Nilai Dibalik sebuah Waktu, Nafas Hidup Kita, Sumber Daya yang Terbatas, Hargailah Waktu Milik Diri Sendiri dan Milik Orang Lain

By PUBLISHER - July 14, 2021

Nilai Dibalik sebuah Waktu, Nafas Hidup Kita, Sumber Daya yang Terbatas, Hargailah Waktu Milik Diri Sendiri dan Milik Orang Lain

Tidak seorang pun dapat mengubah masa lalu, tetapi setiap orang yang berusaha dapat mengubah masa depan.” (Anonim)

Masa depan belumlah menjadi kenyataan, maka “takdir” belumlah menjadi realita selain ilusi serta seringkali berupa delusi yang diwarnai fantasi belaka, berupa harapan, kecemasan, ataupun ketakutan yang membuat nyali kita surut. Bila “nasib” adalah apa yang telah terjadi, maka “takdir” hanyalah rekaan.

Apapun itu, terdapat bahaya dibalik rasa takut yang perlu kita sadari, yang mana juga bila dibiarkan bersarang dan menguasai pikiran kita, maka rasa takut dapat membuat kita “paralyze” alias terlumpuhkan serta membekukan, selain “terpaku di tempat”.

Takdir adalah apa yang bisa kita ciptakan sendiri (mental berdaya), lewat perjuangan saat kini. Takdir bukan untuk di-kambing-hitamkan, karena masa depan yang belum menjadi kenyataan, belumlah terjadi dan masih dapat kita ubah atau rancang sendiri.

Kita tidak perlu membiarkan diri kita menjadi korban dari takdir maupun berpasrah diri pada itikad orang lain yang belum tentu berniat baik terhadap kita (ini dunia manusia, bukan dunia para suciwan), namun memilih sebagai seorang “perancang” atas hidup kita sendiri. Dengan cara begitulah, kita dapat melepaskan diri dari mentalitas “korban keadaan”, sehingga hidup secara lebih terbuka kepada kebahagiaan, semata karena kita berdaya atas hidup kita sendiri!

Jika Sobat memiliki kendala atau masalah terkait manajemen waktu, maka KWANG selama ini memiliki masalah serupa, manajemen waktu yang buruk dan perhatian atau konsentrasi mudah terdistraksi oleh hal-hal yang kurang penting, sehingga kerapkali mengabaikan hal-hal yang lebih penting.

Sampai akhirnya, KWANG mencari solusi dengan mencoba berlatih (sampai kini) mengubah “paradigma melihat dan mendengar” (mindset). Jika diibaratkan perangkat komputer, “perangkat keras”-nya (hardware) ialah tubuh, maka “perangkat lunak”-nya ialah cara berpikir, melihat, dan mendengar (software).

Contoh, ketika rasa malas melanda diri, seringkali KWANG memilih untuk mencoba menawarkan kepada diri sebuah paradigma berpikir yang baru, seperti, “Malas artinya, punya energi, namun pelit untuk menggunakannya.” Alhasil, kita pun akan mampu keluar dari jeratan rasa malas. Atau adagium berikut dari Master Cheng Yen, “Jika tidak mendorong diri untuk rajin bekerja pada hari ini, maka tidak ada makanan untuk dimakan pada hari ini.”

Untuk mengatasi masalah dalam manajemen waktu yang buruk, KWANG kemudian menemukan satu buah “software” baru bagi paradigma memandang dan mendengarkan yang dapat menggantikan cara kerja berbagai panca indera maupun pikiran KWANG, yakni:

Tidak menyepelekan sumber daya waktu yang ada, juga tidak remehkan kesempatan yang ada. Semua hal memang tampak penting, namun bisa jadi ada yang lebih penting untuk mendapat fokus perhatian kita saat kini dan didahulukan untuk kita kerjakan atau selesaikan.”

Atau secara singkatnya:

Jangan sepelekan waktu dan kesempatan. Semua hal memang penting, namun ada yang lebih penting lagi.”

Atau, motto / semboyan buatan sekaligus kegemaran dari KWANG seperti:

Jangan bersikap seolah-olah tidak ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan”, atau

Jangan bersikap seolah-olah tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting.”

Bagi saya, marah pada cacat yang saya derita hanya membuang-buang waktu. Kita harus melanjutkan hidup ini dan saya berusaha untuk tidak marah. Orang-orang tidak akan mau menyisihkan waktu untuk Anda jika Anda selalu marah atau mengeluh.”

[Stephen Hawking, ilmuan jenius pencipta teori "lubang hitam" di angkasa dan produktif berkarya meski dengan kondisi seluruh tubuh lumpuh selama 50 tahun hidupnya]

Jangan bersikap seolah-olah waktu kita tidak perlu dihargai oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Bersikaplah profesional terhadap waktu kita dengan memulai belajar untuk menghargai waktu kita, serta ketika kita berhadapan dengan orang lain jangan biarkan mereka bersikap “jam karet” alias tidak menunjukkan sikap penuh penghargaan terhadap sumber daya waktu kita yang sangat terbatas.

Untuk itu, kita bersikap profesional terhadap mereka dan diri kita sendiri, karena itu kita pun berhak menuntut agar mereka juga bersikap profesional terhadap kita dengan menghargai waktu kita. Time is MONEY! Jangan biarkan mereka merampas “MONEY” kita! Sementara itu yang tidak mampu menghargai dan menghormati waktu kita, pandanglah sebagai semata seekor "MONKEY"!

Kisah berikut ini masih segar di ingatan KWANG, yakni saat KWANG masih sebagai seorang mahasiswa di Indonesia pada salah satu universitas swasta, dosen memberikan tugas kelompok, dimana kelompok kemudian menyepakati pertemuan untuk membahas tugas kelompok, dengan rincian, tempat pertemuan, waktu (pukul sekian), serta tanggal.

Saat masih kuliah, kita tidak dapat memilih anggota kelompok / tim dari orang-orang yang kompeten, karena “terpaksa oleh keadaan” dimana pilihannya sangat terbatas, yakni sebatas mahasiswa satu kelas yang ada, sekadar anggota yang “apa adanya” atau “sekadarnya saja”. Berbeda dengan dunia kerja dimana kita dapat memilih anggota tim yang benar-benar kompeten dan bertanggung-jawab, sehingga antara idealisme dalam dunia kerja dan dunia sekolah, tidak dapat disamakan dan tidak berjalan secara linear, salah satunya ialah perihal “tim kerja” ini.

KWANG tiba lebih awal dari jadwal yang telah disepakati, sebagai bentuk profesionalisme serta itikad baik. Namun apa yang kemudian terjadi, terdapat anggota kelompok yang baru muncul lima belas menit kemudian, setengah jam kemudian, bahkan ada satu orang anggota kelompok yang tiba SATU JAM KEMUDIAN!

Sangat tidak profesional, bilamana ini adalah tim dalam dunia kerja, maka sudah tentu akan KWANG “pecat” tanpa kompromi. Itulah sebabnya, terkadang KWANG merasa tugas kelompok lebih cenderung membuat kita berlatih kesabaran ketimbang mengasah keterampilan akademik, lebih cenderung membebani ketimbang membantu mencapai tujuan.

Berseberangan dengan pendapat Robert T. Kiyosaki yang mengagung-agungkan kerja tim dan mengkritik sistem edukasi pada sekolah formil yang mengedepankan ujian hasil skor kompetensi individualisme, dalam dunia kerja kita dapat bebas memilih satu diantara jutaan kandidat pelamar kerja, yakni calon kandidat terbaik sebagai anggota tim kerja.

Namun dunia sekolah ataupun kuliah, kerja kelompok bersifat dipaksakan, dalam artian pilihannya terbatas pada siswa kelas yang ala kadarnya, dimana seringkali kita justru akan terhambat dan terbebani oleh anggota kelompok yang hanya menjadi beban dan memperlambat laju langkah kaki kita tanpa dapat kita “pecat”. Kontras dengan itu, dalam dunia kerja, anggota tim bebas kita “hire” dan “fired”!

Semestinya, anggota kelompok yang ingkar-janji atas jadwal yang telah disepakati dan membuang-buang waktu anggota kelompok lain yang telah tiba tepat waktu, agar diberi “punishment” alih-alih diberikan “reward” berupa toleransi dan kompromi yang tidak adil bagi diri KWANG sendiri yang bahkan tiba jauh sebelum jadwal waktu pertemuan.

Sekalipun mereka terlambat hingga satu jam lamanya, dahulu itu KWANG masih juga toleran, jadilah mereka “besar kepala” dan tanpa rasa bersalah. Kini, bila bisa mengulang masa lampau, inilah yang akan KWANG lakukan : Setelah bersabar menunggu hingga tiga puluh menit atau lima belas menit (lihat kondisi kontektualnya, misal bila dalam keterlambatan lima belas menis hanya tinggal menunggu satu orang anggota kelompok lainnya yang belum hadir) dari waktu yang disepakati, kepada anggota kelompok yang telah hadir akan KWANG ajak untuk menuju lokasi lain dalam rangka membahas dan mendiskusikan tugas kelompok dari dosen.

Dengan cara begitulah, si anggota kelompok yang terlambat lebih dari itu, akan mendapati lokasi pertemuan telah kosong-melompong, yang dapat diartikan dirinya absen alias tidak pernah hadir dalam tugas kelompok.

Saat bertemu kembali di kelas dengan ia dan mempresentasikan tugas kelompok, kita tidak perlu mencantumkan nama dia. Kita tidak perlu sungkan untuk menyatakan secara tegas, bahwa ia tidak hadir tepat waktu meski telah ditunggu selama sekian belas / puluh menit lamanya, karenanya dianggap “absen”.

Ia dengan demikian, hanya berhak untuk menyalahkan dirinya sendiri. Ia tidak sungkan membuang-buang waktu anggota kelompok yang tiba tepat waktu, ia pula yang melanggar kesepakatan waktu pertemuan, karenanya kita pun tidak perlu sungkan terhadap orang yang tidak bisa menghargai waktu orang lain.

Bayangkanlah, jika Anda seorang entrepreneur pemilik usaha yang sedang mencari kandidat pekerja untuk bekerja pada perusahaannya, apakah Anda akan membutuhkan calon pekerja yang “jam karet” demikian? Dalam dunia kerja, tim dibangun dari landasan profesionalisme, barulah perusahaan bisa berjalan, bukan berdasarkan toleransi dan kompromi dimana masing-masing anggota tim bisa seenaknya melanggar kompromi dan tidak menghargai sumber daya waktu yang terbatas milik orang lain.

Singkatnya, bersikaplah profesional dengan memastikan betul orang lain juga bersikap profesional terhadap diri kita, dengan tidak membiarkan mereka melecehkan waktu maupun membiarkan mereka menginjak-injak hak-hak dan martabat diri kita, dengan bersikap tegas menerapkan sikap-sikap profesionalisme tanpa kompromi baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap siapapun tanpa terkecuali.

NILAI SEBUAH WAKTU

Untuk memahami nilai SATU TAHUN,

Tanyalah kepada murid yang tidak naik kelas.

Untuk memahami nilai SATU BULAN,

Tanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Untuk memahami nilai SATU MINGGU,

Tanyalah kepada editor sebuah koran mingguan.

Untuk memahami nilai SATU JAM,

Tanyalah seseorang yang menanti kekasihnya.

Untuk memahami nilai SATU MENIT,

Tanyalah kepada orang yang ketinggalan kereta api.

Untuk memahami nilai SATU DETIK,

Tanyalah kepada orang yang lolos dari kecelakaan.

Untuk memahami nilai SATU MILIDETIK,

Tanyalah kepada orang yang memenangkan medali perak dalam olimpiade.

Hargailah setiap detik yang Anda miliki! Ingatlah, waktu tidak menunggu siapa pun. Esok adalah misteri, hari ini adalah karunia.

(Author : Unknown)

Perbedaan satu detik, hasilnya bisa begitu dramatis seperti dua orang petarung di atas ring tinju, seperti pembuat kue yang meleset satu derajat celsius pada tungka pemanggang kuenya, penembak jitu yang meleset satu sentimeter dari targetnya, pengantar barang yang meleset satu nomor rumah dari rumah penerima paket, selisih satu skor antara dua kesebelasan yang berkompetisi, atau seperti satu buah ban yang tercopot dari rodanya saat kendaraan melaju.

Apapun itu, waktu adalah bagian esensial dari umur hidup kita yang tersisa, sekaligus sebagai sumber daya yang terbatas. Singkatnya, waktu adalah nafas kehidupan kita, urat nadi jantung kita, karenanya perlu kita hargai betul dan jangan biarkan siapapun tanpa hak merampas waktu milik kita yang sangat berharga.

Jika bukan kita yang menghargai dan siap memperjuangkan waktu kita sendiri, siapa lagi? Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😅💬💭😇

  • Share:

You Might Also Like

0 comments