Betulkan Orang Jenius, Antisosial?

Terdapat banyak salah-kaprah yang beredar di tengah masyarakat, salah satunya mengenai orang-orang dengan talenta kecerdasan “jenius” yang kerap dilabeli stigma sebagai “anti sosial”, alias kurang banyak menghabiskan waktu untuk kehidupan bersosialisasi dengan orang-orang lain diluar kediamannya.

Pandangan serta asumsi demikian, faktanya sama sekali tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya, dan tidak sesuai dengan realita, sehingga cenderung “menghakimi” cara dan sikap hidup sang “jenius” (meski bukan berarti adalah jenius dalam berbagai bidang hingga semua hal, namun kejeniusan dalam bidang yang digeluti dan ditekuni olehnya secara spesifik dan bisa jadi sangat lemah dalam bidang lainnya).

Mereka tetap meluangkan waktunya secara rutin untuk bersosialisasi disamping kesibukannya melakukan riset serta berkarya, namun dengan cara yang diluar kelaziman orang kebanyakan (sehingga kerap menimbulkan salah-kaprah, sebagai contoh dilekatkan stigma “asosial”), yakni cara unik khas mereka sendiri, yang mana juga tentunya jarang dapat ditiru oleh sembarang orang.

Kebetulan KWANG mengenal seseorang yang diakui memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) tertentu yang tajam pada bidangnya. Menurut keterangan kenalan KWANG tersebut, lazimnya orang kebanyakan bersosialisasi dengan cara yang sangat tidak efisien dari segi waktu, sehingga benar-benar membuang-buang waktu produktif (wasting time).

Kenalan KWANG tersebut, lebih memilih untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri yang menurutnya paling efesien untuk diterapkan. Sebagai contoh sederhana, untuk memudahkan pemahaman, untuk menghasilkan satu buah artikel yang mana bila dipublikasikan dapat dibaca oleh ribuan pembaca website profesi pribadi miliknya, dibutuhkan waktu kurang-lebih dua jam.

Bila dalam satu kali perjumpaan antara dua orang, dan terjadi komunikasi dialogis antara keduanya, memakan waktu yang sama, maka itu sama artinya dua jam waktu tersita hanya untuk memperkenalkan gagasan, menjalin diskursus, dialog dua arah yang sengit maupun yang hangat, yang saling terlibat hanyalah dua pasang mata alias 4 buah mata serta dua buah mulut serta dua pasang telinga, yang ekuivalen dengan 2 orang individu = 1 orang lawan bicara.

Bila 1 orang lawan bicara telah menyita waktu selama hampir dua jam kerja lamanya, maka produktivitasnya tergolong rendah. Bila ingin berkomunikasi secara luas, massif, serta masal seperti sistem broadcast pada suatu siaran radio yang dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia kita dalam satu kali bicara atau dalam satu kali menyampaikan pendapatnya.

Karena itulah, orang-orang jenius lebih suka memilih untuk menuangkan gagasan berpikirnya disamping keluasan wawasan dan khasanahnya hasil dari membaca literasi ataupun belajar dari pengalaman diri sendiri maupun belajar dari pengalaman dan karya pikir orang lain, menghimpun kesemuanya sebelum kemudian dibuat penilaian secara “berdikari” (berdiri di atas kaki sendiri) ke dalam sebuah karya tulis sebelum kemudian dipublikasikan secara meluas dan massal kepada publik umum.

Dengan begitu, tiga atau dua jam yang dihabiskan untuk menghasilkan satu buah karya tulis, dapat dibaca oleh ribuan pembaca tanpa sekat ruang maupun sekat waktu, suatu cara komunikasi pertukaran gagasan dan ide tingkat masif yang mana memanfaatkan media digital yang sangat membantu para insan jenius untuk berkomunikasi dengan dunia luas, yang bisa jadi antara sang jenius dan pembacanya berada di lain kota, di lain provinsi, bahkan di lain negara dan lain benua.

Para jenius, seringkali bukanlah para “jago kandang”, mereka justru lebih kerap “low profile” di lingkungan kediamannya, tanpa seorang pun tahu mengenai rekam-jejak prestasi dan keunggulan internal dirinya yang luar biasa diakui di dunia luar. Sehingga, tdidak perlu heran, bila terdapat orang jenius diantara tetangga kita yang bahkan seolah eksistensinya tidak atau kurang mendapat cukup perhatian dari kita.

Mereka sangat produktif dalam karya, namun sangat minim dalam bertutur-kata secara lisan. Memang betul pepatah yang berkata, nyaring bunyinya adalah pertanda “tong kosong” yang menjadi ciri khas orang-orang dengan corak karakter “norak-isme”.

Kenalan KWANG, begitu produktif menghasilan ribuan artikel karya tulis setiap tahunnya, diakui kemampuan akademiknya oleh berbagai lembaga akademisi hingga berbagai perguruan tinggi, dimana seluruh energi mentalnya dikerahkan dan dicurahkan untuk itu secara penuh dedikasi, yang pada akibatnya waktu miliknya terkuras habis, bahkan di hari-hari libur dan tanggal merah dimana orang-orang menghabiskan waktu untuk berkumpul dan sekadar bicara omong-kosong antara para kerabat dan kenalannya, kenalan KWANG justru sibuk mencetak karya-karya baru.

Otak orang-orang jenius terus aktif sepanjang harinya, sangat kreatif dan penuh dengan ide, bahkan hingga menjelang tengah malam maupun subuh, otak mereka terus aktif dan sangat aktif untuk dieksplorasi serta dituangkan dalam bentuk karya maupun perilaku produktif lainnya.

Mereka tidak produktif dalam bahasa lisan, namun produktif dalam dimensi lainnya yang lebih awet dan tidak lekang oleh waktu, semisal penciptaan teori relativitas oleh Einstein, lukisan termasyur Picaso, syair indah pujangga kenamaan, novel seorang maestro, dan lain sebagainya. Mereka benar-benar adalah seorang profesional dibidang mereka.

Yang menjadi alasan kedua, mengapa orang-orang jenius paling malas bersosialisasi, ialah karena mereka memandang dan seringkali mendapat pengalaman mengecewakan, betapa banyak orang di tengah masyarakat kita yang cenderung memiliki cara berpikir yang tidak logis serta irasional.

Orang-orang jenius, sangat alergi terhadap orang-orang yang tidak logis serta irasional cara berpikirnya, yang menurut orang jenius adalah suatu pemborosan waktu serta emosi harus berhadapan dan meladeni tutur-kata orang-orang yang seharusnya mampu berpikir sendiri secara matang, dewasa, bijaksana, serta penuh pertimbangan yang tidak gegabah terlebih sembrono dalam membuat pernyataan maupun pendapat dan pemikiran.

Inilah yang kerap dilontarkan oleh kenalan KWANG, yang mungkin terdengar sarkastik, “Orang dungu dilarang komentar!” Sementara itu yang menjadi peribahasa favorit dirinya, ialah sebuah peribahasa Belanda yang menyebutkan: "Een goed verstaander heeft maar een half woord nodig." Artinya, orang yang pandai memahami, (cukup) membutuhkan separuh perkataan. Jika masih belum jelas, tahu berbuat apa yang diharapkan dari dia.

Menjadi tidak mengherankan, orang jenius paling tidak suka dipaksa harus banyak berbicara untuk menerangkan ataupun menjelaskan hal-hal yang semestinya dapat dipikirkan dan dipertimbangkan sendiri secara masak-masak tanpa gegabah ataupun sikap sembrono.

Berbagai kekecewaan demi kekecewaan yang kerap dijumpai sang jenius, terutama sikap dan sifat irasional yang tidak logis dari masyarakat umum, mengakibatkan diri mereka memilih untuk menarik diri dari dunia pergaulan dan lebih cenderung asyik mengeksplorasi isi pikiran dan berkomunikasi dengan diri mereka sendiri.

Menurut kenalan KWANG, dunia luar-lah, yang membuat dirinya memilih atau mungkin juga terpaksa untuk menjadi seorang “autis”. Hal ini diluar anggapan umum, dimana disebutkan bahwa orang dengan sindrom autis cenderung memiliki kecerdasan yang tinggi.

Faktanya, bisa jadi adalah berkebalikan dari asumsi klise, yakni jenius (yang menghadapi kenyataan mengecewakan bahwa tidak semua orang di luar sana secerdas cara berpikir mereka) adalah sebab dan autis adalah akibat, semata karena faktor tekanan lingkungan yang tidak mendukung potensi dan bakat diri mereka.

Apa yang sebetulnya membuat mereka menjadi merasa “jengkel”, ketika berbicara dengan orang lain? Menurut penjelasan kenalan KWANG, orang-orang tersebut sangat menguras emosi serta energi dirinya, terutama energi mental, ketika harus menjelaskan hal yang sebetulnya cukup mereka pikiran, pertimbangkan, serta pahami sendiri tanpa perlu dijelaskan secara berpanjang-lebar. Ia tidak suka menghadapi orang dewasa yang cara berpikirnya seperti seorang kanak-kanak yang jauh dari sikap dewasa.

Yang menjadi alasan ketiga ialah, ia sering merasa dirinya kerap dimanfaatkan dan diperalat orang lain yang mencoba mengambil keuntungan dari dirinya secara tidak patut, dan sikap demikian amat fatal di mata seorang jenius yang mudah menaruh antipati terhadap seseorang ketika itikad buruk mereka tercium.

Alasan keempat, masih menurut kenalan KWANG, ialah bahwa sesuai benar dengan pepatah yang pernah menyebutkan, "Orang-orang besar membicarakan tentang ide-ide dan gagasan, sementara orang-orang kerdil memperbincangkan tentang orang lain."

Orang jenius jarang merasa "nyambung" ketika berbicara dengan orang lain, dan ia tidak merasa nyaman, terutama ketika masyoritas masyarakat kita ialah anggota masyarakat yang lebih senang bergosip, menggunjingkan orang lain, mengejek dan menjelek-jelekkan orang lain. Bagi ia, itu hanya buang-buang waktu, tidak produktif dan tidak berfaedah.

Disamping itu, pendapat umum bahwa “bipolar is a sign of genius”, ada benarnya. Mungkin diakibatkan oleh aktivitas otak mereka yang selalu berkerja dan aktif sepanjang hari, benar-benar sepanjang hari, menurut penuturan kenalan KWANG tersebut, berakibat hormon di otak mereka mungkin terganggu, sehingga memicu gejala bipolar yang khas. Bila orang kebanyakan, otaknya akan melamban di malam hari menjelang waktunya tidak, maka itu tidak berlaku bagi orang-orang dengan gejala bipolar yang khas.

Orang-orang jenius itu sendiri kerap terganggu oleh kenyataan otak mereka yang terlampau over-aktif, semisal kecemasan berlebihan, insomnia akut, sistem imun yang buruk (bagaimana tidak, setiap hari tidur di subuh hari), energi yang terkuras oleh proses berpikir (yang tidak bisa mereka sendiri hentikan, karenanya tidak mengherankan bila mereka terkesan “pemalas”, semata karena energi mereka telah terkuras oleh otak mereka yang selalu aktif dan karenanya lapar energi sepanjang waktu untuk proses berpikir), kewalahan, hingga mudah terdistraksi dalam segala hal yang bagi orang kebanyakan tidak akan membawa dampak apapun namun bisa sangat signifikan bagi seorang bipolar.

Bila ada diantara orang-orang yang tidak siap menghadapi potensi resiko demikian, sebaiknya urungkan niat menjadi seorang jenius, karena segala sesuatunya selalu ada harga yang harus dibayarkan dibaliknya (setidaknya menjadi tampak “autis” serta sedikit banyaknya menjelma bipolar), yang mana prosesnya bisa jadi tidak diketahui oleh banyak orang, sebagaimana ulasan ini yang besar kemungkinan baru kita ketahui perihal seluk-beluk kehidupan seorang jenius di balik layar, penuh suka dan duka.

Orang-orang jenius, menjadi jenius, bukan berarti mereka tidak memiliki masalah dalam hidupnya, bukan pula mereka terampil dan pandai dalam segala bidang dan segala hal. Banyak orang yang tidak bisa mengerti tentang diri mereka, semata karena memang mereka adalah manusia yang tergolong langka. Mereka tidak meminta dipahami, mereka hanya berharap “tidak dihakimi”.

Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😅💬💭😇

You Might Also Like

0 comments