Pesan Dibalik REBIRT, Kehidupan Ini Bukan yang Pertama, juga Bukan yang Terakhir, namun NEVER ENDING STORIES alias TO BE CONTINUE...

 Sang Buddha : “Pandangan (yang) salah artinya, tidak meyakini kebenaran adanya Hukum Karma dan adanya Kelahiran Kembali."

Terbelenggu oleh Rantai Karma, sebuah Siklus Perputaran Silih-Berganti. Itulah perumpaan tumimbal-lahir, terjebak dalam siklus seumpama musim beralih dari satu musim ke musim lainnya, sebelum kemudian beralih kembali ke musim semula, untuk memulai kembali siklus perputaran musimnya, demikian seterusnya dan seterusnya, tanpa ujung akhirnya, bagaikan sebuah “ritual kehidupan” yang tidak memiliki tujuan selain sekadar siklus pengulangan dan perputaran itu sendiri.

Pesan Dibalik REBIRT, Kehidupan Ini Bukan yang Pertama, juga Bukan yang Terakhir, namun NEVER ENDING STORIES alias TO BE CONTINUE...

Seorang psikolog bernama dr. Walter Semkiw, dalam buku yang ditulisnya berjudul “BORN AGAIN, Kasus Kelahiran kembali Tokoh dan Selebriti", Penerjemah : Tasfan Santacitta, Penerbit Awareness Publication, Jakarta, Cetakan 2, Des 2014, menuliskan dalam kutipan sebagai berikut di bawah ini (kata-kata asli dari Walter Semkiw, KWANG sekadar mengutip, namun KWANG terpaksa merubah redaksional frasa “reinkarnasi" menjadi “kelahiran kembali”).

Bukti Kelahiran kembali dan Dampaknya Pada Masyarakat dan Agama.

Salah satu dampak paling bermanfaat yang dipicu oleh pemahaman mengenai kelahiran kembali adalah berkurangnya kekerasan di antara orang-orang dari latar belakang suku, agama, dan ras yang berlainan. Perubahan ini sangat dibutuhkan, mengingat kejadian-kejadian seperti penghancuran World Trade Center, maupun asupan harian berita kekerasan dan pembunuhan yang dapat kita amati terjadi di antara masyarakat dengan budaya yang bertentangan. Bukti yang disajikan dalam buku ini menunjukkan bahwa orang bisa berganti persekutuan agama, suku, dan ras dari masa kehidupan demi masa kehidupan.

Ketika orang menyadari bahwa penganutan agama merupakan sistem kepercayaan yang bersifat sementara, bahwasanya seseorang bisa saja menjadi pengikut Kristiani di satu kehidupan, dan menjadi penganut Yahudi, Muslim, Hindu, atau Buddha di kehidupan lainnya, maka konflik-konflik penganutan ini akan terlihat tidak nalar. Sesungguhnya, kita semua harus berhenti berpikir mengenai diri kita secara eksklusif sebagai umat Kristiani, Yahudi, Muslim, atau Hindu, karena dalam rentang masa kehidupan demi kehidupan, kita pernah menjadi semuanya, bahkan lebih dari itu.

Hal yang baik dari pemahaman ini adalah tidak ada agama yang direndahkan, dan tak seorang pun yang dianggap salah. Malahan, kita akan mengerti bahwa dari kehidupan ke kehidupan, kita punya kesempatan untuk menikmati dan belajar dari beragam ajaran agama. Kuncinya adalah tidak terlalu melekat dengan satu sistem kepercayaan tertentu, karena pada akhirnya, hal ini hanya membawa pada perpecahan dan pertikaian.

Saya percaya bahwa pengetahuan mengenai mekanisme kelahiran kembali akan membantu umat manusia berevolusi dari mentalitas kesukuan, yang mana kita mengidentifikasikan diri dengan satu kelompok agama, suku, ras, atau bangsa tertentu, menuju tataran Manusia Universal. Sebagai Manusia Universal, kita memahami dan menghormati banyak budaya, namun tidak mematok diri sendiri dengan salah satu aliran pun.

Di seiring perubahan kita dari manusia kesukuan menjadi Manusia Universal, rasisme dan prasangka keagamaan akan berakhir. Nasionalisme dan kebanggaan etnik juga akan diletakkan dalam cara pandang demikian, tatkala kita menyadari bahwa kita bisa dilahirkan di negara-negara yang berbeda dan dari orangtua dengan latar etnik yang beragam, dari satu masa kehidupan ke masa kehidupan lainnya. Ketika kita menyadari bahwa kita bisa berkulit putih di satu kehidupan dan berkulit hitam atau Asia di kehidupan lainnya, maka prasangka rasial pun akan lenyap.

Berbagai agama akan mengadopsi perangkat ajaran yang lebih universal, ketika spiritualitas menjadi lebih bersifat ilmiah, yang didasarkan pada pengamatan dan data obyektif. Sesungguhnya, spiritualitas tak pelak lagi akan berpindah dari wilayah kepercayaan menuju wilayah ilmu pengetahuan.

Manakala konflik dan peperangan kolektif akan menyurut, maka perilaku kekerasan dan kejahatan individual pun akan menyusut. Prakiraan ini didasarkan pada dua prinsip. Yang pertama karena orang-orang akan menyadari karma sebagai suatu realita. Kita akan tahu bahwa apa yang kita lakukan kepada orang lain akan kembali kepada kita pada waktunya.

Hal ini akan menciptakan perubahan perilaku, baik bagi mereka yang ateis maupun mereka yang menganut agama-agama yang mapan. Dewasa ini, doktrin-doktrin agama mengajarkan bahwa perbuatan salah bisa dihilangkan atau diampuni oleh kuasa keagamaan dan Tuhan tertentu. Hal ini mengurangi motivasi untuk berperilaku dengan cara yang semestinya.

Bukti kelahiran kembali akan membawa penyadaran bahwa kita bertanggung jawab atas tindakan kita dan dalam masa kehidupan selanjutnya, kita akan menjadi subyek bagi tindakan sama yang kita perbuat dalam kehidupan ini.

Jika kita mengolok seseorang dalam kehidupan ini, kita akan menjadi sasaran olokan dalam kehidupan lainnya. Jika kita membunuh seseorang, pada kehidupan lainnya kita akan mengalami penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan kita. Jika kita mewujudkan tenggang rasa dan belas kasihan, hal-hal ini juga akan kembali kepada kita.

Dengan pemahaman ini, setiap tindakan yang memiliki potensi merugikan pihak lain akan dipertimbangkan dengan lebih saksama. Sebagian orang akan berkilah bahwa dalam budaya yang memeluk kelahiran kembali, kejahatan masih tetap eksis. Saya menanggapi hal ini dengan argumen bahwa ada perbedaan besar antara memercayai kelahiran kembali dengan mengetahui bahwa kelahiran kembali adalah jalan evolusi jiwa manusia.

Ketika Anda mutlak mengetahui bahwa kelahiran kembali dan karma adalah nyata, maka melakukan kejahatan sama halnya dengan sengaja menaruh tangan Anda ke dalam tungku yang berkobar. Alasan lain mengapa kekerasan akan berkurang adalah karena orang-orang akan menyadari bahwa mereka bisa membawa serta pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kehidupan ini ke kehidupan-kehidupan selanjutnya.

Hal ini terutama penting bagi mereka yang terlahir dalam kemiskinan atau ketidak-beruntungan lainnya. Bagi mereka yang terlahir papa, bagi mereka yang merasa tersisih dalam hidup, kejahatan bisa tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Hal ini terutama berlaku dalam budaya Amerika, di mana materialisme merajalela, dan kesenjangan antara yang punya dan yang tak punya belum pernah sebesar ini.

Tersuguhi situasi timpang ini, mereka yang melakukan kejahatan bisa jadi melihat tindakan mereka sebagai pembalasan atas situasi ketidakadilan yang mereka rasakan dan sebagai pengobat rasa putus asa mereka. Bukti-bukti yang dihadirkan dalam buku ini menunjukkan bahwa dari kehidupan ke kehidupan, kita memetik lagi apa yang telah kita tinggalkan, bahwa kita membawa serta keterampilan dan kecakapan yang telah kita peroleh dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya.

Kita akan melihat bahwa individu-individu dapat kembali ke kehidupan untuk menuntaskan sebuah karya atau membuahkan hasil sebuah cita-cita yang telah dimulai dalam kehidupan terdahulu. Hal ini bisa membawa harapan bagi mereka yang terperangkap dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Seseorang yang merasa kesempatannya terganjal dalam masa kehidupan ini dapat berencana dan berinvestasi untuk kehidupan selanjutnya. Kita bisa mulai belajar, memahami, dan berlatih dalam kelahiran dalam kehidupan sekarang ini sebagai persiapan untuk kelahiran kembali berikutnya.

Sebagai contoh, jika Anda ingin menjadi seorang musisi besar, maka wujudkan hasrat itu hari ini. Dalam kelahiran kembali mendatang, Anda akan bisa menghadirkan bakat yang telah dipupuk pada masa silam. Jika Anda ingin menjadi kaya, belajarlah mengenai keuangan dan investasi mulai hari ini, dan Anda akan membawa bakat bisnis dalam kehidupan selanjutnya.

Jika Anda ingin menjadi musisi hebat, berlatihlah memainkan alat musik dan belajarlah komposisi lagu mulai hari ini, hingga bakat itu bisa muncul dalam kehidupan esok. Mengetahui bahwa usaha yang dikerahkan dalam kehidupan ini akan berbuah dalam kehidupan lainnya tentu akan membawa harapan bagi mereka yang dalam putus asa.

Memerangi kelaparan dan kemelaratan dunia akan menjadi kepedulian yang lebih mendesak bagi setiap individu di planet ini. Hal ini akan terjadi karena dua penyadaran. Pertama, kita akan paham bahwa kita akan kembali ke dunia yang kita bantu bangun.

Kita bertanggung jawab atas kondisi-kondisi yang akan kita hidupi nantinya dalam kelahiran kembali-kelahiran kembali mendatang. Dari sudut pandang kepentingan diri sendiri, pengetahuan bahwa kita bisa terlahir kembali di sebuah negeri yang miskin akan memotivasi mereka yang di negara maju untuk berbagi sumber daya dengan negara-negara yang lebih miskin.

Penduduk negara-negara maju akan merasakan kepentingan yang lebih mendesak untuk membantu negara-negara miskin dalam membangun infrastruktur dan kebijakan ekonomi yang bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok penduduknya.

Sikap kita terhadap hutang Negara Dunia Ketiga akan berubah, seiring dengan semakin pedulinya kita terhadap kesulitan kaum miskin. Kedua, dari sudut pandang spiritual, kita akan menyadari bahwa jumlah uang dalam rekening bank kita pada saat ajal sama sekali tidak bermakna di mata Tuhan.

Alih-alih, yang bermakna adalah karma baik berdasarkan apa yang telah kita lakukan selama masa hidup kita untuk membantu sesama. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai karma, yang kaya akan lebih peduli untuk meringankan penderitaan mereka yang tak punya.

Bersama-sama, kita akan menginvestasikan lebih banyak waktu, tenaga, uang, dan kreativitas kita untuk merancang cara-cara guna membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik bagi mereka yang terlahir dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Kita tidak akan terlalu termotivasi untuk menaruh sumber daya kita demi rumah yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, perhiasan dan pernak-perniknya, tim olahraga, dan permainan yang menjurus pada kekerasan. Sebaliknya, kita akan memiliki hasrat untuk memperbaiki keadaan kehidupan demi kepentingan bersama.

Pengetahuan kelahiran kembali akan mengubah apa yang selama ini kita hargai, dan sebuah hasrat akan muncul untuk mengejar hal-hal yang bernilai dari sudut pandang spiritual. Melindungi lingkungan akan menjadi masalah yang lebih mendesak ketika orang mulai menyadari bahwa mereka akan kembali ke Planet Bumi, Ibu Pertiwi kita, berulang-ulang di masa depan.

Orang akan menyadari bahwa dalam kehidupan-kehidupan berikutnya, mereka sendirilah yang harus berurusan dengan masalah-masalah lingkungan yang mereka ciptakan hari ini. Keuntungan ekonomi tidak akan lagi menjadi alasan yang melampaui pelestarian lingkungan, karena orang akan menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan akan masuk hitungan dan kejahatan terhadap Bumi juga memiliki dampak karma pula.

Hubungan antara anggota keluarga, kawan, lawan sekalipun, akan diperbaiki ketika orang menyadari bahwa kita kembali ke kehidupan dalam kelompok-kelompok, bahwa kita kembali ke Bumi dengan mereka-mereka yang telah kita kenal sebelumnya.

Mereka yang punya konflik dengan kita dalam satu masa kehidupan akan kita jumpai lagi di kehidupan lainnya. Musuh kita yang paling bebuyutan bisa saja kembali kepada kita sebagai anggota keluarga atau rekan kerja, sehingga kita bisa punya kesempatan lain untuk benar-benar mengenal orang tersebut dan berkesempatan untuk mengakhiri konflik.

Dengan demikian, kita akan berupaya lebih keras untuk saling pengertian dalam kelahiran kembali saat ini. Kita akan belajar untuk bertoleransi terhadap mereka yang memiliki pandangan bertentangan dan nilai-nilai yang berbeda dalam kehidupan. Hubungan yang saling mengasihi akan disadari sebagai komoditi yang lebih berharga ketimbang uang atau emas.

Adalah hal yang menarik untuk melihat bagaimana agama-agama mapan akan menanggapi memuncaknya bukti-bukti kelahiran kembali yang terus bermunculan di dunia. Otoritas keagamaan akan memiliki dua pilihan: meleburkan kelahiran kembali ke dalam doktrin mereka atau menolaknya.

Jika otoritas keagamaan menolak bukti kelahiran kembali, mereka akan mempertahankan status quo dan melakukan pengamanan jangka-pendek, namun ini berarti mereka juga menebarkan konflik keagamaan berkelanjutan, yang suatu saat bisa berkembang menjadi bencana besar-besaran.

Jika otoritas keagamaan menerima informasi mengenai kelahiran kembali, mereka akan membantu menciptakan dunia yang lebih damai. Agama-agama mereka akan bertahan, karena ajaran-ajaran yang indah dan mengagumkan dari nabi-nabi mereka tidak akan musnah.

Lebih lanjut, orang akan selalu membutuhkan agama, karena orang butuh berhimpun dan memuja Tuhan secara bersama. Untungnya, terdapat rujukan dalam doktrin kebanyakan agama besar yang agaknya mendukung adanya kelahiran kembali, yang memudahkan untuk memadukan kelahiran kembali ke dalam sistem kepercayaan tradisional.

Di Salem, Massachusetts, pada tahun 1692. Dua puluh orang perempuan dieksekusi setelah sekelompok gadis muda menjadi emosional atau histeris ketika bermain-main dengan sihir. Pada kenyataannya, sebagian orang yang dituduh sebagai penyihir di masa silam besar kemungkinan adalah perempuan-perempuan yang punya bakat psikis tetapi dianggap berbahaya oleh mereka yang tidak memiliki bakat tersebut.

Zaman sekarang, banyak perempuan yang ikut dalam kelas-kelas meditasi dirancang untuk memicu intuisi dan kemampuan psikis untuk mengingat masa lampau tatkala mereka ditindas dan dibakar di tiang. Sungguh bahaya terlahir sebagai orang yang punya bakat hebat di dunia yang relatif primitif.

Akan menarik untuk melihat bagaimana agama mapan bereaksi terhadap bukti kelahiran kembali yang berdatangan ke dunia dewasa ini. Otoritas keagamaan punya pilihan untuk menolak informasi atau bersikap terbuka terhadap kemungkinan bahwa mungkin terdapat keabsahan tertentu dalam kasus-kasus kelahiran kembali yang bermunculan.

Dalam konteks ini, saya ingin memberikan contoh sejarah lainnya, yaitu seorang ilmuwan dan ahli astronomi, Galileo. Galileo tertarik pada pergerakan ombak dan menemukan bahwa pergerakan ombak paling sesuai dengan teori-teori Nicolaus Copernicus (1473–1543). Copernicus mengajukan teori bahwa Bumi mengelilingi matahari.

Pandangan ini bertentangan dengan kepercayaan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta, yang merupakan kosmologi yang dianut oleh Gereja Katolik Roma. Penelitian Galileo mengenai pergerakan lautan menunjukkan bahwa Copernicus benar dan pengertian kuno tidaklah sesuai kenyataan.

Pada tahun 1624, Galileo menulis Dialogue of the Tides, yang diizinkan terbit oleh badan sensor Gereja Katolik Roma, meski mereka mengubah judulnya menjadi Dialogue on the Two Chief World Systems. Meski Dialogue on the Two Chief World Systems diterbitkan pada tahun 1632 dengan sepersetujuan badan sensor gereja, Galileo diperintahkan hadir di Roma untuk diadili karena “tuduhan kesesatan yang parah”.

Gereja Katolik Roma, nyatanya, tidak menyukai pandangan dunia yang diusulkan oleh Copernicus dan Galileo, yang meletakkan matahari sebagai pusat tata surya kita, di mana Bumi mengorbit matahari. Gereja memaksa Galileo mencabut kembali teorinya bahwa matahari berada di pusat tatasurya dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuk Galileo.

Untuk mempermalukannya lebih lanjut dan mempertahankan kendali akan sistem kepercayaan, Gereja Katolik Roma memerintahkan hukuman penjara Galileo diumumkan di setiap universitas dan bukunya Dialogue on the Two Chief World Sistems itu dibakar.

Lika-liku, bentuk, dan proporsi wajah tampaknya konsisten dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Kebiasaan fisik, seperti postur, gerakan tangan, serta jenis perhiasan yang dipakai juga bisa konsisten dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Bahkan pose-pose yang tertangkap dalam lukisan diri dan foto anehnya sering serupa dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.

Tipikal tubuh juga bisa konsisten, meski ukuran tubuh bisa beragam. Seorang individu bisa memiliki fisik yang lemah dalam satu kehidupan dan fisik yang kuat di kehidupan berikutnya. Seseorang bisa saja pendek dalam satu kelahiran kembali dan tinggi dalam kelahiran kembali berikutnya, meski karakteristik wajah, postur, dan gerakgerik tampaknya tetap sama.

Untuk catatan, riset kelahiran kembali saya menunjukkan bahwa dalam sekitar 10-20% kasus, jiwa bisa berganti jenis kelamin. Bahkan dalam kasus-kasus seperti ini pun, bangun-wajah masih tetap konsisten. Secara keseluruhan, sebagian besar orang (80-90%) tidak berubah jenis kelaminnya dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya, dan agaknya hakikat kita memiliki sifat dasar maskulin atau feminin.

Mereka yang dasarnya maskulin cenderung terlahir berulang sebagai pria. Sedang mereka yang dasarnya feminin lebih memilih kembali dalam tubuh perempuan. Saya pikir, bagaimanapun, kita semua sudah berganti gender secara berkala, untuk belajar bagaimana rasanya menjadi gender yang berbeda.

Ciri kepribadian agaknya bertahan dari kehidupan ke kehidupan. Cara seseorang memandang kehidupan dan cara orang lain mempersepsikan diri Anda juga tetap konsisten. Beberapa ciri kepribadian kita bersifat positif dan kita membawa sertanya menjadi manfaat.

Sedangkan beberapa ciri kepribadian lainnya bisa membawa kerugian dan menyebabkan penderitaan dari kehidupan ke kehidupan. Tampaknya, evolusi kita berperan untuk menghaluskan bagian-bagian yang kasar dalam pembawaan kita. Sebagai contoh, katakan saja ada seseorang yang sifatnya sangat agresif. Keuntungan menjadi seorang agresif adalah orang ini mencapai tujuan-tujuannya. Aspek negatifnya adalah orang lain mungkin terluka oleh pendekatan agresif itu.

Tujuan bagi seorang yang agresif selama periode satu masa kehidupan atau lebih adalah untuk belajar mempertimbangkan perasaan orang lain. Meski ciri kepribadian tetap konsisten, saya telah mengamati bahwa penyakit badan maupun batin tidak bertahan dari satu kehidupan ke lainnya.

Individu-individu yang memiliki ketergantungan secara kimia atau mengidap penyakit kejiwaan dalam suatu kehidupan sebelumnya tampaknya tidak membawa kelainan-kelainan ini ke kehidupan selanjutnya. Secara spiritual dan intelektual, kita tampaknya melanjutkan apa yang sebelumnya kita tinggalkan. Pencapaian-pencapaian yang telah kita raih dengan susah payah dalam pengejaran spiritual dan intelektual tetap bertahan—menjadi bagian dari diri kita.

Karena itu, upaya-upaya untuk memajukan diri kita tidak pernah sia-sia dan kita terus membangun sesuai upaya kita dari kehidupan ke kehidupan. Sama juga, bakat bisa muncul melalui satu kehidupan ke lainnya, namun sebaliknya, jika jiwa perlu mengambil jalur yang berbeda dalam masa kehidupan tertentu, bakat-bakat tersebut kadang terhalang.

Sekalipun kita memiliki tingkat kematangan spiritual dan pengembangan intelektual yang sama di sepanjang kehidupan-kehidupan, kita bisa bertukar antara menjadi miskin dan kaya, terkenal dan tidak dikenal. Kita bergiliran berada di dalam atau di luar lampu sorot.

Status kita dalam kehidupan agaknya ditentukan oleh karma yang telah kita ciptakan dalam kehidupan-kehidupan yang lampau, serta oleh pelajaran-pelajaran yang telah ditentukan oleh jiwa kita sendiri. Tentu saja, ada pola bahwa jiwa yang kuat akan kembali menjadi jiwa yang kuat, seniman besar kembali sebagai seniman besar, dan mereka yang berpengaruh pada masa silam akan melakukannya lagi dalam kehidupan berikutnya.

Seperti yang dibahas panjang-lebar di bab pertama, ikatan agama dan latar belakang etnis bisa berubah dari kehidupan ke kehidupan. Sebuah jiwa bisa saja menjadi umat Kristiani di satu masa kehidupan dan bisa saja menjadi umat Yahudi atau Muslim di kehidupan berikutnya.

Hal ini membawa pemahaman baru mengenai konflik-konflik yang dikarenakan perbedaan etnis atau agama. Tatkala saya menghubungkan kemiripan-kemiripan kepribadian, saya memerhatikan bahwa seringkali terdapat juga kemiripan dalam cara seseorang memilih untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan nama, dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.

Lebih spesifiknya, nuansa dan kecenderungan nama yang kita pilih seringkali sama dari satu masa kehidupan ke lainnya. Tentu saja, orangtua kitalah yang memberi kita nama pada saat kelahiran, tetapi ketika beranjak dewasa, kita memilih versi nama yang diberikan kepada kita sesuai dengan yang kita inginkan.

Sebagian memilih memakai nama tengah ketimbang nama pertama, ada pula yang lebih menyukai nama panggilan atau menggunakan inisial. Kita cenderung memilih variasi dari nama kita yang mencerminkan irama batin, suatu pola energi atau corak energi. Seperti halnya ciri kepribadian tetap konsisten dari kehidupan ke kehidupan, cara ekspresi seseorang tampaknya sama dari satu kehidupan ke kehidupan.

Dalam kasus John B. Gordon/Jeff Keene, sebuah analisis resmi linguistik yang dilakukan oleh profesor sebuah universitas memang menunjukkan bahwa struktur penulisan bisa tetap sama dari satu kelahiran kembali ke kelahiran kembali lainnya. Tentu saja ada beberapa variasi gaya menulis yang dikarenakan perbedaan tradisi dari berbagai zaman.

Akan tetapi, konsistensi dalam gaya ekspresi maupun isi tetap teramati. Seperti potret-potret yang membuat kita bisa melihat bagaimana penampakan seseorang sama dari satu kehidupan ke kehidupan, dokumen sejarah, buku harian, dan berbagai dokumentasi lainnya memungkinkan kita mempelajari gaya penulisan lintas kelahiran kembali.

Orang-orang agaknya datang ke kehidupan dalam kelompok-kelompok, berdasarkan pada karma bersama dan ikatan emosional. Pasangan sering kembali bersama dan seluruh anggota keluarga dapat berulang. Ketika seseorang terlahir lagi, para anggota lain dari kelompok karma orang tadi akan hadir. Pengenalan anggota dari kelompok karma orang tersebut merupakan kriteria penting lainnya dalam memastikan pencocokan kehidupan lampau.

Penataan hubungan karma ini bisa saja keluarga kita, kehidupan kerja, ataupun pengejaran yang bersifat rekreasi. Penataan ini adalah panggung-panggung di mana kita memainkan drama karma kehidupan kita. Hal ini membawa makna baru bagi ungkapan Shakespeare, “Kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara.”

Jika hal ini benar, kita harus mempertanyakan apakah kita memiliki kehendak bebas (free will). Saya percaya bahwa meskipun kita semua memiliki sebuah rute yang telah digariskan sebelumnya dan harus kita lakoni, kita memiliki kehendak bebas terhadap apa yang kita lakukan selama perjalanan itu.

Sejatinya, pertumbuhan dan evolusi manusia tidak bisa berlangsung tanpa adanya kehendak bebas. Sebagian orang mungkin memiliki rute perjalanan yang lebih terstruktur sehingga membatasi lintasan sampingan, sementara orang lain memiliki aturan main yang tidak terlalu terstruktur.

Namun demikian, kita tetap memiliki kehendak bebas di sepanjang jalur takdir kita. Kelompok-kelompok karma memberikan wawasan mengenai pengalaman deja vu. Jika kita berjumpa dengan orang-orang yang telah kita kenal di kehidupan lampau, tidaklah mengejutkan bahwa kita memiliki sepercik pengenalan ketika kita bertemu. Karena orang memiliki pola perilaku yang konsisten, kita bisa mengenali berbagai sifat dan reaksi unik ketika situasi-situasi tersebut terjadi kembali.

Suatu ciri umum dalam riset kehidupan lampau adalah simbol-simbol dari kehidupan lampau biasanya ditemukan pada kelahiran kembali individu yang sekarang dan kejadian-kejadian sinkron yang terjadi seolah memperkuat hubungan kehidupan silam.

Dalam kasus saya pribadi, banyak kejadian-kejadian “kebetulan” yang seakan menghubungkan kehidupan silam saya sebagai John Adams, seorang pemimpin dalam Revolusi Amerika di Boston. Sebagai contoh, saya pertama kali bicara di depan umum mengenai kehidupan lampau saya di “Publick House” di Massachusetts, yang dibangun pada tahun 1711, di sebuah ruangan yang penuh dengan pernak-pernik zaman Revolusi.

Gambar-gambar mengenai kasus-kasus kelahiran kembali Bill Clinton, George W. Bush, Al Gore, dan diri saya diserahkan ke tangan Presiden Clinton, yang saat itu ada di kantor, di Gedung Putih, pada hari ulang tahun John Adams, sungguh ajaib. Tanpa sadar, saya juga menandatangani kontrak buku saya Return of the Revolutionaries pada hari ulang tahun John Adams, tanpa menyadari penandatanganan yang sinkronistik ini sampai hari berikutnya.

Sekitar 50% kasus-kasus kelahiran kembali yang diteliti Dr. Stevenson, kematian dini ataupun tragis terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Dr. Stevenson menemukan bahwa individu-individu yang meninggal karena luka-luka yang traumatik, seperti luka karena peluru atau pisau, seringkali terlahir dalam kelahiran kembali berikutnya dengan bekas luka yang mencerminkan luka-luka yang terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Dalam kehidupan kini, anak sering memiliki fobia yang berkaitan dengan penyebab kematian dalam kehidupan sebelumnya.

Sifat kepribadian, kesukaan, dan kebiasaan seringkali bertahan dari satu kelahiran kembali ke lainnya. Penampakan fisik yang dilaporkan sering sama dalam sejumlah kasus. Dalam 95% dari kasus Dr. Ian Stevenson, anak kembali dalam jenis kelamin yang sama dengan kehidupan sebelumnya.

Jadi, hanya dalam 5% kasus terjadi peralihan jenis kelamin dari satu kehidupan ke lainnya. Pada tahun 1998, Dr. Stevenson meneliti ulang kasus-kasus yang ia teliti dua puluh tahun yang lalu. Dua di antara kasus-kasus tersebut, tersedia foto-foto dari individu-individu dari kehidupan sebelumnya. Gambar-gambar ini menunjukkan bahwa setelah usia dewasa, penampakan fisik konsisten dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.

Dr. Stevenson telah meneliti nyaris 3.000 kasus yang mana anak-anak dilaporkan mampu mengingat kehidupan lampau. Dr. Stevenson memiliki kriteria yang ketat untuk mempertimbangkan kasus-kasus yang sahih dan dari 3.000 kasus yang ia periksa, sekitar seribu memenuhi kriterianya sebagai otentik.

Meski Dr. Stevenson tidak memfokuskan pada kecocokan penampakan fisik pada tahun-tahun awal risetnya, kasus-kasus Suzanne Ghanem, Daniel Jurdi, dan yang lain-lain telah membuat ia merevisi pendekatannya. Hanan Monsour dan Suzanne Ghanem memiliki arsitektur wajah yang sama, ciri wajah yang senada.

Rashid Khaddege dan Daniel Jurdi juga memiliki fitur wajah yang serupa. Sebuah foto yang membandingkan antara Khaddege dan Jurdi dilampirkan di akhir bab ini. Untuk melihat kesamaan bangun-wajah Hanan Monsour dan Suzanne Ghanem, silakan rujuk buku Old Souls oleh Tom Shrode.

Dalam bukunya, Where Biology and Reincarnation Intersect, Dr. Stevenson menyarankan agar peneliti-peneliti pada masa mendatang secara sistematis mempelajari “kemiripan wajah antara subyek dan kepribadian sebelumnya.”

Ketika seseorang menghadapi realita kelahiran kembali, diperlukan suatu kajian ulang mengenai cara pandang dirinya akan dunia. Selama satu masa kehidupan, kita semua mengembangkan sebuah cara pemahaman yang unik mengenai dunia. Sistem kepercayaan ini mungkin melibatkan suatu aspek spiritual terhadap kehidupan, atau bisa juga penganutan pandangan ateistik. Entah apa pun sistem kepercayaan kita, bukti konkret kelahiran kembali menuntut adanya perubahan sistem kepercayaan kita.

Hal ini terutama berlaku bagi budaya-budaya di mana kelahiran kembali bukanlah hal yang wajar. Secara kolektif kita akan perlu menyesuaikan sistem kepercayaan kita ketika bukti-bukti obyektif kelahiran kembali muncul ke dunia. Secara umum, ini berita bagus, cuma perlu pembiasaan saja.

Kelahiran kembali memberikan kita sebuah cara pandang yang lain mengenai perang, cara pandang yang membuat kita melihat betapa sia-sianya pengorbanan jiwa dan sumber daya dalam perang.

Kelahiran Kembali Anne Frank

Salah satu kasus kelahiran kembali yang paling berpengaruh secara budaya adalah kasus Barbro Karlen, yang dengannya saya sering melakukan presentasi bersama selama bertahun-tahun.

Saya pertama kali bertemu dengan Barbro pada tahun 2000 dan sekarang saya menganggapnya sebagai teman baik. Saya telah mendengar ceritanya berkali-kali dan sekarang saya ingin membaginya dengan Anda.

Anne Frank meninggal di dalam Kamp Konsentrasi Belson Bergen pada tahun 1945. Tidak sampai 10 tahun kemudian, pada tahun 1954, Barbro Karlen lahir dari orangtua Kristen di Swedia. Ketika masih berusia kurang dari tiga tahun, Barbro mengatakan kepada orangtuanya bahwa namanya bukanlah Barbro, tetapi Anne Frank.

Orangtua Barbro tidak punya pengetahuan sama sekali siapa itu Anne Frank, karena buku Anne Frank: Diary of a Young Girl, yang juga dikenal sebagai The Diary of Anne Frank, masih belum diterbitkan di Swedia.

Barbro menuturkan bahwa orangtuanya menginginkannya untuk memanggil mereka “Ma dan Pa”, tetapi Barbro tahu bahwa mereka bukanlah orangtuanya yang sesungguhnya. Barbro bahkan berkata kepada ibunya bahwa orangtuanya yang sebenarnya akan segera datang dan menjemputnya pulang ke rumah.

Semasa kecilnya, Barbro mengatakan kepada orangtuanya mengenai detail-detail kehidupannya sebagai Anne, yang kedua orangtuanya kira hanya khayalan. Barbro juga mengalami mimpi-mimpi buruk sebagai seorang anak kecil, yang mana banyak laki-laki berlarian menaiki tangga dan menendang pintu menuju loteng persembunyian keluarga itu.

Barbro merasa takut terhadap pria berseragam, rasa muak terhadap kacang-kacangan, yang dikonsumsi keluarga Frank untuk bertahan hidup selama hampir dua tahun, dan ia hanya mandi dengan berendam, bukan dengan shower.

Memori-memori Barbro membuat orangtuanya khawatir dan pada suatu ketika, mereka memeriksakannya ke seorang psikiater. Akan tetapi, saat itu Barbro sudah belajar bahwa tidaklah bijak untuk membicarakan mengenai dunia lain yang pernah ia tinggali, dunia Anne Frank, ketika ia menyadari bahwa semua orang ”menjadi tegang” ketika ia menggambarkan memori-memorinya kepada mereka.

Jadi saat ia bertemu dengan psikiater, ia tidak menyebutkan ingatannya sebagai Anne, maka ia pun dianggap sebagai gadis kecil yang sepenuhnya normal. Ketika Barbro beranjak remaja, ia menjadi bingung ketika guru sekolahnya mulai membicarakan tentang Anne Frank di kelas. Bagaimana mungkin gurunya bisa mengetahui soal Anne Frank?

Lebih jauh, Barbro mulai menyadari bahwa Anne Frank adalah sosok yang terkenal. Bagaimana bisa begitu? Saat Barbro menyampaikan di kemudian hari, bahwa sebagai seorang anak kecil pada saat itu, “Semua ini tidak bisa kumengerti.”

Bayangkan bagaimana sulitnya bagi Barbro yang memiliki memori-memori spontan dan tak seorang pun yang bisa ia ajak bicara mengenai hal tersebut; tak seorang pun yang seperti Carol Bowman, yang bisa menolongnya mengatasi kebingungan dan mimpi-mimpi buruknya.

Barbro menerima pembuktian pertamanya sebagai Anne Frank ketika ia berumur 10 tahun, yang ia lukiskan dalam bukunya, And the Wolves Howled. Saya akan menceritakan ulang kejadiannya.

Ketika ia berumur sepuluh tahun, orangtua Barbro mengajaknya berlibur ke kota-kota utama di Eropa. Salah satu persinggahannya adalah Amsterdam, kota tempat keluarga Frank tinggal. Selama Perang Dunia II, Otto Frank dan keluarganya terpaksa bersembunyi di loteng bangunan tempat Otto bekerja, karena kelompok Nazi telah menyerbu Belanda dan menyiksa kaum Yahudi.

Keluarga Frank bersembunyi di loteng ini selama sekitar 2 tahun, sampai mereka ditemukan oleh kaum Nazi, ditangkap, dan dikirim ke kamp-kamp konsentrasi. Satu-satunya yang selamat adalah si ayah, Otto Frank, yang kemudian menemukan buku harian putrinya, Anne, yang di kemudian hari ia terbitkan.

Setelah perang, tempat persembunyian itu dijadikan museum, dan dinamakan Rumah Anne Frank. Ketika Barbro berusia sepuluh, buku Diary of Anne Frank telah diterbitkan dan tatkala di Amsterdam, ayahnya ingin mengunjungi Rumah Anne Frank.

Di hotel, ia mengangkat telepon dan meminta sebuah taksi untuk mengantar mereka ke sana. Namun Barbro tiba-tiba berseru, “Kita tidak perlu taksi, tidak jauh kok berjalan dari sini!” Barbro begitu yakinnya sampai-sampai orangtuanya tidak berkeberatan, mereka malah mengikutinya dengan patuh ketika ia langsung beranjak pergi.

Kita akan segera sampai, rumah itu hanya di sekitar tikungan berikutnya,” ujar Barbro. Ia sendiri sama sekali tidak kaget ketika mereka tiba di Rumah Anne Frank setelah berjalan kaki 10 menit melalui jalan-jalan Amsterdam yang berliku. Sedangkan kedua orangtuanya berdiri tanpa bisa berkata-kata dan hanya saling memandang satu sama lain.

Aneh,” kata Barbro, ketika mereka berdiri di depan tangga yang menuju rumah. “Dulunya tidak seperti ini.” Ia tertegun heran dan orangtuanya tidak tahu harus berkata apa. Mereka memasuki rumah itu dan menaiki tangga yang panjang dan sempit itu.

Barbro, yang tadinya begitu santai ketika menunjukkan jalan, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat pasi. Ia sampai berkeringat dingin dan memegang tangan ibunya. Ibunya cukup kaget ketika menyadari bahwa tangan Barbro sedingin es.

Ketika mereka memasuki tempat persembunyian, ketakutan mencekam yang tak bisa dijelaskan melanda Barbro seperti yang telah dialaminya berulang kali dalam mimpi-mimpinya. Ia merasa sulit bernapas dan panik menjalar ke sekujur tubuhnya. Ketika mereka masuk ke salah satu kamar yang kecil, mendadak ia berdiri terpaku dan menjadi sedikit lebih ceria.

Barbro menatap dinding di hadapannya dan berseru, “Lihat, gambar-gambar bintang film itu masih di sana!” Gambar-gambar bintang film yang digunting dan ditempel di dinding oleh Anne, yang dilihat Barbro pada saat itu, membuatnya merasa bahagia, nyaris seolah ia sudah kembali ke rumah.

Ibunya memandangi dinding kosong tersebut dan sama sekali tidak bisa mengerti semua ini. “Gambar apa? Dindingnya kan kosong?” Barbro melihat lagi dan kali ini benar. Dinding itu kosong! Ibunya begitu heran hingga ia terdorong untuk bertanya kepada salah satu pemandu apakah ia tahu bahwa dulu pernah ada gambar-gambar di tembok itu. “Oh ya,” seorang pemandu menjawab, “tetapi mereka sedang dipindahkan sementara untuk dibingkai supaya tidak rusak atau dicuri.”

Ibu Barbro saat itu tidak tahu harus berkata apa. “Bagaimana mungkin pertama-tama kamu bisa menemukan jalan ke sini, lalu bersikeras bahwa tangga-tangga di luar sana dulunya lain, lalu melihat gambar-gambar di tembok padahal mereka tidak ada di sana?

Ibu Barbro begitu penasaran dan cukup terusik. Namun Barbro tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya ingin keluar dari sana, ia tidak tahan berada di sana lebih lama lagi. Kakinya terasa lemas seperti jeli ketika ia menuruni tangga.

Belum pernah selama hidupnya ia merasa sedemikian sedih. Air mata bergulir tak tertahankan di wajahnya, dan kakinya tidak bisa menopangnya. Ketika ia mencapai dasar tangga, kakinya terkulai dan ia pun jatuh.

Dalam kutipan-kutipan yang diceritakan kembali dari And the Wolves Howled ini, Barbro menuturkan insiden-insiden tersebut yang akhirnya membuat orangtuanya percaya bahwa ia adalah kelahiran kembali dari Anne Frank.

Tak ada cara lain, bagaimana mungkin pada perjalanan pertama keluarga itu ke Amsterdam, ia bisa tahu cara pergi ke Rumah Anne Frank tanpa petunjuk? Bagaimana ia bisa tahu bahwa anak tangga itu telah diubah dan gambar-gambar bintang film yang ditempel Anne Frank yang saat itu sedang dipindahkan untuk dibingkai, bisa ada di tembok itu?

Ibunda Barbro merespon dengan menjadi sangat spiritual dan memercayai kelahiran kembali. Ayahanda Barbro, di lain pihak, tampaknya malah jadi kesal. Barbro bercerita bahwa ayahnya menanggapi dengan berkata, “Saya tak bisa menyangkal bahwa entah bagaimana kamu pernah ada di sini sebelumnya. Mungkin kamu pernah hidup sebelumnya dan lahir lagi, tetapi cuma kamu satu-satunya yang begini!”

Barbro paham bahwa ketika dihadapkan dengan kenyataan yang memungkinkan tentang kelahiran kembali, kejadian-kejadian hari itu telah mengguncang pandangan dunia Kristiani ayahnya, bahwasanya “segalanya sudah diatur benar”.

Akan tetapi, Barbro merasa jauh lebih bahagia karena sejak saat itu, ia bisa berbicara kepada ibunya mengenai masa lalunya sebagai Anne Frank, dan ia mendapatkan dukungan dari ibunya. Seperti Anne Frank, Barbro Karlen memiliki bakat menulis yang ajaib sejak kecil. Barbro bercerita bahwa belajar untuk menulis adalah berkah besar, karena ketika ia tidak bisa berbicara dengan siapa pun mengenai ingatan-ingatan kehidupan lampaunya, begitu ia belajar menulis, ia bisa bercakap-cakap dengan papan tulisnya.

Suatu hari, ketika ia berumur sekitar 11 tahun, seorang teman keluarga Barbro membaca catatan-catatan pribadi Barbro dan menyadari bahwa ini adalah karangan yang berharga. Barbro ditanya apakah tulisan-tulisan bebasnya boleh dikumpulkan.

Ia menyetujuinya, dan pada umur dua belas tahun, buku prosanya yang pertama diterbitkan. Buku ini, Man on Earth, menjadi buku prosa/puisi best seller dalam sejarah Swedia. Barbro menjadi selebriti kecil, bahkan berdebat mengenai teologi dengan para pendeta dan ahli teologi di acara-acara televisi.

Setelah masa kecilnya berlalu, ingatan kehidupan lampaunya mulai memudar. Hal ini melegakan Barbro, karena sekarang ia akhirnya bisa menjalani kehidupan normal. Tetapi ketika ia berumur empat puluhan, ingatan-ingatan ini mulai muncul kembali, seperti yang ia uraikan dalam bukunya.

Sampai saat ini, Barbro tidak pernah berpikir untuk menuliskan ingatannya sebagai Anne Frank, tetapi Barbro pernah berkomentar dengan sendu dalam sebuah wawancara, “Jangan pernah katakan tidak pernah.”

Setelah bukunya terbit, ia menerima perhatian besar di Eropa. Berdasarkan intuisi ia memutuskan pindah ke California, di mana saya beruntung bisa bertemu dengan jiwa yang besar ini. Ketika saya menerima sebuah panggilan telepon pada tahun 2000, saat saya diberitahukan bahwa ada seorang perempuan mengaku sebagai kelahiran kembali dari Anne Frank, saya ragu.

Tetapi saya tetap menemuinya, bersama suaminya, Stephan, dan saya menyadari bahwa saya benar-benar telah bertemu dengan kelahiran kembali Anne Frank. Dalam buku dan presentasinya, Barbro tidak pernah sekali pun menyebutkan bahwa ia memiliki penampilan wajah yang sama dengan Anne Frank, karena yang paling penting bagi Barbro adalah ingatan-ingatannya, bukan penampilannya.

Akan tetapi, dalam pertemuan itu, saya menyadari bahwa Barbro memiliki bangun wajah yang sama dengan Anne. Gambar-gambar di dalam buku ini adalah kali pertama pembandingan ciri wajah Barbro Karlen dan Anne Frank.

Sebagai tambahan mengenai ciri wajah dan postur, juga terdapat banyak persamaan sifat antara Barbro dan Anne Frank, seperti di bawah ini.

A. Spiritualitas dan Cinta Alam.

Lawrence L. Ranger, dalam Anne Frank, Reflections on Her Life and Legacy, menulis hal berikut tentang Anne. “Wawasan spiritual mendalam jarang keluar dari bibir seorang gadis berumur tiga belas atau empat belas tahun. Lebih lanjut, seperti yang akan ditunjukkan oleh banyak tulisan-tulisan baru dalam buku hariannya, Anne Frank pada dasarnya adalah seorang makhluk fisik, seorang pencinta alam, yang tertarik dengan dunia perempuan.”

Sifat-sifat ini juga tercermin pada Barbro Karlen, yang pada umur enam belas tahun pindah ke sebuah pondok di hutan, bersama dengan kudanya, dua ekor anjing, dua ekor kucing, seekor biri-biri, serta sekawanan ayam dan anak-anaknya. Barbro terutama sangat mencintai kudanya maupun menunggang kuda, sampai membawanya mengejar karier sebagai polisi perempuan berkuda.

Dunia keperempuanannya terbukti oleh pernikahan dini dan kehamilan pada usia 18 tahun. Bahkan, banyak hasrat Anne yang tampaknya berbuah dalam kehidupan awal Barbro Karlen.

Spiritualitas Barbro juga terkait dengan alam. Dalam bukunya, ia menggambarkan pertemuannya sewaktu kecil dengan Tuhan ketika ia merenungkan jejak-jejak kaki di pasir pantai. Nama yang ia berikan pada Tuhan pada saat itu adalah “Pengelana”. Barbro mendemonstrasikan, seperti halnya Anne, kualitas jiwa yang matang pada usia yang muda.

B. Bakat Mengarang yang Alami.

Meskipun kurang mendapat latihan, Anne Frank dikenal sebagai pengarang yang berbakat. Demikian pula, Barbro Karlen adalah anak ajaib dalam bidang menulis. Buku pertamanya diterbitkan sewaktu ia baru berumur 12 tahun dan menjadi buku puisi terlaris sepanjang masa di Swedia. Antara umur 12 dan 17, sembilan buku yang ditulis oleh Barbro diterbitkan.

Menarik untuk dicatat bahwa Anne Frank selalu berharap untuk menjadi pengarang yang karyanya diterbitkan. Pada tanggal 11 Mei 1944, Anne menuliskan bahwa “pengharapan terbesarnya” adalah menjadi seorang wartawan, “dan kemudian, seorang pengarang terkenal”.

Sekali lagi, agaknya cita-cita Anne terpenuhi sejak dini pada kehidupan Barbro. Tema-tema senada juga ditemukan di dalam tulisan-tulisan Frank dan Karlen. Meski kita bisa saja mempertanyakan bahwa kesamaan-kesamaan ini disengaja, Barbro Karlen menegaskan bahwa ia tidak pernah mempelajari karya-karya tulis Anne Frank.

Karena penindasan kaum Yahudi oleh Nazi, Anne Frank merenungkan secara luas soal kebaikan dan kejahatan. Ia juga punya kecenderungan untuk mempersonifikasikan sifat-sifat manusia, seperti terlihat dalam kutipan di bawah ini mengenai “Kebohongan”.

Warisan Anne didasarkan pada kemampuannya untuk mempertahankan harapan di hadapan situasi-situasi yang serba kelabu. Meskipun mengalami penindasan dan penderitaan, kutipan-kutipan paling terkenal dari Anne Frank menandaskan kebajikan mendasar dalam diri manusia.

Barbro Karlen juga menulis soal kebaikan dan kejahatan dalam bukunya, And the Wolves Howled, sebagian karena ingatannya dalam kehidupan sebagai Anne Frank, dan sebagian karena penindasan yang dialaminya dalam kehidupan ini. Ia juga memiliki kecenderungan mempersonifikasikan sifat-sifat manusia.

Mari kita membandingkan kutipan-kutipan yang ditulis oleh Frank dan Karlen mengenai kejahatan dan kebajikan.

Kejahatan Menurut Anne Frank:

Di dalam diri orang terdapat dorongan untuk merusak, dorongan untuk membantai, untuk membunuh, dan untuk marah.”

Kelahiran kembali Anne Frank:

Saya ketakutan sendiri ketika saya memikirkan teman-teman dekat yang sekarang nasibnya berada di tangan monster-monter terkeji yang pernah berkeliaran di Bumi. Dan semua ini karena kami Yahudi.”

Semalam, sebelum aku tertidur, siapa gerangan yang mendadak muncul di depan mataku kalau bukan Kebohongan! Aku melihatnya di hadapanku, bajunya compang-camping.... Matanya begitu besar dan ia melihat dengan begitu sedih dan mengecamku hingga aku bisa membaca matanya, ’Oh Anne, mengapa dikau meninggalkan daku? Tolong, oh tolonglah aku, selamatkan aku dari neraka ini!’”

Kejahatan Menurut Barbro Karlen:

Jika saja ia bisa menulis mengenai betapa pentingnya, bahkan vitalnya untuk pantang menyerah di wajah kejahatan, tak pandang seberapa gelap dan menyedihkan semuanya ini. Kejahatan telah ada di Bumi dan mungkin akan selalu ada di sana. Kejahatan akan selalu berupaya menaklukkan Kebajikan.”

Kebajikan Menurut Anne Frank:

Apa pun yang terjadi, aku masih benar-benar percaya bahwa orang-orang sebenarnya memiliki hati yang baik.”

Kebajikan Menurut Barbro Karlen:

“Namun semakin banyak orang yang percaya akan Kebajikan, dan dalam Kuasa Kebajikan dalam diri mereka, semakin besar kemungkinan mengendalikan kejahatan. Jika saja mereka percaya akan Kebajikan, dan akan kehadiran Kuasa batiniah ini, banyak orang sengsara yang akan mampu berjuang untuk keluar dari kegelapan.”

”Kebanyakan orang di Bumi masih belum menyadari bahwa mereka bisa menemukan Kuasa Kebajikan di dalam diri mereka dan bahwa hal tersebut bisa membantu mereka hanya jika mereka mencarinya.”

Sebagai penutup, Anne Frank percaya akan kebaikan meski dihadapkan dengan kejahatan dan penindasan. Dalam pribadi Barbro, kita mendengar suara Anne dalam wujud yang lebih bijak.

Barbro pasti telah memadukan kematian Anne di Kamp Konsentrasi Bergen-Belson. Jika kita menerima Barbro sebagai kelahiran kembali Anne, maka Anne kembali dengan sebuah pesan yang kuat bahwasanya kejahatan tidak bisa membunuh jiwa dan bahwasanya jiwa tidak memiliki ikatan agama, suku, atau ras tertentu.

Barbro dibesarkan sebagai umat Kristiani dalam kehidupan ini, sementara Anne ditindas sebagai seorang Yahudi. Renungkan bahwa jika saja beberapa dasawarsa yang lalu, orang-orang Jerman tahu bahwa seseorang bisa terlahir sebagai orang Yahudi dalam satu masa kehidupan dan sebagai orang Kristiani di kehidupan yang lain, tentu peristiwa Holocaust (pembantaian massal akibat sentimen etnik) itu tidak akan pernah terjadi.

Bagi mereka yang mungkin keberatan dengan cerita Barbro karena dianggap mengurangi wibawa horor Holocaust, mereka melalaikan sebuah poin penting—bahwa roh tidak mati dan dengan kasih Tuhan, jiwa yang begitu dicintai dan dikenang akan sekali lagi berjalan di muka Bumi. Marilah kita tidak mengabaikan keagungan ini.

Sebagai tambahan, mari kita mengakui bahwasanya pengetahuan bahwa Anne Frank telah berkelahiran kembali ke agama yang berbeda, bahwa seseorang bisa berubah persekutuan agama, ras, dan suku dari kehidupan ke kehidupan, bisa menghindarkan terjadinya pembantaian-pembantaian massal pada masa yang akan datang.

Saya akan mengutip ungkapan terakhir dari buku harian Anne Frank, yang merujuk pada ketangguhan iman dan orang Yahudi. Kata-kata ini juga memiliki suatu lingkaran kebenaran yang puitis mengenai kelahiran kembali, barangkali tidak disengaja oleh Anne, tetapi tetap saja menawan.

“Siapa yang telah menimpakan semua ini pada kita?

Siapa yang membuat kita kaum Yahudi berbeda dari orang lain?

Siapa yang telah membiarkan kami menderita begitu hebat hingga kini?

Adalah Tuhan yang membuat kami menjadi seperti kami ini,

Namun Tuhan pulalah,

Yang akan membangkitkan kami kembali.”

~~~

Demikianlah salah satu kutipan contoh kasus kelahiran kembali yang ditemukan oleh Walter Semkiw, dimana puluhan contoh kasus lainnya dapat Sobat baca pada buku yang ditulis olehnya, “BORN AGAIN” dan telah terdapat terbitan versi terjemahan Bahasa Indonesia.

Yang tidak diketahui oleh Anne Frank, Barbro, atau siapapun itu namanya, dirinya terjebak dalam siklus tumimbal lahir tanpa akhir, yakni siklus lahir, menjadi tua, sakit, meninggal dunia, sebelum kemudian terlahir kembali, mengalami siklus serupa berulang-ulang yang tidak lagi terhitung jumlahnya, menjadi tua untuk kesekian kalinya, sakit untuk kesekian kalinya, meninggal untuk kesekian kalinya, dan terlahir kembali untuk kesekian kalinya, dan masih akan “to be continue...”, dimana Sang Buddha melukiskannya sebagai jumlah air mata yang pernah kita teteskan di kehidupan lampau kita, jauh lebih banyak daripada jumlah air pada berbagai samudera di planet ini.

Kehidupan saat sekarang ini, bukanlah akhir dari segalanya, hanya berupa persinggahan sementara untuk memulai kembali siklus tumimbal-lahir yang tidak berkesudahan, repetisi dari kondisi sakit, menjadi tua, dan meninggal, bukan akhir dari dukkha dimana juga kelahiran kembali bukan menjadi satu-satunya jalan menuju akhir dari dukkha—kelahiran kembali sebagai manusia adalah kesempatan emas untuk berjuang memutus belenggu rantai karma.

Semua ini, adalah proses menuju “TO BE CONTINUE” serangkaian “NEVER ENDING STORIES”, sebuah permainan siklus menyerupai air hujan menetes ke samudera, air samudera menguap oleh panas matahari, menjelma awan tertiup ke daratan, menjadi tetesan air hujan, mengalir dari atas gunung, kembali ke samudera, untuk memulai kembali “ritual” siklus serupa, sebuah siklus untuk siklus itu sendiri. Hanya upaya untuk memutusnya siklus baru akan berakhir, bukan membiarkan diri mengalir secara “alamiah”.

Bagi Sobat yang berminat serta penasaran membaca berbagai kasus kelahiran kembali selengkapnya, dapat membaca lebih banyak lagi pada buku “BORN AGAIN” karya Walter Semkiw tersebut yang telah terdapat versi terjemahan ke Bahasa Indonesia.

Sampai jumpa pada kisah menarik lainnya. Karena KWANG akan selalu menjadi sahabat terbaik Sobat! 😅💬💭😇

You Might Also Like

0 comments