Merekayasa Budaya Sosial dengan Sistem Rating, MERITOKRASI, Tidak akan Ada Lagi yang Berani Coba-Coba Bersikap Nakal

By PUBLISHER - July 02, 2021

Merekayasa Budaya Sosial dengan Sistem Rating, MERITOKRASI, Tidak akan Ada Lagi yang Berani Coba-Coba Bersikap Nakal
 

Dulu, jauh sebelum era “ojek online” seperti sekarang ini, KWANG merasa terpaksa menggunakan jasa “ojek offline” yang mangkal biasanya di bawah halte dan terminal. Rata-rata para driver ojek “offline” tersebut bersikap tidak ramah, tidak sopan, arogan, serta “kotor” alias “kucel” dan tidak berorientasi pada kepuasan konsumen pembayar tarif / ongkos.

Semata-mata, karena mereka memandang serta menyadari bahwa “daya tawar” sang pengguna jasa lebih rendah daripada mereka, karena tiada moda transportasi lain untuk bisa ke rumah dari jalan raya selain para tukang ojek “offline” tersebut, sehingga praktis daya tawar yang lemah dari konsumen diperdaya oleh para tukang ojek “offline” tersebut untuk bersikap sesuka hati dan seenaknya terhadap konsumen. Bukan “konsumen sebagai raja”, namun “merajai konsumen”.

Kini, bagai berubah seratus delapan puluh delapan derajat, terutama ketika telah munculnya inovasi teknologi semacam “ojek online”, budaya tukang ojek kita berubah, dimana sejak para pengemudi ojek “online” hadir maka perlahan namun pasti para tukang ojek “offline” surut dan “mati perlahan-lahan” ditinggal pergi oleh pelanggannya karena pindah ke lain hati, sampai akhirnya tidak eksis lagi.

Mengapa? Karena tiada lagi konsumen / pengguna jasa yang berminat menggunakan jasa mereka, kalah bersaing dengan pelayanan prima berbasis kepuasan konsumen sebagaimana diusung konsep “reward and punishment” tersebut oleh “ojek online”. Tanpa eksistensi dan kemunculan “ojek online”, para tukang ojek “offline” akan selalu “besar kepala” seperti sebelumnya, menginjak-injak kepala konsumennya sendiri.

Kini, pilihan ada di tangan calon pengguna jasa, sehingga pilihannya tidak lagi hanya satu, “ojek offline”, namun juga tersedia “ojek online”, alias tidak ada lagi monopoli para tukang ojek “offline” yang dahulu kala merajai jalanan, membuat daya tawar mereka demikian kuat di mata konsumen maupun calon pengguna jasa.

Pelayanan prima, keramahan, terukur (tarif jelas), memiliki indikator yang transparan (berupa sistem rating), mengedepankan meritokrasi (yang rating rendah, akan kalah bersaing dan ditinggal konsumen, sehingga orientasinya ialah kepuasan konsumen), dan sikap yang benar-benar menjadikan “konsumen adalah raja”, terjadi dalam praktik dunia “ojek online”, semata karena sistem atau aturan main yang berlaku ialah “reward and punishment”. Budaya yang berlaku ialah budaya meritokrasi, bukan lagi budaya monopoli usaha dan arogansi yang tidak terbuka, tidak akuntabel, dan tidak transparan semacam ojek “offline” saat era konvensional pra digital.

Ketika para “ojek online” telah memberikan pelayanan terbaiknya, diantar tiba pada tujuan dengan selamat serta utuh, mereka, para driver “ojek online”, biasanya akan menyatakan kepada konsumennya, “Jangan lupa beri BINTANG-nya, ya!” Itulah yang mereka kejar, asas keterbukaan MERITOKRASI, yakni “reward and punishment” yang mereka sadari betul kepentingan dan keperluannya bagi mereka. Akibatnya, daya tawar ada di tangan konsumen.

Dengan demikian, terjadi sistem “reward and punishment” dalam rangka menumbuh-kembangkan budaya meritokrasi, dimana driver “ojek online” yang memiliki rating tinggi akan diminati banyak calon pengguna jasa, sementara driver “ojek online” yang memiliki tingkat feedback rating yang rendah dan tidak berjiwa melayani, akan sepi dan ditinggalkan oleh calon konsumen manapun.

Mereka memberikan pelayanan prima sebagaimana hak konsumen pengguna jasa, demi mengejar “reward” sekaligus menghindari “punishment” disaat bersamaan bila konsumen tidak puas. Dengan demikian, tiada lagi praktik arogansi layaknya “ojek offline” yang kini telah punah sepenuhnya tidak sampai satu dekade sejak kemunculan “ojek online” karena ditinggalkan konsumennya yang sudah sejak lama memendam kecewa namun tiada pilihan lain pada saat era konvensional itu.

Sama halnya, berbagai transportasi umum konvensional yang tidak manusiawi kepada penumpangnya, mulai kehilangan peminat dan pelanggan, karena terdapat alternatif lain yang lebih manusiawi dan lebih mengedepankan budaya meritokrasi seperti “pemesanan ojek mobil secara online” yang lebih pasti dari segi kepuasan, daripada “beli kucing dalam karung”.

Begitupula praktik jual-beli secara online, dimana antara penjual dan pembeli tidak saling bertatap-muka, namun pedagang nakal yang mencoba merugikan konsumennya akan berakibat diberi “punishment” berupa rating yang buruk sebagai feedback, yang pada gilirannya akan ditinggalkan para calon konsumen oleh ulasan penuh kekecewaan oleh para konsumennya yang merasa dikecewakan.

Dengan demikian, penyedia jasa yang mencoba-coba untuk bersikap selayaknya era “offline”, yakni arogan, kasar, sok berdaya tawar tinggi, tidak ramah kepada pengguna jasa, bak preman, sok jual mahal, tidak berorientasi pada kepuasan konsumen, pelayanan yang ala kadarnya bahkan kerap tidak manusiawi (seolah penumpang ialah hewan ternak), dan sikap-sikap negatif lainnya, tidak akan mampu bertahan dan akan tersisih dari dunia persaingan usaha saat era telah berubah menjadi “online”.

Kini, yang menjadi pertanyaan utama KWANG, mengapa sistem meritokrasi yang sama, yakni pemberian rating sebagai rangka “reward and punishment”, tidak kita terapkan kepada seluruh anggota masyarakat kita sebagai bagian dari identitasnya dalam kehidupan sehari-hari?

Memang, selama ini sejak era “offline” sudah yang namanya “Surat Keterangan Catatan Kepolisian”, yang biasanya dipersyaratkan ketika warga di Indonesia hendak mengikuti seleksi calon Pegawai Negeri Sipil, dimana bila ternyata memiliki catatan kriminalitas pada rekam jejak sang calon pelamar, maka dapat menjadi “dis-insentif” bagi yang bersangkutan untuk dapat lolos diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Sejak bergulir era “online”, melacak rekam jejak seseorang warga dapat lebih memudah kita dan niscaya, oleh masyarakat umum dan publik luas, lakukan lewat publikasi berbagai putusan pengadilan, baik perdata maupun pidana, untuk mencermati serta “Due Diligence” rekam-jejak sengketa hukum yang pernah terlibat oleh seseorang warga.

Seseorang bisa jadi mengklaim dirinya orang baik, bebas dari segala jenis cela maupun noda, atau bahkan sebagai orang suci, sebagai calon suami / istri yan setia, guru yang kompeten, calon pemimpin yang jujur, namun fakta empirik dapat dan seringkali berkata secara bertolak-belakang dari klaim diri yang bersangkutan, sehingga tiada lagi gunanya mengenakan topeng penuh kepalsuan, semua serba transparan dan akuntabel, meritokrasi.

Jika saja setiap orang, oleh setiap warga masyarakat, dapat diberikan dan dilekatkan sistem meritokrasi dengan sistem rating serupa, maka kemana pun ia pergi dan berada, akan ada ulasan serta rating perihal dirinya. Dapat dipastikan, bila itu benar-benar dapat menjadi instrumen cerdas dalam rangka merekayasa wajah Bangsa Indonesia, berkat sistem rating yang menerapkan skema “reward and punishment” secara transparan kepada publik luas.

Sebagai contoh, seseorang hendak meminjam sejumlah dana dari kita, dan kita mendapati rating yang bersangkutan adalah “sangat buruk” serta ditambah ulasan oleh warga lain bahwa sang calon peminjam dana ialah orang yang kerap ingkar janji untuk mengembalikan uang pinjaman.

Alhasil, kita pun akan tertolong dari kemelut pinjam-meminjam bersama orang yang suka ingkar janji demikian. Dalam cara yang sama, dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk benar-benar mematuhi janji yang telah dibuat olehnya untuk melunasi secara tepat waktu sesuai kesepakatan semula tanpa perlu ditagih-tagih oleh sang kreditor. Memang skema tersebut telah diterapkan dalam sistem perbankan dan lembaga keuangan, namun sistem tersebut tidak dapat diakses oleh masyarakat luas dan hanya dapat dinikmati informasinya oleh kalangan terbatas.

Contoh lainnya, seseorang berbaju formal lengkap dengan setelan jas rapih dan dasi, sepatu tersemir, rambut tertata rapih bersih, datang menawarkan proposal investasi dengan imbal hasil yang menarik. Daya bicara serta cara meyakinkan sang tamu ini demikian meyakinkan, sehingga hati kita tergerak untuk menyambut tawaran investasi yang bersangkutan.

Tanpa sistem rating dalam rangka meritokrasi, tiada terjadi skema “reward and punishment”. Akibatnya, kita tidak dapat mengetahui apakah sang tamu yang menawarkan kerjasama investasi, adalah seorang penipu ataukah memang pencari investor yang benar-benar profesional dan bonafid untuk disambut dan dipercayai.

Disaat bersamaan, sang pencari investor akan benar-benar bersikap profesional dalam rangka mengejar “reward” berupa rating yang tinggi diberikan oleh pengguna jasa serta terhindar dari “punishment” berupa pemberian rating yang rendah hingga ulasan yang “menelanjangi” sang pencari investor dan membuka topeng wajahnya untuk menampilkan wajah asli dibaliknya.

Begitupula orang-orang yang kerap gemar mengumbar janji-janji, berbohong, berdusta, memfitnah, tidak bertanggung-jawab, bak premanisme dan mafioso yang kerap bermain kekerasan fisik, “pria hidung belang”, suka menyontek, plagiator yang melanggar hak cipta pihak lain, pencuri, dan berbagai perbuatan buruk lainnya, akan diketahui oleh segenap masyarakat saat berjumpa dengan pribadi yang bersangkutan, berupa rating yang rendah disamping ulasan oleh masyarakat lainnya perihal kelakuan dan perilaku orang bersangkutan.

Bagi para orangtua yang memiliki anak gadis untuk ditunangkan atau dinikahkan dengan seorang pria (calon menantu), sistem meritokrasi adalah yang paling ideal, lengkap dengan rating dan ulasan yang dapat diketahui secara luas oleh publik termasuk oleh sang calon mertua, apakah sang pria merupakan pria yang ideal ataukah sangat jauh dari kata ideal.

Karena selama ini kita ibarat meraba-raba di ruang gelap dan temaram, kita tidak mengetahui dengan siapa sebenarnya kita melangsungkan kerja-sama, menikahi sebagai suami / istri, perusahaan tertutup tempat kita melamar pekerjaan, mendaftar sebagai siswa / mahasiswa pada suatu kampus / sekolahan, mempekerjakan pegawai, berteman yang bisa jadi “musuh dalam selimut” atau “musang berbulu domba”, berpacaran, mengikuti kursus pelatihan, mengunjungi suatu restoran, membeli dari suatu pedagang, kita menjadi ibarat “membeli kucing dalam karung”, tiada praktik meritokrasi, akibat rendahnya penerapan skema “reward and punishment” dan asas transparansi.

Sebenarnya, bila Tuhan ingin membentuk dunia manusia yang lebih baik, maka sistem yang selama ini diterapkan oleh “ojek online” dapat ditiru bagi dan terhadap setiap individu pribadi manusia, tanpa terkecuali, yakni sistem rating lengkap dengan “reward and punishment”-nya, disamping pemberian ulasan mengenai pribadi yang bersangkutan

Karenanya, setiap orang akan mengejar-ngejar dan berlomba-lomba untuk mendapatkan rating yang tinggi bila ingin agar lamarannya kepada seorang gadis diterima oleh seorang gadis dan keluarga sang gadis, lamaran pekerjaan dapat lolos dengan mudah tanpa terkendala, guru yang kompeten akan didekati banyak kalangan siswa dan otoritas sekolah, yang benar-benar ahli yang akan ditunjuk dan dipilih rakyat sebagai pemimpin bangsa, ucapannya akan dipercayai oleh publik dan penuh pengaruh, hingga berbagai keterbukaan yang otentik sifatnya, tiada lagi yang dapat ditutup-tutupi.

Sama juga, setiap korban dapat memberikan rating serta ulasan kepada sang pelaku kejahatan yang telah melukai, menyakiti, maupun merugikan sang korban. Bila ternyata Tuhan mendapati rating sang arwah serta ulasan oleh para korbannya demikian rendah penilaian yang diberikan, maka sang arwah akan seketika itu pula dilempar ke dalam “tong sampah” bernama neraka.

Dengan cara begitulah, seseorang baru benar-benar menjiwai apa yang Sang Buddha nyatakan sebagai “gerbang moralitas”, yakni malu dan takut berbuat kejahatan yang merugikan, melukai, ataupun menyakiti orang lainnya.

Tanpa sistem rating, adalah hampir mustahil seseorang yang kerap berperilaku serampangan untuk merasa malu ataupun takut ketika berbuat jahat terhadap orang lain seperti melukai, menyakiti, maupun merugikan orang lain—semata karena tidak berlaku sistem “reward and punishment” yang efektif dalam mengganjar sang pelakunya, secara transparan.

Sistem “reward and punishment” merupakan skema utama dalam mengerem laju tingginya angka kejadian kriminalitas ditengah-tengah masyarakat kita di Indonesia” sekaligus disaat bersamaan mempromosikan perilaku hidup baik dan humanis serta dermawan, manusia yang lebih beradab.

Sama halnya, Tuhan dapat menetapkan rating sejumlah “sangat amat baik” agar pintu surga dapat terbuka lebar bagi sang arwah, karenanya para manusia di Planet Bumi akan berbondong-bondong menanam perbuatan baik semata agar mendapatkan rating yang tinggi sebagaimana dipersyaratkan oleh Tuhan agar dapat masuk ke dalam alam surgawi bersama para dewa dan demi sebagai sesama penghumi, dan para dewa-dewi tersebut dapat merasa tenang mendapati tetangga barunya yang dapat dilihat ratingnya secara transparan.

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😈💬😇💭

  • Share:

You Might Also Like

0 comments