyaannya, tidak selamanya kita menjual, akan ada saatnya kita membeli makanan, membeli sandang dan papan maupun kendaraan, membeli produk elektronik, dan lain sebagainya, maka apakah kita dapat berkelit dari buah Karma Buruk akibat perbuatan yang kita tanam lewat perbuatan kita terhadap orang lain? Suatu saat, si penjual / pedagang yang tidak bertanggung-jawab, akan mendapati dirinya membeli dari pedagang lainnya yang tidak kalah tidak bertanggung-jawabnya.

Faktanya, ketika kita berdagang dan berusaha maupun berjualan secara jujur, maka itu sejatinya ialah demi kebaikan diri kita sendiri di masa yang akan datang, karena sebagaimana disebutkan oleh Sang Buddha:

“Kita adalah pewaris perbuatan kita sendiri, kita terlahir dari perbuatan kita sendiri, kita berkerabat dengan perbuatan kita sendiri, kita berhubungan dengan perbuatan kita sendiri, kita terlindungi (maupun dicelakai) oleh perbuatan kita sendiri.”

Membuat konsumen puas dan tidak dikecewakan, bahkan dibuat melampaui espektasi konsumen yang rela membayar sejumlah uang untuk membeli dan memberikan kepercayaan bagi kita, itu sama artinya kita sedang investasi bagi masa depan diri kita, agar ketika kelak kita membeli sesuatu sebagai konsumen, kita pun tidak dikecewakan dan akan dihargai status kita selaku konsumen yang telah membayar harga barang atau jasa.

Pernah terjadi, KWANG membeli sebuah buku di sebuah toko buku ternama di Indonesia (Toko Buku Gunung Agung Universitas Trisakti), harga yang tidak tergolong murah untuk sebuah buku asli (setara satu hari kerja karyawan kantoran), dimana KWANG membeli di toko buku resmi dengan harapan mendapatkan buku yang resmi, asli, dan bermutu. Ternyata, setelah KWANG pulang dan membuka sampulnya untuk memeriksa kelengkapan halaman isi dari buku, terdapat puluhan halaman yang cacat karena tidak lengkap, alias terdapat cacat tersembunyi.

Keesokan harinya, KWANG kembali ke toko buku tersebut untuk meminta buku pengganti yang bebas dari cacat. Telah ternyata, pihak toko buku selaku penjual menolak menggantinya, bahkan menggerutu bahwa pihak toko buku akan merugi bila buku cacat yang mereka jual dikembalikan atau ditukar oleh pembeli.

Inilah yang KWANG katakan dalam hati, “Jika dari awal tahu bahwa buku yang dijual toko buku ini adalah CACAT, dan pihak toko buku selaku penjualnya adalah TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, maka saya TIDAK AKAN MEMBELINYA terlebih untuk sudi membayar dengan harga semahal itu dengan uang yang asli, utuh, serta penuh!

Pihak toko buku, berkelit sedemikian rupa, dan melimpahkan semua “resiko usaha” mereka kepada konsumen, dimana pihak toko buku “mau menang sendiri” dengan bersikap “mau untung sendiri” dengan mengorbankan kepentingan konsumen yang selalu dirugikan serta dikorbankan.

Secara akal sehat dan faktanya, pihak toko buku tidak perlu memusingkan betapa KWANG atau keluarga KWANG bersusah-payah mencari uang untuk membeli buku tersebut dengan harga yang tidak murah, juga KWANG membeli dengan uang yang asli, utuh, serta penuh, sehingga selaku konsumen KWANG berhak juga atas produk jual-beli yang asli, utuh, serta penuh bebas dari segala cacat tersembunyi.

Sehingga pula, urusan resiko usaha pihak toko buku, bukanlah urusan konsumen, terlebih untuk dipusingkan oleh pihak konsumen, selain mencerminkan betapa tidak profesionalnya pihak toko buku yang ingin untung besar dengan mengorbankan kepentingan konsumennya sendiri.

Pihak toko buku membeli putus dari distributor buku atas buku-buku yang mereka jual (karena tidak lazim, toko buku setenar Gunung Agung menolak retur buku cacat yang mereka jual), dengan keuntungan diskonto yang tinggi, bukan sistem konsinyasi dimana pihak distributor hanya numpang titip dijualkan bukunya seperti pada Gramedia, namun alih-alih “ingin untuk lebih besar dengan resiko usaha lebih tinggi”, justru segala resiko usaha pihak toko buku secara tidak adil dilimpahkan kepada pihak konsumen, sehingga apapun yang terjadi, pihak toko buku yang selalu diuntungkan dan konsumen yang selalu dirugikan.

Contoh lainnya, bila Anda seorang kurir pengantar paket, maka apakah cara yang benar ketika Anda telah tiba pada alamat penerima paket, berteriak keras sembari membunyikan klakson : “PERMISI, PAKET!!! PERMISI, PAKET!!! TIT TIT TIT, PAKET! PERMISI!

Teriakan tersebut membahana bisa sejauh seratus meter radiusnya, dan dalam sehari bisa hilir-mudik belasan kurir pada wilayah pemukiman kita mengantarkan paket pada warga setempat.

Alhasil, seluruh tetangga menjadi terganggu konsentrasi, istirahat, hingga aktivitasnya, bahkan merepotkan diri keluar rumah untuk melihat dan bertanya-tanya, “Paket untuk rumah yang mana, saya atau tetangga lainnya di sebelah / seberang rumah?”

Ternyata, paket untuk tetangga sebelah rumah kita, kita pun geram dan kesal karena telah diganggu disamping dipermainkan, untuk kesekian kalinya. Akibatnya, ketika terdengar lagi bunyi teriakan serupa, menjadi tidak kita hiraukan, karena alam bawah sadar dan otak serta telinga kita telah memblokirnya, dan sialnya, ternyata pada kesempatan berikutnya, bisa jadi itu adalah paket untuk alamat kediaman kita dan tidak kita hiraukan!

Satu kali kejadian, bisa kita bersabar. Setiap hari terjadi selama satu minggu, satu bulan, masih bisa kita bersabar sembari mengelus dada. Namun, bila dalam satu hari terjadi lebih dari satu kali dan selama lebih dari satu tahun, maka jangan heran bila kelak seorang kurir yang berteriak-teriak "PERMISI, PAKET! PERMISI, PAKET!!!", akan ditimpuk batu bata oleh warga yang selama ini merasa sering terganggu.

Salah siapa, jika sudah seperti itu? Warga yang terganggu, jelas adalah korban. Salah si kurir semata? Tidak juga, si pemanggil kurir punya kewajiban moril untuk menegur si kurir agar tidak melakukan kesalahan serupa dikemudian hari.

Untuk "self test", apakah kita lebih condong rasional atau justru lebih berorientasi irasional cara kita berpikir, maka cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut, secara sejujur mungkin dan secara se-spontan mungkin : Apa yang ada di benak Anda, ketika Anda berhadapan dengan orang baik? Menjadikannya "mangsa empuk" atau justru bersikap sama baik terhadapnya dan melestarikan orang baik tersebut?

Faktanya, pepatah telah lama mengingatkan dan memberi nasehat berikut : "Be a good person, but don't waste your time to prove it." Bila Anda menjadi orang baik di luar sana, ada kemungkinan Anda akan dimangsa hidup-hidup karena Anda akan dipandang semata sebagai "mangsa empuk" dan karenanya itulah orang-orang baik lebih cenderung untuk punah secara cepat di tengah-tengah masyarakat kita dewasa ini, terutama di Indonesia.

Contoh cara berpikir irasional lainnya, ketika kurir mengantarkan paket pembelian kepada Anda dengan selamat dan utuh di tujuan, maka Anda ataukah sang kurir yang perlu mengucapkan terimakasih? Jangan lupa, yang membayar ongkos kirim ialah konsumen, dan “konsumen adalah RAJA!” Penyedia jasa kurir, harus bersabar kepada konsumen, karena konsumen adalah RAJA. Bagaimana mungkin, raja yang harus bersabar dan menunggu dengan sabar?

Contoh lainnya, jika Anda seorang kurir pengantar barang atau paket, saat Anda tiba dan penghuni rumah tidak segera keluar, apakah Anda merasa geram dan kesal karena pada detik itu pula si pemilik rumah tidak segera membuka pintu pagar untuk menerima paket kiriman? Si kurir bahkan sembari berkata, “Jangan pakai lama-lama, ya!”

Ingat, itu “resiko usaha” Anda selaku pelaku usaha jasa kurir pengiriman paket, bukan resiko konsumen. Konsumen sudah membayar penuh dan utuh ongkos kirim, dan Anda selaku kurir tidak perlu memusingkan bagaimana sang pembayar tarif ongkos kirim mencari uang dengan susah-payah untuk dapat membayar ongkos, karenanya “resiko usaha” sebagai kurir perlu disadari oleh setiap pribadi yang berprofesi sebagai kurir pengantar paket.

Sadari pula, mereka, para konsumen, adalah pembayar, bukan diberi secara cuma-cuma. Janganlah “durhaka” pada konsumen pembayar tarif ongkos jasa untuk nafkah penyambung hidup sang kurir. Sadarilah, Anda datang secara mendadak dan secara tiba-tiba tanpa pernah sebelumnya sepakat akan datang dan tiba pada tanggal berapa dan pada pukul berapa tepatnya, sehingga wajar bila tuan rumah, katakanlah, sedang berada di toilet atau beristirahat tidur atau bahkan mandi!

Singkatnya, karena serta mengingat sang pembayar ongkos kirim serta pemilik paket BUKANLAH SEORANG SATPAM yang profesinya ditugaskan untuk menjaga gerbang pagar 24 jam dalam sehari di depan rumah sehingga siap selalu menyambut sang kurir setibanya ia di depan rumah, maka adalah wajar bila tuan rumah butuh waktu untuk “take their time” dalam rangka bersiap-siap menyambut sang kurir.

Pernah diberitakan, seorang satpam (tenaga keamanan) di sebuah kantor kementerian di Indonesia, menusuk seorang pejabat di kantor kementerian tersebut karena sang satpam dipecat sehingga kehilangan pekerjaannya. Dengan mengatas-namakan dendam karena dipecat. Namun, pertanyaannya, apakah itu logis?

Faktanya, secara lebih rasional, dipecat bukanlah “kiamat” bila diri yang bersangkutan mau bersikap kreatif, tidak terjebak dalam “zona nyaman”, tanpa mau introspeksi mengapa dirinya bisa sampai dipecat. Kedua, selama ini dirinya diberi nafkah berupa upah selama ia bekerja sebagai seorang pegawai, pernahkan ia berterimakasih?

Jika saja kita bisa tahu sang satpam memiliki karakter kriminil, tentu dari sejak awal tidak akan kita pekerjakan, dan memang sudah tepat sedini mungkin yang bersangkutan dipecat. Justru, sikap sang satpam, mengukuhkan kebenaran betapa perlunya sang satpam diberhentikan dari pekerjaannya karena tidak bertanggung-jawab disamping tidak bermoral.

Balas air susu, dengan menyakiti. Bahkan, KWANG mendapati alam batin sebagian masyarakat di Indonesia, memiliki cara berpikir yang demikian irasional, yakni orang akan merasa senang ketika disakiti dan dirugikan. Bila dirinya sendiri tidak suka serta menolak disakiti dan dirugikan, lantas atas dasar apa ia berasumsi bahwa orang lain akan senang bila disakiti dan dirugikan? Namun itulah realita masyarakat di Indonesia. Tidak ada orang, yang sebodoh itu dengan senang hati disakiti dan dirugikan, terlebih dimanipulasi dan dieksploitasi.

Irasional, kembali pada contoh kasus kurir “online” pengantar paket, ketika kediaman penerima paket diketok atau ketika dipanggil, tidak kunjung menyahut, si kurir sabaaar banget menunggu dan memanggil-manggil, berharap si tuan rumah ada di tempat, makanya jadi sabar dan bersyukur bila si penerima ada di dalam rumah, lalu sampai diteleponin segala.

Tapi, jika seketika tuan rumah menyahut pas sang kurir datang, lalu keluarnya agak lama karena satu dan lain hal (tuan rumah bukan satpam yang menunggu 24 jam di depan pagar rumah), terutama disaat wabah sehingga butuh persiapan mengenakan alat pelindung diri, si kurir justru bersikap tidak sabaran. Bila ada diantara kita yang berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang rasional, Anda keliru!

Bila Anda mempercayai semua yang Anda baca, lebih baik jangan membaca.” (Peribahasa Jepang)

Dulu, ketika masih sangat muda dan sok pintar karena rajin baca koran, pernah membaca sebuah tulisan di koran Kompas, koran yang dianggap sebagai harian paling bergengsi di Indonesia, terdapat sebuah tulisan pada bagian “klasika” oleh penulis yang tidak jelas nama maupun asal-usulnya, menyebutkan bahwa “Meminum terlalu banyak air minum tidaklah baik bagi kesehatan.”

Tulisan tersebut, benar-benar KWANG percayai dan yakini secara bulat-bulat dan mentah-mentah (secara bodohnya), dan jadilah KWANG hanya meminum sedikit air minum setiap harinya sehingga mudah jatuh sakit karena dehidrasi memincu turunnya sistem imun tubuh. Meski begitu, sekalipun keluarga telah berulang-ulang mengingatkan agar banyak minum air putih, dan dokter sekalipun berkata demikian, KWANG muda bersikukuh pada keyakinan dan pendiriannya seperti semula.

Setelah tumbuh dewasa dan mencari informasi yang lebih kompeten, barulah KWANG ketahui bahwa yang tidak boleh banyak minum air ialah mereka yang punya masalah pada organ ginjalnya. Sama seperti kesalahan (salah kaprah) yang kerap kita jumpai pada lazimnya di masyarakat, bahwa meminum cairan yang asam seperti lemon atau jeruk nipis, dapat merusak lambung. Benarkah?

Ternyata, dokter yang lebih kompeten menjelaskan, untuk menjaga kenormalan ekosistem dan untuk menjaga tingkat keasaman lambung, kita justru perlu rutin meminum cairan yang asam seperti yang disebutkan di muka. Namun, ketika lambung sudah terluka kerena tidak dijaga kenormalan asamnya, barulah lambung menjadi sensitif asam dan tidak boleh lagi diberi cairan yang asam.

Sudah begitu banyak kalangan medik melaporkan, bahaya dibalik kegiatan “membakar uang” berupa menghisap asap bakaran tembakau (maupun asap dupa, dimana polusi dalam ruang dapat tidak kalah berbahaya daripada polusi luar ruang), baik aktif maupun pasif. Akibat delusi, masyarakat kita gemar menantang nasib, dengan tetap menghisapnya sekalipun dokter telah memvonisnya mempunyai kanker stadium akhir.

Sang pasien, tetap bersikukuh dan berkilah, “Saya sudah mau di ujung hayat, biarkan saya menikmati sisa hidup saya dengan menikmati nikotin ini. Belum tentu besok saya masih hidup, jadi biarkan saya menghisap dan menikmatinya. Jangan larang saya lagi, sudah stadium akhir, lagipula.” Ia sekarat akibat nikotin, masih juga bersekutu pada nikotin menjelang ajalnya. Bukankah itu namanya bunuh diri?

Banyak pula penghisap asap nikotin itu yang sudah menghisapnya selama puluhan tahun, merasa tetap sehat-sehat saja, karenanya meremehkan dampak serta efek negatifnya kepada dirinya sendiri maupun menyepelekan kesehatan para penghisap pasifnya.

Faktanya, jika saja mereka tidak mempunyai kebiasaan mencandu demikian, bisa jadi ia berumur lebih panjang dan jauh lebih segar bugar serta perkasa, disamping lebih kreatif. Semata karena menyepelekan ancaman atau dampak kesehatan dibalik produk tembakau, ia pun menyepelekan hak atas kesehatan orang lain dengan dijadikan penghisap pasif tanpa sikap bertanggung-jawab dengan memungkiri semua laporan medik perihal bahaya yang tersembunyi dibalik asap bakaran tembakau.

Satu hal lagi, yang paling KWANG tidak sukai dari para pecandu tembakau tersebut, puntungnya yang dalam kondisi menyala kerap diayun-ayunkan dengan ujung jari mereka (terutama ketika mereka sedang mengobrol dengan para pecandu tembakau lainnya) dan dalam beberapa kejadian hampir mengenai dan melukai bola mata KWANG yang lewat melintas.

Pernah juga terjadi, sebuah truk diparkir di pinggir sebuah jalan yang KWANG lintasi dengan berjalan kaki di Jakarta, Indonesia. Ternyata, sang supir menghisap bakaran tembakau di dalam kursi mobil truknya dan puntungnya yang menyala dijulurkan keluar seolah-olah jalanan di samping truk terparkir itu ialah asbak.

Kurang dari lima sentimeter jaraknya dari puntung yang menyala dari jari tangan si supir bak preman itu dengan bola mata KWANG yang melintas di samping truk. KWANG kemudian berdiri di depan truk, lalu menatap sang supir, dan sang supir justru memasang sikap tubuh hendak menantang berkelahi.

Orang Indonesia sejahat itu? Ya, sejahat itu, bahkan tidak jarang lebih jahat dari yang kita bayangkan, egois, tidak bertanggung-jawab, gemar bermain kekerasan fisik untuk menyelesaikan setiap masalah, disamping suka merampas hak orang lain. Kita harus bersikap rasional dan mengakui, bahwa orang Indonesia adalah benar-benar sejahat itu.

Minta maaf pun mereka, tidak, meski ia telah membuat mata KWANG berpotensi terluka dan buta. Jika KWANG tegur, dipastikan masyarakat di Indonesia yang ditegur justru akan lebih galak daripada yang menegur. Biarlah, ia terus-menerus menanam Karma Buruk dan celaka oleh perbuatan mereka sendiri. Semakin sering ia melakukan kejahatan seperti melukai, menyakiti, ataupun merugikan orang lain, semakin dalam lubang kubur mereka digali ke dasar alam neraka.

Ada pula orang-orang yang kecanduan alkohol maupun obat-obatan terlarang, dengan alasan hidupnya tidak bermakna karena tidak memiliki apapun dalam hidupnya ini. Bertahun-tahun kemudian, ketika karirnya melonjak dan ia telah memiliki pasangan hidup berumah-tangga bahkan putera-puteri yang manis, ternyata sifat mencandunya tetap melekat hebat bahkan menjadi-jadi.

Artinya, semua itu hanyalah “alasan” atau sebagai “pembenaran diri” untuk terus tenggelam dalam aktivitas mencandu. Mereka, menyalahkan kehidupan yang memang tidak memuaskan ini, sebagai yang paling bertanggung-jawab (baca : mengkambing-hitamkan) atas derita yang ditanggungnya sehingga jatuh dalam jeratan candu demikian.

Namun, setelah dunia ini berbaik hati dan melunak pada dirinya, apakah ia melepaskan diri dari candu itu? Fakta telah berkata, tidak sama sekali. Mereka akan terus-menerus mencari-cari alibi baru lainnya, dan mereka sangat pandai untuk itu. Otak mereka telah disabotase (menurut pengakuan mereka) oleh candu dan madat, meski sebenarnya mereka yang menyabotase candu tersebut sebagai alibi.

Saya telah kecanduan barang sialan jahat terkutuk ini. Dengan demikian saya adalah korban. Saya semestinya diberi pertolongan semisal rehabilitasi!”, demikian para pecandu berkilah mencari pembenaran diri serta alasan pembenar kegemaran mereka. Semua orang sudah tahu bahaya candu tembakau, alkohol, maupun obat-obatan terlarang, namun bila masih nekat mencoba-coba memakainya, itu sama artinya menjebloskan dirinya sendiri. Salah siapa?

Mengeluh, adalah perilaku yang kerap kita jumpai pada diri sendiri maupun para orang-orang terdekat kita. Mengapa sikap mengeluh, tergolong irasional? Faktanya, semua orang juga tunduk pada tiga corak kehidupan, yakni : dukkha (ketidakpuasan), anicca (ketidakkekalan), serta anatta (tanpa inti diri).

Karena semua individu serta setiap makhluk hidup yang masih berkondisi, tunduk pada corak kehidupan yang salah satunya ialah “dukkha”, maka jangan heran bila orang-orang paling kaya di dunia ini pun masih hidup dalam ketidak-puasan. Karenanya pula, janganlah bersikap seolah-olah hanya Anda yang merasakan derita dalam hidup ini, lalu mengeluh pada setiap orang atau kepada anggota keluarga, karena semua orang juga mengalami “dukkha”!

Donald Trump, milioner sekaligus bisnis real estate di Amerika Serikat, memiliki lebih dari satu istri yang cantik, pernah terpilih sebagai orang nomor satu di USA, sebagai presiden, namun hidupnya masih juga terobsesi untuk menjadi presiden untuk kedua kalinya serta bila perlu menjadi presiden untuk seumur hidupnya seperti kasus Presiden Sukarno dan Presiden Suharto di Indonesia.

Sebagai penutup meski bukan yang paling akhir, kisah berikut cukup mengilustrasikan betapa irasionalnya umat manusia. Sebuah buku yang pernah KWANG baca perihal kecanduan obat-obatan terlarang, seorang jurnalis dari New York Times mewancara seorang gadis remaja yang menjadi tunawisma (gelandangan) yang berbaju lusuh, gigi yang rusak, menggigil seperti kedinginan sepanjang siang hari dibawah terik mentari yang panas, dan penampilannya memprihatinkan.

Orangtua sang gadis pecandu obat-obatan terlarang tersebut, merupakan bankir yang makmur, namun sang gadis memilih untuk kabur dari rumah agar dapat terus mengkonsumsi obat-obatan terlarang dari satu sudut jalan ke sudut jalan dengan menggelandang, tidur di sembarang tempat dengan alas seadanya. Keadaannya, memprihatinkan.

Kepada sang jurnalis, sang gadis menuturkan pengakuan berikut : “Jika saya bisa mengulang kehidupan dan kembali ke masa lalu, maka saya akan tetap memilih untuk memakai barang madat yang sama ini.” Ia merasa membuat pilihan hidup, meski faktanya adiktif sang candu yang telah mendiktekan hidupnya dan membajak otaknya.

Banyak KWANG jumpai, para pecandu tembakau, merasa dirinya adalah mampu menguasai tembakau tersebut, membuat pilihan kapan akan menghisapnya dan kapan tidak menghisapnya. Faktanya, mereka menjadi demikian pandai menipu orang lain tidak terkecuali menipu dan membohongi dirinya sendiri.

Mereka, bahkan telah sampai pada tahap benar-benar diperbudak zat candu yang adiktif sehingga bahkan menyetir dengan menyebut di jalan tol sembari menghisap bakaran tembakau (orang yang sama dan di hari yang sama, dengan yang membuat klaim bahwa dirinya yang menguasai tembakau tersebut, bukan sebaliknya).

Itulah sebabnya, seorang penghisap bakaran tembakau, perlahan namun pasti jika tidak menjadi seorang pendusta, maka akan menjelma menjadi seorang agresif tanpa ia sendiri sadari. Polanya selalu sama KWANG jumpai pada para pecandu tembakau mana pun, menjadi putus urat takutnya untuk berbuat amoral dan pandai mencari-cari alibi untuk menjadi alasan pembenar setiap perilakunya yang sekalipun jelas-jelas keliru.

Anda yang merupakan pecandu tembakau, mungkin tersinggung, namun itulah faktanya, APA ADANYA. Terlebih pecandu obat-obatan terlarang, perubahan karakter lebih dramatis dan lebih konstras lagi, dari orang lemah-lembut menjelma penuh kekerasan, tempramental, suka bermain kekerasan fisik, kasar, dan tidak moralis (kriminil, tidak takut berbuat dosa).

Mengapa manusia dapat menjadi demikian irasional dan tidak logis, bahkan cenderung menyakiti dirinya sendiri? Jauh sebelum ini, lebih dari 2.500 tahun yang lampau, Sang Buddha telah menjawabnya, karena “Anatta!

Jika manusia adalah makhluk yang irasional, setidaknya jangan terlampau irasional, harus ada daya berpikir logis yang dapat dan perlu kita latih serta kembangkan agar kita hidup secara lebih bertanggung-jawab terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. itulah peran utama pendidikan serta pembelajaran moralitas, agar manusia “tidak bodoh-bodoh amat”, dan bisa lebih arif serta bijaksana. Karenanya, manusia tidak terlahir dalam kondisi putih bersih dan polos, namun terlahir dalam kondisi “bodoh”.

Satu hal terakhir, yang paling tidak mengenakkan ketika kita menghadapi orang-orang tidak logis serta irasional ialah, kita kerap-kali harus mendebat dan berdebat terlebih dahulu, bahkan debat sengit, dimana ketika yang kita debat lalu mengalami kekalahan, maka mereka masih saja bersikap irasional dengan bermain kekerasan fisik, dimana seolah-olah “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik” telah menjadi budaya sebagian masyarakat di Indonesia yang tidak akan kita jumpai di Thailand.

Itulah, perbedaan budaya sosial yang sangat kontras antara masyarakat di Thailand dan di Indonesia, menurut pengalaman KWANG. Setidaknya, orang-orang di Thailand tidak suka bermain kekerasan fisik terlebih arogan ketika ditegur, sehingga kita bisa merasa lebih "secure" ketimbang seperti di Indonesia, kita senantiasa merasa "insecure" di dekat orang-orang Indonesia.

Memang, kejahatan dan kriminil ada di setiap negara, namun setidaknya masyarakat di Thailand lebih humanis, lebih beradab, serta lebih “takut dosa”, mengingat Buddhisme yang menjadi budaya mentalitas masyarakat Thai, mengedepankan pemahaman mengenai “Hukum Karma”, sehingga kita bisa lebih bertanggung-jawab atas hidup diri kita sendiri maupun ketika bermasyarakat. Menyakiti, akan disakiti. Melukai, akan dilukai. Merugikan, akan dirugikan.

Punya komentar, kritik, atau pendapat lain, bagikan opinimu di kolom komentar. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat!😅💬💭😇

  • Share:

You Might Also Like

0 comments