Seni menjadi Individu yang BEBAS dan MERDEKA, Tips Praktis untuk Menjalani Hidup di Keseharian Mengatasi Oral Bullying

Memang peribahasa sudah sejak lama mengatakan, “Historia vitae magistra”, yang bermakna “pengalaman adalah guru terbaik”. Masalahnya, tidak banyak diantara kita yang menyadari si “pengalaman” meski kita mencicipinya setiap hari, ibarat seekor ikan bisa jadi tidak sadar dan tidak tahu apa itu “air” sekalipun mereka selama ini hidup di dalam kolam air dan baru akan sadar ketika mereka menggelepar-gelepar saat melompat keluar dari kolam dan jatuh ke atas tanah kering. “Oh, ternyata selama ini saya hidup di air!

"Seni menjadi Individu yang BEBAS dan MERDEKA, Tips Praktis untuk Menjalani Hidup di Keseharian Mengatasi Oral BullyingAdalah suatu kebodohan bahwa dengan memecahkan kaca jendela tetangga maka rumah sendiri akan tampak lebih indah.” (Anomin. Suatu sindiran bagi mereka yang gemar mengejek orang lain.)

Apa yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini, adalah apa yang bisa jadi telah dan pernah atau bahkan sering kita hadapi di keseharian, terutama selama kita hidup di tengah masyarakat di Indonesia, yang kerap memiliki kebiasaan kurang baik, yakni gemar menghakimi dan oral-bullying orang lain. [Catatan dari KWANG : Kebiasaan kurang baik tersebut tidak akan kita alami di Thailand, dimana para warganya tidak suka menghakimi hidup orang lain dan saling menghargai serta menghormati satu sama lain.]

Kita jangan pernah berpikir (lebih tepatnya “berasumsi”), bahwa melukai hati seseorang, dampaknya adalah “sepele” dan “remeh”. Hal yang tampak kecil, seperti menyakiti perasaan orang lain, sifatnya bisa jadi (dan seringkali) permanen, dimana luka batin masa lampau tidak dapat hilang tergerus oleh berlalunya waktu sekian tahun atau puluhan tahun sekalipun.

Banyak kasus dalam ilmu psikologi disebutkan, luka batin yang terjadi saat kita masih kecil sekalipun, dapat terus terbawa oleh kita, sadar atau tidak (alam sadar maupun alam bawah sadar), dapat terus terbawa hingga seseorang telah beranjak dewasa. Artinya, “asumsi” bahwa luka batin masa lampau, entah sebagai pelaku maupun sebagai korban, dapat sembuh seiring berjalannya waktu, adalah asumsi yang tidak bertanggung-jawab karena tidak sesuai bukti-bukti empirik yang justru membuktikan sebaliknya : waktu tidak menyembuhkan trauma, terutama luka batin yang tertanam dalam alam bawah sadar sang korban, yang bisa jadi sang korban tidak sadar dirinya memiliki trauma akibat luka batin masa lampau.

Bukti berupa pengalaman KWANG pribadi berikut, merupakan salah satu contoh kecil trauma masa lampau yang dampaknya bisa menyerupai mimpi buruk di masa dewasa dan masa kini sekalipun. Pada suatu hari, KWANG naik ke gedung bertingkat dengan menaiki sebuah lift. Entah mengapa, saat di dalam lift dan bergerak ke atas, tangan kiri KWANG yang memegang sebuah buku mengalami sedikit gemetaran singkat yang kemungkinan akibat faktor perubahan suhu udara saat masuk ke dalam gedung berpendingin udara.

Tanpa diduga, betapa terkejutnya KWANG karena ada seorang penumpang lift lainnya yang tidak KWANG kenal bersama temannya, mengejek serta menertawai KWANG yang dalam kondisi pergelangan tangan kiri gemetar. Memang apa salah KWANG terhadap mereka, sampai-sampai mereka merasa berhak mengejek dan menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan?

Memang mengherankan, KWANG tidak pernah menyakiti, tidak juga melukai ataupun merugikan diri si pelaku “oral bullying”, juga tidak mengenal mereka, namun mengapa si pelaku merasa berhak mengejek orang lain yang tidak merugikan apapun dari mereka?

Sekalipun katakanlah, sekujur tubuh KWANG gemetaran saat itu sekalipun, atau KWANG hendak olahraga senam di dalam lift, KWANG adalah warga negara yang bebas serta merdeka untuk menentukan hidup dan nasib diri KWANG sendiri serta bebas dari segala jenis perbudakan bangsa asing maupun oleh sesama bangsa sendiri.

Ketika seseorang mencoba mengejek kita, itu pertanda yang bersangkutan mencoba untuk merampas kemerdekaan serta kebebasan hidup atas hidup kita sendiri, dan mencoba mengatur atau mendikte kita lewat segala komentar dan ejekannya.

Suatu mental bangsa merdeka, dicirikan oleh watak utama berupa tidak pernah menghakimi, mendiskreditkan, ataupun mengejek (melecehkan) penampilan ataupun kehidupan milik orang lain—semua itu adalah pilihan hidup serta hidup mereka sendiri dan masing-masing, yang patut dihargai dan dihormati selama tidak merugikan warga lainnya.

Sebaliknya, bangsa penjajah dicirikan oleh kerap atau mudahnya melontarkan komentar serta segala bentuk ejekan terhadap individu dan pribadi lainnya, seolah-olah mereka punya hak untuk melecehkan dan mengejek warga lainnya atas hidup milik mereka sendiri.

“Belum berkuku hendak mencubit. Belum berkuasa sudah menjelekkan orang lain.” [Peribahasa]

Entah mengapa, sebagian diantara masyarakat di Indonesia memiliki asumsi kelewat tidak logis, bahwa dengan mengejek atau mendiskreditkan orang lain, atau dengan menjadikan orang lain sebagai bahan lelucon, itu membuat mereka tampak (seolah) lebih unggul, lebih bermutu, lebih elok, lebih baik, dan lebih dari banyak aspek lainnya.

Faktanya, pepatah dari orang-orang yang lebih unggul dari segi kebijaksanaan, pernah berpesan sebagai berikut, dan berkebalikan dari wajah praktik orang-orang “kerdil” seperti sang pengejek, bahwa “Orang besar membicarakan ide-ide serta gagasan-gagasan. Sementara orang kerdil membicarakan tentang orang lain.”

Ternyata, mereka adalah orang kerdil, sehingga untuk apa juga KWANG perlu merasa gentar? Mengejek orang lain, artinya mereka telah mengerdilkan diri mereka sendiri. Mereka hanya menyibukkan diri menjadi komentator atas hidup orang lain.

“Berjalan selangkah surut, berkata sepatah dipikirkan. Berpikir dahulu sebelum berbicara, agar tidak menyinggung perasaan orang lain.” [Peribahasa]

Kejadian pengejekan tersebut di atas, sudah lewat bertahun-tahun lampau, namun trauma di-ejek (pelecehan verbal) secara melukai perasaan demikian masih tetap membekas hingga saat kini, membentuk semacam luka batin yang sedikit banyak menghantui alam bawah sadar KWANG selaku korban pengejekan, berbentuk trauma yang disadari ataupun yang tidak KWANG sadari, dan itu sangat mengganggu pikiran maupun mengusik mental. Lihatlah, jangan pernah sepelekan perbuatan yang ditimbulkan oleh si “lidah tidak bertulang”, hati yang tersayat dapat demikian permanen.

KWANG tidak bersalah apapun kepada mereka, namun mengapa mereka merasa berhak menyakiti perasaan KWANG? Mereka dirugikan apa, dilukai apa, disakiti apa oleh KWANG, lantas mengapa mereka tega melukai perasaan KWANG?

Namun biarlah, mereka telah menanam Karma Buruk. Yang semestinya merasa takut, ialah si pelaku perbuatan buruk, bukan korban yang harus lebih merasa takut (toh, yang akan memetik buah Karma Buruknya ialah si pelaku). Yang hidup dari pedang, akan mati karena pedang, demikian pesan pepatah klasik. Yang hidup dari lidahnya, akan mati oleh lidah yang sama.

Karenanya, jangan pernah sepelekan perasaan korban. Menyepelekan perasaan korban, sama artinya menyepelekan diri sendiri sehingga terjatuh dalam jurang perbuatan buruk yang akan dipetik sendiri oleh sang pelaku. Tidak ada penjahat yang tidak menyepelekan perasaan korbannya, sehingga dapat pula kita tarik sebuah hipotesis, bahwa menyepelekan adalah akar dari kejahatan.

“Seorang laki-laki yang bodoh mengatakan kepada wanita untuk berhenti berbicara, tetapi seorang laki-laki yang bijaksana mengatakan kepadanya bahwa mulutnya sangat manis ketika bibirnya tertutup.” [Anonim]

Kini kita ambil contoh lainnya. KWANG tidak pernah tertarik mengejek ataupun melecehkan perasaan orang lain yang bisa jadi mengalami kejadian buruk seperti terjatuh atau terpeleset. Mengapa? Semata karena KWANG menyadari betul, bahwa itu pun bisa terjadi pada diri KWANG sendiri, terjatuh dan terpeleset suatu ketika nantinya atau sebelum ini. Tidak selamanya kita mujur dan berjalan mulus dalam aktivitas kita.

KWANG tidak ingin ketika terjatuh nantinya atau terpeleset yang bisa jadi terjadi pada diri kita entah kapan di esok hari, ada orang yang meledek dan menghina diri KWANG. KWANG juga dulu pernah terjatuh, namun tidak diledek oleh orang lain yang ada di lokasi tempat KWANG terjatuh, karenanya KWANG patut berterimakasih pada mereka yang tidak menambah derita KWANG dan juga harus menjaga perasaan orang lain yang mengalami “musibah” serupa. Kita menyebutnya sebagai, empati.

Empati, merupakan soko guru atau pilar dari EQ (emotional quotient) alias kecerdasan emosional yang paling mendasar. Bila untuk ukuran empati saja, bila tidak dimiliki oleh masyarakat kita, seperti meledek seseorang yang sedang mengalami hal yang tidak menyenangkan (yang tentunya tidak ia inginkan itu terjadi pada diri mereka), maka bagaimana dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi derajat tingkatannya seperti memprediksi emosi lawan bicara, membaca bahasa tubuh, membaca bahasa yang tidak terucap, dsb?

Alih-alih berempati, justru menyepelekan perasaan si korban dengan masih pula membebaninya dengan hati yang terluka. Seseorang, bukan hanya dapat melukai orang lain lewat perbuatan fisik seperti menusuk dengan pisau, namun lewat ucapan yang mudah sekali dilontarkan—saking mudahnya, sampai-sampai diremehkan dampaknya bagi si terledek.

Jangan pernah menjadikan orang lain sebagai objek lelucon, itu lelucon yang tidak cerdas dan tidak lucu, seolah-olah tidak ada cara lain untuk membuat dirinya tampak lebih bersinar di mata dunia tanpa melecehkan pihak lain.

Mereka semestinya merasa malu dan takut atas sikap kerdil dan dangkal mereka yang dapat dengan demikian mudahnya menertawai hidup dan kehidupan milik orang lain, karena artinya membuka potensi dan peluang hidup dan kehidupannya sendiri (si pelaku) pun kelak dapat dilecehkan dan dihina oleh warga lainnya.

Sikap diam adalah seni terhebat dalam suatu pembicaraan.” [Anonim]

Mereka dengan EQ yang cukup memadai, menaruh belas kasihan dan simpatik disamping rasa prihatin, bukan justru mengejek kekurangan ataupun kejadian tidak menyenangkan yang dialami oleh orang lain dan bergembira diatas derita orang lain.

Pada akhirnya, KWANG mengembangkan sejenis keterampilan membentengi pikiran dan alam sadar diri dengan sejenis “perangkat lunak” (software) berupa paradigma berpikir sebagai berikut yang senantiasa KWANG sugestikan berulang-ulang kepada benak diri KWANG sendiri setiap kali menghadapi potensi ataupun ancaman oral-bullying masyarakat di luar sana, yakni:

  • Saya adalah manusia yang bebas dan merdeka dari penjajahan bangsa asing maupun penjajahan oleh bangsa sendiri;

  • Saya tidak perlu meminta izin dari orang lain atas hidup saya sendiri;

  • Saya tidak butuh komentar dari orang lain, karena ini adalah hidup saya sendiri dan mereka tidak punya hak selain mengomentari hidup mereka sendiri;

  • Itu urusan mereka mau bicara atau berpikir apa, urusan saya adalah mengurusi urusan saya sendiri;

  • Jangan bersikap seolah-olah bukan manusia yang bebas dan merdeka;

  • Jangan bersikap seolah-olah tidak punya daya tawar dan pilihan bebas atas hidup kita sendiri;

  • Sekalipun masih merasa takut, sungkan, keberanian hati yang surut, jangan tunjukkan itu kepada orang di luar diri kita;

  • Kita tidak perlu menjalani kehidupan orang lain, jalani saja hidup diri kita sendiri. Ini hidup saya sendiri!

  • Kelak giliran mereka diperlakukan serupa oleh orang lain lainnya dan kitalah yang pada akhirnya akan tertawa;

  • Saya mencintai diri dan hidup saya sendiri. Menyadari hal itu, sudah lebih dari cukup.

Sobat KWANG dapat juga mengembangkan self-talk lainnya, dalam rangka “self encourage”. Pada prinsipnya, motivator terbaik ialah diri kita sendiri. Teman terbaik, ialah juga diri kita sendiri.

“Pemenang seperti Termostat (pengatur suhu). Pecundang seperti Termometer (pengukur suhu).” [Anonim]

Contoh, ketika kita membersihkan kotoran telinga ataupun kotoran hidung, bisa saja ada orang-orang "kerdil" yang merasa berhak menghakimi kita dengan meledek, mengejek, menertawai, ataupun mengolok kita seolah kita adalah bahan untuk dijadikan lelucon. Konfrontasi mereka secara verbal, dengan kalimat sebagai berikut:

"Mengapa kamu bisa merasa punya hak untuk meledek, menertawai, menghina, dan melukai perasaan saya? 

Apakah saya telah atau pernah melukai, merugikan, ataupun menyakiti fisik ataupun batin kamu? Ini hidup saya sendiri, saya mau berbuat apa terhadap hidup saya, itu hak saya, bukan hak kamu untuk mengatur hidup saya maupun orang lain.

Jika saya tidak pernah berbuat jahat terhadap kamu, lantas mengapa kamu berbuat jahat terhadap saya dengan melukai perasaan saya lewat ledekan, ejekan, maupun tertawaan kamu?"

Terdapat sebuah peribahasa indah yang cukup relevan, yakni “Anjing menggonggong, khafilah berlalu.” Biarkanlah mereka “menggonggong”, kita cukup berlalu tanpa menghiraukan.

Bayangkan ketika seseorang mengajak kita berbicara, namun tidak kita hiraukan dengan tidak ditanggapi, siapakah yang akan merasa tersinggung? Sama juga, ketika seseorang menghina ataupun melecehkan kita secara verbal, bila tidak kita tanggapi dan tanpa kita hiraukan, maka yang semestinya merasa telah terhina ialah si pelaku yang telah pernah mengejek diri kita.

Orang dungu, merasa dirinya telah “menang” terhadap orang lain, meski senyatanya mereka telah “dipecundangi” karena tidak dihiraukan segala ejekannya.

Bagikan pendapat Sobat pada kolom komentar. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 💬💭😈😇

You Might Also Like

0 comments